Вы находитесь на странице: 1из 7

Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.

2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X


p-ISSN 2086-3403

KINERJA PEMANAS AIR DARI PANAS BUANG AIR CONDITIONER DENGAN


HEAT EXCHANGER TIPE SHELL AND TUBE

Mustafa 1, Reyhan Kiay Demak 2, Muhammad Hasan Basri 3


Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin
Universitas Tadulako, Jl. Soekarno Hatta Palu 1, 2, 3
email: mustafa7mesin@yahoo.co.id 1; Reyhan_kade@yahoo.com 2 ; muhhasanbasri@yahoo.com 3

Abstract: The Performance of Air Conditioner Water Heater with shell and tube
Heat Exchanger. Air Conditioner is a device that works to transfer heat from low temperature to
high temperature. The heat absorbed from refrigerated space is discharged into the environment
through the condenser device in the form of waste heat. In this study the waste heat from Air
Conditioner is used for heating the water so that the waste heat can turn into useful energy, the waste
heat from condenser is transferred into the water using a shell and tube heat exchanger with variations
in water flow rate of 1, 2 and 3 LPM.
The test result for 3 hours experiment for each flow rate variation shows that the heat exchanger design
can raise 60 Liter water temperature for 13-14 o C, there is no significant difference for the variation of
water flow rate to the heat transfer rate into the water, but the combined COP of the process
refrigeration and water heating shows the performance of the System with 1 LPM flow rate is better
than 2 and 3 LPM.
Key words: Air Conditioner, Heat recovery, Water Heater, Shell and tube, Heat Exchanger.

Abstrak: Kinerja Pemanas Air dari Panas Buang Air Conditioner dengan Heat
exchanger Tipe Shell and tube. Air Conditioner (AC) merupakan perangkat yang berfungsi
untuk memindahkan kalor dari temperatur rendah ke temperatur tinggi. Kalor yang diserap dari
ruangan yang didinginkan dibuang ke lingkungan melalui perangkat kondensor dalam bentuk panas
buang (waste heat). Pada penelitian ini panas buang pada perangkat AC digunakan untuk memanaskan
air sehingga panas buang dapat dirubah menjadi energy yang berguna, panas buang pada kondensor
dipindah kedalam air menggunakan heat exchanger tipe shell and tube dengan variasi laju aliran air 1,
2 dan 3 LPM. Hasil pengujian selama 3 jam untuk tiap variasi laju aliran menunjukan bahwa desain
heat exchanger tersebut dapat menaikkan temperatur 60 Liter air sebanyak 13-14 oC, tidak terdapat
pengaruh signifikan dari variasi laju aliran air terhadap laju transfer kalor kedalam air, akan tetapi COP
gabungan dari proses refrigerasi dan pemanasan air menunjukan kinerja Sistem dengan laju aliran 1
LPM lebih baik dibangdinkan 2 dan 3 LPM.
Kata Kunci: Air Conditioner, Heat recovery, Pemanas Air, Shell and tube, Heat Exchanger.

PENDAHULUAN untuk memanfaatkan panas buang pada


sisi kondensor untuk beberapa perangkat
Air Conditioner (AC) merupakan yang membutuhkan panas dengan
perangkat yang berfungsi untuk temperatur rendah seperti pemanas air
memindahkan kalor dari temperatur untuk air mandi dan kebutuhan domestik
rendah ke temperatur tinggi dengan lainnya. Pemanas air konvensional
bantuan kerja yang dilakukan oleh umumnya menggunakan energi listrik atau
kompresor, kalor yang dilepas kondensor bahan bakar gas yang merupakan energi
ke lingkungan merupakan energi thermal kualitas tinggi yang tidak tersedia secara
kualitas rendah yang terbuang ke gratis, sedangkan panas buang dari
lingkungan (waste heat) sementara kondensor merupakan energi kualitas
temperatur refrigeran yang keluar rendah yang tersedia secara gratis, dengan
kompresor dapat berkisar pada suhu 60-90 memanfaatkan panas buang kondensor
o
C, modifikasi pada perangkat air maka dapat dilakukan efisiensi
conditioner konvensional dapat dilakukan

752
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

pemanfaatan energi dan mengurangi


polusi thermal ke lingkungan.
METODE PENELITIAN
Beberapa eksperimen telah dilakukan
untuk memanfaatkan panas buang AC
sebagai pemanas air, Monerasinghe (1982)
melakukan eksperimen dengan
memanaskan 40 liter air hingga temperatur
90oC menggunakan panas buang air
conditioner selama 3,5 Jam. Santoso dkk
(2013) melakukan pengujian dengan
menggunakan Penukar panas yang
dibuat dari pipa tembaga berdiameter
9,52 mm dan panjang 4,65 m, yang
dibentuk menjadi heliks berdiameter 10 Gambar 1. Skema Alat Pengujian
cm (14,8 lilitan). Penukar panas
dimasukkan dalam sebuah tangki air dan Alat pengujian merupakan AC Split 1
ditempatkan di antara kompresor dan PK Low Watt yang dimodifikasi dengan
kondensor pada sistem AC. Penukar menambahkan perangkat heat exchanger
panas tersebut dapat menaikkan suhu 40 dan hot water storage dengan spesifikasi
liter air sebesar 22,7 oC dalam waktu 68 sebagai berikut:
menit. Pengujian Jiankai Dong dkk (2017)
Tabel 1. Spesifikasi Heat Exchanger dan Water
dengan menggunakan plate heat echanger
Storage
dengan luas permukaan 0,3 m3 dapat Tipe Heat Exchanger Shell And Tube
memanaskan 100 Liter air dari 14.7 oC ke Luas Permukaan 0.025 m2
Tube Jumlah 1 buah
42.7 o C dalam waktu 128.5 menit.
OD 9.52 mm
Sedangkan hasil eksperimen yang Panjang 750 mm
menunjukkan pengaruh penambahan heat Tebal 0.81 mm
Bahan Tembaga
recovery terhadap konsumsi energi
Baffle Jumlah 9 Buah
dilakukan oleh Shahram (2012) dimana Diameter 44 mm
gedung yang menggunakan heat recovery Sudut 120 ᵒ
Tebal 1.1 mm
menunjukan penurunuan konsumsi energi Jarak Antar
mesin pendingin sebesar 11- 32 %. Bafle 75 mm
Bahan Tembaga
Pada penelitian ini peneliti mencoba Shell OD 48 mm
Panjang 750 mm
menggunakan heat exchanger tipe shell Bahan PVC
and tube denga luas permukaan 0.025 m2 Isolator Wool dan Spon
untuk memanaskan 60 Liter air selama 180
Hot Water Storage/ Tangki Air Panas
menit, variasi laju aliran air yang masuk ke Dimensi Diameter 33
heat exchanger adalah 1, 2, dan 3 LPM. Tinggi 800
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk Tebal Plat 1.5
Kapasitas 60 Liter
menguji kinerja heat exchanger dengan Bahan Stainless Steel
luas permukaan 0.025 m2 dan pengaruh Isolator Wool dan Spon
penambahan Sistem heat recovery
terhadap kinerja AC dengan refrigeran
R410A.

753
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

untuk memperoleh nilai entalpi pada setiap


Tabel 2. Spesifikasi Air Conditioner titik pengamatan, selanjutnya dilakukan
Air Conditioner
perhitungan untuk mendapatkan
Tipe Split Air Conditioner
Model GMC09LW parameter-parameter kinerja yang akan
Daya 680 Watt diamati.
Kapasitas 2638 Watt
Kerja kompresor (wc)
Refrigeran R410A
Massa Refrigeran 750 gram wc = h2-h1 (kJ/kg) (1)

Dilakukan 4 kali Pengujian yaitu 1 kali Kerja Evaporator (qe)


pengujian dengan kondisi standar (tanpa qe = h1-h4 (kJ/kg) (2)
proses heat recovery) dan 3 kali pengujian
dengan proses heat recovery dengan kalor yang di transfer ke heat exchanger
variasi lau aliran air 1,2 dan 3LPM. (qhe)
Pengujian dengan kondisi standar qhe = h6-h5 (kJ/kg) (3)
dilakukan dengan cara menutup katup 2
dan katup 3 dan membuka katup 1 COP Refrigerasi (COPR)
sehingga uap refrigeran dari kompresor COPR=qe/wc (4)
disirkulasikan menuju kondensor
berpendingin udara lalu ke katup ekspansi COP Total (COPT)
dan evaporator selanutnya kembali ke COPT= (qe+qhe) / wc (5)
kompresor dan membentuk satu siklus,
sedangkan pengujian dengan proses heat Laju kalor tersimpan (Qrec)
recovery dilakukan dengan menutup katup ̇ = ̇ . . . ( − ) (J/s) (6)
1 dan membuka katup 2 dan 3 sehingga
uap refrigeran dari kompresor dialirkan Dimana :
menuju heat exchanger baru kemudian ̇ = ( / )
dialirkan menuju kondensor berpendingin = (kg/m3)
udara. Pada sisi shell dari heat exchanger Cp = Kalor Spesifik air (J/kg.K)
dialirkan air yang akan dipanaskan Dimana persamaan dan Cp didapat dari
menggunakan pompa dan diatur laju persamaan 7 dan 8 (Rogers, dkk , 1992)
alirannya menggunakan modul PWM dan
Katup. Parameter yang diukur adalah = 0.000015451 − 0.0059003 −
temperatur pada Sistem (T1, T2, T3, T4), 0.019075 + 1002.3052 (kg/m3) (7)
temperatur pada heat exchanger (T5, T6,
T7 , T8), temperatur pada tangki = 0.000003216145833 −
penyimpanan air (T9, T10, T11, T12), 0.000798668982 + 0.0780295139 −
temperatur ruangan (Tdb, Twb), tekanan sisi 3.04816 + 4217.7377 (J/kg.K) (8)
evaporator dan kondensor (P1, P2), Laju
aliran air pada flowmeter ( ̇ ), dan arus Dengan T = (T7+T8) /2
listrik yang masuk kompresor (I),
pengujian dilakukan selama 180 menit
dengan interval pengambilan data setiap 5 HASIL DAN DISKUSI
menit. Analisis dari hasil penguian
Data hasil pengujian diolah menunjukkan kemampuan dari Sistem heat
menggunakan software NIST REFPROP recovery yang telah dibuat dalam

754
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

menyimpan panas ke dalam media air dan peningkatan temperatur air menunjukkan
kinerja dari AC serta Sistem keseluruhan. hasil yangs sama 13,17 oC, sedangkan
pada 3 LPM sebesar 14,2 oC.
Kinerja Sistem heat recovery
0.45

Kalor Tersimpan (kJs)


3600 0.4
Kalor Total Tersimpan (kJ)

3500 0.35
3400 0.3
3300 0.25
3200 0.2

3100 0.15
1 2 3 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180

Laju Aliran Air (LPM) Waktu (Menit)


HE Debit 1 LPM HE Debit 2 LPM
HE Debit 3 LPM
Gambar 2. Kalor Total Tersimpan
Gambar 4. Laju Kalor Tersimpan Ke Air
Energi panas yang dapat direcovery
pada media air selama 3 jam pengujian Total Kalor tersimpan didalam air
adalah sebesar 3284 kJ sampai 3537 kJ, dalam waktu 180 menit menunjukkan
dari grafik pada gambar 2 terlihat bahwa bahwa variasi laju aliran air 3LPM
tidak ada perbedaan pada variasi laju aliran menyerap kalor total 3537 kJ , lebih baik
1 dan 2 LPM sedangkan pengujian dengan dibandingkan pada laju 1 dan 2 LPM yang
laju aliran 3 LPM menunjukkan hasil yang menunjukan hasil yang sama sebesar 3284
lebih baik. kJ , akan tetapi hasil analisis dari laju kalor
tersimpan pada ketiga variasi justru
45 menunjukkan fenomena yang berbeda,
Temperatr Air (C)

40 dari grafik pada gambar 4 terlihat bahwa


laju kalor tersimpan per satuan waktu
35 untuk laju 3 LPM lebih rendah
30 dibandingkan laju 2 LPM dan 1 LPM, dari
trend yang terlihat pada grafik tersebut
25
semakin lama pengoperasian laju kalor
15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
Waktu (Menit) tersimpan akan semakin menurun, kondisi
HE Debit 1 LPM HE Debit 2 LPM ini disebabkan naiknnya temperatur air
HE Debit 3 LPM
yang masuk kedalam heat exchanger dan
Gambar 3. Temperatur Hot Water Storage mempengaruhi laju perpindahan kalor
pada heat exchanger. Dari hasil yang
Hasil pengamatan pada temperatur didapat pada percobaan ini dapat diamati
rata-rata air didalam hot water storage bahwa variasi laju aliran air tidak
menununjukkan peningkatan temperatur menunjukan perbedaan yang signifikan,
yang serupa pada ketiga variasi laju aliran, bahkan terlihat kinerja dengan laju aliran 1
akan tetapi temperatur awal dari ketiga LPM lebih baik dibandingkan kedua variasi
variasi pengujian tidak sama, hal ini lainnya.
disebabkan karena perbedaan temperatur
ruangan pada saat pengambilan data, pada Kondisi berlawanan dengan hasil
variasi laju aliran air 1 dan 2 LPM penelitian dari Murugesan MP (2012) dan

755
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

A. Alper Ozalp (2010) dimana peningkatan Azridjal dkk (2014) yang dapat
laju aliran massa dan reynold number meningkatkan suhu 50 Liter air sebesar
dapat meningkatkan koefisien perpindahan 22,19 oC dalam waktu 120 Menit.
kalor dan laju perpindahan kalor pada heat
exchanger. Akan tetapi penelitian dari Kinerja Sistem Air Conditioner
Pranit M Patil (2015) yang membandingkan
34
efek perpindahan panas pada heat

Kerja Kompresor (kJ/kg)


exchanger dengan variasi aliran laminar 32

dan turbulen menunjukkan bahwa pada 30

aliran laminar dengan reynold number 28


lebih kecil dari 2000 tidak terjadi 26
pemisahan pada aliran yang dekat dengan 24
permukaan pipa sehingga kondisi ini tidak 22
efisien untuk perpindahan panas, dan hasil 20
perhitungan Reynold number untuk variasi 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180

debit 1, 2 dan 3 LPM menunjukkan nilai Waktu (menit)


Sistem Standard HE Debit 1 LPM
483, 964 dan 1450 secara berurutan HE Debit 2 LPM HE Debit 3 LPM

sehingga variasi debit tersebut berada Gambar 5. Kerja Kompressor


pada kondisi aliran laminar. Hasil
eksperimen dari Pranit M Patil (2015) juga Kerja kompresor menunjukan
menunjukan peningkatan Nuselt Number besarnya daya yang dibutuhkan kompresor
yang tidak signifikan pada daerah aliran untuk meningkatkan tekanan dan
laminar sehingga berpengaruh terhadap mengalirkan refrigeran didalam sistem
peningkatan koefisien perpindahan panas kompresi uap, pada grafik diatas terlihat
yang tidak signifikan. kerja kompresor per satuan massa pada
Sistem standart tanpa proses heat recovery
Hasil dari pengujian ini menunjukkan
lebih rendah dibandingkan kerja kompresor
desain heat exchanger yang dibuat masih
pada Sistem dengan heat recovery, kerja
kurang efektif untuk menyerap kalor dari
kompresor per satuan massa untuk variasi
sisi kondensor, karena jumlah kalor yang
laju aliran 1 dan 2 LPM menunjukan hasil
ditransfer ke heat exchanger hanya sekitar
yang serupa, sedangkan kerja kompresor
7-9 % dari kalor yang dilepas di kondensor
pada laju aliran 3 LPM lebih tinggi
dan kenaikan temperatur yang dicapai
dibandingkan ketiga variasi lainnya. Pada
selama 180 menit sekitar 13 – 14 oC lebih
grafik juga terlihat bahwa kerja kompresor
rendah dibanding desain tipe plate heat
cenderung konstan terhadap waktu.
exchanger yang digunakan oleh Jiankai
Tingginya kerja kompresor pada Sistem
Dong dkk (2017) dengan luas permukaan
dengan heat recovery disebabkan oleh
0,3 m3 yang dapat memanaskan 100 Liter
massa refrigeran yang bersirkulasi pada
air dari 14.7 oC ke 42.7 o C dalam waktu
pada Sistem lebih besar dibandingkan
128.5 menit. desain heat exchanger helical
dengan massa refriegeran pada Sistem
yang digunakan Santoso dkk (2013)
standard, kondisi ini terjadi karena pada
dengan panjang 4,65 m, yang dibentuk
Sistem standar katup 2 dan katup 3 ditutup
menjadi heliks berdiameter 10 cm yang
(lihat pada gambar 1) dan aliran refrigeran
dapat menaikkan suhu 40 liter air sebesar
di bypass melewati katup 1 sehingga ada
22,7 oC dalam waktu 68 menit. Dan desain
sejumlah refrigeran yang terperangkap
kondensor dummy yang digunakan oleh

756
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

diantara katup 2 dan 3 yang tidak ikut Kinerja refrigerasi terbaik ditunjukkan
bersirkulasi, kondisi ini sesuai dengan apa oleh Sistem standar dengan COP refrigerasi
yang dikemukakan oleh Santanu dkk tertinggi disusul oleh kinerja dengan variasi
(2014) yang menyatakan bahwa kerja laju aliran 1 LPM, 2 LPM dan 3 LPM, COP
kompresor akan naik seiring dengan refrigerasi pada variasi 1 dan 2 LPM
naiknya putaran kompresor dan massa cenderung serupa hal ini karena nilai rata-
refrigeran yang dimasukan. rata kerja kompresor dan kerja evaporator
pada kedua percobaan cenderung sama,
192
sedangkan pada laju 3 LPM COP refrigerasi
Kerja Evaporator (kJ/kg)

190
188 paling rendah walaupun memiliki kerja
186 evaporator yang tertinggi, hal ini terjadi
184 karena besarnya kerja kompresor tidak
182
180
sebanding dengan besarnya kerja
178 evaporator.
176
174 10
15 30 45 60 75 90 105120 135 150165 180 9.5
Waktu (Menit) 9
Sistem Standard HE Debit 1 LPM 8.5
COP Total

8
Gambar 6. Kerja Evaporator
7.5
7
Kerja evaporator per satuan mass 6.5
fluktuatif terhadap waktu, berdasarkan 6
5.5
rata-rata kerja kompresor saat steady
5
(menit ke 15 s/d 180) didapatkan nilai rata- 15 30 45 60 75 90 105 120 135 150 165 180
rata kerja kompresor tertinggi pada Waktu (Menit)
pengujian dengan laju 3 LPM, 1 LPM, 2 Sistem Standard HE Debit 1 LPM
HE Debit 2 LPM HE Debit 3 LPM
LPM dan Sistem Standar dengan nilai
186,78 kJ/kg, 184,9 kJ/kg, 184,79 kJ/kg, Gambar 8. COP Total
181,37 kJ/kg secara berurutan.
10
Pada COP total ditambahkan besarnya
9.5 kalor yang ditransfer pada heat echanger
9 dan kerja evaporatopr sebagai output
8.5 Sistem sehingga terlihat peningkatan nilai
8
COP terhadap Sistem standar, dari ketiga
COP

7.5
7
variasi pada Sistem dengan heat recovery
6.5 hanya variasi dengan laju 3 LPM yang
6 menunjukkan COP Total yang lebih rendah
5.5 4% dibandingkan dengan COP Sistem
5
standar, sedangkan pada variasi laju 1 dan
15 30 45 60 75 90 105120135150165180
2 LPM menunjukkan COP Total yang lebih
Waktu (Menit)
Sistem Standard HE Debit 1 LPM tinggi 5 % dan 4 % dibanding COP standar
HE Debit 2 LPM HE Debit 3 LPM
secara berurutan, sehingga dapat
Gambar 7. COP Refrigerasi disimpulkan bahwa kinerja total dengan
Sistem heat recovery dapat lebih baik dari
kinerja Sistem standard.

757
Jurnal Mekanikal, Vol. 8 No.2: Juli 2017: 752-758 e-ISSN 2502-700X
p-ISSN 2086-3403

KESIMPULAN ‘Experimental Study on The


Performance of multi-functional
Desain heat exchanger dengan tipe Domestik Air Conditioner with
shell and tube yang memiliki luas Integrated Water Heater’. Applied
permukaan 0.025 m2 dapat menaikan suhu Thermal Engineering 120 pp 393-401
60 Liter air sebesar 13-14 oC dalam waktu
180 Menit, tidak terdapat perbedaan Murugesan M.P. and Balasubramanian R.,
siginifikan dari variasi laju aliran 1, 2 dan 3 2012, ‘The Effect of Mass Flow Rate on
LPM terhadap laju penyimpanan panas the Enhanced Heat Transfer
pada hot water storage Charactristics in A Corrugated Plate
Type Heat Exchanger’, Research Journal
COP refrigerasi pada Sistem standar of Engineering Sciences Vol.1 (6), pp:
lebih baik dibandingkan COP refrigerasi 22-26
pada Sistem dengan heat recovery, akan
tetapi COP Total dengan memperhitungkan N.J. Monerasinghe., R. Ratnalingam, B.S.
kalor yang diserap pada Sistem heat Lee , 1982, ‘Conserved energy from
recovery menunjukkan kinerja total yang room air-conditioners for water heating’.
lebih baik 4-5 % dibandingkan Sistem Energi Convers. Mgmt Vol. 22, pp. 171
standard. - 173

DAFTAR PUSTAKA Pranit M. Patil , Amol P. Yadav , Dr. P. A.


Patil, 2015, ‘Comparative Study
A . Alper Ozalp, 2010, ‘Combined Effects of between Heat Transfer through Laminar
Pipe Diameter, Reynolds Number and Flow and Turbulent Flow’. IJIRSET Vol 4
Wall Heat Flux and on Flow, Heat Issued 4 . pp: 2223-2226
Transfer and Second-Law
Characteristics of Laminar-Transitional Rogers GFC, Mayhew YR, 1992,
Micro-Pipe Flows’, Entropy 12, pp:445- ‘Thermodynamic and transport
472 properties of fluids; SI Units. 4th ed’. UK:
Blackwell Publishers.
Azridjal Aziz, Heriswanto, Hardianto
Ginting, Noverianto Hatorangan, Santanu Prasad Datta, Prasanta Kumar
Wahyudi Rahman, 2014, ‘Analisis Das, Sihdhartha Mukhopadhyay, 2014,
Kinerja Air Conditioning Sekaligus ‘Effect of refrigerant Charge,
Sebagai Water Heater (ACWH)’. compressor Speed and Air Flow Through
Proceeding SNTI IV Universitas Trisakti the Evaporator on the Performance of
pp 5-1 s/d 5-6 an Automotive Air Conditioning System’
. 15th International Refrigeration and Air
Daniel Santoso, F. Dalu Setiaji, 2013, Conditioning Conference 2399 pp 1-10
‘Pemanfaatan panas buang
pengkondisian udara sebagai pemanas Shahram Delfani, Hadi Pasdarshahri,
air dengan menggunakan penukar Maryam Karami , 2012, ‘Experimental
panas helikal’. Techné Jurnal Ilmiah investigation of heat recovery System
Elektroteknika Vol. 12 No. 2 Oktober pp for building air conditioning in hot and
129 – 140 humid areas’ Energy and Buildings 49 pp
62–68
Jiankai Dong, Hui Li, Yang Yao, Yiqiang
Jiang, Xinran Zhang, 2017,

758