You are on page 1of 10

POLA LEGISLASI HUKUM ISLAM DALAM HUKUM

NASIONAL INDONESIA

Azyma Rizky Nadhifa 170711636158

Satriyo Ichrom Anggoro 170711636061

Wulan Ayuning Tiyas 170711636100

Yusril Adhaniar Nurdiansyah 170711636056

Universitas Negeri Malang Jalan Semarang Nomor 5

Abstrak

Pada artikel ini disajikan informasi mengenai pola legislasi hukum


Islam dalam hukum nasional Indonesia. sistem hukum nasional dapat
dimaknai dengan sistem hukum yang berlaku bagi suatu bangsa
tertentu di sebuah negara nasional tertentu, maka dengan demikian
apa yang akan dijelaskan dalam uraian berikut ini adalah tempat dan
keadaan hukum Islam dalam sistem hukum nasional di Indonesia dan
implikasinya terhadap bentuk dan formatisasi pembangunan tatanan
hukum di Indonesia.

Kata kunci : pola legislasi hukum Islam dalam Hukum nasional


Indonesia

Tata hukum Indonesia yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 telah
memberikan landasan dan arahan terhadap pembangunan bidang agama (hukum
agama) dengan jelas. Menurut Prof. Mochtar Kusumatmadja, sila KeTuhanan
Yang Maha Esa pada hakekatnya berisi amanat bahwa tidak boleh ada produk
hukum nasional yang bertentangan dengan agama atau bersifat menolak atau
bermusuhan dengan agama. Pasal 29 UUD 1945 menegaskan tentang jaminan
yang sebaik-baiknya dari Pemerintah dan para penyelenggara negara kepada
setiap penduduk agar mereka dapat memeluk dan beribadah menurut agamanya
masing-masing. Hal ini menunjukkan bahwa negara mengakui dan menjunjung
tinggi eksistensi agama termasuk hukum-hukumnya, melindungi dan melayani
keperluan pelaksanaan hukum-hukum tersebut.

Hukum Islam lahir dari justifikasi Tuhan sebagai satu-satunya hukum


yang sempurna. Kesempurnaan tersebut selain karena sebagai wahyu Tuhan juga
karena keberlakuannya tidak dibatasi oleh batas geografis dan waktu (universal).
Hukum Islam sebagai sebuah produk yang lahir dari ijtihad dan kesepakatan
ulama merupakan bagian yang integral dari ajarannya yang bersifat universal,
sehingga menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk melaksanakan
aturanaturannya dimanapun berada dan apapun nasionalitasnya.

Dalam sistem hukum nasional Indonesia, hukum merupakan produk


politik, atau menurut Daniel S. Lev bahwa yang paling menentukan dalam proses
hukum adalah konsepsi dan struktur kekuasaan politik, maka hukum Islam yang
menjadi cita-cita dan jiwa umat Islam dalam bernegara diperlukan campurtangan
kekuasaan dengan melalui legislasi. Dalam hubungan ini menurut Satjipto
Rahardjo bahwa hukum adalah keinginan politik sehingga pembuat undang-
undang sarat dengan kepentingan-kepentingan tertentu, dan dengan demikian
mendan pembuatan undang-undang menjadi mendan perbenturan dan pergumulan
kepentingan-kepentingan. Badan legislasi akan mencerminkan konfigurasi
kekuatan dan kepentingan yang ada dalam masyarakat.

BAHASAN

Tradisi legislasi dan kodifikasi Hukum Islam menjadi fenomena yang


tidak terelakkan pada perkembangan dunia Hukum Islam. Perkembangan struktur
masyarakat dari tradisional ke modern yang diikuti oleh perkembangan
kompleksitas pola hubungan masyarakat telah memaksa Hukum Islam sebagai
salah satu hukum yang hidup (living law) di masyarakat, berevolusi dari bentuk
yang uncodified (tidak dikodifikasi) menjadi bentuk yang codified (telah
dikodifikasi).

Proses perkembangan hukum menuju legislasi dan kodifikasi ini berjalan


di atas interval waktu yang relatif lambat dibandingkan dengan cepatnya laju
perubahan sosial. Fenomena ini berlaku bagi legislasi dan kodifikasi di beberapa
negara Islam seperti di Syria, Tunisia, Maroko, Iraq dan Pakistan serta Indonesia
sampai pada Orde Barunya. Ranah hukumnyapun sangat terbatas pada masalah
hukum keluarga. Dalam konteks sejarah Indonesia, sejak zaman kolonial
sebenarnya sudah ada upaya-upaya kodifikasi seperti munculnya compendium-
compendium sebagai rujukan aplikasi Hukum Islam.

Produk Legislasi Hukum Islam di Indonesia Dalam Hukum Nasional Indonesia

Produk Hukum Islam di IndonesiaTerhitung sejak tahun 1970-an sampai sekarang


arah dinamika hukum Islam dan proses transformasi hukum Islam telah berjalan
sinergis searah dengan dinamika politik di Indonesia. Tiga fase hubungan antara
Islam dan negara pada masa Orde Baru yakni fase antagonistik yang bernuansa
konflik, fase resiprokal kritis yang bernuansa strukturalisasi Islam, dan fase
akomodatif yang bernuansa harmonisasi Islam dan negara, telah membuka
kemungkinan pembentukan peraturan perundangan yang bernuansa hukum Islam.
Konsepsi negara berdasarkan atas hukum (rechtstaat) memiliki muatan ciri-ciri
berikut; 1). Prinsip perlindungan Hak Asasi Manusia; 2). Prinsip
pemisahan/pembagian kekuasaan; 3). Pemenntah berdasar undang-undang; 4).
Prinsip Keadilan; 5). Prinsip kesejahteraan rakyat. Untuk menemukan ini dapat
dilihat dalam naskah Pembukaan UUD 1945 alinea ke-4. pintu lebar bagi
islamisasi pranata sosial, budaya, politik dan hukum Islam di Indonesia
Berkenaan dengan itu, maka konsep pengembangan hukum Islam yang secara
kuantitatif begitu mempengaruhi tatanan sosial-budaya, politik dan hukum dalam
masyarakat. Kemudian diubah arahnya yakni secar kualifatif diakomodasikan
dalam berbagai perangkat aturan dan perundang-undangan yang dilegislasikan
oleh lembaga pemerintah dan negara. Konkretisasi dari pandangan ini selanjutnya
disebut sebagai usaha transformasi (taqnin) hukum Islam ke dalam bentuk
perundang-undangan.
Di antara produk undang-undang dan peraturan yang bernuansa hukum Islam,
umumnya memiliki tiga bentuk: Pertama, hukum Islam yang secara formil
maupun material menggunakan corak dan pendekatan keislaman; Kedua, hukum
Islam dalam proses taqnin diwujudkan sebagai sumber-sumber materi muatan
hukum, di mana asas-asas dan pninsipnya menjiwai setiap produk peraturan dan
perundang-undangan; Ketiga, hukum Islam yang secara formil dan material
ditransformasikan secara persuasive source dan authority source.
Sampai saat ini, kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum di Indonesia
semakin memperoleh pengakuan yuridis. Pengakuan berlakunya hukum Islam
dalam bentuk peraturan dan perundang-undangan yang berimplikasi kepada
adanya pranata-pranata sosial, budaya, politik dan hukum. Salah satunya adalah
diundangkannya Undang Undang No. 1/1974 tentang Perkawinan.
Abdul Ghani Abdullah mengemukakan bahwa berlakunya hukum Islam di
Indonesia telah mendapat tempat konstitusional yang berdasar pada tiga alasan,
yaitu: Pertama, alasan filosofis, ajaran Islam rnerupakan pandangan hidup, cita
moral dan cita hukum mayoritas muslim di Indonesia, dan mi mempunyai peran
penting bagi terciptanya norma fundamental negara Pancasila); Kedua, alasan
Sosiologis. Perkembangan sejarah masyarakat Islam Indonesia menunjukan
bahwa cita hukum dan kesadaran hukum bersendikan ajaran Islam memiliki
tingkat aktualitas yang berkesiambungan; dan Ketiga, alasan Yuridis yang
tertuang dalam Pasal 24, 25 dan 29 UUD 1945 memberi tempat bagi keberlakuan
hukum Islam secara yuridis formal.
Implementasi dan tiga alasan di atas, sebagai contoh adalah ditetapkannya UUPA
No.7/1989 yang secara yuridis terkait dengan peraturan dan perundang-undangan
lainnya, seperti UU No.2/1946 Jo, UU No.32/1954, UU Darurat No.1/1951, UU
Pokok Agraria No.5/1960, UU No.14/1970, UU No.1/1974, UU No.14/1985,
Perpu Nol/SD 1946 dan No.5/SD 1946, PP. No.10/1947 Jo. PP. No.19/1947, PP.
No.9/1975, PP. No.28/1977, PP. No.10/1983 Jo, PP. No.45/1990 dan PP. No.
33/1994. Penataan Peradilan Agama terkait pula dengan UU No.2/1986 tentang
Peradilan Umum, UU No.5/1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, dan UU
No.7/1989 tantang Dradi1an Agama.[29]
Dalam kenyataan lebih konkret, terdapat beberapa produk peraturan perundang-
undangan yang secara formil maupun material tegas memiliki muatan yuridis
hukum Islam, antara lain:
a. UU RI No. 1/1974 tentang Hukum Perkawinan
b. UU RI No. 7/ 1989 tentang Peradilan Agama (Kini UU No. 3,72006
c. UU RI No. 7/1992 tentang Perbankan yang membolehkan menggunakan prinsip
bagi hasil
d. UU RI No.10/1998 tentang PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG
NOMOR 7 TAHUN 1992 TENTANG PERBANKAN yang membolehkan
menggunakan Prinsip Syariah.
e. UU RI No. 17/1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Ají
f. UU RI No.38 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN ZAKAT
g. UU RI No. 44/1999 tentang Penyelenggaraan Otonomi Khusus Nangroe Aceh
Darussalam
h. UU Politik Tahun 1999 yang mengatur ketentuan partai Islam
i. UU RI No. 16 TAHUN 2001 TENTANG Y A Y A S A N
j. UU RI No 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF
k. UU RI No 3 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-
UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1989 TENTANG PERADILAN AGAMA
l. UU RI No 19 TAHUN 2008 TENTANG SURAT BERHARGA SYARIAH
NEGARA
m. UU RI No 21 TAHUN 2008 TENTANG PERBANKAN SYARIAH

Di samping tingkatannya yang berupa Undang-undang, juga terdapat peraturan-


peraturan lain yang berada di bawah Undang-undang, antara lain:
a. PP No.9/1975 tentang Petunjuk Pelaksanaan UU Hukum Perkawinan
b. PP No.28/1977 tentang Perwakafan Tanah Milik
c. PP No.72/1992 tentang Penyelenggaraan Bank Berdasarkan Prinsip Bagi Hasil
d. Inpres No.1/ 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam
e. Inpres No.4/2000 tentang Penanganan Masalah Otonomi Khusus di NAD
Dari sekian banyak produk perundang-undangan yang memuat materi hukum
Islam, peristiwa paling fenomenal adalah disahkannya UU No.7/1989 tentang
Peradilan Agama. Betapa tidak, Peradilan Agama sesungguhnya telah lama dikenal
sejak masa penjajahan (Mahkamah Syar’iyyah) hingga masa kemerdekaan, mulai
Orde Lama hingga Orde Baru, baru kurun waktu akhir 1980-an UUPA No.7/1980
dapat disahkan sehagai undang-undang. Padahal UU No.14/1970 dalam Pasal 10-
12 dengan tegas mengakui kedudukan Peradilan Agama berikut eksistensi dan
kewenangannya.
Keberadaan UU No.7/1989 tentang Peradilan Agama dan Inpres No.1/1991 tentang
Kompilasi Hukum Islam sekaligus merupakan landasan yuridis bagi umat Islam
untuk menyelesaikan masalah-masalah perdata. Padahal perjuangan umat Islam
dalam waktu 45 tahun sejak masa Orde lama dan 15 tahun sejak masa Orde Baru,
adalah perjuangan panjang yang menuntut kesabaran dan kerja keras hingga
disahkannya UU No.7/1989 pada tanggal 29 Desember 1989.
Sejalan dengan perubahan iklim politik dan demokratisasi di awal :ahun 1980-an
sampai sekarang, tampak isyarat positif bagi kemajuan pengernbangan hukum
Islam dalam seluruh dimensi kehidupan masyarakat. Pendekatan struktural dan
harmoni dalam proses islamisasi pranata sosial, budaya, politik, ekonomi dan
hukum, semakin membuka pintu lebar-lebar bagi upaya transformasi hukum Islam
dalam sistem hukum nasional. Tinggal bagaimana posisi politik umat Islam tidak
redup dan kehilangan arah, agar ia :etap eksis dan memainkan peran lebih besar
dalam membesarkan dan kemajukan Indonesia baru yang adil dan sejahtera.
Kehadiran ICMI pada awal tahun 1990-an sesungguhnya merupakan rea1itas sosial
dan politik yang tidak dapat dihindari. Di mana peran besar yang ditampilkan oleh
elite politik Islam di lingkungan birokrasi, serta peran tokoh-tokoh Islam yang aktif
dalani berbagai organisasi kemasyarakatan Islam, dipandang sangat penting
terutama dalam merespon kehendak umat Islam secara kolektif. Dengan kata lain,
adanya berbagai produk perundang-undangan dan peraturan berdasarkan hukum
Islam, bukan perkara yang mudah, seperti membalikkan kedua telapak tangan,
tetapi semua itu telah dilakukan melalui proses politik dalam rentang sejarah yang
cukup lama.
PENUTUP

Kesimpulan
Hukum Islam di Indonesia telah mengalami perkembangan yang dinamis dan
berkesinambungan, baik melalui saluran infrastruktur politik maupun suprastruktur
seiring dengan realitas, tuntutan dan dukungan, serta kehendak bagi upaya
transformasi hukum Islam ke dalam sistem hukum Nasional. Bukti sejarah produk
hukum Islam sejak masa penjajahan hingga masa kemerdekaan dan masa reformasi
merupakan fakta yang tidak pernah dapat digugat kebenarannya. Semoga hukum
Islam tetap eksis beriringan dengan tegaknya Islam itu sendiri.
DAFTAR RUJUKAN

Risalahjumlah. 2018 . Pro dan Kontra Legislasi Hukum Islam . (Online).


(http://risalahjumah-persis.blogspot.com/2018/01/pro-kontra-legislasi-
hukum-islam.html)
POLA LEGISLASI HUKUM ISLAM DALAM
HUKUM NASIONAL
INDONESIA

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas mata kuliah
Hukum Islam
yang dibina oleh bapak A. Rosyid Al Atok

Oleh
Azyma Rizky Nadhifa 170711636158
Satriyo Ichrom Anggoro 170711636061
Wulan Ayuning Tiyas 170711636100
Yusril Adhaniar Nurdiansyah 170711636056

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN
September 2018
http://risalahjumah-persis.blogspot.com/2018/01/pro-kontra-legislasi-hukum-
islam.html