You are on page 1of 4

II TUJUAN

Tujuan dari praktikum aplikasi linear operational amplifier adalah sebagai berikut :

1. Mengetahui konsep dasar operational amplifier untuk rangkaian ainverting amplifier, non-
inverting amplifier dan voltage follower. Praktikan dalam mengetahui konsep dasar
operational amplifier untuk rangkaian ainverting amplifier, non-inverting amplifier dan
voltage follower maka diwajibkan untuk melakukan tinjaun pustaka mengenai hal tersebut.
Tibdakan selanjutnya praktikan dapat merangkai 3 rangkaian amplifier tersebut berdasarkan
pengetahuan yang didapat dari studi pustaka.
2. Mengetahui karakteristik amplifier. Praktikan dapat engtahui karakteristik amplifier dengan
dua cara yaitu studi pustaka dan dengan melakukan praktik, kemudian dari praktikum
praktikan dianjurkan membandingkan antara teori dengan hasil praktis sama atau berbeda.
3. Mengetahui frekuensi response dari operational amplifier untuk rangkaian inverting
amplifier dan voltage follower. Praktikan dapat mendapatkan tujuan tersebut dengan
melakuakn praktikum dengan variabel bebas berupa frekuensi dengan interval yang telah
ditentukan sebelumnya yaitu dari 10 sampai dengan 100.000 Hz. Frekuensi tersebut melalui
formula tertentu menjadi Vin yang kemudian menghasilkan Vout. Praktikan mendapatkan
data gain dan db dari data tersebut yang pada daerah bandwidth terdapat frekuensi
response dari masing masing rangkaian amplifier.

III METODE

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum aplikasi linier operational amplifier adalah
sebagai berikut :
1. Osiloskop, berfungsi untuk menimbulkan bentuk gelombang, tegangan maksimum, agar
dapat mengukur frekuensi, periode, amplitude dan lain-lain.
2. Fenction generator, berfungsi sebagai alat ukur yang menghasilkan gelombang sinus,
segitiga dan ramp
3. Power suplly, berfungsi sebagai sumber tegangan
4. Project board, berfungsi untuk menghubungkan komponen-komponen yang digunakan
5. Resistor 1000, 2000, 3000 Ω berfungsi sebagai penghambat arus listrik
6. Multimeter berfungsi sebagai alat ukur tegangan listrik, arus listrik dan tahanan
(resistansi)
7. Op-amp 741 sebagai pengindra dan penguat sinyal masukan DC maupun AC
8. Kabel berfungsi sebagai penghubung listrik
3.2 Langkah Kerja
Langkah kerja dari praktikum aplikasi linear operational amplifier adalah sebagai berikut :
3.2.1 Inverting Amplifier
1. Desain 2.1 dirangkai sesuai dengan alat yang tersedia. Op-amp diberi catu daya yang
sesuai. Input diberikan 1 volt, 20 Hz. Perhitungan diberi catu daya yang sesuai,
dibuktikan dengan pengukuran pada rangakain bahwa penguatan atau gain sebesar 3.
2. Tegangan input dihubungkan pada masukan inverting dan masukan non-inverting
digunakan
3. Resistor yang digunakan 1000 Ω sebagai Rin dan resistor sebesar 9000 Ω sebagai Rf dan
Ri
4. Probe osiloskop dimasukkan dari channel 1 sebagai input dan probe chanel 2 sebagai
output pada op-amp
5. Function generator dan op-amp dihidupkan, keudian frekuensi diatur pada funtion
generator hingga diperoleh gelombang keluaran pada chanel 2 osiloskop
6. Keluaran yang terjadi diamati, tegnagan dari chanel 1 dan chanel 2 dicatat dan kemudian
faktor penguatannya dicari dengan variasi frekuensi

3.2.2 Rangakain non –inverting amplifier

1. Desain 3.2 dirangkai dengan alat dan bahan yang tersedia


2. Osiloskop dihidupkan dan dilakuka variasi
3. Tegangan input (Vin) pada masukan non-inverting, dan masukan inverting digroundkan
4. Resistor 1000 Ω sebagai Ri dan Rl dan 2000 Ω sebagai Rf
5. Probe osiloskop dimasukkan dari channel 1 sebagai input dan chanel 2 sebagai output
6. Function generator dari op-amp dihidupkan, kemudian frekuensi diatur pada funtion
generator hingga diperoleh keluaran pada chanel 2
7. Keluaran yang terjadi diamati, tegangan dari chanel 1 dan chanel 2 dicatat dan frekuensi
pada function generator

3.2.3 Rangkaian Voltage Follower

1. Desain 3.3 dirangkai dengan alat dan bahan yang tersedia


2. Osiloskop dihidupkan dan dilakukan vibrasi
3. Vin dimasukkan pada masukan inverting dan non-inverting
4. Probe dimasukkan osiloskop dari chanel 1 dan chanel 2 dan probe chanel 2 digunakan
sebagai ground
5. Keluaran yang terjadi diamati pada chanel 1 dan chanel 2 dan frekuensi pada function
generator

Setiap rangakaian yang dirangkai sesuai dengan langkah-langkah yang dijelaskan diatas akan
didapatakan data berupa Vin, Vout, dan gain yang merupakan hasil perbandingan antara Vout
dengan Vin, kemudian didapata data dB yang merupakan 20 log Gain.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum praktikum aplikasi linier operational amplifier adalah sebagai berikut :

4.2 Pembahsan

Praktikum kali ini yaitu aplikasi linear operational amplifier. Praktikan pada praktikum ini
mempelajari mengenai karakteristik operational amplifier, secara teori amplifier memilki gain
tegangan dengan besar yang tidak terbatas, namun secara praktikgain tegangan memiliki nilai yang
sangat tinggi. Op amp memiliki gain yang tidak bergantung pada frekuensi, namun secara praktis
gain berubah ketika frekuensinya berubah. Op-amp memiliki resistansi dengan nilai yang tidak
terbatas, namun secara praktis resistansi input memiliki nilai yang tinggi. Op-amp memilki resistansi
output nol, tetapi secara praktis resistansi output memiliki nilai walau kecil. Op-amp memiliki offset
input nol, hal ini yang menyebabkan resistansi output tidak nol.

Praktikum yang mengamati rangkaian inverting amplifier, yang menjadi variabel bebas yaitu
frekuensi dari rentang 10 Hz sampai dengan 100.000 Hz dengan menggunakan resistor 1 de ngan
besar 1k Ω dan resistor 2 dengan besar 2k Ω. Rangakaian inverting amplifier memberikan Vout
dengan fase yang berbeda dari Vin. Nilai dB pada rangakaian yang memiliki nilai tertinggi dijumlah
dengan nilai dB dari half power yaitu -3 dB yang akan mendapatkan titik frekuensi tertentu sebagai
batas, dan daerah tersebut dinamakan bandwidth. Frekuensi response pada rentang tersebut terjadi
pada frekuensi 50.000 Hz dan bandwith pada gain 2,6 serta frekuensi kerja anatar 10 sampai dengan
50.000 Hz yang daerah ini memiliki bandwith 49.990 Hz. Nilai dB mengalami penurunan setelah
melewati frekuensi tertentu seperti di atas, hal ini dikarenakan nilai Vout yang semakin kecil dan Db
berbanding lurus dengan nilai Vout. Frekuensi cut off pada rangkaian yaitu 40.000 Hz. Setelah
melewati frekuensi cut off maka gain mengalami penurunan.

Praktikum yang mengamati rangkaian non-inverting amplifier, yang menjadi variabel bebas
yaitu frekuensi dari rentang 10 Hz sampai dengan 100.000 Hz dengan menggunakan resistor 1 de
ngan besar 1k Ω dan resistor 2 dengan besar 2k Ω. Rangakaian non-inverting amplifier memberikan
Vout dengan fase yang sama dengan Vin. Nilai dB pada rangakaian yang memiliki nilai tertinggi
dijumlah dengan nilai dB dari half power yaitu -3 dB yang akan mendapatkan titik frekuensi tertentu
sebagai batas, dan daerah tersebut dinamakan bandwidth. Frekuensi response pada rentang
tersebut terjadi pada frekuensi 45.000 Hz dan bandwith pada gain 6 serta frekuensi kerja anatar 10
sampai dengan 45.000 Hz yang daerah ini memiliki bandwith 44.990 Hz. Nilai dB mengalami
penurunan setelah melewati frekuensi tertentu seperti di atas, hal ini dikarenakan nilai Vout yang
semakin kecil dan Db berbanding lurus dengan nilai Vout. Frekuensi cut off dari rangakaian tersebut
yaitu 40.000 Hz. Setelah melewati frekuensi cut off maka gain akan mengalami penurunan.

Praktikum yang mengamati rangkaian voltage follower amplifier, yang menjadi variabel
bebas yaitu frekuensi dari rentang 10 Hz sampai dengan 100.000 Hz dengan menggunakan resistor 1
de ngan besar 1k Ω dan resistor 2 dengan besar 2k Ω. Rangkaian voltage follower amplifier
memberikan Vout dengan besar dan nilai fase yang sama dengan Vin atau Vout tidak mengalami
perubahan. Nilai dB pada rangkain ini memiliki nilai relatif tetap sehingga grafik hubungan dB
dengan frekuensi berupa garis lurus horizontal. Nilai dB bernilai relatif tetap karena Vout sama
dengan Vin, dan Db berbanding lurus dengan dB. Frekuensi cut off yaitu 0, bandwith 0 dan frekuensi
response dari rangkaian tersebut yaitu berupa variasi frekuensinya yaitu antara 10 sampai dengan
100.000 Hz.

V Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum aplikasi linear operationala amplifier adalah sebagai berikut :

1. Rangkaian inverting amplifier menghasilkan Vout dengan fase yang berbeda dengan Vin
dengan nilai yang berbeda, sedangkan rangakain non-inverting amplifier menghasilkan Vout
dengan fase yang sama dengan Vin dengan nilai yang berbeda, dan rangakaian voltage
follower menghasilkan Vout dengan fase yang sama dengan Vin dan nilai yang sama pula.
2. Karekteristik operational amplifier ideal berbeda dengan operational amplifier pada
kenyataannya.
3. Rangkaian inverting dan non-inverting amplifier memiliki frekuensi response, bandwidth dan
juga frekuensi cut off tertentu, sedangkan rangakaian voltage amplifier memiliki frekuensi
response berupa variasi frekuensinya, bandwidth 0 dan juga frekuensi cut off 0.
Gain berbanding lurus dengan nilai Vout sehingga semakin besar nilai Vout maka nilai gain
semakin besar pula begitu sebaliknya, gain berbanding terbalik dengan nilai Vin sehingga
semakin besar nilai Vin maka nili gain semakin kacil begitu sebaliknya.