You are on page 1of 5

ANALISIS GAYA WACANA, GAYA KALIMAT, GAYA DIKSI, DAN BAHASA

FIGURATIF
CERPEN “MAYAT” KARYA PUTU WIJAYA
(SUATU KAJIAN STILISTIKA)

Oleh: Erna Wahyu Setyo Jati Sutarno Putri


Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia
FKIP, Universitas Ahmad Dahlan
Ernawahyu8@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan empat hal, sebagai berikut. (1) gaya
wacana. (2) gaya kalimat. (3) gaya diksi. (4) bahasa figuratif. Serta fungsi dalam
cerpen “mayat” karya Putu Wijaya tujuan penelitiannya yaitu untuk mengetahui aspek
gaya menggunakan kajian stilistika yang terdapat dalam cerpen tersebut. Penelitian
ini berjenis penelitian kualitatif deskriptif. Problematika gaya tersebut membutuhkan
ketelitian sehingga membutuhkan proses yang cukup panjang.
Kata kunci: cerpen mayat, tujuan penelitian, aspek gaya

PENDAHULUAN ceritanya pun banyak menggunakan


Karya sastra merupakan wujud teka-teki. Hal ini mendorong penulis
permainan kata-kata pengarang yang untuk meneliti lebih dalam
bermaknakan tertentu. Karya sastra menggunakan kajian stilistika.
merupakan wacana yang khas yang
didalam ekspresinya menggunakan permasalahan yang diangkat
bahasa dengan memanfaatkan segala dalam penelitian ini menggunakan
kemungkinan yang tersedia gaya wacana, gaya diksi, gaya kalimat
(sudjiman,1993:7). dan bahasa figuratif.
Bahasa merupakan sistem Stilistika adalah ilmu yang meneliti
lambang bunyi yang arbitrer dimana penggunaan bahasa dan gaya bahasa di
dapat untuk dimanfaatkan semua dalam karya sastra (Sudjiman 1993:3).
orang dalam berinteraksi, bekerjasama, Kajian stilistika akan memberi
serta mengenali diri terhadap keuntungan besar bagi studi sastra jika
percakapan yang baik serta tingkah dapat menentukan suatu prinsip yang
laku dan sopan santun (hasan alwi). mendasari kesatuan karya sastra, dan
Pemilihan karya sastra cerpen jika dapat menemukan suatu tujuan
“mayat” karya Putu Wijaya ini estetika umum yang menonjol dalam
didasarkan pada sekilas ketertarikan sebuah karya sastra dari keseluruhan
saya terhadap isi cerpen tersebut yang unsurnya (Wellek 1989:229). Kajian
menarik itu dibaca. Dari judulnya stilistika diarahkan untuk membahas
sudah mencengangkan setelah dibaca isi karya sastra. Secara umum, lingkup
didalamnya bertemakan kritik telaah stilistika mencakupi diksi atau
terhadap orang-orang yang kurang pilihan kata (pilihan leksikal), struktur
mensyukuri hidup. Dalam kalimat, majas, citraan, pola rima, dan
menyampaikan makna pesan dan matra yang digunakan seorang

Erna wahyu SS Putri : analisis gaya kata, gaya wacana, gaya diksi dan bahasa 1
figuratif dalam cerpen “mayat” karya Putu Wijaya
sastrawan atau yang terdapat dalam seorang mayat mengeluh tentang apa
karya sastra (Sudjiman 1993:13-14). yang terjadi pada hidupnya setelah
meninggal.
METODE PENELITIAN
Selanjutnya dalam kutipan Kini
Metode menggunakan metode
kualitatif deskriptif dengan ia merasa sangat malu. Begitu malunya,
menggunakan kajian stlistika dengan karena ia nampak begitu rakus kalau
difokuskan pada aspek gaya dengan dibandingkan dengan penjaga malam
menganalisis kutipan tiap bait dan tiap itu. Wacana disamping merupakan
kalimat kemudian dilanjut dengan gaya wacana antiklimaks. Efek yang
mengintepretasikan ciri-cirinya dilihat ditimbulkan dalam kutipan tersebut
dari tujuan estetis karya sastra sebagai
merupakan agar pembaca merasa
keseluruhan makna.
diyakinkan bahwa itu tidak adil bagi
HASIL DAN PEMBAHASAN mayat. Sehingga menimbulkan makna
1. Analisis Cerpen “Mayat” karya untuk memberi pendapat bahwa yang
Putu Wijaya Menggunakan Kajian dilalukan mayat begitu tidak adil.
Stilistika dengan Gaya Wacana
Gaya wacana merupakan jenis Kutipan ketiga “Tidak bisa.”
wacana berdasarkan bentuk, jenis
wacana berdasarkan media “Kenapa tidak bisa? Kamu tidak mau
penyampaiannya berdasarkan jumlah salaman? Ini hanya ekspresi, bukan
penutur, isi, gaya dan tujuan. kolusi. Jangan takut, tidak akan
Berikut kutipan cerpen dituntut.”
“mayat” karya putu wijaya yang
menggunakan gaya wacana Sebuah “Tidak bisa. Saya tidak bisa salam.
mayat yang telah busuk keluar dari Jangan keliru.”
liangnya sambil mengheluh. “Aku yang
“Keliru bagaimana?”
mati. Aku yang terdera. Aku yang
menjadi korban.Aku menderita. Aku “Saya bukan mayat seperti di situ.”
yang sudah kesakitan. Aku yang
menanggung seluruh kerugian. Aku “Lho, tadi kamu bilang, kamu mayat.”
diberitakan, diperdebatkan, “Betul.”
dipergunjingkan, diselidiki, dan dipakai
sebagai contoh, sebagai obyek untuk “Tetapi bukan?”
berbagai menyelidikan, analisis-
“Betul sekali. Saya memang mayat,
analisis, yang menyebabkan banyak
tetapi bukan.”
orang menjadi terkenal dan kaya.”
Kutipan disamping menggunakan gaya “Kenapa bukan?”
repetisi karena terjadi pengulangan
kata dalam setiap kalimat. Efek yang “Karena, meskipun saya mayat, tempat
ditimbulkan dalam kutipan diatas saya tidak di kuburan. Tetapi di kantor
merupakan agar pembaca mengerti ini.”
penderitaan apa saja yang dirasakan
“O, kalau begitu kamu hantu?”
mayat tersebut. Sehingga bermakna

4
“Boleh saja disebut begitu. Kalimat Kutipan kedua yang terdapat
disamping merupakan gaya wacana pada cerpen “mayat” Moral, susila, tata
repetisi. Efek yang ditimbulkan adalah krama,kapatutan, keluhuran budi,
agar pembaca merasa mayat dan apalagi kemanusiaan yang dikibar-
penjaga itu berbeda. Makna yang kibarkan selama ini, ternyata hanya
ditimbulkan tokoh penjaga tidak mau sebuah koteka untuk membungkus
dibandingkan dengan mayat tersebut. kebiadaban. Kutipan disamping
merupakan Kalimat dengan sarana
retorika (kalimat paralelisme). Efek
2. Analisis Cerpen “Mayat” karya yang terdapat pada kutipan disamping
Putu Wijaya Menggunakan Kajian agar kita sebagai pembaca jangan
Stilistika dengan Gaya Kalimat mengikuti ajaran yang dilakukan
orang-orang disekeliling pemeran
Kalimat merupakan satuan mayat. Maknanya adalah pemeran
pemikiran atau perasaan yang mayat tersebut merasa sangat
dinyatakan dengan subjek dan predikat penasaran tentang jati diri sang
secara logis. Gaya kalimat menjelaskan penjaga malam tersebut .
pemikiran dan perasaan pembicara
atau penulis. Kutipan ketiga “Dan dagang
sendiri bukan lagi menjadi ajang tukar-
Berikut kutipan cerpen “Mayat” menukar jasa dengan saling
karya Putu Wijaya yang menggunakan menguntungkan, saling bergotong-
gaya kalimat Apa saja yang sudah royong, tetapi sudah menjadi perang
menyakitkan, apa saja yang sudah siasat untuk menipu dan membuat
menyinggung, semua yang tidak adil, bangkrut orang lain.” . Kutipan
seluruh ketidakbenaran, disamping merupakan Kalimat dengan
kesalahkaprahan, bahkan yang sarana retorika (kalimat klimaks). Efek
mungkin akan menyiksanya di yang diberikan dalam kutipan tersebut
kemudian hari, ia beberkan dengan adalah mayat memberi nasehat kepada
kata-kata yang tajam dan berbisa. lawan bicaranya tentang keburukan
Kutipan disamping merupakan Kalimat manusia. Makna dalam kalimat
dengan sarana retorika (kalimat tersebut merupakan penulis
klimaks). Efek yang ada pada kutipan menyampaikan keluh kesahnya dengan
disamping merupakan pemeran mayat memberikan pesan juga supaya
membuat sumpah serapah kepada pembaca mengetahui apa yang harus
orang-orang yang mengambil dilakukan oleh lewan bicara pemeran
keuntungan saat dia meninggal. mayat
Maknanya adalah tersebut untuk
mengetahui bahwa pemeran mayat
sedang marah dan menyampaikan
3. Analisis Cerpen “Mayat” karya
sumpah serapah kepada orang-orang
Putu Wijaya Menggunakan Kajian
yang membuat keuntungan pada
Stilistika dengan gaya diksi
dirinya .

Erna wahyu SS Putri : analisis gaya kata, gaya wacana, gaya diksi dan bahasa 1
figuratif dalam cerpen “mayat” karya Putu Wijaya
Gaya diksi merupakanhasil dari Maknanya adalah pemeran mayat
upaya pemilihan kata yang tepat untuk merasa masih beruntung dibandingkan
dipakai dalam suatu tuntunan bahasa. dengan sang penjaga malam tersebut.

Berikut merupakan contoh dari


gaya diksi. Berikut kutipannya Tetapi
4. Analisis Cerpen “Mayat” karya
sebelum pergi meninggalkan tamu
Putu Wijaya Menggunakan Kajian
eksklusif itu, yang diwanti-wanti oleh
Stilistika dengan Bahasa Figuratif
sekretaris supaya diperlakukan ekstra
istimewa, ia sempat mengerling ke atas Bahasa figuratif atau yang
layar komputer. Kutipan disamping sering disebut dengan majas adalah
menggunakan gaya diksi serapan sebuah bahasa kiasan atau makna yang
bahasa asing. Efeknya adalah agar tak sebenarnya.
pembaca tau bahwa sang mayat benar-
benar ingin berbicara. Makna yang Berikut merupakan contohnya.
terdapat dalam kutipan disamping Apa saja yang sudah menyakitkan, apa
merupakan sang sekertaris tersebut saja yang sudah menyinggung, semua
mencoba memahami sang mayat yang tidak adil, seluruh
tersebut . ketidakbenaran, kesalahkaprahan,
bahkan yang mungkin akan
Kutipan kedua Maaf, boleh aku menyiksanya di kemudian hari, ia
kobok sekali lagi?”. Kalimat disamping beberkan dengan kata-kata yang tajam
merupakan gaya diksi kata seru khas dan berbisa. Ia menguras seluruh
jawa. Efek yang terdapat dalam dendam, luka, prasangka, dan
kutipan tersebut adalah keraguan kesakitannya. Kutipan disamping
pemeran mayat terhadap penjaga merupakan menggunakan Bahasa
malam dan pembaca dibuat yakin figuratif periphrasis. Efek yang
dengan bukti-bukti yang ada. terdapat dalam kutipan tersebut ialah
Maknanya adalah pemeran mayat isi dari unek-unek pemeran mayat.
masih tidak yakin dengan jati diri sang Makna yang terkandung dalam kutipan
penjaga malam. tersebut agar pembaca mengetahui
dan merasakan yang telah mayat
Kutipan selanjutnya adalah
derita.
Disertai penyesalan penuh, hanya
dengan satu gerakan, ia menyentuh Kutipan kedua Moral, susila,
keyboard komputer untuk menghapus tata krama,kapatutan, keluhuran budi,
semua keluh kesahnya. Kalimat apalagi kemanusiaan yang dikibar-
disamping menggunakan gaya diksi kibarkan selama ini, ternyata hanya
serapan bahasa asing. Efek yang sebuah koteka untuk membungkus
terkandung dalam kutipan tersebut kebiadaban. Kutipan disamping
ialah untuk memberi tau sang menggunakan gaya bahasa perifrasis.
pembacaa bahwa pemeran mayat Efek yang terdapat dalam kutipan
tersebut menyesel setelah mendengar tersebut merupakan sekedar omong
cerita dari sang penjaga malam itu. kosong. Makna dalam kutipan

4
disamping agar pembaca tahu bahwa dengan gaji yang tak lazim namun dia
yang dikatakan pemeran mayat hanya tetap bisa teguh menjalani hidup dan
sekedar omong kosong belaka. tetap diam dalam garis hidupnya.
Disaat sang mayat itu menyesal dan
Kutipan ketiga “Kamu sudah
ingin mengulang kembali yang sudah
bangkrut sebangkrut-bangkrutnya.
terjadi itu pun sudah tak bisa lagi
Kamu tidak punya apa-apa.Kamu sudah
karna apa yang sudah terjadi tidak
kalah komplet. Apa kamu bukan
akan bisa kembali seperti semula.
manusia?” Kutipan disamping
menggunakan gaya bahasa silepsis.
Efek yang digunakan agar pembaca
SIMPULAN
merasa dibuat keheranan. Makna yang
Berdasarkan penelitian dan
terkandung dalam kutipan disamping pembahasan diatas dapat diambil
adalah tokoh penjaga yang tidak kesimpulan yaitu kajian stilistika dapat
memiliki apa-apa hati, perasaan dikaji menggunakan aspek gaya yaitu
bahkan kemaluan. gaya wacana, gaya diksi, gaya kalimat
dan gaya bunyi. Didalam penelitian
tersebut kita dalam memahami maksut
dan tujuan pengarang menyampaikan
Dengan demikian dapat pesannya didalam cerita tersebut.
dipahami bahwa mayat yang ada dalam Dilansir dari ceritanya dapat
cerpen diatas bukanlah mayat secara disimpulkan bahwa kita diajarkan
sesungguhnya namun mayat dalam untuk memikirkan terlebih dahulu
terpen tersebut menggambarkan tindakan sebelum melakukan karena
penyesalan ujungnya hanya dibelakang.
seseorang yang mata dalam
kehidupannya maupun didalam
repotasinya. Sehingga banyak orang DAFTAR PUSTAKA
yang memanfaatkan fakta-fakta Supriyanto, Teguh. 2011. Kajian Stilistika
dalam Prosa. Yogyakarta: Elmetera
tersebut dengan memperluas entah itu
Publishing.
keburukan dan kejelekannya. Namun Wellek, Rene dan Austin Warren. 1989.
setelah berorasi dengan media masa Teori Kesusastraan. (Terj. Melani
atau orang-orang yang telah berhianat Budianta). Jakarta: Gramedia.
Yeibo, Ebi. 2012. “Figurative Language and
terhadapnya datang seorang penjaga
Stylistic Function in J. P.
malam dengan gaji yang sedikit dan ClarkBekederemo's Poetry”. Journal of
dengan fisik yang tidak semburna. Language Teaching and Research. Niger
Diceritakannya kehidupan yang Delta University. No 3. Vol 3. Hal 180-187.
http://www.google.co.id/url?sa=t&
menurut tokoh mayat ini sangat tidak
rct=j&q=Figurative+Language+and+
lazim dengan demikian sang mayat Stylistic+Fu ction+in+J.+P.
tersebut terhanyut oleh cerita sang +ClarkBekederemo%27s+Poetry
penjaga malam itu. Sampai pada titik http://ejournal.umpwr.ac.id/index.php
jati diri penjaga malam yang /bahtera/article/viewFile/3536/3354
sesungguhnya maka sang mayat
tersebut sadar bahwa ada oreang yang
lebih rendah, yang lebih terinjak

Erna wahyu SS Putri : analisis gaya kata, gaya wacana, gaya diksi dan bahasa 1
figuratif dalam cerpen “mayat” karya Putu Wijaya