You are on page 1of 3

NAMA : DWI MELIANA ASTIARRA

NIM : 03021181520026
KELAS : B/ INDRALAYA

Lahan basah adalah wilayah daratan yang digenangi air atau memiliki kandungan air yang
tinggi, baik permanen maupun musiman. Ekosistemnya mencakup rawa, danau, sungai, hutan
mangrove, hutan gambut, hutan banjir, limpasan banjir, pesisir, sawah, hingga terumbu karang.
Lahan ini bisa ada di perairan tawar, payau maupun asin, proses pembentukannya bisa alami
maupun buatan.
Lahan basah memiliki peran penting dalam kehidupan umat manusia. Ekosistemnya
menyediakan air bersih, keanekaragaman hayati, pangan, berbagai material, mengendalikan
banjir, menyimpan cadangan air tanah, dan mitigasi perubahan iklim.

Lahan jenis ini juga menjadi habitat sejumlah besar tumbuhan dan satwa, relatif lebih
banyak dibanding jenis ekosistem lain, kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari. Hal ini
yang membuat Badan Pendidikan dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa Bangsa (UNESCO)
mengaggas sebuah konvensi yang dikenal Konvensi Ramsar. Menurut Konvensi Ramsar,
pengertian lahan basah adalah:
“Area rawa, lahan gambut atau air, baik alami atau buatan, permanen atau sementara, dengan air
yang statis atau mengalir, segar, payau atau asin, termasuk area air laut dengan kedalaman saat
surut tidak melebihi enam meter.”

Ekosistem lahan basah terbentuk akibat adanya genangan air yang terjadi secara terus menerus,
baik permanen maupun musiman. Kemudian biota yang ada di areal tersebut beradaptasi terhadap
kondisi yang basah. Keadaan alam dan biota tersebut membentuk sebuah ekosistem khas disebut
lahan basah.

Upaya konservasi lahan basah


Masyarakat dunia mulai mengangkat keberadaan lahan basah dalam kebijakan global sejak
tahun 1960-an. Sekelompok ahli dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mengkhawatirkan
kondisinya yang semakin memburuk. Pada tahun 1971 digelar konvensi pertama lahan basah yang
diikuti 18 negara. Konvensi diselenggarakan di kota Ramsar, Iran, menghasilkan sebuah
kesepakatan Ramsar. Pada tahun 1975 konvensi tersebut mendapatkan kekuatan politik yang
mengikat karena diakui oleh UNESCO. Setahun berikutnya, diadakan konferensi Contracting of
Parties (COP) pertama yang diiukti 38 negara, dan selalu digelar hingga saat ini.3
Tanaman sangat dipengaruhi oleh keadaan media tempat tumbuhnya. Secara konvensional,
media tempat tumbuh tanaman adalah lahan yang dapat berupa kering dan basah. Umumnya lahan
kering dapat menyediakan segala kebutuhan tanam lebih baik dibanding lahan basah. Pada lahan
kering, unsur hara dan oksigen yang dibutuhkan tanaman tersedia dalam jumlah yang cukup
banyak di lahan kering. Demikian pula, air juga cukup tersedia di lahan kering, asal ada cukup
hujan atau diberi pengairan secukupnya. Sebaliknya, pada lahan basah, ketiga unsur tersebut
(unsur hara, oksigen, dan air) kurang tersedia.
Di eropa, hampir pengembangan bawah permukaan konstruksi lahan basah harus
menggantikan antara primer dan sekunder pengerjaan untuk mengganti permintaan oksigen
biologis (BOD) dan tergantung kepadatan seperti diketahui sabagai nutrisi anorganil. Ratusan
tahun diawah permukaan lahan basah system pengerjaan untuk kota pada air limbah yang telah
dibangun di eropa (Vymazal et al., 1998) Khususnya di Inggris, Denmark dan Republik Ceko. Ada
juga beberapa penerapan dari teknologi ini di Australia, dan Selandia Baru. Diciptakan lahan basah
untuk merawat air limbah paling efektif untuk Mengendalikan bahan organik, sedimen
tersuspensi, dan nutrisi. Nilai untuk mengendalikan bekas logam dan beberapa racun material yang
lebih kontraversi. Bukan karena bahan kimia ini tidak dipertahankan di lahan basah tetapi karena
kekhawatiran bahwa mungkin konsentrasi pada substrat lahan basah dan fauna.

Lahan Basah Drainase Tambang

Lahan basah sering digunakan sebagai sistem pengolahan hilir untuk tambang mineral. Air
drainase asam tambang, dengan pH rendah dan konsentrasi tinggi besi, sulfat, aluminium, dan
logam bekas, merupakan masalah pencemaran air utama di banyak wilayah pertambangan
batubara di dunia, Dan membangun lahan basah merupakan alternatif perawatan yang layak.
Penggunaan lahan basah untuk pengendalian drainase tambang batubara mungkin
dipertimbangkan pertama kali ketika lahan kering sampel typha diamati di dekat rembesan asam
di lingkungan yang keras dimana tidak ada tumbuh-tumbuhan lain yang bisa tumbuh