You are on page 1of 29

MODUL 1

PENGUKURAN DAN INSTRUMENTASI

PROGRAM STUDI TEKNIK LISTRIK BANDAR UDARA


JURUSAN TEKNIK PENERBANGAN
SEKOLAH TINGGI PENERBANGAN INDONESIA
CURUG – TANGERANG
2016
MODUL 1

I. JUDUL : Pengukuran dan Instrumentasi

II. TUJUAN :
1. Mengetahui besaran – besaran listrik
2. Mengetahui jenis – jenis instrument listrik
3. Mengetahui pola pemasangan instrument listrik
4. Mengetahui cara pembacaan instrument yang benar

III. LANDASAN TEORI


Pengukuran adalah suatu perbandingan antara besaran dengan besaran lain yang
sejenis secara eksperiment dan salah satu besaran dianggap standar. Alat bantu untuk
pengukuran dinamakan alat ukur atau instrumen.
Pengukuran besaran listrik seperti arus (ampere), tegangan (volt), daya listrik(watt).
Pengukuran non listrik seperti suhu, kuat cahaya, tekanan,dll

Instrument atau alat ukur


Sebuah alat yang digunakan untuk menentukan nilai atau besaran dari suatu
kuantitas atau variabel.

Sifat Sifat alat ukur


1.Rantai Kalibrasi dan keterlacakan
2.Kecermatan (Resolution)
3.Kepekaan (Sensitivity)
4.Keterbacaan (Readability)
5.Histerisis (Histerysis)
6.Kepasifan/Keterlambatan reaksi
7..Pergeseran (shifting drift)
8.Kestabilan nol (zero stability)
9.Pengambangan/ketidakpastian (floating)
1. Rantai Kalibrasi dan keterlacakan
Yaitu membandingkan suatu besaran dengan besaran standart.
Mata rantai kalibrasi
Tingkat 1 kalibrasi alat ukur dengan memakai acuan alat ukur standar.
Tingkat 2 kalibrasi alat ukur standar dengan memakai acuan alat ukur standar.
Tingkat 3 kalibrasi alat ukur standar dengan acuan alat ukur standar dengan tingkatan
yang lebih tinggi (standar nasional)
Tingkat 4 kalibrasi standar nasional dengan acuan standar internasional

2. Kecermatan (Resolution)
Ketelitian atau accuracy didefenisikan sebagai ukuran seberapa jauh hasil
pengukuran mendekati harga sebenarnya dari pada besaran yang diukur. Ukuran
ketelitian sering dinyatakan dengan dua cara, atas dasar perbedaan atau kesalahan
(error) terhadap harga yang sebenarnya, yaitu :
Contoh :
Sebuah amperemeter menunjukkan arus sebesar 10A sedangkan accuracy 1% maka
kesalahan pengukurannya adalah 1% X 10A = 0,1A sehingga harga sebenarnya dari
hasil pengukurannya adalah (10 + 0,1)A.
Kecermatan atau Keterulangan (Precision/Repeatibility)
Adalah yang menyatakan seberapa jauh alat ukur dapat mengulangi hasilnya untuk
harga yang sama. Atau derajat dekat tidaknya hasil pengukuran satu terhadap yang
lain. Dengan kata lain, alat ukur belum tentu akan dapat memberikan hasil yang sama
jika diulang, meskipun harga besaran yang diukur tidak berubah.
Resolusi
Adalah kemampuan sistem pengukur termasuk pengamatnya, untuk membedakan
harga-harga yang hampir sama. Resolusi adalah nilai perubahan terkecil yang dapat
dirasakan oleh alat ukur. Contoh : suatu timbangan pada jarum penunjuk yang
menunjukkan perubahan 0,1 gram (terkecil yang dapat dilihat) maka dikatakan bahwa
resolusi dari timbangan tersebut adalah 0,1 gram. Harga resolusi sering dinyatakan
pula dalam persen skala penuh.
Kemudahan pembacaan skala adalah sifat yang tergantung pada instrumen dan
pengamatnya. Ini menyatakan angka yang signifikan (mudah diamati) dan dapat
direkam/dicatat sebagai data. Pada meter analog, ini tergantung pada ketebalan tanda
skala dan jarum penunjuknya. Pada meter digital, digit terakhir (least significant)
dapat dipakai sebagai ukuran kemudahan pembacaan skala..

3. Kepekaan (Sensitivity)
Yaitu kemampuan alat ukur untuk menerima, mengubah dan meneruskan isyarat
sensor (dari sensor menuju ke bagian penunjuk,pencatat, atau pengolah data
pengukuran). Contoh Volt meter ( dari pembacaan tegangan menuju ke skala yang
untuk mengolah dan ke bagian pecatat yang berupa bergeraknya jarum. Sensitifitas
adalah rasio antara perubahan pada output terhadap perubahan pada input. Pada alat
ukur yang linier, sensitivitas adalah tetap. Dalam beberapa hal harga sensitivitas yang
besar menyatakan pula keunggulan dari alat ukur yang bersangkutan. Alat ukur yang
terlalu sensitif adalah sangat mahal, sementara belum tentu bermanfaat untuk maksud
yang kita inginkan.
Kepekaan (sensitivitas) menyatakan berapa besarnya harga pengukuran untuk setiap
satuan harga sinyal input. Sinyal input yang paling kecil yang memberikan sinyal
output dan dapat diukur dinamakan sensitivitas alat ukur.

4. Keterbacaan (readability)
Pengamat dapat membaca nilai dari alat ukur dengan lebih mudah dan cepat.

5. Histerisis (Histerysis)
Adalah perbedaan atau penyimpangan yang timbul sewaktu dilakukan pengukuran
secara berkesinambungan dari dua arah yang berlawanan. Mulai dari minimun (nol)
sampai maksimum. Cara Supaya histerisis tidak terjadi adalah gesekan antara poros dan
bantalan harus dihilangkan atau setidak-tidaknya diperkecil.
6. Kepasifan / Kelambatan Reaksi
Kepasifan adaalah merupakan kejadian dimana suatu perbedaan / perubahan keci dari
harga yang diukur tidak menimbulkan suatu perubahan apapun pada jarum penunjuk.

7. Pergeseran (shifting drift)


Apabila terjadi suatu perubahan harga yang ditunjukan pada skala atau yang dicatat
pada kertas grafik, sedangkan sesungguhnya sensor tidak mengisyaratkan suatu
perubahan

8. Kestabilan nol (zero stability)


Apabila benda ukur diambil seketika maka jarum penunjuk harus kembali ke posisi
semula ( posisi nol ) Alat ukur disebut mempunyai kestabilan nol yang jelek apabila
jarum penunjuk tidak tepat kembali ke posisi nol biasanya disebabkan keausan pada
mekanisme penggerak jarum penunjuk

9. Pengambangan/ketidakpastian (floating)
Terjadi apabila pointer selalu berubah posisi ( bergetar ) atau angka terakhir / paling
kanan dari penujuk digital berubah – ubah. Semakin peka alat ukur pengambangan
semakin besar

Untuk menetapkan nilai dari beberapa besaran yang bisa diukur, harus diketahui dulu
nilai, jumlah dan satuannya. Jumlah biasanya ditulis dalam bentuk angka-angka
sedangkan satuannya menunjukkan besarannya. Pengertian tentang hal ini adalah penting
dan harus diketahui dan disetujui bersama oleh teknisi-teknisi antara bangsa-bangsa
karena dengan melihat macam satuannya maka dapatdiketahui besaran pada alatukurnya.
Untuk menetapkan sistrem satuan ini dibentuklah suatu komisi standar internasional.
Sistem satuan yang pertama adalah C.G.S. (Centimeter, Gram, Second) sebagai dasar.
Ada dua sistem C.G.S. yang digunakan yaitu C.G.S. elektrostatis dan C.G.S.
elektrodinamis. Dalam pengukuran listrik yang banyak digunakan adalah yang kedua.
A. Sistem Satuan C.G.S. dan Satuan Praktis
Satuan-satuan praktis yang sering digunakan dalam pengukuran-pengukuran besaran
listrik adalah :
Arus Listrik ( I ) = Ampere ( A )
Tegangan ( V ) = Volt ( V )
Tahanan ( R ) = Ohm ( Ω )
Daya Semu ( S ) = Voltampere ( VA)
Daya Nyata ( P ) = Watt ( W )
Daya Reaktif ( Q ) = Voltampere reaktif ( VAR )
Induktansi ( L ) = Henry ( H )
Kapasitansi ( C ) = Farad ( F )
Muatan Listrik ( Q ) = Coulomb ( C )
B. Sistem Satuan M.K.S.
Tahun 1901 diusulkan sistem satuam Meter, Kilogram, Second (M.K.S.). Sistem ini
merupakan pengembangan sistem C.G.S. dimana panjang dalam meter, berat dalam
kilogram dan waktu dalam detik. Sehingga dalam sistem ini adalah sebagai berikut :
Luas = m 2
Volume = m 3
Kecepatan = m/det
Gaya = newton
Kerja, Energi = joule
Daya = watt
Kuat arus = ampere
Tegangan = volt

Alat Ukur
Secara umum alat ukur ada 2 type yaitu :
- Absolute Instruments
Merupakan alat ukur standar yang sering digunakan di laboratorium-laboratorium
dan
jarang dijumpai dalam pemakaian di pasaran lagi pula alat ini tidak memerlukan
pengkalibrasian dan digunakan sebagai standar.
- Secondary Instruments
Merupakan alat ukur dimana harga yang ditunjukkan karena adanya
penyimpangan dari
alat penunjuknya dan ternyata dalam penunjukan ada penyimpangan maka alat ini
harus
lebih dulu disesuaikan/dikalibrasi dengan membandingkan dengan absolute
instruments
atau alat ukur yang telah lebih dulu disesuaikan.
Alat ukur dikelompokkan menjadi 2 yaitu :
a. Alat ukur analog – jarum
b. Alat ukur digital – angka elektronik

TUJUAN DAN METODE PENGUKURAN


Besaran standar diukur dengan alat ukur standar. Sarana atau alat untuk
menentukan harga suatu besaran atau variabel disebut sebagai piranti instrumentasi.
Lazim disingkat sebagai instrumen.
Instrumen pengukur dipasang pada proses produksi adalah untuk:
- Pengendalian kwalitas produk.
- Pengendalian biaya produksi
- Keselamatan kerja.

Berdasarkan cara memperoleh besaran yang diinginkan, metoda pengukuran dapat


dibedakan atas:

1. Pengukuran langsung
Pengukuran ini dilakukan langsung untuk mendapatkan nilai besaran yang
diinginkan. Ini adalah cara terbaik untuk menentukan kwalitas produk.
Contoh: Mengukur berat produk untuk mendapatkan berat produk yang sama.

2. Pengukuran tidak langsung


Pengukuran suatu besaran dilakukan secara tidak langsung, melalui besaran lain
untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.
Pengukuran ini didasarkan pada hubungan empiris antara besaran yang diukur dan hasil
yang diinginkan.
Contoh: Pengukuran temperatur proses pasteurisasi untuk meniadakan bakteri pada
produk.

Istilah-Istilah Dalam Pengukuran


Prinsip dasar pengukuran: Tidak ada pengukuran tanpa kesalahan.
Hasil pengukuran bergantung pada faktor berikut:
· Kepekaan (sensitivity), yaitu respons alat ukur terhadap perubahan besaran yang diukur.
· Ketepatan atau keakuratan (accuracy), yaitu selisih antara besaran yang ditunjuk alat
ukur dengan nilai-benar. Nilai-benar diukur dengan alat ukur standar.
· Ketelitian (precision), yaitu kemampuan alat untuk memberikan hasil yang sama
(pengulangan) untuk input yang sama.
· Resolusi (resolution), yaitu perubahan terkecil dari pembagian skala alat ukur.
· Kesalahan ambang (bias error), yaitu selisih antara hasil rata-rata dari banyak
pengukuran dengan nilai-benar.

Gambar 1. Kesalahan ambang (bias error)


Untuk menjelaskan istilah di atas, di sini ditampilkan hasil pengukuran tiga instrumen
pengukur temperatur.

Gambar 2. Contoh hasil pengukuran pengukuran temperatur

Kesimpulan yang dapat diambil dari ketiga instrumen di atas adalah:


- Hasil pengukuran A memberi bias-error yang tidak dapat diabaikan walaupun tingkat
ketelitiannya (presisi) baik.
- Hasil pengukuran B memberi bias-error yang dapat diabaikan tetapi tingkat
ketelitiannya (presisi) jelek.
- Hasil pengukuran C memberi bias-error yang kecil dan tingkat ketelitiannya (presisi)
baik.
Alat C adalah alat yang akurat.

Kesalahan Pada Pengukuran


Tidak ada pengukuran tanpa kesalahan. Selalu ada selisih antara harga benar
dengan harga yang ditunjukkan oleh alat ukur.

Penyebab kesalahan pengukuran adalah:


1.Kesalahan sistematis (systematic error)
Penyebab kesalahan sistematis adalah:
·Alat ukur itu sendiri,
Disebabkan oleh kesalahan kalibrasi, faktor lingkungan, umur alat, dan
gangguan mekanis.
· Metoda pengukuran,
yaitu faktor kelembaban, temperatur, getaran dan medan magnet/listrik.
· Manusia,
yaitu kondisi tubuh, kondisi mental dan kesabaran.
2. Kesalahan acak (random error)
Penyebab kesalahan acak adalah:
· Gangguan,
yaitu dari lingkungan kerja, alat penunjang, dan mekanis
· Kesalahan pembacaan,
yaitu kesalahan proyeksi, ketebalan jarum, kehalusan skala, linieritas
skala, ketebalan garis skala, dan kesalahan taksir.

Jenis-Jenis Kesalahan
Tidak ada pengukuran yang menghasilkan ketelitian yang sempurna, tetapi penting
untuk mengetahui : ketelitian yang sebenarnya dan bagaimana kesalahan yang
berbeda digunakan dalam pengukuran.
Kesalahan-kesalahan pada pengukuran, umumnya dibagi dalam 3 ( tiga ) jenis
utama, yaitu :
1. Kesalahan-Kesalahan umum ( gross errors ) :
Kebanyakan disebabkan kesalahan manusia, antara lain :
a. kesalahan pembacaan alat ukur
b. penyetelan yang tidak tepat
c. pemakaian instrumen yang tidak sesuai
d. kesalahan penaksiran
2. Kesalahan kesalahan sistematis ( systematic errors )
Disebabkan kekurangan-kekurangan pada instrumen sendiri, seperti :
a. kerusakan atau adanya bagian-bagian yang aus dan,
b. pengaruh lingkungan terhadap peralatan dan pemakai

3. Kesalahan-kesalahan yang tidak disengaja ( random errors )


Disebabkan oleh penyebab-penyebab yang tidak dapat secara langsung
diketahui, karena perubahan-perubahan parameter atau sistem pengukuran
terjadi secara acak.

1. Kesalahan-kesalahan Umum ( gross errors )


Seperti telah dijelaskan diatas, kesalahan-kesalahan ini terjadi kebanyakan
disebabkan oleh manusia dalam melakukan pengukuran dan selama manusia terlibat
dalam pengukuran kesalahan ini tidak dapat dihilangkan, sehingga perlu dilakukan
perbaikan dan pencegahan.
Beberapa kesalahan umum mudah diketahui, akan tetapi lainnya mungkin sangat
tersembunyi.
Kesalahan umum yang sering dilakukan pemula adalah pemakain alat ukur yang
tidak sesuai. Pada umumnya instrumen-intrumen penunjuk berubah kondisi sampai
batas waktu tertentu, setelah digunakan mengukur sebuah rangkaian yang lengkap,
dan akibatnya besaran yang diukur akan berubah.
Sebagai contoh : sebuah voltmeter terkalibrasi dengan baik dapat menghasilkan
pembacaan yang salah bila dihubungkan diantara dua titik di dalam sebuah
rangkaian tahanan tinggi ( contoh 5 ), sedangkan jika voltmeter tersebut
dihubungkan ke sebuah rangkaian dengan tahanan rendah, pembacaannya bisa
berlainan tergantung pada jenis voltmeter yang digunakan ( contoh 6 ).
Contoh-contoh berikut menunjukkan bahwa voltmeter menimbulkan suatu “ efek
pembebanan ( loading effect ) terhadap rangkaian, yaitu mengubah keadaan awal
rangkaian tersebut ketika mengalami proses pengukuran.
Contoh 5 : Sebuah voltmeter dengan kepekaan ( sensitivity ) 1000 Ω / V memba
-ca 100 V pada skala 150 V, jika dihubungkan diantara ujung-ujung
sebuah tahanan yang besarnya tidak diketahui, dan tahanan ini
dihubungkan seri dengan sebuah miliamperemeter, bila
miliamperemeter membaca 5 m A,
Tentukan:
a. tahanan yang terbaca
b. nilai tahanan aktual dari tahanan yang diukur
c. kesalahan karena efek pembebanan voltmeter
Penyelesaian :
a. Tahanan total rangkaian :
Rx
mA RT = VT / IT = 100 / 5 x 10 – 3 =
ra
20 KΩ
Dengan mengabaikan tahanan mili
V
Rv ampermeter, harga tahanan yang
tidak diketahui Rx = 20 KΩ

b. Tahanan voltmeter :
Rv = 1000 Ω / V x 150 V = 150 KΩ
Karena voltmeter tersebut parallel terhadap tahanan yang tidak diketahui,
maka :
RT Rv 20 x 150
Rx = ----------- = ---------------- = 23,05 KΩ
Rv - R T 130
c. Persentase kesalahan :
aktual - terbaca
% kesalahan = ----------------------- x 100 %
aktual
23,05 - 20
= ----------------- x 100 % = 13,23 %
23,05

Contoh 6 : pada contoh 5, jika miliampermeter menunjukkan 800 mA dan voltmeter


menunjukkan 40 V pada skala 150 V
Tentukan:
a. tahanan yang terbaca
b. nilai tahanan aktual dari tahanan yang diukur
c. kesalahan karena efek pembebanan voltmeter
Penyelesaian :
a. Tahanan total rangkaian :
RT = VT / IT = 40 / 0,8 = 50 Ω
Dengan mengabaikan tahanan miliampermeter, harga tahanan yang tidak
diketahui Rx = 20 KΩ
b. Tahanan voltmeter :
Rv = 1000 Ω / V x 150 V = 150 KΩ
Karena voltmeter tersebut parallel terhadap tahanan yang tidak diketahui,
maka :
RT Rv 50 x 150
Rx = ----------- = ---------------- = 50,1 Ω
Rv - R T 149,5

c. Persentase kesalahan :
aktual - terbaca
% kesalahan = ----------------------- x 100 %
aktual
50,1 - 50
= --------------- x 100 % = 0,2 %
50,1
Kesalahan-kesalahan yang disebabkan oleh efek pembebanan voltmeter dapat
dihindari dengan menggunakan alat tersebut secermat mungkin, misalnya, sebuah
voltmeter dengan tahanan kecil tidak akan digunakan untuk mengukur tegangan-
tegangan dalam sebuah penguat tabung hampa, akan tetapi diperlukan sebuah
voltmeter dengan impedansi masukan yang tinggi.

2.Kesalahan Sistematis ( systematic errors )

Kesalahan sistem matematis, umumnya dikelompokkan kedalam dua bagian,


yaitu :
1. Kesalahan-kesalahan instrumental, yaitu kekurangan-kekurangan dari instrumen
itu sendiri.
2. Kesalahan-kesalahan lingkungan, yaitu yang disebabkan oleh keadaan-keadaan
luar yang mempengaruhi pengukuran.
1. Kesalahan – kesalahan instrumental ( instrumental errors ), kesalahan-
kesalahan yang tidak dapat dihindarkan dari instrumen, karena struktur
mekanisnya. Misalnya :
- gesekan komponen yang bergerak terhadap bantalan, dapat menimbulkan
pembacaan yang tidak tepat ( pada alat ukur d’Arsonval ).
- tarikan pegas yang tidak teratur, perpendekan pegas.
- berkurangnya tarikan karena penanganan yang tidak tepat atau pembebanan
instrumen secara berlebihan.
Jenis kesalahan instrumen lainnya :
- Kalibrasi yang menyebabkan pembacaan instrumen yang terlalu tinggi atau
terlalu rendah sepanjang seluruh skala.
- Kegagalan mengembalikan jarum penunjuk ke angka nol sebelum
melakukan pengukuran.

Kesalahan-kesalahan instrumen terdiri dari beberapa jenis, tergantung pada jenis


instrumen yang digunakan, dan yang selalu harus diperhatikan adalah
memastikan instrumen yang digunakan bekerja dengan baik dan tidak
menambah kesalahan-kesalahan lainnya.
Kesalahan-kesalahan pada instrumen, dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan terhadap :
- tingkah laku yang tidak umum terjadi
- kestabilan
- kemampuan instrumen untuk memberikan hasil pengukuran yang sama.

Suatu cara yang mudah dan cepat untuk pemeriksaan instrumen, dengan cara
membandingkannya terhadap instrumen lainnya yang memiliki karakteristik
yang sama atau instrumen/alat ukur yang lebih akurat.

Kesalahan-kesalahan instrumen dapat dihindari dengan cara :


- pemilihan instrumen yang tepat untuk pemakaian tertentu
- penggunaan faktor-faktor koreksi, jika mengetahui banyaknya kesalahan
instrumental.
- Mengkalibrasi instrumen tersebut terhadap instrumen standar.

2.Kesalahan-kesalahan lingkungan ( environmental errors ), disebabkan oleh


keadaan luar, dan termasuk keadaan disekitar instrumen yang mempengaruhi
alat ukur, seperti :
- pengaruh perubahan temperatur.
- kelembaban.
- tekanan udara luar atau medan maknetik atau medan elektrostatik.

Jadi, suatu perubahan pada temperatur sekeliling instrumen, mengakibatkan


perubahan sifat-sifat kekenyalan pegas yang terdapat dalam mekanisme
kumparan putar, yang akhirnya akan mempengaruhi pembacaan instrumen.
Cara-cara untuk mengurangi pengaruh-pengaruh tersebut diatas, antara lain :
pengkondisian udara.
- penyegelan komponen-komponen instrumen tertentu dengan rapat sekali.
- pemakaian pelindung maknetik, dan lain-lain.

Kesalahan-kesalahan sistematis, dapat juga dikelompokkan kedalam :


1. Kesalahan statis, disebabkan pembatasan-pembatasan alat ukur atau hukum
hukum fisika yang mengatur tingkah laku alat ukur.
Misalnya, jika sebuah mikrometer diberi tekanan yang berlebihan untuk
memutar poros, maka akan dihasilkan kesalahan statis.
2. Kesalahan dinamis, disebabkan ketidakmampuan instrumen untuk
memberikan respons yang cukup cepat, jika terjadi perubahan-perubahan
dalam variabel yang diukur.

2. Kesalahan-kesalahan acak ( random errors )


Kesalahan ini, disebabkan oleh penyebab-penyebab yang tidak diketahui dan terjadi
walaupun seluruh kesalahan sistematis sudah diperhitungkan.
Pada pengukuran yang sudah direncanakan dengan baik kesalahan ini umumnya
kecil, akan tetapi untuk pengukuran yang memerlukan ketelitian tinggi, kesalahan
ini menjadi sangat penting.
Misalnya : sebuah voltmeter akan mengukur suatu tegangan yang akan dibaca
setiap setengah jam, meskipun instrumen dioperasikan pada kondisi lingkungan
yang sempurna dan sudah dikalibrasi dengan tepat sebelum pengukuran, akan
diperoleh hasil-hasil pembacaan yang sedikit berbeda selama periode pengamatan.
Perubahan ini tidak dapat dikoreksi dengan cara kalibrasi apapun dan juga cara
pengontrolan yang ada.

Satu-satunya cara untuk memperbaiki kesalahan acak ini adalah :


- Penambahan jumlah pembacaan.
- Penggunaan cara-cara statistik, untuk memperoleh pendekatan yang paling baik
terhadap nilai yang sebenarnya.

Standar Satuan Ukur


Tiap besaran yang diukur selalu dinyatakan dalam satuan ukuran tertentu. Standar satuan
yang paling umum dipakai adalah satuan SI (Sistem Internasional, asal kata: Systeme
Internationale).
Satuan Dasar Satuan Turunan
Besaran Satuan Besaran Satuan Definisi
Panjang m (meter) frekuensi Hz (hertz) 1 / detik
Massa kg (kilogram) gaya N (newton) kg / m detik2
dt (detik) atau s
Waktu tekanan Pa (pascal) N / m2
(second)
Arus listrik A (ampere) enersi J (joule) Nm
Temperatur ºK (Kelvin) power W (watt) J / detik
tegangan
Jumlah zat mol V (volt) W/A
listrik
Kekuatan
cd (Candela) resistansi Ω (Ohm) V/A
cahaya
Sudut
rad (radian) konduktansi Siemens A/V
bidang
Kerapatan
Sudut ruang sr (steradian) lx (lux) cd sr / m2
cahaya

Faktor pengali untuk satuan di atas dinyatakan dengan kata awalan seperti pada tabel
berikut:
Faktor Awalan Simbol Faktor Awalan Simbol
10-1 deci d 101 deca Da
10-2 centi c 102 hecto H
10-3 milli m 103 kilo K
10-6 micro µ 106 mega M
10-9 nano n 109 giga G
10-12 pico p 1012 tera T
10-15 femto f 1015 peta P
10-18 atto a 1018 exa E
10-21 zepto z 1021 zetta Z
10-24 yocto y 1024 yotta Y

Fungsi Umum Instrumen


1. Indicating Instrument
Instrumen jenis ini memberikan indikasi yang dapat langsung dibaca oleh manusia
sampai pada batas ketelitian tertentu. Indikasi dapat berupa jarum-penunjuk, angka skala
atau tampilan angka (digital).
Gambar 3. Instrumen Penunjuk

2. Recording Instrument
Biasanya dilengkapi dengan kertas dan pena – untuk mencatat nilai ukur atau besaran lain
berdasarkan waktu pengukuran.
Pada jenis terbaru, instrumen ini dilengkapi dengan memori untuk menyimpan data. Isi
memori dapat dipindahkan ke komputer untuk dianalisa atau dicetak.
Contoh: Chart recorder Gambar 4. Hasil recording instrument

3. Signaling Instrument

Instrumen jenis ini memberi sinyal jika ada penyimpangan dari batas yang ditentukan.
Sinyal dapat berupa indikasi lampu, alarm atau optik.
Contoh: Level switch pada Solar Daily Tank
Gambar 5. Signaling instrument

4. Transmitter
Instrumen jenis ini mengirimkan sinyal menuju intrumen penerima. Sinyal yang dikirim
umumnya berupa sinyal listrik (tegangan atau arus), tetapi ada juga yang berupa
pneumatik (tekanan udara.)
Umumnya bagan sebuah instrumen elektronika adalah sebagai berikut:

Gambar 6. Bagan instrumen elektronika

Transducer (sensor) berhubungan langsung dengan besaran yang akan diukur dan
mengubah besaran tersebut menjadi besaran listrik.
Pengkondisi sinyal (signal conditioner) mengubah besaran listrik dari transducer menjadi
sinyal kendali yang sebanding dengan besaran yang akan diukur.
Pengolah sinyal (signal controller) berfungsi untuk mengolah keluaran dari pengkondisi
sinyal menjadi suatu data, baik yang sebanding dengan besaran maupun yang sudah
dimanipulasi untuk keperluan lain.
Peraga data (indicator / display) bertugas mengubah data keluaran dari pengolah-data
menjadi suatu format yang dapat dimengerti oleh manusia ataupun oleh alat yang akan
mengolah data tersebut lebih lanjut.
ALAT UKUR DAN PENGUKURAN LISTRIK

1. Alat Ukur Listrik


Untuk mengetahui besaran listrik DC maupun AC seperti tegangan, arus, resistansi,
daya, faktor kerja, dan frekuensi kita menggunakan alat ukur listrik.

Awalnya dipakai alat-alat ukur analog dengan penunjukan menggunakan jarum dan
membaca dari skala. Kini banyak dipakai alat ukur listrik digital yang praktis dan
hasilnya tinggal membaca pada layar display (Gambar 8.1).

Bahkan dalam satu alat ukur listrik dapat digunakan untuk mengukur beberapa
besaran, misalnya tegangan AC dan DC, arus listrik DC dan AC, resistansi kita
menyebutnya Multimeter. Untuk kebutuhan praktis tetap dipakai alat ukur tunggal,
misalnya untuk mengukur tegangan saja, atau daya listrik saja.

Sampai saat ini alat ukur analog masih tetap digunakan karena handal, ekonomis, dan
praktis (Gambar 8.2). Namun alat ukur digital makin luas dipakai, karena harganya
makin terjangkau, praktis dalam pemakaian, dan penunjukannya makin akurat dan
presisi.

Ada beberapa istilah dan definisi pengukuran listrik yang harus dipahami, diantaranya
alat ukur, akurasi, presisi, kepekaan, resolusi, dan kesalahan.
Gambar 8.1 Tampilan Meter Digital

Gambar 8.2 Meter Analog

3. Ukuran Standar Kelistrikan


Ukuran standar dalam pengukuran sangat penting, karena sebagai acuan dalam
peneraan alat ukur yang diakui oleh komunitas internasional. Ada enam besaran yang
berhubungan dengan kelistrikan yang dibuat sebagai standar, yaitu standar amper,
resistansi, tegangan, kapasitansi, induktansi, kemagnetan, dan temperatur.

1. Standar amper, menurut ketentuan Standar Internasional (SI) adalah arus konstan
yang dialirkan pada dua konduktor dalam ruang hampa udara dengan jarak 1
meter, di antara kedua penghantar menimbulkan gaya = 2 × 10-7 newton/m
panjang.

2. Standar resistansi, menurut ketentuan SI adalah kawat alloy manganin resistansi 1


yang memiliki tahanan listrik tinggi dan koefisien temperatur rendah,
ditempatkan dalam tabung terisolasi yang menjaga dari perubahan temperatur
atmosfer.

4. Standar tegangan, ketentuan SI adalah tabung gelas Weston mirip huruh H


memiliki dua elektrode, tabung elektrode positip berisi elektrolit mercury dan
tabung elektrode negatip diisi elektrolit cadmium, ditempatkan dalam suhu
ruangan. Tegangan elektrode Weston pada suhu 20°C sebesar 1.01858 V.

4. Standar Kapasitansi, menurut ketentuan SI, diturunkan dari standart resistansi SI


dan standar tegangan SI, dengan menggunakan sistem jembatan Maxwell, dengan
diketahui resistansi dan frekuensi secara teliti akan diperoleh standar kapasitansi
(farad).

5. Standar Induktansi, menurut ketentuan SI, diturunkan dari standar resistansi dan
standar kapasitansi, dengan metode geometris standar induktor akan diperoleh.

6. Standar temperature, menurut ketentuan SI, diukur dengan derajat kelvin besaran
derajat kelvin didasarkan pada tiga titik acuan air saat kondisi menjadi es, menjadi air
dan saat air mendidih. Air menjadi es sama dengan 0° celsius = 273,160 kelvin, air
mendidih 100°C.

7. Standart lumenansi cahaya, menurut ketentuan SI adalah kandela yaitu yang


diukur berdasarkan benda hitam seluas 1 m2 yang bersuhu hk lebur platina (1773
derajat celcius ) akan memncarkan cahaya dalam arah tegak lurus dengan kuat cahaya
sebesar 6x105 kandela
4. Sistem Pengukuran
Ada dua sistem pengukuran yaitu sistem analog dan sistem digital. Sistem analog
berhubungan dengan informasi dan data analog. Sinyal analog berbentuk fungsi
kontinyu, misalnya penunjukan temperatur dalam ditunjukkan oleh skala, penunjuk
jarum pada skala meter, atau penunjukan skala elektronik (Gambar 8.3a).

Sistem digital berhubungan dengan informasi dan data digital. Penunjukan angka
digital berupa angka diskret dan pulsa diskontinyu berhubungan dengan waktu.
Penunjukan display dari tegangan atau arus dari meter digital berupa angka tanpa
harus membaca dari skala meter. Sakelar pemindah frekuensi pada pesawat HT juga
merupakan angka digital dalam bentuk digital (Gambar 8.3b).

Gambar 8.3 Penunjukan meter analog dan meter digital


5. Alat Ukur Listrik Analog
Alat ukur listrik analog merupakan alat ukur generasi awal dan sampai saat ini masih
digunakan. Bagiannya banyak komponen listrik dan mekanik yang saling
berhubungan. Bagian listrik yang penting adalah, magnet permanen, tahanan meter,
dan kumparan putar. Bagian mekanik meliputi jarum penunjuk, skala dan sekrup
pengatur jarum penunjuk (Gambar 8.4).
Gambar 8.4 Komponen alat ukur listrik analog

Gambar 8.7 Jenis skala meter analog

Bentuk skala memanjang saat kini jarang ditemukan. Bentuk skala melingkar dan
skala kuadran banyak dipakai untuk alat ukur voltmeter dan ampermeter pada panel
meter (Gambar 8.7)
6. Multimeter Analog
Multimeter salah satu meter analog yang banyak dipakai untuk pekerjaan kelistrikan
dan bidang elektronika (Gambar 8.8).

Multimeter memiliki tiga fungsi pengukuran, yaitu :


1. Voltmeter untuk tegangan AC dengan batas ukur 0-500 V, pengukuran tegangan
DC dengan batas ukur 0-0,5 V dan 0-500 V.
2. Ampermeter untuk arus listrik DC dengan batas ukur 0-50 µA dan 0-15 A,
pengukuran arus listrik AC 0-15 A.
3. Ohmmeter dengan batas ukur dari 1-1M.

Gambar 8.8 Multimeter analog

7. Alat Ukur Digital


Alat ukur digital saat sekarang banyak dipakai dengan berbagai kelebihannya, murah,
mudah dioperaikan, dan praktis.

Multimeter digital mampu menampilkan beberapa pengukuran untuk arus miliamper,


temperatur °C, tegangan milivolt, resistansi ohm, frekuensi Hz, daya listrik mW
sampai kapasitansi nF (Gambar 8.9).

Pada dasarnya data /informasi yang akan diukur bersifat analog. Blok diagram alat
ukur digital terdiri komponen sensor, penguat sinyal analog, analog to digital
converter, mikroprosesor, alat cetak, dan display digital (Gambar 8.10).
Gambar 8.9 Tampilan penunjukan digital

Gambar 8.10 Prinsip kerja alat ukur digital

Sensor mengubah besaran listrik dan non elektrik menjadi tegangan, karena tegangan
masih dalam orde mV perlu diperkuat oleh penguat input. Sinyal input analog yang
sudah diperkuat, dari sinyal analog diubah menjadi sinyal digital dengan (ADC)
analog to digital akan diolah oleh perangkat PC atau mikroprosessor dengan program
tertentu dan hasil pengolahan disimpan dalam sistem memori digital. Informasi
digital ditampilkan dalam display atau dihubungkan dicetak dengan mesin cetak.
Display digital akan menampilkan angka diskrit dari 0 sampai angka 9 ada tiga jenis,
yaitu 7-segmen, 14-segmen dan dot matrik 5 x 7 (Gambar 8.11). Sinyal digital terdiri
atas 0 dan 1, ketika sinyal 0 tidak bertegangan atau OFF, ketika sinyal 1 bertegangan
atau ON.
Gambar 8.11 Tiga jenis display digital

IV. KESELAMATAN KERJA :

1. Letakkanlah peralatan pada posisi yang aman pada meja praktikum.


2. Pasang instrument sesuai pola pemasangan

IV. ALAT DAN BAHAN :

1. Multitester analog
2. Multitester digital
3. KWH meter
4. Osciloscope
5. Lux meter
6. PMMCI
V. LANGKAH KERJA:

1. Siapkan semua alat dan bahan


2. Amati satu persatu peralatan ukur tersebur
3. Catat spek setiap alat ukur
4. Pelajari dan tulis pola pemasangan alat ukur tersebut
5. Kembalikan alat dan bahan ketempat semula

VI. KESIMPULAN :

VII. PERTANYAAN
SEBUTKAN BEBERAPA INSTRUMENT UKUR LISTRIK DAN POLA
PEMASANGANNYA