You are on page 1of 14

Presiden Soekarno

Soekarno dari data sejarah yang kami peroleh adalah sosok orator ulung pada
jamannya. Pribadi yang haus ilmu, beberapa disipin ilmu yang sangat digemari Proklamator
kemerdekaan Indonesia ini antara lain politik, sejarah , agama dan seni. Masa mudanya
terutama dihabiskan dengan membacabuku-buku karangan orang terkenal, seperti buku-buku
karya para pemikir dan pemimpin besar dunia antara lain ; Karl Marx, Engels, Lenin, Mao Je-
dong, Sun Yat-sen, Montesquieu, John locke, Adolf Hitler dan lain-lain.

Sebagai Presiden pertama Indonesia, Soekarno dikenal karena pidato-pidatonya yang


meledak-ledak, penuh semangat dan mampu membakar semangat kebangsaan pemuda
Indonesia, misalnya pada saat rapat besar dilapangan IKADA tahun 1945.Seokarno juga
dikenal sebagai sosok yang konsisten, terbuka dan sangat gamblang, pola komuikasinya
tergolong low kontect atau konteks rendah dan tegas. Ia kerap berbicara apa adanya dengan
bahasa yang terang-benderang. Kalau marah ia marah, kadang meledak-ledak. Ia
tamperamental, namun memiliki sense of humor yang tinggi. Siapa saja mampu memahami
dan mudah menangkap makna setiap kata dan kalimat yang diutarakan Soekarno.

Presiden Soeharto

Presiden kedua Indonesia ini mempunyai citra yang berbeda dengan Soekarno. Gaya
Soeharto lebih kalem dan terkesan merakyat, dengan senyum khas orang Jawa Tengah, maka
Soeharto dikenal dengan julukan the smiling general. Dalam sejarah negara kita, Soeharto
memegang jabatan presiden paling lama yaitu selama 32 tahun. Awal pemerintahannya,
Soeharto disambut seperti pahlawan, sampai tahun 80-an kondisi ekonomi bangsa Indonesia
mengalami kemajuan yang sangat pesat, dikarenakan booming harga minyak bumi dipasaran
dunia dan Indonesia adalah negara pengekspor minyak yang cukup besar.

Gaya kepemimpinan Soeharto lebih berorientasi pada pembangunan ekonomi dengan


konsep Pembangunan Lima Tahun. Dalam bidang politik, Soeharto suka tertib, aman dan
terkendali, artinya semua elemen kekuatan bangsa harus tertib dan sejalan dengan kebijakan
Soeharto. Semua organisasi harus berazas tunggal agar aman dan bisa dikendalikan. Tidak
boleh ada yang berbeda. Tahun 1998 Soeharto mundur dari jabatan presiden karena desakan
seluruh rakyat Indonesia.

Gaya komunikasi presiden Soeharto sangat kental dengan kultur jawa: banyak kepura-
puraan (impression management), tidak to the point dan sangat santun. Komunikasi Soeharto
penuh simbol, tertib, satu arah, singkat dan tidak bertele-tele. Bicara sedikit tapi tiap
katanya berbobot dan penuh non-verbal communication. Orangnya tertutup, konsistensi
cukup tinggi dan konteks komunikasi pada umumnya konteks tinggi atau high contect. Maka
wajar jika hanya orang-orang yang sudah lama berinteraksi dengannya yang dapat memahami
pola komunikasinya.

Presiden B.J Habibie

Habibie adalah wakil presiden keenam dalam pemerintahan Soeharto, ketika tahun
1998 Soeharto mengundurkan diri habibie naik menjadi Presiden menggantikannya. Desakan
berbagai kalangan yang mewakili suara rakyat Indonesia membuat Soeharto tidak mampu
mempertahankan kekuasaannya. Habibie satu-satunya Presiden Indonesia yang bukan orang
jawa, walaupun ibunya adalah orang Jogyakarta.

Sepintas barangkali banyak kalangan menilai bahwa Presiden Habibie adalah seorang
yang cukup demokratis, tetapi banyak kabar miring yang menyatakan kalau pembredelan
majalah Tempo pada Juni 1995 andil Habibie sangat besar. Masih kita ingat kasus tersebut
dikarenakan pemberitaan yang bertubi-tubi majalah Tempo tentang pembelian 36 kapal
perang eks Jerman Timur.

Kasus yang cukup menggemparkan pada masa pemerintahan Habibie adalah skandal
Bank Bali. Kasus ini juga menjadi salah satu faktor yang penting penolakan MPR terhadap
laporan Pertangungjawaban tahun 1999.

Skandal ini melibatkan atau menyeret sejumlah kerabat dekat Gabibie, pejabat
negara dan petinggi Golkar, antara lain Timmy Habibie ( adik kandung Habibie ), almarhum
AA Baramuli ( Ketua DPA ), Tantri Abeng ( Meneg BUMN ), Joko S Tjandra ( bos Mulia Group)
dan Setya Novanto ( wakil bendehara Golkar ).

Ketika proses investigasi bank Bali sedang berjalan, tiba-tiba beredar apa yang disebut
” catatan harian kronologis bank bali,” yang berisi kronologis lengkap mengenai skandal
tersebut. Catatan itu pertama kali dibacakan oleh Kwik Kian Gie dikantor DPP PDIP.
Pemerintah Habibie seakan terpojok sebab disana secara gamblang disebutkan keterlibatan
beberapa petinggi pemerintah. Rudy Ramli pemilik Bank Bali di depan DPR mengakui 90
persen isi kronologis tersebut adalah benar.

Tidak lama kemudian beredar surat bantahan terhadap kronologis tersebut dibuat
oleh ”Rudi Ramli.” Surat bantahan tersebut sempat dibahas dalam sidang kabinet. Presiden
Habibie tanpa mengecek kebenaran surat tersebut langsung memerintahkan Muladi ( saat itu
Mensesneg) untuk membacakan surat tersebut dihadapan seluruh peserta sidang kabinet.
Celakanya, dalam rapat dengar pendapat di komisi VIII DPR, Rudy Ramli mengatakan surat
bantahan yang dibacakan Muladi bukan dia yang buat ( Kompas, 12-9-1999, hal 1). Seumur
hidup,ucap Rudy, ia belum pernah menuliskan namanya ”Rudi Ramli,” sebab namanya yang
benar adalah ” Rudy ramli,” ( pakai y bukan i).

Pengakuan Rudy Ramli benar-benar sebuah tamparan memalukan bagi pemerintah


termasuk Presiden habibie. Mengingat surat yang disebut-sebut dibuat oleh Rudy Ramli
sendiri telah dibacakan di depan sidang kabinet. Tindakan Habibie itu mencerminkan gaya
komunikasi yang penuh spontanitas, meletup-letup, cepat bereaksi, tanpa memikirkan resiko
yang ditimbulkan.

Menurut Muladi salah satu kelemahan Habibie adalah selalu merasa paling benar. Ia
memiliki sifat superiority complex. Dia tidak mau kalah dalam berdebat, all out, selalu harus
menang, khusus ketika terlibat dalam perdebatan. Sifat superiority complex-nya sangat tinggi
barangkali disebabkan oleh kecerdasannya. Bayangkan habibie lulus summa cum laude waktu
kuliah di Jerman.

Presiden Abdurrahman Wahid

Pola komunikasi politik Gus Dur sangat terbuka, demokratis tapi juga otoriter dan
keras kepala. Sangat implusif, bisa tertawa terbahak-bahak karena rasa humornya sangat
tinggi, namun bisa menggebrak meja sekerasnya di depan komunikannya. Gus Dur suka
menggertak lawan. Bicara blong, seolah tidak ada filter sama sekali. Konsistensi amat
rendah, apa yang dikatakan pagi hari, sorenya bisa dibantah sendiri. Nyaris tidak pernah
menyinggung visi-misi dalam pidato-pidatonya. Konteks komunikasinya low context. Gus Dur
orang yang sangat kontraversial, sesuatu yang serius, bagi Gus Dur tiba-tiba jadi tidak serius.

Menurut Ryaas Rasjid, Gus dur memang suka guyon dalam berkomunikasi, kalau kita
bertemu Gus Dur 1 (satu) jam, bicara seriusnya cuma 15 sampai 20 menit, selebihnya
guyonan. Gus Dur memiliki karakter intilektual kuat, tapi mudah dipengaruhi oleh
pembantunya, maka di era Gus Dur populer istilah pembisik, informasi yang diterimanya tidak
diolah dulu, lalu cepat-cepat dilansir ke publik. Celakanya, sering juga informasi yang sudah
dilansir ke publik ternyata salah dan Gus Dur dengan santai berkilah: ” gitu aja dipikirin !”.
Maka yang muncul adalah kontroversi. Padahal dia seorang kepala negara, yang ucapannya
selalu dijadikan acuan bagi pembuatan kebijakan berbagai elemen masyarakat.

Presiden Megawati Soekarnoputri


Membicarakan Megawati merupakan suatu hal yang sangat menarik, bukan hanya
karena Mega putri sang proklamator Bung karno, tapi juga karena Megawati adalah presiden
perempuan pertama di Indonesia. Perjalanan politiknya mirip dengan Corazon Aquino dari
Philipina atau Benazir Bhutto dari Pakistan.

Kemiripan dengan Aquino adalah karena dua-duanya adalah seorang ibu rumah tangga
yang menjadi simbol perlawanan terhadap kekuasaan otoriter di negaranya masing-
masing. Dengan Benazir Bhutto, kemiripan Megawati adalah karena sama-sama lahir dari
keluarga mantan presiden. Yang membedakan ketiganya adalah gaya politik Mega lebih
santun, lembut dan low profile serta lebih banyak pasif.

Gaya seperti ini yang oleh banyak kalangan dianggap sebagai suatu kelemahan. Dalam
buku Mereka Bicara Mega (2008) ada komentar Frans Magnis Suseno, sikap pasif dan banyak
menunggu Megawati dianggap sebagai suatu kelemahan. Jika mega lebih pro aktif
menurutnya, tahun 1999 Mega sudah jadi Presiden. Saat itu terkesan sedemikian pasif,
cenderung menunggu, seolah-olah jabatan presiden sudah di tangan. Akhirnya gerakan politik
yang di motori Poros Tengahnya Amin Rais menjukirbalikkan fakta, Megawati ketua umum PDI
Perjuangan yang menguasai mayoritas parleman kalah oleh Abdurrahman Wahid alias Gus Dur
dalam sidang umum MPR RI tahun 1999. Saat itu Presiden dan Wakil Presiden masih dipilih
oleh MPR.

Masih menurut Magnis, setelah menjadi Presiden sikap megawati ternyata tidak
banyak berubah, tetap pasif dan pelit bicara. Hal ini menyebabakan pada pemilu legaslatif
tahun 2004 perolehan suara PDI P turun cukup drastis, dari 32 persen menjadi 18 persen,
turun sekitar 2/5 dari perolehan suara tahun 1999. Ada kepemimpinan yang kurang ”pas” dari
diri Megawati, hal ini juga menjadikannya gagal terpilih kembali menjadi Presiden, kalah oleh
mantan bawahannya Susilo Bambang Yudhoyono yang di usung Partai Demokrat dengan
pasangannya Jusuf Kalla dari Golkar.

Solahudin Wahid, adik kandung Gus Dur, mantan calon wakil presiden pasangan
Wiranto pada Pilpres 2004 berpendapat, Megawati dalam pandangannya adalah sosok yang
terkesan kurang ramah. Apa karena Ibu Mega pendiam, boleh jadi ya, tapi bisa juga tidak.
Menurut tokoh yang pernah menjadi anggota Komnas HAM dan sering dipanggil Gus Solah ini,
orang yang mempunyai sifat pendiam bisa bersikap ramah, paling tidak senyum, mengangguk,
atau ramah kalau ketemu orang lain.

Jalaluddin Rakhmat atau sering dikenal sebagai kang Jalal, tokoh komunikasi kelahiran
Bandung ini mempunyai penilaian terhadap Megawati. Walau Megawati dengan Benazir
Buttho bagai pinang di belah dua, tapi Mega di anggap kurang berani, kurang tegas dalam
pernyataan dan sikap politiknya.

Anies R Baswedan, Rektor Universitas Paramadina punya penilaian sendiri terhadap


Megawati. Alumnus UGM ini berpendapat Megawati dalah sosok politisi yang santun dan
memiliki ambang kedewasaan dalam berpolitik. Ketika Megawati kalah dari Gus Dur dan
massa pendukungnya kecewa, Ibu Mega meminta dengan lembut agar rakyat menerima dan
tidak anarkis. Ia juga meminta agar merelakan dirinya menjadi wakil Presiden, mendampingi
Abdurrahman Wahid sebagai Presiden Republik Indonesia. Tindakan demikian, menurut Anies
yang semasa kuliah di UGM pernah aktif di HMI-MPO, menunjukkan sikap yang mengajarkan
banyak hikmah kepada para politisi, agar memiliki sikap lebih mementingkan kepentingan
negara dan bangsa di atas kepentingan partai.

Sementara menurut Yudi Latif, seorang pengamat politik lulusan Australian national
University, Camberra. Megawati dalah sosok Nasionalis Religius, tidak heran karena ibunya,
Fatmawati adalah puteri tokoh Muhammadiyah yang berasal dari Sumatera. Oleh karena itu,
manakala Megawati mempunyai perhatian terhadap Ke-Isalaman tentulah bukan hal yang
aneh.

Menurutnya, Megawati mempunya karakter kuat dalam membela kedaulatan nasional


seperti bapaknya Soekarno. Termasuk didalamnya membela orang Islam dari intervensi asing.
Misalnya, Megawati berani menolak permintaan asing untuk menyerahkan ketua Majelis
Mujahidin Indonesia Abu bakar Ba’asir dideportasi ke Amerika Serikat. Sikap ini lebih pada
untuk mengayomi tehadap warga negaranya, kendati Ba’asir dianggap sebagai bagaian dari
Islam radikal.

Yudi menganggap sikap ini cukup Islami, karena menekankan nilai keadilan yang
sangat diajurkan dalam Islam; bahwa janganlah kebencianmu terhadap satu kelompok
membuat kamu bertindak tidak adil. Meski mungkin saja, Megawati secara diametral
bertentangan dengan idiologi yang dikembangkan oleh Abu bakar ba’asir.

Tapi problemya adalah citra Megawati diruang publik sudah terlanjur sebagai sosok
yang pendiam, pasif, dan tidak pro aktif. Mohamad Sobari sosok budayawan, yang ketika era
Presiden Megawati pernah menjadi Pemimpin Umum kantor Berita Antara mengatakan
sebagai pemimpin Megawati dikenal pendiam. Kalau ada masalah yang ruwet Cuma mesem
(tersenyum) dan ada kalanya dalam menyikapi suatu permasalahan terkesan menyepelekan.
Walau tindakan politiknya kongkret.
Menurut laksamana Sukardi, Megawati adalah tipe pemimpin yang tidak memahami
masalah. Pola komunikasinya tertutup, sedikit bicara, penuh kecurigaan, pengetahuannya
terbatas dan pendendam. Tapi dengan orang dekatnya Mega bisa bicara rileks dan terbuka,
tapi lebih suka membicarakan hal-hal biasa, misalnya masalah pribadi.

Hal senada juga di sampaikan oleh Hendropriyono, pola komunikasi Megawati sangat
tergantung dengan siapa ia berbicara. Kalau dengan orang dekat, baik menteri atau pengurus
partai yang mempunyai kedekatan khusus, ia bisa santai dan terbuka sekali.

Ibu Megawati tidak bisa berkomunikasi secara efektif, lebih suka diam atau menebar
senyum daripada bicara. Senyum yang hanya dia sendiri yang mengetahui apa
artinya.Pidatonya tersa hambar, suaranya benar-benar datar, nyaris tidak ada bahasa tubuh
selama pidato. Megawati membaca kata perkata secara kaku seolah takut kedua matanya
lepas dari teks pidato didepannya. Tidak articulate, susah di ajak ngomong serius. Jika
pembicaran mengenai pekerjaan, atau negara, daya fokus Mega sangat terbatas,
konsentrasinya kurang cukup untuk terus menerus fokus ke permasalahan. Komunikasi
politiknya konteks tinggi dan kadar konsistensinya kurang. Komunikasi politiknya didominasi
oleh keluhan dan uneg-uneg, nyaris tidak pernah menyentuh visi-misi pemerintahannya.
Tanpa diragukan lagi, ia sangat pendendam.

Presiden SBY

SBY Presiden Indonesia yang pertama kali terpilih secara langsung oleh rakyat. Dengan
legitimasi yang cukup kuat langsung dari rakyat ternyata tidak membuat kepemimpinan SBY
berjalan dengan bagus, para pengkritiknya mengatakan SBY orang yang tidak tegas, lamban
dan peragu dalam mengambil keputusan, akibatnya pemerintah lambat dalam menangani
banyak hal, terutama kasus-kasus yang menjadi perhatian publik.

Pidato presiden SBY yang berisi penjelasan dan sikap terkait rekomendasi Tim delapan
terhadap kasus hukum dua Pimpinan KPK non aktif Bibit S Rianto dan Cadra M Hamzah menuai
kontraversi. Pengamat Politik dan Hukum dari UGM Prof Dr Yahya Muhaimin, dari Universitas
Brawijaya Dr Ibnu Tricahyo dan Dr Arnold laoh SH dosen hukum sejumlah perguruan tinggi di
Menado serta aktifis dari Serikat Rakyat Miskin Kota (SRMI) Sulawesi Selatan, Liga Nasional
untuk Demokrasi (LMND) Kota Makassar dan Persatuan Mahasiswa Kristen Republik Indonesia
(PMKRI) Sulsel menyatakan pandangan yang hampir sama terhadap pidato SBY tersebut.

Dalam pernyataan yang dirilis Antara News, 24 November 2009, baik Yahya, Ibnu dan
Arnold serta Wahida ketua SRMI Sulsel mengeluarkan pernyataan yang senada bahwa
penjelasan dan sikap SBY soal kasus Bibit-Candra tidak tegas dan tidak tuntas. Lebih jauh
Yahya Muhaimin mengatakan perlu indera keenam untuk memahami isi pernyataan presiden.
“Mirip dengan gaya Soeharto, itulah gaya Jawa SBY, tidak langsung dan dengan bahasa-
bahasa simbol serta tidak mengambil resiko sebagaimana gaya pemimpin barat,” tambah
Yahya.

Sementara Ibnu Tricahyo mengatakan tindak lanjut dari penjelasan dan sikap presiden
sama sekali tidak jelas arahnya, bahkan tidak tuntas, mau dibawa kemana arahnya sulit
ditafsirkan. “ Kasus pimpinan KPK nonaktif Bibit-Candra itu akan dipetieskan atau abolisi,
tidak ada penjelasan sama sekali sehingga masyarakat menjadi bingung, padahal kejelasan
sikap presiden itu ditunggu-tunggu oleh masyarakat luas,” katanya. Pernyataan SBY hanya
untuk menarik simpati publik, sedangkan dibidang hukum, sama sekali tidak ada kemajuan
dan hal baru yang bisa menuntaskan masalah tersebut dengan cepat, kata Ibnu
menambahkan.

Sedangkan Arnold mengatakan sikap SBY terlalu berhati-hati sehingga menimbulkan


kesan tegas terhadap kasus Bibit-Candra.” Pada sisi lain SBY mengatakan bila kasus tersebut
dibawa ke pengadilan akan lebih besar mudharatnya dari pada manfaatnya, namun dibagian
lain penjelasannya diserahkan kepada pihak kepolisian dan kejaksaan,” kata Arnold.
Menurutnya, penjelasan SBY kurang memberikan kemajuan berarti terhadap penanganan
kasus Bibit-Candra. ”sekarang kita menunggu kepolisian dan kejaksaan, apakah memahami
penjelasan agar kasus itu diselesaikan diluar pengadilan atau sebaliknya,” tambahnya.

Senada dengan tiga pakar hukum diatas, para aktifis juga menganggap pidato SBY
tidak tegas dan tidak jelas arahnya. Dalam jumpa pers bersama dengan LMD dan PMKRI di
depan tugu Monumen Pembebasan Irian Barat, Mandala, Makassar dengan penerangan sekitar
10 batang lilin serta pengawalan ketat 50 personel Kepolisian Resort Kota (Polresta) Makassar
barat, Wahida ketua SRMI mengatakan,” Kami mengganggap pidato Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono, tidak tegas dan tidak jelas arahnya mengenai lanjutan kasus bank century dan
proses hukum Candra M Hamzah dan Bibit S Rianto, kami akan terus turun ke jalan hingga
kasus ini selesai.”

Berbeda dengan pengamat yang lain, Pengamat Hukum Tata Negara dari Universitas
Andalas Padang, Yuslim menilai sikap SBY dalam merespon kasus Bibit-candra sudah jelas.
Menurutnya, Presiden tidak mau mengintervensi proses hukum karena sebagai kepala
pemerintahan sudah ada pembagian kekuasaan, maka sudah seharusnya kasus tersebut
dikembalikan pada lembaga penegak hukum yaitu kepolisian dan kejaksaan. Dalam konteks
pembagian kekuasaan, masalah hukum merupakan wilayahnya penegak hukum. Bukan
wewenang Presiden sebagai kepala pemerintahan.”Tinggal sekarang tindak lanjut dari kedua
lembaga, untuk mengeluarkan keputusan berdasarkan prinsip-prinsip negara hukum,”
tambahnya.

Dari kasus diatas, bisa kita analisa, bahwa penjelasan dan sikap SBY dalam merespon
kasus Bibit-Candra bisa dikategorikangaya dan pola komunikasi politik konteks tinggi,
menggunakan kata-kata bersayap, tidak to the point, tidak jelas serta tidak tegas arahnya.
Pesan yang disampaikan mengambang. Kasus Bibit-Candra sebaiknya tidak dilanjutkan. Tetapi
keputusannya diserahkan ke pihak kepolisian dan kejaksaan. Perlu indera keenam untuk
memahami pidato SBY, tidak langsung dan dengan bahasa simbol, serta tidak mengambil
resiko, sulit ditafsirkan, membuat bingung masyarakat, terlalu hati-hati.

Lebih jelas Tjipta Lesmana menjelaskan gaya komunikasi politik SBY sebagai berikut.
Ia ultra hati-hati dalam segala hal. Jadi terkesan bimbang dan ragu-ragu. Konteks bahasa
cenderung tinggi, berputar-putar. Walaupun SBY selalu berusaha berkomunikasi dengan
bahasa tubuh dan verbal yang sempurna, kata dan kalimat diucapkan dengan jelas dan
intonasinya mantap tapi buruk dalam konsistensi, plintat-plintut dan membingungkan publik.
Rasa humor kurang, dan emosi cukup tinggi, bahkan bisa lepas kendali. Dimanapun, SBY
memperlihatkan wajah yang serius; nyaris tidak pernah tertawa, maksimal tersenyum.

Memang terkadang SBY menggunakan bahasa low context, tetapi secara umum bila
kita analisis secara cermat, kita akan mendapatkan kesimpulan SBY lebih sering berbicara
dengan konteks tinggi. Ada dua faktor penyababnya. Pertama, kegemarannya menggunakan
analogi dalam menggambarkan suatu permasalahan. Publik pun disuruh menginterpretasikan
sendiri apa makna analogi tersebut. Kedua, kebiasaan SBY tidak bicara to the point; yang
disampaikan hanya ”hakekat permasalahan”.
Begini Gaya Bahasa Jokowi dan SBY
Menurut Penerjemah Kepresidenan
Liputan6.com, Jakarta - Setiap presiden punya gaya komunikasi diplomasi yang berbeda-
beda. Presiden pertama RI Sukarno, disebut oleh berbagai pihak sebagai presiden yang
mempunyai bahasa diplomasi yang paling baik.
Selain tegas, Sukarno juga dianggap mampu mempengaruhi dunia internasional dengan
penggunaan kata-kata yang menggelora dan menginspirasi pemimpin-pemimpin negara
lainnya kala itu.
Sementara, Presiden RI lainnya dari masa ke masa juga mempunyai bahasa diplomasi
yang berbeda-beda.

Lalu, bagaimana dengan gaya diplomasi Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono
dan Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi ?
Penerjemah kepresidenan RI, Muhammad Iqbal Sirie, punya cerita mengenai gaya bertutur
dua presiden tersebut.
"Tentu tiap presiden atau kepala negara mempunyai gaya komunikasi yang sangat
berbeda-beda. Pengalaman saya mengikuti dua presiden terakhir, Bapak SBY dan Bapak
Jokowi, keduanya mempunyai gaya komunikasi yang berbeda dari segi penggunaan
kosakata maupun istilah diplomasi yang digunakan," ujar Iqbal saat berbincang
dengan Liputan6.com di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (10/11/2015).
Menurut pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Luar Negeri itu, SBY dan Jokowi punya
tipikal yang berbeda jauh dalam bertutur di berbagai pertemuan-pertumuan berlevel
internasional.

Perbedaan terletak pada pemilihan kata-kata yang disampaikan kepada pendengarnya.


Presiden SBY, menurut dia, cenderung menggunakan bahasa-bahasa diplomasi formal.
Sementara Presiden Jokowi lebih menyukai penggunaan istilah yang lebih sederhana.

"Kalau Pak SBY, melihat beliau lebih menggunakan istilah yang panjang. Sementara Pak
Jokowi punya kekhasan, yaitu lebih mengutamakan penggunaan bahasa yang lebih
singkat dan tidak berpanjang lebar," ucap Iqbal yang berkantor di bagian Biro Administrasi
Menteri Kementerian Luar Negeri.

Kendati Jokowi lebih irit dalam berdiplomasi, namun kata Iqbal, tujuan dan maksud yang
ingin disampaikan terdengar dengan lugas dan jelas.
"Gaya komunikasi yang singkat, namun padat dan jelas. Itu perbedaan yang paling jelas
terlihat dari dua pemimpin tersebut," ujar Iqbal.

Walau mempunyai gaya bertutur yang berbeda, pria satu anak itu mengaku tidak merasa
kesulitan dalam menafsirkan ucapan dua presiden tersebut. Menurut dia, Jokowi dan SBY
mempunyai kemampuan berbahasa yang cukup baik, namun mempunyai tipikal yang
berbeda dalam berdiplomasi.

"Tentu kami sebelumnya sudah dilatih, tidak hanya memahami kosakata dalam istilah
diplomasi, tapi juga mengenai ilmu komunikasi dan bagaimana memahami ide dan kata-
kata yang disampaikan presiden, agar dapat ditafsirkan secara jelas kepada pendengar,"
ucap pria kelahiran Juni 1984 itu.

Iqbal sendiri merupakan diplomat muda yang telah berkarier di Kementerian Luar Negeri
sejak 2010. Sebelum turun ke lapangan menjadi penerjemah kepresidenan, pria lulusan
Universitas Padjajaran jurusan Fakultas Hukum itu harus mengikuti pelatihan selama dua
tahun.

"Setelah masuk Kemenlu, tahun 2012 saya mulai dilatih sebagai penerjemah, dan mulai
dilibatkan dalam kegiatan Istana sejak 2014," ucap dia lagi.

Karena itu, selama berkarier di Istana, dia tidak hanya menjadi penerjemah Presiden
Jokowi,namun juga sempat menjadi penerjemah Presiden SBY di akhir-akhir masa
jabatannya.

"Saya sempat mengikuti Presiden SBY dalam sebuah kunjungan ke forum internasional,
dan saat ini mengikuti kegiatan kenegaraan Presiden Jokowi. Terakhir saya mengikuti
kegiatan kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Amerika Serikat, " tutup Iqbal.
(Ron/Sun)*
Retorika, Gestur dan "Tukulisme" Presiden Jokowi
Sebagai orang yang pernah belajar tentang Retorika, Public Speaking, Training of Trainer dan
berbagai training untuk meningkatkan kemampuan berbicara di depan umum, saya terus
terang "underestimate" dengan cara Bapak Presiden RI ke-7 Ir. H. Joko Widodo (Jokowi)
berpidato tanpa teks di depan umum.

Saya sering ikut deg-degan manakala menunggu Jokowi memberi sambutan. Jokowi terkesan
tegang setiap kali memulai kata pertama dalam sambutannya. Bahkan kerap lupa menyampaikan
salam "Assalamu"alaikum...", atau menyebut naama audience yang harus disapa, diksinya
kurang variatif bahkan sangat dangkal, Gestur tubuhnya juga miskin untuk membantu
memperkuat ucapan-ucapannya. Sistematika berpikirnya loncat-loncat.

Namun, uniknya hal-hal yang dalam berbagai training public speakingkerap menjadi
"kelemahan" untuk diperbaiki, kini menjadi " kekuatan" Mr. President. "Kelemahan" itu
menjadi "kekuatan" yang diekploitasi. Saat Jokowi disebut "bodoh" oleh Gubernur Jateng Bibit
Waluyo pada waktu mereka berkonflik tentang peruntukan lahan di Solo, dengan enteng Jokowi
jawab,"Memang saya bodoh."

Pada kesempatan lain, saat ia dijelek-jelekkan oleh lawan politiknya sewaktu kampanye Pilpres,
dengan tanpa ekpresi perlawanan ia hanya menjawab "Aku rapopo". Sebuah ekspresi yang
mengesankan ketidakmampuan berargumen. Pasrah dengan keadaan. Padahal jika hal yang
sama terjadi pada politisi lain, maka kita akan menyaksikan para politisi itu dengan "lincah"
bersilat lidah menyampaikan argumen. Makin tinggi intensitas konfliknya, makin asyik media
menjadikan mereka sebagai objek entertain news. Bahasa yang dipakai juga hebat-hebat.

Jokowi memang unik, Makin dijelek-jelekkan, makin ia "digemari". Makin dihujat, makin
menjadi tambahan energi untuk digemari.

Ini mengingatkan saya pada figur Tukul Arwana. Tokoh entertain dengan wajah "ndeso, culun,
dan apa adanya" itu sampai kini masih bertahan menjadi host di acara "Bukan Empat Mata".
Bertahan di jagat entertainment yang berseliweran dengan tokoh-tokoh ganteng, cantik, pintar,
priyayi dan tangkas berbicara dalam waktu demikian panjang tentu bukan sesuatu kebetulan.
Pasti ada "Tim Kreatif" di belakang Tukul yang membuat "jualan kelemahannya" itu justru
terus-menerus laku. Meski seiring berjalannya waktu, sebenarnya seorang Tukul telah
mengalami metamorfosis yang luar biasa sebagai seorang entertainer tanpa menghilangkan
jualan "keculunan-nya".

"Tukulisme" nampaknya bisa menjadi jalan ideologi politik pencitraan bagi Jokowi. Jokowi
tidak perlu mengubah apa-apa dari penampilan dan gestur natural yang melekat pada dirinya.
"Tukulisme" itulah kekuatan Jokowi yang harus dieksplotasi. Tentu pada sisi lain, ia perlu
memilih "Tim Kreatif" yang bekerja di balik layar menyiapkan bahan-bahan untuk mengisi
memori dalam pikirannya saat ia buntu atau menyiapkan penampilan dan tema yang tepat agar
ia bisa mengekploitasi panggung.

Bagaimana pun, panggung politik berbeda dengan panggung hiburan. Panggung politik
membuat Jokowi kerap berhadapan dengan lawan-lawan politik. Panggung politik ---apalagi
berperan sebagai seorang Presiden---membuat Jokowi terikat dengan aturan-aturan protokoler
yang mengekang. Kesalahan mengemas retorika dan gestur bisa menjadi santapan empuk untuk
diserang oleh lawan politik. Sementara panggung hiburan lebih bisa "ditekuk-tekuk" dalam hal
kreativitas dan penampilan. Aturan-aturan protokoler amat cair.

Meski dalam beberapa kesempatan, Jokowi justru mencoba menerobos aturan-aturan dengan
memanfaatkan "kelemahannya". Lihatlah bagaimana ekspresi tukang mebel asal Solo saat naik
kereta kuda menuju Istana Negara dengan melepas jas, dasi dengan rambut "madul-madul"
(berantakan).....benar-benar natural....
Atau lihatlah bagaimana sang Mr President ini lari dari sudut panggung ke ujung panggung
yang lain saat Konser "Syukuran Rakyat". Perilaku yang lebih mirip Giring NIDJI atau Armand
Maulana GIGI daripada seorang Gubernur bahkan Presiden. Benar-benar Tukulis sejati....

Namun demikian, agar karir Jokowi dapat terus bertahan lama di panggung politik dengan citra
dan ideologi "Tukulisme" semacam itu, kiranya Jokowi perlu memilih atau dipilihkan Tim
Kreatif yang mampu "mengendalikan" sang Superstar saat retorika-nya sedang "blank", atau
tindakannya ngelantur" dan gestur-nya tidak sesuai skenario dengan mengingatkan : " Maaf Pak
Presiden.... kita Kembalik ke Laptop....!" (*)
Gestur Soekarnomenyiratkan seorang yang punya semangat dan gelora yang tiada habis-
habisnya, flamboyan, dan visioner.Intonasi suara baritonnya yang amat variatif saat berpidato,
mampu memain-mainkan emosi pendengarnya.Bahasa tubuh Soekarno mencerminkan
sepenuhnya gerak kebebasan dan kemerdekaan, yang mampu menyihir semua orang yang
mendengar dan melihatnya.Ia adalah orang tepat di waktu yang tepat, menjadi motivator dan
pemimpin massa menuju Indonesia merdeka. Menurut bapak saya dulu, ketika Bung Karno
berpidato, jalan-jalan sepi karena semua orang mendengarkannya melalui pesawat radio di
rumahnya, termasuk para tukang becak yang mendengarnya di warung nasi.

Tubuh Soeharto nyaris tidak pernah menunjukkan gerakan yang menonjol saat berada di muka
umum. Rosihan Anwar pernah menuliskan pengalamannya di Harian Kompas, saat ia bertemu
dengan Soeharto di masa Perang Kemerdekaan dulu.Katanya,Soeharto sudah dikenal sebagai
perwira yang kulino meneng (terbiasa diam).Tetapi bila diperhatikan lebih saksama, diamnya
Soeharto sebenarnya mengungkapkan sisi lain dari wataknya, yakni sikap waspada.Karakter dari
seorang panglima perang sejati, yang lebih mengutamakan kehati-hatian dalam menaksir
kekuatan lawan, dan kemampuan bertindak keras terhadap lawannya di waktu yang tepat.Gaya
kepemimpinannya memang demikian. Tak banyak cakap, cuma terlihat senyum-senyum, tetapi
jika ia telah mengidentifikasi seseorang menjadi lawannya, ia tak ragu bertindak keras.Kendati
pidatonya monoton, dalam temu wicara dengan para petani, ia sangat terlihat santai dan
ramah.Bicaranya mengalir lancar, menunjukkan orang yang mengetahui seluk-beluk pertanian
secara mendalam, juga menunjukkan orang yang bisa bicara dengan bahasa sederhana kepada
rakyat kecil.

Beralih pada Habibie.Mata dan tangannya lincah saat bicara, tanda dari orang yang penuh kasih
sayang; amat terlihat di saat istrinya wafat.Santai, sering terlihat kurang formal di depan
umum.Dalam pidato pelantikannya ia sempat salah mengucapkan angka tahun, dan langsung
menutupi bibirnya dengan jarinya, mengesankan sikap yang spontan dan lucu.Uskup Belo,
pemimpin umat Katholik di Timor Timur (Timor Leste sekarang), pernah mengatakan bahwa ia
yakin Habibie akan dikenang sebagai pemimpin yang baik hati.Ucapannya itu ia kemukakan di
depan wartawan setelah ia bertemu dengan Habibie, beberapa bulan sebelum dilakukannya
refrendum Timtim.Entahlah, apakah baik hati yang dimaksud oleh sang Uskup adalah baik
dalam arti sebenarnya, ataukah baik dalam arti memberi kemerdekaan Timtim.Gestur Habibie
lebih memperlihatkan karakter ilmuwan daripada politisi.Ia dikenal luas sebagai “Mr. Crack”,
karena kemampuannya menghitung besar dan arah retakan di badanpesawat terbang. Belum ada
Menristek sehebatnya sampai hari ini.

Abdurahman Wahid alias Gus Dur lain lagi bahasa tubuhnya.Ia jauh lebih santai dibanding
Habibie bila sedang di depan publik. Bicaranya ceplas-ceplos, dan mengesankan orang yang
suka semaunya sendiri, keluar dari aturan protokoler.Easy going dan banyak melontarkan
guyonan ketika bicara.Ucapannya yang terkenal sampai sekarang: gitu aja kok repot, selain
menunjukkan sifat humorisnya juga menyiratkan pola pikirnya yang tak ingin dibebani oleh hal-
hal yang tak penting. Gaya yang amat cocok untuk seorang aktivis sosial, tetapi menjadi kurang
pas untuk seorang presiden yang sering dituntut berpenampilan resmi di depan publik.

Menyimpang sebentar dari tema tentang gestur para presiden RI, Gus Dur konon terpaksa
mundur sebelum waktunya, karena ia telah melakukan satu kesalahan fatal. Bukan karena
membubarkan parlemen berdasarkan dekritnya, tetapi karena membubarkan Depsos.Mengapa?
Anak-anak di panti asuhan dan kakek-nenek di panti jompo yang sebelumnya memperoleh dana
bantuan secara rutin dari Depsos, lalu mengadukan kesulitannya kepada Tuhan dalam doanya:
“Ya, Tuhan, Gus Dur telah menyebabkan kami hidup lebih sulit.”Orang-orang lemah memang
termasukkelompok yang diprioritaskan untuk dikabulkan doanya oleh Tuhan.Anda yang
pengikut setia Gus Dur, dimohon tidak perlu terlalu serius menanggapinya, karena ini cuma
obrolan warung kopi setelah ia mundur.
Kembali lagi ke soal bahasa tubuh para presiden RI.Megawati Soekarnoputri ternyata tak
mewarisi bahasa tubuh ayahandanya.Amat terkesan pendiam, pemalu, dan kerap tampak kaku
bila bicara.Tetapi, ia agaknya menyadari benar gesturnya yang kurang tepat di depan
umum.Dalam wawancaranya dengan sebuah televisi swasta, ia kelihatannya berusaha tampil
lebih terbuka dan berani.Kendati demikian, gayanya sebagai presiden belum begitu tampak,
masih kental mengesankan sebagai sosok Ibu yang ingin mengayomi semua kalangan.Sifat
keibuannya yang meononjol ini bukanlah hal yang kecil artinya.Sampai sekarang ia tetap
mampu menjadi simbolpemersatu di kalangan partainya.Yang menarik, setelah tak jadi presiden,
bicaranya malahan lebih berani dan pedas.“Kenapa tidak dari dulu, Ibu?”

Karena beliau masih menjabat presiden, maka saya akan menyebut Bapak Yudhoyono, dan
bukan SBY.Menyebut namanya dengan singkatannya saja sebetulnya kurang sopan.Dosen saya
dulu yang berlatar belakang psikologi pernah mengatakan menyebut “perpustakaan” dengan
“perpus” sebagaimana lazim di kalangan pelajar dan mahasiswa sekarang, menunjukkan
karakter yang kurang baik, mengungkapkan sifat pemalas.Dulu saya pernah menduga karakter
Bapak Yudhoyono akan mirip dengan Soeharto, yang sama-sama berlatar belakang militer.Dari
sisi tampilan fisiknya jika sedang di depan publik, baik Soeharto maupun Bapak Yudhoyono
tampak pendiam.Namun, saya menangkap diamnya beliau berbeda dengan diamnya
Soeharto.Gestur Bapak Yudhoyono lebih mengungkapkan kehati-hatian yang tinggi dalam
menjaga diri di depan publik.Senyumnya tak selepas Soeharto.Perkiraan saya bahwa Bapak
Yudhoyono adalah orang yang sangat hati-hati menjaga penampilannya, agaknya sesuai dengan
kebiasaannya untuk selalu menyiapkan segala sesuatunya secermat-cermatnya;beliau kerap
berlatih dulu beberapa lama sebelum menyampaikan pidato resminya. Dalam sisa dua tahun
kepemimpinannya, saya berharap agar beliau bisa lebih rileks di muka umum, tersenyum secara
lepas, dan menyapa dan bicara kepada hadirin dengan gaya yang lebih hangat.

Berdasarkan gesturnya, maka dapat dikatakan: Soekarno adalah motivator penuh gelora.
Soeharto adalah panglima perang yang pendiam dan keras.Habibie adalah ilmuwan nan baik
hati. Abdurahman Wahid adalah sosok aktivis sosial yang humoris.Megawati adalah figur Ibu
yang mengayomi.Bapak Yudhoyono adalah tokoh yang terlampau berhati-hati.Bagaimanapun,
mari kita berikan penghormatan dan ucapan terima kasih kepada mereka!

Seperti yang kita lihat di sosial media saat ini, banyak sekali akun-akun yang
menyuarakan diri sebagai pendukung masing-masing calon/partai. Mereka akan memberikan
berita-berita positif tentang pihak-pihak yang mereka dukung. Akan tetapi mereka akan
menyebarkan berita negatif tentang lawannya, sehingga di sosial media banyak sekali
perdebatan-perdebatan antar pendukung. Seperti yang terjadi saat ini yaitu fenomena fanatisme
di media sosial. Hal tersebut secara tidak langsung menjadi bukti bahwa iklan politik di sosial
media bisa dikatakan efektif, meskipun tetap akan timbul hal-hal yang negatif.
seperti