You are on page 1of 15

KEBIJAKAN

PELAYANAN
ASUHAN PASIEN

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


JAGAKARSA
JL. Moh. Kahfi I No. 27A Kecamatan Jagakarsa Jakarta Selatan
Telp. (021) 78882455, 22708072, 78882476 Fax : (021) 22708072
Email : rsukecjagakarsa@gmail.com
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAGAKARSA
DINAS KESEHATAN PROVINSI DAERAH KHUSUS
IBUKOTA JAKARTA

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAGAKARSA

NOMOR 86 TAHUN 2018

TENTANG

PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN DIREKTUR NOMOR 191 TAHUN 2017


TENTANG PEMBERLAKUAN KEBIJAKAN PELAYANAN PASIEN PADA
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAGAKARSA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JAGAKARSA,

Menimbang : a. bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayaan


Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa maka diperlukan
penyelenggaraan pelayanan pasien yang bermutu tinggi;
b. bahwa agar pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah
Jagakarsa dapat berjalan dengan baik, perlu didukung
dengan Kebijakan Pelayanan Pasien;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud dalam a dan b, perlu ditetapkan dengan
Keputusan Direktur Rumah Sakit Umum Daerah
Jagakarsa;

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun


2009 tentang Rumah Sakit.
2. Undang-undang Republik Indonesia nomor 25 tahun
2009 tentang Pelayanan Publik
3. Undang-Undang Republik Indonesia nomor 29 tahun
2004 Tentang Praktik Kedokteran
4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
129/Menkes/SK/II/2008 tentang Standar Pelayanan
Minimal Rumah Sakit
5. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
290/Menkes/Per/III/2008 Tentang Persetujuan Tindakan
Kedokteran
6. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor
36 tahun 2012 tentang rahasia kedokteran
7. Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota
Jakarta Nomor 1024 Tahun 2014 Tentang penetapan
pusat kesehatan masyarakat kecamatan menjadi Rumah
Sakit Umum Daerah Jagakarsa
8. Keputusan Kepala Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu
Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor
3/2.11/31/-1.77/2015 Tahun 2015 Tentang Izin
Operasional Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa

MEMUTUSKAN :

Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT UMUM


DAERAH JAGAKARSA TENTANG PEMBERLAKUAN
KEBIJAKAN PELAYANAN DAN ASUHAN PASIEN

KESATU : Pemberlakuan Surat Keputusan Direktur tentang Surat


Pemberlakuan Kebijakan Pelayanan dan asuhan Pasien
pada Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa
sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.

KEDUA : Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam


penetapan ini, akan diadakan perbaikan sebagaimana
mestinya.
KETIGA : Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta
Pada tanggal, 10 november 2018
Direktur Rumah Sakit Umum
Daerah Jagakarsa

DEWI MUSTIKA
NIP 196901112000122022
Pasal 1
Pemberian Pelayanan yang Seragam

1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat asuhan pelayanan yang


seragam bagi pasien.
2. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa memberikan Pelayanan dan
pengobatan oleh professional pemberi asuhan berkualifikasi memadai tidak
tergantung atas hari tertentu atau waktu tertentu
3. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa menggunakan alokasi staf klinis
dan pemeriksaan diagnostik yang sama, untuk memenuhi kebutuhan
pasien pada populasi yg sama.
4. Pasien dengan kebutuhan pelayanan keperawatan yang sama menerima
pelayanan keperawatan yang setingkat di seluruh rumah sakit
5. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat asuhan pelayanan yang
seragam di seluruh unit bagi pasien
6. Rumah sakit umum Daerah Jagakarsa menerapkan dan menggunakan
regulasi serta form dalam bidang klinis yg meliputi, metode assesmen, form
assesmen awal-ulang, PPK, ICP, pedoman managemen nyeri dan regulasi
berbagai tindakan.

Pasal 2
Pengintegrasian dan Koordinasi Asuhan Pasien
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pengintegrasian
dan kordinasi asuhan kepada pasien.
2. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa melibatkan dan memberdayakan
pasien dan keluarga dalam proses asuhan pelayanan.
3. Asuhan pasien yang terintegrasi di ketuai oleh Dokter Penanggung Jawab
Pasien sebagai clinical team leader professional pemberi asuhan.
4. professional pemberi asuhan bekerja sebagai tim interdisiplin dengan
kolaborasi interprofesional, dalam praktek nya memakai Panduan praktik
klinis, panduan asuhan professional pemberi asuhan lainnya, disertai alur
klinis terintegrasi, dan CPPT.
5. professional pemberi asuhan membuat dan melaksanakan Discharge
planning terintegrasi.
6. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa menunjuk staf sebagai menajer
pelayanan pasien.

Pasal 3
Pemberian Asuhan Pasien
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat posedur mengenai
pemberian asuhan kepada pasien.
2. Asuhan untuk setiap pasien direncanakan oleh dokter penanggung jawab
pelayanan, perawat dan profesional pemberi asuhan lain nya dalam waktu
24 jam sesudah pasien masuk rawat inap.
3. Asuhan yang diberikan kepada setiap pasien dicatat dalam rekam medis
pasien oleh profesional pemberi asuhan.
4. Rencana asuhan dicatat dalam rekam medis dalam bentuk kemajuan
terukur pencapaian sasaran.
5. Kemajuan yang diantisipasi dicatat atau direvisi sesuai kebutuhan;
berdasarkan hasil asesmen ulang atas pasien oleh praktisi pelayanan
kesehatan.
6. Perkembangan tiap pasien dievaluasi berkala dan dibuat notasi pada CPPT
oleh dokter penanggung jawab pelayanan sesuai kebutuhan dan diverifikasi
harian oleh dokter penanggung jawab pelayanan.

Pasal 4
Pemberian Instruksi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa menetapkan tata cara pemeberian
instruksi.
2. Instruksi dituliskan secara detail dan disimpan dalam CPPT pasien.
Instruksi harus diberikan dalam bentuk tertulis kecuali dalam kondisi darurat
dimana jika tidak dilakukan dalam waktu cepat akan mengakibatkan
keterlambatan pelayanan pasien.
3. Instruksi terkait rencana asuhan pasien ditulis dalam rekam medis dalam
waktu 24 jam setelah pasien masuk ruang rawat inap.
4. Instruksi secara verbal/lisan/tidak langsung dilakukan oleh dokter
penanggung jawab pelayanan.
5. Permintaan pemeriksaan radiologi (diagnostic imajing), laboratorium
patologi klinik, patologi anatomi, endoskopi, harus di tulis atau di ketik pada
aplikasi SIMRS mencakup diagnosis dan indikasi klinis yang dibutuhkan
untuk interpretasi.
6. Seluruh Profersional Pemberi Asuhan yang diperbolehkan menulis pada
catatan perkembangan pasien terintegrasi adalah mereka yang
bertanggung jawab pada pasien tersebut. Hanya yang diijinkan untuk
menulis perintah melakukannya, diatur dalam surat tugas yang dikeluarkan
Komite Medik dan Keperawatan.
Pasal 5
Tindakan Klinik dan diagnostik
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur tindakan klinik
dan diagnostik.
2. Setiap tindakan klinik dan diagnostic yang bersifat invasif atau langsung
berhubungan dengan pasien harus tercatat siapa yang meminta prosedur
dan alasannya di dalam rekam medis.
3. Dokter pelaksana tindakan harus memberikan informasi mengenai resiko
dan komplikasi yang terjadi pada pasien yang akan dilakukan tindakan
invasif.
4. Setiap hasil dari tindakan dan diagnostik invasif/non invasif yang tidak
normal harus tercatat dalam rekam medis CPPT.
5. Pada pasien rawat jalan yang dilakukan tindakan diagnostik invasif, harus
dilakukan assesmen dan di catat di rekam medis pasien.

Pasal 6
Komunikasi Efektif
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur mengenai
pemberian informasi dan cara melakukan komunikasi efektif.
2. Dokter dan perawat memberitahukan hasil dari proses assesment ulang
diberitahukan kepada pasien dan keluarga.
3. Pasien dan keluarga dilibatkan dalam pengambilan keputusan rencana
asuhan.
4. Pasien dan keluarga juga diberi informasi mengenai kejadian yang tidak
diharapkan dalam pemberian asuhan.
5. Hasil pemberian informasi dicatat di dalam lembar edukasi terintegrasi.

Pasal 7
Pelayanan Pasien Resiko Tinggi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
pasien resiko tinggi.
2. Prosedur pelayanan pasien resiko tinggi di gunakan oleh staf yang sudah
terlatih untuk mengindentifikasi dan menurunkan resiko kepada populasi
pasien resiko tinggi.
3. Yang dimaksud dalam pasien resiko tinggi yakni :
1. pasien emergensi;
2. pasien dengan penyakit menular;
3. pasien koma;
4. Pasien dengan alat bantuan hidup dasar;
5. Pas ien “immuno-suppressed”;
6. pasien dialysis;
7. pasien dengan restraint;
8. pasien dengan risiko bunuh diri;
9. pasien yg menerima kemoterapi;
10. populasi pasien rentan, lansia, anak-anak, dan pasien berisiko tindak
kekerasan atau diterlantarkan
4. Yang dimaksud dalam pelayanan resiko tinggi yakni :
1. pelayanan pasien dgn penyakit menular;
2. pelayanan pasien yg menerima dialisis;
3. pelayanan pasien yg menerima kemoterapi;
4. pelayanan pasien yg menerima radioterapi;
5. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa menetapkan resiko yang muncul
sebagai hasil tindakan rencana asuhan pasien resiko tinggi, dan membuat
prosedur untuk mengatasi dan mencegah resiko tersebut.
6. Informasi yang muncul pada Pelayanan pasien resiko tinggi di buat
evaluasi pengukuran dan di integrasikan kedalam program peningkatan
mutu rumah sakit.

Pasal 8
Deteksi Perubahan Kondisi Pasien
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur mengenai
pelaksanan Earley warning system.
2. Staf pelayanan kritis dan non kritis dilatih untuk mampu mengenali sedini
mungkin pasien yang kondisinya memburuk.
3. Pelaksanaan Early warnig sytem di rumah sakit menggunakan kriteria
fisiologis berupa skoring.
4. Hasil skoring early warning system di catat didalam rekam medis.

Pasal 9
Pelayanan Resusitasi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
resusitasi.
2. Seluruh petugas, baik medis dan non medis harus dapat mengenali pasien
dengan kebutuhan resusitasi.
3. Petugas yang menemukan pasien dengan kebutuhan resusitasi, segera
mengaktifkan “Code Blue” atau kode biru.
4. Setiap petugas dilatih untuk melakukan bantuan hidup dasar dan
pengaktifan code blue.
5. Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa memberikan wewenang
kepada petugas pelayanan medis yang mampu melakukan “Code Blue”.
6. Pelayanan code blue tersedia di seluruh area rumah sakit untuk pasien
selama 24 jam setiap hari.
7. “Code Blue” terdiri atas tim, yang bekerja sama, terdiri atas dokter dan
petugas medis lainnya.
8. Ketua tim adalah seorang dokter yang mampu melakukan resusitasi baik
dasar maupun lanjutan dan melalui kredesnial dokter.
9. Tim “Code Blue” melakukan resusitasi sesuai dengan Standar Operasianal
Prosedur yang berlaku.

Pasal 10
Pelayanan Darah
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur penanganan,
penggunaan dan pemberian darah dan komponen Darah
2. Pengelolaan darah dan komponen darah dilakukan oleh staf yang
kompeten.
3. Staf yang kompoten melakukan pelayanan darah dan produk darah
membuat monitoring dan evaluasi kegiatan.
4. Pelayanan darah dan komponen darah meliputi proses :
a. Pemberian persetujuan
b. Pengadaan darah
c. Identifikasi pasien
d. Pemberian darah
e. Monitoring pasien
f. Identifikasi dan respons terhadap reaksi tranfusi

Pasal 11
Pelayanan Pasien Koma dan yang Menggunakan Alat Bantu Hidup dasar
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
peralatan Bantu Hidup Dasar dan Koma.
2. Tenaga medis yang kompeten melakukan identifikasi pasien yang
memerlukan peralatan bantu hidup dan yang koma.
3. Tenaga medis melakukan pemeriksaan dan stabilisasi tanda-tanda vital
4. Jika memungkinkan dilakukan mobilisasi, pasien dilakukan tindakan
rujukan ke RS yang mampu untuk menggunakan peralatan bantu hidup dan
pasien koma, dengan fasilitas ICU dan ventilator.
5. Keluarga diedukasi mengenai keadaan pasien, dan alasan mengapa
Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa melakukan tindakan Rujukan.
6. Pasien dilakukan Rujukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
yang berlaku.

Pasal 12
Pelayanan Pasien dengan Penyakit Menular dan imuno supressed
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
pasien dengan penyakit menular dan pasien dengan imuno suppressed.
2. Tenaga medis yang kompeten melakukan identifikasi dan asuhan pasien
dengan penyakit menular dan immunosuppressed.
3. Tindakan pelayanan pasien menular dilakukan pada pasien dengan :
1. HIV/AIDS
2. Morbili
3. TB Paru
4. MERS
5. SARS
6. Flu Burung
4. Pasien dengan penyakit menular dirawat di Ruang isolasi
5. Petugas memberikan edukasi secara jelas, alasan pasien dimasukan ke
dalam ruang isolasi, keluarga diberikan pembatasan jumlah kunjungan
6. Petugas kesehatan yang melakukan pelayanan menggunakan APD
7. Pananganan sampah dan linen dimasukkan ke dalam sampah dan linen
infeksius

Pasal 13
Pasien dengan Dialisis
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
pasien yang membutuhkan hemodialisa
2. Tenaga medis yang kompeten melakukan identifikasi pasien yang
membutuhkan hemodialisa
3. Tenaga medis melakukan pemeriksaan dan stabilisasi tanda-tanda vital
4. Jika memungkinkan dilakukan mobilisasi, pasien dilakukan tindakan
rujukan ke RS yang mampu untuk melakukan tindakan hemodialisa
5. Keluarga diedukasi mengenai keadaan pasien, dan alasan mengapa
Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa melakukan tindakan Rujukan
6. Pasien dilakukan Rujukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
yang berlaku

Pasal 14
Penggunaan Restrain
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
penggunaan Restrain
2. Petugas pelayanan kesehatan mengidentifikasi pasien yang membutuhkan
pelayanan restrain
3. Petugas melakukan edukasi, tujuan dan persetujuan keluarga untuk pasien
dengan menggunakan restrain
4. Petugas kesehatan memutuskan penggunaan restrain dapat dihentikan
atau tidak
5. Pelayanan restrain sesuai dengan Standar Operasional Prosedur yang
berlaku

Pasal 15
Pelayanan Pasien Rentan, Usia Lanjut, Cacat dan Anak-anak
1. Petugas Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa mengidentifikasi kelompok
yang berisiko yang tercantum pada identitas berupa umur yang terdapat di
rekam medis pasien.
2. Kelompok pasien yang beresiko diantaranya adalah pasien bayi, anak,
individu cacat, manula, pasien dalam keadaan koma dan pasien dengan
gangguan mental dan emosional.
3. Selain terhadap kekerasan fisik, perlindungan juga diterapkan dalam
keselamatan pasien.
4. Perlindungan dalam keselamatan pasien berupa perlindungan dari
penyiksaan, kelalaian asuhan atau bantuan dalam kejadian kebakaran.
5. Semua petugas Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa bertanggung jawab
dalam proses perlindungan terhadap pasien yang beresiko.

Pasal 16
Pelayanan Pasien dengan Populasi yang Berisiko Disakiti.
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa bertanggung jawab melindungi
semua pasien dari kekerasan fisik selama dalam pelayanan.
2. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur dalam
melindungi pasien terhadap kekerasan fisik.
3. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat kartu penunggu untuk 1
(satu) anggota keluarga pasien yang menunggu kerabat nya yang sakit dan
dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa.
4. Kartu penunggu wajib dikalungkan oleh anggota keluarga yang menunggu
pasien yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa.
5. Selain jam kunjung pasien, orang yang memasuki ruang rawat inap dan
tidak menggunakan kartu identitas penunggu pasien ditanyakan identitas
dan tujuan nya di Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa.
6. Pasien yang dilindungi terutama Bayi, anak-anak, dan manula yang
kurang/tidak mampu melindungi dirinya sendiri.
7. Terdapat CCTV di setiap lorong dan sudut lorong Rumah Sakit Umum
Daerah Jagakarsa.

Pasal 17
Pasien dengan Kemoterapi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur pelayanan
pasien yang membutuhkan kemoterapi
2. Tenaga medis yang kompeten melakukan identifikasi pasien yang
membutuhkan tindakan kemoterapi
3. Tenaga medis melakukan pemeriksaan dan stabilisasi tanda-tanda vital.
4. Jika memungkinkan dilakukan mobilisasi, pasien dilakukan tindakan
rujukan ke RS yang mampu untuk melakukan tindakan kemoterapi seperti
RS Fatmawati, RS Pusat Kanker Dharmais, RS Cipto Mangunkusumo dll.
5. Keluarga diedukasi mengenai keadaan pasien, dan alasan mengapa
Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa melakukan tindakan Rujukan.
6. Pasien dilakukan Rujukan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur
yang berlaku.
Pasal 18
Pelayanan Terapi Nutrisi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa memberikan pelayanan terapi
nuutisi pada setiap pasien yang di Rawat inap di Rumah Sakit Umum
Daerah Jagakarsa.
2. Setiap pasien yang dirawat inap, dilakukan pencatatan dan dilaporkan
kepada unit pelayanan gizi untuk dipesankan makanan
3. Pemilihan makanan disesuaikan dengan umur, budaya, pilihan, rencana
asuhan, diagnosa, termasuk diet khusus.
4. Pasien berhak menentukan makanan sesuai dengan nilai yang di anut.
5. Unit pelayanan gizi Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa memberikan
variasi pilihan makanan setiap harinya
6. Bila keluarga menyediakan makanan, mereka diberikan edukasi tentang
makanan yang merupakan kontra indikasi terhadap rencana asuhan,
kebersihan (hygiene) makanan dan kebutuhan asuhan pasien, termasuk
informasi terkait interaksi obat dan makanan. Makanan yg dibawa oleh
keluarga/ orang lain disimpan dengan benar untuk mencegah kontaminasi
tentang pembatasan diet pasien.

Pasal 19
Pasien yang Berisiko Nutrisi Mendapat Terapi Gizi terintegrasi
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa melakukan Skrining Gizi terhadap
pasien
2. Pasien yang pada asesmen berada pada risiko nutrisi, mendapat terapi
gizi.
3. Suatu proses kerjasama dokter penanggung jawab pelayanan, perawat,
ahli gizi dan keluarga dipakai untuk merencanakan, memberikan dan
memonitor terapi gizi.
4. Respon pasien terhadap terapi gizi dimonitor.
5. Respon pasien terhadap terapi gizi dicatat dalam rekam medisnya.

Pasal 20
Pengelolaan Rasa Nyeri
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur mengenai
asesmen dan manajemen nyeri.
2. Petugas Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa mengukur tingkat nyeri
yang dirasakan oleh pasien dengan menggunakan score nyeri.
3. Score nyeri dinilai menggunakan VAS (visual analogue score), skala
numeric verbal, dan skala wajah Whaley dan Wong.
4. Staf melaksanakan pelayanan utk mengatasi nyeri, terlepas dari mana
nyeri berasal
5. Staf melakukan komunikasi dan edukasi kepada pasien & keluarga perihal
penyebab nyeri serta pelayanan utk mengatasi nyeri sesuai dgn latar
belakang agama, budaya, nilai2 pasien & keluarga
Pasal 21
Assesmen Pasien Tahap Terminal
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat regulasi assesmen
pasien tahap terminal
2. Assesemen dan assesmen ulang pasien tahap terminal bersifat individual
agar sesuai dengan kebutuhan pasien
3. Assesmen di lakukan untuk menilai :
a) gejala mual dan kesulitan pernapasan
b) faktor yg memperparah gejala fisik
c) manajemen gejala sekarang dan respons pasien
d) orientasi spiritual pasien & keluarga, keterlibatan dlm kelompok agama
tertentu
e) keprihatinan spiritual pasien & keluarga, seperti putus asa, penderitaan,
rasa bersalah
f) status psiko sosialpasien & keluarganya, seperti kekerabatan,
kelayakan perumahan, pemeliharaan lingkungan, cara mengatasi,
reaksi pasien dan keluarganya menghadapi penyakit
g) kebutuhan bantuan atau penundaan layanan utk pasien dan
keluarganya
h) kebutuhan alternatif layanan atau tingkat layanan\
i) faktor risiko bagi yg ditinggalkan dalam hal cara mengatasi dan potensi
reaksi patologis atas kesedihan.
4. Hasil assesmen tercatat di rekam medis pasien
5. Asuhan pasien tahap terminal memperhatikan rasa nyeri pasien

Pasal 22
Pelayanan pada Tahap Terminal (Akhir Hidup)
1. Rumah Sakit Umum Daerah Jagakarsa membuat prosedur mengenai
pelayanan pasien terminal.
2. Apabila terdapat pasien dengan pelayanan terminal, petugas Rumah Sakit
Umum Daerah Jagakarsa menanyakan kepada pasien kebutuhan unik
yang ingin dipenuhi.
3. Kebutuhan unik yang ditanyakan kepada pasien, meliputi :
1. Pengobatan terhadap gejala primer dan sekunder,
2. Manajemen nyeri
3. Respon terhadap aspek psikologis, sosial, emosional, agama dan
budaya.
4. Pasien dan keluarganya terlibat mengambil keputusan pelayanan.
5. Rumah sakit membuat proses pengelolaan asuhan pasien dalam tahap
terminal yang meliputi :
a. intervensi untuk pelayanan pasien utk mengatasi nyeri
b. memberikan pengobatan sesuai gejala dan mempertimbangkan
keinginan pasien & keluarga
c. menyampaikan secara hati hati soal sensitif seperti otopsi atau
donasi organ
d. menghormati nilai, agama dan budaya pasien dan keluarga
e. mengajak pasien dan keluarga dalam semua aspek asuhan
f. memperhatikan keprihatinan psikologis, emosional, spiritual dan
budaya pasien dan keluarga