You are on page 1of 51

MAKALAH BUDAYA ANTI KORUPSI

“Reformasi Birokrasi Visi dan Misi Serta Tujuan dan Sistem


Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) Sebagai Bagian Anti
Korupsi ”

Dosen Pembimbing:
Aticeh, SST, M.Keb
Novita Rina Antarsih, S.ST, M.Biomed

Disusun Oleh:

Amelia Putri W Ruth Christy S


(P3.73.24.3.15.002) (P3.73.24.3.15.027)
Tutut Hardiyanti
Muftia Maesaroh
(P3.73.24.3.15.036)
(P3.73.24.3.15.017)
Ummi Jamiatus S
Puspa Sekar M
(P3.73.24.3.15.038)
(P3.73.24.3.15.023)

POLTEKKES KEMENKES JAKARTA III


PRODI D-IV KEBIDANAN

1
2018

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.Yang telah
memberikan banyak nikmat-Nya kepada kami. Sehingga kami mampu
menyelesaikan makalah ini sesuai dengan waktu yang kami rencanakan.Makalah
ini yang berjudul “Reformasi Birokrasi Visi dan Misi Serta Tujuan dan Sistem
Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) Sebagai Bagian Anti Korupsi” kami buat
dalam rangka memenuhi salah satu syarat penilaian mata kuliah Budaya Anti
Korupsi yang meliputi nilai tugas, nilai kelompok, nilai individu, dan nilai
keaktifan.
Kami ucapkan terima kasih kepada pembimbing mata Budaya Anti Korupsi
yaitu Ibu Aticeh, SST, M. Keb dan Novita Rina Antarsih, S.ST, M.Biomedyang
telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini.Tidak lupa pula kepada
teman-teman yang telah ikut berpartisipasi sehingga makalah ini selesai tepat pada
waktunya.
Kami sebagai penyusun pastinya tidak pernah lepas dari kesalahan.
Begitu pula dalam penyusunan makalah ini yang mempunyai banyak
kekurangan.Oleh karena itu, kami mohon maaf atas segala kekurangannya.

Jakarta, November 2018

Penyusun

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................iii
BAB I...................................................................................................................................1
PENDAHULUAN................................................................................................................1
A. Latar Belakang..........................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.....................................................................................................2
C. Tujuan Penulisan.......................................................................................................2
BAB II..................................................................................................................................4
PEMBAHASAN...................................................................................................................4
A. Pemahaman Reformasi Birokrasi..............................................................................4
B. Program Kementerian Kesehatan dalam UpayamPencegahan Korupsi..................14
C. Faktor Sukses Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Reformasi Birokrasi..........17
D. Rumusan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi....................18
1. Strategi pemberantasan...........................................................................................18
2. Upaya pencegahan..................................................................................................21
E. Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP)...................................................27
F. Pembagunan Zona Integritas...................................................................................29
G. Tujuan Pengawasan dan Prinsip – Prinsip dalam Pelaksanaan Pengawasan...........37
1. Tujuan.....................................................................................................................37
2. Prinsip.....................................................................................................................39
H. Penilaian Satuan Kerja Berpredikat WBK dan WBBM..........................................43
BAB III...............................................................................................................................45
PENUTUP..........................................................................................................................45
A. Kesimpulan................................................................................................................45
B. Saran..........................................................................................................................45
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................46

4
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan


keberhasilannya dalam melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai
suatu proses perubahan yang direncanakan mencakup semua aspek kehidupan
masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan terutama ditentukan
oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang terlibat
sejak dari perencanaan sampai pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara
dua faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya. Indonesia
merupakan salah satu negara terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman
kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya, negara tercinta ini
dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah merupakan sebuah
negara yang kaya malahan termasuk negara yang miskin. Mengapa demikian?
Salah satu penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusianya.
Kualitas tersebut bukan hanya dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi
juga menyangkut kualitas moral dan kepribadiannya. Rapuhnya moral dan
rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara negara menyebabkan
terjadinya korupsi. Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan patologi
social (penyakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam semua aspek
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah
mengakibatkan kerugian materiil keuangan negara yang sangat besar. Namun
yang lebih memprihatinkan lagi adalah terjadinya perampasan dan pengurasan
keuangan negara yang dilakukan secara kolektif oleh kalangan anggota
legislatif dengan dalih studi banding, THR, uang pesangon dan lain sebagainya
di luar batas kewajaran. Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara
demikian terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan
cerminan rendahnya moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah

1
sikap kerakusan dan aji mumpung. Persoalannya adalah dapatkah korupsi
diberantas? Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju, adalah korupsi harus
diberantas. Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak
mengurangi sampai pada titik nadir yang paling rendah maka jangan harap
Negara ini akan mampu mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara lain
untuk menjadi sebuah negara yang maju. Karena korupsi membawa dampak
negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara ke jurang kehancuran.
Oleh karena itu kelompok membahas materi mengenai “Reformasi Birokrasi
Visi dan Misi Serta Tujuan dan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP)
Sebagai Bagian Anti Korupsi” sebagai salah satu cara untuk mencegah korupsi
itu terjadi.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pemahaman reformasi birokrasi?


2. Apa yang dimaksud dengan program kementerian kesehatan dalam
upayampencegahan korupsi?
3. Apa yang dimaksud dengan faktor sukses penting yang perlu diperhatikan
dalam reformasi birokrasi?
4. Apa yang dimaksud dengan rumusan strategi nasional pencegahan dan
pemberantasan korupsi?
5. Apa yang dimaksud dengan sistem pengendalian internal pemerintah
(SPIP)?
6. Apa yang dimaksud dengan pembagunan zona integritas?
7. Apa yang dimaksud dengan tujuan pengawasan dan prinsip – prinsip dalam
pelaksanaan pengawasan?
8. Apa yang dimaksud dengan penilaian satuan kerja berpredikat WBK dan
WBBM?
C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui pemahaman tentang reformasi birokrasi

2
2. Mengetahui pemahaman tentang program kementerian kesehatan dalam
upayampencegahan korupsi
3. Mengetahui pemahaman tentang faktor sukses penting yang perlu
diperhatikan dalam reformasi birokrasi
4. Mengetahui pemahaman tentang rumusan strategi nasional pencegahan dan
pemberantasan korupsi
5. Mengetahui pemahaman tentang sistem pengendalian internal pemerintah
(SPIP)
6. Mengetahui pemahaman tentang pembagunan zona integritas
7. Mengetahui pemahaman tentang tujuan pengawasan dan prinsip – prinsip
dalam pelaksanaan pengawasan
8. Mengetahui pemahaman tentang penilaian satuan kerja berpredikat WBK
dan WBBM

3
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pemahaman Reformasi Birokrasi

1. Pengertian dan Dasar hukum Reformasi dan Birokrasi


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, reformasi adalah
perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial, politik, atau
agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Jika dalam hukum,
reformasi diartikan sebagai perubahan secara drastis untuk perbaikan
dalam bidang hukum dalam suatu masyarakat atau negara. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, birokrasi adalah sistem pemerintahan
yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena telah berpegang pada
hierarki dan jenjang jabatan. Ditinjau dari segi bahasa, birokrasi berasal
dari bahasa Yunani, kratein yang berarti mengatur. Dalam bahasa
Prancis, kata birokrasi disinonimkan dengan kata bureau yang berarti
kantor. Secara umum, Reformasi birokrasi pada hakikatnya merupakan
upaya untuk melakukan pembaharuan dan perubahan mendasar terhadap
sistem penyelenggaraan pemerintahan terutama menyangkut aspek-
aspek kelembagaan (organisasi), ketatalaksanaan (business prosess) dan
sumber daya manusia aparatur. Dengan demikian, reformasi birorasi
berarti :
a. Perubahan cara berpikir (pola pikir, pola sikap, dan pola tindak)
b. Mendahulukan peranan dari wewenang
c. Tidak berpikir hasil produksi tetapi hasil akhir
d. Perubahan manajemen kerja
e. Mewujudkan pemerintahan yang baik, bersih, transparan dan
profesional, bebas KKN, melalui penataan kelembagaan, penataan
ketatalaksanaan, penataan sumber daya manusia, akuntabilitas

4
kinerja yang berkualitas efisien, efektif dan kondusif serta pelayanan
yang prima (konsisten da transparan).
Dalam rangka mempercepat tercapainya tata kelola pemerintahan
yang baik, maka dipandang perlu melakukan reformasi birokrasi di
seluruh Kementrian/ Lembaga/ Pemerintah Daerah, karena sebab itulah
reformasi birokrasi diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun
2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025. Dasar
hukum reformasi birokrasi yang lain diatur pula dalam beberapa
Peraturan Perundang-undangan sebagai berikut ini:
a. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara
Negara yang Bersih dan Bebas KKN;
c. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok
Kepegawaian;
d. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;
e. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara;
f. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaaan
Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara;
g. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional;
h. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah;
i. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005–2025;
j. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian
Negara;
k. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
l. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009;

5
m. Keputusan Presiden Nomor 84/P/2009 tentang Pembentukan Kabinet
Indonesia Bersatu II Periode 2009-2014;
n. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2010–2014;
o. Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pembentukan
Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional dan Tim Reformasi
Birokrasi Nasional

2. Kondisi Reformasi dan Birokrasi saat ini


Reformasi yang sudah dilakukan sejak terjadinya krisis multidimensi
tahun 1998 atau lebih dari sepuluh tahun terakhir telah berhasil meletakkan
landasan politik bagi kehidupan demokrasi di Indonesia. Berbagai
perubahan dalam sistem penyelenggaraan negara, revitalisasi lembaga-
lembaga tinggi negara, dan pemilihan umum dilakukan dalam rangka
membangun pemerintahan negara yang mampu berjalan dengan baik (good
governance). Dalam bidang ekonomi, reformasi juga telah mampu
membawa kondisi ekonomi yang semakin baik, sehingga mengantarkan
Indonesia kembali ke dalam jajaran middle income countries (MICs). Oleh
karena itu, Indonesia dipandang sebagai negara yang berhasil melalui masa
krisis dengan baik. Meskipun demikian, kondisi itu belum mampu
mengangkat Indonesia ke posisi yang sejajar dengan negara-negara lain,
baik negara-negara di Asia Tenggara maupun di Asia. Dalam hal
perwujudan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN, masih banyak hal
yang harus diselesaikan dalam kaitan pemberantasan korupsi. Hal ini antara
lain ditunjukkan dari data Transparency International pada tahun 2009,
Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia masih rendah (2,8 dari 10) jika
dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara, kualitasnya masih perlu banyak pembenahan
termasuk dalam penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan Standar
Akuntansi Pemerintah (SAP). Opini Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas
laporan keuangan K/L dan Pemda masih banyak yang perlu ditingkatkan

6
menuju ke opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Dalam hal pelayanan
publik, pemerintah belum dapat menyediakan pelayanan publik yang
berkualitas sesuai dengan tantangan yang dihadapi, yaitu perkembangan
kebutuhan masyarakat yang semakin maju dan persaingan global yang
semakin ketat. Hal ini dapat dilihat dari hasil survei integritas yang
dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2009 yang
menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik Indonesia baru mencapai
skor 6,64 dari skala 10 untuk instansi pusat, sedangkan pada tahun 2008
skor untuk unit pelayanan publik di daerah sebesar 6,69. Skor integritas
menunjukkan karakteristik kualitas dalam pelayanan publik, seperti ada
tidaknya suap, ada tidaknya Standard Operating Procedures (SOP),
kesesuaian proses pelayanan dengan SOP yang ada, keterbukaan informasi,
keadilan dan kecepatan dalam pemberian pelayanan, dan kemudahan
masyarakat melakukan pengaduan.

3. Tujuan Reformasi dan Birokrasi


Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010 tentang
Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025, reformasi birokrasi
bertujuan untuk menciptakan birokrasi pemerintah yang profesional dengan
karakteristik adaptif, berintegritas, berkinerja tinggi, bersih dan bebas KKN,
mampu melayani publik, netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang
teguh nilai-nilai dasar dan kode etik aparatur negara. Tujuan reformasi
birokrasi diantaranya:
a. Mengurangi dan akhirnya menghilangkan setiap penyalahgunaan
kewenangan publik oleh pejabat di instansi yang bersangkuan;
b. Menjadikan negara yang memiliki most-improved bureaucracy;
c. Meningkatkan mutu pelayanan kepada masayrakat;
d. Meningkatkan mutu perumusan dan pelaksanaan kebijakan/program
instansi;
e. Meningkatkan efisiensi (biaya dan waktu) dalam pelaksanaan semua
segi tugas organisasi;

7
f. Menjadikan birokrasi Indonesia antisipatif, proaktif, dan efektif
dalam menghadapi globalisasi dan dinamika perubahan lingkungan
strategis.

4. Ruang lingkup Grand Design Reformasi Birokrasi


Rencana pembangunan aparatur negara yang holistik sudah
dituangkan dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, dan
Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Salah satu prioritas
peraturan tersebut adalah pemantapan reformasi birokrasi instansi. Oleh
karena itu, ruang lingkup Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025
difokuskan pada reformasi birokrasi pemerintah
Grand Design Reformasi Birokrasi adalah rancangan induk yang
berisi arah kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi nasional untuk
kurun waktu 2010-2025. Sedangkan Road Map Reformasi Birokrasi
adalah bentuk operasionalisasi Grand Design Reformasi Birokrasi yang
disusun dan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali dan merupakan
rencana rinci reformasi birokrasi dari satu tahapan ke tahapan
selanjutnya selama lima tahun dengan sasaran per tahun yang jelas.
Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 ditetapkan dengan
Peraturan Presiden, sedangkan Road Map Reformasi Birokrasi 2010-
2014 ditetapkan dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi agar dapat memiliki sifat
fleksibilitas sebagai suatu living document. Grand Design Reformasi
Birokrasi 2010-2025 dan Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014
merupakan penyempurnaan dari Peraturan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara (Permenpan) Nomor:
PER/15/M.PAN/7/2008 tentang Pedoman Umum Reformasi Birokrasi
dan Permenpan Nomor: PER/04/M.PAN/4/2009 tentang Pedoman

8
Pengajuan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi di Lingkungan
Kementerian/ Lembaga/ Pemerintah Daerah.

Grand Design Reformasi Birokrasi bertujuan untuk


memberikan arah kebijakan pelaksanaan reformasi birokrasi
nasional selama kurun waktu 2010-2025 agar reformasi birokrasi di
K/L dan Pemda dapat ber- jalan secara efektif, efisien, terukur,
konsisten, terintegrasi, melembaga, dan berkelanjutan. Kebijakan
pelaksanaan reformasi birokrasi meliputi visi pembangunan
nasional, arah kebijakan reformasi birokrasi, visi, misi, tujuan, dan
sasaran reformasi birokrasi. Grand Design Reformasi Birokrasi
(GDRB) 2010-2025 menjadi pedoman dalam penyusunan Road Map
Reformasi Birokrasi (RMRB) 2010-2014. Selanjutnya, GDRB 2010-
2025 dan RMRB 2010-2014, RMRB 2015-2019, RMRB 2020-2024,
menjadi pedoman bagi K/L dan Pemda dalam menyusun road map
masing-masing dalam pelaksanaan reformasi birokrasi.

9
5. Arah Kebijakan Reformasi dan Birokrasi
a. Pembangunan aparatur negara dilakukan melalui reformasi birokrasi
untuk meningkatkan profesionalisme aparatur negara dan untuk
mewujudkan tata pemerintahan yang baik, baik di pusat maupun di
daerah agar mampu mendukung keberhasilan pembangunan di
bidang lainnya (UU No. 17 Tahun 2007 tentang RPJPN 2005-2025).
b. Kebijakan pembangunan di bidang hukum dan aparatur diarahkan
pada perbaikan tata kelola pemerintahan yang baik melalui
pemantapan pelaksanaan reformasi birokrasi (Perpres No. 5 tahun
2010 tentang RPJMN 2010-2014).

6. Visi Reformasi Birokrasi


Visi reformasi birokrasi adalah “Terwujudnya Pemerintahan Kelas
Dunia”. Visi tersebut menjadi acuan dalam mewujudkan pemerintahan
kelas dunia, yaitu pemerintahan yang profesional dan berintegritas
tinggi yang mampu menyelenggarakan pelayanan prima kepada
masyarakat dan manajemen pemerintahan yang demokratis agar mampu
menghadapi tantangan pada abad ke-21 melalui tata pemerintahan yang
baik pada tahun 2025.

7. Misi Reformasi Birokrasi


Reformasi Birokrasi memiliki beberapa misi sebagai berikut:
a. membentuk/menyempurnakan peraturan perundang-undangan
dalam rangka mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik;
b. melakukan penataan dan penguatan organisasi, tatalaksana,
manajemen sumber daya manusia aparatur, pengawasan,
akuntabilitas, kualitas pelayanan publik, mind set dan culture set;
c. mengembangkan mekanisme kontrol yang efektif;
d. mengelola sengketa administratif secara efektif dan efisien.

10
8. Tujuan Reformasi Birokrasi
Reformasi birokrasi bertujuan untuk menciptakan birokrasi
pemerintah yang profesional dengan karakteristik adaptif, berintegritas,
berkinerja tinggi, bersih dan bebas KKN, mampu melayani publik,
netral, sejahtera, berdedikasi, dan memegang teguh nilai-nilai dasar dan
kode etik aparatur negara. Adapun area perubahan yang menjadi tujuan
reformasi birokrasi meliputi seluruh aspek manajemen pemerintahan

9. Sasaran Reformasi Birokrasi


Sasaran reformasi birokrasi adalah:
a. terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kolusi,
dan nepotisme;
b. meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat;
c. meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi.

10. Prinsip-prinsip Reformasi Birokrasi


Beberapa prinsip dalam melaksanakan reformasi birokrasi dapat
dikemukakan sebagai berikut.

11
a. Outcomes oriented
Seluruh program dan kegiatan yang dilaksanakan dalam kaitan
dengan reformasi birokrasi harus dapat mencapai hasil (outcomes)
yang mengarah pada peningkatan kualitas kelembagaan, tatalaksana,
peraturan perundang-undangan, manajemen SDM aparatur,
pengawasan, akuntabilitas, kualitas pelayanan publik, perubahan
pola pikir (mind set) dan budaya kerja (culture set) aparatur. Kondisi
ini diharapkan akan meningkatkan kepercayaan masyarakat dan
membawa pemerintahan Indonesia menuju pada pemerintahan kelas
dunia.
b. Terukur
Pelaksanaan reformasi birokrasi yang dirancang dengan outcomes
oriented harus dilakukan secara terukur dan jelas target serta waktu
pencapaiannya.
c. Efisien
Pelaksanaan reformasi birokrasi yang dirancang dengan outcomes
oriented harus memperhatikan pemanfaatan sumber daya yang ada
secara efisien dan profesional.
d. Efektif
Reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara efektif sesuai dengan
target pencapaian sasaran reformasi birokrasi.
e. Realistik
Outputs dan outcomes dari pelaksanaan kegiatan dan program
ditentukan secara realistik dan dapat dicapai secara optimal.
f. Konsisten
Reformasi birokrasi harus dilaksanakan secara konsisten dari waktu
ke waktu, dan mencakup seluruh tingkatan pemerintahan, termasuk
individu pegawai.
g. Sinergi
Pelaksanaan program dan kegiatan dilakukan secara sinergi. Satu
tahapan kegiatan harus memberikan dampak positif bagi tahapan

12
kegiatan lainnya, satu program harus memberikan dampak positif
bagi program lainnya. Kegiatan yang dilakukan satu instansi
pemerintah harus memperhatikan keterkaitan dengan kegiatan yang
dilakukan oleh instansi pemerintah lainnya, dan harus menghindari
adanya tumpang tindih antarkegiatan di setiap instansi.
h. Inovatif
Reformasi birokrasi memberikan ruang gerak yang luas bagi K/L
dan Pemda untuk melakukan inovasi-inovasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan, pertukaran pengetahuan, dan best practices untuk
menghasilkan kinerja yang lebih baik.
i. Kepatuhan
Reformasi birokrasi harus dilakukan sesuai dengan peraturan
perundang- undangan.
j. Dimonitor
Pelaksanaan reformasi birokrasi harus dimonitor secara melembaga
untuk memastikan semua tahapan dilalui dengan baik, target dicapai
sesuai dengan rencana, dan penyimpangan segera dapat diketahui
dan dapat dilakukan perbaikan.

11. Sasaran Lima Tahunan Reformasi Birokrasi


Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang RPJPN Tahun 2005-
2025 menetapkan tahapan pembangunan yang meliputi periode RPJMN
I (2005-2009), periode RPJMN II (2010-2014), periode RPJMN III
(2015- 2019), dan periode RPJMN IV (2020-2024). Sasaran lima
tahunan dalam Grand Design Reformasi Birokrasi ini mengacu pada
periodisasi tahapan pembangunan sebagaimana tercantum dalam RPJPN
2005-2025.
a. Sasaran lima tahun pertama (2010-2014) Sasaran reformasi birokrasi
pada lima tahun pertama difokuskan pada penguatan birokrasi
pemerintah dalam rangka mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
bebas KKN, meningkatkan kualitas pelayanan publik kepada

13
masyarakat, serta meningkatkan kapasitas dan akuntabilitas kinerja
birokrasi.
b. Sasaran lima tahun kedua (2015-2019) Selain implementasi hasil-
hasil yang sudah dicapai pada lima tahun pertama, pada lima tahun
kedua juga dilanjutkan upaya yang belum dicapai pada berbagai
komponen strategis birokrasi pemerintah pada lima tahun pertama.
c. Sasaran lima tahun ketiga (2020-2024) Pada periode lima tahun
ketiga, reformasi birokrasi dilakukan melalui peningkatan kapasitas
birokrasi secara terus-menerus untuk menjadi pemerintahan kelas dunia
sebagai kelanjutan dari reformasi birokrasi pada lima tahun kedua.

B. Program Kementerian Kesehatan dalam Upaya Pencegahan Korupsi

Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional


(Stratanas) Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (PPK), di
implementasikan ke dalam 6 (enam) strategi nasional yang telah
dirumuskan, yakni:
1 melaksanakan upaya upaya pencegahan;
2 melaksanakan langkah langkah strategis dibidang penegakan hukum;
3 melaksanakan upaya upaya harmonisasi penyusunan peraturan
perundang-undangan di bidang pemberantasan korupsi dan sektor terkait
lainnya;

14
4 melaksanakan kerja sama internasional dan penyelamatan aset hasil
Tipikor;
5 meningkatkan upaya pendidikan dan bidaya antikorupsi;
6 meningkatkan koordinasi dalam rangka mekanisme pelaporan
pelaksanaan upaya pemberantasan korupsi.

Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2012


tentang Strategi Nasional (Stratanas) Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
(PPK), Kementerian Kesehatan telah melaksanakan upaya percepatan
reformasi birokrasi melalui berbagai cara dan bentuk, antara lain:
1 Disiplin kehadiran menggunakan sistem fingerprint, ditetapkan masuk pukul
8.30 dan pulang kantor pukul 17.00, untuk mencegah pegawai melakukan
korupsi waktu.
2 Setiap pegawai negeri Kemenkes harus mengisi Sasaran Kinerja Pegawai
(SKP), dan dievaluasi setiap tahunnya, agar setiap pegawai mempunyai
tugas pokok dan fungsi yang jelas, dapat diukur dan dipertanggungjawabkan
kinerjanya.
3 Melakukan pelayanan kepada masyarakat yang lebih efisien dan efektif
ramah dan santun, diwujudkan dalam pelayanan prima.
4 Penandatanganan fakta integritas bagi setiap pelantikan pejabat di
kementerian kesehatan. Hal ini untuk mewujudkan Wilayah Bebas Korupsi
(WBK), Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM).
5 Terlaksananya Strategi Komunikasi pendidikan dan Budaya Anti-Korupsi
melalui sosialisasi dan kampanye antikorupsi di lingkungan internal/seluruh
Satker Kementerian Kesehatan.
6 Sosialisasi tentang larangan melakukan gratifikasi, sesuai dengan Pasal 12 b
Ayat (1) UU Nomor 31 Tahun 1999, menyatakan “Setiap gratifikasi kepada
pegawai negeri sipil atau penyelenggara negara dianggap pemberian suap,
apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan kewajiban
atau tugasnya”.

15
7 Pemberlakuan Sistem Layanan Pengadaan Barang dan Jasa Secara
Elektronik (LPSE).
8 Layanan Publik Berbasis Teknologi Informasi seperti seleksi
pendaftaran pegawai melalui online dalam rekrutmen Calon Pegawai
Negeri Sipil (PNS) dan Pegawai Tidak Tetap (PTT).
9 Pelaksanaan LHKPN di lingkungan Kementerian Kesehatan didukung
dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor
03.01/Menkes/066/I/2010, tanggal 13 Januari 2010.
10 Membentuk Unit Pengendalian Gratifikasi, berdasarkan Surat
Keputusan Ins-pektorat Jenderal Kementerian Kesehatan Nomor
01.TPS.17.04.215.10.3445, tanggal 30 Juli 2010.
11 “Tanpa Korupsi”, “Korupsi Merampas Hak Masyarakat untuk Sehat”,
“Hari Gini Masih Terima Suap”, dll.

Selain itu kemenkes juga melakukan upaya berupa :


1. Bekerjasama dengan BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan
Pembangunan) untuk mengendalikan korupsi.
2. Penambahan Materi Penunjang Anti Korupsi pada setiap pelatihan yang
ditujukan kepada seluruh pejabat eselon II di lingkungan Kementerian
Kesehatan
3. Komitmen bersama antara Kemenkes RI dengan 11 mitra kerja untuk
mencegah tindak korupsi. Kesebelas mitra kerja tersebut, yaitu: 1)
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI); 2) International
Pharmaceutical Manufacturers Group (IPMG); 3) Perhimpunan Rumah
Sakit Seluruh Indonesia (PERSI); 4) Gabungan Perusahaan Alat Kesehatan
dan Laboratorium Indonesia (Gakeslab); 5) Gabungan Pengusaha Jamu dan
Obat Tradisional Indonesia (GP Jamu); 6) Asosiasi Produsen Alat Kesehatan
Indonesia (ASPAKI); 7) PT Kimia Farma (Persero); 8) PT Indofarma
(Persero) tbk; 9) PT Bio Farma (Persero); 10) PT Rajawali Nusindo
Indonesia (RNI); serta 11) PT Phapros tbk.

16
4. Adanya aplikasi pelaporan gratifikasi
Adapun alur pelaporannya sebagai berikut :
- Mekanismes pelaporan
Setiap Aparatur Kementerian Kesehatan wajib melaporkan Gratifikasi
yang diterima kepada KPK.
Untuk mempermudah koordinasi, pelaporan Gratifikasi dapat dilakukan
melalui Unit Pengendali Gratifikasi (UPG).
Aparatur Kementerian Kesehatan pada Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Kemenkes melaporkan melalui UPG Unit Pelaksana Teknis
- Verifikasi
Laporan Gratifikasi yang telah di sampaikan melalui aplikasi oleh
Aparatur Kementerian Kesehatan dilakukan Verifikasi oleh UPG Unit
Pelaksana Teknis / UPG Unit Utama dan UPG Kementerian Kesehatan.
- Kirim ke KPK
Laporan Gratifikasi yang telah dilakukan verifikasi oleh UPG Kemen-
terian Kesehatan untuk selanjutnya di kirim ke Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK).

C. Faktor Sukses Penting yang Perlu Diperhatikan dalam Reformasi


Birokrasi

Agar reformasi birokrasi dapat berjalan dengan baik dan


menunjukkan cepatnya keberhasilan, faktor sukses penting yang perlu
diperhatikan dalam reformasi birokrasi adalah:
a Faktor komitmen pimpinan; karena masih kentalnya budaya
paternalistik dalam penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia.
b Faktor kemauan diri sendiri; diperlukan kemauan dan keikhlasan
penyelenggara pemerintahan (birokrasi) untuk mereformasi diri
sendiri.
c kesepahaman; ada persamaan persepsi terhadap pelaksanaan reformasi
birokrasi terutama dari birokrat sendiri, sehingga tidak terjadi

17
perbedaan pendapat yang menghambat reformasi. Clean government
& good government
d konsistensi; reformasi birokrasi harus dilaksanakan berkelanjutan dan
konsisten, sehingga perlu ketaatan perencanaan dan pelaksanaan.

D. Rumusan Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi

1. Strategi pemberantasan
Pasca-reformasi pemberantasan korupsi telah menjadi fokus
utama pemerintah. Berbagai upaya ditempuh baik untuk mencegah
maupun untuk menindak tindak pidana korupsi secara serentak oleh
pemegang kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Di dalam Rencana Strategi Nasional Pencegahan dan
Pemberantasan Korupsi, ada 6 strategi nasional yang telah dirumuskan
guna mewujudkan tata kepemerintahan yang bersih dari korupsi dengan
didukung kapasitas pencegahan dan penindakan serta penanaman nilai
budaya yang berintegritas. Strategi tersebut adalah:
a. Pencegahan;
b. Penegakan hukum;
c. Harmonisasi peraturan perundang-undangan;
d. Kerja sama internasional dan penyelamatan aset hasil tindak pidana
korupsi;
e. Pendidikan budaya antikorupsi;
f. Mekanisme pelaporan pelaksanaan pemberantasan korupsi.
Komisi Pemberantasan Korupsi dalam bukunya mengenai
panduan memberantas korupsi dengan mudah dan menyenangkan,
mengelompokkan strategi pemberantasan korupsi tersebut ke dalam 3
strategi berikut.

18
a. Strategi Represif
Strategi ini adalah strategi penindakan tindak pidana korupsi di
mana seseorang diadukan, diselidiki, disidik, dituntut, dan dieksekusi
berdasarkan saksi-saksi dan alat bukti yang kuat.

b. Strategi Perbaikan
Sistem Perbaikan sistem dilakukan untuk mengurangi potensi
korupsi. Caranya dengan kajian sistem, penataan layanan publik melalui
koordinasi, supervisi, pencegahan, serta mendorong transparansi
penyelenggara negara.

c. Strategi Edukasi dan Kampanye


Strategi ini merupakan bagian dari upaya pencegahan yang
memiliki peran strategis dalam pemberantasan korupsi. Melalui strategi
ini akan dibangun perilaku dan budaya antikorupsi. Edukasi dilakukan
pada segenap lapisan masyarakat sejak usia dini.

Ketiga strategi tersebut harus dilaksanakan secara bersamaan.


Melalui strategi represif, pihak yang berwenang misalnya Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) menyeret koruptor ke meja hijau,
membacakan tuntutan, menghadirkan saksi saksi dan alat bukti yang
menguatkan. Adapun tahapannya sebagai berikut.
1. Penanganan Laporan Pengaduan Masyarakat
Pengaduan oleh masyarakat merupakan hal yang sangat penting bagi
KPK, namun untuk memutuskan apakah suatu pengaduan bisa
dilanjutkan ke tahap penyelidikan harus dilakukan proses verifikasi
dan penelaahan.
2. Penyelidikan
Apabila penyelidik menemukan bukti permulaan yang cukup
mengenai dugaan tindak pidana korupsi, dalam waktu paling lambat
tujuh hari kerja penyidik melaporkan ke KPK.

19
3. Penyidikan
Dalam tahap penyidikan seorang yang ditetapkan tersangka tindak
pidana korupsi wajib memberikan keterangan kepada penyidik.
4. Penuntutan
Dalam tahap penuntutan, penuntut umum melimpahkan kasus ke
pengadilan Tipikor disertai berkas perkara dan surat dakwaan.
Dengan pelimpahan ini, kewenangan penahanan secara yuridis
beralih kepada hakim yang menangani.
5. Pelaksanaan Putusan Pengadilan (Eksekusi)
Eksekusi yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan
oleh jaksa. Untuk itu panitera mengirimkan salinan putusan kepada
jaksa.
Dalam memahami upaya represif ini ada beberapa istilah status yang
penting dipahami, yaitu sebagai berikut.
a) Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna
kepentingan penyidikan, penuntutan, dan peradilan tentang suatu
perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri, dan ia
alami sendiri.
b) Tersangka adalah seseorang yang karena perbuatannya atau
keadaannya berdasarkan bukti permulaan patut diduga sebagai
pelaku tindak pidana.
c) Terdakwa adalah seorang tersangka yang dituntut, diperiksa, dan
diadili di sidang pengadilan.
d) Terpidana adalah seseorang yang dipidana berdasarkan
pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Upaya
penindakan ini diharapkan dapat memberikan efek jera terhadap
pelaku dan jajaran para penguasa yang berpotensi melakukan
tindak pidana korupsi.

20
2. Upaya pencegahan
Pencegahan ditujukan untuk mempersempit peluang terjadinya
tindak pidana korupsi pada tata kepemerintahan dan masyarakat,
menyangkut pelayanan publik maupun penanganan perkara yang bersih
dari korupsi.
Berikut adalah fokus kegiatan prioritas pencegahan korupsi untuk
jangka panjang (2012–2025) dan jangka menengah (2012–2014) yang
tertuang di dalam Rencana Strategi Nasional Pemberantasan Korupsi.

Fokus Kegiatan Prioritas Jangka Panjang (2012– 2025)


a. Peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam administrasi dan
pelayanan publik, pengelolaan keuangan negara, penanganan perkara
berbasis teknologi informasi (TI) serta pengadaan barang dan jasa berbasis
TI baik di tingkat pusat maupun daerah.
b. Peningkatan efektivitas sistem pengawasan dan partisipasi masyarakat
dalam penyelenggaraan pemerintahan dan keuangan negara, serta
memasukkan nilai integritas dalam sistem penilaian kinerjanya.
1) Peningkatan efektivitas pemberian izin terkait kegiatan usaha,
ketenagakerjaan dan pertanahan yang bebas korupsi.
2) Peningkatan efektivitas pelayanan pajak dan bea cukai yang bebas
korupsi.
3) Penguatan komitmen antikorupsi di semua elemen eksekutif,
legislatif, dan yudikatif.
4) Penerapan sistem seleksi/penempatan/promosi pejabat publik
melalui assessment integritas (tax clearance, clearance atas transaksi
keuangan, dll.) dan pakta integritas.
5) Mekanisme penanganan keluhan/pengaduan antikorupsi secara
nasional.
6) Peningkatan pengawasan internal dan eksternal serta memasukkan
nilai integritas ke dalam sistem penilaian kinerja.

21
7) Peningkatan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan
serta kinerja menuju opini audit wajar tanpa pengecualian dengan
kinerja prima.
8) Pembenahan sistem kepemerintahan melalui reformasi birokrasi.
9) Pelaksanaan e-government.

Fokus Kegiatan Prioritas Jangka Menengah (2012– 2014)


a. Sistem pelayanan publik berbasis TI dengan fokus pada:
1) K/L dan Pemda di seluruh provinsi dengan memperhitungkan
integrasi internal kelembagaan yang telah memiliki target jelas
sampai dengan 2014, dengan fokus pada pemberian perizinan.
2) Integrasi mekanisme penanganan keluhan/pengaduan terhadap
upaya PPK termasuk proses penegakkan hukum.
3) Membuka akses antarlembaga untuk menindaklanjuti pengaduan
yang disampaikan masyarakat.
4) Keterbukaan informasi dalam penanganan perkara (termasuk perkara
korupsi), perencanaan dan penganggaran pemerintah.
b. Keterbukaan standard operating procedure (prosedur pengoperasian standar)
penanganan perkara dan pemrosesan pihak yang menyalahgunakan
wewenang.
c. Penyempurnaan kode etik dengan sanksi yang jelas.
d. Pengendalian dan pengawasan proses pelayanan publik, penguatan Sistem
Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) serta publikasi penyalahgunaan
jabatan.
e. Implementasi UU Pelayanan Publik, keterbukaan dalam penunjukkan
pejabat publik dan penyelarasan UU Keuangan Pusat-Daerah.
f. Pembenahan sistem melalui reformasi birokrasi dengan fokus pada lembaga
penegak hukum dan peradilan.
g. Sertifikasi hakim Tindak Pidana Korupsi berdasarkan kompetensi dan
integritas.

22
h. Pengembangan sistem dan pengelolaan pengaduan internal dan eksternal
(termasuk masyarakat) atas penyalahgunaan kewenangan.
i. Pemantapan administrasi keuangan negara, termasuk penghapusan dana off-
budget dan memublikasikan penerimaan hibah/bantuan/donor di badan
publik dan partai politik.
j. Penyusunan dan publikasi laporan keuangan yang tepat waktu, dengan opini
WTP bagi K/L dan Pemda.
k. Pembatasan nilai transaksi tunai.
l. Penertiban dan publikasi Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara
bagi pejabat publik.
m. Penguatan mekanisme kelembagaan dalam perekrutan, penempatan, mutasi
dan promosi aparat penegakhukum berdasarkan hasil assessment terhadap
rekam jejak, kompetensi dan integritas sesuai kebutuhan lembaga penegak
hukum.
n. Transparansi dan akuntabilitas dalammekanisme pengadaan barang dan
jasa.
o. Transparansi dan akuntabilitas laporan kinerja tahunan K/L serta Pemda
yang dilaporkan dan dipublikasikan secara tepat waktu.
p. Penerapan Pakta Integritas.

Berikut adalah berbagai upaya pencegahan yang saat ini tengah dilaksanakan.
a. Pembentukan Lembaga Anti-Korupsi
1) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah eksis di negara kita sebagai
sebuah lembaga antikorupsi yang kokoh dan kuat sejak tahun 2003.
Apa yang saat ini telah dilaksanakan KPK dalam upaya pencegahan? KPK
telah melaksanakan Strategi Perbaikan Sistem dan juga strategi Edukasi dan
Kampanye.
Perbaikan sistem dilakukan untuk mengurangi potensi korupsi. Caranya
dengan kajian sistem, penataan layanan publik melalui koordinasi/supervisi
pencegahan serta mendorong transparansi penyelenggaraan negara.
Lembaga lain yang juga harus memperbaiki sistem kinerjanya adalah

23
lembaga peradilan termasuk di dalamnya: kepolisian, kejaksaan, pengadilan,
lembaga pemasyarakatan. Lembagalembaga ini adalah jantung penegakkan
hukum yang harus bersikap imparsial (tidak memihak), jujur dan adil. Pada
tingkat kementerian ada inspektorat jenderal yang harus meningkatkan
kinerjanya.
KPK melakukan kajian sistem dan kebijakan pada berbagai
kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah. Dalam kajian tersebut
KPK melakukan analisis data, observasi langsung dan walkthrough test.
Kajian dilakukan dalam rangka mengidentifikasi kelemahan-kelemahan
sistem atau kebijakan yang berpotensi korupsi. Setelah itu, KPK
memberikan rekomendasi perbaikan agar dilaksanakan oleh kementerian,
lembaga, atau pemerintah daerah bersangkutan.
Edukasi dan kampanye yang dilakukan KPK merupakan bagian dari upaya
pencegahan memiliki peran strategis. Melalui edukasi dan kampanye KPK
berusaha membangun perilaku dan budaya antikorupsi. Program kampanye
dilakukan KPK melalui berbagai kegiatan yang melibatkan unsur
masyarakat serta melalui berbagai media cetak, elektronik dan online.
Tujuan dari rangkaian kampanye adalah untuk meningkatkan pemahaman
masyarakat mengenai korupsi dan dampak buruknya. Ujungnya adalah
menumbuhkan benih benih antikorupsi serta perlawanan terhadap korupsi.
Program edukasi dilakukan melalui berbagai kegiatan termasuk
meluncurkan produk antikorupsi, antara lain modul modul pendidikan
antikorupsi.
2) Lembaga lain yang juga telah disediakan adalah lembaga Ombudsman yang
perannya adalah sebagai penyedia sarana bagi masyarakat yang hendak
mengadukan apa yang dilakukan oleh lembaga pemerintah dan pegawainya.
Lembaga ini juga berfungsi memberikan pendidikan pada pemerintah dan
masyarakat, mengembangkan standar perilaku serta code of conduct bagi
lembaga pemerintah maupun lembaga hukum.
3) Pada tingkat kementerian ditingkatkan kinerja lembaga Inspektorat Jenderal.

24
4) Reformasi birokrasi dan reformasi pelayanan publik penting dibenahi
sehingga tidak memberi peluang untuk melakukan pungutan liar.

b. Pencegahan Korupsi di Sektor Publik


Salah satu cara untuk mencegah korupsi adalah dengan mewajibkan semua
pejabat publik untuk mengumumkan dan melaporkan kekayaan yang dimilikinya
baik sebelum maupun sesudah menjabat. Hal ini diperlukan agar publik
mengetahui kewajaran peningkatan jumlah kekayaan terutama sesudah
menjabat. Hal ini diperlukan agar publik mengetahui kewajaran peningkatan
jumlah kekayaan terutama sesudah menjabat dan mendorong transparansi
penyelenggara negara KPK menerima laporan LHKPN dan laporan adanya
gratifikasi. Penyelenggara negara wajib melaporkan harta kekayaannya, antara
lain ketika dimutasi, mulai melaksanakan jabatan baru atau pensiun.
1) Khusus untuk mengontrol pengadaan barang dan jasa oleh publik
maka lelang harus terbuka kepada publik. Masyarakat harus punya
otoritas untuk mengakses, memantau proses dan hasil pelelangan.
Untuk itu, saat ini telah dilakukan lelang dengan menggunakan
LPSE.
2) Sistem rekrutmen, sistem penilaian kinerja pegawai negeri serta
hasil kerja perlu dibangun. Sistem penghargaan terhadap pegawai
berprestasi perlu dibangun.

c. Pencegahan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat


1) Masyarakat hendaknya mempunyai akses untuk mendapatkan
informasi. Karena itu, harus dibangun sistem yang memungkinkan
masyarakat dapat meminta informasi tentang kebijakan pemerintah
terkait kepentingan masyarakat. Hal ini harus memberi kesadaran
kepada pemerintah agar kebijakan dijalankan secara transparan dan
wajib menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat.
2) Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap
bahaya korupsi serta pemberdayaan masyarakat adalah salah satu

25
upaya yang sangat penting untuk mencegah terjadinya korupsi.
Untuk meningkatkan hal tersebut kegiatan yang dapat dilakukan:
a) kampanye tentang bahaya korupsi,
b) sosialisasi mengenai apa itu korupsi dan dampaknya serta
cara memerangi korupsi.
Kampanye harus dilakukan di ruang publik, melalui media cetak
maupun elektronik, melalui seminar dan diskusi, dan lain-lain.
Spanduk, poster, banner yang berisikan ajakan untuk tidak
melakukan korupsi harus dipasang di kantor-kantor pemerintah.
3) Pemberdayaan masyarakat untuk ikut mencegah dan memerangi
korupsi adalah melalui penyediaan sarana bagi masyarakat untuk
dapat dengan mudah melaporkan kejadian korupsi kepada pihak
yang berwenang secara bertanggung jawab. Mekanisme pelaporan
harus mudah dilakukan misalnya melalui telepon, internet, dan
sebagainya.
4) Kebebasan media baik cetak maupun elektronik dalam
menginformasikan bahaya korupsi adalah penting dalam pencegahan
korupsi, selain berfungsi sebagai media kampanye antikorupsi,
media juga efektif untuk melakukan pengawasan terhadap perilaku
pejabat publik.
5) Keberadaan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau NGOs
yang berfungsi melakukan pengawasan terhadap perilaku pejabat
pemerintah maupun parlemen, juga merupakan hal yang sangat
penting dalam mencegah terjadinya korupsi. Salah satu contoh
adalah Indonesia Corruption Watch (ICW), yakni sebuah LSM lokal
yang bergerak khusus dalam pemberantasan dan pencegahan
korupsi.
6) Cara lain dalam rangka mencegah korupsi adalah menggunakan
electronic surveillance yaitu sebuah perangkat untuk mengetahui
dan mengumpulkan data dengan dipasang di tempat tempat tertentu.
Alat itu misalnya closed circuit television (CCTV).

26
d. Pembuatan Instrumen
Hukum Instrumen hukum dalam bentuk Undang-Undang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi yang telah ada juga telah didukung dengan instrumen hukum
lainnya. Contohnya, Undang-Undang Tindak Pidana Money Laundering,
Undang-Undang Perlindungan Saksi dan Korban, undang undang yang mengatur
kebebasan Pers, undang-undang yang mengatur mekanisme pelaporan korupsi
oleh masyarakat yang menjamin keamanan pelapor, dan lain-lain. Selain
daripada itu untuk dapat mencegah korupsi diperlukan produk hukum berupa
Kode Etik atau Code of Conduct agar tercipta pejabat publik yang bersih baik
pejabat eksekutif, legislatif ataupun aparat lembaga peradilan (kejaksaan,
kepolisian, dan pengadilan).

e. Monitoring dan Evaluasi


Salah satu kegiatan penting lainnya dalam mencegah dan memberantas korupsi
adalah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap seluruh kegiatan
pemberantasan korupsi untuk menilai capaian kegiatan. Melalui penilaian ini
maka dapat diketahui strategi mana saja yang efektif dan efisien dalam
mencegah dan memberantas korupsi.

E. Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP)

Pelaksanaan SPIP adalah amanat PP 60 tahun 2008 yang mengamatkan


bahwa pelaksanaan kebijakan/program dilakukan secara integral antara tindakan
dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh
pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan
organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan
keuangan, pengamanan asset negara, dan ketaatan terhadap peraturan
perundang-undangan.
Dengan penerapan pelaksanaan SPI pada setiap unit kerja, diharapkan dapat
mendorong seluruh unit kerja/satuan kerja untuk melaksanakan seluruh
kebijakan/program yang telah ditetapkan yang bermuara terhadap tercapainya
sasaran dan tujuan organisasi. Disamping itu setiap satuan kerja diharapkan

27
dapat melakukan identifikasi kemungkinan terjadinya deviasi atau
penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan dengan membandingkan antara
perencanaan dan pelaksanaan kegiatan tersebut, sebagai umpan balik untuk
melaksanakan tindakan koreksi atau perbaikan bagi pimpinan dalam mencapai
tujuan organisasi.
Dengan diberlakukannya PP 60 tahun 2008 ini, pimpinan instansi atau unit
kerja akan bertanggungjawab penuh terhadap pelaksanaan kebijakan/ program
yang terurai dalam beberapa kegiatan demi tercapainya tujuan organisasi yang
dimulai sejak dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, dan pelaporan/
pertanggung jawaban keuangan yang akuntabel. SPIP dilandasi oleh pemikiran
bahwa pengawasan intern melekat sepanjang kegiatan, dipengaruhi oleh
sumberdaya manusia, serta hanya memberikan keyakinan memadai, bukan
keyakinan mutlak.
Penerapan SPI dalam unit kerja dilaksanakan melalui penegakan integritas
dan nilai etika, komitmen kepada kompetensi, kepemimpinan yang kondusif,
pembentukan struktur organisasi sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian
wewenang dan sehat tentang pembinaan sumber daya manusia, perwujudan
peran pengawasan intern pemerintah yang efektif serta hubungan kerja yang baik
dengan instansi pemerintah terkait.
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) terdiri dari 5 (lima) unsur
yakni
1. Lingkungan Pengendalian, merupakan kondisi dalam instansi pemerintah
yang mempengaruhi efektivitas pengendalian intern. Dalam hal ini,
pimpinan instansi pemerintah dan seluruh pegawai harus menciptakan dan
memelihara lingkungan dalam keseluruhan organisasi yang menimbulkan
perilaku positif dan mendukung terhadap pengendalian intern dan
manajemen yang sehat.
2. Penilaian Risiko, adalah kegiatan penilaian atas kemungkinan kejadian yang
mengancam pencapaian tujuan dan sasaran instansi pe/merintah. Dengan
demikian, pengendalian intern harus memberikan penilaian atas risiko yang
dihadapi unit organisasi baik luar maupun dari dalam.

28
3. Kegiatan Pengendalian adalah tindakan yang diperlukan untuk mengatasi
risiko serta penetapan dan pelaksanaan kebijakan dan prosedur untuk
memastikan bahwa tindakan mengatasi risiko telah dilaksanakan secara
efektif. Kegiatan pengendalian membantu memastikan bahwa arahan
pimpinan instansi pemerintah dilaksanakan. Kegiatan pengendalian harus
efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.
4. Informasi dan komunikasi proses pengolahan data yang telah diolah dan
dapat digunakan untuk pengambilan keputusan serta tersampaikan informasi
harus dicatat dan dilaporkan kepada pimpinan instansi pemerintah dan pihak
lain yang ditentukan. Informasi disajikan dalam suatu bentuk dan sarana
tertentu serta tepat waktu sehingga memungkinkan pimpinan instansi
pemerintah secara berjenjang melaksanakan pengendalian dan
tanggungjawab.
5. Pemantauan pengendalian Intern, pemantauan harus dapat menilai kualitas
kinerja baik secara kualitatif dan kuantitatif dari waktu ke waktu dan
memastikan bahwa rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya dapat segera
ditindaklanjuti.

F. Pembagunan Zona Integritas

Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2010


Tentang Grand Design Reformasi Birokrasi yang mengatur tentang pelaksanaan
program reformasi birokrasi. Peraturan tersebut menargetkan tercapainya tiga
sasaran hasil utama yaitu peningkatan kapasitas dan akuntabilitas organisasi,
pemerintah yang bersih dan bebas KKN, serta peningkatan pelayanan publik.
Dalam rangka mengakselerasi pencapaian sasaran hasil tersebut, maka instansi
pemerintah perlu untuk membangun pilot project pelaksanaan reformasi
birokrasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-unit kerja
lainnya. Untuk itu, perlu secara konkret dilaksanakan program reformasi
birokrasi pada unit kerja melalui upaya pembangunan Zona Integritas. Berikut
beberapa istilah yang perlu dipahami:

29
1. Zona Integritas (ZI) adalah predikat yang diberikan kepada instansi
pemerintah yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk
mewujudkan WBK/WBBM melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam
hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
2. Menuju Wilayah Bebas dari Korupsi (Menuju WBK) adalah predikat
yang diberikan kepada suatu unit kerja yang memenuhi sebagian besar
manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen
SDM, penguatan pengawasan, dan penguatan akuntabilitas kinerja;
3. Menuju Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (Menuju WBBM)
adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja yang memenuhi
sebagian besar manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan
sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas
kinerja, dan penguatan kualitas pelayanan publik;
4. Instansi Pemerintah adalah instansi pusat dan instansi daerah;
5. Unit Kerja adalah Unit/Satuan Kerja di instansi pemerintah, serendah-
rendahnya eselon III yang menyelenggarakan fungsi pelayanan;
6. Menteri adalah Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refomasi
Birokrasi;
7. Tim Penilai Internal (TPI) adalah tim yang dibentuk oleh pimpinan
instansi pemerintah yang mempunyai tugas melakukan penilaian unit kerja
dalam rangka memperoleh predikat Menuju WBK/Menuju WBBM; dan
8. Tim Penilai Nasional (TPN) adalah tim yang dibentuk untuk melakukan
evaluasi terhadap unit kerja yang diusulkan menjadi Zona Integritas
Menuju WBK dan Menuju WBBM. Tim Penilai Nasional terdiri dari unsur
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Ombudsman Republik
Indonesia (ORI).

30
a. Tahap-tahap pembangunan zona integritas
a. Pencanangan Pembangunan Zona Integritas
a) Pencanangan Pembangunan Zona Integritas adalah
deklarasi/pernyataan dari pimpinan suatu instansi pemerintah bahwa
instansinya telah siap membangun Zona Integritas;
b) Pencanangan Pembangunan Zona Integritas dilakukan oleh instansi
pemerintah yang pimpinan dan seluruh atau sebagian besar
pegawainya telah menandatangani Dokumen Pakta Integritas.
Penandatanganan dokumen Pakta Integritas dapat dilakukan secara
massal/serentak pada saat pelantikan, baik sebagai CPNS, PNS,
maupun pelantikan dalam rangka mutasi kepegawaian horizontal atau
vertikal. Bagi instansi pemerintah yang belum seluruh pegawainya
menandatangani Dokumen Pakta Integritas, dapat
melanjutkan/melengkapi setelah pencanangan pembangunan Zona
Integritas;
c) Pencanangan Pembangunan Zona Integritas beberapa instansi pusat
yang berada di bawah koordinasi Kementerian dapat dilakukan
bersama-bersama. Sedangkan Pencanangan Pembangunan Zona
Integritas di instansi daerah dapat dilakukan oleh kabupaten/kota
bersama-bersama dalam satu provinsi;
d) Pencanangan pembangunan Zona Integritas dilaksanakan secara
terbuka dan dipublikasikan secara luas dengan maksud agar semua
pihak termasuk masyarakat dapat memantau, mengawal, mengawasi
dan berperan serta dalam program kegiatan reformasi birokrasi
khususnya di bidang pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas
pelayanan publik;
e) Penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan Zona Integritas
untuk instansi pusat dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah;
f) Penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan Zona Integritas
untuk instansi daerah dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah
daerah; dan

31
g) KPK, ORI, unsur masyarakat lainnya (perguruan tinggi, tokoh
masyarakat/LSM, dunia usaha) dapat juga menjadi saksi pada saat
pencanangan ZI untuk instansi pusat dan instansi daerah

b. Proses Pembangunan Zona Integritas Menuju WBK/WBBM


Proses pembangunan Zona Integritas merupakan tindak lanjut
pencanangan yang telah dilakukan oleh pimpinan instansi pemerintah.
Proses pembangunan Zona Integritas difokuskan pada penerapan program
Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Manajemen SDM,
Penguatan Pengawasan, Penguatan Akuntabilitas Kinerja, dan Peningkatan
Kualitas Pelayanan Publik yang bersifat konkrit.
Dalam membangun Zona Integritas, pimpinan instansi pemerintah
menetapkan satu atau beberapa unit kerja yang diusulkan sebagai Wilayah
Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih Melayani. Pemilihan unit kerja
yang diusulkan sebagai Wilayah Bebas Korupsi/Wilayah Birokrasi Bersih
Melayani memperhatikan beberapa syarat yang telah ditetapkan,
diantaranya:
1) Dianggap sebagai unit yang penting/strategis dalam melakukan
pelayanan publik;
2) Mengelola sumber daya yang cukup besar, serta
3) Memiliki tingkat keberhasilan Reformasi Birokrasi yang cukup tinggi di
unit tersebut.
Proses pemilihan unit kerja yang berpotensi sebagai Zona Integritas
dilakukan dengan membentuk kelompok kerja/tim untuk melakukan
identifikasi terhadap unit kerja yang berpotensi sebagai unit kerja
berpredikat menuju WBK/WBBM oleh pimpinan instansi. Setelah
melakukan identifikasi, kelompok kerja/tim mengusulkan unit kerja
kepada pimpinan instansi untuk ditetapkan sebagai calon unit kerja
berpredikat Zona Integritas menuju WBK/WBBM. Selanjutnya dilakukan
penilaian mandiri (self assessment) oleh Tim Penilai Internal (TPI). Setelah
melakukan penilaian, TPI melaporkan kepada Pimpinan instansi tentang

32
unit yang akan di usulkan ke Kementerian Pendayagunaan Aparatur
Negara dan Reformasi Birokrasi sebagai unit kerja berpredikat Menuju
WBK/WBBM. Apabila unit kerja yang diusulkan memenuhi syarat
sebagai Zona Integritas Menuju WBK/WBBM, maka langkah selanjutnya
adalah penetapan. Setelah unit kerja yang diusulkan sebagai Zona
Integritas menuju WBK/WBBM ditetapkan, maka hal yang selanjutnya
dilakukan adalah menentukan komponen-komponen yang harus dibangun.
Terdapat dua jenis komponen yang harus dibangun dalam unit kerja
terpilih, yaitu komponen pengungkit dan komponen hasil. Di bawah ini
adalah gambar yang menunjukkan hubungan masing-masing komponen
dan indikator pembangun komponen.

Melalui model tersebut dapat diuraikan bahwa program


Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Manajemen SDM,
Penguatan Akuntabilitas Kinerja, Penguatan Pengawasan, dan Peningkatan
Kualitas Pelayanan Publik merupakan komponen pengungkit yang
diharapkan dapat menghasilkan sasaran pemerintahan yang bersih dan bebas
KKN serta peningkatan kualitas pelayanan publik. Penilaian terhadap setiap
program dalam komponen pengungkit dan komponen hasil diukur melalui

33
indikator-indikator yang dipandang mewakili program tersebut. Sehingga
dengan menilai indikator tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran
pencapaian upaya yang berdampak pada pencapaian sasaran.

KOMPONEN PENGUNGKIT
Komponen pengungkit merupakan komponen yang menjadi faktor penentu
pencapaian sasaran hasil pembangunan Zona Integritas menuju
WBK/WBBM. Terdapat enam komponen pengungkit, yaitu Manajemen
Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Manajemen SDM, Penguatan.
Akuntabilitas Kinerja, Penguatan Pengawasan, dan Peningkatan Kualitas
Pelayanan Publik.
a. Manajemen Perubahan
Manajemen perubahan bertujuan untuk mengubah secara sistematis dan
konsisten mekanisme kerja, pola pikir (mind set), serta budaya kerja
(culture set) individu pada unit kerja yang dibangun, menjadi lebih baik
sesuai dengan tujuan dan sasaran pembangunan zona integritas. Target
yang ingin dicapai melalui program ini adalah:
a. Meningkatnya komitmen seluruh jajaran pimpinan dan pegawai unit
kerja dalam membangun Zona Integritas menuju WBK/WBBM;
b. Terjadinya perubahan pola pikir dan budaya kerja pada unit kerja
yang diusulkan sebagai Zona Integritas menuju WBK/WBBM; dan
c. Menurunnya resiko kegagalan yang disebabkan kemungkinan
timbulnya resistensi terhadap perubahan.
b. Penataan Tatalaksana
Penataan tatalaksana bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas sistem, proses, dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien,
dan terukur pada Zona Integritas Menuju WBK/WBBM. Target yang
ingin dicapai pada masing-masing program ini adalah:
a. Meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam proses
penyelenggaraan manajemen pemerintahan di Zona Integritas menuju
WBK/WBBM;

34
b. Meningkatnya efisiensi dan efektivitas proses manajemen
pemerintahan di Zona Integritas menuju WBK/WBBM; dan
c. Meningkatnya kinerja di Zona Integritas menuju WBK/WBBM.
c. Penataan Sistem Manajemen SDM
Penataan sistem manajemen SDM aparatur bertujuan untuk
meningkatkan profesionalisme SDM aparatur pada Zona Integritas
Menuju WBK/WBBM. Target yang ingin dicapai melalui program ini
adalah:
a. meningkatnya ketaatan terhadap pengelolaan SDM aparatur pada
masing-masing Zona Integritas menuju WBK/WBBM;
b. meningkatnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan SDM
aparatur pada masing-masing masing Zona Integritas menuju
WBK/WBBM;
c. meningkatnya disiplin SDM aparatur pada masing-masing masing
Zona Integritas menuju WBK/WBBM;
d. meningkatnya efektivitas manajemen SDM aparatur pada Zona
Integritas menuju WBK/WBBM; dan
e. meningkatnya profesionalisme SDM aparatur pada Zona Integritas
menuju WBK/WBBM.
d. Penguatan Akuntabilitas
Akuntabilitas kinerja adalah perwujudan kewajiban suatu instansi
pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan/kegagalan
pelaksanaan program dan kegiatan dalam mencapai misi dan tujuan
organisasi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Target yang ingin dicapai
melalui program ini adalah:
a. meningkatnya kinerja instansi pemerintah; dan
b. meningkatnya akuntabilitas instansi pemerintah.

35
e. Penguatan Pengawasan
Penguatan pengawasan bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan bebas KKN pada masing-masing instansi
pemerintah. Target yang ingin dicapai melalui program ini adalah:
a. meningkatnya kepatuhan terhadap pengelolaan keuangan negara oleh
masing-masing instansi pemerintah;
b. meningkatnya efektivitas pengelolaan keuangan negara pada masing-
masing instansi pemerintah;
c. meningkatnya status opini BPK terhadap pengelolaan keuangan
negara pada masing-masing instansi pemerintah; dan
d. menurunnya tingkat penyalahgunaan wewenang pada masingmasing
instansi pemerintah.
f. Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik
Peningkatan kualitas pelayanan publik merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan kualitas dan inovasi pelayanan publik pada masing-
masing instansi pemerintah secara berkala sesuai kebutuhan dan harapan
masyarakat. Disamping itu, peningkatan kualitas pelayanan publik
dilakukan untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap
penyelenggara pelayanan publik dalam rangka peningkatan
kesejahteraan masyarakat dengan menjadikan keluhan masyarakat
sebagai sarana untuk melakukan perbaikan pelayanan publik. Target
yang ingin dicapai melalui program peningkatan kualitas pelayanan
publik ini adalah:
a. meningkatnya kualitas pelayanan publik (lebih cepat, lebih murah,
lebih aman, dan lebih mudah dijangkau) pada instansi pemerintah;
b. meningkatnya jumlah unit pelayanan yang memperoleh standardisasi
pelayanan internasional pada instansi pemerintah; dan
c. meningkatnya indeks kepuasan masyarakat terhadap penyelenggaraan
pelayanan publik oleh masing-masing instansi pemerintah.

36
HASIL
Dalam pembangunan Zona Integritas Menuju Wilayah Bebas dari
Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani, fokus pelaksanaan
reformasi birokrasi tertuju pada dua sasaran utama, yaitu:
1. Terwujudnya Pemerintahan yang Bersih dan Bebas KKN Sasaran
terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN diukur dengan
menggunakan ukuran:
a. Nilai persepsi korupsi (survei eksternal); dan
b. Presentase penyelesaian TLHP.
2. Terwujudnya Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik kepada
Masyarakat Sasaran Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik
kepada masyarakat diukur melalui nilai persepsi kualitas pelayanan
(survei eksternal).

G. Tujuan Pengawasan dan Prinsip – Prinsip dalam Pelaksanaan


Pengawasan

1. Tujuan

Salah satu bentuk pengawasan terhadap aparatur negara ialah pengawasan


fungsional. pengawasan fungsional dapat diartikan sebagai suatu kegiatan
pengawasan yang dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai
tugas melakukan pengawasan melalui pemeriksaan, pengujian, pengusutan,
dan penilaian atau dapat juga disimpulkan bahwa pengawasan fungsional itu
merupakan pengawasan yang dilakukan oleh lembaga/aparat pengawasan
yang dibentuk atau ditunjuk khusus untuk melaksanakan fungsi pengawasan
secara independen terhadap obyek yang diawasi. Pengawasan fungsional
tersebut dilakukan oleh lembaga/badan/unit yang mempunyai tugas dan
fungsi melakukan pengawasan fungsional melalui audit, investigasi, dan
penilaian untuk menjamin agar penyelenggaraan pemerintahan sesuai
dengan rencana dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, sehingga

37
di dalam hal ini pengawasan fungsional dilakukan baik oleh pengawas
ekstern pemerintah maupun pengawas intern pemerintah.
Berdasarkan ketentuan Pasal 4 ayat (4) Lampiran Inpres No. 15 Tahun
1983, bahwa Pengawasan Fungsional (Wasnal) adalah pengawasan yang
dilakukan aparat yang diadakan khusus untuk membantu pimpinan, dalam
menjalankan fungsi pengawasan di lingkungan organisasi yang masih
tanggung jawabnya. Lingkup pengawasan fungsional dilakukan terhadap
kegiatan umum pemerintahan dan pembangunan dalam lingkungan kerja
aparat pengawasan fungsional.
Secara umum tujuan pengawasan fungsional adalah untuk menjamin
agar pemerintah daerah berjalan sesuai dengan rencana dan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku guna menciptakan aparatur
pemerintahan yang Bersih, Bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme.
Sedangkan secara khusus menurut Abdul Halim yaitu :
a. Menilai ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Menilai apakah kegiatan dengan pedoman akuntansi yang berlaku.
c. Menilai apakah kegiatan dilaksanakan secara ekonomis, efisien, dan
efektif.
d. Mendeteksi adanya kecurangan.
Dari definisi di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan
pengawasan fungsional di instansi pemerintahan daerah adalah sebagai
berikut :
a. Agar terlaksananya penyelenggaraan pengelolaan keuangan daerah
secara ekonomis, efisien, dan efektif.
b. Tidak terjadi penyimpangan atau hambatan-hambatan pelaksanaan
keuangan daerah.
c. Terlaksananya tugas umum pemerintah dan pembangunan secara tertib
di instansi pemerintah daerah.
Dalam Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 . Undang-undang Nomor
20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UU PTPK),

38
delik yang berisi unsur penyalahgunaan wewenang tercantum pada Pasal 3,
sebagai berikut :
a. Dengan tujan menguntungkan diri sendiri, orang lain atau suatu
korporasi;
b. Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan;
c. Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara.

2. Prinsip

Prinsip-prinsip Anti-korupsi yang meliputi akuntabilitas, transparansi, kewajaran,


kebijakan, dan kontrol kebijakan, untuk mencegah faktor eksternal penyebab
korupsi.
a. Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kesesuaian antara aturan dan pelaksanaan kerja. Semua
lembaga mempertanggung jawabkan kinerjanya sesuai aturan main baik dalam
bentuk konvensi (de facto) maupun konstitusi (de jure), baik pada level budaya
(individu dengan individu) maupun pada level lembaga (Bappenas : 2002).
Lembaga-lembaga tersebut berperan dalam sektor bisnis, masyarakat, publik,
maupun interaksi antara ketiga sektor. Akuntabilitas publik secara tradisional
dipahami sebagai alat yang digunakan untuk mengawasi dan mengarahkan
perilaku administrasi dengan cara memberikan kewajiban untuk dapat
memberikan jawaban (answerability) kepada sejumlah otoritas eksternal
(Dubnik : 2005). Selain itu akuntabilitas publik dalam arti yang paling
fundamental merujuk kepada kemampuan menjawab kepada seseorang terkait
dengan kinerja yang diharapkan (Pierre : 2007). Seseorang yang diberikan
jawaban ini haruslah seseorang yang memiliki legitimasi untuk melakukan
pengawasan dan mengharapkan kinerja.

Akuntabilitas publik memiliki pola-pola tertentu dalam mekanismenya, antara


lain adalah akuntabilitas program, akuntabilitas proses, akuntabilitas keuangan,
akuntabilitas outcome, akuntabilitas hukum, dan akuntabilitas politik

39
(Puslitbang, 2001). Dalam pelaksanaannya, akuntabilitas harus dapat diukur dan
dipertanggungjawabkan melalui mekanisme pelaporan dan pertanggungjawaban
atas semua kegiatan yang dilakukan. Evaluasi atas kinerja administrasi, proses
pelaksanaan, dampak dan manfaat yang diperoleh masyarakat baik secara
langsung maupun manfaat jangka panjang dari sebuah kegiatan. Terkait dengan
penjelasan tersebut maka mata kuliah ini memiliki peran penting dalam
penegakan akuntabilitas, terutama dalam rangka pengembangan sumber daya
manusia. Oleh karena itu mahasiswa sebagai bagian dari civitas akademika
pemilik masa depan merupakan target pelaku penegakan akuntabilitas masa kini
dan masa depan. Dengan harapan bahwa integritas atau kesesuaian antara
aturan dengan pelaksanaan kerja pada diri mahasiswa dapat semakin
ditingkatkan.

b. Transparansi
Salah satu prinsip penting anti korupsi lainnya adalah transparansi. Prinsip
transparansi ini penting karena pemberantasan korupsi dimulai dari
transparansi dan mengharuskan semua proses kebijakan dilakukan secara
terbuka, sehingga segala bentuk penyimpangan dapat diketahui oleh publik.
Selain itu transparansi menjadi pintu masuk sekaligus kontrol bagi seluruh
proses dinamika struktural kelembagaan. Dalam bentuk yang paling
sederhana, transparansi mengacu pada keterbukaan dan kejujuran untuk
saling menjunjung tinggi kepercayaan (trust) karena kepercayaan,
keterbukaan, dan kejujuran ini merupakan modal awal yang sangat berharga
bagi para mahasiswa untuk dapat melanjutkan tugas dan tanggungjawabnya
pada masa kini dan masa mendatang.
Dalam prosesnya, transparansi dibagi menjadi lima yaitu proses
penganggaran, proses penyusunan kegiatan, proses pembahasan, proses
pengawasan, dan proses evaluasi. Proses penganggaran bersifat bottom up,
mulai dari perencanaan, implementasi, laporan pertanggungjawaban dan
penilaian (evaluasi) terhadap kinerja anggaran. Di dalam proses penyusunan

40
kegiatan atau proyek pembangunan terkait dengan proses pembahasan
tentang sumber-sumber pendanaan (anggaran pendapatan) dan alokasi
anggaran (anggaran belanja).
Proses pembahasan membahas tentang pembuatan rancangan peraturan
yang berkaitan dengan strategi penggalangan (pemungutan) dana,
mekanisme pengelolaan proyek mulai dari pelaksanaan tender, pengerjaan
teknis, pelaporan finansial dan pertanggungjawaban secara teknis. Proses
pengawasan dalam pelaksanaan program dan proyek pembangunan
berkaitan dengan kepentingan publik dan yang lebih khusus lagi adalah
proyek-proyek yang diusulkan oleh masyarakat sendiri. Proses lainnya yang
penting adalah proses evaluasi. Proses evaluasi ini berlaku terhadap
penyelenggaraan proyek dijalankan secara terbuka dan bukan hanya
pertanggungjawaban secara administratif, tapi juga secara teknis dan fisik
dari setiap out put kerja-kerja pembangunan. Hal-hal tersebut merupakan
panduan bagi mahasiswa untuk dapat melaksanakan kegiatannya agar lebih
baik. Setelah pembahasan prinsip ini, mahasiswa sebagai individu dan juga
bagian dari masyarakat/ organisasi/ institusi diharapkan dapat
mengimplementasikan prinsip transparansi di dalam kehidupan keseharian
mahasiswa.

c. Kewajaran
Prinsip anti korupsi lainnya adalah prinsip kewajaran. Prinsip fairness atau
kewajaran ini ditujukan untuk mencegah terjadinya manipulasi
(ketidakwajaran) dalam penganggaran, baik dalam bentuk mark up
maupun ketidakwajaran lainnya. Sifat-sifat prinsip kewajaran ini terdiri dari
lima hal penting yaitu komprehensif dan disiplin, fleksibilitas, terprediksi,
kejujuran, dan informatif.
Komprehensif dan disiplin berarti mempertimbangkan keseluruhan aspek,
berkesinam-bungan, taat asas, prinsip pembebanan, pengeluaran dan tidak
melampaui batas (off budget), sedangkan fleksibilitas artinya adalah adanya
kebijakan tertentu untuk mencapai efisiensi dan efektifitas. Terprediksi

41
berarti adanya ketetapan dalam perencanaan atas dasar asas value for money
untuk menghindari defisit dalam tahun anggaran berjalan. Anggaran yang
terprediksi merupakan cerminan dari adanya prinsip fairness di dalam
proses perencanaan pembangunan. Selain itu, sifat penting lainnya adalah
kejujuran. Kejujuran tersebut mengandung arti tidak adanya bias perkiraan
penerimaan maupun pengeluaran yang disengaja, yang berasal dari
pertimbangan teknis maupun politis.
Kejujuran merupakan bagian pokok dari prinsip fairness. Sifat yang terakhir
dalam prinsip kewajaran adalah informatif. Tujuan dari sifat ini adalah dapat
tercapainya sistem informasi pelaporan yang teratur dan informatif. Sifat
informatif ini dijadikan sebagai dasar penilaian kinerja, kejujuran dan proses
pengambilan keputusan selain itu sifat ini merupakan ciri khas dari
kejujuran. Dalam penerapannya pada mahasiswa, prinsip ini dapat dijadikan
rambu-rambu agar dapat bersikap lebih waspada dalam mengatur beberapa
aspek kehidupan mahasiswa seperti penganggaran, perkuliahan, sistem
belajar maupun dalam organisasi. Selain itu, setelah pembahasan ini,
mahasiswa juga diharapkan memiliki kualitas moral yang lebih baik dimana
kejujuran merupakan bagian pokok dalam prinsip ini.

d. Kebijakan
Prinsip anti korupsi yang keempat adalah prinsip kebijakan. Pembahasan
mengenai prinsip ini ditujukan agar mahasiswa dapat mengetahui dan
memahami kebijakan anti korupsi. Kebijakan ini berperan untuk mengatur
tata interaksi agar tidak terjadi penyimpangan yang dapat merugikan negara
dan masyarakat. Kebijakan anti korupsi ini tidak selalu identik dengan
undang-undang anti-korupsi, namun bisa berupa undang-undang kebebasan
mengakses informasi, undang-undang desentralisasi, undang-undang anti-
monopoli, maupun lainnya yang dapat memudahkan masyarakat
mengetahui sekaligus mengontrol terhadap kinerja dan penggunaan
anggaran negara oleh para pejabat negara.

42
Aspek-aspek kebijakan terdiri dari isi kebijakan, pembuat kebijakan,
pelaksana kebijakan, kultur kebijakan. Kebijakan anti-korupsi akan efektif
apabila di dalamnya terkandung unsur-unsur yang terkait dengan persoalan
korupsi dan kualitas dari isi kebijakan tergantung pada kualitas dan
integritas pembuatnya. Kebijakan yang telah dibuat dapat berfungsi apabila
didukung oleh aktor-aktor penegak kebijakan yaitu kepolisian, kejaksaan,
pengadilan, pengacara, dan lembaga pemasyarakatan. Eksistensi sebuah
kebijakan tersebut terkait dengan nilai-nilai, pemahaman, sikap, persepsi,
dan kesadaran masyarakat terhadap hukum atau undang-undang anti
korupsi. Lebih jauh lagi, kultur kebijakan ini akan menentukan tingkat
partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi.

e. Kontrol Kebijakan
Prinsip terakhir anti korupsi adalah kontrol kebijakan. Kontrol kebijakan
merupakan upaya agar kebijakan yang dibuat betul-betul efektif dan
mengeliminasi semua bentuk korupsi. Pada prinsip ini, akan dibahas
mengenai lembaga-lembaga pengawasan di Indonesia, self-evaluating
organization, reformasi sistem pengawasan di Indonesia, problematika
pengawasan di Indonesia. Bentuk kontrol kebijakan berupa partisipasi,
evolusi dan reformasi.
Kontrol kebijakan berupa partisipasi yaitu melakukan kontrol terhadap
kebijakan dengan ikut serta dalam penyusunan dan pelaksanaannya dan
kontrol kebijakan berupa oposisi yaitu mengontrol dengan menawarkan
alternatif kebijakan baru yang dianggap lebih layak. Sedangkan kontrol
kebijakan berupa revolusi yaitu mengontrol dengan mengganti kebijakan
yang dianggap tidak sesuai. Setelah memahami prinsip yang terakhir ini,
mahasiswa kemudian diarahkan agar dapat berperan aktif dalam melakukan
tindakan kontrol kebijakan baik berupa partisipasi, evolusi maupun
reformasi pada kebijakan-kebijakan kehidupan mahasiswa dimana peran

43
mahasiswa adalah sebagai individu dan juga sebagai bagian dari
masyarakat, organisasi, maupun institusi.

H. Penilaian Satuan Kerja Berpredikat WBK dan WBBM

Penilaian ZI Menuju WBK dapat dilakukan oleh unit yang menjalankan


fungsi kepatuhan internal pada Unit Eselon I, atau dengan pembentukan Tim
Penilai Eselon I (TPEI). TPEI melibatkan Sekretariat pada Unit Eselon I, dan
unit yang menjalankan fungsi kepatuhan internal pada Unit Eselon I. Penilaian
mandiri oleh UKI/TPEI dilakukan dengan memperhatikan komponen penilaian
sesuai PermenPAN-RB Nomor 52 Tahun 2014 yaitu Komponen pengungkit
(60%), dan Komponen hasil (40%). Kedua komponen dimaksud tertuang
secara lengkap pada Lembar Kerja Evaluasi (LKE) yang akan digunakan oleh
UKI/TPEI untuk melakukan penilaian.

44
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Reformasi adalah perubahan secara drastis untuk perbaikan (bidang sosial,


politik, atau agama) dalam suatu masyarakat atau negara. Sedangkan birokrasi
adalah sistem pemerintahan yang dijalankan oleh pegawai pemerintah karena
telah berpegang pada hierarki dan jenjang jabatan. Faktor sukses penting yang
perlu diperhatikan dalam reformasi birokrasi adalah faktor komitmen pimpinan,
faktor kemauan diri sendiri, kesepahaman, dan konsistensi. Strategi
pemberantasan korupsi adalah pencegahan, penegakan hokum, harmonisasi
peraturan perundang-undangan, kerja sama internasional dan penyelamatan aset
hasil tindak pidana korupsi, pendidikan budaya antikorupsi, dan terdapat
mekanisme pelaporan pelaksanaan pemberantasan korupsi. Sistem Pengendalian
Internal Pemerintah (SPIP) terdiri dari 5 (lima) unsur yakni lingkungan
pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian informasi dan komunikasi,
dan pemantauan pengendalian intern. Prinsip-prinsip anti-korupsi adalah
akuntabilitas, transparansi, kewajaran, kebijakan, dan kontrol kebijakan

B. Saran

Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini. Dan


pencegahan korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil sehingga saat sudah
dewasa tidak terbiasa untuk melakukan korupsi. Kita sebagai warga Negara
Indonesia juga harus aktif ikut serta dalam pencegahan korupsi,

45
DAFTAR PUSTAKA

Agus Wibowo. 2013. Pendidikan Antikorupsi di Sekolah Strategi Internalisasi


Pendidikan Antikorupsi di Sekolah. Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
Bhattarai, Pranav, Fighting Corruption: Lessons from Other Countries, Republica
Opinion, May, 9, 2011 dalam http://archives.myrepublica.com/portal
/index.php?action =news_details&news_id=31075
Buku Ajar Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi (PBAK). Pusat Pendidikan Dan
Pelatihan Tenaga Kesehatan Badan Pengembangan Dan Pemberdayaan
SDM Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2014.

http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2017/08/PBAK-
Komprehensif.pdf#page=6&zoom=auto,-47,842 Diakses pada tanggal 03
November 2018, Pukul 21.00 WIB
http://edisinews.com/berita-pengawasan-perlu-dilakukan-untuk-mencegah-tindak-
korupsi-di-daerah.html Diakses pada tanggal 03 November 2018, Pukul 21.00 WIB
http://info.bisnis.com/read/mencegah-korupsi-di-daerah Diakses pada tanggal 04
November 2018, Pukul 21.00 WIB
http://www.academia.edu/PENGAWASAN_FUNGSIONAL Diakses pada tanggal
03 November 2018, Pukul 20.00 WIB
http://www.depkes.go.id/article/view/16100700003/kemenkes-dan-bpkp-
kerjasama-kendalikan-korupsi.html diakses pada tanggal 3 november 2018 pukul
14.00 WIB

http://www.depkes.go.id/article/view/20143210001/anti-korupsi-masuk-pada-
materi-pelatihan-kesehatan.html diakses pada tanggal 3 november 2018 pukul
14.00 WIB

46
http://www.depkes.go.id/article/view/2014440001/komitmen-bersama-antara-
kemenkes-ri-dengan-11-mitra-kerja-untuk-mencegah-tindak-korupsi.html diakses
pada tanggal 3 november 2018 pukul 14.00 WIB

Kemenkes RI. 2014. Buku Ajar Pendidikan dan Budaya Antikorupsi. Jakarta. Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan
Kementrian pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi, Reformasi
Birokrasi, http://www.menpan.go.id/reformasi-birokrasi/makna-dan-tujuan (diakses
pada tanggal 3 November 2018)
Nugroho, Hibnu (2011), Spirit Integralisasi untuk KPK, Wacana Nasional, dalam
Suara Merdeka, 8 Agustus 2011
Peraturan Menteri pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi Republik
Indonesia Nomor 52 tahun 2014 Mengenai pedoman pembangunan zona integritas.
reformasi-birokrasi PERPRES-NOMOR-81-TAHUN-2010-TENTANG-GRAND-
DESIGN-REFORMASI-BIROKRASI-2010-2025-.pdf (diaskes pada tanggal 3
Nvember 2018)
Ridwan Zachrie Wijayanto. 2010. Korupsi Mengorupsi Indonesia: Sebab, Akibat,
dan Prospek Pemberantasan. Jakarta: Gramedia
Slide paparan pembangunan dan penilaian Zona Integritas (ZI) wilayah bebas dari
korupsi dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBK/WBBM) pada
kementerian keunangan. (diakses pada tanggal 3 November, pukul 21.00)

47