Вы находитесь на странице: 1из 10

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Kebutuhan dan kegiatan manusia di era teknologi ini semakin kompleks. Kemudahan,
kecepatan dan ketepatan dalam memperoleh informasi menjadi prioritas utama di segala
bidang. Suatu organisasi, instansi pemerintah maupun perusahaan, pasti memerlukan suatu
sistem penyimpanan data yang mudah digunakan, terjamin keamanannya, dan mudah untuk
diakses kembali.

Kebutuhan akan penyimpanan data dan kemudahan dalam melakukan berbagai kegiatan
serta kemajuan teknologi melahirkan suatu sistem yang disebut sistem teknologi informasi.
Sistem teknologi informasi menghasilkan produk yang berupa informasi. Informasi yang
dihasilkan disimpan dalam bentuk data elektronik (computer based) dan terkomputerisasi
sehingga mampu mengatasi permasalahan kelemahan data paper based.

Pengembangan sistem informasi berbasis komputer ini memiliki beberapa metode. Metode
konvensional atau yang telah lama digunakan adalah metode SDLC (System Design Life
Cycle) atau metode insourcing. Metode ini memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan waktu
yang lama dan biaya investasi yang besar untuk mengembangkannya. Saat ini terdapat
beberapa metode alternatif, misalnya metode paket (package system) dan metode outsourcing
yang relatif lebih murah dan dapat segera diimplementasikan. Namun metode alternatif ini
pun memiliki kelemahan, yaitu perusahaan tidak memiliki kendali penuh atas sistem
informasi yang menggunakan metode ini. Beragam pilihan untuk menggunakan metode yang
tepat untuk perusahaan pun harus mempertimbangkan berbagai aspek dan kebutuhan spesifik
perusahaan dan kelebihan serta kekurangan metode-metode tersebut.

1. Rumusan masalah
1. Apa yang dimaksud dengan SDLC?
2. Bagaimana tahapan SDLC?
3. Bagaimana siklus hidup pengembangan SDLC?
4. Apa saja langkah ( aktifitas utama ) SDLC?
5. Apa saja kelebihan dan kekurangan SDLC?
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN SDLC
System Development Life Cycle (SDLC) adalah pendekatan bertahap untuk melakukan
analisa dan membangun rancangan sistem dengan menggunakan siklus yang spesifik
terhadap kegiatan pengguna (Kendall & Kendall, 2006). System Development Life Cycle
(SDLC) juga merupakan pusat pengembangan sistem informasi yang efisien.
SDLC terdiri dari 4 (empat) langkah kunci yaitu, perencanaan dan seleksi, analisis, desain,
implementasi dan operasional (Valacich, George, & Hoffer, 2012). Selain itu, System
Development Life Cycle (SDLC) adalah sebuah proses memahami bagaimana Sistem
Informasi dapat mendukung kebutuhan bisnis, merancang system, membangun sistem, dan
memberikannya kepada pengguna (Dennis, Wixom, & Tegarden, 2005).

B. TAHAPAN SDLC

SDLC terdiri dari beberapa tahapan berdasarkan analisa kebutuhan yang ada.Dimulai dari
analisa kebutuhan perangkat lunak akan dibuat terlebih dahulu desain dari kebutuhan tersebut
untuk mempermudah dalam pengerjaanya. Kemudian segala kebutuhan tersebut
diimplementasikan dengan dua tahap yaitu tahap analisa dan tahap evaluasi. Setelah
melakukan implementasi, maka proses tersebut akan di kembalikan kembali ke dalam tahap
desain untuk pengembangan kembali perangkat lunak ke versi yang terbaru.Tahap-tahap
SDLC dalam pembangunan sistem informasi:

a. Fase Perencanaan Sistem


Dalam tahapan ini dibentuk suatu struktur kerja strategis yang luas dan pandangan sistem
informasi baru yang jelas yang akan memenuhi kebutuhan-kebutuhan pemakai informasi.
Proyek sistem dievaluasi dan dipisahkan berdasarkan prioritasnya. Proyek dengan prioritas
tertinggi akan dipilih untuk pengembangan. Penyediaan sumber daya baru dan penyediaan
dana untuk pengembangan sistem. Rencana kerja yang matang juga disusun untuk
menjalankan tahapan-tahapan lainnya. Hasil dari tahapan ini adalah : Langkah-langkah detail
rencana kerja dan penugasan untuk anggota tim.
b. Fase Analisis Sistem
Fase analisis sistem adalah fase profesional sistem melakukan kegiatan analisis sistem.
Laporan yang dihasilkan menyediakan suatu landasan untuk membentuk suatu tim proyek
sistem dan memulai fase analisis sistem. Tim proyek sistem memperoleh pengertian yang
lebih jelas tentang alasan untuk mengembangkan suatu sistem baru. Ruang lingkup analisis
sistem ditentukan pada fase ini. Profesional sistem mewawancarai calon pemakai dan bekerja
dengan pemakai yang bersangkutan untuk mencari penyelesaian masalah dan menentukan
kebutuhan pemakai.
Beberapa aspek sistem yang sedang dikembangkan mungkin tidak diketahui secara penuh
pada fase ini, jadi asumsi kritis dibuat untuk memungkinkan berlanjutnya siklus hidup
pengembangan sistem. Pada akhir fase analisis sistem, laporan analisis sistem disiapkan.
Laporan ini berisi penemuan-penemuan dan rekomendasi. Bila laporan ini disetujui,tim
proyek sistem siap untuk memulai fase perancangan sistem secara umum. Bila laporan tidak
disetujui, tim proyek sistem harus menjalankan analisis tambahan sampai semua peserta
setuju

c. Fase Perancangan Sistem secara Umum


Dibentuk alternatif-alternatif perancangan konseptual untuk pandangan pemakai.
Alternatif ini merupakan perluasan kebutuhan pemakai. Alternatif perancangan konseptual
memungkinkan manajer dan pemakai untuk memilih rancangan terbaik yang cocok untuk
kebutuhan mereka.
Pada fase ini analis sistem mulai merancang proses dengan mengidentifikasikan laporan-
laporan dan output yang akan dihasilkan oleh sistem yang diusulkan. Data masing-masing
laporan ditentukan. Biasanya, perancang sistem membuat sketsa form atau tampilan yang
mereka harapkan bila sistem telah selesai dibentuk. Sketsa ini dilakukan pada kertas atau
pada tampilan komputer.
d. Fase Evaluasi dan Seleksi Sistem
Akhir fase perancangan sistem secara umum menyediakan point utama untuk keputusan
investasi. Oleh sebab itu dalam fase evaluasi dan seleksi sistem ini nilai kualitas sistem dan
biaya/keuntungan dari laporan dengan proyek system dinilai secara hati-hati dan diuraikan
dalam laporan evaluasi dan seleksi sistem.
Jika tak satupun altenatif perancangan konseptual yang dihasilkan pada fase perancangan
sistem secara umum terbukti dapat dibenarkan, maka semua altenatif akan dibuang. Biasanya,
beberapa alternatif harus terbukti dapat dibenarkan, dan salah satunya dengan nilai tertinggi
dipilih untuk pekerjaan akhir. Bila satu alternatif perancangan sudah dipilih, maka akan
dibuatkan rekomendasi untuk sistem ini dan dibuatkan jadwal untuk perancangan detailnya.

e. Fase Perancangan Sistem secara Detail

Pada fase ini semua komponen dirancang dan dijelaskan secara detail. Perencanaan output
(layout) dirancang untuk semua layar, form-form tertentu dan laporan-laporan yang dicetak.
Semua output direview dan disetujui oleh pemakai dan didokumentasikan.

Berdasarkan perancangan output dan input, proses-proses dirancang untuk mengubah


input menjadi output. Transaksi-transaksi dicatat dan dimasukkan secara online atau batch.
Macam-macam model dikembangkan untuk mengubah data menjadi informasi. Prosedur
ditulis untuk membimbing pemakai dan pesonel operasi agar dapat bekerja dengan sistem
yang sedang dikembangkan.

Database dirancang untuk menyimpan dan mengakses data. Kendali-kendali yang


dibutuhkan untuk melindungi sistem baru dari macam-macam ancaman dan error ditentukan.

Pada akhir fase ini, laporan rancangan sistem secara detail dihasilkan. Laporan ini
mungkin berisi beribu-ribu dokumen dengan semua spesifikasi untuk masing-masing
rancangan sistem yang terintegrasi menjadi satu kesatuan. Laporan ini dapat juga dijadikan
sebagai buku pedoman yang lengkap untuk merancang, membuat kode dan menguji sistem;
instalasi peralatan; pelatihan; dan tugas-tugas implementasi lainnya.

f. Fase Implementasi Sistem dan Pemeliharaan Sistem


Sistem siap untuk dibuat dan diinstalasi.
Sejumlah tugas harus dikoordinasi dan dilaksanakan untuk implementasi sistem baru.
laporan implementasi yang dibuat pada fase ini ada dua bagian, yaitu:
1. Rencana implementasi dalam bentuk Gantt Chart atau Program and Evaluation
Review Technique (PERT) Chart
2. Penjadwalan proyek dan teknik manajemen. Bagian kedua adalah laporan yang
menerangkan tugas penting untuk melaksanakan implementasi sistem, seperti :
Pengembangan perangkat lunak
Persiapan lokasi peletakkan sistem
Instalasi peralatan yang digunakan
Pengujian Sistem

C. SIKLUS HIDUP PENGEMBANGAN SISTEM


Siklus hidup pengembangan sistem mempunyai beberapa tahapan :
1) Analisis Sistem, merupakan tahap awal dari SDLC,merupakan orang yang dididik
khusus untuk mengembangkan sistem secara profesional.
2) Perancangan sistem memiliki dua tujuan utama, yaitu memberikan perancangan
sistem logika atau perancangan sistem secara umum dan memberikan perancangan
sistem secara terinci.
3) Implementasi system, proses mengganti atau meninggalkan sistem yang lama dengan
sistem yang baru.
4) Operasi dan perawatan beberapa kelebihan dan kekurangan.
Kelebihannya adalah menyediakan tahapan yang dapat digunakan sebagai pedoman
mengembangkan sistem dan memberikan hasil sistem yang lebih baik.
Kekurangannya adalah hanya menyediakan tahapan-tahapan sajahasil dari metode
ini sangat tergantung dari hasil di tahap analisis, membutuhkan waktu yang lama,
membutuhkan biaya yang relatif lebih besar, dan hasilnya tidak luwes untuk
dimodifikasi.

Model SDLC mengusulkan sebuah pendekatan perkembangan perangkat lunak yang


sistematik dan sekunsial yang dimulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh
analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan.

Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah
keenam. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang, kadang-kadang bersama expert
user, terutama dalam langkah spesifikasi kebutuhan dan perancangan sistem untuk
memastikan bahwa langkah telah dikerjakan dengan benar dan sesuai harapan. Jika tidak
maka langkah tersebut perlu diulangi lagi atau kembali ke langkah sebelumnya.Kaji ulang
yang dimaksud adalah pengujian yang sifatnya quality control, sedangkan pengujian di
langkah kelima bersifat quality assurance. Quality control dilakukan oleh personal internal
tim untuk membangun kualitas, sedangkan quality assurance dilakukan oleh orang di luar tim
untuk menguji kualitas sistem. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi.
Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi sistem
D. LANGKAH (AKTIFITAS UTAMA) SDLC
Dalam SDLC, dijabarkan menjadi 7 langkah (aktifitas utama): Planning, Analysis, Design,
Development, Testing, Implementation dan Maintenance. Karena langkah-langkah ini
bersifat urut (skuensial) dengan maksud, langkah ke 4 hanya bisa dilakukan jika langkah
ke 3 sudah dilakukan, maka gambar urutan mirip seperti ‘Air Terjun’, sehingga beberapa
buku menyebutnya juga sebagai ‘W a t e r f a l l M e t h o d o l o g y ‘.

Secara literatur, banyak sekali aktifitas yang terjadi pada setiap langkah pada SDLC.
Contohnya saja: menentukan budget, mengumpulkan kebutuhan bisnis, disain model, menulis
detil dan dokumentasi, manajemen proyek, dan sebagainya. Semua aktifitas yang muncul
sudah tentu bergantung pada kasus pengembangan yang akan dilakukan.

Sebagai contoh kecil, beberapa aktifitas terkait dengan langkah-langkah SDLC diuraikan
pada tabel berikut:

SDLC Phase Activities

1. Planning  Mendefinisikan sistem yang akan dikembangkan


 Membuat Manajemen Proyek
2. Analysis  Mengumpulkan kebutuhan-kebutuhan informasi terkait dengan
sistem yang akan dibangun

3. Design  Mendisain Technical Architecture


 Mendisain Model

4. Development  Membuat Technical Architecture


 Menulis program, create database

5. Testing  Melakukan berbagai testing terkait dengan sistem baru


 UAT

6. Implementation  Menyiapkan production


 Documentation
 Konversi Sistem

7. Maintenance  Membangun Helpdesk (layanan bantuan)


 Pemeliharaan berkala

Tujuan utama dari adanya pendekatan SDLC adalah menjaga bahwa proyek
pengembangan selalu terkendali. Selain itu, pendekatan ini menjamin bahwa sistem yang
dihasilkan akan sesuai dengan kebutuhan

E. MODEL PENGEMBANGAN SDLC

Dalam pengembangan system menggunakan SDLC ada beberapa cara untuk


mengimplementasinya dengan metodologi yaitu waterfall model, prototype model,
RAD(Rapid Application Development) model, ASD(Agile Software Development) model.
Diantara keempat model tersebut waterfall, dan prototype adalah model yang paling sering
digunakan dalam pengembangan system. Berikut penjelasannya :

1. Waterfall Model
Merupakan model yang paling banyak dipakai didalam Software Engineering (SE). Model
ini melakukan pendekatan secara sistematis dan urut mulai dari level kebutuhan sistem lalu
menuju ke tahap analisis, desain, coding, testing / verification, dan maintenance. Disebut
dengan waterfall karena tahap demi tahap yang dilalui harus menunggu selesainya tahap
sebelumnya dan berjalan berurutan. Roger S. Pressman memecah model ini menjadi 6
tahapan, yaitu :
a. Sistem modeling d. Coding
b. Analisis kebutuhan software e. Testing
c. Desain f. Maintenance
Keuntungan menggunakan teknik waterfall:
- Proses menjadi teratur
- Jadwal menjadi lebih menentu
Kelemahan menggunakan teknik waterfall:
- Membutuhkan daftar kebutuhan yang lengkap di awal, tapi jarang konsumen bisa
memberikan kebutuhan secara lengkap diawal

2. Prototype
Prototyping adalah salah satu pendekatan dalam rekayasa perangkat lunak yang secara
langsung mendemonstrasikan bagaimana sebuah perangkat lunak atau komponen-komponen
perangkat lunak akan bekerja dalam lingkungannya sebelum tahapan konstruksi aktual
dilakukan (Howard, 1997). Beberapa model prototype adalah sebagai berikut :
 Reusable prototype : Prototype yang akan ditransformasikan menjadi produk final.
 Throwaway prototype : Prototype yang akan dibuang begitu selesai menjalankan
maksudnya.
 Input/output prototype : Prototype yang terbatas pada antar muka pengguna (user
interface).
 Processing prototype : Prototype yang meliputi perawatan file dasar dan proses-proses
transaksi
 System prototype : Prototype yang berupa model lengkap dari perangkat lunak.
Proses pada model prototyping adalah sebagai berikut :
 Pengumpulan kebutuhan
 Perancangan
 Evaluasi prototype
Keuntungan menggunakan prototype model, yaitu :
 Prototyping adalah model aktif, tidak pasif, sehingga end user dapat melihat,
merasakan, dan mengalaminya.
 Kesalahan yang terjadi dalam prototyping dapat dideteksi lebih dini.
Kekurangan menggunakan prototype model, yaitu :
 Prototyping tidak menolak kebutuhan dari fase analisis sistem. Prototype hanya dapat
memecahkan masalah yang salah dan memberi kesempatan sebagai sistem
pengembangan konvensional.
 Prototyping dapat mengurangi kreatifitas perancangan.

3. RAD (Rapid Application Development)


Rapid application development (RAD) atau rapid prototyping adalah model proses
pembangunan perangkat lunak yang tergolong dalam teknik incremental (bertingkat). RAD
menekankan pada siklus pembangunan pendek, singkat, dan cepat. Waktu yang singkat
adalah batasan yang penting untuk model ini. Rapid application development menggunakan
metode iteratif (berulang) dalam mengembangkan sistem dimana working model (model
bekerja) sistem dikonstruksikan di awal tahap pengembangan dengan tujuan menetapkan
kebutuhan (requirement) user. RAD mengadopsi model waterfall dan pembangunan dalam
waktu singkat dicapai dengan menerapkan component based construction.

4. Agile Software Development


Agile merupakan adalah jenis pegembangan sistem jangka pendek yang memerlukan
adaptasi cepat dan pengembang terhadap perubahan dalam bentuk apapun. Dalam Agile
Software Development interaksi dan personel lebih penting dari pada proses dan alat,
software yang berfungsi lebih penting daripada dokumentasi yang lengkap, kolaborasi
dengan klien lebih penting dari pada negosiasi kontrak, dan sikap tanggap terhadap
perubahan lebih penting daripada mengikuti rencana. Agile juga dapat diartikan sebagai
sekelompok metodologi pengembangan software yang didasarkan pada prinsip-prinsip yang
sama atau pengembangan system jangka pendek yang memerlukan adaptasi cepat dari
pengembang terhadap perubahan dalam bentuk apapun.

F. KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SDLC

Kelebihan metode SDLC :

a. Mudah diaplikasikan
b. Memberikan template tentang metode analisis, desain, pengkodean, pengujian, dan
pemeliharaan.
Kekurangan metode SDLC :

a. Jarang sekali proyek riil mengikuti aliran sekuensial yang dianjurkan model karena
model ini bisa melakukan itersi tidak langsung.
b. Pelanggan sulit untuk menyatakan kebutuhan secara eksplisit sehingga sulit untuk
mengakomodasi ketidakpastian pada saat awal proyek.
c. Pelanggan harus bersikap sabar karena harus menunggu sampai akhir proyek dilalui.
d. Pengembangan sering melakukan penundaan yang tidak perlu karena anggota tim
proyek harus menunggu tim lain untuk melengkapi tugas karena memiliki
ketergantungan hal ini menyebabkan penggunaan waktu tidak efisien.

Adapun kegunaan utama SDLC adalah mengakomodasi beberapa kebutuhan. Kebutuhan


berasal dari kebutuhan pengguna akhir dan pengadaan perbaikan sejumlah masalah yang
terkait dengan pengembangan perangkat lunak.