You are on page 1of 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Palpebra adalah lipatan tipis kulit, otot, dan jaringan fibrosa yang berfungsi
melindungi struktur – struktur jaringan mata yang rentan. Palpebra sangat mudah
digerakkan karena kulit disini paling tipis diantara kulit dinagian tubuh lain. di palpebra
terdapat rambut halus, yang hanya tampak dengan pembesaran. Di bawah kulit terdapat
jaringan areolar longgar yang dapat meluas pada edema masif. Muskulus orbikularis
oculi melekat pada kulit. Permukan dalamnya dipersarafi nervus fascialis (VII), dan
fungsinya adalah untuk menutup palpebra. Penutupan palbera berguna untuk
menyalurkan air mata ke seluruh permukaan mata dan memompa air mata melalui
punctum lakrimlis. Kelainan yang didapat pada kelopak bermacam – macam, mulai dari
yang jinak sampai keganasan, proses inflmasi maupun masalah infeksi.
Kelainan yang terjadi misalnya seperti Kalazion dan Hordeolum. Penyakit ini dapat
menyerang siapa saja, mulai anak – anak hingga orang tua. Kalazion umumnya nodul
yang berkembang perlahan dan tidak nyeri pada palpebra yang disebabkan oleh inflamasi
kelenjar meibom (kalazion dalam) atau kelenjar sebaseus zeis (kalazion superfisial)
kalazion sering kronik, tanpa tanda – tanda peradangan akut seperti yang ditemukan pada
hordeoulum. Hordeolum biasanya nyeri, melibatkan kelenjar pilosebaceus palpebra, dan
infeksinya karena staphilococci, streptococci atau flora kult lainnya.
Hordeolum adalah infeksi lokal atau inflamasi tepi kelopak mata yang melibatkan
foikel rambut bulu mata (hordeoulum eksterna) atau glandula meibom (hordeolum
internal). Sedangkan kalazion adalah granuloma yang tidak nyeri pada kelenjar meibom.
Dari latar belakang diatas maka kelompok kami akan membahas lebih spesifik lagi
mengenai kalazion dan hordeolum.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa definisi dari kalazion dan hordeolum ?
1.2.2 Bagaimana etiologi kalazion dan hordeoulum ?
1.2.3 Bagaimana manifestasi klinik kalazion dan hordeolum ?
1.2.4 Bagaimana patofisiologi kalazion dan hordeolum ?
1.2.5 Bagaimana pemeriksaan diagnostik kalazion dan hordeolum ?
1.2.6 Bagaimana penatalaksanaan dari kalazion dan hordeolum ?
1.2.7 Bagaimana asuhan keperawatan kasus kalazion dan hordeolum ?

1
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui dan memahami definisi dari kalazion dan hordeolum.
1.3.2 Untuk mengetahui dan memahami etiologi kalazion dan hordeoulum.
1.3.3 Untuk mengetahui dan memahami manifestasi klinik kalazion dan hordeolum.
1.3.4 Untuk mengetahui dan memahami patofisiologi kalazion dan hordeolum.
1.3.5 Untuk mengetahui dan memahami pemeriksaan diagnostik kalazion dan
hordeolum.
1.3.6 Untuk mengetahui dan memahami penatalaksanaan dari kalazion dan hordeolum.
1.3.7 Untuk mengetahui dan memahami asuhan keperawatan kasus kalazion dan
hordeolum.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi Kalazion dan Hordeolum


A. Definis Kalazion
Kalazion adalah inflamasi atau radang granumatosa menahun steril dan idiopatik
pada kelenjar meibom. Kalazion merupakan lipogranuloma kronik yang disebabkan
oleh retensi sekresi kelenjar meibom yang berkembang setelah blefaritis stafilokokus.
Secara klinis, chalazion berkembang dengan lambat, terbentuk masa keras disekitar
marsus, yang tidak disertai sakit atau nyeri tekan kecuali terdapat infeksi sekunder.
Dapat berinvolusi (sembuh) secara spontan setelah beberapa minggu sampai beberapa
bulan, atau dapat berespon terhadap injeksi kartikosteroidintralesi (Abraham
M,Rudolp , 2006).
B. Definisi Hordeolum
Hordeolum adalah infeksi akut kelenjar di palpebra. Hordeolum berisi material
purulen yang menyebabkan nyeri tajam yang menjadi tumpul. Biasanya hordeolum
menyerang hanya satu mata pada satu waktu dan visus tidak terpengaruh oleh
hordeoulum. Hordeoulum sering disertai blefaritis, konjungtivitis yang menahun,
anemia, kemunduran keadaan umum dan akne vulgaris. Dapat terjadi pada semua
umur, terutama anak – anak dan dewasa muda. Kebanyakan penyebabnya infeksi ini
adalah stafilokokus (biasanya staphilococcus aureus) atau streptokokus (Istiqomah,
Indriana N, 2004).

Jadi dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kedua kelainan antara
kalazion dan hordeoum memiliki persamaan yaitu sama – sama merupakan
peradangan kelopak mata. Kemudian perbedaannya yaitu kalazion merupakan
peradangan granulomatosa kelenjar meibom yang tersumbat, sifatnya kronik, tidak
ada tanda radang akut. Jadi sifat benjolannya hanya berupa benjolan pada palpebra,
tidak nyeri, tidak merah, kemudian terdapat pseudoptosis. Sedangkan hordeolum
merupakan kelainan pada palpebra akibat dari bakteri Staphylococcus sp. Pada
kelenjar sebasea kelopak mata. Memiliki gejala klinis yang bersifat akut, yaitu
kelopak mata bengkak, nyeri bila ditekan, bewarna merah, disertai dengan keluhan
kelopak mata yang sulit diangkat atau disebut ptosis maupun pseudoptosis. Pada

3
hordeolum pseudoptosis terjadi karena palpebra superior bertambah berat sehingga
sulit menganggkat kelopak mata.
2.2 Etiologi Kalazion dan Hordeolum
A. Etiologi Kalazion
Terdapat beberapa etiologi kalazion menurut (Ganong, William, F : 2001) antara lain :
a. Sumbatan pada kelenjar Meibom.
Kelenjar Meibom adalah kelenjar sebasea yang menghasilkan minyak yang
mengalir keluar dari kelenjar ke dalam air mata. Pintu keluar minyak dari kelenjar
masing-masing melalui lubang kecil tepat di belakang bulu mata dari kelopak atas
dan bawah.
Kalazion disebabkan oleh kelenjar minyak menjadi terlalu tebal untuk mengalir
keluar dari kelenjar atau pembukaan kelenjar yang terhalang. , minyak menumpuk
di dalam kelenjar dan membentuk benjolan di kelopak mata. Dinding kelenjar bisa
pecah, melepaskan minyak ke dalam jaringan kelopak mata, peradangan dan
kadang-kadang menyebabkan jaringan parut.
b. Penyakit mata lainnya: blefaritis ulseratif, dan hordeolum
B. Etiologi Hordeolum
Hordeulum yang biasanya disebabkan oleh infeksi dari staphylococcus pada kelenjar
sebasea kelopak mata.

2.3 Manifestasi Klinik Kalazion dan Hordeolum


A. Manifestasi Klinik Kalazion
Tampak sebagai pembengkakan sebesar kacang, tanpa keluhan apa-apa,
rabaannya keras, melekat pada tarsus, akan tetapi lepas dari kulit. Terjadinya
perlahan-lahan sampai beberapa minggu. Kalau palpebra dibalik, konjungtiva pada
tempat kalazion menonjol merah.pada ujung kelenjar meiboom terdapat massa yang
kuning dari sekresi yang tertahan. Bila kalazion yang terinfeksi memecah, dapat
tampak pada tempat tersebut dikonjungtiva palpebra, sebagai jaringan granulasi yang
menonjol keluar. Kalazion ynang cukup besar, dapat menyebabkan penekanan pada
bola mata dan menimbulkan gangguan refraksi (astigmatisme) (Wijana, 2011).
Adapun bebeberapa manisfestasi klinik menurut (Istiqomah, Indriana N, 2004) antara
lain :
1. Dimulai dengan inflamasi ringan, nyeri tekan dan kelemahan serupa hordeulum.
Dibedakan dari hordeulum karena tidak ada tanda radang akut.

4
2. Kemudian ditandai edema terbatas pada kelenjar bertahap tanpa rasa sakit, keras
pada perabaan, melekat pada tarsus akan tetapi lepas dari kulit.
3. Pada keadaan matang tanda peradangan tidak ada.
4. Lebih banyak terletak pada pelpebra bagian konjungtiva yang mungkin sedikit
merah atau meninggi.
5. Jika cukup besar dan tanpa penanganan, dapat menekan kornea/bola mata dan
menyebabkan gangguan refraksi (astigmat)
6. Klien dapat mengeluh kelelahan, sensitive terhadap cahanya dan epifora.
7. Pemeriksaan laboratorium, jarang dilakukan tetapi pemeriksaan patologik
menunjukkan proliferasi endotel asinus dan respons radang granulomatosa yang
mencakup sel-sel kelenjar mirip langerhans. Biopsi diindikasikan untuk kalazion
kambuhan karena tampilan karsinoma kelenjar meibom dapat mirip kalazion.

B. Manifestasi Klinik Hordeolum


Tanda dan gejala utama meliputi mata merah, bengkak dan terdapat tonjolan pada
palpebra. Intensitas sakit mencerminkan hebatnya pembengkakakan palpebra. . Sering
disertai berlfaritis, konjungtivitis yang menahun, anemia, kemunduran keadaan
umum, acne vulgaris. Dapat terjadi pada semua umur, terutama anak – anak dan
dewasa muda (Wijana, 2011).
Hordeoulum dibagi menjadi dua jenis yaitu hordeolum eksternum dn internum
(Abraham M,Rudolp , 2006) antara lain :

a. Hordeolum eksterna
Merupakan stye yang sering terjadi infeksi pingenik (biasanya staphylococcus)
pada folikel ciliaris dan itu berhubungan dengan kelenjar sebasca zeis sepanjang
tepi palpebra. Orang yang rentan dapat mengalami kekambuhan. Lesi dimulai dari
pembengkakan berbatas tegas dengan tepi palpebra, perkembangan menuju
surpurasi, dan akhirnya ruptur dengan penyembuhan sakit dan nyeri tekan.
Pengobatan meliputi kompres dengan panas dan sembab selama 20 menit,
beberapa kali dalam sehari dan penggunaan salep, seperti eritromisin atau
basitrasin pada waktu tidur. Jika terapi lokal tidak mengarah pada penyembuhan,
stye harus di insisi dan didrainase.
b. Hordeolum interna
Merupakan infeksi akut piogenik pada kelenjar meibom yang biasanya disebabkan
oleh staphylococcus. Tampak daerah pembengkakan setempat, kemerahan, dan

5
supurasi pada permukaan konjungtiva pada palpebra yang berhubungan dengan
lokasi kelenjar. Ruptur spotan kurang sering terjadi pada hordeolum interna
dibandingkan dengan stye eksternal tetapi terapinya sama.
2.4 Patofisiologi Kalazion dan Hordeolum
A. Patofisiologi Kalazion
Kalazion adalah massa granulomatosa mengandung lipid yang menggambarkan
reaksi benda asing di sekeliling kelenjar meibom. Kalazion merupajkan reaksi
esensial terhadap lipid yang dihasilkan oleh kelenjar tersebut. Eksudat peradangan
mengandung histiosit, sel raksasa yang berinti banyak, sel plasma, eosinofil, imfosit,
dan leukosit polimorfonuklear (ATLAS ANFIS).

B. Patofisologi Hordeolum
Hordeolum interna terjadi karena infeksi kelenjar melbom pada kelopak mata.
Hordeolum eksterna terjadi karena infeksi kelenjar Zeis (folikel rambut) pada kelopak
mata. Sebagian besar kasus disebabkan oleh infeksi staphylococcus aureus. (ATLAS
ANFIS)

2.5 Pemeriksaan Diagnostik Kalazion dan Hordeolum


A. Pemeriksaan Diagnostik Kalazion
1. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan yang umum dilakukan pada pasien dengan kalazion adalah
pemeriksaan fisik pada kelopak mata pasien.
a. Inpeksi
Pada pemeriksaan secra inspeksi dapat dilihat adanya nodul pada kelopak mata
atas atau bawah, dimana nodul menonjol ke arah konjungtiva dan tampak
adanya daerah berwarna kemerahan pada palpebra bagian dalam.
b. Palpasi
Pada pemeriksaan secara palpasi dapat ditemukan adanya masa yang keras dan
terfiksasi pada tarsus.
2. Pemeriksaan Histopatologi. Pemeriksaan histopatologi dilakukan bila kalazion
terjadi berulang kalisehingga dicurigai keganasan
B. Pemeriksaan Diagnostik Hordeolum
Eversi (pembalikan) palpebra untuk memeriksa permukaan bawah palpebra superior
dapat dilakukan bersama slitlamp. Pemeriksaan ini harus selalu dilakukan bila diduga
ada benda asing. Setelah diberi anastesi local, pasien duduk didepan slitlamp dan

6
diminta melihat ke bawah. Pemeriksaan dengan hati – hati memegang bulu mata atas
dengan jari telunjuk dan jempol sementara tangan yang lain meletakkan tangan yang
lain meletakkan tangkai aplikator tepat diatas tepi superior tarsus. Palpebra dibalik
dengan sedikit menekan aplikator kebawah, serentak dengan pengangkatan tepian
bulu mata. Pasien tetap melihat kebawah, dan bulu mata ditahan dengan menekannya
pada kulit diatas tepian orbita superior saat aplikator ditarik kembali. Konjungtiva
tarsal kemudian diamati dengan pembesaran. Untuk mengembalikannya, tepian
palpebra dengan lembut diusap kebawah sementara pasien melihat ke atas (Paul
Riodan & John Whitcher, 2009).

2.6 Penatalaksanaan Kalazion dan Hordeolum


A. Penatalaksanaan Kalazion
Beberapa kalazion sembuh tanpa pengobatan.sebagian besar penulis menganjurkan
pemakaian kompres lembab dan hanta yang sering, untuk mempermdah drainasi
kalazion. Jika blefaritis juga, antibiotik topikal dapat diberikan. Jika masalah tidak
hilang setelah 1 bulan pemberian terapi konservatif, pasien harus dirujuk ke ahli
oftamologi untuk diinsisi dan dikuret. Beberapa ahli oftalmologi menganjurkan
pemberian steroid intralesi melalui suntikan. Kalazion yang rekuren mungkin
memerlukan antibiotik oral. (ATLAS ANFIS)
B. Penatalaksanaan Hordeolum
Kompres air hangat pada lokasi lesi setiap 2-3 jam membantu mengatasi infeksi.
Antibiotik topikal (misalnya eritromisin) dapat ditambahkan jika terdapat blefaritis
yang terjadi bersamaan. Antibiotik sistemik jarang diperlukan. Pencabutan bulu mata
ditempat abses mempermudah drainase. Pasien harus diberi peringatan untuk tidak
memencet atau menusuk hordeolum, karena tindakan tersebut dapat mempermudah
penyebaran infeksi. Kasus persisten mungkin memerlukan insisi dan drainase.
(ATLAS ANFIS)
2.7 Asuhan Keperawatan Kalazion dan Hordeolum
A. Asuhan Keperawatan Kalazion
1. Pengkajian
a. Pada pengkajian ditemukan tanda dan gejala seperti diuraikan di atas. Pada
anamnesis dilakukan pengkajian lamanya keluhan karena kalazion merupakan
radang menahun dan apakah klien mengeluh adanya tonjolan pada konjungtiva

7
palpebra, kelelahan, sensitive terhadapa cahaya dan epifora atau adanya
ganguan penglihatan jika kalazion cukup besar.
b. Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan pembekanaan sebesar kacang, keras
pada perabaan, melekat pada tarsus tetapi lepas dari kulit. Jika palpebra dibalik,
konjungtiva pada tempat kalazion menonjol merah. Pada ujung kelenjar meibom
terdapat massa yang kuning dari sekresi yang tertahan, mungkin terdapat
ganguan refraksi (astigmat) jika kalazion cukup besar.
2. Diagnosa
I. Gangguan rasa nyaman yang berhubungan dengan pembengkakan pada
kelenjar meibom ditandai rasa mengganjal, kelelahan pada mata, sensitive
terhadap cahaya dan epifora.
II. Gangguan konsep diri (citra tubuh) yang berhubungan dengan perubahan
bentuk organ penglihatan yang mengganggu penampilan.
III. Gangguan persepsi sensori: pengelihatan berhubungan dengan perubahan
organ sensori pengelihatan.
IV. Resiko cidera berhubungan dengan keterbatasan pengelihatan akibat nodul.
V. Resiko infeksi berhubungan dengan Riwayat infeksi dan hygiene yang buruk.

3. Intervensi
Diagnosa I
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan gangguan rasa nyaman pasien
teratasi dengan kriteria hasil:
a. Pasien mengatakan tidak cemas lagi.
b. Wajah pasien tampak tenang.
c. Pasien tidak gelisah.
Intervensi Rasional
a. Lakukan kompres hangat selama 15 menit, mengeluarkan isi kelenjar meibom
4 kali sehari sambil diikuti pengurutan sehingga peembengkakan berkurang.
kearah muara kelenjar meibom.
b. Berikan antibiotika salep mata setelah membantu proses penyembuhan dan
pemberian kompres hangat pada kelopak mencegah infeksi sekunder.
mata sesuai indikasi

8
c. Pada wanita anjurkan untuk sementara merupakan allergen dan media yang
tidak menggunakan tata rias baik untuk pertumbuhan
mikroorganisme
d. Anjurkan klien segera lapor jika terdapat Penanganan dini terhadap tanda-tanda
tenda infeksi, meningkatnya kemerahan, tersebut akan mempercepat dimulainya
adanya drainase purulen dan penurunan tindakan untuk mencegah memburuknya
sekunder. klien.

Diagnosa II
Tujuan dan Kriteria Hasil :

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat beradaptasi dengan


citra tubuhnya dengan kriteria hasil:
a. Pasien mengatakan tidak malu lagi dengan keadaannya.
b. Pasien mau melihat kelopak matanya lagi.
c. Benjolan pada kelopak mata pasien berkurang atau hilang.
Intervensi Rasional
Observasi adanya gangguan citra diri pasien Gangguan citra diri akan menyertai
(ucapan yang merendahkan diri sendiri, setiap penyakit atau keadaan yang
ekspresi keadaan malu terhadap kondisinya). tampak nyata bagi pasien. Kesan
seseorang terhadap dirinya sendiri akan
berpengaruh pada konsep diri.
Identifikasi stadium psikososial tahap Mengetahui hubungan antara stadium
perkembangan. perkembangan, citra diri dan reaksi
serta pemahaman pasien terhadap
kondisi matanya.
Berikan kesempatan untuk pengungkapan. Pasien membutuhkan pengalaman yang
Dengarkan (dengan cara yang terbuka, tidak harus didengarkan dan dipahami.
menghakimi).
Dorong sosialisasi dengan orang lain. Bersosialisasi dengan orang lain dapat
meningkatkan penerimaan diri dan
sosialisasi pasien.

9
Anjurkan pasien untuk melakukan kompres Pengompresan yang lebih sering oleh
hangat 4 kali sehari ± selama 15 menit di pasien akan lebih cepat mendoronga
rumah. resolusi dari penyumbatan duktus,
mempermudah drainase dan
mempercepat penyembuhan.

Diagnosa III

Tujuan dan Kriteria Hasil :


Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan gangguan persepsi sensori
teratasi dengan kriteria hasil:
a. Pasien dapat melihat dengan jelas dan pengelihatan pasien tidak terganggu.
b. Lapang pandang pasien baik.
c. Nodul mengecil atau hilang.
Intervensi Rasional
Mandiri :
1. Observasi ketajaman penglihatan dan lapang Observasi dilakukan untuk mengetahui
pandang pasien. kebutuhan individu dan menentukan
intervensi yang tepat.
Lakukan kompres hangat pada benjolan yang Pengompresan yang dilakukan akan
terdapat pada kelopak mata. mendorong timbulnya resolusi dari
penyumbatan diktus dan menbantu
drainase sebum.
Anjurkan pasien untuk melakukan kompres Pengompresan yang lebih sering oleh
hangat 4 kali sehari ± selama 15 menit di pasien akan lebih cepat mendoronga
rumah. resolusi dari penyumbatan duktus,
mempermudah drainase dan
mempercepat penyembuhan.
Kolaborasi :
Kolaborasi dalam pemberian injeksi Pemberian kortikosteroid dapat
kortikosteroid (triamconolone, menurunkan peradangan dan dapat
methylprednisolone). mendorong regresi dari kalazion.

10
5. Kolaborasi dengan ahli bedah dalam Pembedahan akan membantu
merencanakan dan melakukan pembedahan menghilangkan jaringan granuloma
bila kalazion terus membesar, mengganggau yang terbentuk pada kelopak mata,
secara kosmetik dan terjadi berulang. pembedahan dapat dilakukan dengan
cara kuretase granuloma untuk kalazion
kecil dan diseksi untuk kalazion yang
lebih besar.

Diagnosa IV
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cedera tidak terjadi dengan
kriteria hasil :
a. Pasien tidak mengalami cidera.
b. Nodul dapat berkurang atau hilang
Intervensi Rasional
Mandiri: Observasi dilakukan untuk mengetahui
1. Observasi ketajaman penglihatan dan lapang kebutuhan individu dan menentukan
pandang pasien. intervensi yang tepat.

2. Jauhkan alat-alat yang berpotensi Menghindarkan pasien dari luka tusuk


menimbulkan bahaya misalnya: gunting, atau gores yang diakibatkan oleh benda
pisau, barang pecah belah. tajam.

3. Anjurkan pada pasien untuk membatasi Mencegah terjadinya cidera dan


aktivitas khususnya aktivitas bepergian menghindari terjadinya kecelakaan
menggunakan kendaraan. akibat berkendaraan.

4. Libatkan keluarga dalam pengawasan pasien. Pengawasan dari keluarga akan


membantu dalam menjaga keselamatan
pasien.

Diagnosa V
Tujuan dan Kriteria Hasil :

11
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi dengan
kriteria hasil:
a. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, tumor, fungsiolaesa) dan
adanya pus.
b. Pasien dapat menjaga kebersihan matanya.
Intervensi Rasional
Mandiri: Observasi dilakuakn untuk deteksi dini
1. Observasi adanya tanda-tanda infeksi (rubor, terhadap terjadinya infeksi.
dolor, kalor, tumor, fungsiolaesa serta adanya
pus).

2. Observasi suhu tubuh pasien dan timbulnya Peningkatan suhu tubuh dapat
demam. mengidentifikasikan terjadinya infeksi.

Pada wanita, anjurkan untuk sementara tidak Peningkatan suhu tubuh dapat
menggunakan tatarias. mengidentifikasikan terjadinya infeksi.

4. Anjurkan pasien segera lapor jika terdapat Meningkatnya kemerahan, adanya


tanda-tanda infeksi, meningkatnya drainase purulen, dan penurunan visus
kemerahan, adanya drainase purulen, dan merupakan tanda terjadinya infeksi
penurunan visus. sekunder. Pengenalan dini terhadap
tanda-tanda tersebut akan mempercepat
dimulainya tindakan untuk mencegah
memburuknya kondisi pasien.
Anjurkan pasien untuk tidak menutup, Kebiasaan pasien untuk menutupi
memegang atau menekan bagian kelopak matanya, memegangi aatau menekan
mata yang mengalami peradangan. kelopak mata yang mengalami
peradangan dapat menimbulkan infeksi.

Beritahu pasien untuk menjaga kebersihan Infeksi dapat terjadi karena kebersihan
perorangan, terutama mata. yang kurang baik.

Kolaborasi : Obat antibiotic yang diberikan dapat

12
Kolaborasi dalam pemberian antibiotic salep membantu menurunkan peradangan dan
mata, tetes mata atau oral ( tetrasiklin, mencegah terjadinya infeksi sekunder.
metronidazole)

B. Asuhan Keperawatan Hordeolum


1. Pengkajian
a. Umur. Hordeolum dapat terjadi pada semua umur, terutama anak – anak dan
dewasa muda.
b. Klien mengeluh nyeri, merah dan bengkak pada palpebra. Klien kadang
menyembunyikan penyakitnya karena malu terhadap perubahan yang terjadi
pada matanya.
c. Pada pemeriksaan, terdapat tonjolan pada palpebra yang ikut bergerak dengan
pergerakan kulit pada hordeolum eksternum dan tidak ikut bergerak dengan
pergerakan kulit pada hordeolum internum.
2. Diagnosa
I. Gangguan rasa nyaman (nyeri) yang berhubungan dngan pembengkakan
palpebra akibat proses peradangan yang ditandai dengan klien mengeluh nyeri
pada tepi kelopak mata, tepi kelopak mata merah, bengkak dan terdapat
benjolan
II. Gangguan konsep diri (citra tubuh) yang berhubungan dengan perubahan
bentuk kelopak mata yang memengaruhi penampilan klien.
III. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi ditandai dengan edema pada
kelopak mata dan kemerahan.
IV. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan pembesaran kelopak mata

3. Intervensi
Diagnosa I
Tujuan :
Kriteria Hasil :
Intervensi Rasional
Ajarkan pada klien cara melakukan kompres Mempercepat supurasi sehingga
hangat pada tepi palpebra dan beritahu klien material purulen dapat keluar dari nyeri
agar mengompres tepi palpebra selama 20 reda

13
menit, 3 – 4 kali sehari.
Pada klien wanita, beritahu agar tidak Mengurangi iritasi.
memakai tata rias (khususnya tata rias di
mata) untuk sementara.

Kolaborasi : Mengeluarkan (drainase) meterial


Antibiotika setiap 3 jam setelah pemberian purulen.
kompres hangat.
Antibiotika sistemik yang diindikasikan jika
terjadi selulitis.

Diagnosa II
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan klien tidak mengalami
gangguan dalam cara penerapan citra diri

Intervensi Rasional
Beritahu klien bahwa penyakitnya bisa mengetahui pengetahuan klien tentang
disembuhkan penyakitnya

Anjurkan klien untuk melaksanakan anjuran Mempercepat supurasi sehingga


yang telah diberikan (kompres hangat dan material purulen dapat keluar dari nyeri
penggunaan antibiotika) secara teratur. reda

Beritahu klien, jangan pernah menekan Dapat menyebabkan infeksi.


pembengkakan.
Beritahu klien untuk meningkatkan status Buruknya status kesehatan merupakan
kesehatan. predisposisi berulangnya hordeolum

Diagnosa III
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah dilakukan tindakan asuhan keperawatan diharapkan nyeri klien tidak dapat
teratasi dengan kriteria hasil yeri terkontrol dan puss hilang.

14
Intervensi Rasional
Kaji nyeri klien seperti lokasi, karakteristic, Menentukan tingkat nyeri klien
durasi, frekuensi, kualitas, intensitas serta
factor presipitasinya.

Observasi pada nyeri non verbal Membantu klien mendapatkan


intervensi
Anjurkan klien untuk mengkompres matanya Mengurangi nyeri
dengan air hangat
Kolaborasikan dengan tim medis lain untuk Mengurangi inflamasi yang
menghilangkan nyeri pada matanya mengakibatkan nyeri timbul

Diagnosa IV
Kriteria Hasil :
Cedera tidak terjadi.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang meningkatkan risiko cedera.
Mengungkapkan keinginan untuk melakukan tindakan pengamanan untuk
mencegah cedera
Intervensi Rasional
Batasi aktivitas seperti menggerakan kepala Menurunkan resiko jatuh atau cidera
tiba – tiba, menggaruk mata, membungkuk.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan Mencegah cidera, meningkatkan
dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke kemandirian.
tubuhnya.

Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan Meminimalkan resiko cedera,


benda-benda yang dapat menimbulkan memberikan rasa nyaman bagi pasien
kecelakaan.
Awasi atau temani pasien saat melakukan Mengontrol kegiatan pasien dan
aktivitas menurunkan bahaya keamanan.

15
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kalazion merupakan lipogranuloma kronik yang disebabkan oleh retensi sekresi
kelenjar meibom yang berkembang setelah blefaritis stafilokokus. Secara klinis,
chalazion berkembang dengan lambat, terbentuk masa keras disekitar marsus, yang tidak
disertai sakit atau nyeri tekan kecuali terdapat infeksi sekunder. Hordeolum adalah
infeksi akut kelenjar di palpebra. Hordeolum berisi material purulen yang menyebabkan
nyeri tajam yang menjadi tumpul. Biasanya hordeolum menyerang hanya satu mata pada
satu waktu dan visus tidak terpengaruh oleh hordeoulum. Hordeoulum sering disertai
blefaritis, konjungtivitis yang menahun, anemia, kemunduran keadaan umum dan akne
vulgaris. Terdapat beberapa etiologi kalazion menurut (Ganong, William, F : 2001)
antara lain : Sumbatan pada kelenjar Meibom, Penyakit mata lainnya: blefaritis ulseratif,
dan hordeolum. Sedangkan etiologi hordeolum disebabkan oleh infeksi dari
staphylococcus pada kelenjar sebasea kelopak mata.

Tampak sebagai pembengkakan sebesar kacang, tanpa keluhan apa-apa, rabaannya


keras, melekat pada tarsus, akan tetapi lepas dari kulit. Terjadinya perlahan-lahan sampai
beberapa minggu. Kalau palpebra dibalik, konjungtiva pada tempat kalazion menonjol
merah.pada ujung kelenjar meiboom terdapat massa yang kuning dari sekresi yang
tertahan. Bila kalazion yang terinfeksi memecah, dapat tampak pada tempat tersebut
dikonjungtiva palpebra, sebagai jaringan granulasi yang menonjol keluar. Kalazion
ynang cukup besar, dapat menyebabkan penekanan pada bola mata dan menimbulkan
gangguan refraksi (astigmatisme). Tanda dan gejala utama meliputi mata merah, bengkak
dan terdapat tonjolan pada palpebra. Intensitas sakit mencerminkan hebatnya
pembengkakakan palpebra. . Sering disertai berlfaritis, konjungtivitis yang menahun,
anemia, kemunduran keadaan umum, acne vulgaris. Dapat terjadi pada semua umur,
terutama anak – anak dan dewasa muda (Wijana, 2011).
Pemeriksaan yang umum dilakukan pada pasien dengan kalazion adalah
pemeriksaan fisik pada kelopak mata pasien serta Pemeriksaan histopatologi, dilakukan
bila kalazion terjadi berulang kalisehingga dicurigai keganasan. Beberapa kalazion
sembuh tanpa pengobatan.sebagian besar penulis menganjurkan pemakaian kompres
lembab dan hanta yang sering, untuk mempermdah drainasi kalazion. Jika blefaritis juga,
antibiotik topikal dapat diberikan. Kompres air hangat pada lokasi lesi setiap 2-3 jam

16
membantu mengatasi infeksi. Antibiotik topikal (misalnya eritromisin) dapat
ditambahkan
3.2 Saran
Demikian makalah yang dapat penulis paparkan mengenai Laporan Pendahuluan
dan Asuhan Keperawatan pada Kalazion dan Hordeolum. Semoga makalah ini berguna
bagi pembaca, khususnya bagi mahasiswa. Kami menyadari bahwa dalam makalah ini
masih terdapat kesalahan. Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun kami
harapkan untuk perbaikan makalah kami selanjutnya.

17
DAFTAR PUSTAKA

Abraham M,Rudolph. 2006. Buku Ajar Pediatri Rudolph .Jakarta : EGC

Istiqomah, Indriana N. 2004. Asuhan Keperawatan Gangguan Mata. Jakarta : EGC

Wijana, Nana. 2011. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : EGC

ATLAS

Ganong, William, F., 1998, Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi 17. Jakarta : EGC

Doenges, Marilynn, E., et. al., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3. Jakarta : EGC

Eva, Paul Riordan dan John P. Withcher. 2009. Oftalmologi Umum Vaughan & Asbury,
Edisi 17. Jakarta : EGC

18