You are on page 1of 14

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

DI RUANG 7A ANAK DENGAN PASIEN VOMITING AKUT

DI RSUD DR. SAIFUL ANWAR

Disusun Oleh:

TIKA ARYUNI DAMAYANTI

1814314901015

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

STIKES MAHARANI MALANG

2018
LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN LAPORAN PEDAHULUAN DAN

ASUHAN KEPERAWATAN DEPARTEMEN ANAK DI RUANG 7A ANAK RSSA

Laporan Yang Berjudul : Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan di

Ruang 7A Anak

Disusun Oleh : TIKA ARYUNI DAMAYANTI

Program Studi : Profesi Ners

NIM : 1814314901015

Menyetujui,

Pembimbing Klinik Pembimbing Institusi

___________________ ____________________
LAPORAN PENDAHULUAN VOMITUS (MUNTAH)

A. Pengertian

Muntah ialah suatau refleks kompleks yg diperantarai karena pusat muntah di medulla
oblongata otak.

Muntah ialah pengeluaran isi lambung secara eksklusif lewat mulut dgn bantuan kontraksi
otot- otot perut. Butuh dibedakan antara regurgitasi, ruminasi, ataupun refluesophagus.
Regurgitasi ialah makanan yg dikeluarkan kembali kemulut dampak gerakan peristaltic
esophagus, ruminasi ialah pengeluaran makanan secra sadar buat dikunyah lalu ditelan
kembali. Sedangkan refluesophagus mewujudkan/adalah kembalinya isi lambung kedalam
esophagus dgn cara pasif yg bisa dikarenakan karena hipotoni spingter eshopagus bagian
bawah, posisi abnormal sambungan esophagus dgn kardial / pengosongan isi lambung yg
lambat.

B. Etiologi

Pembahasan etiologi muntah pada bayi & anak berlandaskan usia ialah sebagai berikut

Usia 0 – 2 Bulan :

1. Kolitis Alergika

Alergi terhadap susu sapi / susu formula berbahan dasar kedelai. Biasanya diikuti dgn
diare, perdarahan rektum, & rewel.

2. Kelainan anatomis dari saluran gastrointestinal

Kelainan kongenital, termasuk stenosis / atresia. Manifestasinya berupa intoleransi


terhadap makanan pada beberapa hari pertama kehidupan.

3. Refluks Esofageal

Regurgitasi yg kerap kali terjadi segera sesudah pemberian susu. Sangat kerap kali
terjadi pada neonatus; secara klinis penting kalau/jika keadann ini menyebabkan gagal
tumbuh kembang, apneu, / bronkospasme.

4. Peningkatan tekanan intrakranial

Rewel / letargi diikuti dgn distensi abdomen, trauma lahir & shaken baby syndrome.

5. Malrotasi dgn volvulus

80% dari kasus ini diketemukan pada bulan pertama kehidupan, kebanyakan diikuti
emesis biliaris.

6. Ileus mekonium
Inspissated meconium pada kolon distal; bisa dipikirkan diagnosis cystic fibrosis.

7. Necrotizing Enterocolitis

Kerap kali terjadi khususnya pada bayi prematur terutama jika mengalami hipoksia
saat lahir. Bisa diikuti dgn iritabilitas / rewel, distensi abdomen & hematokezia.

8. Overfeeding

Regurgitasi dari susu yg tak bisa dicerna, wet-burps kerap kali pada bayi dgn
kelebihan berat badan yg diberi air susu secara berlebihan.

9. Stenosis pylorus

Puncaknya pada usia 3-6 minggu kehidupan. Rasio pria banding wanita ialah 5:1 &
keadann ini kerap kali terjadi pada anak pria pertama. Manifestasi klinisnya secara
progresif mau semakin memburuk, proyektil, & emesis nonbiliaris.

Usia 2 bulan-5 tahun

1. Tumor otak

Pikirkan terutama jika diketemukan sakit kepala yg progresif, muntah-muntah,


ataksia, & tiada nyeri perut.

2. Ketoasidosis diabetikum

Dehidrasi sedang hingga berat, riwayat polidipsi, poliuri & polifagi.

3. Korpus alienum

Dihubungkan dgn kejadian tersedak berulang, batuk terjadi tiba-tiba / air liur yg
menetes.

4. Gastroenteritis

Sangat kerap kali terjadi; kerap kali adanya riwayat kontak dgn manusia yg sakit,
biasanya diikuti karena diare & panas.

5. Trauma kepala

Muntah kerap kali / progresif menandakan konkusi / perdarahan intrakranial.

6. Hernia inkarserasi

Onset dari menangis, anoreksia & pembengkakan skrotum yg terjadi tiba-tiba.

7. Intussusepsi

Puncaknya terjadi pada bulan ke 6-18 kehidupan; pasien jarang mengalami diare /
panas dibandingkan dgn anak yg mengidap gastroenteritis.
8. Posttusive

Seringkali, anak-anak mau muntah sesudah batuk berulang / batuk yg dipaksakan.

9. Pielonefritis

Panas cukup tinggi, tampak sakit, disuria / polakisuria. Pasien mungkin memiliki
riwayat infeksi traktus urinarius sebelumnya

Usia 6 tahun ke atas

1. Adhesi

Terutama sesudah operasi abdominal / peritonitis.

2. Appendisitis

Manifestasi klinis & lokasi nyeri bervariasi. Gejala-gejala kerap kali terjadi termasuk
nyeri yg semakin berkembang/berubah naik, menjalar ke kuadran kanan bawah,
muntah didahului karena nyeri, anoreksia, panas subfebril, & konstipasi.

3. Kolesistitis

Lebih kerap kali terjadi pada perempuan, terutama dgn penyakit hemolitik
(contohnya, anemia sel sabit). Ditandai dgn nyeri epigastrium / kuadran kanan atas yg
terjadi secara tiba-tiba sesudah makan.

4. Hepatitis

Terutama dikarenakan karena infeksi virus / dampak obat; pasien mungkin memiliki
riwayat buang air besar berwarna seperti dempul / urin berwarna seperti teh pekat.

5. Inflammatory bowel disease

Berkaitan dgn diare, hematokezia, & nyeri perut. Striktura bisa menyebabkan
terjadinya obstruksi.

6. Intoksikasi

Lebih kerap kali terjadi pada anak yg sedang belajar berjalan & remaja. Dicurigai jika
memiliki riwayat depresi. Bisa jg diikuti karena gangguan status mental.

7. Migrain

Nyeri kepala yg berat; kerap kali terdapatnya aura sebelum serangan seperti skotoma.
Pasien mungkin memiliki riwayat nyeri kepala kronis / riwayat keluarga dgn migrain.

8. Pankreatitis
Faktor resiko termasuk trauma perut bagian atas, riwayat infeksi sebelumnya / sedang
infeksi, penggunaan kortikosteroid, alkohol & kolelitiasis.

9. Ulkus peptikum

Pada remaja, ratio wanita:pria = 4:1. Nyeri epigastrium kronik / berulang, kerap kali
memburuk pada waktu malam.

C. Patofisiologi

Kemampuan buat memuntahkan mewujudkan/adalah suatu keuntungan karena


memungkinkan pengeluaran toksin dari lambung. Muntah terjadi kalau/jika terdapat
rangsangan pada pusat muntah yg berasal dari, gastrointestinal, vestibulo okular, aferen
kortikal yg lebih cukup tinggi, menuju CVC lalu dimulai nausea, retching, ekpulsi isi
lambung.

Ada 2 regio anatomi di medulla yg mengontrol muntah, 1) chemoreceptor trigger zone


(CTZ) & 2) central vomiting centre (CVC). CTZ terletak di area postrema pada dasar
ujung caudal ventrikel IV di luar blood brain barrier (sawar otak). Koordinasi pusat
muntah bisa dirangsang lewat aneka jaras. Muntah bisa terjadi karena tekanan
psikologis lewat jaras yg kortek serebri & sistem limbik menuju pusat muntah (CVC) &
jika pusat muntah terangsang lewat vestibular / sistim vestibuloserebelum dari labirin di
dlm telinga. Rangsangan bahan kimia lewat darah / cairan otak (LCS ) mau terdeteksi
karena CTZ. Mekanisme ini menjadi target dari berlimpah obat anti emetik. Nervus
vagus & visera mewujudkan/adalah jaras keempat yg menstimulasi muntah lewat iritasi
saluran cerna & pengosongan lambung yg lambat. Sekali pusat muntah terangsang kian
cascade ini mau berjalan & mau menyebabkan munculnya muntah. Pencegahan muntah
mungkin bisa lewat mekanisme ini.

D. Prognosis

Prognosis pasien dgn gejala-gejala muntah tergantung pada tataran dehidrasi &
penatalaksanaan dehidrasi, etiologi penyakit yg menyebabkan muntah, serta komplikasi
yg terjadi dari muntah 1tu sendiri.

E. Komplikasi

a. Komplikasi metabolik :

Dehidrasi, alkalosis metabolik, gangguan elektrolit & asam basa, deplesi kalium,
natrium. Dehidrasi terjadi sebagai dampak dari hilangnya cairan lewat muntah /
masukan yg minus karena karena kerap kali muntah. Alkalosis sebagai dampak dari
hilangnya asam lambung, hal ini diperberat karena masuknya ion hidrogen ke dlm sel
karena defisiensi kalium & berkurangnya natrium ekstraseluler. Kalium bisa hilang
bersama bahan muntahan & keluar lewat ginjal bersama-sama bikarbonat. Natrium bisa
hilang lewat muntah & urine. Pada keadann alkalosis yg berat, pH urine bisa 7 / 8,
kadar natrium & kalium urine cukup tinggi walaupun terjadi deplesi Natrium & Kalium
b. Gagal Tumbuh Kembang

Muntah berulang & cukup hebat menyebabkan gangguan gizi karena intake menjadi
sangat berkurang & kalau/jika hal ini terjadi cukup lama, kian mau terjadi kegagalan
tumbuh kembang.

c. Aspirasi Isi Lambung

Aspirasi bahan muntahan bisa menyebabkan asfiksia. Episode aspirasi ringan


berulang menyebabkan munculnya infeksi saluran nafas berulang. Hal ini terjadi
sebagai konsekuensi GERD.

d. Mallory Weiss syndrome

Mewujudkan/adalah laserasi linier pada mukosa perbatasan esofagus & lambung.


Biasanya terjadi pada muntah hebat berlangsung lama. Pada pemeriksaan endoskopi
diketemukan kemerahan pada mukosa esofagus bagian bawah daerah LES. Dlm
waktu singkat mau sembuh. Kalau/jika anemia terjadi karena perdarahan hebat
butuh dikerjakan transfusi darah

e. Peptik esofagitis

Dampak refluks berkepanjangan pada muntah kronik menyebabkan iritasi mukosa


esophagus karena asam lambung.

F. Pencegahan

Buat mencegah hal tersebut posisi bayi bisa dimiringkan / tengkurap & bukannya
terlentang.

G. Pemeriksaan penunjang

1. Pemeriksaan laboratorium

a) Darah lengkap

b) Elektrolit serum pada bayi & anak yg dicurigai mengalami dehidrasi.

c) Urinalisis, kultur urin, ureum & kreatinin buat mendeteksi adanya infeksi
kelainan saluran kemih / adanya kelainan metabolik.

d) Asam amino plasma & asam organik urin butuh diperiksa kalau/jika dicurigai
adanya penyakit metabolik yg ditandai dgn asidosis metabolik berulang yg
tak jelas penyebabnya.

e) Amonia serum butuh diperiksa pada muntah siklik buat menyingkirkan


kemungkinan defek pada siklus urea.

f) Faal hepar, amonia serum, & kadar glukosa darah butuh diperiksa kalau/jika
dicurigai ke arah penyakit hati.
g) Amilase serum biasanya mau berkembang/berubah naik pada pasien
pankreatitis akut. Kadar lipase serum lebih bermanfaat karena kadarnya tetap
meninggi selama beberapa hari sesudah serangan akut.

h) Feses lengkap, darah samar & parasit pada pasien yg dicurigai gastroenteritis
/ infeksi parasit.

2. Ultrasonografi

Dikerjakan pada pasien dgn kecurigaan stenosis pilorik, mau tetapi dua pertiga
bayi mau memiliki hasil yg negatif sehingga menbutuhkan pemeriksaan barium
meal.

3. Foto polos abdomen

a) Posisi supine & left lateral decubitus diberdayakan buat mendeteksi


malformasi anatomik kongenital / adanya obstruksi.

b) Gambaran air-fluid levels menandakan adanya obstruksi tetapi gejala ini tak
spesifik karena bisa diketemukan pada gastroenteritis

c) Gambaran udara bebas pada rongga abdomen, biasanya di bawah diafragma


menandakan adanya perforasi.

4. Barium meal

Tindakan ini memanfaatkan kontras yg nonionik, iso-osmolar, serta larut air.


Dikerjakan kalau/jika curiga adanya kelainan anatomis & / keadann yg
menyebabkan obstruksi pada pengeluaran gaster.

5. Barium enema

Buat mendeteksi obstrusi usus bagian bawah & bisa sebagai terapi pada
intususepsi.

H. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan awal pada pasien dgn keluhan muntah ialah mengkoreksi keadann
hipovolemi & gangguan elektrolit. Pada penyakit gastroenteritis akut dgn muntah,
obat rehidrasi oral biasanya sudah cukup buat menangani dehidrasi.

Pada muntah bilier / suspek obstuksi intestinal penatalaksanaan awalnya ialah dgn
tak memberikan makanan secara peroral serta memasang nasogastic tube yg
dihubungkan dgn intermittent suction. Pada keadann ini membutuhkan konsultasi
dgn bagian bedah buat penatalaksanaan lebih lanjut.

Pengobatan muntah ditujukan pada penyebab spesifik muntah yg bisa


diidentifikasi. Penggunaan antiemetik pada bayi & anak tiada mengetahui
penyebab yg jelas tak dianjurkan. Bahkan kontraindikasi pada bayi & anak dgn
gastroenteritis sekunder / kelainan anatomis saluran gastrointestinal yg
mewujudkan/adalah kasus bedah misalnya, hiperthrophic pyoric stenosis (HPS),
apendisitis, batu ginjal, obstruksi usus, & peningkatan tekanan intrakranial. Hanya
pada keadann tertentu antiemetik bisa diberdayakan & mungkin efektif, misalnya
pada mabuk perjalanan (motion sickness), mual & muntah pasca operasi,
kemoterapi kanker, muntah siklik, gastroparesis, & gangguan motilitas saluran
gastrointestinal.

Terapi farmakologis muntah pada bayi & anak ialah sebagai berikut :

1. Antagonis dopamin

Tak dibutuhkan pada muntah akut dikarenakan infeksi gastrointestinal karena


biasanya mewujudkan/adalah self limited. Obat-obatan antiemetik biasanya
dibutuhkan pada muntah pasca operasi, mabuk perjalanan, muntah yg
dikarenakan karena obat-obatan sitotoksik, & penyakit refluks gastroesofageal.
Contohnya Metoklopramid dgn dosis pada bayi 0.1 mg/kgBB/kali PO 3-4 kali
per hari. Pasca operasi 0.25 mg/kgBB per dosis IV 3-4 kali/hari kalau/jika
butuh. Dosis maksimal pada bayi 0.75 mg/kgBB/hari. Mau tetapi obat ini
sekarang sudah jarang diberdayakan karena memiliki efek ekstrapiramidal
seperti reaksi distonia & diskinetik serta krisis okulonergik.

Domperidon ialah obat pilihan yg berlimpah diberdayakan sekarang ini


karenadapat dikatakan lebih aman. Domperidon mewujudkan/adalah derivate
benzimidazolin yg secara invitro mewujudkan/adalah antagonis dopamine.
Domperidon mencegah refluks esophagus berlandaskan efek peningkatan tonus
sfingter esophagus bagian bawah.

2. Antagonisme terhadap histamine (AH1)

Diphenhydramine & Dimenhydrinate (Dramamine) termasuk dlm golongan


etanolamin. Golongan etanolamin memiliki efek antiemetik amat kuat diantara
antihistamin (AH1) lainnya. Kedua obat ini bermanfaat buat menangani mabuk
perjalanan (motion sickness) / kelainan vestibuler. Dosisnya oral: 1-
1,5mg/kgBB/hari dibagi dlm 4-6 dosis. IV/IM: 5 mg/kgBB/haridibagi dlm 4
dosis.

3. Prokloperazin & Klorpromerazin

Mewujudkan/adalah derivate fenotiazin. Bisa mengurangi / mencegah muntah


yg dikarenakan karena rangsangan pada CTZ. Memiliki efek kombinasi
antikolinergik & antihistamin buat menangani muntah dampak obat-obatan,
radiasi & gastroenteritis. Hanya boleh diberdayakan buat anak diatas 2 tahun
dgn dosis 0.4–0.6 mg/kgBB/hari tiap dibagi dlm 3-4 dosis, dosis maksimal berat
badan <20>

4. Antikolinergik
Skopolamine bisa jg memberikan perbaikan pada muntah karena faktor
vestibular / stimulus karena mediator proemetik. Dosis yg diberdayakan ialah
0,6 mikrogram/kgBB/ hari dibagi dlm 4 dosis dgn dosis maksimal 0,3mg per
dosis.

5. 5-HT3 antagonis serotonin

Yg kerap kali diberdayakan ialah Ondanasetron. Mekanisme kerjanya diduga


dilangsungkan dgn mengantagonisasi reseptor 5-HT yg terdapat pada CTZ di
area postrema otak & mungkin jg pada aferen vagal saluran cerna.
Ondansentron tak efektif buat pengobatan motion sickness. Dosis menangani
muntah dampak kemoterapi 4–18 tahun: 0.15 mg/kgBB IV 30 menit senelum
kemoterapi diberikan, diulang 4 & 8 jam sesudah dosis pertama diberikan
kemudiansetiap 8jam buat 1-2 hari berikutnya. Dosis pascaoperasi: 2–12 yr
<40>40 kg: 4 mg IV; >12 yr: dosis dewasa8 mg PO/kali.

I. Diagnosa keperawatan

1. Defisit isi cairan berhubungan dgn kehilangan cairan aktif

2. Ketidakseimbangan nutrisi minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn gangguan


absorbs

3. Nausea berhubungan dgn iritasi gastric

4. ketidakefektifan perfusi jaringan berhubungan dgn hypovolemia

5. resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dgn gangguan status metabolic

6. cemas berhubungan dgn perubahan status kesehatan

J. Pengkajian

a. Identitas : umur untuk menentukan jumlah cairan yang diperlukan

b. Riwayat kesehatan ·Keluhan utama : mual, muntah. ·Riwayat kesehatan sekarang ·Riwayat
kesehatan yang lalu ·Riwayat kesehatan keluarga

c. Pemeriksaan fisik

- Tanda-tanda vital sign

- Tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mukosa mulut kering, kelopak mata cekung, produksi
urine berkurang).

- Tanda- tanda shock ·Penurunan berat badan

d. Pemeriksaan Penunjang

- Pemeriksaan laboratorium : analisis urine dan darah


- Foto polos abdomen meupun dengan kontras

- USG 2

K. Rencana askep

Diagnosa : Defisit isi cairan & elektrolit minus dari kebutuhan tubuh berhubungan dgn

output cairan yg berlebihan.

Tujuan : Devisit cairan & elektrolit teratasi

Kriteriahasil : Gejala-gejala dehidrasi tak ada, mukosa mulut & bibir lembab, balan cairan

seimbang.

Intervensi :

– Observasi gejala-gejala vital.

– Observasi gejala-gejala dehidrasi.

– Ukur infut & output cairan (balanc ccairan).

– Berikan & anjurkan keluarga buat memberikan minum yg berlimpah minus lebih

2000 – 2500 cc per hari.

– Kolaborasi dgn dokter dlm pemberian therafi cairan, pemeriksaan lab elektrolit.

– Kolaborasi dgn tim gizi dlm pemberian cairan rendah sodium.

Diagnosa : Resiko kekurangan isi cairan berhubungan dgn adanya rasa mual & muntah

Tujuan : Mempertahankan keseimbangan isi cairan.

Kriteria Hasil : Klien tak mual & muntah.

Intervensi :

– Monitortanda-tandavital.

Rasional : Mewujudkan/adalah indicator secara dini tentang hypovolemia.

– Monitor intake & out put & konsentrasi urine.

Rasional : Menurunnya out put & konsentrasi urine mau menaikkan kepekaan/endapan

sebagai salah satu kesan adanya dehidrasi & membutuhkan peningkatan cairan.
– Beri cairan sedikit demi sedikit tapi kerap kali.

Rasional : Buat meminimalkan hilangnya cairan.

– Resiko terjadinya infeksi berhubungan dgn tak adekuatnya pertahanan tubuh, ditandai dgn :

Suhu tubuh di atas normal. Frekuensi pernapasan berkembang/berubah naik.

Diagnosa : Nutrisi minus dari kebutuhan berhubungan dgn intake menurun. Nafsu makan

menurun Berat badan menurun Porsi makan tak dihabiskan Ada rasa mual muntah.

Tujuan : klien mampu merawat diri sendiri

Intervensi :

– Kaji sejauh mana ketidakadekuatan nutrisi klien

Rasional : menganalisa penyebab melaksanakan intervensi.

– Perkirakan / hitung pemasukan kalori, jaga komentar tentang nafsu makan hingga minimal

Rasional : Mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan nutrisi berfokus pada kasus membuat

suasana negatif & mempengaruhi masukan.

– Timbang berat badan sesuai indikasi

Rasional : Mengawasi keefektifan secara diet.

– Beri makan sedikit tapi kerap kali

Rasional : Tak memberi rasa bosan & pemasukan nutrisi bisa ditingkatkan.

– Anjurkan kebersihan oral sebelum makan

Rasional : Mulut yg bersih menaikkan nafsu makan

– Tawarkan minum saat makan kalau/jika toleran.

Rasional : Bisa mengurangi mual & menghilangkan gas.

– Konsul tetang kesukaan/ketidaksukaan pasien yg menyebabkan distres.

Rasional : Melibatkan pasien dlm perencanaan, memampukan pasien memiliki rasa kontrol &

mendorong buat makan.


– Memberi makanan yg bervariasi

Rasional : Makanan yg bervariasi bisa menaikkan nafsu makan klien.


Daftar Pustaka

Putra, Deddy Satriya. Muntah pada anak. Di sunting & di terbitkan Klinik Dr. Rocky™.
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUD Arifin Achmad/ FK-UNRI. Pekanbaru

Suraatmaja, Sudaryat. 2005. Muntah pada bayi & anak dlm kapita selekta gastroenterologi
anak. CV. Sagung Seto. Jakarta

http://rinimustikasari.blogspot.com/2009/11/muntah-pada-bayi-&-anak.html diakses pada


tanggal 27 oktober 2013