You are on page 1of 3

Tuesday, November 6, 2012

Malpraktik dalam Keperawatan


A. Definisi Malpraktik dalam Keperawatan
Dalam suatu kasus di California tahun 1956 Gumawadi (1994) mendifinisikan malpraktik adalah
kelalaian dari seorang dokter atau perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan
pengetahuannya di dalam memberikan pelayanan pengobatan dan perawatan terhadap seorang
pasien yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit atau terluka dilingkungan
wilayah yang sama.
Malpraktek adalah kelalaian dari seorang dokter/perawat untuk menerapkan tingkat keterampilan dan
pengetahuannya didalam memberikan pelayanan pengobatan/perawatan terhadap seorang pasien,
yang lazim diterapkan dalam mengobati dan merawat orang sakit/terluka dilingkungan wilayah yang
sama. (Yulianus, Malpraktek 2003)
Ellis dan Hartley (1998) mengungkapkan bahwa malpraktik merupakan batasan yang spesifik dari
kelalaian (negligence) yang ditujukan pada seorang yang telah terlatih atau berpendidikan yang
menunjukan kinerja sesuai bidang tugas/pekerjaannya. Malpraktik dalam keperawatan adalah suatu
batasan yang digunakan untuk menggambarkan kelalaian perawat dalam melakukan kewajibannya.

B. Jenis Malpraktik
Malpraktik terbagi kedalam tiga jenis, yaitu malpraktik kriminil (pidana), malpraktik sipil (perdata)
malpraktik etik.
1. Malpraktik kriminal (pidana) merupakan kesalahan dalam menjalankan praktek yang berkaitan
dengan pelanggaran UU Hukum “pidana”. Yaitu seperti :
a. Menyebabkan pasien meninggal/luka karena kelalaian
b. Melakukan abortus
c. Melakukan pelanggaran kesusilaan/kesopanan
d. Membuka rahasia kedokteran/keperawatan
e. Pemalsuan surat keterangan
f. Sengaja tidak memberikan pertolongan pada orang yang dalam keadaan bahaya.
2. Malpraktik sipil (perdata). Seorang tenaga kesehatan akan disebut melakukan malpraktik sipil
apabila tidak melaksanakan kewajiban atau tidak melaksanakan prestasinya sebagaimana yang telah
disepakati (ingkar janji). Tindakan tenaga kesehatan yang dapat dikatagorikan malpraktik sipil antara
lain :
a. Tidak melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan
b. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi terlambat melakukannya
c. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya wajib dilakukan tetapi tidak sempurna
d. Melakukan apa yang menurut kesepakatannya tidak seharusnya dilakukan
3. Malpraktik etik, merupakan tidakan keperawatan yang bertentangan dengan etika keperawatan,
sebagaimana yang diatur dalam kode etik keperawatan yang merupakan seperangkat standar etika,
prinsip, aturan, norma yang beraku untuk perawat.

C. Malpraktik dalam Keperawatan


Banyak kemungkinan yang dapat memicu perawat melakukan malpraktik. Malpraktik lebih spesifik
dan terkait dengan status profesional seseorang, misalnya perawat, dokter, atau penasihat hukum.
Vestal, K.W. (1995) mengatakan bahwa untuk mengatakan secara pasti malpraktik, apabila
penggugat dapat menunjukan hal-hal dibawah ini.
1. Duty, pada saat terjadinya cedera, terkait dengan kewajibannya yaitu, kewajiban mempergunakan
segala ilmu dan kepandaiannya untuk menyembuhkan atau setidaknya meringankan beban
penderitaan pasiennya berdasarkan standar profesi. Hubungan perawat-klien menunjukan bahwa
melakukan kewajiban berdasarkan standar keperawatan.
2. Breach of the duty, pelanggaran terjadi sehubungan dengan kewajibannya, artinya menyimpang
dari apa yang seharusnya dilakukan menurut standar profesinya.
3. Injuri, seseorang mengalami cedera (injury) atau kerusakan (damage) yang dapat dituntut secara
hukum. Misalnya pasien mengalami cedera sebagai akibat pelanggaran. Keluhan nyeri, adanya
penderitaan, atau stres emosi dapat dipertimbangkan sebagai akibat cedera jika terkait dengan
cedera fisik.
4. Proximate caused, pelanggaran terhadap kewajibannya menyebabkan atau terkait dengan cedera
yang dialami pasien. Misalnya, cedera yang terjadi secara langsung berhubungan dengan
pelanggaran terhadap kewajiban perawat terhadap pasien.
Sebagai penggugat, seseorang harus mampu menunjukan bukti pada setiap elemen dari keempat
elemen di atas. Jika semua elemen itu dapat dibuktikan, hal ini menunjukan bahwa telah terjadi
malpraktik dan perawat berada pada tuntutan malpraktik. Tuntutan malpraktik dapat bersifat
pelanggaran sebagai berikut.
1. Pelanggaran etika profesi. Pelanggaran ini sepenuhnya tanggung jawab organisasi profesi (Majelis
Kode Etik Keperawatan) sebagaimana tercantum pada pasal 26 dan 27 Anggaran Dasar PPNI.
Sebagaimana halnya dokter, perawat pun merupakan tenaga kesehatan profesional yang
menghadapi banyak masalah moral/etik sepanjang melaksanakan praktik profesional. Beberapa
masalah etik, antara lain moral unprepareness, moral blindness, amoralssm, dan moral fanaatism.
Masalah etika yang terjadi pada tenaga keperawatan ditangani organisasi profesi keperawatan
(PPNI) melalui Majelis Kode Etik Keperawatan.
2. Sanksi administratif. Berdasarkan Keppres No. 56 tahun 1995 dibentuk Majelis Disiplin Tenaga
Kesehatan (MDTK) dalam rangka pemberian perlindungan yang seimbang dan objektif kepada
tenaga kesehatan dan masyarakat penerima pelayanan kesehatan. MDTK bertugas meneliti dan
menentukan ada atau tidaknya kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi yang
dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan. Berdasarkan
pemeriksaan MDTK, hasilnya akan dilaporkan kepada pejabat kesehatan berwenang untuk diambil
tindakan disiplin terhadap tenaga kesehatan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Tindakan sebagaimana yang dimaksud tidak mengurangi ketentuan pada : pasal 54
ayat (1) dan ayat (2) UU No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, yaitu : (1) terhadap tenaga kesehatan
yang melakukan kesalahan atau kelalaian dalam melaksanakan profesinya dapat dikenakan tindakan
disiplin. (2) penentuan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian sebagaimana yang dimaksud dalam
ayat 1 ditentukan oleh Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.
3. Pelanggaran hukum. Pelanggaran dapat bersifat perdata maupun pidana. Pelanggaran bersifat
perdata sebagaimana pada UU No.23 tahun 1992 pada pasal 55 ayat (1) dan ayat (2) berbunyi : (1)
setiap orang berhak atas ganti rugi akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan.
(2) ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
Caffee (1991) dalam Vestal, K.W. (1995) mengidentifikasi 3 area dimana perawat beresiko melakukan
kesalahan, antara lain :
1. Assessment errors, termasuk kegagalan mengumpulkan data/informasi tentang pasien secara
adekuat, atau kegagalan mengidentifikasi informasi yang diperlukan seperti data hasil pemeriksaan
laboratorium, tanda-tanda vital, atau keluhan pasien yang membutuhkan tindakan segera. Untuk
menghindari kegagalan ini, perawat seharusnya dapat mengumpulkan data dasar secara
komperhensif dan mendasar.
2. Planning errors, termasuk :
a. Kegagalan mencatat masalah pasien dan kelalaian menuliskan dalam rencana keperawatan.
b. Kegagalan mengkomunikasikan secara efektif rencana keperawatan yang telah dibuat.
c. Kegagalan memberikan instruksi yang dapat dimengerti oleh pasien.
Untuk mencegah kesalahan tersebut diatas, jangan hanya mengira-ngira dalam membuat rencana
keperawatan tanpa mempertimbangkan dengan sebaik-baiknya. Seharusnya dalam menulis harus
dengan pertimbangan yang jelas dengan berdasarkan masalah pasien. Bila dianggap perlu, lakukan
modifikasi rencana berdasarkan data baru yang terkumpul. Rencana harus realistik, berdasarkan
standar yang telah ditetapkan termasuk pertimbangan yang diberikan oleh pasien. Komunikasikan
secara jelas baik secara liasan maupun dengan tulisan. Bekerja berdasarkan rencana dan lakukan
secara hati-hati instruksi yang ada. Setiap pendapat perlu divalidasi dengan teliti.
3. Intervension errors, temasuk kegagalan menginterprestasikan dan melaksanakan tindakan
kolaborasi, kegagalan melakukan asuhan keperawatan secara hati-hati, kegagalan
mengikuti/mencatat order/perintah dari dokter atau supervisor. Untuk menghindari kesalahan ini,
sebaiknya rumah sakit tetap melaksanakan program pendidikan berkelanjutan.

D. Pedoman Mencegah Malpraktik


Vestal, K.W (1995) memberikan pedoman guna mencegah terjadinya malpraktik, sebagai berikut :
1. Berikan kasih sayang kepada pasien sebagaimana anda mengasihi diri sendiri. Layani pasien dan
keluarganya dengan jujur dan penuh rasa hormat.
2. Gunakan pengetahuan keperawatan untuk menetapkan diagnosa keperawatan yang tepat dan
laksanakan intervensi keperawatan yang diperlukan. Perawat mempunyai kewajiban untuk menyusun
pengkajian dan melaksanakan pengkajian dengan benar.
3. Utamakan kepentingan pasien. Jika tim kesehatan lainnya ragu-ragu terhadap tindakan yang akan
dilakukan atau kurang merespon terhadap perubahan kondisi pasien, diskusikan bersama dengan tim
keperawatan guna memberikan masukan yang diperlukan bagi tim kesehatan lainnya.
4. Tingkatkan kemampuan anda secara teus menerus, sehingga pengetahuan yang dimiliki
senantiasa up-to-date.
5. Jangan melakukan tindakan dimana tindakan itu belum anda kuasai.
6. Laksanakan asuhan keperawatan berdasarkan model proses keperawatan.
7. Catatlah rencana keperawatan dan respon pasien selama dalam asuhan keperawatan. Nyatakan
secara jelas dan lengkap. Catatlah sesegera mungkin fakta yang anda observasi secara jelas,
8. Lakukan konsultasi dengan anggota tim lainnya. Biasakan bekerja berdasarkan kebijakan
organisasi/rumah sakit dan prosedur tindakan yang berlaku.
9. Pelimpahan tugas secara bijaksana, dan diketahui lingkup tugas masing-masing.

Posted by aditya rizka at 7:12 AM