You are on page 1of 12

SEJARAH PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA SEJAK ZAMAN

KERAJAAN SAMPAI DENGAN SEKARANG

ARTIKEL
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Hukum Islam

Yang diampu oleh Bapak Dr. A. Rosyid Al Atok, M.Pd., MH

Disusun oleh:
1. Ainur Berlian Prasdian ( 170711636164)
2. Anggi Kholif Ayunia Dewi ( 170711636031)
3. Lavita Permata Arni Sari ( 170711636030)
4. Shofia Eka Damayanti ( 170711636104)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN
MEI 2018
SEJARAHPERKEMBANGAN HUKUM ISLAM DI INDONESIA SEJAK ZAMAN
KERAJAAN SAMPAI DENGAN SEKARANG

Ainur Berlian Prasdian


Anggi Kholif Ayunia Dewi
Lavita Permata Arni Sari
Shofia Eka Damayanti

Abstrak
Pada artikel ilmiah ini disajikan informasi mengenai informasi sejarah
perkembangan hukum Islam di Indonesia.Perkembangan Islam pada awal
penyebaran di Indonesia yang masuk di perairan Nusantara dapat
dikatakan cepat beradaptasi dan tidak menimbulkan benturan budaya
dengan adat istiadat lokal yang sebelumnya sudah tercipta.Adapun
demikian terdapat perbedaan pendapat di kalangan pakar mengenai
masuknya Islam ke Indonesia.

Kata Kunci: sejarah, hukum, Islam, hukum Islam, …

Hukum Islam di Indonesia sebenarnya telah lama hidup di antara masyarakat Islam itu
sendiri, hal ini tentunya berkaitan dengan keadaan masyarakat Indonesia yang membudaya
dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Kemudian lahirlah kerajaan-kerajaan yang
masing-masing dibangun atas dasar agama yang dianut. Mengenai masuknya Islam ke
Indonesia, terdapat perbedaan pendapatmenyangkut tempat asal kedatangan Islam, para
pembawanya, dan waktu kedatangnnya di kalangan pakar.
Teori Pertama, teori yang menyebutkan bahwa Islam masuk pertama kali ke
Nusantara pada abad ke-12 M dari Gujarat dan Malabar, bukan dari Persia atau
Arabia.Orang-orang Arab yang bermadzhab Syafi’i bermigrasi ke India, kemudian membawa
Islam ke Nusantara yang dibawa oleh para pedagang dari pantai.Snouck Hurgronje
mendukung teori pertama ini dengan menyebutkan abad ke-12 M sebagai waktu yang paling
memungkinkan penyebaran Islam di Indonesia (Azra, 2013).
Teori kedua menyatakan bahwa Islam datang dari Bengal. Hal tersebut didasari
karena kebanyakan orang terkemuka di Pasai adalah orang-orang Benggali. Selain itu, ia juga
mengemukakan bahwa batu nisan Malik al-Saleh memiliki banyak persamaan dengan batu
nisan di Benggali.
Kerajaan Pasai awalnya berkembang melalui gerakan dakwah para pendatang muslim
yang lalu membentuk masyarakat Islam pertama di Peureulak (Perlak), Aceh Timur.
Membuat Pasai menjadi kerajaan Islam pertama sekitar abad ketiga belas yang dikenal
dengan Samudera Pasai, terletak di wilayah aceh utara. Dengan berdirinya kerajaan Pasai itu,
maka pengaruh Islam semakin menyebar dengan berdirirnya kerajaan lainnya seperti
kesultanan Malaka yang tidak jauh dari Aceh. Selain itu ada beberapa yang ada di Jawa
antara lain Kesultanan Demak, Mataram, danCirebon. Kemudian di daerah Sulawesi dan
Maluku yang ada Kerajaan Gowa dan Kesultanan Ternate serta Tidore.
Hukum Islam pada masa ini merupakan sebuah fase penting dalam sejarah hukum
Islam di Indonesia.Dengan adanya kerajaan-kerajaan Islam menggantikan kerajaan Hindu-
Budha berarti untuk pertama kalinya hukum Islam telah ada di Indonesia sebagai hukum
positif.Hal ini terbukti dengan fakta-fakta dengan adanya literatur-literatur fiqih yang ditulis
oleh para ulama’ nusantara pada abad 16 dan 17 an. Zaman dimana para penguasa ketika itu
memposisikan hukum Islam sebagai hukum Negara.

BAHASAN

Pada bagian ini dijelaskan secara spesifik mengenai (1)Hukum Islam pada zaman
kerajaan di Indonesia, (2) Hukum Islammasa Hindia-Belanda, (3) Hukum Islammasa kolonial
Jepang, (4) Hukum Islam pada masa Kemerdekaan (5) Hukum Islam di era Orde Lama dan
Orde Baru, serta (5) Hukum Islam di era Reformasi.

Hukum Islam Pada Zaman Kerajaan di Indonesia


1. Kerajaan Samudera Pasai
Pada pertengahan abad ke-13, di Sumatera telah berdiri kerajaan Islam Samudera
Pasai yang merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini terletak di pesisir
timur laut Aceh yang sekarang merupakan wilayah Kabupaten Lhouksumawe. Samudera
Pasai adalah sebuah kerajaan maritim, Samudera Pasai telah mengadakan hubungan dengan
Sultan Delhi di India pada pelayaran kerajaan Samudra Pasai merupakan pusat studi agama
Islam dan tempat berkumpulnya para ulama dari berbagai negara Islam.
Samudera pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia, kerajaan ini di
didirikan sekitar abad pertengahan abad ke-13 sebagai hasil proses Islamisasi daerah-daerah
pantai yang peernah disinggahi pedagang-pedagang muslim asing sejak abad ke-7, ke-8 M,
dan seterusnya. Lahirnya kerajaan Samudera Pasai merupakan tonggak sejarah, sekaligus
cikal bakal di daerah-daerah lain di nusantara sehingga dimasa berikutnya lahir kerajaan
Islam.Mazhab hukum Islam yang berkembang di kerajaan samodra pasai yaitu Mazhab
Syafi’i. Dari Pasai inilah tersebar mazhab syafi’ike kerajaan lainnya di Indonesia.
Ketika singgah di Samudera Pasai pada tahun 1345 Masehi, Ibnu Batutah, seorang
pengembara, mengagumi perkembangan Islam di negeri tersebut. Ia mengagumi kemampuan
sultan Al-MalikAl-Zahridan berdiskusi tentang berbagai ilmu Islam dan fiqih. Menurut
pengembara arab Islam Maroko itu, selain sebagai seorang raja Al-Malik Al-Zahri yang
menjadi sultan Pasai saat itu adalah juga seorang fukaha(ahli hukum) yang mahir tentang
hukum Islam (Zuhri, 1979).
2. Kerajaan Aceh
Setelah kerajaan Samudera Pasai ditaklukan oleh Portugis sekitar tahun 1512,
kerajaan itu berada di bawah pengaruh kesultanan aceh yang berpusat di Bandar Aceh
Begawan. Sama halnya dengan Pasai, Aceh juga menjadi tempat yang strategis.Mazhab
hukum Islam yang berkembang dikerajaan aceh adalah mazhab Syafi’i yang pada masa
pemerintahan Sultan Iskandar Muda memiliki seorang mufti terkemuka bernama Syekh
Abdul Ra’uf Singkel. Selain itu juga terdapat seorang ulama besar Nuruddin Arraini dengan
karyanya sebuah kitab Siratul Musthaqim. Kitab tersebut di gunakan sebagai media
penyebaran Islam dan sebagai pedoman bagi guru-guru agama (Sumitro, 2005).
3. Kerajaan Demak
Demak merupakan kerajaan Islam pertama yang ada di Jawa.Raja yang pertama
berkuasa adalah Raden Patah.Peninggalan Kerajaan Demak yang hingga kini masih miliki
nilai historisbagi agama Islam yakni Masjid Demak.Di kerajaan Demak juga terdapat jama’ah
Islam yang sangat besar pegaruhya dan dapat mengadakan hubungan dengan pusat-pusat
Islam internasional di luar negeri, seperti di Mekkah dan Turki.
4. Kerajaan Mataram
Lahirnya Kerajaan Mataram merupakan anugerah dari Raja Pajang yakni Sultan Adi
Wijaya kepada kepada Ki Gede Pamanahan karena telah berhasil menumpas pemberontakan
Arya Panangsang.Sebelum Sultan Agung berkuasa hukum Islam tidak banyak berpengaruh
dikalangan kerajaan.Pada masa sultan agung mulai hidup dan berpengaruh besar di kerajaan
tersebut.Hal tersebut dapat di buktikan dengan berubahnya tata hukum di Mataram yang
mengadili perkara-perkara yang membahayakan keselamatan kerajaan.
5. Kerajaan Cirebon
Cirebon merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa Barat. Islam sudah ada di
Cirebon sekitar tahun 1470-1475M orang yang berhasil meningkatkan status cirebon menjadi
kerajaan yaitu Syarif Hidayatyang terkenal dengan Sunan Gunung Jati dialah pendiri
Kerajaan Cirebon.Hukum Islam di Kerajaan Cirebon dapat berkembang dengan baik,
terutama hukum-hukum yang berhubungan dengan masalah kekeluargaan. Di bawah
pengaruh dan kepemimpinan Fatahillah, seorang tokoh Walisongo, hukum Islam di Kerajaan
Cirebon mengalami perkembagan yang pesat. Pesatnya perkembangan Islam dan kuatnya
pengaruh hukum Islam di sana, lapangan hukum tertentu mampu menggeser hukum jawa
kuno sebagai hukum asli penduduk setempat.
8. Kerajaan Tuban
Tuban merupakan kota yang terletak di utara Jawa Timur, karena keadaan
geografisnya, kemudian di jadikan pelabuhan yang kurang penting jika di bandingan dengan
Gresik. Meski demikian, diduga sejak zaman dahulu Tuban menjadi kedudukan penguasa-
penguasa yang kuat. Oleh karena itu, Tuban juga menjadi kota yang terkenal dan penting
didaerah pantai utara Jawa Timur.Para ulama yang muncul di Tuban antara lainRaden
Rahmat yang kemudian dikenal sebagai Sunan Khatib Ngampel Surabaya. Sekitar abad ke-
17 dan ke-18 kota tuban dianggap tidak memiliki arti di bidang politik dan ekonomi. Namun
demikian, kota tuban masih dikenal sebagai tempat bermukim para ulama besar, antara lain
haji AhmadMustaqim dan kemudian terdokumentasi didalam tulisan jawa yang dikenal
dengan nama “Serat Cabolek”.

Hukum Islam Masa Hindia Belanda


Masa penjajahan Belanda sangat berpengaruh terhadap perkembangan hukum Islam
di Indonesia. Politik Belanda terhadap Islam dan ketentuan hukumnya di Indonesia dapat
dibagi ke dalam dua periode. Pertama adalah periode pemerintahan VOC sejak 1596 hingga
pertengahan abad ke-19. Periode ini diselingi dengan masa pemerintahan Inggris pada 1811-
1816. Kedua adalah periode pertengahan abad ke-19 hingga berakhirnya kekuasaan Belanda
di Indonesia.
Pemerintah Belanda melalui pemerintahan VOC (Vereenigde Oost Inlandse
Compagnie) atau Kongsi Dagang Hindia Belanda pada mulanya mencoba menerapkan
hukum Belanda kepada masyarakat pribumi, namun tidak berjalan efektif. Akhirnya, VOC
membiarkan lembaga-lembaga asli yang ada di masyarakat. Disebutkan dalam Statuta
Batavia tahun 1642 bahwa soal kewarisan orang-orang pribumi yang beragama Islam hukum
yang digunakan adalah hukum yang digunakan sehari-hari, yakni hukum Islam. Kemudian
pemerintah VOC meminta kepada D.W. Freijer untuk menyusun suatu compendium
(ringkasan) tentang hukum perkawinan dan kewarisan Islam. Compendium Freijer ini
kemudian diterima pengadilan dan diterapkan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di
kalangan umat Islam di daerah-daerah yang dikuasai oleh VOC. Terdapat juga beberapa kitab
hukum lainnya yang dibuat oleh pemerintah VOC, di antaranya Compendium Mugharrar
yang dipakai untuk pengadilan Semarang, Cirbonsch Rechtboek (Pepakem Cirebon) dan
koleksi hukum Hindia Belanda untuk daerah Bone dan Gowa (Compendium Indiansche
Wetten bij Hoven van Bone en Goa). Beberapa sarjana Belanda mengakui baik bahwa bagi
orang pribumi yang beragama Islam berlaku hukum Islam.Posisi hukum Islam dizaman VOC
ini berlangsung demikian, selama lebih kurang dua abad lamanya(1602-1800).
Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels yang berkuasa pada 1808-1811 juga
menghormati penduduk pribumi di Jawa yang beragama Islam. Dalam praktiknya ia bahkan
mengeluarkan peraturan bahwa hukum pribumi orang Jawa tidak boleh diganggu. Hak-hak
penghulu agama untuk memutus perkara perkawinan dan kewarisan orang Jawa yang
beragama Islam juga tidak boleh diambil alih, semua alat-alat kekuasaan pemerintah Hindia-
Belanda harus mengakui eksistensi tersebut. Disamping itu, ia juga menegaskan kedudukan
para penghulu sebagai tenaga ahli hukum Islam yaitu hukum asli orang jawa dalam susunan
badan peradilan yang dibentuknya, sebagai penasihat dalam suatu masalah atau perkara
(Supomo dan Djokosutono,1955).
Setelah Indonesia dikembalikan oleh Inggris kepada Belanda berdasarkan konvensi
yang ditandatangani di London pada 13 Agustus 1814, pemerintah kolonial Belanda
membuat suatu Undang-Undang tentang kebijaksanaan pemerintah, susunan pengadilan,
pertanian, dan perdagangan terhadap daerah jajahannya di Asia. Undang-undang ini
mengakibatkan perubahan di hampir semua bidang kehidupan orang Indonesia, termasuk
bidang hukum, yang akan merugikan perkembangan hukum Islam diselanjutnya.
Pada abad ke-19, banyak orang Belanda, baik di negerinya sendiri maupun di Hindia
Belanda, sangat berharap segera dapat menghilangkan pengaruh Islam dari sebagian besar
orang Indonesia dengan berbagai cara di antaranya melalui proses kristenisasi. Banyak orang
Belanda yang berpendapat bahwa pertukaran agama penduduk menjadi Kristen akan
menguntungkan negeri Belanda karena penduduk pribumi yang mengetahui eratnya
hubungan agama mereka dengan agama pemerintahnya, setelah mereka masuk Kristen, akan
menjadi warga negara yang loyal lahir batin kepada pemerintahnya itu (Benda,1980).
Belanda sangat berambisi mengekalkan kekuasaannya di Indonesia, sehingga selain
upaya di atas, pemerintah Kolonial Belanda mulai melaksanakan sebuah “Politik Hukum
yang Sadar” terhadap Indonesia. Yang dimaksud dengan politik hukum yang sadar adalah
politik hukum yang sadar hendak menata dan mengubah kehidupan hukum di Indonesia
dengan hukum Belanda. Terkait mengenai keberlakuan hukum Islam dikalangan masyarakat
Indonesia ini muncul berbagai teori, dimana yang satu dengan yang lain sering kali
bertolakan. Adapun mengenai hal ini paling tidak terdapat tiga macam teori, yaitu teori
receptio in complexu, teori receptie, dan teori receptie balik (receptie a contrario ).
Van den Berg disebut sebagai orang yang menemukan dan memperlihatkan
berlakunya hukum Islam di Indonesia. Menurut Van den Berg, orang Islam Indonesia telah
melakukan resepsi hukum Islam dalam keseluruhannya dan sebagai satu kesatuan: receptio in
complexu. Ini berarti menurut Van den Berg yang diterima oleh orang Islam Indonesia tidak
hanya bagian-bagian hukum Islam melainkan keseluruhan hukumnya sebagai satu kesatuan.
Namun di dalam perkembangannya peraturan-peraturan tersebut dilakukan perubahan secara
berangsur-angsur oleh pemerintah kolonial untuk mengurangi berlakunya hukum Islam di
Indonesia. Puncak perubahannya yakni dengan keluarnya pasal 134 ayat (2) IS (Indische
Staats Regeling) yang dinyatakan bahwa dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama
orang Islam maka akan diselesaikan oleh hakim agama Islam, apabila keadaan tersebut telah
diterima oleh hakim agama Islam, apabila keadaan tersebut telah diterima oleh hukum adat
mereka dan sejauh tidak ditentukan lain oleh ordonansi. Ketentuan terakhir ini jelas
menempatkan hukum Islam di bawah hukum adat, karena hukum Islam baru dapat berlaku
setelah diterima oleh hukum adat.
Bersamaan dengan ketentuan pasal 134 ayat (2) IS ini, Teori Receptio in Complexu
yang dikemukakan oleh LWC Van den Berg di atas dibantah oleh Christian Snouck
Hurgronje (1857-1936) selaku penasihat pemerintah Hindia Belanda urusan Islam dan
bumiputera. Dia mendasarkan pada hasil penelitiannya terhadap orang Aceh dan Gayo Banda
Aceh sebagaimana termuat dalam bukunya De Atjehers. Ia berpendapat bahwa yang berlaku
bagi orang Islam di kedua daerah itu bukanlah hukum Islam, tetapi hukum adat. Memang
telah masuk pengaruh hukum adat ke dalam hukum Islam, tetapi pengaruh itu baru
mempunyai kekuatan hukum kalau telah benar-benar diterima oleh hukum adat. Pendapat ini
terkenal dengan receptie theorie (teori resepsi), yang kemudian dikembangkan secara
sistematis oleh Cornelis Van Vollenhoven
Teori yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje mendapat banyak penentangan dari
para pemikir hukum Islam di Indonesia. Teori tersebut dianggap mempunyai maksud-maksud
politik untuk menghapuskan hukum Islam dari Indonesia dan hendak mematahkan
perlawanan bangsa Indonesia terhadap kekuasaan pemerintah kolonial yang dijiwai oleh
hukum Islam. Dengan teori tersebut, Belanda hendak mematikan pertumbuhan hukum Islam
dalam masyarakat yang dilaksanakan sejalan dengan pembunuhan para pemuka atau ulama
besar Islam. Sehingga hal ini jelas bertujuan untuk melemahkan perlawanan Indonesia
terhadap Belanda.
Hazairin, seorang ahli hukum adat dan hukum Islam terkemuka mengkritik teori yang
dikemukakan oleh Snouck Hurgronje dengan teori resepsinya (teori receptie balik). Ia
menyatakan bahwa teori resepsi yang diciptakan oleh kekuasaan kolonial Belanda untuk
merintangi kemajuan Islam di Indonesia adalah teori Iblis. Menurutnya teori tersebut hendak
mengajak orang Islam untuk tidak mematuhi dan melaksanakan perintah Allah dan Sunnah
Rasul-Nya. Menurut teori resepsi, hukum Islam (itu sendiri) bukanlah hukum kalau belum
diterima ke dalam dan menjadi hukum adat. Kalau telah diterima oleh hukum adat
(setempat), hukum Islam yang demikian, tidak lagi dikatakan hukum Islam, tetapi hukum
adat. Hukum adatlah yang menentukan apakah hukum Islam itu hukum atau bukan.
(Hazairin, 1964). Sehingga pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1882 mendirikan
Peradilan Agama yang ditujukan kepada warga masyarakat yang memeluk agama Islam.

Hukum Islam Masa Kolonial Jepang


Pada zaman penjajahan Jepang dalam konteks administrasi penyelenggaraan negara
dan kebijakan-kebijakan terhadap pelaksanaan hukum Islam di Indonesia terkesan bahwa
Jepang memilih untuk tidak terlalu mengubah beberapa hukum dan peraturan yang ada.
Sebagaimana Belanda pada masa awal-awal penjajahannya, rezim Jepang juga
mempertahankan bahwa adat istiadat lokal, praktik-praktik kebiasaan, dan agama tidak boleh
diintervensi untuk sementara waktu, dan dalam hal yang berhubungan dengan penduduk sipil,
adat dan hukum sosial mereka harus dihormati, dan pengaturan yang khusus diperlukan
adanya dalam rangka untuk mencegah munculnya segala bentuk perlawanan dan oposisi yang
tidak diinginkan

Hukum Islam Pada Masa Kemerdekaan


Salah satu makna kemerdekaan bagi bangsa Indonesia adalah terbebasnya dari
pengaruh hukum Belanda. Menurut Hazairin, setelah Indonesia merdeka walaupun aturan
peralihan menyatakan bahwa hukum yang masih berlaku selama jiwanya tidak bertentanga
dengan UUD 1945, seluruh peraturan pemerintahan Belanda yang berdasarkan teori receptie
tidak berlaku lagi karena jiwanya bertentangan dengan UUD 1945. Teori receptie harus
keluar karena bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah Rasul.
Berdasrkan pendapat ini Hazairin, menegmbangkan teori yang disebutkan sebagai teori
receptie exit. Pokok-pokok pikiran Haairin adalah:
1.Teori receptie telah patah, tidak berlaku dari hukum ketatanegaraan Indonesia sejak tahun
1945 dengan merdekanya bangsa Indonesia dan mulai berlakunya UUD 1945.
2. Sesuai dengan UUD 1945 pasal 29 ayat 1 maka Negara Republik Indonesia berkewajiban,
membentuk hukum nasional Indonesia yang bersumber dari hukum Agama.
3. Hukum agama yang masuk dan menjadi hukum nasional bukan hanya Islam saja
melainkan hukum agama lain.
Secara konkrit hukum yang berlaku di Indonesia pada zaman kemerdekaan dapat di
lihat pada bidang hukum public maupun hukum privat.Dalam bidang hukum publik kitab
undang-undang hokum pidana sedangkan dalam bidang hukum privat masih bersifat dualism
dan plural. Hal ini sebagai akibat adanya penggolongan kependudukan paada masa Hindia
Belanda (Anshori, 2008).

Hukum Islam di Era Orde Lama dan Orde Baru


Pada masa orde lama hukum Islam tidak mengalami perkembangan yang berarti di
bandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Bahkan dapat di katakanapada masa itu hukum
Islam berada pada masa yang amat suram. Bukti pedegradasian nilai-nilai hukum Islam itu
tampak pada gari-garis besar pola pembangunan nasional semesta berencana tahapan
pertama,1961-1969 bab 2 pasal 2 tentang “bidang mental/bidang agama/penelitian yang
menyatakan sebagai berikut : Melaksanakan manifesto politik didalam lapangan pembinaan
mental/agama/kerohanian dan kebudayaan dengan menjamin syarat-syarat spiritual dan
material, agar setiap warga Negara dapat mengembangkan kepribadiannya dan kebudayaan
asing. Pernyataan tersebut membawa dampak yang luas terhadap pelaksanaan hukum agama
Islam di Indonesia, karena pelaksanaan hukum agama Islam selalu dikendalikan oleh
manifesto politik.
Upaya mendegrasikan nilai-nilai hukum Islam juga di lakukan oleh Soekarno.Melalui
kebijakannya terhadap organisasi-organisasi Islam yang di nilianya memiliki peran besar
dalam penegakan hukum Islam di Indonesia. Bungkarno juga memangkas keterlibatan umat
Islam kususnya yang terkait dengan masyumi. Pada masa orde lama perkembangan hukum
Islam mengalami masa yang sangat suram khususnya di daerah Jawa. Namun ada
perkembangan yang unik di daerah Aceh. Mengingat keterkaitan masyarakat Aceh terhadap
hukum Islam sangat kental, maka sebagai hasil kompromi antara Aceh dan Jakarta , pada
tanggal 26 mei 1959 provinsi Aceh diakui sebagai suatu daerah administerasi pemerintahan
yang bersifat istimewa (Sumitro,2005). Pada masa ini Peradilan Agama juga mengalami
masa yang suram. Suramnya dunia Peradilan Agama disebabkan karena diberlakukannya
lembaga ekskutorial verklaring. Artinya setiap putusan putusan Pengadilan Agama baru
berlaku jika sudah mendapat pengukuhan dari pengadilan negeri (Sumitro,2005).
Pada masa Orde Baru perkembangan hukum Islam mengalami perubahan haluan
dalam penegakan hukum Islam di Indonesia. Harapan umat islam untuk memantapkan
keberadaan hukum islam dalam tata hukmu di Indonesia pada awal orde baru ini juga disertai
dengan kekecewaan baru. Kekecewaan baru muncul karena ternyata setelah pemerintah orde
baru memantapkan kekuasaana, mereka segera melakukan kontrol yang lebih ketat terhadap
kekuatan politik Islam, terutama para kelompok radikal yang dikawatirkan dapat menandingi
kekuatan pihak pemerintah. Pengawasan terhadap politik Islam tersebut terus di perketat,
bahan desertai dengan isu-isu sensitive trauma masa lalu tentang pembangkangan pemimpin-
pemimpin Islam (Sumitro,2005). Mohammad Roem berpendapat bahwa kaum muslimin
wajib melaksanakan hukum Islam, terlepas dari hukum Piagam Jakarta tercantum atau tidak
dalam pembuaan UUD 1945, atau dalam dekrit Presiden Soekarno. Kewajiban tersebut
berlaku bagi setiap muslim (Sumitro,2005).

Hukum Islam di Era Reformasi


Pada Reformasi, Soeharto akhirnya jatuh. Gemuruh demokrasi dan kebebasan
bergemuruh di seluruh pelosok Indonesia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, di era ini
setidaknya hukum Islam mulai menempati posisinya secara perlahan tapi pasti.Lahirnya
Ketetapan MPR No.III/MPR/2000 tentang Sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan
Perundang-undangan semakin membuka peluang lahirnya aturan undang-undang yang
berlandaskan hukum Islam. Terutama pada Pasal 2 ayat 7 yang menegaskan ditampungnya
peraturan daerah yang didasarkan pada kondisi khusus dari suatu daerah di Indonesia, dan
bahwa peraturan itu dapat mengesampingkan berlakunya suatu peraturan yang bersifat
umum.Lebih dari itu, disamping peluang yang semakin jelas, upaya kongkrit merealisasikan
hukum Islam dalam wujud undang-undang dan peraturan telah membuahkan hasil yang nyata
di era ini. Salah satu buktinya adalah Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Qanun
Propinsi Nangroe Aceh Darussalam tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Nomor 11 Tahun
2002.Dengan demikian, di era reformasi ini, terbuka peluang yang luas bagi sistem hukum
Islam untuk memperkaya khazanah tradisi hukum di Indonesia. Kita dapat melakukan
langkah-langkah pembaruan, dan bahkan pembentukan hukum baru yang bersumber dan
berlandaskan sistem hukum Islam, untuk kemudian dijadikan sebagai norma hukum positif
yang berlaku dalam hukum Nasional kita. (Ali, 2014)
Dan kini di Indonesia, hukum Islam yang disebut dan ditentukan oleh peraturan
perundang-undangan dapat berlaku langsung tanpa harus melalui hukum adat. Republik
Indonesia dapat mengatur sesuatu masalah sesuai dengan hukum Islam, sepanjang pengaturan
itu hanya brerlaku bagi pemeluk agama Islam. Kedudukan hukum Islam dalam sistem hukum
Indonesia adalah sama dan sederajat dengan hukum adat dan hukum Barat, karena itu hukum
Islam juga menjadi sumber pembentukan hukum nasional yang akan datang disamping
hukum adat, hukum barat dan hukum lainnya yang tumbuh dan berkembang dalam Negara
Republik Indonesia.

SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan uraian informasi pada bagian bahasan, berikut ini disajikan simpulan dan
saran yang linier dengan informasi tersebut.
Simpulan
Merujuk dari beragam paparan yang telah dikemukakan di atas, maka teori dan proses
Islamisasi di Indonesia dapat disimpulkan. Pertama. proses Islamisasi di Indonesia menurut
teori pertama, mulai berlangsung sejak awal abad ke-13 M. dan menurut teori kedua, sejak
abad ke-7 M. sampai abad ke15, yang di dukung oleh teori Gujarat, Benggali, Persia, Pantai
Coromandel dan teori Arab. Kedua, Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab
melainkan lewat India. Di sisi lain, ada pula yang mengatakan langsung dari Arab, bahkan
ada bukti-bukti lain, seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku juga Sulawesi. Ketiga,
proses Islamisasi dan pola penyebaran Islam di Indonesia berlangsung melalui, Perdagangan,
Perkawinan juga Penaklukan, Pendidikan, Tasawuf, Politik, Seni dan Budaya.

Saran

Berdasarkan informasi yang telah disajikan pada bagian dalam pembuatan artikel
tentang sejarah perkembangan hukum Islam di Indonesia sejak zaman kerajaan samapi
sekarang yang mencakup tentang masuknya hukum islam di Indonesia, Hukuim Islam pada
jaman kerajaan Islam, Penjajahan Hindia-Belanda, Penjajahan Jepang, pada masa
kemerdekaan hingga sekarang, ini tentu masih belum sempurna. Penyususn mengharapkan
masukan dan kritik yang membangun dari dosen pembimbing. Diharapkan penyususn dan
pembaca dapat berfikir secara kritis atas ilmu-ilmu yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA
Ali, Muhammad Daud. 2014. Hukum Islam. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Azra, Azyumardi.2013. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad
XVII-XVIII. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Zuhri, Syaifuddin. 1979. Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia.


Bandung: Alma’arif

Sumitro, Warkum. 2005. Perkembangan Hukum Islam di Tengah Kehidupan Sosial Politik di
Indonesia. Malang:Bayumedia

Supomo dan Djokosutono.1955. Sejarah Politik Hukum Adat. Jakarta:Djambatan

Benda,Harry J. 1980. Bulan Sabit dan Matahari Terbit: Islam Indonesia Pada Masa
Pendudukan Jepang. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya

Anshori, Abdul Ghofur.2008. Hukum Islam Dinamika dan Perkembangannya di Indonesia.


Yogyakarta: Kreasi Total Media