You are on page 1of 2

Dunia Kerja Program Studi Zakat dan Wakaf

Oleh:
Dr. Darwis Harahap, M.Si.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Padangsidimpuan

Pendahuluan

Zakat berperan strategis dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan pembangunan
ekonomi. Hal ini disebabkan zakat merupakan sebagian yang diberikan kepada mustahiq tanpa
mengharapkan keuntungan (profit) kecuali mengharapkan reward dari Allah swt. Meskipun demikian,
bukan berarti mekanisme zakat tidak memiliki manajemen yang akuntabel. Jika dilihat nilai strategis zakat:
Pertama, zakat merupakan sebuah kewajiban dan kepatuhan kepada Allah swt. yang merupakan
cerminan dari keimanan . Kedua, sumber keuangan zakat terus menerus dari mustahiq, ketiga, zakat
dapat menghapus kesenjangan sosial dan meningkatkan sirkulasi perekonomian dalam meningkatkan
taraf hidup masyarakat.

Disamping itu, Wakaf sebagai instrument pengembangan keuangan sosial Islam diharapkan mampu
meningkatkan kesejahteraan umat. Dalam sejarah, bahwa wakaf hanya bersifat charity dan masih bersifat
asset yang tidak produktif. Diharapkan wakaf tidak hanya bersifat Lembaga social namun dapat menjadi
Lembaga finansial yng menggerakkan perkeonian negara. Dalam pertemuan yang disenggarakan Bank
Indonesia membahas tentang “Enhancing Islamic Economic, Business, and Finance: Toward the real
economy and sustainable Development” mengemukakan bahwa lembaga social Islam akan diwujudkan
dalam pengentasan kemiskinan dengan mengkombinasikan dengan praktik ekonomi riil. Jika dilihat
defenisi Wakaf yang dikemukakan oleh Al-Minawi: 1990 yakni menahan dan menyalurkan manfaat dari
harta benda dan tetap menjaga pokok barang dan kebadian yang berasal dari para dermawan atau pihak
umum selain dari harta maksiat semata-mata karena ingin mendekatkan diri kepada Allah swt. Dalam hal
ini, harta wakaf tidak boleh berubah harta pokoknya dan tetap bertahan meskipun diperoleh manfaatnya.

Urgensi Manajemen zakat dan wakaf

Zakat dan wakaf sebagai Islamic Social Finance dalam meningkatkan ekonomi perlu dilakukan
modifikasi dalam pengelolaan sehingga meningkatkan manfaat bagai masyarakat. Ismal: 2018
mengemukakan bahwa Islamic Social Finance yakni zakat dan wakaf akan dikombinasikan pada
pembiayaan proyek pemerintah dan swasta dengan melakukan modifikasi akad. Beliau menggambarkan
alokasi dana zakat dan wakaf serta instrument keuangan Islam lainnya dapat dikelola pada pembiayaan
produktif, konsumtif, fasilitas social dan investasi bisnis. Pembiayaan sektor produktif dan investasi bisnis
merupakan aspek penting dalam menjaga kesinambungan harta zakat dan wakaf.
Dalam hal ini, bank Indonesia sebagai institusi yang mendukung penguatan ekonomi Syariah.
Peran Lembaga pemerintah ini sudah diawali dengan adanya Sukuk atau surat berharga Syariah yang
dilakukan untuk pembiayaan sektor pemerintah. Selanjutnya, upaya optimalisasi dana wakaf yang akan
dimodifikasi dengan Sukuk. Perbedaan terdapat pada asset wakaf tidak bias dihabiskan karena merupakan
harta wakaf. Dalam pengelolaannya, wakaf dapat berupa cash waqf dan bekerjasama dengan nazhir.
Dalam melihat perkembangan ini, maka pentingnya mensosialisasikan program studi manajemen
Zakat dan Wakaf. Saat ini, fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Padangsidimpuan telah membuka
Program Studi tersebut. Namun, minat mahasiswa sangat sedikit. Hal ini dapat dilihat dari jumlah yang
mendaftar sekitar 13 mahasiswa. Demikian juga di perguruan tinggi lain di Indonesia mengalami
penurunan minat dalam prodi tersebut. Jika dilihat program pengembangan zakat dan wakaf sebagai
Lembaga social keuangan Islam di Indonesia maka akan dibutuhkan alumni yang mampu mengembangkan
zakat dan wakaf secara professional. Apalagi Indonesia terpilih menjadi pengelola Lembaga wakaf dunia
yang dipilih negara-negara Islam dunia. Hal ini menjadi pertimbangan bagi kebutuhan sumber daya insani
dalam pengelolaan wakaf dunia yang terpusat di Indonesia.