You are on page 1of 21

ASUHAN KEPERAWATAN Pada KELAINAN HAID

Dosen : Devi Permatasari,S.Kep.,Ns.,MAN

Nama Anggota :
1. Arifah Zeni Mely.K (1702048)
2. Hanifah Cahyaningrum (1702061)
3. Ratna Puspitasari (1702073)
4. Yeni Octavianti (1702085)

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah Klaten


2018/2019

1
DAFTAR ISI
BAB I ............................................................................................................................................................ 3
PENDAHULUAN ........................................................................................................................................ 3
A. Latar Belakang................................................................................................................................... 3
B. Tujuan ............................................................................................................................................... 3
BAB II........................................................................................................................................................... 4
Konsep Dasar ................................................................................................................................................ 4
A. Pengertian ......................................................................................................................................... 4
B. Etiologi .............................................................................................................................................. 4
C. Klasifikasi ........................................................................................................................................... 5
D. Patofisiologi....................................................................................................................................... 8
E. Tanda dan Gejala ............................................................................................................................ 11
F. Pemeriksaan Diagnostik .................................................................................................................. 16
G. Penatalaksanaan ............................................................................................................................. 17
H. Pathways ......................................................................................................................................... 20

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses menstruasi merupakan hal alamiah yang terjadi pada setiap wanita. Proses
menstruasi adalah peluruhan dinding Rahim (endometrium) yang disertai dengan
terjadinya pendarahan. Proses menstruasi tidak terjadi pada ibu hamil. Proses menstruasi
umumnya terjadi semenjak usia 11 tahun sampai dengan usia 50 tahun-an. Setiap wanita
memiliki rentang waktu yang berbeda-beda. Siklus mentruasi terjadi setiap 25 – 35 hari
sekali.
Namun ada juga wanita yang mengalami siklus yang belum teratur atau di luar
jangka waktu di atas. Menstruasi terjadi selama 3 sampai dengan 7 hari. Jika anda
mengalami proses menstruasi di luar ketentuan umum, konsultasikanlah dengan dokter
kandungan untuk mengetahui penyebabnya dan pastikan bahwa tidak terdapat kelainan
atau penyakit yang berkaitan.
Ketika wanita sedang berada pada proses menstruasi, darah yang di keluarkan 25
sampai dengan 150 ml. Ketika dalam proses menstruasi, secara umum wanita sering
mengalami pening-pening, kram perut, lemas dan pegal pada area paha dan pinggang.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui konsep dasar penyakit disminore
2. Untuk mengetahui konsep dasar asuhan keperawatan bagi pasien disminore

3
BAB II

Konsep Dasar

A. Pengertian
Menstruasi adalah perdarahan vagina secara berkala akibat terlepasnya lapisan
endometrium uterus. Fungsi menstruasi normal merupakan hasil interaksi antara
hipotalamus, hipofisis, dan ovarium dengan perubahan terkait pada jaringan sasaran pada
saluran reproduksi normal, ovarium memainkan peranan penting dalam proses ini, karena
tampaknya bertanggung jawab dalam pengaturan perubahan – perubahan siklik maupun
lama siklus menstruasi (Greenspan et al, 1998).

Menstruasi adalah keluarnya darah melalui vagina, yang berasal dari rahim,
berlangsung secara teratur, sebagai aspek dari kerja hormon-hormon retorik (Yanto
Kadarusman,2000).

Menstruasi adalah pelepasan dinding rahim (endometrium) yang disertai dengan


pendarahan dan terjadi setiap bulannya kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang
terjadi terus menerus setiap bulannya disebut sebagai siklus menstruasi. menstruasi
biasanya terjadi pada usia 11 tahun dan berlangsung hingga anda menopause (biasanya
terjadi sekitar usia 45 – 55 tahun). Normalnya, menstruasi berlangsung selama 3 – 7 hari.

B. Etiologi
Penyebab gangguan haid dapat karena kelainan biologik (organik atau
disfungsional) atau dapat pula karena psikologik seperti keadaan – keadaan stress dan
gangguan emosi atau gangguan biologik dan psikologik. Siklus menstruasi mempunyai
hubungan tertentu terhadap keadaan fisik dan psikologik wanita. Banyak penyebab
gangguan haid , yaitu berdasarkan kelainan yang dijumpai seperti:

1. Fungsi hormon terganggu

Haid terkait dengan system hormone yang diatur otak, tepatnya dikelenjar
hipofisa. Sistem hormonal ini akan mengirim sinyal ke indung telur untuk
memproduksi sel telur. Bila sistem pengaturan ini terganggu, otomatis terjadi
gangguan pada menstruasi.

4
2. Kelainan sistemik

Tubuhnya sangat gemuk atau kurus dapat mempengaruhi siklus haid karena
sistem metabolism di dalam tubuhnya tak bekerja dengan baik, atau wanita yang
menderita penyakit diabetes, juga akan mempengaruhi sistem merabolisme sehingga
haid pun tidak teratur.

3. Stress

Stress akan mengganggu sistem metabolisme di dalam tubuh, karena stress,


wanita akan menjadi mudah lelah, berat badan menurun drastis, bahkan sakit-
sakitan, sehingga metabolisme terganggu. Jika metabolisme terganggu, haid pun
juga ikut terganggu.

4. Kelenjar gondok

Terganggunya fungsi kelenjar gondok/ tiroid juga bisa menyebabkan tidak


teraturnya haid. Gangguan bisa berupa produksi kelenjar gondok yang terlalu tinggi
(hipertiroid) maupun terlalu rendah (hipotiroid) yang dapat mengakibatkan sistem
hormonal tubuh ikut terganggu.

5. Hormon prolaktin berlebih

Hormon prolaktin dapat menyebabkan seorang wanita tidak haid, karena


memang hormon ini menekan tingkat kesuburan. Pada wanita yang tidak sedang
menyusui hormon prolaktin juga bisa tinggi, biasanya disebabkan kelainan pada
kelenjar hipofisis yang terletak di dalam kepala.

C. Klasifikasi
Menurut Manuaba (1998 & 2004) terdapat beberapa bentuk kelainan haid dan siklus haid
masa reproduksi aktif sebagai berikut:

1. Kelainan tentang banyak dan lama perdarahan


a. Hipermenorea/ menoragia
Jadwal siklus haid tetap, tetapi kelainan terletak pada jumlah perdarahan
lebih bayak dan disertai gumpalan darah dan lamaya perdarahan lebih dari 8 hari
(Manuaba, 1998). Menurut Manuaba (2004), hipermenorea dapat disertai dengan
gangguan psikosomatik. Terjadinya hipermenorea berkaitan dengan kelainan pada
rahim, yaitu mioma uteri, polip endometrium dan gangguan pelepasan
endometrium.

5
b. Hipomenorea
Siklus menstruasi (haid) tetap, tetapi lama perdarahan memendek kurang
dari 3 hari (Manuaba, 1998). Hipomenorea dapat disebabkan kesuburan
endometrium kurang karena keadaan gizi penderita yag rendah, penyakit menahun
dan gangguan hormonal.

2. Kelainan siklus haid


a. Polimenorea
Terdapat siklus menstruasi yang memendek dari biasa yaitu kurang dari 21 hari,
sedangkan jumlah perdarahan relatif tetap (Manuaba, 1998).
b. Oligomenorea
Siklus di atas 35 hari (Manuaba, 1998), namun perdarahannya biasanya kurang.
Penyebabnya adalah gangguan hormonal, ansietas dan stress, penyakit kronis, obat-
obatan tertentu, bahaya di tempat kerja dan lingkungan, status penyakit nutrisi yang
buruk, olahraga yang berat, penurunan berat badan yang signifikan.
c. Amenorea
Merupakan gejala atau keadaan klinis dengan ciri belum mendapatkan menstruasi
atau terlambat menstruasi selama tiga bulan berturut-turut (Manuaba,
1998). Menurut Manuaba (2004), amenorea dapat bersifat:
1. Fisiologis:
Amenore bersifat fisiologis pada perempuan usia prapubertas, hamil pascamenopause, di
luar itu amenore menunjukkan adanya disfungsi atau abnormalitas dari sistem reproduksi
(Sylvia & Lorraine, 2006).
2. Bersifat patologis
a. Primer amenorea
Amenore primer adalah tidak terjadiya menstruasi sampai usia 17 tahun, dengan
atau tanpa tanda perkembangan seksual sekunder (Sylvia & Lorraine,
2006).Amenorea primer adalah tidak terdapatnya menstruasi pada pasien
berusia 16 tahun dengan ciri-ciri seksual sekunder yang normal atau tidak
terdapatya menstruasi pada pasien berusia 14 tahun tanpa tanda-tanda
pematagan seksual (Linda J. & Danny J., 2008).
b. Sekunder amenorea
Amenorea sekunder adalah tidak terdapatnya tiga siklus menstruasi atau tidak
adaya perdarahan menstruasi selama 6 bulan (Linda J. & Danny J., 2008).
Amenore sekunder berarti tidak terjadinya menstruasi selama 3 bulan atau lebih
pada orang yang telah mengalami siklus menstruasi (Sylvia & Lorraine, 2006).

6
3. Perdarahan di luar haid
a. Metroragia
Merupakan kondisi dimana perdarahan terjadi terus menerus dan berkepanjangan
yang biasanya terjadi karena penyakit–penyakit organic misalnya fibroid dan
karsinoma.

4. Keadaan lain berkaitan dengan haid

a. Ketegangan pra-haid/Premenstrual tention


Merupakan keluhan yang menyertai menstruasi dan sering dijumpai pada masa
reproduksi aktif (Manuaba, 1998). Sindrom pramenstruasi (PMS/Premenstrual
syndrome) atau premenstrual tension (PMT) adalah gabungan dari gejala-gejala
fisik dan psikologis yang terjadi selama fase luteal siklus menstruasi dan
menghilang setelah menstruasi dimulai (Sylvia & Lorraine, 2006). Pada sekitar
10% perempuan gejala pramestruasi cukup berat hingga memerlukan perawatan
medis (Sylvia & Lorraine, 2006).
Faktor penyebabnya adalah kejiwaan yang labil dan angguan keseimbangan
estrogen-progesteron. Adapun gejala yang muncul berupa kelainan hubungan di
lingkungan keluarga dan terlalu peka terhadap perubahan hormonal. PMS dapat
menyebabkan retensi natrium dan air, payudara terasa bengkak dan sakit; dan berat
badan bertambahdisertai edema tungkai.
Penanganan PMS tidak memerlukan pengobatan, karena akan hilang setelah
menstruasi. Namun demikian, dapat diberikan obat penenang dan untuk
mengurangi gejala klinis dapat diberikan diuretik ringan dan testosteron sebaga anti
estrogen sebanyak 5 mgr selama 7 hari.

b. Mastodinia/ Mastalgia
Merupakan rasa berat dan bengkak pada payudara menjelang menstruasi
(Manuaba, 1998). Hal ini disebabkan oleh pengaruh estrogen yang menyebabkan
retensi natrium dan air pada payudara serta terjadi tekanan ujung saraf yang
menimbulkan rasa nyeri.

c. Perdarahan ovulasi/ Mittelschmer


Merupakan rasa nyeri yang terjadi saat ovulasi. Namun, hal ini jarang diasakan oleh
wanita (Manuaba, 1998).

d. Dismenorea

7
Dismenore adalah nyeri selama menstruasi yang disebabkan oleh kejang otot uterus
(Sylvia & Lorraine, 2006). Rasa nyeri sering digambarka sebagai nyeri kram pada
abdomen bagian bawah yang terjadi selama haid (William M., 2005). Dismenore
primer apabila tidak terdapat gangguan fisik yang menjadi peyebab dan hanya
terjadi selama siklus-siklus ovulatorik (Sylvia & Lorraine, 2006). Penyebabnya
adalah adanya jumlah prostaglandin F2α yang berlebihan pada darah menstruasi,
yang meragsang aktivitas uterus (Sylvia & Lorraine, 2006).
Gejala utama adalah nyeri, dimulai pada saat awitn menstruasi. Nyeri dapat tajam,
tumpul, siklik atau menetap; dapat berlangsung dalam beberapa jam sampai 1 hari,
namun dapat melebihi 1 hari namun tidak sampai lebih dari 72 jam. Gejala-gejala
sistemik yang menyertai berupa mual, diare, sakit kepala dan perubahan emosional.
Dismenore sekunder timbul karena adanya masalah fisik seperti endometriosis,
polip uteri, leiomioma, stenosis serviks atau penyakit radang panggul (PID) (Sylvia
& Lorraine, 2006).

e. Various menstruasi
Merupakan perdarahan yang terjadi pada organ lainnya yang tidak ada hubungan
endometrium (Manuaba, 2004). Pada organ tersebut dapat terjadi perdarahan sesuai
dengan siklus menstruasi. Organ tersebut yaitu hidung meimbulkan epistaksis dan
lambung.

D. Patofisiologi
Berikut ini akan dijelaskan patofisiologi dari beberapa macam gangguan haid.

1. Premenstrual Tension (Ketegangan Prahaid)

Meningkatnya kadar estrogen dan menurunnya kadar progresteron di dalam darah akan
menyebabkan gejala deprese dan khususnya gangguan mental. Kadar estrogen yang
meningkat akan mengganggu proses kimia tubuh termasuk vitamin B6 (piridoksin) yang
dikenal sebagai vitamin anti-depresi karena berfungsi mengontrol produksi serotonin.
Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan kurangnya persediaan zat ini dapat
mengakibatkan depresi.

Hormon lain yang dikatakan sebagai penyebab gejala premenstruasi adalah prolaktin.
Prolaktin dihasilkan oleh kelenjar hipofisis dan dapat mempengaruhi jumlah estrogen dan
progresteron yang dihasilkan pada setiap siklus. Jumlah prolaktin yang terlalu banyak
dapat mengganggu keseimbangan mekanisme tubuh yang mengontrol produksi kedua
hormone tersebut. Wanita yang mengalami sindroma pre-menstruasi dapat memiliki kadar
prolaktin yang tinggu atau normal.

8
Selanjutnya adalah karena gangguan metabolisme prostaglandin akibat kurangnya gamma
linolenic acid (GLA). Fungsi prostaglandin adalah untuk mengatur sistem reproduksi
(mengatur efek hormone estrogen dan progresteron), sistem saraf, dan sebagai anti
peradangan.

2. Disminorea

a. Disminorea Primer

Bila tidak terjadi kehamilan, maka korpus luteum akan mengalami


regresi dan hal ini akan mengakibatkan penurunan kadar progresteron.
Penurunan ini akan menyebabkan labilisasi membrane lisosom, sehingga
mudah pecah dan melepaskan enzim fosfolipase A2. Fosfolipase A2 ini akan
menghidrolisis senyawa fosfolipid yang ada di membrane sel endometrium
dan menghasilkan asam arakhidonat. Adanya asam arakhidonat bersama
dengan kerusakan endometrium akan merangsang kaskade asam arakhidonat
yang akan menghasilkan prostaglandin, antara lain PGE2 dan PGF2 alfa.
Wanita dengan disminorea primer didapatkan adanya peningkatan kadar PGE
dan PGF2 alfa di dalam darahnya, yang akan merangsang miometrium dengan
akibat terjadinya pningkatan kontraksi dan disritmi uterus. Akibatnya akan
terjadi penurunan aliran darah ke uterus dan ini akan mengakibatkan iskemia.
Prostaglandin sendiri dan endoperoksid juga menyebabkan sensitisasi dan
selanjutnya menurunkan ambang rasa sakit pada ujung-ujung syaraf aferen
nervus pelvicus terhadap rangsang fisik dan kimia.

b. Disminorea Sekunder

Adanya kelainan pelvis, misalnya : endometriosis, mioma uteri,


stenosis serviks, malposisi uterus atau adanya IUD akan menyebabkan kram
pada uterus sehingga timbul rasa nyeri.

3. Perdarahan Uterus Abnormal

Perdarahan abnormal biasanya merupakan gejala dari penyakit lain. Banyak


penyebab perdarahan uterus abnormal, yang dapat dikelompokkan dalam empat
kategori utama, yaitu komplikasi kehamilan, lesi organic, penyakit konstitusional,
dan perdarahan uterus disfungsi sejati. Berikut ini adalah patofisiologi beberapa
kasus terkait perdarahan uterus abnormal yang paling sering terjadi :

a. Hipermenorea (Menorraghia)

9
Pada siklus ovulasi normal, hipotalamus mensekresi gonadotropin
releasing hormone (GnRH), yang menstimulasi pituitary agar melepaskan
follicle stimulating hormone (FSH). Hal ini pada gilirannya akan
menyebabkan folikel di ovarium tumbuh dan matur pada pertengahan siklus,
pelepasan leteinzing hormone (LH) dan FSH menghasilkan ovulasi.
Perkembangan folikel menghasilkan estrogen yang berfungsi menstrimulasi
endometrium agar berproliferasi. Setelah ovum dilepaskan, kadah FSH dan
LH rendah. Folikel yang telah kehilangan ovum akan berkembang menjadi
korpus luteum yang akan mensekresi progresteron. Progresteron
menyebabkan poliferasi endometrium untuk berdeferensiasi dan stabilisasi. 14
hari setelah ovulasi terjadilah menstruasi. Menstruasi berasal dari peluruhan
endometrium sebagai akibat dari penurunan kadar estrogen dan progresteron
akibat involusi korpus luteum.

Siklus anovulasi pada umumnya terjadi 2 tahun pertama setelah


menstruasi awal yang disebabkan oleh HPO axis yang belum matang. Siklus
anovulasi juga terjadi pada beberapa kondisi patologis.

Pada siklus anovulasi, perkembangan folikel terjadi dengan adanya


stimulasi dari FSH, tetapi dengan berkurangnya LH, maka ovulasi tidak
terjadi. Akibatnya tidak ada korpus luteum yang terbentuk dan tidak ada
progresteron yang disekresi. Endometrium berproliferasi dengan cepat, ketika
folikel tidak terbentuk produksi estrogen menurun dan mengakibatkan
perdarahan. Kebanyakan siklus anovulasi berlangsung dengan perdarahan
yang normal, namun ketidakstabilan poliferasi endometrium yang
berlangsung tidak mengakibatkan perdarahan hebat.

b. Amenorea

Tidak adanya uterus, baik itu sebagai kelainan atau sebagau bagian
dari sindrom hemaprodit seperti testicular feminization, adalah penyebab
utama dari amenore primer. Testicular feminization disebabkan oleh kelainan
genetic. Pasien dengan amenorea primer yang diakibatkan oleh hal ini
menganggap dan menyampaikan dirinya sebagai wanita yang normal,
memiliki tubuh feminism. Vagina kadang-kadang tidak ada atau mengalami
kecacatan, tapi biasanya terdapat vagina. Vagina tersebut berakhir sebagai
kantong kosong dan tidak terdapat uterus. Gonad, yang secara morfologi
adalah testis berada di kanal inguinalis. Keadaan seperti ini yang
menyebabkan pasien mengalami amenorea yang permanen.

10
Amenorea primer juga dapat disebabkan karena kelainan pada aksis
hipotalamus-hipofisis-ovarium.
Hypogonadotropik amenorrhoea menunjukkan keadaan dimana
terdapat sedikit sekali kadar FSH dan LH dalam serum. Akibatnya,
ketidakadekuatan hormone ini menyebabkan kegagalan stimulus terhadap
ovarium untuk melepaskan estrogen dan progresteron. Kegagalan
pembentukan estrogen dan progresteron akan menyebabkan tidak menebalnya
endometrium karena tidak ada yang merangsang. Terjadilah amenorea. Hal ini
adalah tipe keterlambatan pubertas karena disfungsi hipotalamus atau hipofisis
anterior, seperi adenoma pituitary.

Hypergonadotropik amenorrhoea merupakan salah satu penyebab


amenorea primer. Hypergonadotropik amenorrhoea adalah kondisi dimana
terdapat kadar FSH dan LH yang cukup untuk menstimulasi ovarium tetapi
ovarium tidak mampu menghasilkan estrogen dan progresteron. Hal ini
menandakan bahwa ovarium atau gonad tidak berespon terhadap rangsangan
FSH dan LH dari hipofisis anterior. Disgenesis gonad atau premature
menopause adalah penyebab yang mungkin. Pada tes kromosom seorang
individu yang masih muda dapat menunjukkan adanya hypergonadotropik
amenorrhoea. Disgenesis gonad menyebabkan seorang wanita tidak pernah
mengalami menstruasi dan tidak memiliki tanda seks sekunder. Hal ini
dikarenakan gonad (ovarium) tidak berkembang dan hanya berbentuk
kumpulan jaringan pengikat.

Amenorea sekunder disebabkan oleh faktor lain di luar fungsi


hipotalamus-hipofisis-ovarium. Hal ini berarti bahwa aksis hipotalamus-
hipofisis-ovarium dapat bekerja secara fungsional. Amenorea yang terjadi
mungkin saja disebabkan oleh adanya obstruksi terhadap aliran darah yang
akan keluar uterus, atau bisa juga karena adanya abnormalitas regulasi
ovarium seperti kelebihan androgen yang menyebabkan polycystic ovary
syndrome.

E. Tanda dan Gejala


Tanda-tanda gangguan datang bulan (haid) : (David Werner, dkk 2010)

Bagi wanita-wanita tertentu, tidak teraturnya datang bulan merupakan keadaan yang wajar,
namun bagi wanita lainnya, keadaan ini dapat merupakan tanda bagi penyakit menahun,
kekurangan darah (anemia), gangguan gizi (malnutrisi), atau mungkin adanya infeksi atau
tumor dalam rahim (uterus). Apabila datang bulan (haid) tidak terjadi pada saat yang
seharusnya, hal ini mungkin menunjukkan tanda kehamilan Akan tetapi masa datang bulan

11
yang tidak teratur atau tidak mendapatkan bulanan sering merupakan keadaan yang wajar
bagi banyak gadis yang baru saja mendapatkan bulanannya dan bagi wanita yang berusia
di atas 40 tahun. Kecemasan dan gangguan emosional dapat menyebabkan seorang wanita
tidak mendapatkan bulanannya. Apabila perdarahan mulai terjadi selama kehamilan, hal
ini hampir selalu menjadi tanda permulaan suatu keguguran atau abortus (kematian bayi di
dalam kandungan). Apabila masa haid berlangsung lebih dari 6 hari, dan daerah yang
dikeluarkan banyak dan tidak seperti biasanya, atau datang haid lebih dari satu kali dalam
sebulan, maka pasien harus segera meminta nasihat dari dokter. Menurut Dr. Salma dalam
majalahkesehatan.com pada 14 Oktober 2010, perempuan dapat memiliki berbagai
masalah dengan menstruasi/haid mereka. Masalah tersebut dapat berupa tidak mengalami
menstruasi sama sekali sampai menstruasi berat dan berkepanjangan. Pola haid boleh saja
tidak teratur, tetapi jika jarak antar menstruasi kurang dari 21 hari atau lebih dari 3 bulan,
atau jika haid berlangsung lebih dari 10 hari maka Anda harus mewaspadai adanya masalah
ovulasi atau kondisi medis lainnya.

1. Amenore

Amenore adalah tidak ada menstruasi. Istilah ini digunakan untuk


perempuan yang belum mulai menstruasi setelah usia 15 tahun (amenore primer) dan
yang berhenti menstruasi selama 3 bulan, padahal sebelumnya pernah
menstruasi (amenore sekunder). Amenore primer biasanya disebabkan oleh
gangguan hormon atau masalah pertumbuhan. Amenore sekunder dapat disebabkan
oleh rendahnya hormon pelepas gonadotropin (pengatur siklus haid), menyusui,
stres, anoreksia, penurunan berat badan yang ekstrem, gangguan tiroid, olahraga
berat, pil KB, kista ovarium dan masalah organ reproduksi lainnya. Pada usia remaja
dan tengah baya, amenore tidak selalu menunjukkan gangguan. Menstruasi
cenderung sangat tidak teratur pada beberapa tahun pertama menstruasi dan dapat
menjadi tidak teratur lagi saat seorang wanita mendekati menopause.

2. Sindrom Pramenstruasi (SPM)

Sindrom pramenstruasi (SPM) adalah sekelompok gejala fisik, emosi, dan


perilaku yang umumnya terjadi pada minggu terakhir fase luteal (seminggu sebelum
haid). Gejala biasanya tidak dimulai sampai 13 hari sebelum siklus, dan selesai
dalam waktu 4 hari setelah perdarahan dimulai. SPM mempengaruhi sebanyak 75%
wanita.
Beberapa gejala SPM yang sering dirasakan:

 Kram perut
 Nyeri payudara
 Depresi, mudah tersinggung, murung dan emosi labil (mood swing)

12
 Tidak tertarik seks (libido menurun)
 Jerawat berkala
 Perut kembung
 Sakit kepala atau sakit persendian
 Sulit tidur
 Sulit buang air besar (BAB)

Sebagian besar wanita yang menderita SPM hanya mengalami beberapa


dari gejala di atas. Ketika gejala SPM sangat parah, kondisinya disebut gangguan
pra-menstruasi disforik (pre-menstrual dysphoric disorder). Sekitar tujuh persen
wanita mengalaminya (sumber: MayoClinic). Penyebab SPM tidak diketahui
dengan pasti. Namun, ada teori tentang faktor-faktor yang dapat menyebabkan
sindrom. Gejala tampaknya berubah mengikuti fluktuasi hormon, yang
menunjukkan bahwa siklus perubahan hormon dapat menjadi penyebab utamanya.
Perubahan kadar serotonin, suatu neurotransmitter yang terlibat dalam
pengendalian mood, juga dapat menyebabkan SPM. Aspek-aspek tertentu dari diet
seperti rendahnya tingkat vitamin dan mineral juga dapat bertanggung jawab atas
beberapa gejala SPM. Makanan asin dapat menyebabkan SPM dengan
meningkatkan retensi air. Tipe dan gejalanya Tipe PMS bermacam-macam. Dr.
Guy E. Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA,
AS, membagi PMS menurut gejalanya yakni PMS tipe A, H, C, dan D. Kadang-
kadang seorang wanita mengalami gejala gabungan, misalnya tipe A dan D secara
bersamaan. Berikut gejala-gejala yang timbul sesuai tipe PMS masing-masing:

1. PMS tipe A (anxiety) ditandai dengan gejala seperti rasa cemas, sensitif,
saraf tegang, perasaan labil. Bahkan beberapa wanita mengalami depresi
ringan sampai sedang saat sebelum mendapat haid. Gejala ini timbul akibat
ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron: hormon estrogen
terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon progesteron. Pemberian
hormon progesteron kadang dilakukan untuk mengurangi gejala, tetapi
beberapa peneliti mengatakan, pada penderita PMS bisa jadi kekurangan
vitamin B6 dan magnesium. Penderita PMS A sebaiknya banyak
mengonsumsi makanan berserat dan mengurangi atau membatasi minum
kopi.
2. PMS tipe H (hyperhydration) memiliki gejala edema(pembengkakan),
perut kembung, nyeri pada buah dada, pembengkakan tangan dan kaki,
peningkatan berat badan sebelum haid. Gejala tipe ini dapat juga dirasakan
bersamaan dengan tipe PMS lain. Pembengkakan itu terjadi akibat
berkumpulnya air pada jaringan di luar sel (ekstrasel) karena tingginya
asupan garam atau gula pada diet penderita. Pemberian obat diuretika untuk
mengurangi retensi (penimbunan) air dan natrium pada tubuh hanya

13
mengurangi gejala yang ada. Untuk mencegah terjadinya gejala ini
penderita dianjurkan mengurangi asupan garam dan gula pada diet
makanan serta membatasi minum sehari-hari.
3. PMS tipe C (craving) ditandai dengan rasa lapar ingin mengonsumsi
makanan yang manis-manis (biasanya coklat) dan karbohidrat sederhana
(biasanya gula). Pada umumnya sekitar 20 menit setelah menyantap gula
dalam jumlah banyak, timbul gejala hipoglikemia seperti kelelahan,
jantung berdebar, pusing kepala yang kadang-kadang sampai pingsan.
Hipoglikemia timbul karena pengeluaran hormon insulin dalam tubuh
meningkat. Rasa ingin menyantap makanan manis dapat disebabkan oleh
stres, tinggi garam dalam diet makanan, tidak terpenuhinya asam lemak
esensial (omega 6), atau kurangnya magnesium.
4. PMS tipe D (depression) ditandai dengan gejala rasa depresi, ingin
menangis, lemah, gangguan tidur, pelupa, bingung, sulit dalam
mengucapkan kata-kata (verbalisasi), bahkan kadang-kadang muncul rasa
ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri. Biasanya PMS tipe D
berlangsung bersamaan dengan PMS tipe A, hanya sekitar 3% dari selururh
tipe PMS benar-benar murni tipe D. PMS tipe D murni disebabkan oleh
ketidakseimbangan hormon progesteron dan estrogen, di mana hormon
progesteron dalam siklus haid terlalu tinggi dibandingkan dengan hormon
estrogennya. Kombinasi PMS tipe D dan tipe A dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yaitu stres, kekurangan asam amino tyrosine, penyerapan
dan penyimpanan timbal di tubuh, atau kekurangan magnesium dan
vitamin B (terutama B6). Meningkatkan konsumsi makanan yang
mengandung vitamin B6 dan magnesium dapat membantu mengatasi
gangguan PMS tipe D yang terjadi bersamaan dengan PMS tipe A.

Untuk mengatasi PMS, biasanya dokter memberikan pengobatan diuretika


untuk mengatasi retensi cairan atau edema (pembengkakan) pada kaki dan tangan.
Pemberian hormon progesteron dosis kecil dapat dilakukan selama 8 – 10 hari
sebelum haid untuk mengimbangi kelebihan relatif estrogen. Pemberian hormon
testosteron dalam bentuk methiltestosteron sebagai tablet isap dapat pula diberikan
untuk mengurangi kelebihan estrogen.

3. Dismenore

Dismenore adalah menstruasi menyakitkan. Nyeri menstruasi terjadi di perut


bagian bawah tetapi dapat menyebar hingga ke punggung bawah dan paha. Nyeri
juga bisa disertai kram perut yang parah. Kram tersebut berasal dari kontraksi
dalam rahim, yang merupakan bagian normal proses menstruasi, dan biasanya
pertama dirasakan ketika mulai perdarahan dan terus berlangsung hingga 32 – 48

14
jam. Dismenore yang dialami remaja umumnya bukan karena penyakit (dismenore
primer). Pada wanita lebih tua, dismenore dapat disebabkan oleh kondisi/penyakit
tertentu (dismenore sekunder), seperti fibroid uterus, radang panggul, endometriosis
atau kehamilan ektopik. Dismenore primer dapat diperingan gejalanya dengan obat
penghilang nyeri/anti-inflamasi seperti ibuprofen, ketoprofen dan naproxen. Berolah
raga, kompres dengan botol air panas, dan mandi air hangat juga dapat mengurangi
rasa sakit. Bila nyeri menstruasi tidak hilang dengan obat pereda nyeri, maka
kemungkinan merupakan dismenore sekunder yang disebabkan penyakit/kondisi
tertentu.

4. Menoragia

Menoragia adalah istilah medis untuk perdarahan menstruasi yang


berlebihan. Dalam satu siklus menstruasi normal, perempuan rata-
rata kehilangan sekitar 30 ml darah selama sekitar 7 hari haid. Bila perdarahan
melampaui 7 hari atau terlalu deras (melebihi 80 ml), maka dikategorikan
menoragia. Penyebab utama menoragia adalah ketidakseimbangan jumlah estrogen
dan progesteron dalam tubuh. Ketidakseimbangan tersebut menyebabkan
endometrium terus terbentuk. Ketika tubuh membuang endometrium melalui
menstruasi, perdarahan menjadi parah. Menoragia juga bisa disebabkan oleh
gangguan tiroid, penyakit darah, dan peradangan/infeksi pada vagina atau leher
rahim.

5. Perdarahan Abnormal

Perdarahan vagina abnormal (di luar menstruasi) antara lain:

 Pendarahan di antara periode menstruasi


 Pendarahan setelah berhubungan seks
 Perdarahan setelah menopause

Perdarahan abnormal disebabkan banyak hal. Dokter mungkin


memulai dengan memeriksa masalah yang paling umum dalam kelompok usia
pasien. Masalah serius seperti fibroid uterus, polip, atau bahkan kanker dapat
menjadi sebab perdarahan abnormal.
Menurut Prof. Dr.Med. Ali Baziad, SpOG(K) Divisi Imuno Endokronologi
-Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI-RSCM Jakarta , Gangguan haid
adalah darah haid yang keluar tidak memenuhi syarat suatu haid yang normal, dan
darah yang keluar biasanya disebut sebagai perdarahan yang menyerupai haid.
Gangguan haid atau perdarahan dapat disebabkan oleh penyakit tertentu, misalnya
tumor jinak/ ganas pada rahim, mulut rahim atau pada indung telur, atau disebabkan

15
oleh infeksi pada alat kelamin perempuan. Perdarahan dapat juga disebbakan oleh
efek samping obat-obat tertentu yang kebetulan sedang digunakan oleh seorang
perempuan. Kelainan sistem hormonal pada seorang perempuan dapat juga
menyebabkan perdarahan.

Berbagai gangguan haid yaitu antara lain :

a. Bila haid datang sebulan dua kali (<21 hari), yang disebut dengan istilah
polimenorea
b. Seorang perempuan mendapatkan haid terlalu jarang, di atas 35 hari sekali,
yang disebut sebagai oligomenorea
c. Tidak mendapatkan haid 6 bulan atau lebih, yang disebut sebagai amenorea
d. Seorang perempuan mendapatkan haid tidak teratur, bisa 2 atau 3, 4 bulan
sekali
e. Mengalami perdarahan bercak (spotting) sebelum haid datang, atau pada
pertengahan siklus, ataupun setelah selesainya haid
f. Keluarnya darah haid terlalu banyak, ganti pembalut sampai 6-7 kali/hari,
yang disebut sebagai hipermenorea
g. Keluarnya darah haid terlalu sedikit, ganti pembalut <2 kali/hari, disebut
dengan hipomenorea
h. Keluarnya darah haid lebih dari 6-7 hari, yang disebut sebagai menoragia.
Darah yang keluar dapat sedikit ataupun banyak

F. Pemeriksaan Diagnostik

1. Pemeriksaan umum

a. Keadaan tubuh penderita tidak jarang memberi petunjuk, penderita pendek


atau tinggi, ciri kelamin sekunder, hirsutisme.
b. Pemeriksaan ginekologik

Biasanya didapatkan adanya aplasia vagina, keadaan klitoris, aplasia uteri,


tumor ovarium

2. Pemeriksaan Psikologi (distress/tidak)

3. Pemeriksaan Penunjang

16
Apabila pemeriksaan klinis tidak memberikan gambaran yang jelas dapat dilakukan
pemeriksaan :

1. Rontgen : thorax terhadap tuberkulosis serta sella tursika


2. Sitologi vagina
3. Tes toleransi glukosa
4. Pemeriksaan mata untuk mengetahui tanda tumor hipofise
5. Kerokan uterus
6. Pemeriksaan metabolisme basal atau T3 dan T4 tiroid
7. Laparoskopi
8. Pemeriksaan kromatin seks
9. Pemeriksaan kadar hormon

Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Diagnosa


dismenore didasari oleh ketidaknyamanan saat mengalami menstruasi. Perubahan apapun
pada kesehatan reproduksi, termasuk hubungan badan yang dirasa sakit dan perubahan
pada jumlah dan lamanya menstruasi, memerlukan pemeriksaan ginekologis; perubahan-
perubahan seperti itu dapat menandakan sebab dari dismenore sekunder. Secara umum
pemeriksaan untuk menentukan diagnosa biasanya harus dilakukan anamnesis terlebih
dahulu, pemeriksaan fisik, USG, hysterosalpinogogram, laparoskopi, histeroskopi, dilatasi
dan kuretasi. Untuk pemeriksaan dismenore primer, pada pemeriksaan fisik biasanya
normal, tidak didapatkan massa pada bagian abdomen dan pelvis. Pemeriksaan
rectovaginal juga normal. Diluar dari pemeriksaan nyeri atau kram pelvis, biasanya
didapatkan nyeri sedang pada pergerakan dan tekanan dari uterus dan cerviks. Evaluasi
episode pertama nyeri, kemungkinan infeksi pelvis dan kehamilan pasien juga harus
dievaluasi (Gunawan, 2002).

G. Penatalaksanaan

a. Amenorea

Penatalaksanaan untuk kasus amenore tergantung kepada penyebabnya. Jika


penyebabnya adalah penurunan berat badan yang drastis atau obesitas, penderita
dianjurkan untuk menjalani diet yang tepat. Pengobatan di berikan bergantung pada
penyebab amenorea. Terapi hormonal dan konseling sebagai gangguan konsep diri
dapat diberikan kepada pasien Jika penyebabnya adalah olah raga yang berlebihan,
penderita dianjurkan untuk menguranginya. Jika seorang anak perempuan yang belum
pernah mengalami menstruasi (amenore primer ) dan selama hasil pemeriksaan normal,
maka dilakukan pemeriksaan setiap 3 – 6 bulan untuk memantau perkembangan
pubertasnya. Untuk merangsang menstruasi bisa diberikan progesteron. Untuk

17
merangsang perubahan pubertas pada anak perempuan yang payudaranya belum
membesar atau rambut kemaluan dan ketiaknya belum tumbuh, bisa diberikan
estrogen. Jika penyebabnya adalah tumor, maka dilakukan pembedahan untuk
mengangkat tumor tesebut.

b. Oligomenorea

Penatalaksanaan yang diberikan kepada penderita oligomenorea akan disesuaikan


dengan penyebabnya. Oligomenorea yang terjadi pada tahun-tahun pertama setelah
haid pertama dan oligomenorea yang terjadi menjelang menopause tidak memerlukan
pengobatan yang khusus. Sementara oligomenorea yang terjadi pada gangguan nutrisi
dapat diatasi dengan terapi nutrisi dan akan didapatkan siklus menstruasi yang reguler
kembali. Pada umumnya, disamping mengatasi faktor yang menjadi penyebab
timbulnya,penderita oligomenorea juga akan diterapi dengan menggunakan terapi
hormone.Jenis hormon yang diberikan akan disesuaikan dengan jenis hormon yang
mengalami penurunan dalam tubuh (yang tidak seimbang). Pasien yang menerima
terapi hormonal sebaiknya dievaluasi 3 bulan setelah terapi diberikan, dan kemudian 6
bulan untuk reevaluasi efek yang terjadi.

c. Polimenorea

Pada umumnya, polimenorea bersifat sementara dan dapat sembuh


dengan sendirinya. Penderita polimenorea harus segera dibawa ke dokter jika
polimenorea berlangsung terus menerus. Polimenorea yang berlangsung terus menerus
dapat menimbulkan gangguan hemodinamik tubuh akibat darah yang keluar terus
menerus.Disamping itu, polimenorea dapat juga akan menimbulkan keluhan berupa
gangguan kesuburan karena gangguan hormonal pada polimenorea mengakibatkan
gangguan ovulasi (proses pelepasan sel telur). Wanita dengan gangguan ovulasi
seringkali mengalami kesulitan mendapatkan keturunan.

d. Menoragia atau Hipermenore

Pengobatan menorrhagia sangat tergantung kepada penyebabnya. Untuk


memastikan penyebabnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan seperti
pemeriksaan darah, tes pap smear, biopsi dinding rahim, pemeriksaan USG, dan lain
sebagainya. Jika menoragia diikuti oleh adanya anemia, maka zat besi perlu diberikan
untuk menormalkan jumlah hemoglobin darah. Terapi zat besi perlu diberikan untuk
periode waktu tertentu untuk menggantikan cadangan zat besi dalam tubuh. Selain itu,
menorrhagia juga dapat diterapi dengan pemberian hormon dari luar, terutama untuk
menorrhagia yang disebabkan oleh gangguan keseimbangan hormonal. Terapi
hormonal yang diberikan iasanya berupa obat kontrasepsi kombinasi atau pill

18
kontrasepsi yang hanya mengandung progesteron. Menorrhagia yang terjadi akibat
adanya mioma dapat diterapi dengan melakukan terapi hormonal atau dengan
pengangkatan mioma dalam rahim baik dengan kuretase ataupun dengan tindakan
operasi.

e. Hipomenorea

Hipomenorea adalah perdarahan haid yang lebih pendek dan atau lebih kurang dari
biasa. Hipomenorrhea adalah suatu keadan dimana jumlah darah haid sangat sedikit
(<30cc). Hipomenorea disebabkan oleh karena kesuburan endometrium kurang akibat
dari kurang gizi, penyakit menahun maupun gangguan hormonal(kekurangan estrogen
maupun progesteron)

f. Metroragia

Suatu perdarahan vagina antara periode menstruasi teratur merupakan bentuk


disfungsi disfungsi menstruasi yang paling signifikan karena hal itu dapat
menunjukkan adanya kanker, tumor jinak uterus, dan masalah-masalah psikologi
lainnya. Kondisi ini menegakkan diagnosa dan pengobatan dini. Meskipun pendarahan
antara periode menstruasi pada wanita yang menggunakan kontraseptif oral biasanya
bukan masalah yang serius, namun perdarahan tak teratur pada wanita yang mendapat
terapi penggantian hormon harus dievaluasi lebih lanjut.

g. Dismenorea

Terapi medis untuk klien disminorea diantaranya :

1. Pemberian obat analgesik


2. Terapi hormonal
3. Terapi dengan obat nonsteroid antiprostaglandin
4. Dilatasi kanalis serviksalis (dapat memberikan keringanan karena
memudahkan pengeluaran darah haid dan prostaglandin di dalamnya)
5. Komplikasi yang sering timbul adalah syok dan penurunan kesadaran

h. PMS (Sindrom Premenstruasi)


1. Kurangi asupan makanan manis, garam, kopi, teh, cokelat, minuman bersoda,
lemak hewan, susu, keju, mentega, dan utamakan istirahat
2. Untuk mengurangi retensi natrium dan cairan, maka selama 7-10 hari sebelum
haid penggunaan garam di batasi dan minum sehari-hari dikurangi
3. Tingkatkan asupan vitamin B dan sayur-sayuran hijau
4. Pemberian obat diuretik

19
5. Progesteron sintetik dapat diberikan selama 8-10hari sebelum haid untuk
mengimbangi kelebihan relatif dari estrogen
6. Pemberian testosteron dalam bentuk methiltestosteron dapat diberikan dalam
mengurangi kelebihan estrogen.

H. Pathways

20
21