You are on page 1of 4

DISKUSI KESEHATAN MASYARAKAT

peranan analisis komunitas dalam penetapan masalah dan tujuan promkes


muhammadidris1970

PENDAHULUAN
Promosi Kesehatan adalah ilmu dan seni untuk membantu masyarakat mengubah gaya hidup
mereka menuju status kesehatan yang optimal. Kesehatan optimal didefinisikan sebagai
keseimbangan dari kesehatan fisik, emosional, sosial, spiritual dan intelektual. Perubahan gaya
hidup dapat difasilitasi melalui kombinasi upaya untuk meningkatkan kesadaran, mengubah
perilaku dan menciptakan lingkungan yang mendukung praktek kesehatan yang baik. Dari ketiga
hal tersebut, dukungan lingkungan akan memberikan kemungkinan dampak terbesar dalam
menghasilkan perubahan pada akhirnya. ( Terjemahan : American Journal of Health Promotion,
1989, 3, 3, 5)

Perubahan gaya hidup yang dimaksud dalam definisi tersebut di atas, merupakan produk simultan
dari perubahan perilaku yang didasari oleh peningkatan kesadaran dan pembentukan lingkungan
yang kondusif bagi perilaku sehat. Semua upaya tersebut memerlukan bantuan promotor
kesehatan yang memulai kegiatannya dengan melakukan analisis terhadap komunitas. Dengan
melakukan analisis komunitas, promotor kesehatan dapat menentukan bentuk perilaku baru yang
diharapkan akan diadopsi oleh masyarakat. Tingkat keberhasilan masyarakat dalam mengadopsi
perilaku baru yang ditawarkan bergantung pada metode komunikasi yang digunakan, dan metode
komunikasi tersebut dapat dipilih secara tepat, juga atas hasil analisis komunitas. Dari perspektif
ini, dapat dikatakan bahwa analisis komunitas merupakan kegiatan yang menjadi sumber berbagai
informasi yang diperlukan dalam menentukan langkah kegiatan selanjutnya.

Sebuah program promosi kesehatan akan memberikan hasil yang optimal jika dilaksanakan sesuai
kebutuhan masyarakat. Pernyataan masyarakat akan kebutuhan-kebutuhannya tidak dapat
diharapkan dalam bentuk verbal, karena seringkali menjadi rancu akibat tipisnya perbedaan antara
kebutuhan tersebut dengan ‘keinginan’ masyarakat. Karena itu kebutuhan masyarakat harus
dijajaki melalui karakteristik-karakteristik yang diperlihatkan oleh keadaan masyarakat baik yang
bersifat statis maupun yang dinamis. Karakteristik statis dari masyarakat, dalam konteks
kebutuhan untuk promosi kesehatan, dapat berupa pengelompokan atas dasar batas spasial dan
batas politik administratif, sedangkan karakteristik dinamis, dalam konteks yang sama, dapat
berupa agregasi-agregasi sosial yang umumnya didominasi oleh kepentingan-kepentingan.

KONSEP ANALISIS KOMUNITAS


Pada tingkatan yang lebih tinggi, promosi kesehatan tidak hanya ditujukan bagi peningkatan
keterampilan individual dalam memelihara kesehatannya, melainkan mencakup konteks yang
lebih luas dalam hal mengubah masyarakat, lingkungan, dan kondisi ekonomi, agar dampak
negatif terhadap kesehatan individu dan masyarakat dapat dikurangi. Dalam pemahaman seperti
itu maka untuk mengetahui dan memahami secara mendalam tentang apa yang membuat
masyarakat berfungsi atau tidak berfungsi secara efektif dalam memperbaiki kesehatannya, perlu
dilakukan suatu analisis komprehensif terhadap komunitas. Dasar dari analisis komunitas adalah
pengetahuan tentang definisi dan pengenalan terhadap batas-batas fungsional suatu masyarakat.

Secara struktural, masyarakat adalah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang
terorganisir oleh batas spasial maupun politik. Pembatasan-pembatasan ini juga ikut diwarnai oleh
kebiasaan-kebiasaan yang dianut secara dominan oleh kelompok masyarakat yang hidup pada
wilayah geografi tertentu dan pada gilirannya membawa konsekuensi kekhasan yang berbeda
dengan kelompok lainnya. Pada sisi lain, sebuah komunitas juga diwarnai oleh fungsi-fungsi
agregasi non-geografis seperti pekerjaan, agama, kepentingan khusus atau perwujudan kebutuhan
bersama, atas dukungan sumberdaya yang juga dimiliki secara bersama-sama.

Dalam merencanakan program promosi kesehatan, unsur terpenting adalah identifikasi masalah
dan penetapan tujuan. Tujuan sebuah program dapat ditetapkan jika promotor kesehatan telah
mampu mengenali masalah-masalah yang ada dalam masyarakat serta mengidentifikasinya ke
dalam masalah kesehatan. Masalah-masalah tersebut dapat dikenali dan diidentifikasi jika analisis
komunitas dilakukan secara komprehensif sesuai dengan kaidah-kaidah yang lazim dilakukan.

Dengan menelaah uraian-uraian di atas, dapat terlihat bagaimana analisis komunitas berperan
dalam mengidentifikasi masalah serta menentukan tujuan. Analisis komunitas dapat berarti
menelaah berbagai aspek baik berupa unsur-unsur internal yang melekat secara khas dalam
kehidupan masyarakat, maupun unsur-unsur eksternal yang berpengaruh terhadap pencapaian
tujuan kehidupan masyarakat secara umum.

Beberapa aspek yang menjadi sasaran dalam melakukan analisis komunitas, antara lain
identifikasi anggota masyarakat, batas-batas geografis, kebutuhan-kebutuhan, kepentingan-
kepentingan, aspirasi-aspirasi, motivasi-motivasi para anggotanya dan atau efektifitas sistem
pelayanan kesehatan yang tersedia.

Secara lebih rinci tahapan-tahapan dalam melakukan analisis komunitas adalah mengumpulkan
informasi, mendefinisikan batas-batas, mendefinisikan latar belakang, menganalisis status
kesehatan masyarakat termasuk analisis terhadap sistem perawatan kesehatan dan potensi
keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan upaya kesehatan.

Pada tahap selanjutnya dilakukan diagnosis masyarakat untuk menentukan kondisi kesehatan
masyarakat, menentukan pola pelayanan kesehatan di masyarakat, menentukan hubungan antara
status kesehatan dan pelayanan/perawatan kesehatan serta mengidentifikasi dan menentukan
determinan-determinan dari problem utama yang berkaitan dengan kebutuhan dan sumberdaya
kesehatan dalam masyarakat bersangkutan.

ARGUMENTASI PENDUKUNG
Titik berat dari pembahasan ini adalah bagaimana melihat peranan analisis komunitas terhadap
proses identifikasi masalah serta penentuan tujuan dari program promosi kesehatan. Untuk lebih
memudahkan dalam memberikan argumentasi pendukung terhadap uraian sebelumnya, kita
mengambil contoh Program Promosi Kesehatan di Kota Parepare.
Untuk dapat mengidentifikasi masalah kesehatan yang akan dipromosikan di Kota Parepare, maka
hal yang paling awal harus dilakukan adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari
masyarakat baik secara langsung maupun melalui telaah terhadap data-data pelayanan kesehatan
yang telah ada. Proses pencarian informasi dari masyarakat yang kemudian dikomparasi dengan
data-data pelayanan kesehatan memperlihatkan adanya ‘gap’ antara pertolongan persalinan tenaga
kesehatan (PN) yang prosentasenya cukup tinggi 94,65% dengan kenyataan masih terjadinya
kematian ibu melahirkan (MMR) 118/100.000 KH dan kematian neonatal (IMR) 2/1000 KH dan
balita (U5MR) 0,2/1000 KH. Data ini menggambarkan adanya masalah dalam hal kesehatan ibu
dan anak. Sekalipun secara absolut angka-angka kematian ini cukup rendah dibanding angka
nasional, tapi dengan jumlah penduduk dan luas wilayah yang relatif kecil serta sarana-prasarana
pelayanan kesehatan yang memadai, seharusnya tidak ada lagi kematian ibu dan bayi.

Dengan melakukan tela’ah terhadap berbagai aspek dalam kerangka analisis komunitas,
ditemukan bahwa terdapat perilaku yang kurang mendukung terhadap pemeliharaan kesehatan ibu
baik semasa kehamilan maupun menyusui serta rendahnya status gizi ibu, bayi dan balita. Perilaku
tidak kondusif yang ditemukan adalah rendahnya cakupan K1 dan K4. Dari sebanyak 2.490 ibu
hamil jumlah yang melakukan kunjungan K-4 pada antenatal care dan mendapatkan pelayanan
ANC yang lengkap hanya 1.908. Angka ini belum mencapai target 2008 yang dicanangkan sebesar
88%.

Data status gizi bayi dan balita tahun 2004 menunjukkan status kurang gizi sebanyak 61 orang
(1,37%). Jumlah anak yang BGM sebanyak 74 anak (1,67 %) dan jumlah anak yang BGT
sebanyak 73 anak (1,10 %). Pada tahun 2005 jumlah BGM meningkat menjadi 102 dan BGT
menjadi 210 anak. Anak balita KEP nyata sebanyak 44 anak (0,10 %) dari 4.438 jumlah balita
yang ditimbang di posyandu. Untuk tahun 2006, balita dengan status gizi buruk sebanyak
10.9/1000 balita, sedangkan gizi kurang 33.6 /1000 balita.

Dari hasil pengumpulan informasi serta penelaahan data pelayanan kesehatan dapat terlihat
masalah yang memerlukan penanganan segera, dan dengan sendirinya dapat ditentukan tujuan
yang ingin dicapai dalam program promosi kesehatan. Sangat sulit jika secara tiba-tiba tujuan
ditetapkan tanpa melakukan analisis. Jika identifikasi tidak tepat mungkin saja yang dianggap
masalah adalah kesehatan ibu dan anak secara umum, dan jika demikian maka sudah pasti
penetapan tujuan program melenceng dari sasaran. Misalnya, karena masalah yang terlihat adalah
kesehatan ibu dan anak, maka diidentifikasi masalah yang akan diitervensi adalah persalinan
tenaga kesehatan (PN), kekeliruan ini akan berlanjut pada penentuan tujuan program karena
sasaran juga telah meleset. Kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa analisis komunitas dapat
membantu promotor kesehatan untuk mempertajam identifikasi masalah serta penetapan tujuan.

KELEMAHAN-KELEMAHAN
Melakukan identifikasi masalah dan menetapkan tujuan dengan bantuan analisis komunitas,
tentunya tetap mempunyai kelemahan disamping kelebihan-kelebihan. Kelemahan yang paling
mudah terbaca terletak pada kerumitan dalam melakukan analisis terhadap berbagai aspek
komunitas. Kerumitan ini menuntut kejelian dan kehandalan kemampuan dari seorang perencana
program (promotor kesehatan). Banyaknya aspek yang harus dianalisis bisa saja mengundang
kekeliruan dalam memahami masalah yang harus diidentifikasi.

SOLUSI MENGATASI HAMBATAN


Kelemahan di atas merupakan hambatan yang akan mengganggu proses perencanaan program
promosi, karena itu harus diatasi dengan melakukan fokus sejak awal terhadap aspek-aspek
tertentu. Obyek analisis harus dilokalisir sedemikian rupa sehingga identifikasi masalah dapat
dilakukan secara lebih tajam. Sedangkan dari sisi promotor kesehatan, harus ‘berlatih’ untuk
melakukan analisis yang cermat dalam melakukan identifikasi serta piawai dalam menetapkan
tujuan yang akan dicapai.

Bahan Bacaan :
1.Thaha, Ridwan M. Bahan Kuliah Manajemen Program Promosi, Program Pascasarjana Promkes
Univ. Hasanuddin Makassar. 2008
2.________ Definitions of Health Promotion, Centers For Diseases and Prevention – CDC Home.
American Journal of Health Promotion.
3.________ Behavioral Change Theories and Models, Centers For Diseases and Prevention –
CDC Home, American Journal of Health Promotion.
4.Siswanto, Memahami Evolusi Teori Manajemen untuk Menjadi Manajer yang Efektif, Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan, Vol.09 Hal. 168-176 Nomor 04 Desember 2006.
5.Notoatmodjo, Soekidjo dkk. Promosi Kesehatan – Teori dan Aplikasi, Rineka Cipta. Jakarta
2005
6.Wass, Andrea. Promoting Health- The Primary Health Care Approach. 2nd Ed. Elsevier
Australia, 2003