You are on page 1of 25

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Audit kinerja muncul karena adanya ketidakpuasan masyarakat terhadap


audit keuangan, yang hanya menilai kewajaran laporan keuangan. Masyarakat
ingin mengetahui apakah uang negara yang berasal dari pajak yang mereka
bayarkan dikelola dengan baik. Masyarakat ingin mendapatkan kepastian apakah
uang negara digunakan untuk memperoleh sumber daya dengan efektif, digunakan
secara efisien, serta dapat memberikan hasil optimal yang membawa manfaat bagi
mereka.

Reformasi yang terjadi tahun 1998 membawa dampak yang signifikan


dalam pengelolaan keuangan negara. Sekitar sepuluh tahun terakhir, tuntutan
masyarakat akan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana
masyarakat oleh pemerintah semakin meningkat. Masyarakat ingin mengetahui
apakah berbagai program telah tercapai dan apakah tercapainya program tersebut
telah dilakukan dengan prinsip ekonomi (kehematan), dengan cara efisien, dan
dengan hasil yang efektif atau yang lebih dikenal dengan istilah spend well, spend
less, spend wisely.

Keinginan dan tuntutan masyarakat tersebut belum sepenuhnya dapat


dipenuhi apabila hanya mengandalkan hasil audit laporan keuangan yang memuat
opini tentang neraca, perbandingan anggaran dan realisasi, arus kas, dan catatan
atas laporan keuangan. Masyarakat ingin mengetahui apakah penyelenggaraan
kegiatan oleh pemerintah dengan menggunakan dana publik dapat memberikan
nilai lebih bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh sebab itu, perlu
diadakan perluasan tujuan dan jenis audit dari audit keuangan menuju audit
kinerja (performance audit).

Audit kinerja (performance audit) terhadap sektor publik dapat membantu


masyarakat dalam mengetahui kinerja yang lebih lengkap dari organisasi
masyarakat (public). Audit Kinerja dapat dilakukan baik pada sektor swasta

Performance Audit 1
maupun sektor publik dan badan pemerintah, karena dari semua tujuan
kepentingan masyarakat merupakan prioritas utama. Audit kinerja bertujuan untuk
mengevaluasi kinerja dan mengidentifikasi kesempatan untuk peningkatan
rekomendasi guna perbaikan atau tindakan lebih lanjut. Selama ini, hasil dari audit
kinerja cenderung diasumsikan sebagai informasi yang ditujukan kepada
konsumsi pihak internal perusahaan, karena menelaah secara sistematik kegiatan
organisasi dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Padahal laporan audit
kinerja ini juga bisa digunakan oleh pihak eksternal untuk pengambilan
keputusan.

1.2 Tujuan Penulisan


1. Mengetahui perkembangan audit kinerja
2. Mengetahui definisi audit kinerja
3. Mengetahui pentingnya audit kinerja
4. Menganalisis audit kinerja untuk akuntabilitas publik
5. Menganalisis keterkaitan audit kinerja dengan manajemen kinerja
6. Mengetahui istilah-istilah yang dipergunakan dalam audit kinerja
7. Mengidentifikasi perbedaan antara audit kinerja dan audit keuangan
8. Mengidentifikasi karakteristik audit kinerja
9. Menganalisis manfaat audit kinerja
10. Mengidentifikasi tujuan audit kinerja
11. Mengetahui jenis-jenis audit kinerja
12. Menganalisis proses dan tahapan audit kinerja
13. Mengetahui peran audit kinerja

1.3 Metode Penulisan


Metode penulisan yang diimplementasikan dalam makalah ini ialah
metode pustaka, yakni dengan menggali berbagai data yang dibutuhkan dari buku.
Selanjutnya, dengan metode diskusi. Diskusi dilakukan antar sesama anggota
kelompok dan pihak lain yang memilki informasi yang berelasi dengan judul yang
diusung pada makalah ini. Kemudian, dalam proses penyelesaian makalah juga
menggunakan data yang diperoleh via internet.

Performance Audit 2
II. PERUMUSAN MASALAH

1. Bagaimanakah perkembangan audit kinerja?


2. Apakah yang dimaksud dengan audit kinerja?
3. Apakah pentingnya audit kinerja?
4. Bagaimanakah relasi antara audit kinerja terhadap akuntabilitas publik?
5. Apakah keterkaitan audit kinerja terhadap manajemen kinerja?
6. Apa sajakah istilah-istilah yang digunakan dalam audit kinerja?
7. Apakah perbedaan antara audit kinerja dan audit keuangan?
8. Apakah karakteristik audit kinerja?
9. Apakah manfaat audit kinerja?
10. Apakah tujuan dari audit kinerja?
11. Apakah jenis-jenis audit kinerja?
12. Bagaimanakah proses dan tahapan audit kinerja?
13. Apakah peran auditor dalam audit kinerja?

Performance Audit 3
III. PEMBAHASAN

3.1 Perkembangan Audit Kinerja

Leo Herbert dalam bukunya Auditing the Perfomance of Management


membuat gambaran yang cukup komprehensif tentang pengetahuan dan
perkembangan audit yang diperlukan dalam bidang audit, seperti yang terlihat
pada figur 3.1.1

AUDIT
SOSIAL

Sistem perencanaan
& pengendalian

AUDIT Akuntansi
PROGRAM manajemen
Objek laporan keuangan
Perencanaan pajak
Standar keuangan
Audit internal
Audit PDE
Prinsip pelaporan keuangan
Konsultasi pajak
Standar audit
AUDIT MANAJEMEN
Perluasan prosedur audit

Prosedur audit
Rekaman Komputer
Fokus pada laporan laba rugi
Laporan yang seragam

Audit kepatuhan
Audit penerimaan dan pengeluaran
AUDIT KEUANGAN
Gambar 3.1.1 Perkembangan Audit dan Pengetahuan yang Diperlukan
dalam Bidang Audit
Sumber: Leo,Herbert. Auditing the Perfomance of Management. Wodsworth, Inc
US. 1979. Hal 10.

Performance Audit 4
Bedasarkan figur tersebut, diketahui bahwa audit kinerja mengalami
proses, demikian pula dengan pengetahuan dan kompetisi yang dibutuhkan.
Sebelum mencapai bentuknya, audit kinerja mengalami evolusi yang cukup lama,
dimulai dari financial statement auditing pada tahum 1930, dilanjutkan dengan
management auditing pada tahun 1950 dan program auditing pada tahun 1970.

Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, tahun 1971 Elmer B Staat
dari United State Comptoreller General Accounting Office untuk pertama kalinya
memperkenalkan audit kinerja (performance audit) pada kongres INTOSAI
(International Organization of Supreme Audit Intitution), di Montreal, Kanada.
Sejak itu, audit kinerja yang merupakan perluasan audit keuangan mulai
diimplementasikan pada audit sektor publik oleh Supreme Public Institution di
seluruh dunia.

Pelaksanaan audit kinerja di seluruh dunia, termasuk di Indonesia terus


mengalami pasang surut. Sebagai gambaran pada Netherland Court of Audit (BPK
Belanda), perkembangan audit dimulai dengan pemberian mandat untuk
melakukan audit kinerja pada tahun 1976. Pada awalnya, audit kinerja berfokus
pada efisiensi. Kemudian, mereka mulai menyusun dan menyempurnakan manual
audit kinerja yang ada. Pada perkembangannya, mereka mengintegrasi teknologi
informasi dan komunikasi dalam audit kinerja (antara lain untuk menganalisis
data) serta menggunakan pendekatan strategis dalam menyusun tema audit. Pada
BPK Belanda, tema audit yang berfokus pada mutu dan akuntabilitas kebijakan
pemerintah merupakan perluasan dari audit keuangan yang berfokus pada
penganggaran.

Di Australian National Audit Office (BPK Australia), audit kinerja dimulai


pada tahun 1970-an. Audit kinerja mulai berkembang di Australia karena
ketertarikan pemerintah, parlemen, dan masyarakat terhadap efektivitas program
dan efisiensi administrasi pemerintah. Pada saat itu, departemen pemerintah
banyak diberikan kebebasan untuk mengelola operasi mereka, dengan sedikit
kendali dari pusat. Pada awalnya, pemeriksaan kinerja hanya divisi kecil dari

Performance Audit 5
ANAO. Antara tahun 1980-1983, ANAO hanya membuat tujuh laporan audit
kinerja. Saat ini, ANAO membuat hampir 50 laporan audit kinerja setiap
tahunnya.

Di Indonesia, audit kinerja mulai diperkenalkan pada tahun 1976 yang


dimulai dengan management audit course di Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK)
dengan bekerja sama dengan US-GAO. Serupa dengan negara lain, audit kinerja
di Indonesia juga mengalami pasang surut. Sejak tahun 2004-2007, BPK telah
melaksanakan 99 audit kinerja, dengan rincian 37 audit di kantor pusat dan 62
audit di kantor perwakilan daerah. Rekap audit kinerja pada tahun 2004-2007
dapat dilihat di grafik 3.1.2. Grafik ini menunjukkan audit kinerja atas BUMN
masih sangat sedikit.
Grafik Audit Kinerja

Gambar 3.1.2 Rekap pemeriksaan BPK tahun 2004-2007

3.2 Definisi Audit Kinerja


Secara etimologi, audit kinerja terdiri atas dua kata, yaitu “audit” dan
“kinerja”. Audit menurut Arens adalah kegiatan mengumpulkan dan mengevaluasi
terhadap bukti-bukti yang dilakukan oleh yang kompeten dan independen untuk
menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara kondisi yang ditemukan
dan kriteria yang ditetapkan.
Sedangkan menurut Stephen P Robbins, kinerja merupakan hasil evaluasi
terhadap pekerjaan yang telah dilakukan dibandingkan dengan kriteria yang telah

Performance Audit 6
ditetapkan bersama. Di pihak lain. Ayuha menjelaskan, “Perfomance is the way of
job or task is done by an individual, a group of organization”.
Dari kedua definisi tersebut, terlihat bahwa istilah kinerja mengarah pada
dua hal yaitu proses dan hasil yang dicapai.
Definisi yang cukup komprehensif diberikan oleh Malan, Fountain,
Arrowsmith, dan Lockridge (1984), sebagai berikut.
“Perfomance auditing is a systematic process of objectively obtaining dan
evaluating evidence regarding the performance of an organization, program,
function, or activity. Evaluation is made in terms of its economy and efficiency of
operations, effectiveness in achieving of desire results, and compliance with
relevan policies, law, and regulations, for the purposes of ascertaining the degree
of correspondence between performance and established criteria and
communicating the results to interest the users. The performance audit function
provides an independent, third-party review of management’s performance and
the degree to which the perfomanced of audited entity meets pre-stated
expectation”.

[“Audit kinerja merupakan suatu proses sistematis dalam mendapatkan


dan mengevaluasi bukti yang secara objektif atas suatu kinerja organisasi,
program, fungsi, atau kegiatan. Evaluasi dilakukan bedasarkan aspek ekonomi dan
efisiensi operasi, efektivitas dalam mencapai hasil yang diinginkan, serta
kepatuhan terhadap peraturan, hukum, dan kebijakan yang terkait. Tujuan dari
evaluasi adalah untuk mengetahui tingkat keterkaitan antara kinerja dan kriteria
yang ditetapkan serta mengomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Fungsi dari audit kinerja ialah memberikan review dari pihak
ketiga atas kinerja manajemen dan menilai apakah kinerja organisasi dapat
memenuhi harapan.”]

Selanjutnya, Pasal 4 ayat (3) UU No 15 Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan


Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, mendefinisikan audit kinerja
sebagai audit atas pengelolaan keuangan negara yang terdiri atas pemeriksaan
aspek ekonomi dan efisiensi serta pemeriksaan aspek efektivitas.

Performance Audit 7
Kemudian, bedasarkan PP No. 60 Tahun 2008 tentang SPIP
mendefinisikan audit kinerja sebagai audit atas pengelolaan keuangan negara dan
pelaksanaan tugas dan fungsi instansi pemerintah yang terdiri atas aspek
kehematan, efisiensi, dan efektivitas.

Dari berbagai definisi di atas dapat disimpulkan bahwa audit kinerja


adalah audit yang dilakukan secara objektif dan sistematis terhadap berbagai bukti
untuk menilai kinerja entitas yang diaudit dalam hal ekonomi, efisiensi, dan
efektivitas.

3.3 Pentingnya Audit Kinerja

a. Pemerintah

Bagi pemerintah, audit kinerja dapat menjadi ukuran penilaian dan


perbaikan atas 3E (ekonomi, efektivitas, dan efisiensi) dari program kegiatan
pemerintah dan pelayanan publik.

b. Legislatif & Masyarakat

Memberikan informasi independen apakah uang negara digunakan secara


3E serta mendukung pengawasan dan pengambilan keputusan oleh legislatif.

c. BPK

Melakukan peningkatkan kematangan organisasi dan nilai BPK di


masyarakat, meningkatkan motivasi pemeriksa, dan mendorong kreativitas dan
pembelajaran.

Lebih lanjut, audit sektor publik tidak hanya memeriksa serta menilai
kewajaran laporan keuangan sektor publik, tetapi juga menilai ketaatan aparatur
pemerintahan terhadap undang-undang dan peraturan yang berlaku. Disamping
itu, audit sektor publik juga memeriksa dan menilai sifat-sifat hemat (ekonomis),
efisien serta keefektifan dari semua pekerjaan, pelayanan atau program yang
dilakukan pemerintah. Dengan demikian, bila kualitas audit kinerja sektor publik

Performance Audit 8
rendah, akan mengakibatkan risiko tuntutan hukum (legitimasi) terhadap pejabat
pemerintah dan akan muncul kecurangan, korupsi, kolusi serta berbagai
ketidakberesan. Sehubungan dengan itulah, audit kinerja memegang peran yang
sangat esensial dalam suatu organisasi atau lembaga yang berkaitan dengan dana
masyarakat.

3.4 Audit Kinerja untuk Akuntabilitas Publik

Akuntabilitas publik meliputi :

1. Akuntabilitas kejujuran dan akuntabilitas hukum (accountability for


probity and legality)
2. Akuntabilitas proses (process accountability)
3. Akuntabilitas program (program accountability)
4. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability)

Akuntabilitas Publik tidak bisa dipisahkan dari prinsip-prinsip tata kelola


pemerintahan yang baik (Good Governance). Salah satu tata kelola yang baik
ialah dengan adanya kinerja yang baik. Kinerja inilah dapat diidentifikasi dan
dievaluasi melalui audit kinerja. Oleh sebab itu, audit kinerja sangat diperlukan
dalam akuntabilitas publik, terutama dalam hal menilai tingkat keberhasilan
kinerja suatu kementerian atau lembaga pemerintah dan memastikan sesuai atau
tidaknya sasaran kegiatan yang menggunakan anggaran dan transparansi dalam
pelaksanaannya.

Pada sektor publik, audit kinerja dilakukan untuk meningkatkan


akuntabilitas berupa peningkatan pertanggungjawaban manajemen kepada
lembaga perwakilan, pengembangan bentuk-bentuk laporan akuntabilitas,
perbaikan indikator kinerja, perbaikan perbandingan kinerja antara organisasi
sejenis yang diperiksa, serta penyajian informasi yang lebih jelas dan normatif.

Performance Audit 9
3.5 Keterkaitan Audit Kinerja dengan Manajemen Keuangan

Audit kinerja dapat dilaksanakan oleh pihak auditor internal atau auditor
eksternal yang profesional dan kompeten sehingga menjamin objektivitas hasil
audit. Dalam melaksanakan audit kinerja penting bagi auditor untuk memiliki
pengetahuan yang memadai tentang pengelolaan terhadap hasil-hasil, khususnya
sistem perencanaan, penganggaran dan sistem pengindikator kinerja yang dimiliki
atau melekat pada suatu instansi pemerintah, yang mana informasi ini dipegang
oleh manajemen keuangan.

Pendekatan auditor pada bagian ini bertujuan untuk memperoleh dokumen


yang mencukupi untuk memeriksa peraturan dasar organisasi dan memahami
sejarah serta kondisi operasi sekarang. Auditor seharusnya mengenal struktur
organisasi, sistem pengendalian, laporan keuangan, sistem informasi, pegawai dan
pelaksanaan adminsistratif .

Mendekati akhir pendekatan ini, auditor seharusnya memperoleh informasi


mengenai hukum yang terkait, pernyataan kebijakan, dokumen dan catatan
penelitian terdahulu, laporan audit sebelumnya, dan studi lain yang dilakukan oleh
departemen. Auditor harus memperoleh gambaran mengenai informasi dasar yang
berkaitan organisasi dengan mendapatkan bagan organisasi, uraian tertulis, serta
bagan alir dari proses kerja dan sistem informasi. Auditor juga harus memperoleh
informasi mengenai kebijakan dan prosedur administrasi dan personalia, serta
mengindentifikasi dan memperoleh prosedur operasi.

3.6 Istilah-istilah dalam Audit Kinerja

Ada istilah umum yang digunakan dalam audit kinerja, di antaranya


performance audit dan Value For Money (VFM) audit. VFM audit mengacu pada
penilaian apakah manfaat yang dihasilkan oleh suatu program lebih besar dari
biaya yang dikeluarkan atau masih mungkinkah melakukan pengeluaran dengan
bijak. Istilah VFM audit banyak digunakan di Kanada dan negara

Performance Audit 10
persemakmurannya. Secara internasional, performance audit ialah istilah resmi
yang digunakaan kalangan INTOSAI.

Istilah yang juga sering dijumpai ialah audit manajemen, audit operasional,
atau audit ekonomi dan efisiensi. Istilah ini digunakan untuk menilai dalam aspek
ekonomi dan efisiensi dari pengelolaan organisasi. Istilah lain ialah audit program
atau audit efektivitas yang ditujukan untuk menilai manfaat atau pencapaian suatu
program. Gabungan antara audit manajemen atau operasional dan audit program
merupakan audit kinerja.

Audit kinerja terkait erat dengan konsep akuntabilitas yang dikenal dengan
istilah akuntabilitas kinerja. Akuntabilitas kinerja instansi pemerintah antara lain
diatur melalui Inpres No.7 tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi
Pemerintah (AKIP).
Beberapa istilah yang sering dikaitkan dalam konteks audit kinerja adalah

1. Kinerja (performance) adalah gambaran mengenai pencapaian, prestasi


atau unjuk kerja dari instansi pemerintah

2. Indikator kinerja (performance indicator) adalah deskripsi kuantitatif atau


kualitatif terhadap tercapaiannya kinerja. Indikator kinerja dapat digunakan
sebagai salah satu alat untuk menilai dan melihat perkembangan yang dicapai
selama jangka waktu terterntu.

3. Indikator kinerja kunci (key performance indicator) adalah indikator


kinerja yang memiliki fokus pada aspek kinerja yang penting bagi keberhasilan
organisasi.

4. Efisiensi berkaitan dengan hubungan antara input yang digunakan untuk


menghasilkan output. Efisiensi lazimnya dinyatakan dalam bentuk indeks,
rasio, unit, atau bentuk lainnya (misalnya: dalam bentuk perbandingan). Secara
umum efisiensi berkaitan dengan produktivitas.

5. Efektivitas berkaitan dengan pencapaian hasil (outcome) yang ditetapkan


telah dicapai dengan output. Output sektor publik umumnya adalah jasa berupa
layanan terhadap masyarakat. Output dikatakan efektif jika memberi pengaruh
sesuai yang diharapkan.

Performance Audit 11
3.7 Perbedaan antara Audit Kinerja dan Audit Keuangan

No Perbedaan Audit Kinerja Audit Keuangan


1. Tujuan Menilai apakah audit telah mencapai Menilaiapakahakun-akun
tujuan atau harapan yang ditetapkan. benar dan Disajikan secara
wajar.
2. Dasar Ekonomi, ilmu politik, sosiologi, dan Akuntansi.
Akademik lain-lain.
3. Metode Bervariasi antara satu proyek dan Kurang Lebih telah
proyek lain . terstandardisasi.
4. Fokus Program dan kegiatan organisasi. Sistem akuntansi dan sistem
manajemen.
5. Kriteria  Lebih subjektif  Kurang subjektif
Penilaian  Terdapat kriteria yang unik untuk  Kriteria Untuk semua
masing-masing audit. kegiatan audit
6. Laporan  Struktur dan isi laporan bervariasi  Bentuk laporan kurang lebih
 Dipublikasikan secara tidak tetap Terstandardisai
(ad hoc basis )  Dipublikasikan secara
berkala

Sumber : The Swedish National Audit Office Handbook In Permormance Auditing :


Theory and Practice

1. Lingkup audit keuangan meliputi seluruh laporan keuangan, sedangkan audit


kinerja lebih spesifik dan fleksibel dalam pemilihan subjek, objek, dan
metodolgi audit.

2. Audit keuangan merupakan audit reguler sedangkan audit kinerja bukan


merupakan audit reguler karena tidak harus dilaksanakan setiap tahun atau
secara berkala.

Performance Audit 12
3. Opini/Pendapat yang diberikan dalam audit keuangan bersifat baku yaitu
unqualified, qualified, adverse atau disdalmer, sedangkan audit kinerja bukan
merupakan audit dengan jenis opini yang sudah ditentukan (formalized
opinion ).

4. Audit kinerja dilaksanakan dengan dasar pengetahuan yang bersifat


multidisiplin dan lebih banyak menekankan pada kemampuan analisis
daripada sebatas pengetahuan akuntansi.

5. Audit kinerja bukanlah bentuk audit berdasarkan checklist, kompleksitas, dan


keragaman. Pertanyaan dalam audit kinerja mengisyaratkan agar auditor
dibekali dengan kemampuan berkomunikasi yang baik.

3.8 Karakteristik Audit Kinerja

Adalah sesuatu yang hanya dimiliki oleh audit kinerja yang


membedakan audit kinerja dengan jenis audit lainnya . Berikut ini adalah
beberapa karakteristik dari audit kinerja:

1. Audit kinerja berusaha mencari jawaban atas dua pertanyaan dasar berikut

a. Apakah sesuatu yang benar telah dilakukan (doing the right things )?

b. Apakah sesuatu telah dilakukan dengan cara yang benar (doing the
things right)?

Pertanyaan pertama ditujukan terutama bagi pembuat kebijakan. Tujuannya


adalah untuk mengevaluasi apakah kebijakan telah diputuskan dengan tepat.
Pertanyaan kedua ditujukan untuk mengetahui sejauh mana kebijakan yang
diambil telah diterapkan dengan benar atau apakah kebijakan tersebut telah
dilaksanakan dengan cara-cara yang memadai. Kedua pertanyaan tersebut
merupakan makna dari efektivitas dan efisiensi tidak selalu berbanding lurus.
Suatu kegiatan yang telah dilakukan secara efektif belum tentu berarti bahwa
kegiatan itu telah dilakukan secara efisien, demikian juga sebaliknya.

Performance Audit 13
2. Proses audit kinerja dapat dihentikan apabila pengujian terinci dinilai tidak
akan memberikan nilai tambah yang signifikan bagi perbaikan manajemen atau
kondisi internal lembaga audit dinilai tidak mampu untuk melaksankan pengujian
terinci.

Profesor Soemardjo Tjitrosidojo (1980) memberikan karakteristik


audit kinerja sebagai berikut

a. Pemeriksaan operasional dengan menggunakan perbandingan dengan cara


pemeriksaan oleh dokter haruslah merupakan pemeriksaan semacam
“medical check up”, (penelitian kesehatan) dan bukan merupakan
pemeriksaan semacam “otopsi post mortem”(pemeriksaan mayat). Jadi,
pemeriksaan seharusnya dimaksudkan agar si pasien memperoleh petunjuk
agar ia selanjutnya dapat hidup lebih sehat dan bukan sebagai
pemeriksaan untuk menganalisis sebab-sebab kematian mayat.

b. Pemeriksa haruslah wajar (fair), objektif dan realities, mengingat bahwa ia


harus dapat menjangkau hari depan organisasi yang diperiksanya. Ia harus
dapat berpikir secara dinamis, konstruktif, dan kreatif, :mengingat bahwa
dalam tugasnya ia harus berhadapan dengan banyak orang yang sifat serta
tingkah lakunya beranekaragam. Ia harus dapat bertindak seccara diplomatis
seterusnya ia haruslah sensitif dalam menghadapi masalah-masalah yang
pelik dalam tugas serta tangguh untuk tetap bertekad meneruskan suatu
penyelidikan sampai akhirnya berhasil.

c. Pemeriksa (atau setidak-tidaknya tim pemeriksa secara kolektif ) harus


mempunyai pengetahuan dan ketrampilan dari berbagai macam bidang
seperti ekonomi, hukum, moneter, statistik, komputer, keinsinyuran, dan
sebagainya .

d. Agar pemeriksaan dapat berhasil dengan baik, pemeriksa harus dapat


berpikir dengan menggunakan sudut pandangan pejabat pimpinan organisasi
yang diperiksanya. Ia harus mendapat dukungan dari pimpinan tertinggi,
pemeriksa harus benar-benar mengetahui persoalan yang dihadapinya, dapat

Performance Audit 14
mengantisipasi masalah serta cara penyelesaiannya, dan memberikan
gambaran tentang perbaikan-perbaikan yang dapat diterapakan dalam
organisasi yang diperiksa.

e. Pemeriksaan operasional harus dapat berfungsi sebagai suatu”early warning


system” (sistem peringatan dini) agar pimpinan secara tepat pada waktunya,
setidak-tidaknya sebelum terlambat dapat mengadakan tindakan-tindakan
korektif yang mengarah kepada perbaikan organisasinya.

Karakteristik diatas sangat relevan dengan konsep audit kinerja sebagai


audit for management bukan audit to management. Dalam audit for management,
auditor harus memberikan rekomendasi perbaikan bagi manajemen sebagai upaya
peningkatan akuntabilitas dan kinerja entitas yang diaudit.

3.9 Manfaat Audit Kinerja

A. Peningkatan Kinerja

1. Mengidentifikasi Masalah dan Alternatif Penyelesaiannya

Auditor sebagai pihak independen dapat memberi pandangan kepada


manajemen untuk melihat permasalahan secara lebih detail dari sisi operasional.
Sehubungan dengan itu, auditor dapat melakukan diskusi dengan orang-orang
yang bergelut dalam operasional dan menginformasikan hal tersebut kepada
manajemen

2. Mengidentifikasi Sebab-sebab Aktual dari Suatu Masalah Yang Dapat


Dihadapi oleh Kebijaksanaan Manajemen atau Tindakan Lainnya.

Auditor harus dapat menetapkan masalah yang aktual dan solusi untuk
mengatasinya. Auditor sebaiknya tidak memberi rekomendasi atau usulan bila ia
tidak dapat membantu proses rekomendasi tersebut.

3. Mengidentifikasi Peluang dan Kemungkinan untuk Mengatasi Keborosan dan


Ketidakefisienan.

Performance Audit 15
Pengurangan biaya merupakan hal yang penting dalam audit kinerja.
Namun, penghematan biaya dapat menjadi suatu hal yang besar dalam jangka
waktu yang panjang. Biaya harus berada pada tingkat yang tepat dan jika perlu
melakukan pemotongan. Keputusan mengurangi biaya haruslah
mempertimbangankan dampaknya bagi kegiatan operasional.

4. Mengidentifikasi Kriteria untuk Menilai Pencapaian Tujuan Organisasi

Pada situasi tertentu, kriteria tidak ada. Oleh sebab itu, auditor dapat
membantu manajemen dalam membangun kriteria itu.

5. Melakukan Evaluasi atas Sistem Pengendalian Internal

Auditor harus menentukan apakah mekanisme telah menyediakan


informasi tentang efektivan operasional, yaitu: (1). Apakah ada perbedaan tingkat
kedalaman atau detail laporan; (2). Apakah ada informasi yang belum disajikan
dalam laporan; (3). Apakah indikator kerja telah dipertimbangkan dalam
penyusunan laporan.

6. Menyediakan Jalur Komunikasi antara Tataran Operasional dan Manajemen

Audit kerja dapat menjadi sarana untuk menyampaikan permasalahan yang


tidak dapat tersalurkan melalui struktur komunikasi yang telah disususun
organisasi tersebut.

7. Melaporkan Ketidakberesan

Audit kerja dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kepada manajemen


setiap penyimpangan yang terjadi sehingga kerugian dan dampak yang lebih besar
dapat diatasi.

B. Peningkatan Akuntabilitas Publik

Pada sektor publik, audit kinerja dilakukan untuk meningkatkan


akuntabilitas berupa perbaikan pertanggungjawaban manajemen kepada lembaga
perwakilan, pengembangan bentuk-bentuk laporan akuntabilitas; perbaikan

Performance Audit 16
indikator kinerja, perbaikan perbandingan pekerja antara organisasi sejenis yang
diperiksa, serta penyajian informasi yang jelas dan informatif. Perubahan dan
perbaikan dapat terjadi karena temuan atau rekomendasi audit. Umumnya,
rekomendasi dapat menjadi kunci atas perubahan dan perbaikan. Oleh sebab itu,
penyusunan rekomendasi yang baik perlu diperhatikan.

3.10 Tujuan Audit Kinerja

Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) menyatakan bahwa audit


kinerja mencakup tujuan yang luas dan bervariasi, termasuk tujuan yang berkaitan
dengan penilaian hasil dan efektivitas program, ekonomi dan efisiensi,
pengendalian internal, ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang
berlaku, serta bagaimana cara untuk meningkatkan efektivitas.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa tujuan dasar dari audit kinerja ialah menilai
suatu kinerja suatu organisasi, program, atau kegiatan yang meliputi audit atas
aspek ekonomi, efisiensi, dan efektivitas. Audit kinerja (performance audit)
merupakan perluasan atas audit laporan keuangan atas prosedur dan tujuan.

3.11 Jenis Audit Kinerja

Audit yang dilakukan dalam audit kinerja meliputi audit ekonomi, audit
efisiensi dan audit efektivitas. Audit ekonomi dan audit efisiensi disebut
management audit atau operational audit, sedangkan audit efektivitas disebut
program audit.

a. Audit Ekonomi

Konsep yang pertama dalam pengelolaan organisasi sektor publik ialah


ekonomi, yang berarti pemerolehan input dengan kualitas dan kuantitas tertentu
pada harga yang terendah. Ekonomi merupakan perbandingan antara input dan
input value yang dinyatakan dalam satuan moneter. Ekonomi terkait dengan
sejauh mana organisasi sector publik dapat meminimalisir input resource yang
digunakan, yaitu dengan menghindari pengeluaran yang boros dan tidak produktif.

Performance Audit 17
b. Audit Efisiensi

Konsep kedua dalam manajemen organisasi sector publik ialah efisiensi,


yaitu pencapaian output yang maksimal dengan input tertentu atau dengan
penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu. Efisiensi
merupkan perbandingan input/output yang dikaitkan dengan standar kinerja atau
target yang telah ditetapkan.

Dapat disimpulkan bahwa ekonomi memiliki arti biaya terendah,


sedangkan efisiensi mengacu pada rasio terbaik antara output dan biaya (input).
Ini dikarenakan keduanya diukur dalam unit yang berbeda, maka efisiensi dapat
terwujud ketika dengan sumber daya yang ada dapat dicapai output yang
maksimal atau output tertentu dapat dicapai dengan sumber daya yang sekecil-
kecilnya.

Audit ekonomi dan efisiensi bertujuan untuk menentukan suatu entitas


telah memperoleh, melindungi, menggunakan sumber dayanya secara ekonomis,
dan efisien. Selain itu, juga bertujuan untuk menentukan dan mengidentifikasi
penyebab terjadinya praktik-praktik yang tidak ekonomis dan efisien, termasuk
ketidakmampuan organisasi untuk mengelola sistem informasi, administrasi, dan
struktur organisasi.

Menurut The General Accounting Office Standards (1994), beberapa hal


yang perlu dipertimbangkan dalam audit ekonomi dan efisiensi, yaitu dengan
mempertimbangkan apakah entitas yang diaudit telah: (1) mengikuti ketentuan
pelaksanaan pengadaan yang sehat; (2) melakukan pengadaan sumber daya (jenis,
mutu dan jumlah) sesuai dengan kebutuhan pada biaya terendah; (3) melindungi
dan memelihara semua sumber daya yang ada secara memadai;(4) menghindari
duplikasi pekerjaan atau kegiatan yang tanpa tujuan atau kurang jelas tujuannya;
(5) menghindari adanya pengangguran sumber daya atau jumlah pegawai yang
berlebihan; (6) menggunakan prosedur kerja yang efisien; (7) menggunakan
sumber daya (staf, peralatan dan fasilitas) yang minimum dalam menghasilkan
atau menyerahkan barang/jasa dengan kuantitas dan kualitas yang tepat; (8)

Performance Audit 18
mematuhi persyaratan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
perolehan, pemeliharaan dan penggunaan sumber daya negara; (9) melaporkan
ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan mengenai kehematan dan
efisiensi (Mardiasmo, 2002). Untuk dapat mengetahui apakah organisasi telah
menghasilkan output yang optimal dengan sumber daya yang dimilikinya, auditor
dapat membandingkan output yang telah dicapai pada periode yang bersangkutan
dengan standar yang telah ditetapkan sebelumnya, kinerja tahun-tahunsebelumnya
dan unit lain pada organisasi yang sama atau pada organisasi yang berbeda.

c. Audit Efektifitas

Konsep yang ketiga dalam pengelolaan organisasi sektor publik adalah


efektivitas. Efektivitas berarti tingkat pencapaian hasil program dengan target
yang ditetapkan. Efektivitas merupakan perbandingan antara outcome dengan
output. Outcome seringkali dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang
hendak dicapai. Jadi dapat dikatakan bahwa efektivitas berkaitan dengan
pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Audit Commission (1986) disebutkan
bahwa efektivitas berarti menyediakan jasa-jasa yang benar sehingga
memungkinkan pihak yang berwenang untuk mengimplementasikan kebijakan
dan tujuannya.

Audit efektivitas bertujuan untuk menentukan tingkat pencapaian hasil


atau manfaat yang diinginkan, kesesuaian hasil dengan tujuan yang ditetapkan
sebelumnya dan menentukan apakah entitas yang diaudit telah
mempertimbangkan alternatif lain yang memberikan hasil yang sama dengan
biaya yang paling rendah. Secara lebih rinci, tujuan pelaksanaan audit efektivitas
atau audit program adalah dalam rangka: (1) menilai tujuan program, baik yang
baru maupun yang sudah berjalan, apakah sudah memadai dan tepat; (2)
menentukan tingkat pencapaian hasil suatu program yang diinginkan; (3) menilai
efektivitas program dan atau unsur-unsur program secara terpisah; (4)
mengidentifikasi faktor yang menghambat pelaksanaan kinerja yang baik dan
memuaskan; (5) menentukan apakah manajemen telah mempertimbangkan

Performance Audit 19
alternatif untuk melaksanakan program yang mungkin dapat memberikan hasil
yang lebih baik dan dengan biaya yang lebih rendah; (6) menentukan apakah
program tersebut saling melengkapi, tumpang-tindih atau bertentangan dengan
program lain yang terkait; (7) mengidentifikasi cara untuk dapat melaksanakan
program tersebut dengan lebih baik; (8) menilai ketaatan terhadap peraturan
perundangundangan yang berlaku untuk program tersebut; (9) menilai apakah
sistem pengendalian manajemen sudah cukup memadai untuk mengukur,
melaporkan dan memantau tingkat efektivitas program; (10) menentukan apakah
manajemen telah melaporkan ukuran yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan
mengenai efektivitas program. Efektivitas berkenaan dengan dampak suatu output
bagi pengguna jasa. Untuk mengukur efektivitas suatu kegiatan harus didasarkan
pada kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya. Jika hal ini belum tersedia,
auditor bekerja sama dengan manajemen puncak dan badan pembuat keputusan
untuk menghasilkan kriteria tersebut dengan berpedoman pada tujuan pelaksanaan
suatu program. Meskipun efektivitas suatu program tidak dapat diukur secara
langsung, ada beberapa alternatif yang dapat digunakan untuk mengevaluasi
pelaksanaan suatu program, yaitu mengukur dampak atau pengaruh evaluasi oleh
konsumen dan evaluasi yang menitikberatkan pada proses, bukan pada hasil.
Tingkat komplain dan tingkat permintaan dari pengguna jasa dapat dijadikan
sebagai pengukuran standar kinerja yang sederhana untuk berbagai jasa. Evaluasi
terhadap pelaksanaan suatu program hendaknya mempertimbangkan apakah
program tersebut relevan atau realistis, apakah ada pengaruh dari program
tersebut, apakah program telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan apakah
ada cara-cara yang lebih baik dalam mencapai hasil.

3.12 Proses dan Tahapan Audit Kinerja

PROSES AUDIT

Secara umum, proses audit kinerja memiliki sistematika:

1. Struktur audit kinerja


2. Tahapan audit kinerja

Performance Audit 20
3. Kriteria atau indikator yang menjadi tolok ukur audit kinerja.
1. Struktur Audit Kinerja

Pada dasarya, struktur audit adalah sama, hal yg membedakan adalah


spesific tasks pada tiap tahap audit yg menggambarkan kebutuhan dari masing-
masing audit.

Secara umum, struktur audit kinerja terdiri atas:

a. Tahap-tahap audit

b. Elemen masing-masing tahap audit

c. Tujuan umum masing-masing elemen

d. Tugas-tugas yang diperlukan utuk mencapai setiap tujuan

2. Tahapan Audit Kinerja

Audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan
dan prosedurya. Berdasarkan kerangka umum struktur audit di atas, dapat
dikembangkan struktur audit kinerja yang terdiri atas:

A. Tahap pengenalan dan perencanaan (familiarization and planning phase)

B. Tahap pengauditan (audit phase)

C. Tahap pelaporan (reporting phase)

D. Tahap penindaklanjutan (follow-up phase)

TAHAP ELEMEN
Tahap Pengenalan dan Perencanaan Survei pendahuluan
(farmiliarization and planing phase) Review SPM
Tahapan Audit Review hasil-hasil Program
Review Finansial
Review Kepatuhan

Performance Audit 21
Tahap Pelaporan Persiapan Laporan
Review dan Revisi
Pengiriman dan Penyajian Laporan
Tahap Penindaklajutan Desain Follow Up
Investigasi
Pelaporan

3.13 Peran Auditor dalam Audit Kinerja

Kualitas audit sektor publik pemerintah ditentukan oleh kapabilitas


teknikal auditor dan independensi auditor. Kapabilitas teknikal auditor telah diatur
dalam standar umum pertama, yaitu bahwa staf yang ditugasi untuk melaksanakan
audit harus secara kolektif memiliki kecakapan profesional yang memadai untuk
tugas yang disyaratkan, serta pada standar umum yang ketiga, yaitu bahwa dalam
pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan
kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama. Disamping standar umum,
seluruh standar pekerjaan lapangan juga menggambarkan perlunya kapabilitas
teknikal seorang auditor.

Selain itu, independensi auditor juga diperlukan, karena auditor sering


disebut sebagai pihak pertama dan memegang peran utama dalam pelaksanaan
audit kinerja, sebab auditor dapat mengakses informasi keuangan dan informasi
manajemen dari organisasi yang diaudit, memiliki kemampuan professional dan
bersifat independen. Walaupun pada kenyataannya prinsip independen ini sulit
untuk benar-benar dilaksanakan secara mutlak, antara auditor dan audite harus
berusaha untuk menjaga independensi tersebut sehingga tujuan audit dapat
tercapai.

Berikut merupakan peran auditor dalam proses audit kinerja:

Performance Audit 22
a. Memberikan review independen dari pihak ketiga atas kinerja manajemen
dan menilai apakah kinerja organisasi dapat memenuhi harapan.

b. Memberikan rekomendasi dan solusi untuk mengatasi permasalahan yang


terjadi.

c. Membantu manajemen mencapai kinerja yang baik dengan


memperkenalkan pendekatan yang sistematis untuk mengevaluasi dan
meningkatkan efektivitas pengendalian intern serta memberikan catatam
atas kekurangan yang ditemukan selama melakukan evaluasi.

Performance Audit 23
IV. PENUTUPAN

4.1 Simpulan

Audit kinerja mengalami perkembangan dan perubahan dari periode ke


periode sesuai dengan perkembangan zaman. Beberapa tahun belakangan ini,
audit kinerja memiliki peran yang sangat esensial khususnya dalam melakukan
audit pada sektor publik. Ini disebabkan terus meningkatnya tuntutan dari
masyarakat agar organisasi sektor publik mempertahankan kualitasnya. Dengan
adanya audit kinerja, masyarakat dalam mengetahui kinerja yang lebih lengkap
dari organisasi pemerintahan yang mengelola dana mereka serta dapat membantu
pemimpin organisasi tersebut dalam pelaksanakan tugas dan tanggung jawab, dan
memberikan informasi yang bermutu, tepat waktu untuk pengambilan keputusan,
dalam rangka pencapaian tujuan yaitu efesiensi dan efektif operasi.

Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan


kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang
diaudit. Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh
dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara
independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil
yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang
berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan kriteria
yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan hasilnya kepada
pihak-pihak pengguna laporan tersebut.

Kemampuan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) dari sektor publik


pemerintah sangat tergantung pada kualitas audit sektor publik. Tanpa kualitas
audit yang baik, maka akan timbul permasalahan, seperti munculnya kecurangan,
korupsi, kolusi dan berbagai ketidakberesan di pemerintahan.

Performance Audit 24
DAFTAR PUSTAKA

1. Bastian, Indra. 2011. Audit Sektor Publik.Edisi 2. Salemba Empat:


Jakarta
2. Ulum, Ihyaul. 2009. Audit sektor publik: Suatu Pengantar. Bumi
Aksara: Jakarta.
3. I Gusti Agung Rai. 2008. Audit Kinerja pada Sektor Publik:
Konsep, Praktik, Studi Kasus. Salemba Empat: Jakarta
4. Ely Suhayati. OPTIMALISASI KINERJA PEMERINTAH
DAERAH MELALUI PERFORMANCE AUDIT dalam
http://jurnal.unikom.ac.id/_s/data/jurnal/v06-n02/vol-6-
5. artikel-8.pdf/pdf/vol-6-artikel-8.pdf diunduh pada Selasa, 13
November 2012 jam 18.00.
6. http://www.saiindia.gov.in/english/home/public_folder/training/Str
ucture%20Training%20Module/Performance%20Audit/Day%201/
Session%203/CHAPTER%201%20DAY%201%20.ppt
7. www.slideshare.net/frenkilestari/12-proses-audit-kinerja‎

Performance Audit 25