Вы находитесь на странице: 1из 25

TERAPI FISIATRIK

AIR HANGAT
TERAPI PANAS SUPERFISIAL
BALSEM
INFRA RED

TERAPI FISIK UKG (Ultra Kolte Kolf)


DALAM
MWD (Micro Wave Diathermy)
SWD (Short Wave Diathermy)

TERAPI DINGIN

MASSAGE
R
E TRAKSI

H ELEKTRO STIMULI
A
AKUPUNKTUR
B
HIDROTERAPI, ex: Whirlpool
I
L
TERAPI LATIHAN Range of Motion
I
T STRENGTH TRAINING

A ENDURANCE TRAINING
S
BOBATH (CVA)
I
KEGEL (HAMIL)

TERAPI WICARA

ORTOTIK-PROSTETIK ORTOTIK : Alat Bantu, ex: kruk untuk jalan

PROSTETIK : Alat-alat palsu, ex: kaki-tangan palsu

OCCUPATIONAL THERAPY LATIHAN SESUAI PEKERJAAN


Ruang lingkup Terapi Fisiatrik mencakup :

III.1. TERAPI FISIK (PHYSICAL THERAPY)

A. Terapi Panas

Tujuan terapi panas :

a. Memperbaiki sirkulasi/ peredaran darah dan metabolisme setempat

b. Mengurangi rasa nyeri dan mengurangi pembengkakan

c. Relaksasi terutama untuk otot yang spasme

Efek Panas:

 Memperbaiki sirkulasi darah di daerah nyeri

 Meningkatkan metabolism daerah terapi


 Membantu produksi keringat sehingga membantu eliminasi metabolit

 Meningkatkan ambang rangsang ujung saraf sensorik sehigga nyeri


berkurang

 Efek psikis yang menimbulkan rasa nyaman dan relaksasi psikis

Reaksi Fisiologi akibat panas

 Menurunkan aktivitas gelendong otot terhadap peregangan

 Vasodilatasi

 Ef. Counter irritant

Pembagian berdasarkan beda penetrasinya:

1. Terapi panas superfisial (sampai kutis dan sub-kutis)

Pada umumnya setiap kali terapi memerlukan waktu sekitar 20 –


30 menit, dengan jumalh terapi yang bisa diterima setiap harinya
mencapai 2 atau 3X.

a. Dry heat (panas kering)

Alat yang dipakai:

 Lampu Biasa

 Lampu Infra Red

Terapi panas superfisial yang mempunyai efek


meningkatkan aliran darah setempat. Digunakan untuk
pengobatan Bell's palsy.

Paling banyak digunakan. Jika memberi terapi pada muka,


tutup mata dengan kapas atau kain kasa yang tebal dan basah,
jika ada contact-lens harus dilepas. Jika terapi daerah bahu,
lindungi telinga dan mata. Pada bekas luka yang baru, perlu
dilindungi pula dengan kapas atau kain basah. Jangan ada barang
metal atau perhiasan pada daerah terapi untuk mencegah panas
yang dapat membakar kulit.

Beritahu penderita bahwa yang dirasa hanya hangat yang


nyaman, bukan panas. Jika terasa panas, segera perlebar jarak.
Jarak antara lampu dan kulit sekitar 45 – 50 cm. Lama 1X terapi
20 - 30 menit.

Gambar III.1.A.1.a

KET : Infra red

 Botol air panas

 Bantal pemanas listrik (heating pad – listrik)

 Hot pack

b. Moist heat (panas basah)

 Air hangat (104 – 1070C)

 Hydrocollator pack (HCP)

 Uap air panas (steambath)


Perlakuan panas umumnya digunakan untuk terapi fisio,
terapi olahraga, menghilangkan rasa sakit dan untuk tujuan
rehabilitasi. Tersedia dalam gym, pusat terapi atau hanya di
rumah. kamar uap Sauna, mandi air hangat atau kain panas
adalah bagian dari terapi panas.

Terapi panas yang populer untuk mengobati nyeri sendi,


nyeri otot, mengurangi peradangan dan membantu untuk pulih
dari cedera olahraga. Untuk terapi jaringan lebih panas, itu
membutuhkan lebih dari sekedar panas biasa.

Dalam produk Nuga Best, Sinar Far Infrared digunakan


untuk memberikan stimulasi jaringan dalam. Sinar Far Infrared
mampu menembus kulit luar sampai 7cm, yang kemudian dapat
merangsang tendon, otot dan saraf. Ini memberikan perlakuan
panas jauh lebih dalam tubuh, bukan hanya pemanasan kulit
luar. Sinar Far Infrared adalah non-invasif bagi tubuh manusia
dan merupakan radiasi termal paling aman, tidak seperti radiasi
UV, tidak menyebabkan luka bakar pada kulit. Ada banyak
contoh tersedia banyak menggunakan panas untuk mengobati
rasa sakit dan memperbaiki kesehatan di berbagai produk.

 Paraffin wax bath

Sering digunakan untuk pemakaian di rumah penderita.


Cairan ini dihasilkan dari campuran paraffin (wax) 6 atau 7
bagian, mineral oil 1 bagian, kemudian dipanaskan sampai cair
(titik cair 1260F atau 510F).

Paraffin cair 550C tidak menyebabkan luka bakar dan rasa


sakit, sedangkan pada air batas toleransi manusia hanya 42 –
450C. Hal ini karena “specific heat” parafin adalah 0,5 dari air.

Teknik pemakaian yang umum adalah “paraffin dip”


misalnya yang diterapi tangan, dicelupkan ke cairan paraffin
beberapa detik, kemudian angkat keluar, biarkan kering
(biasanya 5 detik atau kurang) celupkan lagi tangan tersebut,
angkat lagi dan seterusnya sampai 6 – 12X, kemudian bungkus
dengan handuk dan biarkan selama 20 - 30 menit.

Gambar III.1.A.1.b

KET : Parafin bath

2. Terapi panas dalam (deep heating, diathermy ; bisa mencapai ke otot


dan tulang)
a. Ultra Sound Diathermy (USD)

Gambar III.1.A.1.c

KET : USD (Ultra sound diathermy)

Konversi energi suara frekuensi tinggi (vibrasi mekanik 0,7 –1


megacycle perdetik) menjadi panas dengan penetrasi dalam (3 – 5
cm). Keuntungan lain dari USD :

 Punya efek massage (micromassage)

 Dapat dikombinasi dengan tujuan memasukkan bahan kimia


untuk terapi melalui kulit (hidrokortison, salisilat dan lokal
anestesi). Hal ini disebut phonophoresis.

 Dosis dapat ditetapkan

 Tidak kontra - indikasi pada metallic implants

Terapi panas dalam yang mempunyai efek fisiologis


meningkatkan ektensibilitas jaringan dan mengurangi spasme otot.
Indikasinya untuk frozen shoulder, spasme otot leher, nyeri
pinggang bawah, kontraktur

b. Short Wave Diathermy (SWD)


Gambar III.1.A.1.b

KET : SWD (short wave diathermy)

Gelombang pendek dengan frekuensi ultra tinggi. Frekuensi


radio. Gelombang 3 - 30 m, frekuensi 10 – 100 megacycle perdetik,
dalam penetrasi 1 - 2 cm.

Terapi panas dalam yang mempunyai efek fisiologis


mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi. Indikasinya untuk
sinusitis, nyeri pinggang, osteoarthritis.

Tidak ada fixed dose, tergantung penerimaan pasien, kontra –


indikasi untuk kehamilan, metallic implants dan pacemaker jantung.

c. Micro Wave Diathermy (MWD)

Gambar III.1.A.1.d

KET : MWD (micro wave diathermy)


Konversi energi radiasi elektromagnetik (gelombang radar)
menjadi panas. Untuk pemakaian klinik, frekuensi 2.456 dan 915
MHz. Penetrasi berbeda antara 2.456 MHz (kurang dari SWD)
dengan frekuensi 915 MHz (lebih dari SWD). Kontra – indikasi
untuk daerah mata, kantong cairan, dan metallic implants. Seperti
SWD, dosis fixed tidak ada.

d. Ultra Kolte Kolf (UKG)

Gambar III.1.A.1.e

KET : UKG ( Ultra kolte kolf)

Gambar III.1.A.1.f

KET : UKG (ultra kolte kolf)


Meskipun tidak ada fixed dose untuk SWD dan MWD, biasanya ada
petunjuk umum pada masing – masing brosur alat untuk dosis
(intensitas dan lama terapi untuk masing – masing kondisi penyakit).

Gambar III.1.A.1.g

KET : LASER

Indikasi terapi panas :

1. Efek analgesik :

 Neuralgia.

 Sprain (strain).

 Articular problem.

 Spasme otot.

 Nyeri otot.

 Oedem.

 “Trigger point” syndrome.

2. Efek anti inflamasi.

3. Efek relaksasi jika terjadi spasme otot dan kekakuan sendi

4. Efek sedatif.

5. Meningkatkan suhu jaringan.


6. Vasodilatasi untuk meningkatkan blood flow dan nutrisi

Kontra – indikasi terapi panas :

1. Peradangan akut

2. Trauma akut, sampai lenyapnya reaksi akut, biasanya setelah 72


jam.

3. Gangguan vaskular, seperti obstruksi vena dan isufisiensi arterial


(iskhemia).

4. Hemorrhagic diathesis.

5. Malignancy, kecuali dalam paket bersama terapi radiasi atau


kemoterapi.

6. Penyakit Jantung Koroner, -tidak absolut. Jika diberikan harus


dalam pengawasan.

7. Penderita Diabetes Mellitus, -tidak absolut. Harus hati-hati karena


mungkin terdapat iskemia dan gangguan sensasi. Jika ingin
memberi terapi panas, jangan diberikan langsung pada lokasi, tetapi
lebih proksimal, untuk mencegah ”stealing effect” (teknik reflex
heating).

8. Gangguan sensasi, -tidak absolut. Hanya perlu diingat, bahwa


penderita tidak dapat menginformasikan rasa panas berlebihan serta
nyeri.

9. Bayi dan orang yang sangat tua (lansia), -tidak absolut.

Komplikasi terapi panas :

1. Luka bakar. Hati – hati untuk penderita dengan gangguan sensasi.

2. Katarak mata (untuk MWD).

3. Nekrosis jaringan (untuk USD).

4. Kerusakan jaringan atau luka bakar sekitar metal yang ada pada
tubuh (untuk MWD dan SWD).
5. Iskemia kordis.

6. Dehidrasi.

Aplikasi panas :

1. Cara radiant :

a. Sinar infra – red.

b. Sinar matahari.

2. Cara konduktif (aplikasi secara langsung) :

a. Air panas.

b. Balsem.

c. Pasir panas.

d. Uap panas.

e. Paraffin.

f. Heated pads.

3. Cara konversif (panas timbul karena konversi energi primer.


Biasanya dapat menembus lebih dalam : USD, SWD, dan MWD).

B. Terapi Dingin

Secara umum diketahui bahwa segala bentuk rangsang akan


mempengaruhi atau menimbulkan efek pada tubuh. Demikian halnya jika
tubuh diberikan stimulasi berupa suhu rendah (sensasi dingin). Efek-efek
yang dimaksud adalah seperti berikut:

 Efek fisiologis dingin

Stimulasi sensasi dingin pada jaringan akan menimbulkan penurunan


suhu pada jaringan yang berkaitan. Penurunan suhu ini akan selalu disertai
efek-efek lain seperti:

o Penurunan tingkat metaboisme.


o Vasokontriksi arteriole yang timbul karena pengurangan terbentuknya
zat metabolit ( CO2 dan asam laktat).

o Vasokontriksi pada pembuluh darah kulit yang berlangsung secara


reflektoris, karena kulit sebagai thermoregulator.

o Dingin akan menginduksi pembuluh darah vena, sehingga terjadi


vasokontriksi pada vena yang akan menaikkan tekanan darah venosa.

Sedangkan pada organ dan sistem organ tubuh adalah sebagai berikut:

 Pada kulit

Efek yang pertama kali terjadi adalah vasokontriksi pembuluh


darah superficial kemudian diikuti oleh eritema karena adanya
vasodilatasi.

 Pada jantung dan pembuluh darah

Vasokontriksi pada kulit segera diikuti vasokontriksi pembuluh


darah perifer lain yang kemudian diikuti penyempita pembuluh
darah secara menyeluruh, karena itu terjadi peningkatan tekanan
darah dan denyut nadi yang cepat. Setelah reaksi hilang, semuanya
akan kembali normal.

 Pada respirasi

Pernafasan menjadi cepat dan dangkal, segera diikuti dengan


nafas yang dalam dan lambat sehingga pertukaran gas O2 dan CO2
meningkat.

 Pada jaringan otot

Dalam waktu yang singkat akan menimbulkan perbaikan


sirkulasi darah, sehingga kegiatan otot dan tonus meningkat. Dalam
waktu yang pajang, tonus otot akan berkurang dan terlihat kekakuan
pada anggota tubuh dan menggigil sebagai usaha untuk kembali ke
keadaan normal.

 Pada sirkulasi darah


Vasokontriksi pembuluh darah kulit, sehingga darah dipompa
ke jaringan lebih dalam. Hal itu lalu disusul dengan vasodilatasi
pembuluh darah superfisial sehingga peredaran darah menjadi
lancar.

 Pada sistem saraf

Dingin menyebabkan paralisis akhiran-akhiran saraf pada kulit


untuk sementara. Bila diberikan terus menerus menyebabkan
penurunan fungsi saraf.

Dingin mnyebabkan kecepatan hantaran dan aktivitas synaptic


sistem saraf tepi. Jika suhu pada saraf menurun, akan terjadi
penurunan tingkat respon saraf sensorik dan kecepatan hantaran
saraf motorik, bahkan terjai kegagalan penghantaran impuls.

 Efek terapetik dingin

Efek terapetik dapat dijumpai pada:

o Peradangan sendi

Pada 24 hingga 48 jam pertama peradangan, dingin merupakan


pilihan media terapi yang baik. Dingin mengurangi reaksi radang.

o Kontraktur

Mengurangi extensibilitas jaringan ikat, mempunyai efek


menekan nyeri serta tahan terhadap peregangan sendi.

o Nyeri dan spasme otot

Spasme berkaitan dengan motoneuron lesion yang seringkali


berkaitan berbagai bentuk aktivitas harian dan berjalan. Dingin
dapat digunakan untuk membantu terapi pada kasus tersebut.
Dingin lebih efektif pada fase akut. Mengurangi proses
metabolisme. Mengurangi nilai ambang nyeri. Mengurangi
kecepatan hantar rangsang saraf.
INDIKASI & KONTRA INDIKASI

1. Indikasi

Sebagian besar ahli klinis sepakat bahwa pada tahap akut yakni
pada 24 hingga 48 jam setelah trauma, dingin merupakan suatu pilihan
yang diutamakan. Bahkan walaupun dingin mungkin terasa tidak
nyaman bagi pasien selama beberapa menit, nyeri akan segera
berkurang, edema, randang, dan spasme otot uga akan lebuh banyak
berkurang. Di luar fase akut, panas mungkin menjadi piliha utama
untuk terapi. Akan tetapi dala banyak kasus, dingin telah dianggap
berhasil dalam mengurangi spasticity, memfasilitasi kontraksi otot,
mengurangi nyeri pada arthritic joit, dan menurunkan spasme otot.

Cryotherapy indikasi terhadap:

 Trauma musculoskeletal

Salah satu penerapan cryutherapy yang umum adalah untuk


masalah trauma musculosceletal atau nyeri postorthopedic. Pada
kebanyakan trauma akut, dingin digunakan bersamaan dengan
kompres dan elevasi. Dingin dapat mereduksi nyeri perembesan cairan
pada daerah yang bersangkutan, tapi kompres dengan pembungkus
biasanya berfungsi untuk mereduksi pembengkakan jaringn.

 Myofascial Pain Syndrome

Myofascial Pain Syndrome didefinisikan sebagai nyeri dan atau


fenomena mekanis penyerahan dari myofascial trigger poin yang aktif
dengan disfungsi jaringan yang bersangkutan.

 Mengurangi Spasticity

Cryotherapy dapat digunakan sebagai tambaan dalam pelaksanaan


terapi pada pasien dengan spasticity untuk mengurangi hipertonic
sementara.

 Sprain dan strain


 Bursitis, fibrositis, kapsulitis akut

2. Kontra Indikasi

Pada dasarnya kontra indikasi pada terapi dengan menggunakan


suhu atau temperatur adalah gangguan sensibilitas. Demikian halnya
pada cryotherapy, pasie dengan gangguan sensibilitas terutama
panas-dingin kontra indkasi untk diberikan cryoterapi.

Kontra indikasi untuk cryotherapy dapat dituliskan sebagai berikut:

o Gangguan sensibilitas

o Buerger’s disease

o Gangguan peredaran darah arterial perifer.

Gambar III.1.B

KET : Imersi (cooling spray) & ice Massage

Teknik pemberian :

1. Massage es ; umumnya cukup 5 menit, 3X sehari.

2. Kompres es ; 20 menit, 3X sehari.

3. Imersi : cooling spray, misalnya chloraethyl spray.


Pada trauma akut, dikenal slogan “RICE” (Rest Icing Compression
Elevation).

Dalam pemberian terapi dingin, penyebaran dingin tergantung pada


beberapa faktor:

 tebal kulit

 tebal otot dan lemak

 komposisi air dalam jaringan

 vaskularisasi

C. Massage (pemijatan)

Massage merupakan jenis terapi fisik yang paling kuno. Pada indikasi
yang tepat dan dengan teknik yang tepat, hasil terapeutiknya sangat nyata.
Massage tidak dapat diterjemahkan sebagai pijat atau urut, karena yang
terkandung dalam istilah massage, selain pijat (kneading) dan urut
(stroking) juga ada yang seperti: perkusi (dengan variasinya), friksi, dan
vibrasi.

Lima yang paling populer adalah jenis pijat pijat Swedia, Deep Tissue
Massage, Hot Stone Massage, Olahraga pijat, dan neuromuskular Therapy.

Swedia Massage – ini adalah jenis yang paling umum pijat di Amerika
Serikat dan mungkin dunia. Swedia pijat dikenal dengan meluncur panjang
stroke, meremas stroke, gesekan stroke, dan perkusi serta bersama
gerakan-gerakan yang merasa hebat sementara meningkatkan jangkauan
gerak. Ini yang paling sering dianggap sebagai sebuah "spa" jenis pijat tapi
jauh lebih dari itu. Swedia pijat sangat bagus untuk mengurangi stres,
meningkatkan sirkulasi, memperbaiki jangkauan gerak dari sendi Anda, dan
membantuAnda benar-benar merasa lebih baik dalam kulit Anda sendiri.
Swedia pijat dapat berkisar dari cahaya tekanan untuk tekanan yang lebih
berat, tergantung pada tingkat kenyamanan Anda. Itu lebih dari sekadar
"merasa baik" pijat sangat terapeutik.

2. Deep Tissue Massage – pijat Swedia tepat di belakang popularitas dan


ketersediaan, Deep Tissue Pijat adalah salah satu yang paling dikenal dan
paling sering meminta jenis pijat. Pijat ini saham beberapa stroke dan teknik
dengan Swedia pijat dan digunakan untuk membasmiKetegangan kronis
pada otot-otot yang lebih dalam dan jaringan yang berkontribusi terhadap
hilangnya rasa sakit dan rentang gerak dalam persendian. Sementara
beberapa praktisi menggunakan terapi pijat yang lebih berat,
kadang-kadang tekanan tidak nyaman dalam Deep Tissue Massage harus
dicatat bahwa tekanan yang lebih moderat dapat mencapai jaringan yang
mendalam dan mencapai hasil yang bagus dengan sedikit ketidaknyamanan.

3. Hot Stone Massage – pijat jenis ini mungkin yang paling santai dan
mewah pijat yang diberikan hari ini. Panased basal batu ditambahkan ke
pijat dan digunakan oleh terapis pijat untuk melakukan perlakuan panas
mini serta pijat meluncur stroke yang tampaknya mencair stres dan
ketegangan.

4. Olahraga Pijat – persis seperti itu suara, Olahraga Pijat adalah atlet
diarahkan pada setiap tingkat dari profesional kepada "pejuang akhir pekan"
dan mereka yang berjuang untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi
kebugaran. Daripada bentuk tertentu pijat, Olahraga Pijat umumnya
merupakan kombinasi dari pijatteknik yang disesuaikan dengan kebutuhan
atlet. Pijat Olahraga mungkin dapat diterapkan pada satu bidang untuk
menghilangkan rasa sakit atau mungkin lebih bersifat umum untuk
menjamin kinerja secara keseluruhan.

5. Neuromuskuler Therapy – juga disebut "NMT" atau neuromuskular pijat,


Terapi neuromuskular terkenal adalah teknik pijat untuk menghilangkan
rasa sakit otot, dan kejang otot di seluruh tubuh. Terapi neuromuskuler
efektif dengan poin memicu myofascial menyebabkan "dimaksud" rasa
sakit yang originates dari suatu tempat lain selain di tempat yang terasa.
Teknik ini menggunakan kompresi yang sangat bertarget dan gesekan
teknik pijat, posisi, dan peregangan untuk melepaskan memicu myofascial
poin pada otot serta pembatasan pada tendon, otot lampiran, dan
kadang-kadang fasia sekitar otot.

Gambar III.1.C

KET : massage

D. Traksi

E. Traksi

Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk
menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan dari
traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam
usaha untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat penyembuhan.

Ada beberapa macam traksi yang dapat digunakan seperti :

 Traksi biasa baik dengan mesin ( lumbal & cervical ) ataupun tanpa mesin
(inversion)
 Cotrel traction : diberikan selama tidur malam dan beberapa jam siang.
Setelah beberapa minggu traksi disertai latihan hasilnya dipertahankan
dengan body cast selama beberapa minggu
 Skeletal traction : umumnya diberikan selama 3 minggu pada pasien
scoliosis berat sebelum dioperasi.

Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain
untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Tujuan
dari traksi adalah untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot
dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mmpercepat
penyembuhan. Ada dua tipe utama dari traksi : traksi skeletal dan traksi
kulit, dimana didalamnya terdapat sejumlah penanganan.
Prinsip Traksi
adalah menarik tahanan yang diaplikasikan pada bagian tubuh, tungkai,
pelvis atau tulang belakang dan menarik tahanan yang diaplikasikan pada
arah yang berlawanan yang disebut dengan countertraksi. Tahanan dalam
traksi didasari pada hokum ketiga (Footner, 1992 and Dave, 1995).

Traksi telah menjadi sebuah ketetapan dalam management ortopedi


hingga 1940 ketika fiksasi internal menggunakan nail, pin dan plate
menjadi praktek yang sering. Pengembangan ini berpasangan dengan
kurangnya pembedahan fraktur dengan kebutuhan ekonomi untuk
perawatan rumah sakit. Friksi selalu ada dalam setiap system traksi. Friksi
memberikan resistansi terhadap dorongan traksi mala mengurangi tahanan
traksi. Hal ini diperlukan untuk meminimalisir kapanpun dan
bagaimanapun kemungkinan nantinya.

Traksi leher dan pinggang atau pelvis


Gambar 1.D.1

KET : Traksi leher

Pengobatan traksi leher (cervical traction) dan traksi pinggang atau


pelvis (lumbal atau pelvic traction) sangat dikenal di lingkungan
kedokteran. Traksi leher dapat dilakukan secara manual atau dengan alat
traksi, tetapi untuk lumbal hanya dapat dilakukan dengan bantuan alat. Hal
ini karena pada daerah lumbal otot – ototnya lebih kuat.

Beban traksi pada leher biasanya sekitar 5 – 10 kg.

1. Manual cervical traction

Pengertian “manual cervical traction” sebenarnya adalah traksi


leher yang tidak menggunakan alat traksi listrik (non – motorized
cervical traction) tetapi hanya menggunakan “sling” dan sistem “pulley”
(katrol) yang digerakkan secara manual.

1. Posisi penderita :
 Penderita dapat duduk, dengan kepala fleksi ke depan 100 – 200,
atau berbaring telentang dengan satu bantal di kepala.

 Tarikan harus lebih dirasakan di daerah oksipital, tidak boleh di


dagu.

 Kacamata, gigi palsu yang dapat dilepas, wig, dan anting –


anting pada wanita, harus dilepas sebelum terapi.

 Traksi leher dihentikan jika penderita merasakan adanya nyeri


yang bertambah di daerah cervical, adanya nyeri menjalar ke
lengan, atau rasa kesemutan di tangan, keluhan pusing
(dizziness).

2. Dosis

Beban sebagaimana telah disebut adalah 5 – 10 kg. Umumnya


beban akhir dipilih 10 kg, dengan memulai (beban pertama datang)
sebesar 5 kg, kemudian menambah 1 kg setiap kedatangan
kemudian, sampai 10 kg. Mereka yang mempunyai postur tubuh
besar dengan otot – otot leher yang kuat, terkadang beban dapat
mencapai 15 kg.

Lama waktu 1X traksi, 10 – 20 menit.

Frekuensi perminggu 5X, jika setelah 10 – 20X traksi, ada


perbaikan, traksi dilanjutkan 3X seminggu sampai keluhan hilang.
Jika setelah 12X traksi, tidak ada perubahan, traksi dihentikan dan
penderita perlu dire-evaluasi.

3. Indikasi traksi cervical :

 Cervical Root Syndrome (CRS), yaitu keadaan dimana terdapat


iritasi akar saraf leher.

 Nyeri leher di luar CRS, umumnya karena nyeri dan spasme


otot.
4. Kontra – indikasi traksi leher :

 Infeksi spinal ; TBC, osteomyelitis.

 Adanya kompresi mielum.

 Malignansi di daerah cervical.

 Osteoporosis.

 Hipertensi maligna dan PJK, -tidak absolut.

 Orang tua yang sangat lemah, -tidak absolut.

 Kehamilan, -tidak absolut.

 Rheumatoid arthritis cervical, -tidak absolut.

2. Traksi pinggang atau pelvis

Gambar III.1.D.2

KET : Traksi panggul

Dibandingkan dengan traksi leher, traksi pelvis kegunaannya lebih


banyak diperdebatkan. Juga teknik pelaksanaannya belum ada yang
dianggap baku. Sebagian penulis melihat kegunaannya hanya sebagai
upaya dokter agar penderita benar – benar “bed rest”, oleh karena itu
beban tarikan juga tidak dipersoalkan. Yang perlu diperhatikan selama
terapi traksi ini, tidak boleh terjadi penambahan lordose lumbal. Untuk
itu kedua sendi paha dan sendi lutut harus dalam keadaan fleksi. Untuk
mengurangi lordose, ada yang menganjurkan kedua tungkai dinaikkan,
dapat dengan memakai “slings” (gantungan) atau dengan memberi meja
kecil dengan permukaan lunak atau tumpukan bantal. Pelvic belt-nya
juga dapat mempengaruhi, dimana bentuk “single strap” berupa
posterior strap (strap adalah tali pengikat yang menghubungkan dengan
beban) dianggap yang paling ideal. Sebagian penulis berpendapat,
dengan pengurangan lordose lumbal tersebut maka foramen
intervertebralis lebih terbuka dan posterior facets saling menjauh.

a. Dosis

Jika tujuan traksi hanyalah “mengikat” penderita di tempat


tidur dengan posisi lordose lumbal mengurang (bed – rest), traksi
dipakai sepanjang waktu, kecuali sewaktu mandi dan ke toilet,
sampai nyeri ditenangkan.

Jika dilakukan perawatan poliklinik, biasanya diberi beban


sekitar 25 – 30 kg, selama 20 menit, mula – mula 5X seminggu
untuk 2 minggu kemudian dievaluasi.

Sudut dari “strap” sekitar 300 dari bed.

Variasi teknik traksi dapat dilihat seperti yang dikembangkan


oleh “The Sister Kenny Institute” yang prinsipnya penderita
digantung secara vertikal dengan pegangan (harness) pada daerah
dada, sehingga berat badan bagian bawah pegangan (tubuh bagian
bawah dan tungkai) yang dianggap seberat 30% dari berat badan
berperan sebagai beban pemberat.

b. Indikasi traksi pinggang atau pelvis


Nyeri punggung bawah (NPB) baik secara “strains” (dari otot
dan tendon), “sprains” (dari ligamen), spasme otot, atau oleh karena
diskogenik misalnya HNP yang hanya perlu perawatan konservatif.

c. Kontra – indikasi traksi pinggang atau pelvis

Kontra – indikasi praktis sama dengan kontra – indikasi traksi


leher, kecuali kehamilan menjadi kontra - indikasi absolut.