You are on page 1of 4

Mengenal Jenis Kewenangan Desa

2 Balasan

Berbicara kewenangan berarti bicara tentang lingkup dan wilayah kuasa. Maknanya bisa berarti
hak dan kewajiban. Menyitir Sutoro Eko dalam buku “Kedudukan dan Kewenangan Desa”
(2014), “Kewenangan merupakan kekuasaan dan hak seseorang atau lembaga untuk melakukan
sesuatu, atau mengambil keputusan untuk mencapai tujuan tertentu.” Nah, Undang-undang
Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa (UU Desa), menegaskan jenis-jenis kewenangan desa.

Dalam UU Desa, jenis-jenis kewenangan desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan


pemerintahan desa, pembangunan desa, pembinaan kemasyarakatan desa, dan pemberdayaan
masyarakat desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal-usul, serta adat istiadat desa (pasal
18 UU Desa).

Kemudian, jenis-jenis kewenangan desa (pasal 19 UU Desa) meliputi:

1. Kewenangan Asal-usul;
2. Kewenangan lokal berskala desa;
3. Kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau
Pemerintah Daerah Kabupaten/kota; dan
4. Kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan.

Dua jenis kewenangan di atas, kewenangan asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa
menjadi pengakuan negara terhadap keberadaan desa. Tujuan dari kewenangan adalah untuk
memunculkan inisiatif-inisiatif positif dari desa sendiri untuk menjadi desa mandiri.

Lantas, apa yang dimaksud dengan kewenangan asal-usul dan kewenangan lokal berskala desa?

Kewenangan Asal-usul

kewenangan asal-usul juga bisa dipahami sebagai “hak asli” atau “hak bawaan”. Artinya, sebagai
kesatuan hukum, hak-hak desa telah melekat sebelum lahirnya NKRI pada 1945 dan terus hidup
dan dihidupi hingga saat ini. Bentuk hak asal-usul setiap desa sangat beragam, tetapi secara
umum hak asal-usul desa meliputi:

1. Mengatur dan mengurus tanah desa atau tanah ulayat adat desa.
2. Menerapkan susunan asli dalam pemerintahan desa.
3. Melestarikan adat-istiadat, lembaga, pranata dan kearifan lokal.
4. Menyelesaikan sengketa dengan mekanisme adat setempat.

Sementara, kewenangan asal-usul dalam Desa Adat sesuai dengan pasa 103 UU Desa sebagai
berikut:
1. pengaturan dan pelaksanaan pemerintahan berdasarkan susunan asli;
2. pengaturan dan pengurusan ulayat dan wilayah adat;
3. pelestarian nilai sosial budaya Desa Adat;
4. penyelesaian sengketa adat berdasarkan hukum adat yang berlaku di Desa Adat dalam
wilayah yang selaras dengan prinsip hak asasi manusia dengan mengutamakan
penyelesaian secara musyawarah;
5. penyelenggaraan sidang perdamaian peradilan Desa Adat sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
6. pemeliharaan ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa Adat berdasarkan hukum
adat yang berlaku di Desa Adar;
7. pengembangan kehidupan hukum adat sesuai dengan kondisi sosial budaya masyarakat
Desa Adat.

Kewenangan lokal berskala desa

kewenangan lokal berskala desa diartikan sebagai kewenangan yang lahir karena prakarsa dari
desa sesuai dengan kemampuan, kebutuhan dan kondisi lokal desa. Kewenangan ini lahir dari
kebutuhan atau kondisi yang dihadapi warga desa sehari-hari.

Kewenangan lokal berskala desa menegaskan bahwa urusan atau masalah yang berskala lokal
atau dekat dengan masyarakat diurus sendiri oleh desa. Jenis-jenis kewenangan lokal berskala
desa bisa sangat beragam tergantung kondisi masing-masing desa. Beberapa contoh yang bisa
menunjukkan kewenangan lokal berskala desa seperti

1. Bidang pelayanan dasar: posyandu, sanggar seni, perpustakaan desa, penyediaan air
bersih;
2. Bidang sarana dan prasarana: jalan desa, jalan usaha tani, rumah ibadah, sanitasi, irigasi
tersier, dll
3. Bidang ekonomi: pasar desa, lumbung pangan, tambatan perahu, wisata desa, pelelangan
hasil pertanian dan perikanan,
4. SDA dan lingkungan: hutan rakyat, hutan bakau, dll

Contoh-contoh diatas bisa sebagai gambaran dan bisa dikembangkan sesuai dengan kondisi
masing-masing desa. Kewenangan lokal berskala desa lahir atas prakarsa masyarakat desa. [*]

Rujukan: Sutoro Eko (2014). Buku Pintar Kedudukan dan Kewenangan Desa. Yogyakarta:
Forum Pembaharuan dan Pembangunan Desa (FPPD)

udul: Buku Pintar Kedudukan dan Kewenangan Desa


Penulis: Sutoro Eko
Pengantar: Paul Boon dan Sutoro Eko Yunanto
Penerbit: Forum Pengembangan Pembaharuan Desa (FPPD)
Tahun: 2014
Tebal: xii +81
ISBN: 9786021464397
UU No 6 tahun 2014 tentang Desa telah menjadi barometer awal desa dalam memetakan ulang
kewenangan desa. Secara jelas kewenangan desa termaktub dalam Permendesa No. 01 Tahun
2015. Peluang ini merupakan peluang yang baik untuk desa bisa menentukan nasibnya sendiri
dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pembangunan yang ada di desa. Desa
memiliki ruang yang luas untuk memetekan berbagai aset desa dan dipergunakan semaksimal
mungkin untuk kepentingan desa.

Kewenangan sendiri bisa diartikan sebagai kekuasaan dan hak seseorang ataupun lembaga dalam
melakukan sesuatu, mengambil keputusan, atau mengorganisir masyarakat. Kewenangan
berbeda dengan kekuasaan. Kewenangan lebih pada hak untuk melakukan sesuatu, sementara
kekuasaan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu (hal.16).

Kewenangan Desa adalah kewenangan yang dimiliki Desa


meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan
Desa, Pembinaan Kemasyarakatan Desa, dan Pemberdayaan Masyarakat Desa berdasarkan
prakarsa masyarakat, hak asal usul dan adat istiadat Desa.

Pada dasarnya ada 3 kewenangan yang diberikan pada desa, yaitu: pertama, Kewenangan
berdasarkan hak asal usul adalah hak yang merupakan warisan yang masih hidup dan prakarsa
desa atau prakarsa masyarakat desa sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat.

Kedua, Kewenangan lokal berskala desa adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat desa yang telah dijalankan oleh desa atau mampu dan efektif dijalankan
oleh desa atau yang muncul karena perkembangan desa dan prakasa masyarakat Desa.

Ketiga, Kewenangan kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah


Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota yang sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
Beberapa kewenangan di atas menjadi wajib diketahui oleh pemerintah desa. Karena tanpa
mengetahui beberapa wewenang di atas pemerintah desa akan kebingungan dalam menentukan
sikap dan membuat peraturan-peraturan pada tingkat desa.

Buku ini menyajikan dengan apik terkait dengan beberapa kewenangan desa yang bisa dilakukan
oleh desa dan kewenangan yang bukan menjadi urusan desa. Jenis-jenis kewenangan yang ada di
desa, dan bagaimana menerapkan kewenangan desa mulai dari proses perencanaan desa hingga
bentuk produk hukum desa.

Kiranya buku mini ini bisa menjadi pegangan buat pegiat desa ataupun perangkat desa. Namun
sebanyak apapun wewenang yang diberikan kepada desa, tanpa ada kemampuan dan inovasi
desa justru menjadikan desa semakin runyam. Tumbuhnya raja-raja kecil di tingkat desa kiranya
semakin nyata apabila kewenangan desa ini tidak dipantau secara bersama-sama.

Tags : inovasi desa, kewenangan desa, kewenangan lokal desa, perencanaan desa, UU No 6
tahun 2014 tentang Desa