You are on page 1of 11

Aku

(Chairil Anwar)

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu Aku ini binatang jalang Dari kumpulannya terbuang Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang menerjang Luka dan bisa kubawa berlari Berlari Hingga hilang pedih peri Dan aku akan lebih tidak perduli Aku mau hidup seribu tahun lagi

NYANYIAN TANAH AIR Karya Sitor Situmorang

Gunung-gunung perkasa, lembah-lembah yang akan tinggal menganga dalam hatiku. Tanah airku, saya mengembara dalam bus dalam kereta api yang bernyanyi. Tak habis-habisnya hasrat menyanjung dan memuja engkau dalam laguku.

Bumi yang tahan dalam derita, sukmamu tinggal terpendam bawah puing-puing, bawah darah kering di luka, pada denyut daging muda Damaikan kiranya anak-anakmu yang dendam dan sakit hati, ya Ibu yang parah dalam duka-kasihku!

Kutatap setiap mata di stasiun, pada jendela-jendela terbuka kucari fajar semangat yang pijar bernyala-nyala surya esok hari, matahari sawah dan sungai kami di langit yang bebas terbuka, langit burung-burung merpati

1963

Negeriku

Gusmus

mana ada negeri sesubur negeriku?

sawahnya tak hanya menumbuhkan padi, tebu, dan jagung

tapi juga pabrik, tempat rekreasi, dan gedung

perabot-perabot orang kaya didunia

dan burung-burung indah piaraan mereka

berasal dari hutanku

ikan-ikan pilihan yang mereka santap

bermula dari lautku

emas dan perak perhiasan mereka

digali dari tambangku

air bersih yang mereka minum

bersumber dari keringatku

mana ada negeri sekaya negeriku?

majikan-majikan bangsaku

memiliki buruh-buruh mancanegara

brankas-brankas ternama di mana-mana

menyimpan harta-hartaku

negeriku menumbuhkan konglomerat

dan mengikis habis kaum melarat

rata-rata pemimpin negeriku

dan handai taulannya

terkaya di dunia

mana ada negeri semakmur negeriku

penganggur-penganggur diberi perumahan

gaji dan pensiun setiap bulan

rakyat-rakyat kecil menyumbang

negara tanpa imbalan

rampok-rampok dibri rekomendasi

dengan kop sakti instansi

maling-maling diberi konsesi

tikus dan kucing

dengan asyik berkolusi

(Mustofa Bisri 1414)

Selamat pagi Indonesia Sapardji djoko damono

selamat pagi, Indonesia, seekor burung mungil mengangguk dan menyanyi kecil buatmu. aku pun sudah selesai, tinggal mengenakan sepatu, dan kemudian pergi untuk mewujudkan setiaku padamu dalam kerja yang sederhana; bibirku tak biasa mengucapkan kata-kata yang sukar dan tanganku terlalu kurus untuk mengacu terkepal. selalu kujumpai kau di bawah anak-anak sekolah,

  • di mata para perempuan yang sabar,

  • di telapak tangan yang membatu para pekerja jalanan;

kami telah bersahabat dengan kenyataan untuk diam-diam mencintaimu. pada suatu hari tentu kukerjakan sesuatu agar tak sia-sia kau melahirkanku. seekor ayam jantan menegak, dan menjeritkan salam padamu, kubayangkan sehelai bendera berkibar di sayapnya. aku pun pergi bekerja, menaklukkan kejemuan, merubahkan kesangsian, dan menyusun batu-demi batu ketabahan, benteng kemerdekaanmu pada setiap matahari terbit, o anak jaman yang megah, biarkan aku memandang ke Timur untuk mengenangmu wajah-wajah yang penuh anak-anak sekolah berkilat, para perempuan menyalakan api, dan di telapak tangan para lelaki yang tabah telah hancur kristal-kristal dusta, khianat dan pura-pura. selamat pagi, Indonesia, seekor burung kecil memberi salam kepada si anak kecil; terasa benar: aku tak lain milikmu

Sapardi Djoko Damono

Air mata

karya : Sutardji Calzoum Bachri

Tanah airmata tanah tumpah dukaku mata air airmata kami airmata tanah air kami

  • di sinilah kami berdiri

menyanyikan airmata kami

  • di balik gembur subur tanahmu

kami simpan perih kami

  • di balik etalase megah gedung-gedungmu

kami coba sembunyikan derita kami kami coba simpan nestapa kami coba kuburkan duka lara tapi perih tak bisa sembunyi ia merebak kemana-mana bumi memang tak sebatas pandang dan udara luas menunggu namun kalian takkan bisa menyingkir ke manapun melangkah kalian pijak airmata kami ke manapun terbang kalian kan hinggap di air mata kami ke manapun berlayar kalian arungi airmata kami kalian sudah terkepung takkan bisa mengelak takkan bisa ke mana pergi

menyerahlah pada kedalaman air mata

(1991

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO CHAIRIL ANWAR

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji Aku sudah cukup lama dengan bicaramu dipanggang diatas apimu, digarami lautmu Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945 Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat

  • Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar

  • Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

1948

KITA ADALAH PEMILIK SAH REPUBLIK INI

Karya : Taufiq Ismail

Tidak ada pilihan lain Kita harus Berjalan terus Karena berhenti atau mundur Berarti hancur Apakah akan kita jual keyakinan kita Dalam pengabdian tanpa harga Akan maukah kita duduk satu meja Dengan para pembunuh tahun yang lalu Dalam setiap kalimat yang berakhiran "Duli Tuanku ?"

Tidak ada lagi pilihan lain Kita harus Berjalan terus Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan Dan seribu pengeras suara yang hampa suara Tidak ada lagi pilihan lain Kita harus Berjalan terus.

1966

MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?

MASIH MERDEKAKAH KAU INDONESIA?

Masih merdekakah kau Indonesia setelah kau rajut usia dari debu-debu jalan raya dalam kaleng rombeng recehan angka milik pengemis belia yang mendendangkan kidung lara bersama hembusan dupa dari opelet tua asih merdekakah kau Indonesia ketika musyawarah berubah dari mufakat menjadi siasat ketika wakil rakyat lebih mewakili penjahat ketika gedung dewan lebih mirip kandang hewan dan ketika pejabat negara tega menjadi pengkhianat bangsa Masih merdekakah kau Indonesia dalam kemerdekaan yang kau sendiri tak paham maknanya karena matamu telah dibutakan dan mulutmu disekat rapat-rapat serta telinga cuma sekedar bunga tanpa rupa Masih merdekakah kau Indonesia padahal telah banyak disumbangkan darah dan air mata dan berjuta nyawa yang akhirnya cuma sekedar wana luka Masih merdekakah kau Indonesia?

Nyanyian Kemerdekaan

(karya Ahmadun Yosi Hervanda)

hanya kau yang kupilih, kemerdekaan di antara pahit-manisnya isi dunia akankah kaubiarkan aku duduk berduka memandang saudaraku, bunda tercintaku dipasung orang asing itu? mulutnya yang kelu tak mampu lagi menyebut namamu

Berabad-abad kau terlelap Bagai laut kau kehilangan ombak Burung-burung yang semula Bebas dihutannya Digiring ke sangkar-sangkar Tak bebas mengucapkan kicaunya

Hanya kau yang ku pilih Darah dan degup jantungmu Hanya kau yang ku pilih Diantara pahit-manisnya isi dunia

Orang asing itu berabad-abad Memujamu dingerinya Namun di negriku Mereka berikan belengu-belenggu Maka bangkitlah Sutomo Bangkitlah Wahidin Sudirohusodo Bangkitlah Ki Hajar Dewantara Bangkitlah semua dada yang terluka

-Bergenggam tanganlah dengan saudaramu Eratkan genggaman tangan itu atas namaku Kekuatan yang memancar dari genggaman itu Suaramu sayup diudara Membangunkanku dari mimpi siang yang celaka Hanya kau yang kupilih, kemerdekaan

antara pahit-manisnya isi dunia

Di

antara pahit-manisnya isi dunia Di
antara pahit-manisnya isi dunia Di

Berikan degup jantungmu Otot-otot dan derap langkahmu Biar kurterjang pintu-pintu terkunci itu Dan mendobraknya atas namamu

Terlalu pengap Udara yang tak tertiup Dari rahimmu Jantungku hamper tumpas

Karena racunnya ( matahari yang kita tunggu Akhirnya bersinar juga

  • Di langit kita )