You are on page 1of 10

BAB II

GAMBARAN UMUM

2.1 Gambaran Umum Proyek


Adapun gambaran umum Proyek Pekerjaan Preservasi Rekonstruksi
Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten Konawe Selatan/Kota Kendari, Propinsi
Sulawesi Tenggara adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Papan pengumuman Proyek


( Sumber : Dokumentasi Lapangan )

1. Data Umum Proyek


 Nama Proyek : Preservasi Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea
Batas Kabupaten Konawe Salatan/Kota Kendari
 Lokasi : Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan
 Nomor Kontrak : HK.02.03/PJNW.II/PPK07/TNG-BTS KDI/15
 Tanggal Kontrak : 23 Januari 2017
 Waktu : 330 Hari Kalender
 Nilai Kontrak : Rp. 32,599,965,000,00,-
 Sumber Dana : APBN

5
 Tahun Anggaran : 2017
 Mulai Tanggal : 25 Januari 2017
 Selesai Tanggal : 23 Desember 2017
 Kontraktor : PT. ANEKA BANGUNAN CIPTA
 Konsultan : PT. BHUANA ARCHICON, JO PT. CIPTA
BANGUN MANDIRI

Proyek tersebut diatas terbagi menjadi tiga bagian pekerjaan, yaitu :


 Rekonstruksi Jalan dengan panjang ± 5 Km
 Pemeliharaan Rutin Kondisi dengan Panjang ± 66.97 Km
 Pemeliharaan Rutin Jalan dengan Panjang ± 41.32 Km

Ketiganya memiliki lokasi masing-masing, namun dalam


pelaksanaannya terangkum dalam paket pekerjaan Preservasi Rekonstruksi
Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten Konawe Salatan/Kota Kendari dengan
time schedule gambungan yang terlampir.
Menindaklanjuti kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang di
lakukan, Pihak penyedia jasa hanya menempatkan mahasiswa yang mengikuti
Praktek Kerja Lapangan (PKL) pada pelaksanaan pekerjaan Rekonstruksi
Jalan saja, yang memiliki panjang ± 5 Km. Sehingga pembahasan
selanjutnya, akan di arahkan hanya pada pekerjaan tersebut.

2. Data Teknis Proyek


Adapun data teknis proyek pada Pekerjaan Rekonstruksi Jalan, paket
pekerjaan Preservasi Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten
Konawe Salatan/Kota Kendari adalah sebagai berikut :
 Panjang Jalan : ± 5 km
 Lebar Badan Jalan : 7.00 meter
 Kemiringan Badan Jalan : 3 %
 Lebar Bahu Jalan : 2.00 meter
 Kemiringan Bahu Jalan : 5 %
 Titik Awal Proyek: 0 + 000

6
(Jembatan S.Lalorui Desa Lakomea)
 Titik Akhir Proyek : 4 + 800
(Lapangan Sepak Bola Desa Lapuko)

Gambar 2.2 Titik Awal Proyek


( Sumber : Dokumentasi Lapangan )

Gambar 2.3 Titik Akhir Proyek


( Sumber : Dokumentasi Lapangan )

7
2.2 Lokasi Proyek
Lokasi proyek pada Pekerjaan Rekonstruksi Jalan, paket pekerjaan
Preservasi Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten Konawe
Salatan/Kota Kendari, terletak di Desa Lakomea (BM0) sampai Desa Lapuko,
Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selata, untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.2 berikut :

Gambar 2.4 Site Plan lokasi Proyek


( Sumber : Dokumen PT.Aneka Bangunan Cipta )

2.3 Manajemen Proyek


Manajemen proyek yaitu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian dan
keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas
untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang
optimal dalam hal kinerja, waktu, mutu dan keselamatan kerja. Dalam
manajemen proyek, perlunya pengelolaan yang baik dan terarah karena suatu
proyek memiliki keterbatasan sehingga tujuan akhir dari suatu proyek bisa
tercapai (Alfian, October 2, 2013).

8
Manajemen Proyek erat kaitannya dengan pengelolaan atau pengendalian
proyek dengan sebaik mungkin untuk mencapai hasil yang telah ditargetkan.
Menurut Hidayat (2011) Beberapa hal yang dapat ditinjau dalam
pengendalian proyek adalah :
2.3.1 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu dilakukan terhadap bahan atau material
struktur, peralatan kerja, pelaksanaan pekerjaan dan hasil pekerjaan
dengan cara melakukan pengawasan dan pengukuran langsung di
lapangan, perhitungan sebagai fungsi kontrol serta melakukan pengujian
bahan baik di laboratorium maupun di lapangan.

2.3.2 Pengendalian Tenaga Kerja


Penempatan tenaga kerja harus sesuai dengan jumlah dan
kemampuannya yang dapat menunjang tercapainya efisiensi suatu
pekerjaan agar target pekerjaan dapat terpenuhi.
Pada pekerjaan Rekonstruksi Jalan ini, seluruh pengadaan tenaga
kerja diserahkan pada penyedia jasa yaitu PT.ANEKA BANGUNAN
CIPTA. Dengan mempekerjakan orang-orang yang pernah bekerja pada
proyek sebelumnya dan dengan menjalin mitra baru di lokasi sekitar
proyek dengan para pekerja yang sudah memiliki pengalaman dan
keahlian.

2.3.3 Pengendalian Waktu


Pengendalian Waktu didasarkan pada time schedule pekerjaan.
Dengan memperhatikan pekerjaan apa yang harus dikerjakan lebih
dahulu dan kapan harus dimulai. Sehingga keterlambatan pekerjaan
sebisa mungkin dihindari.

2.3.4 Pengendalian Biaya


Pengendalian biaya dilakukan dengan membuat rekapitulasi biaya
yang telah dikeluarkan, baik dalam hal pembelian material maupun

9
pembayaran gaji pekerja. Besarnya biaya yang telah dikeluarkan akan
dibandingkan dengan pekerjaan yang telah dicapai sebagai kontrol dan
evaluasi pengendalian biaya.

2.3.5 Pengendalian Teknis


Pengendalian Teknis dilakukan dengan cara mengetahui
perkembangan dan permasalahan di proyek melalui laporan kemajuan
dan koordinasi proyek. Laporan tersebut dibuat dalam bentuk laporan
harian, mingguan dan bulanan.

2.3.6 Pengendalian K3
Menerapkan K3 dalam proses pelaksanaan pekerjaan sebagai salah
satu cara pengendalian K3. Hal tersebut dilakukan agar tenaga kerja
secara aman melakukan pekerjaannya, sehingga meningkatkan
produktivitas kerja dan kualitas pekerjaan.

2.4 Organisasi Penyelenggara Proyek


Untuk menjamin pelaksanaan kegiatan agar sesuai dengan segala
ketentuan yang ditetapkan dan tepat pada waktunya, maka dibentuklah badan-
badan hukum dan susunan struktur organisasi Pekerjaan Rekonstruksi Jalan,
paket pekerjaan Preservasi Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten
Konawe Salatan/Kota Kendari, dimana unsur-unsur yang terlibat langsung dalam
menangani kegiatan tersebut adalah :
 Pemilik Proyek (owner);
 Konsultan perencana (consultant/designer);
 Konsultan pengawas (direksi/supervisor);
 Pelaksana (contractor).

Semua unsur organisasi tersebut memiliki fungsi dan tanggung jawab


masing-masing yang berbeda-beda, tetapi dalam pelaksanaannya saling terkait
satu sama lainnya, sehingga dalam pelaksanaan pekerjaan akan memperoleh

10
hasil yang sebaik-baiknya.

2.4.1 Pemilik Proyek/Owner


Pemilik proyek (Owner) adalah pihak yang memiliki gagasan untuk
membangun, baik secara perorangan (Individu) atau badan hukum seperti
wakil dari suatu perusahaan atau organisasi swasta maupun wakil suatu
dinas atau jabatan (Situmorang, 2011).
Owner pada proyek Preservasi Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea-
Batas Kabupaten Konawe Selatan/Kota Kendari adalah Dinas Bina Marga
Provinsi Sulawesi Tenggara. Adapun tugas dari pemilik proyek menurut
Ahadi (2010) antara lain :
a. Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan proyek
b. Mengadakan kegiatan administrasi proyek
c. Memberikan tugas kepada kontraktor untuk melaksanakan pekerjaan
proyek
d. Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas atau
manajemen kontruksi
e. Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor
f. Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah
direncanakan.

2.4.2 Konsultan
PT. BHUANA ARCHICON, JO PT. CIPTA BANGUN MANDIRI
Bertindak sebagai Konsultan perencana sekaligus Konsultan Pengawas.
Keduanya ditunjuk untuk melaksanakan pekerjaan perencanaan sekaligus
pengawasan berdasarkan keahlian masing-masing dalam Proyek Preservasi
Rekonstruksi Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten Konawe Selatan/Kota
Kendari.
Menurut Ahadi (2009) tugas Konsultan Perencana antara lain :
a. Mengadakan penyesuaian keadaan lapangan dengan keinginan pemilik
bangunan

11
b. Membuat gambar kerja pelaksanaan
c. Membuat rencana kerja dan syarat-syarat pelaksanaan bangunan
(RKS) sebagai pedoman pelaksanaan
d. Membuat RAB
e. Memproyeksikan keinginan atau ide-ide pemilik ke dalam desain
f. Melakukan perubahan desain bila terjadi penyimpangan pelaksanaan
pekerjaan di lapangan yang tidak memungkinkan desain terwujud.
g. Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi
kegagalan konstruksi

Sedangkan tugas Konsultan Pengawas menurut Ahadi (2010) adalah


sebagai berikut :
a. Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak
kerja
b. Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan
proyek
c. Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dilihat pemilik
proyek
d. Memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek maupun
kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan
e. Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan
kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek
f. Memilih dan memberikan persetujuan mengenai tipe dan merek yang
diusulkan oleh kontraktor dengan tetap berpedoman dengan kontrak
kerja konstruksi yang dibuat.

2.4.3 Kontraktor
PT. ANEKA BANGUNAN CIPTA adalah pihak yang ditunjuk untuk
melaksanakan pekerjaan dalam Proyek Preservasi Rekonstruksi
Tinanggea-Ambesea-Batas Kabupaten Konawe Selatan/Kota Kendari.
Menurut Ahadi (2011) Tugas kontraktor pelaksana yaitu :

12
a. Menyediakan tenaga kerja, bahan material, tempat kerja, peralatan dan
alat pendukung lain yang digunakan mengacu dari spesifikasi dan
gambar yang telah ditentukan.
b. Bertanggungjawab sepenuhnya atas kegiatan konstruksi dan metode
pelaksanaan pekerjaan di lapangan.
c. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan time schedule yang telah
disepakati
d. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan peraturan dan
spesifikasi yang telah direncanakan dan ditetapkan dalam kontrak
perjanjian pemborongan.

2.5 Hubungan Kerja Antara Pemberi Tugas (Pemilik Proyek) dengan


Perencana dan Pelaksana
Menurut Situmorang (2011), Dalam pelaksanaan sebuah proyek, masing-
masing pihak mempunyai wewenang dan tanggung jawab sesuai dengan
fungsinya. Hubungan kerja antara pihak-pihak dari organisasi yang terlibat
dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Hubungan Kerja Secara Teknis.
Hubungan kerja antara pemilik kegiatan, konsultan perencana,
konsultan pengawas dan pelaksana adalah hubungan segitiga. Dalam hal ini
semua masalah teknis perencana diserahkan oleh pemimpin kegiatan kepada
konsultan perencana dan penunjukan pengawas kepada konsultan pengawas.
Jika ada masalah teknis yang perlu dibicarakan, maka menurut peraturan
umum pemilik kegiatan tidak dapat berhubungan langsung dengan pelaksana
tetapi harus melalui pengawas. Dalam pelaksanaan dilapangan pengawas
berkuasa penuh untuk menegur pelaksana jika pekerjaan yang
dilaksanakannya bertentangan atau menyimpang dari bestek yang ada, baik
secara lisan maupun tulisan sesuai dengan wewenangnya. Berbeda halnya
dengan perencana, ia tidak dapat menegur atau memerintahkan pelaksana
secara langsung di lapangan tanpa melalui pengawas. Hal ini disebabkan
karena diantara perencana dan pelaksana/kontraktror tidak ada hubungan

13
kerja, sebaliknya antara perencana dan pengawas terdapat hubungan garis
konsultasi.

PEMILIK
Dinas PU Bina Marga

KONTRAKTOR KONSULTAN
PT. ANEKA BANGUNAN PT. BHUANA
CIPTA ARCHICON, Jo PT. CIPTA
BANGUN MANDIRI

Gambar 2.5 Hubungan Kerja Antara Organisasi Proyek

2. Hubungan Kerja Secara Hukum


Kedudukan masing-masing pihak secara hukum adalah sama dan terikat
dalam kontrak. Oleh karena itu seluruh pihak harus menjalankan tugas dan
fungsinya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati bersama
Pelaksanaan Pelelangan. Pelelangan adalah suatu sistem penawaran yang
memberikan kesempatan kepada rekanan yang diundang untuk mengajukan
penawaran biaya pekerjaan yang ditawarkan.

14