You are on page 1of 11

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 2
1.3 Tujuan penelitian ................................................................................ 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi ............................................................................................... 3
2.2 Etiologi ............................................................................................... 3
2.3 WOC .................................................................................................. 4
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Citra Tubuh ................................. 4
2.5 Negatif dan positif Citra Tubuh ......................................................... 4
2.6 Tanda dan Gejala ................................................................................ 5
2.7 Faktor Presdisposisi ............................................................................ 5
2.8 Faktor Presipitas ................................................................................. 6
2.9 Stressor yang dapat menyebabkan Gangguan Citra Tubuh ................ 6
3.10 Respon klien terhadap Gangguan Citra Tubuh ................................. 6
BAB III KASUS ............................................................................................ 8
BAB IV ASUHAN KEPERAWATAN
4.1 Pengkajian .......................................................................................... 9
4.2 Masalah Keperawatan dan Data yang perlu dikaji ............................. 9
4.3 Diagnosa Keperawatan ....................................................................... 9
4.4 Rencana Tindakan Kepeawatan Gangguan Citra Tubuh ................... 10
4.5 Evaluasi .............................................................................................. 12
BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 14
5.2 Saran ................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Proses keperawatan pada klien dengan masalah kesehatan jiwa merupakan tantangan
yang unik karena masalah kesehatan jiwa mungkin tidak dapat dilihat langsung seperti pada
masalah kesehatan fisik, memperlihatkan gejala yang berbeda, dan muncul oleh berbagai
penyebab. Kejadian masa lalu yang sama dengan kejadian saat ini, tetapi mungkin muncul
gejala yang berbeda. Banyak klien dengan masalah kesehatan jiwa tidak dapat menceritakan
masalahnya bahkan mungkin menceritakan hal yang berbeda dan kontradiksi. Kemampuan
mereka untuk berperan dalam menyelesaikan masalah juga bervariasi (Depkes RI. 1993).
Gangguan citra tubuh adalah kekacauan pada cara seseorang merasakan citra tubuhnya.
Evaluasi diri dan perasaan tentang kemampuan diri negatif, yang dapat diekspresikan secara
langsung atau tidak langsung.
Suatu gangguan citra tubuh dapat diketahui perawat dengan mewawancarai dan
mengamati pasien secara berhati-hati untuk mengidentifikasi bentuk ancaman dalam citra
tubuhnya (fungsi signifikan bagian yang terlibat, pentingnya penglihatan dan penampilan
fisik bagian yang terlibat); arti kedekatan pasien terhadap anggota keluarga dan anggota
penting lainnya dapat membantu pasien dan keluarganya .
Hubungan saling percaya antara perawat dan klien merupakan dasar utama dalam
melakukan asuhan keperawatan pada klien gangguan jiwa. Hal ini penting karena peran
perawat dalam asuhan keperawatan jiwa adalah membantu klien untuk dapat menyelesaikan
masalah sesuai kemampuan yang dimiliki. Klien mungkin menghindar atau menolak
berperan serta dan perawat mungkin cenderung membiarkan, khususnya pada klien yang
tidak menimbulkan keributan dan yang tidak membahayakan (Depkes RI. 1993).

1.2 Rumusan Makalah


1. Jelaskan konsep tentang citra tubuh?
2. Jelaskan asuhan keperawatan tentang konsep diri yaitu citra tubuh?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu mengerti tentang “ASUHAN DAN GANGGUAN CITRA
TUBUH ”
1. Tujuan Khusus
a. Mampu memahami tentang pengertian dan semua teori gangguan citra tubuh.
b. Mampu memahami tentang proses keperawatan pada klien dengan kecemasan dan
gangguan citra tubuh.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari
terhadap tubuhnya, termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang struktur,
bentuk, dan fungsi tubuh karena tidak sesuai dengan yang diinginkan. Citra Tubuh
merupakan salah satu komponen dari konsep diri yang membentuk persepsi seseorang
tentang tubuhnya baik secara internal maupun eksternal. Persepsi ini mencakup perasaan dan
sikap yang ditujukan pada tubuh. Citra tubuh dipengaruhi oleh pandangan pribadi tentang
karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dari pandangan orang lain (Potter &
Perry, 2005).
Suatu gangguan citra tubuh dapat diketahui perawat dengan mewawancarai dan
mengamati pasien secara berhati-hati untuk mengidentifikasi bentuk ancaman dalam citra
tubuhnya (fungsi signifikan bagian yang terlibat, pentingnya penglihatan dan penampilan
fisik bagian yang terlibat); arti kedekatan pasien terhadap anggota keluarga dan anggota
penting lainnya dapat membantu pasien dan keluarganya (Kozier, 2004).

2.2 Etiologi
1. Eksisi bedah atau gangguan bagian tubuh Enterostomi, Mastaktomi, Histerektomi,
Pembedahan kardiovaskuler, Pembedahan leher radikal, Laringektomi
2. Amputasi pembedahan atau traumatik
3. Luka bakar
4. Trauma wajah
5. Gangguan makan
6. Obesitas
7. Gangguan muskuluskeletal
8. Gangguan integumen
9. Lesi otak
a. Cerebrovaskular accident
b. Demensia
c. Penyakit parkinson
10. Gangguan afektif
a. Depresi
b. Skizofrenia
11. Penyalahgunaan bahan kimia
12. Nyeri
13. Respon masyarakat terhadap penuaan (agetasim)
a. Umpan balik interpersonal negatif
b. Penekanan pada produktivitas

2.3 WOC
Harga Diri Rendah

Gangguan citra tubuh

Penyakit Fisik

2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Citra Tubuh


Citra tubuh dipengaruhi oleh pertumbuhan kognitif dan perkembangan fisik.
Perubahan perkembangan yang normal seperti pertumbuhan dan penuaan mempunyai efek
penampakan yang lebih besar pada tubuh dibandingkan dengan aspek lainnya dari konsep
diri. Selain itu, sikap dan nilai kultural dan sosial juga mempengaruhi citra tubuh. Pandangan
pribadi tentang karakteristik dan kemampuan fisik dan oleh persepsi dan pandangan orang
lain. Cara individu memandang dirinya mempunyai dampak yang penting pada aspek
psikologinya. Pandangan yang realistik terhadap dirinya, menerima dan mengukur bagian
tubuhnya akan membuatnya lebih merasa aman sehingga terhindar dari rasa cemas dan
meningkatkan harga diri.

2.5 Negatif dan Positif Citra Tubuh


Citra tubuh yang negatif merupakan suatu persepsi yang salah mengenai bentuk
individu, perasaan yang bertentangan dengan kondisi tubuh individu sebenarnya. Individu
merasa bahwa hanya orang lain yang menarik dan bentuk tubuh dan ukuran tubuh individu
adalah sebuah tanda kegagalan pribadi. Individu merasakan malu, self-conscious, dan
khawatir akan badannya.
Citra Tubuh yang positif merupakan suatu persepsi yang benar tentang bentuk
individu, individu melihat tubuhnya sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Individu
menghargai badan/tubuhnya yang alami dan individu memahami bahwa penampilan fisik
seseorang hanya berperan kecil dalam menunjukkan karakter mereka dan nilai dari seseorang.
Individu merasakan bangga dan menerimanya bentuk badannya yang unik dan tidak
membuang waktu untuk mengkhawatirkan makanan, berat badan, dan kalori.

2.6 Tanda dan Gejala


1. Syok Psikologis
Syok Psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat
terjadi pada saat pertama tindakan. Syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadap
ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat
klien menggunakan mekanisme pertahanan diri seperti mengingkari, menolak dan
proyeksi untuk mempertahankan keseimbangan diri.
2. Menarik diri.
Menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan , tetapi karena tidak mungkin
maka lari atau menghindar secara emosional, menjadi pasif, tergantung , tidak ada
motivasi dan keinginan untuk berperan dalam perawatannya.
3. Penerimaan atau pengakuan secara bertahap.
Setelah sadar akan kenyataan maka respon kehilangan atau berduka muncul. Setelah
fase ini klien mulai melakukan reintegrasi dengan gambaran diri yang baru.
4. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah.
5. Tidak menerima perubahan tubuh yang terjadi.
6. Menolak penjelasan perubahan tubuh.
7. Persepsi negatif terhadap tubuh.

2.7 Faktor Predisposisi


1. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi perilaku yang objektif dan teramati
serta bersifatsubjektif dan dunia dalam pasien sendiri. Perilaku berhubungan dengan
harga diri yang rendah, keracuan identitas, dan deporsonalisasi.
2. Faktor yang mempengaruhi peran adalah streotipik peran seks, tuntutan peran kerja,
dan harapan peran kultural.
3. Faktor yang mempengaruhi identitas personal meliputi ketidakpercayaan orang tua,
tekanan dari kelompok sebaya, dan perubahan dalam struktur sosial.
2.8 Faktor Presipitasi
1. Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan kejadian
mengancam kehidupan
2. Ketegangan peran hubugnan dengan peran atau posisi yang diharapkan dimana
individu mengalaminya sebagai frustasi. ada tiga jenis transisi peran :
1) Transisi peran perkembangan
2) Transisi peran situasi
3) Transisi peran sehat /sakit

2.9 Stressor yang dapat Menyebabkan Gangguan Citra Tubuh


1. Perubahan ukuran tubuh : berat badan yang turun akibat penyakit
2. Perubahan bentuk tubuh : tindakan invasif, seperti operasi, suntikan, daerah
pemasangan infuse.
3. Perubahan struktur : sama dengan perubahan bentuk tubuh disrtai dengan pemasanagn
alat di dalam tubuh.
4. Perubahan fungsi : berbagai penyakit yang dapat merubah system tubuh.
5. Keterbatasan : gerak, makan, kegiatan
6. Makna dan obyek yang sering kontak : penampilan dan dandan berubah, pemasangan
alat pada tubuh klien ( infus, fraksi, respitor, suntik, pemeriksaan tanda vital, dll).
3. Respon Klien terhadap Gangguan Citra Tubuh
1. Respon terhadap kelainan bentuk atau keterbatasan dapat berupa:
a. Respon penyesuaian
Menunjukkan rasa sedih dan duka cita (rasa shock, kesangsian, pengingkaran, kemarahan,
rasa bersalah atau penerimaan)
b. Respon mal-adaptip
Lanjutan terhadap penyangkalan yang berhubungan dengan kelainan bentuk atau keterbatasan
yang tejadi pada diri sendiri. Perilaku yang bersifat merusak, berbicara tentang perasaan tidak
berharga atau perubahan kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2. Respon terhadap pola kebebasan – ketergantungan dapat berupa:
a. Respon penyesuaian
Merupakan tanggung jawab terhadap rasa kepedulian (membuat keputusan) dalam
mengembangkan perilaku kepedulian yang baru terhadap diri sendiri, menggunakan
sumber daya yang ada, interaksi yang saling mendukung dengan keluarga.
b. Respon mal-adaptip
Menunjukkan rasa tanggung jawab akan rasa kepeduliannyaterhadap yang lain yang
terus-menerus bergantung atau dengan keras menolak bantuan.
3. Respon terhadap Sosialisasi dan Komunikasi dapat berupa:
a. Respon penyesuaian
Memelihara pola sosial umum, kebutuhan komunikasi dan menerima tawaran
bantuan, dan bertindak sebagai pendukung bagi yang lain.
b. Respon mal-adaptip
Mengisolasikan dirinya sendiri, memperlihatkan sifat kedangkalan kepercayaan diri
dan tidak mampu menyatakan rasa (menjadi diri sendiri, dendam, malu, frustrasi,
tertekan) (Carol, 1997).
BAB III
KASUS

Tn.B, usia 21 tahun mengeluh sakit kepala, mual dan muntah serta demam sejak 5
hari yang lalu. Klien sudah berobat ke klinik 24 jam namun panasnya belum juga turun,
selanjutnya klien di rujuk ke RS untuk mendapatkan layanan kesehatan lebih lanjut. Di RS,
klien melakukan pemeriksaan darah yang hasilnya menunjukkan bahwa klien menderita
demam berdarah. Klien harus menjalani masa perawatan sampai masa kritisnya dapat
terlampaui. Selama dirawat klien di pasang infus dan diambil darah untuk pemeriksaan setiap
pagi. Klien mengeluh tangan yang terpasang infus mengalami kesemutan dan bekas tusukan
jarum suntik terlihat lebam dan terlihat klien menutupi tangan nya, klien merasa bosan karna
harus diambil darahnya terus-menerus dan tidak percaya diri dengan keadaan tangan nya.
Klien tidak mau dilakukan terapi pengambilan darah oleh perawat.
BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Pengkajian
Pengkajian perubahan citra tubuh terintegrasi dengan pengkajian lain. Setelah
diagnosa, tindakan operasi dan program terapi biasanya tidak segera tampak respon pasien
terhadap perubahan-perubahan. Tetapi perawat perlu mengkaji kemampuan pasien untuk
mengintegrasikan perubahan citra tubuh secara efektif.

4.2 Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji


A. Gangguan citra tubuh : Perubahan bentuk tubuh
DS :
 Klien mengeluh tangan yang terpasang infus mengalami kesemutan
 Klien merasa tidak percaya diri dengan keadaan tangan nya
DO :
 Tangan pasien terdapat lebam bekas tusukan jarum suntik
 Klien Nampak menutupi tangan yang lebam dengan selimut
B. Harga diri rendah
DS :klien merasa tidak percaya diri dengan keadaan tangan nya.
DO : klien tidak mau dilakukan terapi pengambilan darah oleh perawat
C. Penyakit fisik
DS :
 Klien mengeluh sakit kepala , mual dan muntah serta demam.
 Kien meras bosan karena harus diambil darahnya terus-menerus
DO : klien di pasang infus dan diambil darah untuk pemeriksaan setiap pagi

4.3 Diagnosa Keperawatan


Selama pasien dirawat, perawat melakukan tindakan untuk diagnosa potensial, dan
akan dilanjutkan oleh perawat di Unit Rawat Jalan untuk memonitor kemungkinan diagnosa
aktual.
Beberapa diagnosa gangguan citra tubuh adalah potensial gangguan citra tubuh yang
berhubungan dengan efek pembedahan serta menarik diri yang berhubungan dengan
perubahan penampilan (Keliat, 1998). Adapun Diagnosa yang mungkin Muncul diantaranya:
1. Gangguan citra tubuh
2. Harga diri rendah
3. Penyakit fisik

4.4 Rencana Tindakan Keperawatan Gangguan Citra Tubuh


Tujuan tindakan keperawatan bagi pasien perubahan citra tubuh adalah meningkatkan
keterbukaan dan hubungan saling percaya, peran serta pasien sesuai dengan kemampuan yang
dimiliki, mengidentifikasi perubahan citra tubuh, menerima perasaan dan pikirannya,
menetapkan masalah yang dihadapinya, mengidentifikasi kemampuan koping dan sumber
pendukung lainnya, melakukan tindakan yang dapat mengembalikan integritas diri.
A. Gangguan citra tubuh
 Rencana tindakan :
1. Dorong pengungkapan mengenai masalah tentang proses penyakit, harapan masa
depan.
2. Diskusikan arti dari kehilangan/ perubahan pada pasien/orang terdekat. Memastikan
bagaimana pandangaqn pribadi pasien dalam memfungsikan gaya hidup sehari-hari,
termasuk aspek-aspek seksual.
3. Diskusikan persepsi pasien mengenai bagaimana orang terdekat menerima
keterbatasan.
4. Perhatikan perilaku menarik diri, penggunaan menyangkal atau terlalu
memperhatikan perubahan.
5. Susun batasan pada perilaku mal adaptif. Bantu pasien untuk mengidentifikasi
perilaku positif yang dapat membantu koping.
6. Ikut sertakan pasien dalam merencanakan perawatan dan membuat jadwal aktivitas.
7. Bantu dalam kebutuhan perawatan yang diperlukan.
8. Kolaborasi : Rujuk pada konseling psikiatri, mis : perawat spesialis psikiatri,
psikolog.
9. Kolaborasi : Berikan obat-obatan sesuai petunjuk, mis; anti ansietas dan obat-obatan
peningkat alam perasaan.
B. Harga diri rendah
 Rencana tindakan :
 Bina hubungan saling percaya dengan meng-gunakan prinsip komunikasi terapeutik :
1) Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal.
2) Perkenalkan diri dengan sopan.
3) Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
4) Jelaskan tujuan pertemuan.
5) Jujur dan menepati janji.
6) Tunjukan sikap empati dan menerima klien apa adanya.
7) Beri perhatian dan perhatikan kebutuhan dasar klien.
 Diskusikan dengan klien tentang :
1) Aspek positif yang dimiliki klien, keluarga, lingkungan.
2) Kemampuan yang dimiliki klien.
 Bersama klien buat daftar tentang :
1) Aspek positif klien, keluarga, lingkungan.
2) Kemampuan yang dimiliki klien.
 Beri pujian yang realistis, hindarkan memberi penilaian negatif.
 Diskusikan dengan klien kemampuan yang dapat dilaksanakan.
 Diskusikan kemampuan yang dapat dilanjutkan pelaksanaannya.
 Rencanakan bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan klien :
1) kegiatan mandiri.
2) kegiatan dengan bantuan.
 Tingkatkan kegiatan sesuai kondisi klien.
 Beri contoh cara pelaksanaan kegiatan yang dapat klien lakukan.
 Anjurkan klien untuk melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan.
 Pantau kegiatan yang dilaksanakan klien.
 Beri pujian atas usaha yang dilakukan klien.
 Diskusikan kemungkinan pelaksanaan kegiatan setelah pulang.
 Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien dengan harga
diri rendah.
 Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat.
 Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.

C. Penyakit fisik
 Rencana tindakan :
 Beri kompres air hangat.
 Berikan/anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari (sesuai toleransi).
 Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap
keringat.
 Kaji frekuensi mual dan muntah
 Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan.
 Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas.
 Berikan antiemetic.

4.5 Evaluasi
Keberhasilan tindakan terhadap perubahan gambaran tubuh pasien dapat diidentifikasi
melalui perilaku pasien yaitu memulai kehidupan sebelumnya, termasuk hubungan
interpersonal dan sosial, pekerjaan dan cara berpakaian, mengemukakan perhatiannya
terhadap perubahan citra tubuh, memperlihatkan kemampuan koping, kemampuan meraba,
melihat, memperlihatkan bagian tubuh yang berubah, kemampuan mengintegritasikan
perubahan dalam kegiatan (pekerjaan, rekreasi dan seksual), harapan yang disesuaikan
dengan perubahan yang terjadi, mampu mendiskusikan rekonstruksi (Keliat, 1998).
Penyesuaian terhadap perubahan citra tubuh melalui proses seperti berikut:
1. Syok psikologis merupakan reaksi emosional terhadap dampak perubahan dan dapat
terjadi pada saat pertama pembuatan stoma ditetapkan sebagai tindakan atau pada saat
stoma telah ada (paska operasi). Syok psikologis digunakan sebagai reaksi terhadapa
ansietas. Informasi yang terlalu banyak dan kenyataan perubahan tubuh membuat
pasien menggunakan mekanisme pertahanan seperti mengingkari, menolak, projeksi
untuk mempertahankan keseimbangan diri.
2. Menarik diri, pasien menjadi sadar akan kenyataan, ingin lari dari kenyataan tetapi
karena tidak mungkin maka pasien menghindari/lari secara emosional. Pasien menjadi
positif, tergantung, tidak ada motivasi dan keinginan untuk berperan dalam
perawatannya.
3. Penerimaan/pengakuan secara bertahap. Setelah pasien sadar akan kenyataan maka
respon kehilangan/berduka muncul. Setelah fase ini pasien mulai melakukan
reintegrasi dengan citra tubuh yang baru.
4. Integrasi merupakan proses yang panjang dapat mencapai beberapa bulan, oleh karena
itu perencanaan pulang dan perawatan dirumah perlu dilaksanakan. Pasien tidak
sesegera mungkin dilatih (Keliat, 1998).
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Citra tubuh adalah bagaimana cara individu mempersepsikan tubuhnya, baik secara
sadar maupun tidak sadar yang meliputi ukuran, fungsi, penampilan, dan potensi tubuh
berikut bagian-bagiannya. Dengan kata lain, citra tubuh adalah kumpulan sikap individu, baik
yang disadari ataupun tidak yang ditujukan terhadap dirinya.

5.2 Saran
Setiap orang harus bisa menerima apapun yang ada pada dirinya, sehingga jika ada
ketidakpuasan persepsi terhadap tubuhnya tidak membuat individu merubah dirinya kearah
yang negatif. Maka ketika individu berhasil untuk menerima dirinya sendiri dan bisa
mencapai sesuatu hal tersebut. Dan pada akhirnya pandangan manusia dalam
mendeskripsikan pandangan terhadap citra tubuhnya bukan memburuk tetapi berharap lebih
baik.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1993, Pedoman Penggolongan Diagnostik Gangguan Jiwa di Indonesia. III
Depkes RI.
Keliat,.B.A. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa. Jakarta : EGC.