You are on page 1of 28

Universitas Indonesia

UNIVERSITAS INDONESIA

PROMOSI KESEHATAN

PENANGGULANGAN DIARE MENGGUNAKAN PROGRAM PERILAKU


HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR
NEGERI 2 KOTA DEPOK

TUGAS AKHIR MATA KULIAH PROMOSI KESEHATAN LANJUT

DOSEN: Dr. Drg. ELLA NURLAELLA HADI M.Kes

AMY AMANDA CHITRA PAHLAWANI 1806253702


FADLLIL KAAFI 1806254030

KHAIRUN NISA’IL HULWAH 1806168203

KIKI RATNA GUMILAR F 1806168216

LICENSIA TRIANI DAMERIA SIMBOLON 1806168254

RIZKY ANGGRAITA DAMAYANTI 1806168720

ZAINAL ABIDIN 1606857356

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

PROGRAM MAGISTER ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DEPOK

2018

1
Universitas Indonesia

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga saat ini masih memberikan kita nikmat
iman dan kesehatan, sehingga kami diberi kesempatan yang luar biasa ini yaitu
kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah (proposal) mata kuliah
Promosi Kesehatan yang berjudul “Penanggulangan Diare Menggunakan Program
Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (Phbs) Pada Anak Usia Sekolah Dasar Negeri 2 Kota
Depok”.

Sekaligus pula kami menyampaikan rasa terimakasih yang sebanyak-banyaknya untuk


Ibu Dr. Drg. Ella Nurlaella Hadi M.Kes selaku dosen mata kuliah Promosi Kesehatan
Lanjut Program Magister Jurusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
yang telah menyerahkan kepercayaannya kepada kami guna menyelesaikan makalah ini
dengan tepat waktu.

Kami juga berharap dengan sungguh-sungguh supaya makalah ini mampu berguna serta
bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan sekaligus wawasan promosi kesehatan
terkait penanggulangan diare menggunakan program perilaku hidup bersih dan sehat
pada usia sekolah dasar tersebut.

Selain itu kami juga sadar bahwa pada makalah kami ini dapat ditemukan banyak sekali
kekurangan serta jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, kami benar-benar menanti
kritik dan saran untuk kemudian dapat kami revisi dan kami tulis di masa yang
selanjutnya, sebab sekali kali lagi kami menyadari bahwa tidak ada sesuatu yang
sempurna tanpa disertai saran yang konstruktif.

Di akhir kami berharap makalah sederhana kami ini dapat dimengerti oleh setiap pihak
yang membaca baik mahasiswa maupun kalangan umum. Kami pun memohon maaf
yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah kami terdapat tulisan yang tidak
berkenan di hati.

Depok, 16 Desember 2018


Penyusun

ii
Universitas Indonesia

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................................ ii


Daftar Isi .................................................................................................................................. iii

Bab I Pendahuluan ................................................................................................................ 1


1.1. Latar belakang ........................................................................................................ 1
1.2. Rumusan Masalah ....................................................................................................
1.3. Tujuan Program .......................................................................................................
1.4. Manfaat Program .....................................................................................................
1.5. Batasan ......................................................................................................................
1.6. Indikator Pencapaian Program ...............................................................................

Bab II Tinjauan Pustaka .........................................................................................................


2.1. Konsep Dasar Diare .................................................................................................
2.1.1. Defenisi Diare ..................................................................................................
2.1.2. Penyebab Diare ...............................................................................................
2.1.3. Tanda dan Gejala Diare ................................................................................
2.1.4. Pengobatan Diare ...........................................................................................
2.1.5. Pencegahan Diare ...........................................................................................
2.2. Sejarah Health Belief Model ....................................................................................
2.3. Definisi Teori Perilaku Health Belief Model ...........................................................
2.4. Faktor Esensial dalam Health Belief Model ...........................................................
2.5. Lima Komponen dalam Individu ............................................................................
2.6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah .........................................................
2.7. Aplikasi Teori Health Belief Model Menggunakan Indikator Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah ........................................................................
2.8. Kelebihan dan Kekurangan Health Belief Model ..................................................

iii
Universitas Indonesia

Bab III Metode Pelaksanaan ...................................................................................................


3.1. Jadwal Kegiatan .....................................................................................................
3.2. Metode .....................................................................................................................
3.3. Sumber Daya Pendukung ......................................................................................
3.4. Isi Materi .................................................................................................................
3.5. Instrumen ................................................................................................................
3.6. Timeline Intervensi Promosi Kesehatan ...............................................................

Daftar Pustaka ..........................................................................................................................

iv
Universitas Indonesia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Diare adalah kondisi dimana seseorang buang air besar dengan konsistensi
lembek atau cair, bahkan dapat berupa air saja da frekuensinya lebih sering
(biasanya tiga kali atau lebih) dalam satu hari (Kemenkes, 2011). Diare masih
merupakan penyakit pencernaan yang menjadi masalah yang terjadi di Negara
berkembang, salah satunya Indonesia. Angka morbiditas dan mortalitas diare masih
tinggi.
Penyakit diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan
penyakit potensial Kejadian Luar Biasa (KLB) yang sering disertai dengan
kematian. Pada tahun 2016 terjadi 3 kali KLB diare yang tersebar di 3 provinsi, 3
kabupaten, dengan jumlah penderita 198 orang dan kematian 6 orang (CFR 3,04%).
Prevalensi kejadian diare di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar
berdasarkan pola penyebab kematian semua diare berada dalam peringkat ke-13,
sementara berdasarkan penyakit menular berada di peringkat ke-3 penyebab
kematian setelah uberculosis (TB) dan pneumonia. Berdasarkan kelompok usia <1
tahun dengan prosentase 16,5%, usia 1-4 tahun dengan prosentase 16,7%, usia 5-14
tahun dengan prosentase 9%, usia 15024 tahun dengan prosentase 7,2%, usia 25-34
tahun dengan prosentase 7,3%, usia 35-44 tahun dengan prosentase 7,8%, usia 45-
54 tahun dengan prosentase 8,4%, usia 55-64 tahun dengan prosentase 8,9%, usia
65-74 dengan prosentase 9,5%, dan usia >75 tahun dengan prosentase 10,4%.
Faktor resiko tertinggi yang menyebabkan KLB adalah rendahnya cakupan
hygiene sanitasi. Ada beberapa faktor lain yang berhubungan dengan kejadian diare,
yaitu faktor perilaku kesadaran dan pengetahuan masyarakat, ketersediaan air
bersih, ketersediaan jamban keluarga, dan jangkauan layanan kesehatan.
Menurut Raimah (2000), tingginya angka kejadian diare anak disebebkan oleh
banyak faktor. Faktor-faktor yang meningkatkan resiko diare yaitu : sanitasi yang
buruk, fasilitas kebersihan yang kurang, kebersihan pribadi yang buruk (mencuci
tangan sebelum, sesudah makan, dan setelah buang air).

v
Universitas Indonesia

Unit Kesehatan Sekolah (UKS) merupakan suatu wadah yang mengurus


berbagai hal terkait dengan kesehatan sekolah yaitu siswa, guru, kepala sekolah dan
semua pegawai di sekolah. UKS juga sebagai sarana yang digunakan oleh program-
program kesehatan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan (Suhartinia,
2010). Salah satu program UKS yang dibuat untuk meningkatkan kesehatan siswa
adalah dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang perilaku hidup bersih dan
sehat (PHBS). Sedangkan indicator PHBS di sekolah yaitu mencuci tangan dengan
air mengalir dan menggunakan sabun, mengkonsumsi jajanan sehat di kantin
sekolah, menggunakan jamban yang bersih dan sehat, olahraga yang teratur dan
terukur, tidak merokok di sekolah, menimbang berat badan dan mengukur tinggi
badan setiap bulan, membuang sampah pada tempatnya (Kemenkes RI, 2011).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di SDN Cirendeu 02 pada Tahun
2016 pada siswa kelas 4-6 menunjukkan bahwa hasil uji statistik p value = 0,019
yang menunjukkan adanya hubungan antara perilaku cuci tangan terhadap kejadian
diare. Selain itu anak yang jajan di luar kantin sekolah mempunya kemungkinan
0,631 kalu (OR: 0,631 IK 95%) untuk mengalami diare diabndingkan anak yang
jajan di kantin sekolah.
Munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (usia 6 -
10) ternyata umumnya berkaitannya dengan PHBS. Oleh karena itu, penanaman
kebutuhan mutlak dan dapat diketahui melalui pendekatan usaha kesehatan. Perilaku
hidup bersih dan sehat disekolah adalah upaya untuk memberdaya siswa , guru, dan
masyarakat lingkungan sekolah agar tahu dan mampu mempraktikan PHBS, dan
berperan aktif dalam mewujudkan sekolah sehat. Anak usia sekolah merupakan
kelompok usia yang kritis, karena pada usia tersebut seorang anak rentan terhadap
masalah kesehatan. Selain rentan terhadap masalah kesehatan, anak usia sekolah
juga berada pada kondisi yang sangat peka terhadap stimulus sehingga mudah
dibimbing, diarahkan, dan ditanamkan kebiasaan-kebiasaan yang baik, termasuk
kebiasaan berprilaku hidup bersih dan sehat. Pada umumnya, anak-anak seusia ini
juga memiliki sifat selalu ingin menyampaikan apa yang di terima dan diketahuinya
dari orang lain.
Promosi kesehatan adalah ilmu dan seni membantu masyarakat menjadikan gaya
hidup mereka sehat optimal. Kesehatan yang optimal didefinisikan sebagai

vi
Universitas Indonesia

keseimbangan kesehatan fisik, emosi, sosial, spiritual, dan intelektual. Ini bukan
sekadar pengubahan gaya hidup saja, namun berkairan dengan pengubahan
lingkungan yang diharapkan dapat lebih mendukung dalam membuat keputusan
yang sehat. Oleh karena itu diharapkan dengan melakukan promosi kesehatan di
sekolah dasar diharapkan dapat menangani masalah kesehatan terutama masalah
diare yang dalam hal ini diakibatkan oleh kurangnya perilaku hidup bersih dan
sehat.
Berdasarkan latar belakang di atas maka kelompok tertarik untuk melakukan
intervensi melalui promosi kesehatan menggunakan media yang sesuai dengan anak
usia sekolah dasar untuk pengenalan perilaku hidup bersih dan sehat terhadap anak
usia sekolah di Sekolah Dasar Negeri Depok 2

1.2. Rumusan Masalah


Diare merupakan penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
di Negara berkembang termasuk Indonesia, hasil beberapa penelitian menunjukan
adanya hubungan antara perilaku hidup bersih dan sehat siswa sekolah dengan
angka kejadian diare. Berdasarkan latar belakang diatas maka kelompok akan
melakukan pengenalan dan penerapan promosi kesehatan terkait perilaku hidup
bersih dan sehat pada siswa Sekolah Dasar Negeri Depok 2.

1.3. Tujuan Program


a) Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan PHBS (Perilaku Hidup Sehat dan Bersih)
diharapkan para siswa mampu memelihara kesehatan dirinya sendiri dari
kondisi lingkungan di sekitarnya.
b) Tujuan Khusus
Setelah dilakukan kegiatan PHBS para siswa dapat :
 Mengetahui dan menjelaskan PHBS
 Memahami dan menjelaskan penyebab dan dampak jika tidak melakukan
PHBS
 Mampu mendemonstrasikan PHBS

vii
Universitas Indonesia

 Mempraktekkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari


 Siswa menjadi kader kesehatan bagi keluarganya

1.4. Manfaat Program


a. Bagi Siswa
 Meningkatkan derajat kesehatannya, tidak mudah sakit
 Mengetahui perilaku hidup bersih dan sehat
 Mampu menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat
 Mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat
b. Bagi Sekolah
 Adanya bimbingan teknis pelaksanaan pembinaan PHBS di sekolah
 Terciptanya lingkungan sekolah yang nyaman dan sehat
 Menjadi institusi yang mampu memberikan contoh terhadap masyarakat di
sekelilingnya
c. Bagi masyarakat
 Terciptanya lingkungan yang sehat
 Dapat mencontoh PHBS yang diterapkan di sekolah
 Menurunnya angka kesakitan dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat

1.5. Batasan
Promosi kesehatan perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah ini bertujuan agar
seluruh warga di sekolah (siswa, guru, seluruh karyawan atau warga sekolah)
mampu untuk memelihara kesehatan dirinya sendiri dari kondisi lingkungan di
sekitarnya. Pendidikan kesehatan ini dilakukan pada tanggal 7 - 22 Januari 2019
pada pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai bertempat di aula sekolah. Peserta
adalah seluruh warga SDN 2 Kota Depok.

1.6. Indikator Pencapaian Program


a. Mencuci tangan yang benar, dengan air mengalir dan memakai sabun
Seluruh aktifitas di sekolah membiasakan cuci tangan sebelum dan sesudah
makan, sebelum dan sesudah BAB/BAK, sesudah beraktifitas atau setiap kali

viii
Universitas Indonesia

tangan kotor menggunakan air bersih yang mengalir dan menggunakan sabun.
Diharapkan tangan menjadi bersih dari kuman serta dapat mencegah timbulnya
penyakit seperti diare, disentri, kolera, typus, cacingan, penyakit kulit dsb.
b. Mengkonsumsi makanan atau jajanan yang sehat
Seluruh warga sekolah mengkonsumsi jajanan sehat dari kantin atau warung
atau bekal makanan yang dibawa dari rumah. Sekolah mampu menyediakan
kantin sehat dengan makanan yang bergizi sehingga tubuh menjadi sehat, kuat
dan mencerdaskan siswa. Angka absensi dapat menurun dengan baik dan proses
pembelajaran dapat berjalan lancar.
c. Menggunakan jamban yang bersih
Menggunakan jamban yang bersih setiap BAK atau BAB dpaay menjaga
lingkungan dii sekitar sekolah menjadi bersih, sehat dan tidak berbau.
Disamping itu tidak mencemari air di sekitar lingkungan sekolah serta
menghindari datangnya lalat atau serangga yang dapay menularkan penyakir
seperti diare, disentri, tipus, cacingan dsb. Sekolah diharapkan mampu
menyediakan jamban yang memenushi syarat sehat dalam jumlah yang cukup
untuk seluruh warga sekolah serta terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Perbandingan jamban denganpemakai adalah 1:30 untuk laki-laki dan 1:20
untuk perempuan.
d. Memberantas jentik nyamuk
Upaya yang dilakukan untuk memberantas jentik di lingkungan sekolah yang
dibuktikan dengan tidak ditemukannya jentik nyamuk pada tempat tempat
penampungan air, bak mandi, gentong air, vas bunga, put bungam wadah
pembuangan air dispenser, barang-barang berkas. Memberantas jentik nyamuk
dapat dilakukan denganpemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan
menguras dan menutup tempat penampungan air, mengubur barang-barang
berkas. Dengan lingkungan sekolah yang bebas jentik nyamuk diharapkan dapat
mencegah terkena penyakit akibat gigitan nyamuk seperti DBD, cikungunya,
malaria, dan kaki gajah. Sekolah diharapkan dapay menerapkan PSN minimal
seminggu sekali.

ix
Universitas Indonesia

e. Tidak merokok
Seluruh warga di sekolah tidak merokok di lingkungan sekolah. Merokok
berbahaya bagi kesehatan perokok dan orang di sekitarnya. Dalam 1 batangh
rokok yang dihisap akan mengeluarkan 4000 bahan kimia berbahaua. Sekolah
diharapkan membuat peraturan dilarang merokok di sekolah. Diharapkan dengan
peraturan tersebut lingkungan di sekolah menjadi lingkungan yang sehat dan
mencegah paparan asap rokok.
f. Menimbang berat badan secara rutin
Siswa ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan setiap bulan agar diketahui
tingkat pertumbuhannya. Hasil penimbangan dan pengukuran dibandingkan
dengan standar berat badan dan tinggi badan sehingga diketahui apakah
pertumbuhan siswa normal atau tidak normal.
g. Olahraga yang teratur
Siswa/Guru/Masyarakat sekolah lainnya melakukan olahraga/aktivitas fisik
secara teratur minimal tiga kali seminggu selang sehari. Olahraga teratur dapat
memelihara kesehatan fisik dan mental serta meningkatkan kebugaran tubuh
sehingga tubuh tetap sehat dan tidak mudah jatuh sakit. Olahraga dapat
dilakukan di halaman secara bersama-sama, di ruangan olahraga khusus (bila
tersedia), dan juga di ruangan kerja bagi guru/ karayawan sekolah berupa senam
ringan dikala istirahat sejenak dari kesibukan kerja. Sekolah diharapkan
membuat jadwal teratur untuk berolahraga bersama serta menyediakan
alat/sarana untuk berolahraga.
h. Membuang sampah pada tempatnya
Anak sekolah/guru/masyarakat sekolah membuang sampah ke tempat sampah
yang tersedia. Diharapkan tersedia tempat sampah yang terpilah antara sampah
organik, non-organik, dan sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan
tidak sedap dipandang juga mengandung berbagai kuman penyakit.
Membiasakan membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia akan
sangat membantu anak sekolah/guru/masyarakat sekolah terhindar dari berbagai
kuman penyakit.

x
Universitas Indonesia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar Diare

2.1.1. Definisi Diare


Diare adalah buang air besar (defakasi) dengan tinja berbentuk cair atau
setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih
dari 200 g atau 200 ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu
buang air besar encer lebih dari 3 kali per hari. Buang air besar encer tersebut
dapat/tanpa disertai lendir dan darah (Ciesla, 2003 dalam Zein, 2004).

Diare adalah tinja yang lunak dan berair dengan frekuensi 3 arau lebih dalam
sehari (NIDDK, 2018). Ada 3 jenis diare:

 Diare akut, adalah masalah umum yang biasanya berlangsung 1 ataua 2 hari
dan hilang dengan sendirinya.
 Diare persisten, adalah diare yang berlangsung selama 2 sampai 4 minggu.
 Diare kronis, adalah diare yang berlangsung lebih lama dari 4 minggu. Gejala
diare kronis bisa terus menerus atau bisa datang dan pergi.

2.1.2. Penyebab Diare


Penyebab diare dapat muncul dari sisi agen maupun host penyakit. Sumber atau
penyebab penyakit diare yaitu:

 Bakteri dari makanan dan minuman yang terkontaminasi


 Virus seperti flu, norovirus atau rotavirus. Rotavirus adalah penyebab utama
diare akut pada anak-anak
 Parasit, yaitu organisme kecil yang ditemukan di makanan atau minuman
 Obat seperti antibiotik, obat kanker, dan atasid yang mengandung magnesium
 Makanan intoleran dan sensitif, yang mengganggu pencernaan makanan tertentu.
Contoh: intoleran laktosa

xi
Universitas Indonesia

 Penyakit yang mempengaruhi perut, usus halus atau usus besar seperti penyait
Crohn
 Masalah fungsi usus besar, seperti sindrom iritasi usus.

2.1.3. Tanda dan Gejala Diare


Tanda dan gejala dari penyakit diare yaitu (1) Kram atau nyeri di bagian perut,
(2) Kebutuhan mendesak dalam penggunaan kamar mandi, (3) Hilangnya kontrol
usus, (4) Dehidrasi, dan (5) Sulit untuk berkembang.

2.1.4. Pengobatan Diare


Diare dapat diobati dengan mengganti cairan dan elektrolit yang hilang untuk
mencegah dehidrasi. Berdasarkan penyebab masalahnya, diperlukan obat untuk
menghentikan diare atau mengobati infeksi. Orang dewasa dengan diare harus
minum air, jus buah, minuman isotonik, soda tanpa kafein, dan kaldu asin. Jika
gejalanya meningkat, bisa diatasi dengan makan makanan yang lunak dan hambar.
Anak-anak dengan diare harus diberi larutan dehidrasi untuk mengganti cairan dan
elektrolit yang hilang.

2.1.5. Pencegahan Diare


Dua tipe diare bisa dicegah – diare rotavirus dan diare traveler. Ada vaksin
untuk rotavirus. Vaksin ini diberikan kepada bayi dalam 2-3 dosis. Mencegah diare
traveler dapat dilakukan dengan berhati-hati terhadap makanan dan minuman yang
dikonsumsi.

 Gunakan botol atau air yang telah dimurnikan untuk minum, membuat es, dan
menyikat gigi
 Jika menggunakan air keran, rebus air terlebih dahulu atau gunakan tablet iodin
 Pastikan makanan dimasak matang dan hangat
 Hindari buah dan sayuran mentah yang tidak dicuci atau tidak dikupas

xii
Universitas Indonesia

2.2. Teori Transtheorical Model atau Stage of Change Model

Suatu model yang teoritis tentang perilaku ubah, yang telah (menjadi) basis untuk
mengembangkan intervensi yang efektif untuk mempromosikan perubahan perilaku
kesehatan. Transtheoretical Model ( Prochaska & Diclemente, 1983; Prochaska,
DiClemente, & Norcross, 1992; Prochaska & Velicer, 1997) adalah suatu model
yang integratif tentang perubahan perilaku. Kunci membangun dari teori lainnya
terintegrasi. Model menguraikan bagaimana orang-orang memodifikasi suatu
perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif. Pengaturan yang
pusat membangun dari model adalah Langkah-langkah perubahan. Model juga
meliputi satu rangkaian variabel yang mandiri, proses merubah perilaku, dan satu
rangkaian hasil mengukur, termasuk Decisional Balance dan timbangan
Temptation. Processes from Change adalah sepuluh aktivitas perilaku dan teori
yang memudahkan perubahan. Model ini akan diuraikan di detil yang lebih besar di
bawah.

2.3. Proses Teori Transtheorical Model

Kemunduran terjadi ketika individu berbalik ke suatu lebih awal langkah


perubahan. Berbuat tidak baik lagi adalah satu format dari kemunduran,
menyertakan kemunduran dari Maintenance atau Action [bagi/kepada] suatu
langkah yang lebih awal. Bagaimanapun, orang-orang dapat mundur dari langkah
apapun pada suatu langkah yang lebih awal. Berita yang tidak baik adalah itu
berbuat tidak baik lagi menuju ke sebagai aturan ketika tindakan dikira kebanyakan
permasalahan perilaku kesehatan. Berita gembira adalah itu untuk merokok dan
latihan hanya sekitar 15% dari orang-orang mundu di semua jalan langkah
Precontemplation. Mayoritas yang luas mundur ke Preparation atau Contemplating

a. Pra Perenungan (Precontemplation)

Tahap dimana seseorang tidak peduli untuk melakukan aksi terhadap masa
depan yang dapat diperkirakan, biasanya diukur dalam enam bulan
berikutnya. Orang pada tahap ini disebabkan oleh tidak tahu atau kurang
tahu mengenai konsekuensi suatu perilaku atau mereka telah mencoba

xiii
Universitas Indonesia

berubah beberapa kali dan patah semangat terhadap kemampuan


berubahnya.

b. Perenungan (Contemplation)
Tahap manakala seseorang peduli untuk berubah pada enam bulan
berikutnya. Mereka lebih peduli kemungkinan perubahan tetapi seringkali
peduli terhadap kosenkuensi secara akut. Keseimbangan antara biaya dan
keuntungan perubahan dapat menimbulkan amat sangat ambivalen,
sehingga dapat menahan seseorang dalam tahap ini untuk waktu yang lama.
c. Persiapan (Preparation)
Tahap manakala seseorang peduli melakukan aksi dengan segera di masa
mendatang, biasanya diukur bulan berikutnya. Mereka telah secara khusus
melakukan beberapa aksi yang signifikan pada tahun sebelumnya.
d. Aksi (Action)
Tahap manakala seseorang telah membuat modifikasi yang spesifik dan
jelas pada gaya hidupnya selama enam bulan terakhir. Karena aksi ini dapat
diamati, perubahan perilaku sering setarakan sebagai aksi. Dalam
Transtheoretical Model, aksi hanya satu dari lima tahap, tidak semua
modifikasi perilaku disebut sebagai aksi.
e. Pemeliharaan (Maintenance)
Tahap manakala seseorang berupaya untuk mencegah kambuh tetapi mereka
tidak menerapkan proses perubahan sesering aksinya. Mereka tidak tergiur
untuk kembali dan meningkatkan dengan lebih percaya diri untuk
melanjutkan perubahannya

Transtheoretical Model mengusulkan satu set membangun format itu adalah suatu ruang
hasil multivariate dan meliputi ukuran yang adalah sensitif untuk maju di seluruh
langkah-langkah. Ini membangun meliputi yang pro dan kontra dari Decisional Balance
Scale, Temptation atau Self-efficacy, dan perilaku target. Suatu lebih terperinci
presentasi dari aspek/pengarah ini pada model disajikan di tempat lain ( Velicer,
Prochaska, Rossi, & Diclemente, 1996).

Decisional Balance. Decisional Balance membangun cerminan individu yang


menimbang dari baik buruknya dari mengubah. Berasal dari model Mann’s dan Janis

xiv
Universitas Indonesia

dari pengambilan keputusan ( Janis dan Mann, 1985) itu mencakup empat kategori dari
pro ( laba yang sebagai penolong/musik untuk persetujuan dan orang lain dan diri untuk
yang lain dan diri sendiri). Empat kategori dari memperdayakan adalah biaya-biaya
sebagai penolong/musik ke penolakan dan yang lain dan diri dari yang lain dan diri.
Bagaimanapun, suatu test yang empiris dari model mengakibatkan suatu banyak
struktur yang lebih sederhana. Hanya dua faktor, yang pro dan contra, ditemukan (
Velicer, DiClemente, Prochaska, & Brandenberg, 1985). Dalam suatu merindukan
rangkaian dari studi ( Prochaska, et al. 1994), sebanyak ini; sekian struktur yang lebih
sederhana telah selalu ditemukan.

Self-Efficacy membangun menghadirkan keyakinan situasi yang spesifik yang orang-


orang mempunyai bahwa mereka dapat mengatasi situasi yang resiko-tinggi tanpa
relapsing kepada kebiasaan tak sehat atau yang resiko-tinggi mereka. Situational
Temptation Measure ( Diclemente, 1981, 1986; Velicer, DiClemente, Rossi, &
Prochaska, 1990) cerminkan intensitas dari himbauan untuk terlibat dalam suatu
perilaku yang spesifik ketika di tengah-tengah situasi yang sulit. Itu ada di efek,
sebaliknya dari kemajuan diri dan yang sama satuan materi dapat digunakan untuk
kedua-duanya ukuran, menggunakan format tanggapan yang berbeda. Situational Self-
efficacy Measure tidak cerminkan keyakinan dari individu untuk terlibat dalam suatu
perilaku yang spesifik ke seberang satu rangkaian situasi yang sulit.
Keduanya ukuran Temptation dan Self-efficacy mempunyai yang sama struktur (
Velicer et al., 1990). Di riset mereka secara khas temukan tiga faktor yang
mencerminkan paling umum jenis mencoba situasi: hal negatif mempengaruhi atau
kesusahan emosional, situasi sosial yang positif, dan permohonan. Ukuran
Temptation/Self-efficacy adalah terutama sekali sensitif pada perubahan yang dilibatkan
sedang dalam proses di langkah-langkah yang kemudiannya adalah meramal yang baik
dari berbuat tidak baik lagi.

xv
Universitas Indonesia

2.6. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah

Dalam menanggulangi diare pada usia anak sekolah, digunakan penerapan


PHBS pada anak usia sekolah dasar. Perilaku hidup bersih sehat pada dasarnya
merupakan sebuah upaya untuk menularkan pengalaman mengenai pola hidup
sehat melalui individu, kelompok ataupun masyarakat luas dengan jalur – jalur
komunikasi sebagai media berbagi informasi. Ada berbagai informasi yang dapat
dibagikan seperti materi edukasi guna menambah pengetahuan serta meningkatkan
sikap dan perilaku terkait cara hidup yang bersih dan sehat. Manfaat PHBS secara
umum adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk mau menjalankan hidup
bersih dan sehat. Hal tersebut agar masyarakat bisa mencegah dan menanggulangi
masalah kesehatan. PHBS di sekolah merupakan kegiatan memberdayakan
siswa,guru dan masyarakat lingkungan sekolah untuk mau melakukan pola hidup
sehat untuk menciptakan sekolah sehat. Manfaat PHBS di Sekolah mampu
menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat, meningkatkan proses
belajarmengajar dan para siswa, guru hingga masyarakat lingkungan sekolah
menjadi sehat.

Indikator PHBS Di Sekolah antara lain adalah sebagai berikut :

Gambar 3. PHBS Di Sekolah (1)

xvi
Universitas Indonesia

(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016)

Gambar 4. PHBS Di Sekolah (2)


(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016)

2.7. Aplikasi Teori Transtheorical Model Menggunakan Indikator Perilaku Hidup

Bersih dan Sehat di Sekolah

Aplikasi Teori Health Belief Model untuk Perilaku Penerapan PHBS di Sekolah
Pada Penanggulangan Diare pada Usia Anak Sekolah Dasar antara lain adalah :

Model transsteoretik (atau "Model Bertahap", "Stages of Change"), sesuai


namanya , mencoba menerangkan serta mengukur perilaku kesehatan dengan tidak
bergantung pada perangkap teoritik tertentu. Proschaska dan kawan-kawan (1979)
mula-mula bermaksud menjelaskan proses apa yang terjadi bila peminum alkohol
berhenti minum alkohol, dan juga terhadap proses dalam berhenti merokok.
Penelitian ini mengidentifikasikan 4 tahap independen: prekontemplasi,
kontemplasi, aksi, dan pemeliharaan. "Prekontemplasi" mengacu pada tahap bila
seseorang belum memikirkan sebuah perilaku sama sekali , orang itu belum

xvii
Universitas Indonesia

bermaksud mengubah suatu perilaku. Dalam tahap "kontemplasi", seseorang benar-


benar memikirkan suatu perilaku, namun masih belum siap untuk melakukannya.
Tahap "aksi" mengacu kepada keadaan bila orang telah melakukan perubahan
perilaku, sedangkan "pemeliharaan" merupakan pengentalan jangka panjang dari
perubahan yang telah terjadi. Dalam tahap "aksi" maupun "pemeliharaan",
"kekambuhan" dapat terjadi, yaitu individu kembali pada pola perilaku sebelum
"aksi". Model transteori sejalan dengan teori-teori rasional atau teori-teori
pembuatan keputusan dan teori ekonomi yang lain, terutama dalam mendasarkan
diri pada proses-proses kognitif untuk menjelaskan perubahan perilaku.

Gambar 1. Tahapan perubahan Transteoretical Model

Source: Prochaska and Di Clemente

xviii
Universitas Indonesia

Model tranteortical adalah suatu model yang diterapkan untuk menilai kesiapan seorang
individu untuk bertidak atas perilaku sehat yang baru dan memberikan strategi atau
proses perubahan untuk memandu setiap individu melalui tahapan perubahan untuk
bertindak dalam pemeliharaan kesehatan.
Sejarah dan inti Konstruksi Model
James O.Prochasta, dkk.(1977) mengembangkan TTM berdasarkan analisis teori yang
berbeda dari psikoterapi. Mode ini terdiri atas 4 fariabel, yaitu prasyarat untuk terapi,
proses perubahan, isi harus diubah dan hubungan terapeutik. Model ini disempurnakan
oleh prochasta berdasarkan penelitan yang mereka publikasikan dalam peer review
jurnal dan bukunya terdiri atas 5 konstruksi yaitu tahapan prubahan, proses-proses
perubahan, keseimbangan putusan, keberhasilan diri, dan godaan atau percobaan.
a. Prekontemplasi yaitu orang tidak berniat mengambil tidakan dimasa mendatang (biasanya
diukur selama enam bulan berikutnya).
b. Kontemplasi yaitu orang berniat untuk berubah dalam enam bulan mendatang.
c. Persiapan yaitu orang yang berniat mengambil tindakan dalam waktu dekat, biasanya
diukur sebagai bulan berkutnya.
d. Aksi yaitu oang telah membuat modifikasi terbuka tertentu dalam gaya hidup mereka
dalam enam bulan terakhir. Dalam hal ini, dapat digunakan untuk penggunaan PHBS
dalam menaggulangi Diare di usia anak sekolah
e. Pemeliharaan yaitu orang berupaya mencegah terkambuhan, tahap yang diperkirakan
terakhir dari enam bulan sampai sekitar lima tahun. Pemeliharaan sendiri dalam
penggunaan PHBS dapat dilakukan dengan adanya sosialisasi yang berkala.
f. Pemutusan yaitu individu tidak memiliki godaan dan memiliki keberhasilan diri100%,
dimana mereka yakin tidak akan kembali pada kebiasaan lama yang tidak sehat mereka
sebagai cara untuk mengatasi. Dalam tahapan ini, individu sudah melaksanakan PHBS
secara sadar dan mandiri, dan diare juga dapat teratasi.

xix
Universitas Indonesia

BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Jadwal Kegiatan


Kegiatan peyuluhan ini akan dilaksanakan pada :
Hari : Jumat
Tanggal : 07 - 22 Januari 2019
Waktu : Pukul 08.00 - selesai
Tempat : SD Negeri 2 Kota Depok
Tema : “Periaku Hidup Bersih dan Sehat di Sekolah”
Kegiatan penyuluhan ini juga di selingi dengan demonstrasi CTPS (Cuci Tangan
Pakai Sabun) yang benar, serta diskusi interaktif antara penyaji dan siswa SD
Negeri 2 Kota Depok.

3.2 Metode
a. Ceramah
b. Demontrasi cara cuci tangan pakai sabun yang benar
c. Tanya Jawab

3.3 Sumber Daya Pendukung


a. Leaflet berisi tentang pengertian, tujuan, alat dan bahan, dan teknik mencuci
tangan pakai sabun yang benar.
b. LCD, laptop
c. Sabun & Alat Tulis.

3.4 Isi Materi


a. Memelihara Rambut Agar Bersih dan Rapih adalah mencuci rambut secara
teratur dan menyisirnya sehingga terlihat rapih. Rambut yang bersih adalah
rambut yang tidak kusam, tidak berbau dan tidak berkutu. Memeriksa kebersihan
dan kerapihan rambut dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader kesehatan/guru
UKS minimal seminggu sekali.

xx
Universitas Indonesia

b. Memakai Pakaian Bersih dan Rapih adalah memakai baju yang tidak ada
kotorannya, tidak berbau, dan rapih. Pakaian yang bersih dan rapih diperoleh
dengan mencuci baju setelah dipakai dan dirapikan dengan disetrika. Memeriksa
baju yang dipakai dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader kesehatan/guru UKS
minimal seminggu sekali.

c. Memelihara Kuku Agar Selalu Pendek dan Bersih adalah memotong kuku
sebatas ujung jari tangan secara teratur dan membersihkannya sehingga tidak
hitam/kotor. Memeriksa kuku secra rutin dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader
kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

d. Memakai Sepatu Bersih dan Rapih adalah memakai sepatu yang tidak ada
kotoran menempel pada sepatu, rapih misalnya ditalikan bagi sepatu yang
bertali. Sepatu bersih diperoleh bila sepatu dibersihkan setiap kali sepatu kotor.
Memeriksa sepatu yang dipakai siswa dapat dilakukan oleh dokter kecil/kader
kesehatan/guru UKS minimal seminggu sekali.

e. Berolahraga Teratur dan Terukur adalah Siswa/Guru/Masyarakat sekolah


lainnya melakukan olahraga/aktivitas fisik secara teratur minimal tiga kali
seminggu selang sehari. Olahraga teratur dapat memelihara kesehatan fisik dan
mental serta meningkatkan kebugaran tubuh sehingga tubuh tetap sehat dan
tidak mudah jatuh sakit. Olahraga dapat dilakukan di halaman secara bersama-
sama, di ruangan olahraga khusus (bila tersedia), dan juga di ruangan kerja bagi
guru/ karayawan sekolah berupa senam ringan dikala istirahat sejenak dari
kesibukan kerja. Sekolah diharapkan membuat jadwal teratur untuk berolahraga
bersama serta menyediakan alat/sarana untuk berolahraga.

f. Tidak Merokok di Sekolah adalah anak sekolah/guru/masyarakat sekolah tidak


merokok di lingkungan sekolah. Merokok berbahaya bagi kesehatan perokok
dan orang yang berada di sekitar perokok. Dalam satu batang rokok yang diisap
akan dikeluarkan 4000 bahan kimia berbahaya diantaranya: Nikotin
(menyebabkan ketagihan dan kerusakan jantung serta pembuluh darah); Tar

xxi
Universitas Indonesia

(menyebabkan kerusakan sel paru-paru dan kanker) dan CO (menyebabkan


berkurangnya kemampuan darah membawa oksigen sehingga sel-sel tubuh akan
mati). Tidak merokok di sekolah dapat menghindarkan anak
sekolah/guru/masyarkat sekolah dari kemungkinan terkena penyakit-penyakit
tersebut diatas. Sekolah diharapkan membuat peraturan dilarang merokok di
lingkungan sekolah. Siswa/guru/masyarakat sekolah bisa saling mengawasi
diantara mereka untuk tidak merokok di lingkungan sekolah dan diharapkan
mengembangkan kawasan tanpa rokok/kawasan bebas asap rokok.

g. Tidak Menggunakan NAPZA adalah anak sekolah/guru/masyarkat sekolah tidak


menggunakan NAPZA (Narkotika Psikotropika Zat Adiktif). Penggunaan
NAPZA membahayakan kesehatan fisik maupun psikis pemakainya.

h. Memberantas Jentik Nyamuk adalah upaya untuk memberantas jentik di


lingkungan sekolah yang dibuktikan dengan tidak ditemukan jentik nyamuk
pada: tempat-tempat penampungan air, bak mandi, gentong air, vas bunga, pot
bunga/alas pot bunga, wadah pembuangan air dispenser, wadah pembuangan air
kulkas, dan barang-barang bekas/tempat yang bisa menampung air yang ada di
sekolah. Memberantas jentik di lingkungan sekolah dilakukan dengan
pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui kegiatan: menguras dan menutup
tempat-tempat penampungan air, mengubur barang-barang bekas, dan
menghindari gigitan nyamuk. Dengan lingkungan bebas jentik diharapkan dapat
mencegah terkena penyakit akibat gigitan nyamuk seperti demam berdarah,
cikungunya, malaria, dan kaki gajah. Sekolah diharapkan dapat membuat
pengaturan untuk melaksanakan PSN minimal satu minggu sekali.

i. Menggunakan Jamban yang Bersih dan Sehat adalah anak


sekolah/guru/masyarakat sekolah menggunakan jamban/WC/kakus leher angsa
dengan tangki septic atau lubang penampungan kotoran sebagai pembuangan
akhir saat buang air besar dan buang air kecil. Menggunakan jamban yang bersih
setiap buang air kecil ataupun buang air besar dapat menjaga lingkungan di
sekitar sekolah menjadi bersih, sehat, dan tidak berbau. Disamping itu tidak

xxii
Universitas Indonesia

mencemari sumber air yang ada disekitar lingkungan sekolah serta menghindari
datangnya lalat atau serangga yang dapat menularkan penyakit seperti: diare,
disentri, tipus, kecacingan, dan penyakit lainnya. Sekolah diharapkan
menyediakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan dalam jumlah yang
cukup untuk seluruh siswa serta terpisah antara siswa laki-laki dan perempuan.
Perbandingan jamban dengan pemakai adalah 1:30 untuk laki-laki dan 1:20
untuk perempuan.

j. Menggunakan Air Bersih adalah anak sekolah/guru/masyarakat sekolah


menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekolah.
Sekolah diharapkan menyediakan sumber air yang bisa berasal dari air sumur
terlindung, air pompa, mata air terlindung, penampungan air hujan, air ledeng,
dan air dalam kemasan (sumber air berasal dari smur pompa, sumur, mata air
terlindung berjarak minimal 10 meter dari tempat penampungan kotoran atau
limbah/WC). Air diharapkan tersedia dalam jumlah yang memenuhi kebutuhan
dan tersedia setiap saat.

k. Mencuci Tangan dengan Air Mengalir dan Memakai Sabun adalah


sekolah/guru/masyarakat sekolah selalu mencuci tangan sebelum makan,
sesudah buang air besar/sesudah buang air kecil, sesudah beraktivitas, dan atau
setiap kali tangan kotor dengan memakai sabun dan air bersih yang mengalir.
Air bersih yang mengalir akan membuang kuman-kuman yang ada pada tangan
yang kotor, sedangkan sabun selain membersihkan kotoran juga dapat
membunuh kuman yang ada di tangan. Diharapkan tangan menjadi bersih dan
bebas dari kuman serta dapat mencegah terjadinya penularan penyakit seperti:
diare, disentri, kolera, tipus, kecacingan, penyakit kulit, infeksi saluran
pernapasan akut (ISPA), dan flu burung.

l. Membuang Sampah ke Tempat Sampah yang Terpilah adalah anak


sekolah/guru/masyarakat sekolah membuang sampah ke tempat sampah yang
tersedia. Diharapkan tersedia tempat sampah yang terpilah antara sampah
organik, non-organik, dan sampah bahan berbahaya. Sampah selain kotor dan

xxiii
Universitas Indonesia

tidak sedap dipandang juga mengandung berbagai kuman penyakit.


Membiasakan membuang sampah pada tempat sampah yang tersedia akan
sangat membantu anak sekolah/guru/masyarakat sekolah terhindar dari berbagai
kuman penyakit.

m. Mengkonsumsi Jajanan Sehat dari Kantin Sekolah adalah anak


sekolah/guru/masyarakat sekolah mengkonsumsi jajanan sehat dari
kantin/warung sekolah atau bekal yang dibawa dari rumah. Sebaiknya sekolah
menyediakan warung sekolah sehat dengan makanan yang mengandung gizi
seimbang dan bervariasi, sehingga membuat tubuh sehat dan kuat, angka absensi
anak sekolah menurun, dan proses belajar berjalan dengan baik.

n. Menimbang Berat Badan dan Mengukur Tinggi Badan Setiap Bulan adalah
siswa ditimbang berat badan dan diukur tinggi badan setiap bulan agar diketahui
tingkat pertumbuhannya. Hasil penimbangan dan pengukuran dibandingkan
dengan standar berat badan dan tinggi badan sehingga diketahui apakah
pertumbuhan siswa normal atau tidak normal.

3.5 Instrumen
Adapun instrumen yang akan digunakan, antara lain :
a. Leaflet cuci tangan

xxiv
Universitas Indonesia

b. Poster PHBS di sekolah

xxv
Universitas Indonesia

c. Materi Powerpoint, yang berisi :


- Pendahuluan
- Kenapa harus cuci tangan
- Bagaimana cara mencuci tangan
- Kapan waktu untuk mencuci tangan
- Penyakit-penyakit yang dapat dicegah
- Praktek cuci tangan
Link https://slideplayer.info/slide/8834180/

d. Video PHBS di Sekolah


Link https://www.youtube.com/watch?v=hzIe9vkXmsA

e. Video Cuci Tangan


Link https://www.youtube.com/watch?v=NZW6MoEMwDY

xxvi
Universitas Indonesia

1.6 Timeline Intervensi Promosi Kesehatan

Aktivitas Hari
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
Identifikasi masalah, identifikasi jenis
intervensi
Perencanaan intervensi
Pengurusan perizinan kepada pihak sekolah
untuk intervensi
Pelaksanaan intervensi
Evaluasi proses intervensi
Evaluasi output dan outcome intervensi
Pembuatan laporan intervensi
Keterlibatan pemangku kepentingan

27
Universitas Indonesia

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. Buku Saku Petugas Kesehatan Lintas Diare: Lima Langkah Tuntaskan
Diare. Jakarta: Departemen Kesehatan RI; 2011. H 1-32

Kemenkes RI. Situasi DIARE di Indonesia: Buletin Jendela Data dan Informasi
Kesehatan triwulan II. Jakarta: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia; 2011.

Nadia Atika: Prevalesni dan Faktor Resiko Kejadian Diare pada Siswa Sekolah Dasar
Negeri Cirendeu 02 Tahun 2016. Skripsi. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta; 2016.

US Libarary of Medicine. 2018. MedlinePlus: Diarrhea.[online] tersedia di


https://medlineplus.gov/diarrhea.html diakses pada 13 Desember 2018.

Guandilini, S. 2018. General Medicine: Diarrhea.[online] tersedia di


https://emedicine.medscape.com/article/928598-overview diakses pada 13 December
2018.

US Departement of Health and Human Service. 2018. Health Information: Digestive


Disease: Diarrhea.[online] tersedia di https://www.niddk.nih.gov/health-
information/digestive-diseases/diarrhea/definition-facts diakses pada 13 Desember
2018.

Mbembu, L. 2014. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak Sekolah Usia 7- 10
Tahun. Journal of Pediatric Nursing Vol. 1(3), pp. 115-118, Juli, 2014 Available online
at http://library.stikesnh.ac.id ISSN 2354 -726X

Departemen Kesehatan RI. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Bakti Husada; 2011.

28