You are on page 1of 8

.

BAB II

TEORI

A. Penjelasan teoritis dalam frame psikologi komunitas pada komunitas terkait

Psikologi komunitas dapat dilihat sebagai sebuah pendekatan untuk


memecahkan masalah yang terkait dengan perilaku manusia, dengan menekankan
pada upaya pengembangan manusia dalam memanfaatkan sumber daya
lingkungan, yang secara potensial dapat memberikan kontribusi pada upaya
pencegahan/mengurangi masalah.(Zax & Specter, 1974)”.
Pengertian komunitas sendiri meneurut Sarason yaitu jaringan hubungan yang
saling mendukung dan saling mendukung itu bisa bergantung (Sarason, 1974). Dia
pada dasarnya mengatakan suatu komunitas adalah suatu pengaturan yang
ditentukan oleh hubungan Gemeinschaft.
Jadi, berdasarkan atas pengertiak komunitas di atas dapat dikatakan FMC
(Friday Movement Community) sebagai sebuah komunitas. Dimana antar
anggotanya saling mendukung dan bergantung. Para anggota saling mendukung
dalam mengulurkan bantuan terhadap orang-orang yang membutuhkan dan saling
bergantung untuk dapat menjalankan komunitas danmenjalankan tugas atau misi
komunitas dengan baik.

Tujuan psikologi komunitas sebagai ilmu pengetahuan dapat diringkas sebagai


berikut:
1. Mengembangkan sumber daya yang terdapat dalam masyarakat.
2. Mendesain dan mengarahkan program pelayanan masyarakat sejalan
dengan proses perubahan sosial yang direncanakan agar mampu mengatur
dan mengendalikan kekuatan yang ada pada diri mereka untuk mencapai
kesejahteraan bersama.
3. Merencanakan suatu perubahan sosial menuju kehidupan bermasyarakat
yang lebih baik.
4. Mengorganisasikan dan mengimplementasikan perubahan-perubahan yang
telah direncanakan.

Berdasarkan pada tujuan psikologi komunitas di atas dapat di analisis pada


komunitas FMC para anggota telah merencanakan perubahan sosial menuju
kehidupan masyarakat yang lebih baik. Diantaranya kegiatan yang dilakukan
komunitas yaitu meminta donasi atau sumbangan untuk diberikan kepada orang-
orang yang membutuhkan. Kegiatan-kegiatan utama mereka pada hari jumat seperti
membagikan makanan kepada pekerja-pekerja jalan juga merupakan upaya untuk
menuju kehidupan bermasyarakat yang lebih baik.
Psikologi Komunitas merupakan bagian dari kerangka ilu Psikologi sosial yang kini
mulai banyak digunakan untuk memahami interaksi anggota masyarakat dalam
suatu sistem sosial tertentu, menganalisis sistem sosial dan memecahkan masalah
sosial maupun untuk mengembangkan program interverensi sosial dengan
memanfaatkan sumber daya yang ada pada masyarakat (Istiqomah et al, 2011 dalam
Falatahen, 2017).

Peran psikolog komunitas, menurut Korchin (1976) (dalam Alfiatin, 1997) adalah
mereka harus bekerja di tempat yang dekat dengan orang-orang yang
membutuhkannya sehingga bantuan yang diberikan akan lebih efektif; pertolongan
harus diberikan kepada semua orang yang membutuhkan, tidak hanya kepada
mereka yang mencari bantuan. Psikolog komunitas harus menggunakan sumber-
sumber yang ada, di antaranya adalah manusia sumber (key person) di dalam
komunitas. Di dalam memberikan bantuan psikolog komunitas perlu melibatkan
pembantu-pembantu non-profesiona, misalnya ibu-ibu rumah tangga dan
mahasiswa yang telah dibekali pengetahuan tentang kesehatan mental.

Berdasarkan hasil dari analisis terhadap komunitas yang diwawancarai,


komunitas FMC (Friday Movement Community) merupakan tipe komunitas
relasional yang mana komunitas-komunitas ini didefinisikan oleh hubungan
antarpribadi dan rasa komunitas tetapi tidak dibatasi oleh geografi.Kelompok
diskusi internet adalah komunitas sepenuhnya tanpa batasan geografis. kelompok
yang Saling memberi bantuan, klub mahasiswa, dan kongregasi religius ditentukan
oleh obligasi relasional. Meskipun komunitas relasional hanya dapat didasarkan
pada persahabatan atau rekreasi (misalnya, liga olahraga, perkumpulan mahasiswi),
banyak organisasi terikat oleh kesamaan tugas atau misi. Tempat kerja, kongregasi
religius, organisasi komunitas, kamar dagang, serikat buruh, dan partai politik
adalah contohnya. Komunitas yang berbasis lokalitas dan relasional membentuk
spektrum daripada suatudikotomi. Banyak komunitas terutama relasional yang
duduk di suatu wilayah (misalnya, universitas, kongregasi religius). FMC dapat
dikatakan sebagai komunitas komunitas relasiaonal karena didasarkan pada
persahabatan atau rekasi dan juga karena kesamanaan tugas atau misi.

Seperti yang diketahui juga bahwa komunitas FMC merupakan komunitas


yang dibentuk oleh mahasiwa aktif universitas andalas yang tergerak untuk
membantu sesama dan merekrut anggota yang memiliki minat yang sama.
Walaupun tidak memiliki visi misi secara tertulis dapat dikatakan secara umum
mereka memiliki visi untuk berkomitmen dalam membantu secara sosial,
lingkungan dan agama.

B. Penjelasan masalah yang dihadapi komunitas dalam frame teoritis

McMillan dan Chavis mengidentifikasi empat elemen: keanggotaan, pengaruh,


integrasi dan pemenuhan kebutuhan, dan berbagi koneksi emosional. Elemen-
elemen ini membantu menerjemahkan lebih dari menggambarkan tema rasa
komunitas, dimana yang mencirikan pemikiran Sarason, ke dalam konstruksi yang
dapat diukur untuk penelitian dan tujuan spesifik untuk tindakan. Di dalam
formulasi mereka, keempat elemen harus hadir untuk mendefinisikan rasa
komunitas.

1. Membership
Ini adalah rasa di antara anggota komunitas dari investasi pribadi di masyarakat dan
miliknya (McMillan & Chavis, 1986, hal. 9). Ini memiliki lima atribut. Atribut
pertama, batas yang mengacu pada kebutuhan mendefinisikan apa yang termasuk
anggota dan mengecualikan nonanggota. Untuk lokalitas, ini melibatkan batas-
batas geografis; untuk komunitas relasional, mungkin melibatkan kesamaan atau
tujuan bersama. Batas dapat ditandai dengan jelas atau tidak jelas, dan mereka
mungkin kaku atau permeabel. Mereka diperlukan untuk komunitas untuk
mendefinisikan dirinya sendiri. Perbedaan ingroup-outgroup menyebar ke seluruh
budaya (Brewer,1997). Kualitas lain dari sense of community bergantung pada
batasan-batasan.

Simbol umum membantu menentukan batasan, mengidentifikasi anggota atau


teritorial. Contohnya termasuk penggunaan huruf Yunani di kalangan mahasiswi
kampus, warna dan simbol di antara geng pemuda dan tim olahraga, citra
keagamaan, universitas decals pada mobil, ekspresi gaul khas dan jargon, bendera
nasional dan lagu kebangsaan (Fisher & Sonn, 2002). Dalam komunitas dengan
batasan yang jelas, anggota mengalami emotional safety. Ini bisa berarti rasa aman
dari kejahatan di lingkungan. Lebih mendalam, itu bisa berarti hubungan yang
aman untuk berbagi perasaan dan kekhawatiran. Keamanan emosional dalam arti
itu membutuhkan proses saling membuka diri danpenerimaan kelompok
(McMillan, 1996).

Seorang anggota yang merasa aman cenderung melakukan investasi pribadi di


masyarakat. McMillan (1996) mengacu pada yang terakhir sebagai "membayar
iuran," meskipun itu seringkali bukan uang. Investasi menunjukkan komitmen
jangka panjang untuk masyarakat, seperti kepemilikan rumah di lingkungan,
keanggotaan dalam agama jemaat, atau pengabdian waktu untuk organisasi amal.
Itu juga bisa melibatkan mengambil risiko emosional untuk grup. Tindakan ini
memperdalam rasa memiliki dan identifikasi anggota Komunitas. Individu diterima
oleh anggota komunitas lain dan mendefinisikan identitas pribadi sebagian dalam
hal keanggotaan dalam komunitas. Individuals dapat mengidentifikasi dengan
menjadi penduduk suatu lingkungan, pemeluk suatu agama, anggota profesi atau
perdagangan, mahasiswa di universitas, atau anggota dari suatu suku.

2. Influence

Elemen kedua mengacu baik pada kekuatan yang anggota keluarkan atas kelompok
dan dengan kekuatan timbal balik yang dinamika kelompok mengerahkan anggota.
McMillan dan Chavis (1986, pp. 11-12) berdasarkan diskusi mereka tentang
pengaruh pada sebagian literatur keterpaduan kelompok dalam psikologi sosial.
Anggota lebih tertarik pada kelompok di mana mereka merasa berpengaruh.
Anggota yang paling berpengaruh dalam kelompok seringkali adalah mereka yang
membutuhkannya dan nilai-nilai orang lain sangat berarti. Mereka yang berusaha
mendominasi atau berolahraga kekuasaan terlalu kuat sering terisolasi. Semakin
kohesif grup, maka lebih besar adalah tekanannya untuk konformitas. Namun, ini
berakar pada yang pembagian komitmen setiap individu kepada kelompok, tidak
hanya dikenakan pada individu. (Itu, bagaimanapun, menunjukkan kerugian dari
rasa positif yang kuat komunitas yang akan kita diskusikan nanti.) Dengan
demikian, pengaruh individu semakin luas kelompok atau komunitas, dan
komunitas tersebut mempengaruhi pandangan dan tindakan orang.

3. Integrasi dan Pemenuhan Kebutuhan

Sementara pengaruh menyangkut pada hubungan vertikal antara individu dan


komunitas secara keseluruhan, integrasi berkaitan dengan hubungan horizontal
antar anggota. Integrasi memiliki dua aspek: nilai bersama dan pertukaran sumber
daya. Nilai-nilai bersama adalah cita-cita yang bisa dikejar keterlibatan komunitas:
misalnya, beribadah dalam komunitas agama, meningkatnya kualitas pendidikan
dapat menjadi nilai bersama dari kelompok orangtua-sekolah.

Konsep kedua mengacu pada kebutuhan yang memuaskan dan bertukar sumber
daya di antara anggota masyarakat. McMillan (1996) menyebut ini sebagai
"komunitas ekonomi. "Individu berpartisipasi dalam komunitas sebagian karena
kebutuhan individu mereka terpenuhi di sana. Kebutuhan mungkin fisik (misalnya,
untuk keselamatan) atau psikososial (misalnya, untuk dukungan emosional,
bersosialisasi, atau melatih kepemimpinan).

4. Shared Emotional Connection

McMillan dan Chavis menganggap ini "Elemen definitif untuk komunitas sejati"
(1986, p. 14). Ini melibatkan "ikatan spiritual "—tidak perlu transenden-agama,
dan tidak mudah didefinisikan, namun diakui kembali oleh mereka yang
membagikannya. Anggota komunitas dapat mengenali yang dibagikan ikatan
melalui perilaku, ucapan, atau isyarat lainnya. Namun, ikatan itu sendiri adalah
bukan hanya masalah perilaku. Koneksi emosional bersama adalah kekuatan
melalui pengalaman masyarakat yang penting, seperti perayaan, dibagikan ritual,
menghormati anggota, dan berbagi cerita.

Komunitas yang kuat tidak datang tanpa harga tertentu. Kesadaran sebagai
bagian dari komunitas melibatkan investasi pribadi, yang hampir selalu
menyangkut pada beberapa bentuk kewajiban. Komunitas mengharapkan berbagai
hal dari seorang individu, dan kewajiban – kewajiban komunitas sering menyita
sumber daya pribadi seseorang seperti waktunya. Keanggotaan dalam sebuah
komunitas menyatakan seseorang mengakui bahwa suatu komunitas dapat
mempengaruhi perilaku, keyakinan, dan bahkan identitas pribadi orang tersebut.
Walaupun peneliti sosial telah menekankan aspek - aspek positif dari komunitas,
hal – hal ini tidaklah diabaikan. Komunitas terkadang dapat membatasi
perkembangan dan kebebasan seseorang secara menyakitkan.

Kesadaran sebagai bagian dari komunitas ada saat seseorang merasa positif
tentang komunitasnya. Tapi apakah persepsi seseorang akan kesadaran sebagai
bagian dari komunitas berubah hanya dari netral ke positif atau bisakah hal itu
menjadi negatif? Kesadaran psikologis akan komunitas akan negatif saat seseorang
merasa sangat negatif tentang komunitas yang lebih luas. (Brodsky, Loomis, &
Marx, 2002). Jadi orang tersebut akan melawan keterlibatan komunitas, mereka
menyimpulkan bahwa komunitas tersebut akan membahayakan. Contohnya,
anggaplah suatu komunitas dengan penerimaan keragaman yang terbatas, dimana
tekanan konformitasnya kuat. Seseorang yang tidak diterima disana mungkin akan
menguatkan kesejahteraannya dengan menjauhi diri mereka dari komunitas
tersebut dan mencari setting dimana mereka diterima.

Kita cenderung untuk mengembangkan asosiasi dengan --- dan lebih


mempercayai orang --- yang sama dengan kita. Paxton telah melakukan penelitian
yang mendemontrasikan bahwa kota dengan tingkat asosiasi terhubung yang lebih
tinggi ( yang anggotanya cenderung berasal dari lebih dari satu organisasi)
mempunyai tingkat kepercayaan generalisasi lebih tinggi dari kota – kota dengan
tingkat asosiasi terisolasi tinggi ( yang anggotanya cenderung berasal hanya dari
satu organisasi saja) (Paxton, 2007). Jadi, modal sosial pada tingkat nasional dapat
menjadi berpengaruh negatif dengan banyaknya asosiasi jika asosiasi tersebut
banyak yang terisolasi. Hal ini benar walaupun asosiasi – asosiasi tersebut dapat
memperlihatkan tingkat modal sosial yang tinggi diantara mereka. Hal ini tidak
dijelaskan untuk tingkat nasional.

Dapat ditarik kesimpulan pada setiap komunitas jika para angotanya memiliki
SOC yang tinggi maka akan memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap
komunitasnya. Tidak dapat dipungkiri disamping memiliki kewajiban dalam
komunitas seseorang juga memiliki waktu pribadi di luar komunitas. Sehingga
terkadang anggota dalam komunitas susah untuk memisahkan dan mengemban
keduanya. Begitu juga yang masalah yang dihadapi dalam komunitas FMC (Friday
Movement Community). Terkadang pada setiap aksi yang dilakukan oleh komunitas
para anggota yang ikut berpartisipasi tidak mencapai setengah dari anggota yang
ada karena seringnya waktu berbentrokkan dengan jadwal pribadi seperti kuliah dan
sebagainya. Walaupun sudah diharapkan bagi para anggota untuk mengososngkan
jadwal di hari jumat tapi masih saja terjadi bentrokkan jadwal. Oleh karena itu
sesuai dengan teori jika seseorang memiliki SOC yang tinggi maka dia akan
memiliki rasa kepemilikan terhadap komunitasnya dan menjalankan kewajiban atau
tugas-tugasnya sesuai dengan peran dalam komunitas.
Referensi:

Falatehan, S.F. (2017). Pendekatan Psikologi Komunitas dalam Memprediksi


Peranan Rasa Memiliki Komunitas Terhadap Munculnya Partisipasi Masyarakat.
Jurnal Iliah Psikologi Manasa. Vol. 6. No. 1, P. 66-90

Breet Kloos, J. H. (2012). Community Psychology : Linking Individuals and


Communities. USA: Linda Schreiber-Ganster.