You are on page 1of 22

“Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta Keterkaitannya Dengan Fikhi

Munakahat”

Diajukan Sebagai Tugas


Pada Mata Kuliah Fikhi Munakahat
Jurusan Syariah
Prodi Akhwalul Syakhsiyah Semester III (Tiga)
Dosen Pengampu : Sudirman, MH.I

Disusun Oleh:

1. Abdul Malik Wardiana (Sya. 520717024)


2. Achmad Nur Amal (Sya. 520717023)
3. Arri Qur Rohman (Sya. 520717003)

Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Sorong

Tahun Akademik 2018/2019


A. LATAR BELAKANG

Islam adalah rahmatan lil alamin dimana segala persoalan telah


dibahas dalam syariat islam mulai dari hal-hal yang terkecil hingga pada hal-
hal yang besar baik urusan secara vertikan dengan Allah maupun horizontal
antara manusia dan manusia salah satunya ialah pernikahan.

Hal ihwal pernikahan telah diatur dalam syariat islam dan UU


Pernikahan mulai dari rukun, syarat, sampai pada tata cara pernikahannya.
Meskipun begitu, tetap saja terdapat keunikan-keunikaan tersendiri didalam
prosesi pernikahan masing-masing pasangan, hal itu terjaadi karena Indonesiaa
adalah Negara yang terdiri dari berbagai macam suku, meskipun tata cara dan
tahap-tahap pernikahan telah diatur dalam agama dan UU Pernikahan, secara
nyata tiap-tiap ras dan suku akan memperlihatkan ciri khas dan caranya sendiri
dalam menjalankan pernikahaan. Oleh karena itulah, keunikan-keunikaan
pernikahan dari masing-masing suku sangaat banyak dan mudah dijumpai di
Indonesia ini.

Kebudayaan adat jawa memang sangat menarik dan beragam salah


satunya yaitu prosesi pernikahannya. Dalam setiap prosesi pernikahan itu pun
memiliki arti atau makna tersendiri. Maka perlulah kita megetahui arti dari
setiap simbol dan tahapan-tahapannya dalam prosesi pernikahan adat jawa
tersebut, maka keunikan atau ciri khas tersebut aka nada yang berkaitan
dengan konsep Islam terkhusus yang mengatur tentang pernikahan yaitu Fiqh
Munakahat. Oleh karena itu, penulis merasa tertarik melakukan penelitian
dengan judul “Pernikahan Adat Jawa Di Sorong Serta Keterkaitannya
Dengan Fikhi Munakahat”.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana adat pernikahan masyarakat suku jawa di sorong?
2. Bagaimana keterkaitan adat pernikahan suku jawa di sorong dengan
konsep Fikhi Munakahat?

2
C. PEMBAHASAN

Tidak semua prosesi pernikahan adat jawa yang dilakukan di jawa


diterapkan oleh masyarakat suku jawa di sorong tergantung lagi kepada
masing-masing masyarakat suku jawa yang ada di sorong terhadap
perhatiannya kepada menjalani prosesi pernikahan dengan adat jawa dalam
artian masyarakat suku jawa di sorong dalam menerapkan prosesi pernikahan
adat jawa berbeda-beda ada yang hanya menyelipkan sedikit saja dan ada juga
yang banyak memakai cara prosesi pernikahan adat jawa, meskipun tidak
sampai yang ada di sorong yang melakukan semua prosesi pernikahan adat
jawa yang seharusnya dengan lengkap seperti di daerah jawa, adapula yang
dijabarkan di bawah ini adalah dengan sudut pandang yang terlengkap yang
pernah diterapkan di sorong sejauh ini.

1. Adat Pernikahan Masyarakat Suku Jawa di Sorong


Rangkaian acara pernikahan pada adat jawa dalam prosesi besar yaitu
prosesi hajatan dan prosesi panggih.
- Prosesi hajatan adalah sebagai prosesi persiapan dalam menyambut
hari pernikahan dengan harapan seluruh kelurga besar dan calon
pengantin yang akan melaksanakan hajat di jauhkan dari segala
halangan dan seluruh acara berjalan dengan lancar.
- Panggih dalam bahaa jawa berarti bertemu, merupakan budaya
tradisional yang dilaksanakan setelah acara akad nikah. Maknanya agar
pasangan yang baru menikah dapat menjalani kehidupan rumah tangga
mereka denagn bahagia dan sejahtera diiringi restu dari kedua orang
tua serta sanak saudara.
Tahap Pertama, yang di lakukan adalah calon mempelai laki-laki
datang ke rumah calon mempelai perempuan untuk memohon ijin kepada
orang tua si perempuan untuk menikahi anaknya, bila disetujui oleh bapak dari
perempuan tersebut maka calon laki-laki akan datang untuk yang kedua kali
dengan tujuan untuk melamar dengan membawa serta orang tuanya pada hari

3
yang telah disepakati. Namun ada pula yang memakai cara perjodohan,
dimana yang mempertemukan calon kedua mempelai adalah kedua orang tua
dari masing-masing pihak dan mempertemukan anak mereka yang apabila
saling setuju maka dilanjutkan dengan pelamaran.
Pada hari pelamaran, orang tua, mempelai laki-laki dan pihak ketiga
yakni kerabat, mereka berkunjung kerumah orang tua mempelai perempuan
membawa srah-srahan/paningset yang merupakan pemberian dari pihak pria
dapat berupa cincin, perhiasan, makanan tradisional, daun sirih, buah-buahan
atau uang. Dan membicarakan tentang penentuan hari akad nikah dan resepsi
pernikahan yang penentuan hari ini menurut adat masyarakat jawa bertujuan
mencari hari baik untuk pelangsungan acara nikah.
Tahap kedua, yang dilakukan adalah Pertemuan untuk membentuk
panitia pesta pernikahan dengan mengundang sanak saudara, keluarga,
tetangga dan kenalan. Dalam tahap ini perkerjaan yang harus dijalankan oleh
panitia kegiatan, mencakup pembuatan sampai pembagian surat undangan
pernikahan Termasuk membicarakan rincian program kerja untuk panitia dan
para pelaksananya.1
Tahap ketiga, yakni tahap dimana upacara hajatan sehari sebelum
akad nikah dimana ada pemasangan atribut-atribut dan kegiatan dalam upacara
hajatan yang secara umum di sorong dilakukan 1 hari sebelum hari akad dan
resepsi yakni:
a. Tarub : Kemakmuran dan harapan
kegiatan ini berupa penataan ruang dan pemasangan tenda
di sekitar rumah yang punya hajat untuk dijadikan sebagai tambahan
ruang bagi para tamu maupun para rewang yang membantu jalannya
acara pernikahan. Tarub ini menunjukkan tanda bahwa keluarga
sedang mengadakan acara dan keluarga yang memiliki hajatan
tersebut akan memiliki hak-haknya. Biasanya, keluarga tersebut

1
Wardiono, Subekti. Masyarakat Suku Jawa Di Kawasan Km 12 Masuk, Kelurahan Klawuyuk.
Wawancara. 09 Oktober 2018.

4
akan diberikan jalan, tarub berisi berbagai macam tumbuhan yang
masing-masing memiliki makna, namun yang sering dipakai di
daerah sorong hanya berupa daun kelapa yang masih muda. Tarub
sendiri mempunyai lambang kemakmuran dan harapan bagi keluarga
baru.
b. Kembar Mayang : Makna akan setiap harapan baik untuk
rumah tangga .
Kembar mayang adalah sepasang hiasan dekoratif simbolik
setinggi setengah sampai satu badan manusia yang dilibatkan dalam
upacara perkawinan adat Jawa, Kembar Mayang ini terbuat dari
rangkaian janur, daun, dan ornament –ornamen lainnya dan memiliki
makna-makna yang berbeda. Diantaranya ada ornament yang
berbentuk keris bermakna pengantin harus pandai dan berhati-hati
serta bijaksana dalam menjalani kehidupan. Terdapat juga ornament
burung yang melambangkan motivasi yang tinggi dalam menjalani
hidup.
c. Siraman: Membersihkan diri menjelang “acara” besar.
Sebelum memulai upacara pernikahan pengantin melakukan
siraman dari kata siram (mandi). Hal ini dimaksudkan untuk
membersihkan diri kedua pengantin sebelum menjalankan upacara
yang sacral. Dalam hal ini ada tujuh orang yang akan menyiramkan
air kepada calon pengantin. Tujuh disini dalam bahasa jawa adalam
“ pitu” yaitu artinya pitulungan (pertolongan) kepada calon
pengantin.Nantinya sang ayah mempelai wanitalah yang akan
memyelesaikan ritual siraman kemudian ayah juga akan
mengendong mempelai wanita menuju kamar pengantinnya.
d. Adol dawet :bergotong royong dalam membina rumah tangga
(Prosesi)
Dalam prosesi ini kedua orang tua menyelengarakan acara
menjual dawet sebagai hidangan kepada para tamu undangan yang
telah hadir menyaksikan prosesi yang telah berjalan. Tetapi

5
penjualan dawet ini tidak dibayar dengan uang, melainkan dengan
kreweng atau pecahan tembikar dari tanah liat sebagai tanda bahwa
pokok kehidupan berasal dari bumi. Di sini sang ibu kan melayani
para pembeli dan sang ayah akan memayungi sang ibu. Artinya
adalah untuk memberikan contoh kepada anak-anaknya dikemudian
hari bahwa mereka harus saling bergotong royong dalam membina
rumah tangga.
e. Potong Tumpeng
Dalam ritual jawa tumpeng identik dengan simbol
kemakmuran dan kesejahteraan karena bentuknya menyerupai
gunung. Prosesi pemotongan tumpeng ini akan dilakukan oleh ayah
dan ibu dengan mengambil bagian puncak tumpeng dan lauk
pauknya.
f. Dulangan pungkasan (suapan terakhir)
Prosesi ini yaitu prosesi suapan terakhir oleh ayah dan ibu
kepada calon pengantin sebagai tanda tanggung jawab terakhir dari
orang tua kepada anaknya yang akan menikah.
g. Rias Manten/merias pengantin
Dimana merias pengantin ini dinamakan paes yaitu
menghilangkan rambut halus yang tumbuh di sekitar dahi agar
tampak bersih dan wajah calon pengantin bercahaya,lalu merias
wajahnya dan pakaian yang di gunakan adalah pakaian adat jawa
yaitu kebaya.
h. Midodareni
Menurut pernikahan adat jawa, Midodareni adalah sebuah
prosesi menjelang acara panggih dan akad nikah. Arti kata
midodareni adalah bidadari, harapan dari ritual malam midodareni
adalah sang pengantin wanita akan terlihat cantik esok harinya Pada
malam ini pengantin wanita akan ditemani oleh seluruh anggota
keluarga dan di beri nasehat-nasehat yang berkaitan dengan
pernikahan.

6
Tahap keempat, adalah akad / ijab qobul , setelah menyelesaikan ijab
qobul maka selanjutnya yaitu upacara panggih dimana mempelai laki-laki
dipertemukan dengan mempelai perempuan dan saling menukar kembar
mayang.
Adapun prosesi pada saat resepsi ketika mempelai laki-laki
dipertemukan dengan mempelai perempuan, yaitu prosesi injak telur dimana
sang pria yang menginjak telur yang kemudian dibersihkan oleh sang
mempelai wanita, Dalam upacara ini, sang pria diharuskan menginjak telur
hingga pecah tanpa menggunakkan alas kaki lalu pengantin perempuan
membasuh kaki pengantin laki-laki yang bermakna untuk selalu patuh dan
menghormati suami.
Selanjutnya, orang tua pihak perempuan mengiring sang mempelai
menuju ke pelaminan atau dalam bahasa jawa disebut dengan iring-iringan,
kemudian setelah duduk di pelaminan terdapat prosesi yang bernama dulang-
dulangan yakni sang mempelai laki-laki menyuapi makanan kepada sang
perempuan begitu sebaliknya, setelah itu sungkeman, para mempelai meminta
restu kepada orang tua, selanjutnya prosesi kucur-kucuran. dimana sang
mempelai laki-laki menjatuhkan biji-bijian kepada sang mempelai perempuan
dan sang mempelai perempuan menadahinya yang bermakna bagaimana
seorang suami dapat bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan
keluarganya dengan memberikan nafkah atau penghasilannya kepada istri
seorang suami harus pandai menafkahi istri serta anak-anaknya kelak.
Selain prosesi itu terdapat janur kuning yang merupakan gerbang
untuk memasuki resepsi pernikahan. Janur “jalarane nur” yang maknanya agar
pernikahan tersebut mendapatkan cahaya atau pencerahan untuk rumah tangga
yang baru, janur kuning juga dimaksudkan untk menandai adanya acara dan
menyingkirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Setelah prosesi panggih
sebagiamana yang dijelaskan diatas lalu ada acara campur sari, yaitu dari
berbagai alat music dimainkan dan dengan melantunkan nyanyian jawa,

7
namun yang lebih sering di lakukan di sorong adalah sekedar memutarnya
melalui pengeras suara.
Tahap kelima, setelah semua prosesi di rumah mempelai perempuan
selesai, terkadang ada juga yang memakai acara ngunduh mantu, ngunduh
mantu berasal dari bahasa jawa yakni ngunduh dan mantu, ngunduh berarti
mendapatkan dan mantu berarti menentu jadi arti dari ngunduh mantu adalah
mendapatkan menantu, biasanya di lakukan tak berapa lama seusai pesta
pernikahan sehari atau dua hari setelahnya, akan tetapi bisa lebih lama lagi.2

2. Keterkaitan Adat Pernikahan Suku Jawa Di Sorong Dengan Konsep


Fikhi Munakahat

a. Pada Tahap Pertama

Kesesuaian prosesi adat pernikahan suku jawa di sorong dengan


konsep fikhi munakahat pada tahap pertama seperti yang telah dijelaskan
di atas adalah dimana pada tahapan yang memakai cara perjodohan, maka
dapat di samakan dengan konsep fiqh munakahat yaitu tahapan nazhor,
yaitu dipertemukannya kedua calon mempelai yang sebelumnya belum
saling mengenal, dan disunnahkan melihat wajah wanita tersebut, tetapi
yang disepakati para ulama yang boleh dilihat adalah muka dan kedua
telapan tangannya dengan bermaksud untuk menikahinya.3. Sementara
konsep yang satunya apabila kedua calon mempelai sudah saling mengenal
sebelumnya dan sudah sama-sama saling suka, maka apabila cara yang
seperti ini bila dikaitkan dengan konsep fiqh munakahat akan lebih sesuai
dengan khitbah yaitu meminta seorang wanita untuk dijadikan istri,

2
Anjarwati, Neneng, Mahasiswa STAIN Sorong, Prodi Akhwalulsyakhsiyah, Wawancara. 15
Oktober 2018
3
Abdul Qadir Jawas, yazid bin, 2017. Panduan keluarga sakinah. Jakarta: Pustaka Imam Syafi’i,
Penebar Sunnah

8
Begitu pula proses selanjutnya yang masih dalam tahap pertama
yaitu pelamaran dengan membawa serta serah-serahan/paningset dari
pihak pria maka hal ini sama saja pula dengan tahapan khitbah, khitbah
artinya melamar seorang wanita untuk dinikahi, melamar bukanlah syarat
sah pernikahan namun ia merupakan sarana menuju pernikahan,
berdasarkan dalil, diriwayatkan dari Urwah Bin Az-Zubair RA, dia berkata
:“Bahwa Nabi SAW telah mengkhitbah ‘Aisyah RA melalui Abu Bakar
Ash-Shiddiq RA…” (HR. Bukhari)4

Namun dalam adat jawa ada penambahan pembawaan srah-


srahan yang bila srah-srahan ini dapat memberatkan pihak laki-laki, namun
kembali lagi kepada kemampuan pihak laki-laki apabila mampu dan tidak
memberatkan maka hukumnya dapat menjadi boleh, sebaliknya apabila
pihak laki-laki tidak mampu dan dapat memberatkan serta diharuskan
membawa nya, maka otomatis dapat di qiyaskan bertentangan dengan
sabda nabi yang menyatakan sebaik-baik mahar adalah yang tidak
memberatkan pihak laki-laki. Sebagaiana terdapat dalam beberapa hadis
yang artinya dari Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir
Radhiyallahu anhu, ia mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda:

“Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah” begitu pula


Dalam riwayat Ahmad: “Pernikahan yang paling besar keberkahannya
ialah yang paling mudah maharnya.”

Selain itu ada pula pembicaraan penentuan hari pelaksanaanya


yang biasa ada penganggapan hari baik berdasarkan perhitungan jawa
untuk menentukan waktu kapan pelaksanaan pernikahannya, maka hal
seperti ini tidak ada tuntunannya dalam syariat, adapun semacam ini
semisal dengan hitung hitungan adanya hari hari pasaran seperti kliwon,
pahing, legipon dst, maka seperti yang kita ketahui bahwa perhitungan

4
Pdf. Kitab Munakahat, hal 755

9
semacam ini merupakan warisan dari budaya hindu, atau animisme, atau
agama paganisme sebelum adanya agama islam di Indonesia Karena itu
tidak selayaknya bagi kaum muslimin ikut-ikutan dengan melibatkan diri
mempercayai itung-itungan semacam itu yang ini dilarang dalam islam
yang disebut oleh nabi salam dengan tathayur/thiyaroh, kita tidak boleh
menghukumi ada hari sial atau hari baik, karena dalam islam semua hari
itu baik, maka pernikahan dapat dilakukan kapan saja,

Namun kembali pada masalah hari apakah yang paling tepat bagi
saya untuk nikah ini mungkin anda perlu pertimbangkan siapa yang harus
akan anda undang kemudian siapa saja yang harus dilibatkan dalam
pernikahan tadi sehingga perlu memperhatikan kapan hari yang paling
cocok untuk mereka bisa kumpul itu diperbolehkan kembali kepada
masalah tradisi dan adat manusia misalnya dia memilih hari libur kalau di
tempat kita hari sabtu atau ahad kalau mungkin di negara yang lain dia
punya hari libur yang berbeda dipersilahkan dia boleh memilih hari libur
yang lainnya hanya saja di sana ada bulan yang kita dianjurkan untuk
melakukan pernikahan sesuai syariat menurut beberapa ulama yaitu bulan
syawal. Berdasarkan hadis dari ‘Aisyah radiallahu ‘anha istri Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan yang artinya:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menikahiku di bulan Syawal,


dan membangun rumah tangga denganku pada bulan syawal pula. Maka
isteri-isteri Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam yang manakah yang
lebih beruntung di sisinya dariku?” (Perawi) berkata,
“Aisyah Radiyallahu ‘anhaa dahulu suka menikahkan para wanita di
bulan Syawal”5

Dan kata para ulama alasan nabi sallallahu alaihi wasallam


memilih bulan syawal untuk mengawali kehidupan berkeluarga adalah
dalam rangka membantah keyakinan orang-orang musyrikin yang mereka

5
(HR. Muslim)

10
beranggapan bulan syawal adalah bulan sial karena bagi masyarakat arab
syawal adalah bulan pantangan untuk pernikahan sehingga bagi mereka
syawal dihindari untuk melakukan pernikahan membangun keluarga
termasuk mengawali kehidupan rumah tangga dan nabi setelah melakukan
ini dalam rangka membantah merekasementara itu berkeyakinan sial
tersebut merupakan tathayur yang tathayur ini termasuk dalam kesyirikan.6
Berdasarkan hadis Shallalhu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:
“Thiyarah (anggapan sial terhadap sesuatu) adalah kesyirikan.
Dan tidak ada seorang pun di antara kita melainkan (pernah
melakukannya), hanya saja Allah akan menghilangkannya dengan sikap
tawakkal” 7

b. Pada Tahap Kedua

keterkaitan konsep fiqh munakahat dengan prosesi adat


pernikahan suku jawa di sorong pada tahap kedua disini seperti yang telah
dijelaskan di atas yaitu mencakupi pembentukan panitia penyebaran
undangan dsb, hal ini tidak ada pembahasannya pada fiqh munakahat
namun pada hal ini bila dikaji dengan konsep syariah maka berlaku kaidah
segala hal dalam lingkup muamalah hukumnya boleh sampai ada dalil
yang melarangnya, maka pembentukan panitia dsb ini termasuk muamalah
dan dibolehkan selama tidak menyalahi ketentuan syariat, dan satu lagi
anjuran dalam syariat mengenai pembagian undangan yaitu agar tidak
hanya mengundang orang kaya sedangkan kaum fakir dibiarkan hal ini
berdasarkan sabda nabi yang diriwayatkan dari Abu Sa’id ia mendengar
Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:

6
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul Fiqh,
Website Konsultasi Syariah.com
7
(HR. Ahmad, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah no. 429).

11
“sejelek-jelek makanan adalah makanan walimah (yang)
diundang hanya orang-orang yang kaya (saja), (sementara) orang-orang
miskin ditinggalkan (tidak diundang).8

c. Pada Tahap Ketiga

pada tahap ketiga disini merupakan prosesi hajatan yang sebenarnya


prosesi hajatan ini tidak masuk dalam pembahasan fiqh munakahat secara
khusus, dan masuk dalam pembahasan muamalah, yang dibolehkan selama
tidak melanggar ketetuan syariat, namun ada beberapa poin dalam prosesi
hajatan ini yang perlu di jadikan catatan diantaranya yaitu:

Pertama, Pada hajatan yang mengandung makna pada simbol


akan suatu kebaikan, seperti tarub, kembar mayang, siraman dst.
Maka dalam hal ini pula bisa dapat ada unsur kesyirikan di
dalamnya karena menafikan suatu kebaikan pada prosesi atau
benda yang sejatinya tidak dapat mendatangkan manfaat seperti
yang dimaksud.9

Kedua, Pada prosesi rias manten terutama untuk calon pengantin


wanita yang dinamakan dengan paes yaitu dengan menampakan
aurat si calon mempelai wanita pada bagian rambut, maka sudah
jelas hal ini tidak sesuai dengan konsep syariat yang
memerintahkan untuk menutupi aurat, selain itu juga pada busana
adat jawa yang dikenakan yang tidak syar’i. Bahkan biasanya
pakaian tersebut besar dan panjang hingga si pengantin tidak dapat
berjalan kecuali dengan dibantu oleh para pendampingnya dari
kalangan wanita dan anak-anak Kemungkaran ini mempunyai
beberapa bahaya, yang dapat ditakutkan ada padanya, diantaranya
seperti tasyabbuh (menyerupai) dengan orang-orang kuffar,
pemborosan, kesombongan dan pamer kekayaaan. Allah Azza wa

8
Pdf Fiqh Munakahat. Hal 791
9
https://almanhaj.or.id/2643-pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html

12
Jalla berfirman yang artinya “Makan dan minumlah, dan jangan
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-
orang yang berlebih-lebihan” 10

d. Pada Tahap Keempat


Yaitu prosesi akad dan tentunya prosesi akad disini sejalan
dengan konsep fiqh munakat dan memenuhi syarat sahnya, hanya saja
apabila dalam konsep fiqh munakahat ada adab-adab yang perlu
diterapkan diantaranya dinjurkannya adanya khutbatul hajah sebelum akad
nikah, hendaknya pengantin wanita tidak ikut dalam majlis akad nikah,
hindari bermesraan di tempat umum, dianjurkan untuk menyebutkan
mahar ketika akad nikah, dan dianjurkan bagi siapapun yang hadir ketika
peristiwa itu untuk mendoakan pengantin11 yang adab-adab tersebut sering
dilupakan dalam prosesi pernikahan adat jawa di sorong ataupun secara
umum. setelah akad yaitu saling menukar kembar mayang yang
penjelasannya sama dengan pada tahapan ketiga poin A.

e. Pada Tahap Keempat Prosesi Panggih


Prosesi panggih ini dalam konsep konsep fiqh munakahat
dinamakan dengan walimatul ursy yaitu berarti jamuan yang khusus untuk
perkawinan dan tidak digunakan untuk perhelatan diluar perkawinan12
namun terdapat banyak perbedaan atau penambahan prosesi seperti injak
telur hingga pecah jelas bahwa itu termasuk perbuatan mubazir dan
mubazir dilarang dalam islam serta juga bisa termasuk dalam perbuatan

10
[Al-A’raaf: 31]

11
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul Fiqh,
Website Konsultasi Syariah.com

12
Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Antara Fiqh Munakahat Dan Undang-
Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006, Hlm. 155.

13
syirik karena menafikkan sesuatu perbuatan yaitu menginjak telur degan
adanya kebaikan.

Adapula mengenai prosesi dulang dulangan maka hal ini sebaiknya


dihindari, karena hal yang semacam ini yaitu bermesraan di depan umum
rmesraan setelah akad nikah di depan banyak orang. Kita sepakat,
keduanya telah sah sebagai suami istri. Apapun yang sebelumnya
diharamkan menjadi halal. Hanya saja, Anda tentu sadar bahwa untuk
melakukan kemesraan ada tempatnya sendiri, bukan di tempat umum
semacam itu, karena bisa saja menimbulkan mudharat bagi yang
melihatnya, bagaimana kita mau membolehkan bermesraan dengan saling
menyuapi di depan umum saat resepsi, jika hal lebih kecil saja yaitu
dengan menampakkan istri di muka umum yang dapat dilihat oleh semua
lelaki yang hadir di tempat itu saja merupakan perbuatan yang selayaknya
dihindari, karena agama islam ini mengatur segala urusan hingga yang
terkecil sekalipun. Wallahu a’lam bishawab.
Selanjutnya yaitu mengenai sungkeman kaitannya dengan syariat
islam maka ada pula yang dimaksud disini Mencium kepala, tangan atau
kening sebagai bentuk penghormatan atau pemuliaan itu diperbolehkan,
sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Aisyah Radhiyallahu
anhuma, dia mengatakan:

َ‫َّب ِبهَا ث ُ َّم قَا َم إِلَ ْيهَا فَقَ َّبلَهَا ث ُ َّم أَ َخذ‬
َ ‫سلَّ َم إِذَا َرآ َها َق ْد أ َ ْقبَلَتْ َرح‬
َ ‫ع َل ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلَّى هللا‬
َ ‫َوكَانَ النَّ ِب ُّي‬
‫سهَا فِي َمكَانِ ِه‬ َ ‫ ِبيَ ِد َها فَجَا َء ِبهَا َحتَّى يُجْ ِل‬. ‫س َّل َم َر َّحبَتْ ِب ِه ث ُ َّم‬
َ ‫علَ ْي ِه َو‬
َ ُ‫صلَّى هللا‬َ ‫َوكَانَتْ ِإذَا أَتَا َها النَّ ِب ُّي‬
‫ض فِي ِه َف َر َّح َب‬
َ ِ‫سلَّ َم ِفي َم َر ِض ِه الَّذِي قُب‬ َ ‫علَ ْي ِه َو‬ َ ُ‫صلَّى هللا‬ َ ِ ‫ع َلى النَّبِي‬ َ ْ‫قَا َمتْ إِلَ ْي ِه َفقَبَّ َلتْهُ وأَنَّهَا َد َخلَت‬
‫َوقَبَّلَهَا‬

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika melihat putri Beliau


Shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Fathimah) mendatangi Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menyambut kedatangannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri
lalu berjalan menyambut, menciumnya, menggandeng tangannya lalu

14
mendudukkannya di tempat Beliau duduk. (Begitu juga sebaliknya-red)
Jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Fathimah
Radhiyallahu anhuma , maka Fathimah menyambut kedatanga Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia bangkit dan berjalan kearah Beliau
Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mencium Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam . Dan Fathimah Radhiyallahu anhuma pernah mendatangi Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam
sedang menderita sakit menjelang wafat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyambut
kedatangannya dan menciumnya. 13

Diriwayatkan dari Abu Juhaifah Radhiyallahu anhu, dia


mengatakan:

‫ش ِة قَ َّب َل‬ ِ ‫ ِم ْن أ َ ْر‬،ُ‫ع ْنه‬


َ َ‫ض ا ْل َحب‬ َّ ‫ع ْينَ ْي ِه لَ َّما قَ ِد َم َج ْعفَ ٌر َر ِض َي‬
َ ُ‫َّللا‬ َ َ‫س ْو َل هللاِ َما بَ ْين‬
ُ ‫َر‬

Ketika Ja’far Radhiyallahu anhu mendatangi Nabi Shallallahu


‘alaihi wa sallam setibanya dari Habasyah, Ja’far Radhiyallahu anhu
mencium wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu antara dua
mata Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam 14

Dalam sebuah hadits dari Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa


sallam pernah mengambil Ibrahim ( putra Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam ) lalu menciumnya.15

13
HR. Al-Bukhâri dalam Adabul Mufrad, no. 947; Abu Daud, no. 5217; At-Tirmidzi, no. 3872.
Syaikh al-Albani dalam kitab al-Misykah memandang sanad hadits ini jayyid, 3/132

14
HR. Ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabîr, 2/108, 22/100; Abu Daud dalam Sunannya, 2/777
dari asy-Sya’biy. Dalam kitab as-Silsilah ash-Shahîhah, 6/335, syaikh al-Albani rahimahullah
menilai sanad hadits ini jayyid

15
HR. Al-Bukhâri, no.1303

15
Juga disebutkan dalam hadits dari Aisyah Radhiyallahu anhuma
bahwa Abu Bakr Radhiyallahu anhu ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa
sallam wafat , beliau Radhiyallahu anhu menyingkap kain penutup wajah
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu mencium wajah Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam yaitu antara dua mata Beliau Shallallahu ‘alaihi wa
sallam .16

Kita juga bisa mendapatkan menemukan beberapa atsar dari para


Ulama salaf tentang perlakuan adil terhadap anak-anak dalam masalah
ciuman, sebagaimana juga tentang mencium tangan. Diriwayatkan dari
Abdurrahman bin Razîn, dia mengatakan,

“Kami melewati Rabadzah (sebuah perkampungan dekat Madinah-


red) maka dikatakan kepada kami, ‘Salamah bin al-Akwa’ ada di sini.’
Maka kami mendatanginya dan menyalaminya lalu dia mengeluarkan
kedua tangannya, seraya mengatakan, ‘Kami telah membaiat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kedua tanganku ini.’ Dia
mengeluarkan telapak tangannya yang besar seperti telapak tangan unta.
Kami berdiri menghampirinya dan menciumnya.”

Adapula apabila sungkeman yang hingga menunduk dan rukuk


maka hal yang semacam ini akan baiknya untuk dihindari karena rukuk
dan sujud itu sejatinya hanya kepada Allah Subhana Hu Wata Ala,
sebagaimana di saat muadz bin jabal dalam hadis bukhari saat pulang dari
yaman saat turun dari unta lalu muadz langsung sujud di depan kaki nabi
dan nabi berkata mengapa engkau melakukan ini maka muadz menjawab
saat di yaman semua orang apabila menokohkan seorang maka akan
melakukan hal tersebut lantas rasulullah berkata kepada muadz bahwa
kalau seandaiya orang boleh sujud kepada selain Allah maka aku (rasul)
akan menyuruh istri sujud kepada suaminya, hal ini menunjukan bahwa

16
HR. Al-Bukhâri, no.1241

16
perbuatan yang semacam ini tidak ada tuntunannya dalam islam dan
sebaiknya untuk dihindari.

Selain itu terdapat janur kuning yang bermakna agar pernikahan


tersebut mendapatkan cahaya atau pencerahan untuk rumah tangga yang
baru, janur kuning juga dimaksudkan untk menandai adanya acara dan
menyingkirkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi maka hal ini juga
merupakan tathayur karena berkayakinan sial, apabila ditaruh janur kuning
mereka berkeyakinan dapat menghindari hal-hal yang tidak diinginkan
terjadi maka masuk juga kepada tathayur begitu pula masuk kepada
perbuatan syirik karena sesungguhnya yang dapat mendatangkan atau
menjauhkan dari hal-hal yang tidak diinginkan hanyalah Allah Subhana
Hu Wata Ala, cara nya yaitu bukan dengan menaruh janur kuning tetapi
dengan berdoa kepada Allah, adapun apabila hanya dipakai sebagai
penanda bahwa ada acara pernikahan di tempat itu dengan tujuan untuk
memudahkan para tamu undangan mendapati lokasi berlangsungnya acara
tanpa adanya landasan keyakinan dapat menjauhkan sial, maka hal yang
semacam ini dibolehkan di dalam islam karena tidak ada unsur
pelanggaran syariat, wallahu a’lam bishawab.
Setelah upacara panggih maka akan ada campur sari namun
campur sari dilarang dalam syariat karena mengandung unsur musik baik
berupa alat music, lagu, nyanyian atau panggung hiburan. Music dalam
pandangan islam hukumnya haram. Rasulullah sallalahi alaihi wasallam
bersabda yang artinya
“sungguh aka nada di antara umatku beberapa kaum yang
menghalalkan zina, sutera, khamr, dan alat-alat music.”
Demikian juga lagu dan nyanyian, dalam syariat islam hukumnya
haram. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam surat Luqman ayat: 6 yang
artinya: “dan diantara manusia ada yang memakai percakapan kosong
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa ilmu dan

17
menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh adzab yang
menghinakan”
Ibnu ‘Abbas radialllahu anhuma berkata ayat ini turun tentang
masalah nyanyian dan sejenisnya. Begitu pula Abdullah bin mas’ud
radiallahu anhu berkata: maksud dari “al hadisi lahwa” (percakapan
kosong) adalah lagu dan nyanyian. Demi Allah yang tiada ilah (yang
berhak di ibadahi dengan benar ) melainkan dia!” (beliau mengulangi
perkatannya tiga kali).
Sementara itu dalam konsep fiqh munakahat yang dibolehkan
adalah rebana/duff sebagaimana pada hadis yang artinya:
“Nabi Sallalahu Alaihi Wasallam datang ketika acara
pernikahanku. beliau duduk di atas tempat tidurku seperti duduknya
engkau (Khalid bin dzakwaan) dariku. Datanglah beberapa anak
perempuan yang memainkan/memukul duff.
Selain itu pada prosesi resepsi yang secara umum dan bukan
termasuk dalam adat jawa namun ada beberapa yang dilakukan oleh
masyarakat jawa di sorong, ada pula yang menyalahi ketentuan syariat
seperti adanya ikhtilat (percampuran).
Ikhtilat adalah berbaurnya laki-laki dan perempuan sehingga terjadi
pandang-memandang, sentuh menyentuh, jabat tangan antara laki-laki dan
wanita. Padahal laki-laki dan perempuan diperintahkan uuntuk
menundukkan pandangan, berdasarkan firman Allah Subhana Hu Wata
Ala, dalam surat An-Nur ayat 20 yang artinya:
“katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka
menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya yang demikian itu
lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah maha mengetahui apa yang
mereka perbuat”
Begitu pun menyentuh dan berjabat tangan dengan wanita yang
bukan mahrom adalah diharamkan dalam syariat islam, sebagaimana
Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya:

18
“sungguh ditusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan
jarum besi lebih baik baginya daripada di menyentuh wanita yang tidak
halal baginya.”
Syaikh ibnu baaz rahimahullah berkata, “di antara perkara munkar
yang diadakan manusia pada zaman ini adalah meletakkan pelaminan
pengantin di tengah-tengah kaum wanita yang menyandingkan suaminya
di sisinya, dengan dihadiri wanita-wanita yang berdandan dan bersolek.
Mungkin juga yang menghadiri adalah kerabat pengantin pria dan wanita
dari kalangan laki-laki orang yang memiliki fitrah yang selamat dan
kecemburuan terhadap agama akan mengetahui kerusakan yang besar dari
perbuatan ini, dan memungkinkan kaum pria asing melihat para pemudi
yang bersolek, serta akibat buruk yang dihasilkannya. Oleh karena itu
wajib mencegah hal itu dan menghapuskannya….”17
pajangan pengantin, meninggalkan atau menunda sholat wajib,
bagaimana pun keadaanya seorang muslim tetap wajib mengerjakan sholat
yang lima waktu. Banyaknya tamu, make up yang menempel di wajah atau
gaun pengantin yang dikenakan sesungguhnya tidak menghalangi dia
untuk melakukan sholat. Menikah bukanlah satu alasan yang
membolehkan pengantin wanita meninggalkan sholat, begitu pula
pengantin pria tidak boleh meninggalkan sholat berjamaah. Meninggalkan
sholat wajib adalah dosa besar yang paling besar! Rasulullah Sallalahu
alaihi wasallam bersabda yang artinya: “sesungguhnya (batas) antara
seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat.”
Hendaklah seorang muslim memperhatikan kewajiban terhadap Rabb-nya
pada hari yang paling istimewa baginya.
keluarnya wanita menggunakan parfum, diantara kemungkaran
pesta pernikahan adalah keluarnya kaum wanita dengan memakai parfum
(minyak wangi), padahal mereka berpapasan atau melewati kaum lelaki,
tidak syak lagi bahwa ini merupakan keharaman, berdasarkan hadis Abu

17
Fataawaa al-Islaamiyyah (III/188)

19
Musa Al-Ats’ary Radiallahu Anhu Bahwa Nabi Sallahu Alaihi Wasallam
bersabda yang artinya:
“wanita mana yang memakai parfum lalu melewati kaum lelaki
agar dicium baunya maka dia adalah pezina.”18
berfoto, yang dimaksud berfoto disini yaitu dengan menghimpun
foto lalu menyebarkannya apa yang membuat mereka sangat senang
dengan perbuataan ini? Apakah mereka mengira akan ada seseorang yang
menyenangi perbuatannya? Sungguh aku tidak membayangkan akan ada
orang yang menyenanginya, bagaimama tidak!, senangkah jika foto putri,
saudari atau isteri mereka diberikan kepada siapa saja? Senangkah mereka
jika foto keluarga mereka sebagai bahan ejekan jika jelek dan bahan
pembangkit syahwat jika ternyata sebaliknya? 19

f. Pada Tahap Kelima

Yaitu setelah prosesi di rumah mempelai wanita selesai maka


yang selanjutnya adalah ngunduh mantu dan hal ini tidak ada dalam
konsep fiqh munakahat, dan termasuk perbuatan isrof adalah menyalurkan
sesuatu yang layak melebihi kadarnya.20 Yaitu dengan menambahkan
pelangsungan acara di pihak laki-laki tentunya hal ini merupakan sesuatu
yang berlebihan dalam pelangsungan prosesi acara pernikahan wallahu
a’lam bishawab.

18
[HR. Tirmidzi No. 2786, Abu Daud No. 4173, Nasa’I no. 5241 dengan sanad hasan , lihat “Al
Misykah” no. 1065].
19
[Min Mungkarat al-Afrah, hal. 11]

20
Abduh Tuasikal, Muhammad, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul,
Artikel Rumasyo.com

20
D. KESIMPULAN

Prosesi pernikahan adat jawa di sorong dimana setiap keluarga yang akan
melansungkannya, mereka berbeda beda dalam prosesi pernikahan adat jawa yang
akan di terapkan, ada yang menerapkan sedikit saja atau ada juga yang
menerapkan banyak namun tidak sampai selengkap seperti yang dilakukukan di
daerah jawa, hal ini tergantung pada perhatian mereka terhadap adat, dan dari
berbagai macam prosesi pernikahan adat jawa tersebut ada yang memiliki
kesamaan dengan konsep fikhi munakahat dan banyak pula yang tidak sesuai
dengan konsep fikhi munakahat, dan secara garis besar prosesi pernikahan adat
jawa bila dibandingkan dengan konsep fikhi munakahat maka banyak prosesi-
prosesi unik yang tidak ada ketentuannya dalam lingkup fikhi munakahat, karena
apabila yang di dalam konsep pernikahan fikhi munakahat adalah memakai
prinsip kesederhanaan dan memudahkan sebaliknya yang ada pada konsep
pernikahan adat jawa.

Nilai kebudayaan masyarakat Indonesia terutama pada suku jawa sangat


kental begitu pula pada adat pernikahannya, maka perlulah kita selektif dalam
melihat adat atau tradisi tersebut apakah sesuai dengan konsep islami serta tidak
bertentangan dengan syariat atau malah sebaliknya, karena sepatutnya kita
mendahulukan agama dibanding adat, apabila ada adat yang meragukan
bertentangan dengan syariat agama agar sebaiknya dihindari.

21
DAFTAR PUSTAKA

Prawirohamidjojo, Soetoyo. 2008. Hukum orang dan keluarga. Bandung: Alumni


Wardiono,Subekti. Masyarakat Suku Jawa Di Kawasan Km 12 Masuk, Kelurahan
Klawuyuk.
Anjarwati, Neneng, Mahasiswa STAIN Sorong, Prodi Akhwalulsyakhsiyah,
Abdul Qadir Jawas, yazid bin, 2017. Panduan keluarga sakinah. Jakarta: Pustaka Imam
Syafi’i, Penebar Sunnah
Nur Baits, Ammi, Alumni Madinah International University, Jurusan Fiqh Dan Ushul
Fiqh, Website Konsultasi Syariah.com
Abduh Tuasikal, Muhammad, Pimpinan Pesantren Darush Sholihin, Panggang,
Gunungkidul, Artikel Rumasyo.com
Pdf Fiqh Munakahat

https://almanhaj.or.id/2643-pandangan-islam-terhadap-kebudayaan.html

Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia Antara Fiqh Munakahat Dan
Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006,

22