You are on page 1of 11

A.

PENGERTIAN MUNÂSABAH

Secara etimologis al-munâsabah (‫( املناسبة‬berasal dari mashdar

an-nasabu (‫( النسب‬berarti al-qarâbah (‫ القرابة‬.(Orang Arab mengatakan

fulân yunâsibu fulânan, fahuwa nasîbuhu maksudnya qarîbuhu.

Kata

qaraba sendiri berarti dekat. Orang yang berasal dari nasab yang

sama disebut qarâbah (kerabat) karena kedekatannya. Dari kata

nasab itulah dibentuk menjadi al-munâsabah (‫( املناسبة‬dalam arti al-

muqârabah (‫ املقاربة‬,(kedekatan satu sama lain. Oleh sebab itu al-

munâsabah adalah sesuatu yang masuk akal, jika dikemukakan

kepada akal akan diterima. Mencari kedekatan antara dua hal

adalah mencari hubungan atau kaitan antara keduanya seperti

hubungan sebab akibat, persamaan, perbedaannya, dan hubungan-

hubungan lainnya yang bisa ditemukan antara dua hal.2

Secara terminologis yang dimaksud dengan munâsabah adalah

mencari kedekatan, hubungan, kaitan, antara satu ayat atau

kelompok ayat dengan ayat atau kelompok ayat yang berdekatan,

baik dengan yang sebelumnya maupun yang sesudahnya. Termasuk

mencari kaitan antara ayat yang berada pada akhir sebuah surat

dengan ayat yang berada pada awal surat berikutnya atau antara

satu surat dengan surat sesudah atau sebelumnya.

Secara sederhana Mannâ' al-Qaththân mendefinisikan

munâsabah sebagai berikut:

‫اآلية بني أو الواحدة اآلية يف واجلملة اجلملة بني االرتباط وجه‬


ّ‫دة‬، ‫والسورة السورة أوبني‬.

‫املتعد اآليات يف واآلية‬


"Bentuk hubungan antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam satu

ayat, atau antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu kelompok ayat,

atau antara satu surat dengan surat yang lain." 3

Az-Zarkasyi memberi contoh munâsabah antara pembukaan


satu surat dengan akhir surat sebelumnya. Misalnya pembukaan

Surat Al-An'âm dimulai dengan ّ

ّ‫ض‬
‫ر‬
ّ‫أل‬
‫ا‬
ّ
ّ ّ ‫و ات‬
ّ‫او‬
ّّ‫م‬
ّ ‫الس‬
‫ق‬
ّ
‫ل‬
ّ
ّ‫خ ي‬
‫لذ‬
ّ ‫ا لهلّ لهل‬
ّ‫د‬
ّ‫م‬
‫لح‬
‫ا‬
(Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi) sangat

sesuai dengan ayat akhir Surat Al-Mâidah sebelumnya

ّ‫ض‬
ّ
‫ر‬
ّ‫أل‬
‫ا‬
ّ
ّ ّ ‫و ات‬
ّ‫او‬
ّّ‫م‬
ّ ‫الس‬
ّ‫ك‬
‫ل‬
ّ
‫ )لهلّ لهل م‬Kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi).

Contoh lain pembukaan Surat Al-Baqarah dengan ّ

ّ‫اب‬
ّ‫كت‬
ّ
ّ ‫ال‬
‫لك‬
ّ
‫) الم‬1 )‫ذ‬

)2( ّ

ّ‫قني‬
ّّ
‫ت‬
ّ
‫م‬
ّ
ّ‫لل ى‬
ّ‫د‬
‫ه يهّ ف‬
ّّ
ّ‫ب‬
‫ي‬
ّ
‫رل‬
(Alif lam mim. Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada

keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa) menunjuk

kepada ash-Shirâth pada Surat Al-Fâtihah ّ


ّ‫قيم‬
ّ
‫ت‬
ّ
ّ‫س‬
‫م‬
ّ
ّ ‫ال‬
ّ ‫الصاط ا ّ ر‬
ّ‫دن‬
ّ
‫اه‬
(Tunjukilah kami jalan yang lurus) seolah-olah tatkala mereka

meminta diberi petunjuk jalan yang lurus, langsung dijawab,

petunjuk menuju jalan yang lurus seperti yang kamu minta itu

adalah Al-Kitab (Al-Qur'an)

Contoh lain munâsabah adalah tentang firman Allah SWT

berikut ini:

ّ‫ّ ف‬
‫ي‬
ّ
ّ ّ‫ك اء‬
ّّ‫م‬
‫الس لى‬
ّ
‫إ‬
ّ
ّ )17 )‫و‬

ّ‫ت‬
ّ‫لق‬
ّ
ّ‫خ ّ ف‬
‫ي‬
‫ّ‬
‫كّ‬
‫لّ‬
‫بّ‬
‫ل‬
‫ا لى‬
‫ّ‬
‫إّ‬
‫ونّ‬
‫رّ‬
‫ظ‬
‫ّ‬
‫ن‬
‫ّ‬
‫ي لّ‬
‫ف‬
‫ّ‬
‫أ‬
‫ّ فّ‬
‫ي‬
‫ّ‬
‫ك ضّ‬
‫ّ‬
‫ر‬
‫ألّ‬
‫ا‬
‫لى‬
‫ّ‬
‫إ‬
‫ّ‬
‫و) ‪ّ )19‬‬
ّ‫ت‬
ّ‫صب‬
ّ
ّ‫ن ّ ف‬
‫ي‬
ّ
‫ك ال‬
ّ
ّ
ّ‫ب‬
‫لج‬
‫ا‬
‫لى‬
ّ
‫إ‬
ّ
ّ )18 )‫و‬

ّ‫ت‬
ّ‫ع‬
‫ف‬
ّ
‫ر‬
)20( ّ

ّ‫ت‬
ّ‫طح‬
ّ
‫ "س‬Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia

diciptakan. Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung

bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?" (Q.S.

Al-Ghâsiyah 88: 17-20)

Pertanyaannya, apa hubungan antara unta, langit, gunung

dan bumi pada empat ayat tersebut? Menurut Az-Zarkasyi,


hubungannya sangat jelas jika dilihat dari kebiasaan para

pengembala unta di padang pasir. Kehidupan mereka sangat

tergantung kepada ternak-ternak yang mereka gembalakan. Satu

hal yang sangat menjadi perhatian mereka adalah minuman untuk

unta-unta mereka tersebut. Harapan pertama adalah turunnya

hujan, oleh sebab itu mereka menengadah ke langit mengharapkan

turunnya hujan. Setelah itu mereka mencari tempat bernaung yaitu

daerah pegunungan. Mereka tidak bisa berlama-lama menetap

di suatu tempat, maka mereka akan pindah dari satu tempat ke

tempat lain di bumi ini. Itulah kaitan antara empat hal tersebut

dalam pikiran orang badui yang hidup dari menggembalakan

ternak di padang pasir.5

Tidak termasuk munâsabah apabila yang dicari adalah hubungan

antara satu ayat dengan ayat lain yang tidak berdekatan, karena hal

itu masuk kategori tafsir al-âyah bi al-âyah seperti Surat Al-An’âm

ayat 82 ditafsirkan oleh Surat Luqmân ayat 13.Allah SWT berfirman:

‫م‬
ّ
ّ‫ه‬
ّ‫و‬
ّ‫ن‬
‫م‬
ّ‫أل‬
ّ‫ا‬
ّ‫م‬
‫ه‬
ّ
ّ‫ل‬
ّ‫ك‬
‫ئ‬
‫ول‬
ّ
‫أ مّ‬
‫ّ‬
‫لّ‬
‫ظّ‬
‫بّ‬
‫مّ‬
‫ه‬
‫ّ‬
‫انّ‬
‫يمّ‬
‫إ واّ‬
‫سّ‬
‫ب‬
‫ّ‬
‫ل‬
‫ّ‬
‫يّ‬
‫م‬
‫ّ‬
‫ل‬
‫ّ‬
‫و واّ‬
‫ن‬
‫ّ‬
‫آم ّ‬
‫ينّ‬
‫لذ‬
‫ا‬
‫ّ (‪)82‬‬

‫ونّ‬
‫د‬
‫ّ‬
‫ت‬
ّ
‫ه‬
ّ
‫م‬

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka

dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan

mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q. S. Al-

An’âm 6: 82)

ّ
ّّ ‫كّ ر الش‬
ّ‫ن‬
ّ ّ ‫إ اهلل‬
ّ‫ب‬
ّ‫ك‬
ّ‫ر ش‬
ّّ‫ت ل ي‬
ّ‫ن‬
ّ‫ب ا‬
ّ‫ي‬
ّ‫ه‬
ّ‫عظ‬
ّ
ّ‫ي‬
‫و‬
ّ
ّ‫ه‬
ّ‫و ن ه‬
ّ
ّ ‫لب‬
ّ‫ان‬
‫م‬
ّ
‫ق‬
ّ
ّ‫ل‬
ّ‫ال‬
‫ق‬
ّ
ّ‫ذ‬
‫إ‬
ّ
‫و‬
)13( ّ

ّ‫ظيم‬
ّ
‫ع‬
ّ
‫م‬
ّ
ّ‫ل‬
‫ظ‬
ّ
‫ل‬

“Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu

ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu

mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah

benar-benar kezaliman yang besar". (Q.S. Luqmân 31:13)

Tatkala mendengar Surat Al-An’âm 82 di atas, sebagian sahabat

merasa berat dan tidak akan sanggup menjadi orang yang beriman

karena, siapakah di antara mereka yang tidak pernah melakukan

kezaliman, paling tidak atas dirinya sendiri. Lalu Nabi menjelaskan

bahwa kezaliman yang dimaksud dalam ayat tersebut, bukanlah


seperti yang dipahami mereka, tetapi seperti yang dimaksudkan

oleh hamba Allah yang saleh yaitu Luqman: “...Sesungguhnya

mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Demikianlah penjelasan Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh

Bukhâri, Muslim at-Tirmidzi dan lain melalui sahabat Nabi

Abdullah ibn Mas’ûd.6

Jadi munâsabah didapat dengan cara penalaran semata-mata,

bukan dengan periwayatan. Dengan demikian diterima atau

tidaknya penalaran tersebut tergantung tingkat logikanya, semakin

logis tentu akan semakin dapat diterima. Ada ayat-ayat yang

mudah dipahami hubungannya satu sama lain, tetapi tidak sedikit

pula yang perlu pendalaman sehingga baru tampak munâsabah

nya. Bagi sebagian orang, bisa saja antara satu ayat dengan ayat

lain atau antara satu kelompok ayat dengan kelompok ayat yang

berdekatan tidak ada hubungannya sama sekali, tetapi bagi ulama

yang mendalaminya akan melihat hubungannya.

Ilmu munâsabah ini dinamai juga dengan ilmu tanâsub al-âyât wa

as-suwar.

B. MACAM-MACAM MUNÂSABAH

1. Munâsabah antara Satu Kalimat dengan Kalimat Sebelumnya