You are on page 1of 34

KONSEP DASAR, DAMPAK, KOMITMEN MENCEGAH DAN PEMBERANTASAN

KORUPSI

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
Pendidikan Kewarganegaraan
Yang diampu oleh Bapak Drs. Suparlan Al Hakim, M.Si

Disusun oleh:
Ainun Fitria Jamilah ( 170711636142 )
Ayu Millatul Hasanah ( 170711636048 )
Dwi Karunia Dhamar P. ( 170711636035 )
Ika Yunita Damayanti ( 170711636082 )
Meylina Tria Ambarwati ( 170711636052 )
Satriyo Ichrom Anggoro ( 170711636061 )

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS ILMU SOSIAL
S1 PENDIDIKAN PANCASILA DAN KEWARGANEGARAAN
OKTOBER 2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh kemampuan dan keberhasilannya dalam
melaksanakan pembangunan. Pembangunan sebagai suatu proses perubahan yang direncanakan
mencakup semua aspek kehidupan masyarakat. Efektifitas dan keberhasilan pembangunan
terutama ditentukan oleh dua faktor, yaitu sumber daya manusia, yakni (orang-orang yang
terlibat sejak dari perencanaan samapai pada pelaksanaan) dan pembiayaan. Diantara dua faktor
tersebut yang paling dominan adalah faktor manusianya.Indonesia merupakan salah satu negara
terkaya di Asia dilihat dari keanekaragaman kekayaan sumber daya alamnya. Tetapi ironisnya,
negara tercinta ini dibandingkan dengan negara lain di kawasan Asia bukanlah merupakan
sebuah negara yang kaya malahan termasuk negara yang miskin. Mengapa demikian? Salah satu
penyebabnya adalah rendahnya kualitas sumber daya manusianya. Kualitas tersebut bukan hanya
dari segi pengetahuan atau intelektualnya tetapi juga menyangkut kualitas moral dan
kepribadiannya. Rapuhnya moral dan rendahnya tingkat kejujuran dari aparat penyelenggara
negara menyebabkan terjadinya korupsi.Korupsi di Indonesia dewasa ini sudah merupakan
patologi social (penyakit social) yang sangat berbahaya yang mengancam semua
aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Korupsi telah mengakibatkan
kerugian materiil keuangan negara yang sangat besar. Namun yang lebih memprihatinkan lagi
adalah terjadinya perampasan dan pengurasan keuangan negara yang dilakukan secara kolektif
oleh kalangan anggota legislatif dengan dalih studi banding, THR, uang pesangon dan lain
sebagainya di luar batas kewajaran. Bentuk perampasan dan pengurasan keuangan negara
demikian terjadi hampir di seluruh wilayah tanah air. Hal itu merupakan cerminan rendahnya
moralitas dan rasa malu, sehingga yang menonjol adalah sikap kerakusan dan aji mumpung.
Persoalannya adalah dapatkah korupsi diberantas? Tidak ada jawaban lain kalau kita ingin maju,
adalah korupsi harus diberantas. Jika kita tidak berhasil memberantas korupsi,atau paling tidak
mengurangi sampai pada titik nadir yang paling rendahmaka jangan harap Negara ini akan
mampu mengejar ketertinggalannya dibandingkan negara lain untuk menjadi sebuah negara yang
maju. Karena korupsi membawa dampak negatif yang cukup luas dan dapat membawa negara ke
jurang kehancuran.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep dasar korupsi?
2. Bagaimana bentuk-bentuk dan jenis korupsi?
3. Apa faktor penyebab korupsi?
4. Bagaimana dampak korupsi terhadap aspek kehidupan?
5. Bagaimana membangun komitmen antikorupsi?
6. Bagaimana model pembelajaran antikorupsi?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian korupsi.
2. Untuk mengetahui penyebab atau latar belakang terjadinya korupsi.
3. Untuk mengetahui macam-macam dari korupsi.
4. Untuk mengetahui dampak adanya korupsi.
5. Untuk mengetahui langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk memberantas korupsi
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Korupsi


Di Indonesia, terminologi korupsi merupakan istilah, kata, dan sebutan yang telah ‘akrab’
(tidak asing) di hadapan orang Indonesia yang tinggal di mana saja. Sebutan korupsi dapat
didengar, dibaca di media masa dan bahkan hampir setiap hari disiarkan dalam berita televisi,
yang notabene pelaku korupsi pada umumnya kalangan pejabat publik, mulai dari kepala desa
sampai menteri bahkan anggota lembaga negara. Wajah koruptor juga hampir setiap muncul di
televisi, bahkan laiknya selebriti para koruptor tampil trendy, penuh gaya, mengumbar senyum
pada awak media saat diwawancarai dan wajah yang jauh dari kesan malu, menyesal, dan
bersalah. Tidak heran jika ada pernyataan bahwa korupsi telah membudaya di negeri ini.
Benarkah demikian? Tidak lah makna membudaya itu terkandung nilai-nilai keluhurann, cipta,
karsa, dan karya membudaya di bumi tercinta ini, namun telah menjadi kebiasaan paling buruk
dalam pikiran, sikap, dan tidakan manusia yang karena tindak korupsi berakibat hati nurani
pelakunya, sehingga menjadi manusia rendah derajatnya dihadapan manusia terlebih dihadapan
Tuhannya. Selain itu, perbuatan korupsi terbukti menyengsarakan masyarakat banyak. Korupsi
jelas perbuatan yang menyimpang dari norma-norma agama, masyarakat dan norma negara. Oleh
karena label dan perbuatan korupsi harus dilarang dan harus ‘diperangi’ di bumi nusantara ini.
Bangsa Indonesia telah mengibaarkan bendera dan menyatakan ‘perang melawan
korupsi’. Dalam kaitan itu perang terhadapa korupsi harus dicanangkan sebagai ‘gerakan
kultural’ dan kepentingan nasional yang sangat mendesak yang tidak perlu ditunda lagi!
Konsep dasar korupsi jika menggunakan pendekatan kebahasan, secara etimologi kata
“korupsi” sebagaimana dikemukakan Fockema Andrea yang dirujuk Karsona ( 2011) berasal
dari bahasa Latin “corruptio” atau “corruptus”. Artinya, penggambaran suatu rangkaian jahat,
kata tersebut berarti merusuak keutuhan. Selanjutnya dikatakan bahwa “corruptio” berasal dari
kata “corrumpere”, suaatu bahasa latin yang lebih tua. Dari bahasa latin tersebut kemudian
dikenal istilah “corruptio, corrupt” (Inggris), “corruption” (Perancis) dan “corruptie/koruptie” (
Belanda ).
Korupsi dalam kamus yang di tulis Homby AS (1998;193) Corruptimean immoral,
depraved, dishonest. Sedangkan Klitgaard ( 2001;29), korupsi adalah ajakan (dari pejabat
politik) dengan pertimbangan-pertimbangan yang tidak semestinya untuk melakukan
penlanggaran tugas. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1995;526)
menyebutkan korup artinya busuk, rusak. Suka menggunakan barang (uang) yang dipercayakan
kepadanya, dapat disogok melalui kekuasaan untuk kepentingan pribadi. Sedangkan korupsi
artinya penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan untuk kepentingan
pribadi atau orang lain). Dalam UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi, menjelaskan bahwa korupsi adalah tindakan melawan hukum dengan maksud
memperkaya diri sendiri, orang lain, atau korporasi yang berakibat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara. Klitgaard menambahkan bahwa korupsi adalah tingkah laku yang
menyimpang dari tugas-tugas sebuah jabatan Negara karena keuntungan status atau uang yang
menyangkut pribadi ( peroranganm keluarga dekat, kelompok sendiri); atau melanggar aturan-
aturan pelaksanaan beberapa tingkah laku pribadi. (2001:31). Dengan demikian, arti kata korupsi
secara harfiah adalah kebusukan, keburukan, kebejatan, ketidakjujuran, dapat disuap, tidak
bermoral, penyimpangan dari kesucian. Istilah korupsi yang telah diterima dalam
pembendaharaan kata bahasa Indonesia adalah “ kejahatan, kebusukan, dapat disuap, tidak
bermoral, kebejatan, dan ketidakjujuran Pengertian lainnya”, perbuatan yang buruk seperti
penggelapan uang, penerimaan uang sogokm dan sebagainya” (Depdikbud, 1995:527).
Berdasarkan sejumlah konsep dasar sebagaimana di kemukakan di atas, muncul berbgai
pengertian lain, seperti korup, korupsi, koruptor diartikan sebagai berikut.
1. konsep diartikan sebagai seseuatu yang busuk, rusak, suka menerima uang suap/sogok,
memakai kekuasaan untuk kepentingan pribadi dan sebagainya. Dengan demikian, mengorup
artinya merusak, menyelewengkan, menggelapkan uang/barang dan sebagainya.
2. korupsi artinya aksi atau perbuatan busuk, rusak, dengan penyelewengan atau penggelapan
uang Negara atau perusahaan untuk kepentingan sendiri, penerimmaan uang sogok, dan
sebagainya.
3. koruptor artinya orang yang melakukan korupsi, orang yang menyelewengkan atau
menggelapkan uang Negara ( perusahaan ) tempatnya bekerja (KPK,2011).
Berdasarkan konsep dan pengertian di atas dapat diartikan bahwa korupsi merupakan
sesuatu yang busuk, jahat, dan merusak, menyeleweng, tidak bermoral. Dengan demikian,
perbuatan korupsi merupakan perbuatan atau perilaku yang bersifat amoral, sifat dan keadaan
yang busuk, menyangkut jabatan instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan
dalam jabatan karena pemberian, menyangkut faktor ekonomi dan politik dan penempatan
keluaarga atau golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan jabatan. Jadi, korupsi ada
perilaku pejabat publik, baik politikus atau pegawai negeri, yang secara tidak wajar dan tidak
legal memperkaya diri sendiri atau memperkaya mereka yang dekat dengan dirinya, dengan cara
menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.

B. Bentuk dan Jenis Korupsi


Syed Huseein Alatas (2011), mengemukakan bahwa berdasarkan tipenya
korupsidikelompokkan menjadi tujuh jenis korupsi sebagai berikut:
1). Korupsi transaktif yaitu menunjukkan kepada adanya kesempatan timbale balik antara pihak
pembeli dan pihak penerima, demikian demi keuntungan kedua belah pihak dan dengan aktif
diusahakan tercapainya keuntungan ini oleh kedua-duanya.
2). Korupsi yang memeras adalah jenis korupsi di mana pihak pemberi dipaksa untuk menyuap,
guna mencegah kerugian yang sedang mengancam dirinya, kepentingannya atau orang-orang dan
hal-hal yang dihargainya.
3).Korupsi investif adalah jenis korupsi dengan tindakan pemberian barang atau jasa tanpa ada
pertalian langsung dari keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibayangkan akan diperoleh
dimasa yang akan dating.
4). Korupsi perkerabatan adalah jenis korupsi yang tindakan memeberikan penunjukan yang
tidak sah terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan.
5). Korupsi defensive adalah jenis korupsi dimana perilaku korban korupsi dengan pemerasan,
korupsinya adalah dalam rangka mempertahankan diri.
6). Korupsi otogenik adalah korupsi yang dilakukan oleh seseorangs eorang diri.
7). Korupsi dukunganya itu korupsi tidak langsung menyagkut uang atau imbalan langsung
dalam bentuk lain.
a. Kerugian Keuangan Negara
Bentuk korupsi dengan kerugian keuangan Negara dapat diidentifikasikan sebagai berikut:
1). Suatu perbuatan melawan hokum melakukan dalam wujud suatu perbuatan memeperkaya diri
sendiri atau orang lain atau korporasi (pasal 2 undang-undang Nomor 31 Tahun 1999).
2). Perbuatan melawan hokum yang dimaksudkan dengan tujuan menguntungkan diri sendiri
atau orang lain atau korporasi, juga perbuatan yang dilakukan dengan menyalahgunakan
kewenangan atas jabatan yang diemban.
b. Suap Menyuap
Perbuatan suap-menyuap ini diwujudkan dalam perilaku sebagai berikut:
1). Memberi atau menjajikan sesuatu kepada pegawai Negeri atau penyelenggara Negara dengan
maksud supaya pegawai negeri atau penyelenggara Negara tersebut berbuat sesuatu atau tidak
berbuat sesuatu dalam jabatannya yang bertentangan dengan kewajibanya (pasal 5 ayat (1)
hurufa Undang-UndangNomor 20 Tahun 2001).
2). Memberi sesuatu kepada pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang berkaitan atau
karena berhubungan dengan kewajiban dilakukan ataupun tidak dilakukannya.
3). Memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan mengingat kekuasaan atau
wewenang yang melekat pada jabatan atau kedudukannya.
4). Bagi pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang menerima pemberian atau janji.
5). Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada hakim dengan maksud untuk mempengaruhi
keputusan perkara yang diserahkan kepadanya untuk diadili.
6). Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada advokat untuk menghadiri sidang pengadilan
dengan maksud untuk mempengaruhi nasihat atau pendapat yang akan diberikan, berhubugan
dengan perkara yang diserahkan pengadilan untuk diadili.
7). Hakim atau advokat yang menerima hadiah atau janji, padahal diketahui atau patut diduga
bahwa hadiah atau janji tersebut diberikan untuk mempengaruhi keputusan perkara pidana
dengan pidana yang sama.
c. Penggelapan Dalam Jabatan
Korupsi dalam bentuk penggelapan dalam jabatan diwujudkan dengan perbuatan sebagai berikut:
1). Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan
umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja menggelapkan uang
atau surat berharga yang disimpan karena jabatannya.
2). Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan
umum secara terus menerus atau untuk sementara waktu, dengan memalsu buku-buku atau daftar
yang khusus untuk pemeriksaan administrasi.
3). Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu jabatan
umum secara terus-menerus atau sementara waktu dengan sengaja menggelapkan, merusakkan
atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta surat atau daftar yang digunakan untuk
meyakinkan atau membuktikan dimuka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena
jabatannya.
4). Pegawai negeri atau orang selain pegawai negeri ditugaskan menjalankan suatu jabatan
umum secara terus menerus dengan sengaja membiarkan orang lain menghilangkan,
menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat atau daftar
tersebut.
5). Pegawai negeri atau orang lain selain pegawai negeri yang ditugaskan menjalankan suatu
jabatan umum secara terus-menerus atau untuk sementara waktu, dengan sengaja membantu
orang lain menhilangkan, menghancurkan, merusakkan, atau membuat tidak dapat dipakai
barang, akta, surat atau daftar tersebut.
d. Pemasaran
Bentuk korupsi pemasaran sebagai berikut:
1). Pegawai negeri atau penyelenggarakan yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau
orang lain secara melawan hokum atau dengan menyalagunakan kekuasaannya, memaksa
seseorang memberikan sesuatu, membayar atau menerima pembayaran dengan potongan untuk
mengerjakan sesuatu bagi dirinya sendiri.
2). Pegawai negeri atau penyelenggara Negara pada waktu menjalankan tugas, meminta
pembayaran pegawai negeri kepada kasumum, seolah-olah pegawai negeri yang lain atau
kasumum tersebut mempunyai utang kepadanya padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan
merupakan utang.
3). Pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta
atau menerima perkerjaan atau penyerahan barang, seolah-olah merupakan utang kepada dirinya,
padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang.
4). Pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang pada waktu menjalankan tugas, telah
menggunakan tanah Negara yang diatasnya terdapat hak pakai seolah-olah sesuai dengan
peraturan perundang-undangan, telah merugikan orang yang berhak, padahal diketahuinya
bahwa perbuatan tersebut bertentangan dengan peraturan perundang-undangan pegawai negeri
atau penyelenggara Negara yang pada waktu menjalankan tugas, meminta atau menerima atau
memotong pembayaran kepada pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang lain atau kepada
pegawai negeri atau penyelenggara Negara yang lain ataukepadakasumum, seolah-olah pegawai
negeri atau penyelenggara Negara yang lain atau kasumum tersebut mempunyai utang
kepadanya, padahal diketahui bahwa hal tersebut bukan merupakan utang.
e. Perbuatan Curang
Bentuk korupsi perbuatan curang adalah perilaku tidak jujur dengan maksud mencari keuntungan
bagi diri dan kelompoknya dengan merugikan Negara sebagai berikut:
1). Pemborong, ahli bangunan yang pada waktu membuat bangunan atau penjual bahan
bangunan yang pada waktu menyerahkan bahan bangunan, melakukan perbuatan curang yang
dapat membahayakan keamanaan orang atau barang, atau keselamatan Negara keadaan perang.
2). Setiap orang yang bertugas mengawasi pembangunan atau penyerahan bahan bangunan,
sengaja membiarkan perbuatan curang sebagaimana di maksud dalam huruf a.
3). Setiap orang yang pada waktu itu menyerahkan barang keperluan tentara nasional Indonesia
atau kepolisian Negara republic Indonesia melakukan perbuatan curang yang dapat
membahayakan keselamatan Negara dalam keadaan perang.
4). Setiap orang yang bertugas mengawasi penyerahan barang keperluan tentara Nasional
Indonesia atau kepolisian Negara republik Indonesia dengan sengaja membiarkan perbuatan
orang sebagaimana yang dimaksud dalam huruf c.

C. Faktor Penyebab Korupsi


Tindakan korupsi dapat terjadi di sektor swasta maupun sektor pemerintah, atau secara
kolaboratif dilakukan keduanya, sehingga merupakan tindakan yang tidak berdiri sendiri. Oleh
karena itu, tindakan korupsi merupakan tindakan yang meliputi banyak hal, banyak aspek yang
bersifat kompleks .Faktor-faktor penyebab korupsi dilihat dari perilaku dapat berasal dari
internal pelaku-pelaku korupsi, dan berasal dari luar diri perilaku-perilaku korupsi, yakni
lingkungan, situasi atau kondisi yang kondusif bagi seorang untuk melakukan korupsi. Faktor
penyebab korupsi menurut Karsona meliputi faktor internal dan faktor eksternal (Dalam KPK
2011: 25).Faktor secara singkat faktor penyebab korupsi dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Faktor Internal
Faktor internal yang dimaksudkan adalah faktor pendorong seseorang melakukan tindak korupsi
yang berasal dari dalam diri pelaku.
A. Faktor Perilaku Individu
Faktor perilaku individu ini baik karena kodrat maupun lingkungannya mencakup :
1). Berasal dari ketamakan/kerakusan manusia
Tindakan atau perilaku korupsi yang terjadi selama ini dilakukan pelakunya bukan hanya sekedar
memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan makan, sandang atau pakaian, namun didorong
oleh hasrat memperkaya diri.Oleh karena itu, tindakan korupsi menjadi kejahatan luar biasa
(extra ordinary crime) di mana para pelaku terdorong dari dalam diri sendiri, penuh sifat tamak
dan rakus.
2). Berasal dari kelemahan moral pelaku
Kelemahan moral seseorang sering kali mendorong pelaku korupsi tergoda untuk melakukan
korupsi. Kelemahan dalam menilai mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang haram,
mana yang halal, menjadikan seseorang mudah tergoda oleh atasan, teman setingkat,
bawahannya, atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk itu.
3). Berasal dari gaya hidup yang konsumtif
Kehidupan modern yang bersifat materialistis, hedonis mendorong seseorang bergaya hidup
kosumtif yang didorong oleh perilaku suka pamer, shopaholic dan yang lebih bahaya adalah
silau dengan kepemilikan orang lain. Pendorong korupsi sebagaimana dikemukanan oleh Ibnu
Khaldun sebagaimana disitir oleh Klitgaard (2001), menyatakan akar penyebab korupsi adalah
nafsu untuk hidup bermewah mewahan dikalangan kelompok yang berkuasa.Untuk menutup
pengeluaran yang mewah itulah maka kelompok penguasa melakukan tindak korupsi.
B. Faktor sosial
Perilaku korupsi dapat terjadi karena dorongan dari lingkungan sekitar, dan lingkungan terdekat
adalah keluarga dan kerabat.Dalam hal perbuatan korupsi, maka lingkungan keluargalah yang
secara kuat memberikan dorongan bagi orang untuk korupsi dan dapat mengalahkan sifat baik
dan bermoral dari individu.
2. Faktor eksternal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri pelaku korupsi.Faktor eksternal tersebut
menurut pakar (Karsona, 2011.McWalters.2006. Kligaard. 2001) dapat didiskripsikan sebagai
berikut:
A. Berasal dari sikap masyarakat terhadap korupsi
1). Banyak nilai yang ada di masyarakat justru kondusif bagi tumbuh kembangnya korupsi.
Pandangan masyarakat dalam menilai keberhasilan orang, menjadi pemicu
perilakukorup.Contohnya, masyarakat menilai seseorang dikatakan sukses jika telah memiliki
mobil, rumah, perusahaan dan kekayaan lainnya.Sikap ini seringkali membuat masyarakat tidak
kritis pada kondisi, misalnya dari mana kekayaan itu didapatkan, bagaimana memperolehnya.
2). Kesadaran masyarakat akan korban korupsi nelum tepat.
Korban Korupsi hakekatnya adalah masyarakat sendiri.Selama ini persepsi masyarakat bahwa
korupsi itu mencuri uang Negara, melahirkan anggapan umum bahwa korupsi itu yang paling
dirugikan adalah Negara.
3). Kurangnya kesadaran masyarakat bahwa sebenarnya mereka ambil bagian dalam setiap
perbuatan korupsi. Sebagaimana selama ini terjadi setiap perbuatan korupsi pasti memlibatkan
anggota masyarakat.Karena masyarakat tidak merasa bahwa mereka bagian dari perbuatan
korupsi, sehingga masyarakat melakukan kegiatan korupsi sehari-hari sebagai perbuatan biasa
atau wajar.
4). Kurang kesadaran masyarakat untuk memberantas korupsi.
Masyarakat berpandangan, bahwa masalah korupsi adalah tanggung jawab pemerintah semata,
khususnya KPK.Masyarakat masih tidak sadar untuk secara bersama memerangi korupsi.
B. Berasal dari faktor ekonomi
Kebutuhan manusia itu sebenarnya terbatas, namun keinginan manusia tidak terbatas.Keinginan
untuk mencukupi kebutuhan adalah manusiawi, tetapi kenyataannya banyak manusia yang tidak
dapat memenuhi kebutuhannya. Pada situasi demikian, di mana seseorang mengalami kesulitan
ekonomi, menjadi pendorong seseorang untuk korupsi demi terpenuhinya kebutuhan bahkan
keinginan mereka, dengan cara apapun dengan menghalalkan secara cara diantaranya dengan
melakukan korupsi.
C. Berasal dari faktor politis
Korupsi juga dapat berasal dari faktor politis, Karsono menyitir pandangan Rahardjo (2011)
yang mengatakan bahwa kontrol sosial merupakan suatu proses yang dilakukan untuk
mempengaruhi orang-orang agar bertingkah laku sesuai dengan harapan masyarakat.
D. Berasal dari faktor organisasi
Faktor organisasi tidak jarang mendorong perilaku korupsi pada anggota organisasi tersebut yang
disebabkan:
1). Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan
2). Kultur organisasi yang kurang benar
3). Sistem akuntabilitas yang tidak memadai
4). Kelemahan sistem pengendalian manajemen
5). Lemahnya pengawasan

D. Faktor Penyebab Korupsi

Faktor – faktor penyebab korupsi dilihat dari perilaku dapat berasal dari internal pelaku –
pelaku korupsi dan berasal dari luar diri pelaku – pelaku korupsi. Faktor penyebab korupsi
menurut Karsona meliputi faktor internal dan faktor eksternal. Faktor penyebab korupsi secara
singkat dijelaskan sebagai berikut :

1. Faktor Internal

Adalah faktor pendorong seseorang melakukan tindak korupsi yang berasal dari dalam diri
pelaku. Faktor – faktor internal tersebut dapat dirinci menjadi :

a. Faktor Perilaku Individu


Faktor Perilaku Individu ini baik karena kodrat maupun lingkungannya mencakup :
1) Berasal dari ketamakan atau kerakusan manusia
Tindakan atau perilaku korupsi yang terjadi selama ini dilakukan pelakunya bukan hanya
sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan makan, sandang dan pangan
namun didorong oleh hasrat memperkaya diri. Korupsi dilakukan karena seseorang
memiliki kekuasaan atau kewenangan.
2) Berasal dari kelemahan moral pelaku
Kelemahan moral seseorang sering kali mendorong pelaku korupsi tergoda untuk
melakukan korupsi. Kelemahan dalam menilai mana yang baik dan mana yang buruk,
mana yang haram dan mana yang haram menjadikan seseorang mudah tergoda untuk
melakukan korupsi.
3) Berasala dari gaya hidup yang konsumtif
Kehidupan modern yang bersifat materialistis, hedonis mendorong seseorang bergaya
hidup konsumtif yang didorong oleh perilaku suka pamer, shopaholic dan yang lebih
bahaya adala silau dengan kepemilikan orang lain. Perilaku konsumtif bila tidak diimbangi
dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan
berbagai tindakan untuk memnuhi keinginannya.
b. Faktor Sosial
Yaitu faktor yang berasal dari luar diri pelaku korupsi. Faktor eksternal tersebut menurut pakar
Karsona, McWalters dan Kligaard (Suparlan : 2016) dapat dideskripsikan sebagai berikut :
1) Berasal dari sikap masyarakat terhadap korupsi
Pada kehidupan suatu organisasi biasanya jajaran manajemen selalu menutupi tindak
korupsi yang dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasinya, dengan banyak alasan
antara lain menjaga citra organisasi agar kelihatan di mata publik tetap bersih. Akibat sifat
tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk. Oleh karena
itu, sikap masyarakat yang berpotensi menyuburkan tindak korupsi terjadi karena :
a. Banyak nilai yang ada di masyarakat justru kondusif bagi tumbuh kembangnya korupsi.
Pandangan masyarakat dalam menilai keberhasilan orang, menjadi pemicu perilaku
korup.
b. Kesadaran masyarakat akan korban korupsi belum tepat
Selama ini presepsi masyarakat bahwa korupsi itu mencuri uang negara, melahirkan
anggapan umum bahwa korupsi itu yang paling dirugikan adalah negara. Padahal bila
negara merugi atau bengkrut bahkan gagal imbasnya yang paling rugi adalah
masyarakat juga.
c. Kurangnya kesadaran masyarakat bahwa sebenarnya mereka ambil bagian dalam setiap
perbuatan korupsi.
d. Kurang kesadaran masyarakat untuk memberantas korupsi.
Masyarakat berpandangan, bahwa masalah korupsi adalah tanggung jawab pemerintah
semata, khususnya KPK. Masyarakat masih tidak sadar untuk secara bersama
memerangi korupsi.
2) Berasal dari faktor ekonomi.
Seseorang mengalami kesulitan ekonomi, menjadi pendorong seseorang untuk korupsi
demi terpenuhinya kebutuhan bahkan keinginan mereka dengan cara apapun dengan
menghalalkan cara diantaranya dengan melakukan korupsi.
3) Berasal dari faktor politis.
Karsono menyitir pandangan Rahardjo (dalam Suparlan : 2016) yang mengatakan bahwa
kontrol sosial merupakan suatu proses yang dilakukan untuk mempengaruhi orang – orang
agar bertingkah laku sesuai dengan harapan masyarakat. Kontrol sosial dijalankan dengan
menggerakkan berbagai aktivitas yang melibatkan penggunaan kekuasaan negara, sebagai
suatu lembaga yang diorganisasikan secara politik, melalui lembaga – lembaga yang
dibentuknya. Dengan demikian, instabilitas politik, kepentingan politis, meraih,
menjalankan dan mempertahankan kekuasaan sangat berpotensi menyebabkan perilaku
korupsi.
4) Berasal dari faktor organisasi
Faktor organisasi menjadi faktor pendorong perilaku korupsi pada anggota organisasi yang
disebabkan :
a. Kurang adanya sikap keteladana pimpinan
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat paternalistik, dimana sosok pemimpin
menjadi teladan bagi masyarakatnya. Nilai demikian juga berlaku dalam kehidupan
organisasi, dimana posisi pimpinan dalam suatu lembaga formal maupun informal
mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya.
b. Kultur organisasi yang kurang benar
Perilaku anggota sangat dipengaruhi oleh kultur organisasi, oleh karenanya kultur
organisasi perlu dikelola sebab kultur organisasi yang baik akan menjadikan perilaku
anggotanya baik pula.
c. Sistem Akuntabilitas yang tidak memadai
Akuntabilitas sebagai salah satu prinsip kepemerintahan yang baik. Dalam rangka
terwujudnya kepemerintahan yang baik, suatu lembaga pemerintahan perlu
merumuskan secara tepat visi dan misi sebagai tujuan agungnya. Jika tidak memiliki
visi dan misi yang jelas akibatnya lembaga akan mengalami kesulitan saat akan
dievaluasi capaian. Kesulitan mengukur dan menilai capaian suatu lembaga menjadikan
kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki.
d. Kelemahan sistem pengendalian manajemen
Perilaku korupsi dalam sebuah organisasi tergantung sistem penegndalian
manajemennya, jika pengendalian manajemennya lemah maka akan mempermudah
terjadinya korupsi, sebaliknya semakin kuat pengendalian manajemennya kuat akan
sulit umtuk terjadi korupsi.
e. Lemahnya pengawasan
Secara umum pengawasan terbagi menjadi dua yaitu, pengawasan internal (pengawasan
fungsional dan pengawasan langsung oleh pimpinan) dan pengawasan eksternal
(pengawasan dari legislatif dan masyarakat).

Teori yang dikemukakan oleh Jack Bologne atau sering disebut GONE Theory, bahwa faktor –
faktor yang menyebabkan terjadinya korupsi meliputi :

- Greeds (keserakahan), menurut teori ini perilaku korupsi berkaitan dengan adanya
perilaku serakah yang secra potensial ada di dalam diri setiap orang.
- Opportunities (kesempatan), menurut teori ini perilaku korupsi berkaitan dengan keadaan
organisasi atau instansi atau masyarakat yang sedemikian rupa sehingga terbuka
kesempatan bagi seseorang untuk melakukan keterangan.
- Needs (kebutuhan), menurut teori ini perilaku korupsi berkaitan dengan faktor – faktor
yang dibutuhkan oleh individu – individu untuk menunjang hidupnya yang wajar.
- Exosures(pengungkapan), menurut teori ini perilaku korupsi berkaitan dengan tindakan
tau konsekuensi yang dihadapi oleh pelaku kecurangan apabila pelaku diketemukan
melakukan kecurangan.

Dari penjelasan teori di atas dapat disarikan ada hubungan sebab akibat, di mana sebab
korupsi adalah faktor-faktor Greeds dan Needs, berkaitan dengan individu pelaku (aktor)
korupsi, yaitu individu atau kelompok baik dalam organisasi maupun di luar organisasi yang
melakukan korupsi yang merugikan pihak korban. Sedangkan akibat korupsi adalah faktor-faktor
Opportunities dan Exposure berkaitan dengan korban perbuatan korupsi (victim) yaitu
organisasi, instansi, masyarakat yang akibat pelaku korupsi berakibat kepentingannya dirugikan.
E. Membangun Komitmen Antikorupsi
Korupsi memang telah menjadi kejahatan luar biasa yang telah menghancurkan semua
aspek kehidupan. Abdullah Hahemahua, mengemukakan pandangannya bahwa ada tiga hal yang
menyebabkan korupsi digolongkan menjadi kejahatan luar biasa. Seluruh negara pada prinsipnya
telah menyatakan perang terhadap korupsi dan koruptor, bahkan di banyak negara
memberlakukan hukuman mati bagi pelakunya, hal ini sebagai bukti bahwa negara-negara di
dunia menganggap korupsi merupakan kejahatan kuar biasa. Indonesia dalam rangka pencegahan
dan pemberantasan korupsi telah mengadakan undang-undang tersendiri untuk mencegah dan
memberantas korupsi. Dalam lingkup lebih spesifik, akan menemukan beberapa undang-undang
dan peraturan pemerintah yang erat kaitannya dengan kerja Komisi Pemberantasan Korupsi
(KPK) sebagai berikut:
a. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana
b. Undang-undang Nomor 28 Tahun1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan
bebas dari Korupsi Kolusi dan Nepotisme
c. Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
d. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi

1. Strategi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi


Menurut Hong Kong dengan ICAC-nya, terdapat 3 pilar dalam strategi Pemberatasan Tindak
Pidana Korupsi:
a. Strategi Preventif
b. Strategi Investigatif
c. Strategi Edukatif
Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana korupsi menurut UU
No.31/1999 antara lain adalah sebagai berikut:
1. Hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi adanya dugaan tindak pidana korupsi.
2. Haku ntuk memperoleh layanan dalam mencari, memperoleh, dan memberikan informasi
adanya dugaan tindak pidana korupsi kepada penegak hukum.
3. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab kepada penegak hukum
yang menangani perkara tindak pidana korupsi.
4. Hak memperoleh jawaban atas pertanyaan tentang laporan yang diberikan kepada penegak
hukum waktu paling lama 30 hari.
5. Hakuntukmemperolehperlindunganhukum

2. Membangun Komitmen Antikorupsi PadaMahasiswa


Strategi pemberantasan korupsi sebagaimana dideskripsikan di atas, pada intinya perlu
didukung seluruh komponen bangsa dan membutuhkan kerja keras, kerja cerdas dari
pemerintahan dalam memebrantas korupsi juga sangat penting dalam melibatkan partisipasi
masyarakat, utamanya mahasiswa, sebab mahasiswa merupakan kelompok masyarakat atau
elemen masyarakat yang paling idealis dan memeiliki semangat yang sangat tinggi dalam
memeperjuangkan sesuatu. Para mahasiswa dan pemuda sebagai perintis dan mendorong
kebangkitan bangsa Indonesia dalam melawan penjajahan Belanda, yang mana dipelopori oleh
para mahasiswa kedokteran Stovia. Tokoh bangsaSoekarno sang Proklamator Kemerdekaan RI,
Presiden pertama Indonesia, bersama tokoh mahasiwa lainnya M.Hatta, Soepomo, M.yamin,
Ahmad Soebarjo, dan lainnya merupakan tokoh pergerakan dari kalangan mahasiswa.
Mahasiswa dipandang dapat mendorong, memahamkan serta mempengaruhi lapisan masyarakat
lainnya untuk menuntut hak mereka yang selama ini diabaikan Pemerintah. Perjuangan
mahasiswa dalam memperjuangkan idealismenya yaitu untuk memperoleh cita-cita dalam
menciptakan keadilan dan kesejahteraan masyarakat. Mahasiswa dituntut untuk benar-benar
konsisten atau memegang teguh idealisme mereka, jangan sampai luntur idealismenya karena
terbuai dengan budaya konsumtif an hedonism serta terseret lingkungan yang penuh korupsi,
sehingga menggerus idealismenya, termasuk komitmen anti korupsi yang telah mereka patri
dalam jiwanya saat dibangku kuliah.

3. Tindakan Mahasiswa dalam Rangka Komitmen Antikorupsi


Komitmen anti korupsi sebagai gerakan moral tidak dapat ditunda lagi, mahasiswa sebagai
elemen masyarakat dengan intelektual tinggi, idealisme yang murni, dan semangat yang tinggi,
tentunya sadar dan segera bertindak untuk memberantas korupsi melalui tindakan nyata di
kampus tempatnya mengenyam pendidikan. Mahasiswa dapat melakukan tindakan sebagai
berikut:
a. Mengembangkanpembiasaan anti korupsi
b. Memberikanpendampingankepadamasyarakattentangbahayamelakukankorupsi
c. Menciptakanlingkunganbebasdarikorupsi
d. Melakukan control sosial pada setiap kebijakan mulai dari pemerintahan desa hingga
ketingkat pusat/nasional.
e. Membangunjejaringdenganmahasiswaperguruantinggi lain

F. Model Pembelajaran Anti Korupsi


Materi antikorupsi perlu dibelajarkan dengan cara yang menarik, inovatif dan kreatif.
Mengajarkan materi ini harus diupayakan untuk membuat subjek (mahasiswa) untuk belajar,
yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku pada diri mahasiswa. Sedangkan perubahan
tingkah laku itu dapat terjadi karena adanya interaksi antara mahasiswa dengan lingkungan
pembelajaran. Oleh karena itu, pilihan strategi dan metode diharapkan dapat berfungsi dalam
mencapai tujuan pembelajaran, yakni perubahan tingkah laku yang ada pada diri mahasiswa baik
yang bersifat kognitif, psikomotorik dan efektif serta konatif (kemauan untuk berbuat). Model
pembelajaran yang dapat dipilih antara lain :
1. Model Debat
Model pembelajaran debat, juga sangat menarik dilakukan dalam membahas tema
korupsi. Model ini memberikan kebebasan mahasiswa untuk mengekspresikan gagasannya
tentang korupsi, anti korupsi dan peran mahasiswa dalam memberantas korupsi. Adapun langkah
pembelajaran sebagai berikut :
A. Kegiatan Awal
1). Berdo’a.
2). Membangun komunitas, menyanyikan lagu nasional biasanya Padamu Negeri.
3). Penjelasan makna lagu.
4). Menanyakan kepada mahasiswa pernah berjanji kepada teman, orang tua, kakek atau
orang lain?
B. Kegiatan Inti
1). Dosen meminta mempersilahkan 2 orang mahasiswa yang pada minggu sebelumnya
ditunjuk sebagai Host untuk memimpin kegiatan debat, dengan mempersiapkan tema debat
yang menarik tentang korupsi, misalnya perilaku korup mahasiswa, komitmrn antikorupsi
mahasiswa dan sebagainya.
2). Kelas yang sudah dibagi dalam 5 kelompok, dan sudah membuat yel-yel serta data, fakta
terkait dengan tema “Komitmen anti korupsi”.
3). Kelompok menempati tempat duduk yang sudah di desain oleh dosen sesuai dengan posisi
mereka yakni 2 kelompok pro, 2 kelompok kontra dan 1 kelompok netral.
4). Host membuka debat dengan salam dan doa, serta pengantar singkat tentang tujuan dialog
interaktif dan tata cara serta etika dalam berdebat, misalnya setiap akan berbicara.
5). Host mempersilahkan setiap kelompok untuk memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan
menyampaikan yel-yel.
6). Setelah semua kelompok memperkenalkan diri, Host menyampaikan permasalahan yang
akan didebatkan.
7). Host memimpin debat, dengan memperkenankan kelompok untuk menyampaikan
pernyataan, argumentasi, pikiran, juga pertanyaan. Host akan selalu mengingatkan jika dalam
menyampaikan gagasan tidak mengikuti etika berdialog.
8). Host menunjuk kelompok yang dikehendaki dan memberikan kesempatan kelompok untuk
menunjuk kelompok mana yang menjawab pertanyaan.
9). Host memberikan waktu yang telah disepakati di awal pelaksanaan, jika kelompok yang
telah ditunjuk peserta debat lama tidak memberikan jawab, Host berhak untuk melemparkan
pertanyaan pada kelompok yang dipilih Host.
10). Setelah debat selesai, Host member kesempatan setiap kelompok menyampaikan
membuat pertanyaan penutup (closing statement) yang merupakan tanggapan dan harapan
atas permasalahan yang sudah didebatkan, atau dengan memberikan rekomendasi pada pihak
yang berkepentingan yang diakhiri dengan yel-yel kelompok.
11). Host menutup dengan kesimpulan.
12). Dosen memberi penguatan.
C. Kegiatan Akhir
1). Mengecek penguasaan kemampuan mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan eksploratif
(penjelajahan) seputar konsep nusa dan problematikanya.
2). Refleksi. Mintalah beberapa mahasiswa maju ke depan kelas, untuk memberikan pendapat
tentang pembelajaran yang baru mereka alami. Fokuskan pertanyaan, sekitar: (a) Apa
pengalaman terpetik dari pembelajaran yang dialami? (b) Apa manfaat materi dialog bagi
kehidupanmu? (c) Apakah merasa mudah/sulit untuk mempelajari materi tadi? (d) Bagaimana
perasaanmu dalam kegiatan belajar tadi? (e) Berikan saranmu, agar pelajaran berikutnya bisa
lebih baik lagi!
3). Berdoa menurut agama masing-masing.

2. Model Dialog Interatif


Model antikorupsi dapat dipelajari dibangku kuliah melalui model pembelajaran dialog
interaktif. Adapun kegiatan dialog interaktif ini hakikatnya model pembelajaran secara kelompok
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
A. Kegiatan Awal
1). Berdoa.
2). Membangun komunitas, menyanyikan lagu masional biasanya Padamu Negeri.
3). Penjelasan makna lagu.
4). Menanyakan kepada mahasiswa pernah berjanji kepada teman, orang tua, kakek atau
orang lain?
B. Kegiatan Inti
1). Dosen meminta mempersilahkan 2 orang mahasiswa yang pada minggu sebelumnya
ditunjuk sebagai host untuk memimpin kegiatan dialog, dengan mempersiapkan tema dialog
yang menarik tentang korupsi, misalnya hukuman mati bagi koruptor, pemiskinan koruptor
dan sebagainya.
2). Kelas yang sudah dibagi dalam 5 kelompok, dan sudah membuat yel-yel serta data, fakta
terkait dengan tema “Komitmen anti korupsi”.
3). Kelompok menempati tempat duduk yang sudah didesain oleh dosen.
4). Host membuka dialog dengan salam dan doa, serta pengantar singkat tentang tujuan dialog
interaktif dan tata cara serta etika dalam berdialog.
5). Host memeprsiapkan setiap kelompok untuk memperkenalkan diri dan dilanjutkan dengan
menyampaikan yel-yel.
6). Setelah semua kelompok memperkenalkan diri, Host menyampaikan permasalahan yang
akan didialogkan.
7). Host memimpin dialog, dengan memperkenankan kelompok untuk menyampaikan
pernyataan, argumentasi, pikiran, juga pertanyaan. Host akan selalu mengingatkan jika dalam
menyampaikan gagasan tidak mengikuti etika berdialog.
8). Host menunjuk kelompok yang dikehendaki dan memberikan kesempatan kelompok untuk
menunjuk kelompok mana yang menjawab pertanyaan.
9). Host memberikan waktu yang telah disepakati di awal pelaksanaan, jika kelompok yang
telah ditunjuk peserta dialog lama tidak memberikan jawab, Host berhak untuk melemparkan
pertanyaan pada kelompok yang dipilih Host.
10). Setelah dialog selesai, Host member kesempatan setiap kelompok menyampaikan
membuat pertanyaan penutup (closing statement) yang merupakan tanggapan dan harapan
atas permasalahan yang sudah didebatkan, atau dengan memberikan rekomendasi pada pihak
yang berkepentingan yang diakhiri dengan yel-yel kelompok.
11). Host menutup dengan kesimpulan.
12). Dosen memberi penguatan.
C. Kegiatan Akhir
1). Mengecek penguasaan kemampuan mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan eksploratif
(penjelajahan) seputar konsep nusa dan problematikanya.
2). Refleksi. Mintalah beberapa mahasiswa maju ke depan kelas, untuk memberikan pendapat
tentang pembelajaran yang baru mereka alami. Fokuskan pertanyaan, sekitar: (a) Apa
pengalaman terpetik dari pembelajaran yang dialami? (b) Apa manfaat materi dialog bagi
kehidupanmu? (c) Apakah merasa mudah/sulit untuk mempelajari materi tadi? (d) Bagaimana
perasaanmu dalam kegiatan belajar tadi? (e) Berikan saranmu, agar pelajaran berikutnya bisa
lebih baik lagi!
3). Berdoa menurut agama masing-masing.

3. Model Investigasi Kelompok


A. Kegiatan Awal
1). Berdoa.
2). Membangun komunitas, menyanyikan lagu masional biasanya Padamu Negeri.
3). Penjelasan makna lagu.
4). Menanyakan kepada mahasiswa pernah berjanji kepada teman, orang tua, kakek atau
orang lain?
B. Kegiatan Inti
1). Kelompok mahasiswa telah diberikan tugas untuk melakukan investigasi terkait dengan
kasus korupsi di daerahnya, yang selanjutnya didiskusikan dalam kelompok mana yang
diangkat dalam presentasi.
2). Kelas yang dibagi dalam 5 kelompok sudah membuat materi laporan kegiatan dalam
bentuk makalah dengan ukuran A5 dan power point tentang “anti korupsi”.
3). Kelompok menempati tempat duduk yang sudah didesain oleh dosen.
4). Selanjutnya dilaksanakan presentasi dipimpin oleh moderator yang berasal dari kelompok
lain. Moderator membuka dengan salam dan doa, serta pengantar singkat tentang tujuan
diskusi dan tata cara serta etika dalam berdiskusi.
5). Moderator memimpin diskusi dengan berpegang pada alokasi waktu yang telah ditetapkan
dosen, diawali kelompok memperkenalkan diri, moderator menyampaikan judul makalah.
6). Setelah penyampaian makalah, moderator memimpin diskusi, memperkenankan kelompok
lain untuk menyampaikan pernyataan, argumentasi, pikiran juga pertanyaan.
7). Moderator menunjuk kelompok lain untuk menunjuk menjawab jika dipandang kelompok
penyaji terlalu lama menjawab.
8). Moderator menutup dengan menyampaikan kesimpulan.
9). Dosen member penguatan.
C. Kegiatan Akhir
1). Mengecek penguasaan kemampuan mahasiswa dengan pertanyaan-pertanyaan eksploratif
(penjelajahan) seputar konsep nusa dan problematikanya.
2). Refleksi. Mintalah beberapa mahasiswa maju ke depan kelas, untuk memberikan pendapat
tentang pembelajaran yang baru mereka alami. Fokuskan pertanyaan, sekitar: (a) Apa
pengalaman terpetik dari pembelajaran yang dialami? (b) Apa manfaat materi dialog bagi
kehidupanmu? (c) Apakah merasa mudah/sulit untuk mempelajari materi tadi? (d) Bagaimana
perasaanmu dalam kegiatan belajar tadi? (e) Berikan saranmu, agar pelajaran berikutnya bisa
lebih baik lagi!
3). Berdoa menurut agama masing-masing.

H. Problematika
1. Problematika Korupsi yang ada di Indonesia
Tidak hanya oleh pejabat negara atau pemerintah yang bertindak korupsi atas keuangan
negara, penyakit korupsi itu buruknya menular pula ke kalangan swasta. Hampir semua profesi
yang berhubungan dengan masyarakat ternoda penyakit itu.Ibarat penyakit pula, korupsi adalah
penyakit menular yang sudah imun terhadap berbagai macam obat. Berbagai aturan dan lembaga
sudah dibentuk pemerintah, mulai dari BPK, BPKP, Tim Anti Korupsi, Irjen, KPK, ICW dan
entah apalagi namanya, korupsi tetap meruyak-merajalela. Sungguh ironis kita sudah merayakan
Hari Kemerdekaan kita berkali-kali, tapi banyak kali dan banyak sekali warga Negara Indonesia
kehilangan kemerdekaan diri karena masuk jeruji besi. Benar kiranya pernyataan dalam
Pembukaan UUD 1945 bahwa kita telah dihantar ke depan pintu gerbang kemerdekaan, jadi kita
mungkin belum merdeka atas penjajahan nafsu kita sendiri.
Solusi :
Meningkatkan dukungan terhadap KPK, KPK sendiri adalah Lembaga Negara yang
secara khusus dibentuk untuk melakukan pemberantasan tindak pidana korupsi, sebagaimana
diatur dalam UU No. 30 Tahun 2002. Dalam Konsideran UU No. 30 Tahun 2002 dijelaskan
bahwa: Pembentukan KPK dikarenakan, pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi
sampai sekarang belum dapat dilaksanakan secara optimal dan lembaga pemerintah yang
menangani perkara tindak pidana korupsi belum berfungsi secara efektif dan efisien. Padahal
korupsi di Indonesia sudah meluas dan dilakukan secara sistematis, merupakan pelanggaran
terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat. Namun masyarakat luas perlu menjadi
perantara bagi KPK, laporkan apabila terjadi penyalahgunaan jabatan atau sejenisnya seperti
terjadinya pungli dan tarikan uang yang tidak jelas, apabila terdapat proyek pemerintah yang
bermasalah segera laporkan. Selain itu masyarakat perlu di edukasi, bahwa korupsi itu hal yang
tercela seperti melalui seminar seminar di PTN atau PTS bahkan jika perlu seminar tingkat
SMA.

2. Kasus Korupsi Gayus Tambunan


Gayus Halomoan Partahanan Tambunan atau hanya Gayus Tambunan (lahir
di Jakarta, 9 Mei1979; umur 33 tahun) adalah mantan pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal
PajakKementerian Keuangan Indonesia. Namanya menjadi terkenal ketika Komjen Susno Duadji
menyebutkan bahwa Gayus mempunyai uang Rp 25 miliar di rekeningnya plus uang asing
senilai 60 miliar dan perhiasan senilai 14 miliar di brankas bank atas nama istrinya dan itu semua
dicurigai sebagai harta haram. Dalam perkembangan selanjutnya Gayus sempat melarikan diri ke
Singapura beserta anak istrinya sebelum dijemput kembali oleh Satgas Mafia Hukum di
Singapura. Kasus Gayus mencoreng reformasi Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang
sudah digulirkan Sri Mulyani dan menghancurkan citra aparat perpajakan Indonesia.
Mereka yang diduga terkait kasus Gayus
 12 Pegawai Dirjen Pajak termasuk seorang direktur, yaitu Bambang Heru Ismiarso dicopot
dari jabatannya dan diperiksa.
 2 orang Petinggi Kepolisian , Brigjen Pol Edmon Ilyas dan Brigjen Pol Radja Erizman
dicopot dari jabatanya dan diperiksa.
 Bahasyim Assifie, mantan Inspektur Bidang Kinerja dan Kelembagaan Bappenas [
 Andi Kosasih
 Haposan Hutagalung sebagai pengacara Gayus
 Kompol Muhammad Arafat
 Lambertus (staf Haposan)
 Alif Kuncoro
 Beberapa aparat kejaksaan diperiksa
 Jaksa Cirus Sinaga dicopot dari jabatannya sebagai Asisten Tindak Pidana Khusus Kejati
Jawa Tengah, karena melanggar kode etik penanganan perkara Gayus HP Tambunan.
 Jaksa Poltak Manulang dicopot dari jabatannya sebagai Direktur Pra Penuntutan (Pratut)
Kejagung

Bukti-bukti:
Polri telah melakukan penggeledahan terhadap rumah terdakwa mafia hukum, Gayus
Tambunan terkait pemalsuan paspor atas nama Sony Laksono. Hasil pemeriksaan rumah Gayus
di daerah Kelapa Gading, penyidik telah menemukan berbagai barang bukti perjalanan ke
beberapa negara."Penyidik telah menemukan berbagai barang bukti yang diperlukan sekaligus
dalam konteks pembuktian," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi HumasPolri,Kombes
Pol Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta, Jumat 14 Januari2011. Boy pun menyebutkan
barang bukti yang sudah disita Polri tersebut, antara lain boarding pass dari China Air yang
digunakan Gayus ketika pulang dari Makau, boarding pass Air Asia atas nama istri Gayus,
Milana Anggraeni.Meski berstatus tahanan, Gayus diduga mengajak Milana pergi ke sejumlah
negara. Mereka diduga pergi ke Makau (Hong Kong), Singapura, dan Kuala Lumpur (Malaysia).
Selain Milana, untuk melengkapi keterangan yang dibutuhkan, penyidik juga berharap bisa
memperoleh keterangan dari Devina, penulis surat pembaca Harian Kompas yang menguak
kepergian Gayus ke luar negeri.Dengan menggunakan paspor atas nama Sony Laksono, Gayus
pelesir ke berbagai tempat. Dari manifes, terdapat seseorang yang berinisial Sony bepergian ke
luar negeri dengan pesawat Mandala pada 24 September dengan tujuan Makau.Pada 30
September, dengan menggunakan pesawat AirAsia tujuan Singapura, Sony Laksono duduk di
bangku 11F.
Vonis Gayus Tambunan
Pada tanggal 19 Januari2011, Gayus Tambunan telah dinyatakan bersalah atas kasus korupsi dan
suap mafia pajak oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan dengan hukuman 7 tahun
penjara dan denda Rp. 300 juta.
Solusi :
Sinergi Pemerintah dan Masyarakat
Pemberantasan korupsi tidak cukup dilakukan melalui penegakan hukum saja.
Penyelesaian korupsi harus dilakukan secara kompak, ada sinergi antara pemerintah dan
masyarakat. Intinya, ada di tangan pemerintah, namun jika tak ada dukungan masyarakat, maka
pemberantasan korupsi menjadi 'omong kosong'. pemerintahan tidak hanya ada satu atau dua
orang saja, namun puluhan dan bahkan ratusan. Jika ingin memberantas korupsi, seluruh aparat
pemerintah harus berkomitmen memberantasnya. Apalagi, tindak korupsi saat ini tak lagi
perorangan, melainkan sudah masuk dalam kategori 'korupsi berjamaah'. Ini mengharuskan
bahwa pemberantas korupsi juga harus dilakukan berjamaah, melalui herakan kompak secara
bersama-sama.
Dalam konteks ini, pemberantasan korupsi harus dilakukan secara maksimal oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK). 'Nakhoda' kapal KPK harus berani, tegas, dan 'cekatan' dalam
memberantas korupsi. Tanpa tindakan tegas dari KPK, maka pemberantasan korupsi hanya akan
merupakan mimpi belaka. Jika dirumuskan, pemberantasan korupsi bisa dimulai dari
pencegahan, penindakan, termasuk dengan melibatkan peran masyarakat.
Pemberantasan korupsi harus difokuskan pada 'perbaikan sistem' (hukum, kelembagaan,
ekonomi). Selain itu, perbaikan kondisi manusia juga penting. Antara lain, melalui bimbingan
dari segi moral, kesejahteraan, di samping lewat pendidikan antikorupsi. Yang terpenting bukan
sekadar 'mencegah', tapi juga 'menindak tegas' koruptor.
Korupsi merupakan extra ordinary crime, maka penanganannya harus dengan cara radikal. Jadi,
'hukuman mati' untuk koruptor harus dilegalkan. Meskipun belum ada terdakwa kasus korupsi
dijatuhi hukuman mati, tapi suatu saat pasal ini akan efektif dan harus diberlakukan di Indonesia.
Sehingga, hukuman mati menjadi solusi jitu untuk memberantas korupsi. Jika tak ada
pemberlakuan hukuman mati kepada koruptor, dan hukuman yang diberikan kepada mereka
terlalu ringan, maka hal itu pasti tidak akan menimbulkan efek jera. Untuk itulah, perlu
pembenahan sistem hukum, sehingga tidak ada lagi yang berani melakukan korupsi.

3. Problematika Pemberantasan Korupsi oleh KPK Sejak berdiri tahun 2003 dengan dasar
hukum UU Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK
Lembaga ini telah menangani kasus korupsi besar yang tidak terbayangkan dapat
diproses tanpa keberadaan KPK. Kasus-kasus tersebut pada umumnya menyangkut
penyelenggara negara level atas, mulai dari tingkat Menteri, Gubernur Bank Indonesia, hingga
pengurus inti partai politik. Berdasarkan data Transparancy International (TI) tentang corruption
perception indek (CPI), membaca persepsi korupsi institusi-institusi sentral di Indonesia dapat
dilihat 63% responden menilai partai politik sebagai institusi yang korup, dan di bawahnya
parlemen menduduki posisi 57%. Hal tersebut wajar karena posisi dan kewenangan DPR sangat
strategis yang dapat mempengaruhi hampir di semua lini penyelenggaraan negara dan bahkan
mempunyai 3 fungsi yang sangat vital, yaitu: fungsi anggaran, legislasi dan pengawasan.
Indikasi keterlibatan lebih banyak anggota DPR mengemuka dari sejumlah fakta yang muncul di
persidangan dan temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tentang
2000 transaksi keuangan mencurigakan yang sebagian besar dimiliki politikus yang duduk di
Badan Anggaran DPR.13 Pemberantasan korupsi di Indonesia ternyata tindak melewati jalan
yang mulus. Di tengah kepedulian dan komitmen kita untuk pemberantasan korupsi, sejumlah
pihak yang sangat dirugikandengan kerja pemberantasan korupsi melawan balik. Berbagai isu
dan cara dilakukan, mulai dari cara yang seolah-olah konstitusional, rekayasa hukum, serangan
langsung dan pembiaran secara politik atas nama tindak ingin intervensi dalam proses hukum.
Sebagian besar tertuju kepada KPK dan sebagian lain pada masyarakat sipil. Hal tersebut seperti
diungkapkan oleh Todung Mulya Lubis dalam sambutan Ketua Dewan Pengurus Transparancy
International Indonesia pada peluncuran CPI tahun 2010: “Institusi pemberantasan korupsi
dilemahkan secara sistematis dengan mempreteli kekuasaan dan kewenangan hukumnya. Selain
itu, institusi pemberantasan korupsi sudah diinfiltrasi oleh kepentingan yang tidak sepenuhnya
komit terhadap pemberantasan korupsi”.14 Indonesia Corruption Watch (ICW) juga mencatat
beragam bentuk pelemahan dan serangan balik terhadap KPK, di antaranya: wacana pembubaran
KPK, revisi Undang-Undang KPK, Individual Review (Uji Materi) Undang-Undang KPK ke
Mahkamah Konstitusi, kriminalisasi dan rekayasa hukum terhadap pimpinan KPK, pengepungan
Kantor KPK, penyerobotan kasus yang ditangani KPK, intervensi langsung dalam forum rapat
kerja DPR dengan KPK, dan memblokade anggaran pembangunan Gedung KPK.15 Mantan
Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Moh. Mahfud MD, juga meyakini adanya pelemahan
sistematis terhadap KPK.Dikatakan: “Pelemahan KPK itu nyata. Buktinya mereka pinjam tangan
MK untuk mengendalikan KPK sampai hari ini, sudah 14 kali MK diminta untuk membatalkan
(UUKPK).Tetapi, selama 14 kali itu juga MK menyatakan UU KPK sah, konstitusional dan
harus didukung”. Bahkan, upaya revisi UU KPK di DPR dinilai sebagai salah satu bentuk lain
pelemahan terhadap KPK yang diakibatkan gagalnya upaya Judical Review melalui Mahkamah
Konstitusi.
Solusi :
Peran Masyarakat dalam Pemberantasan Korupsi Sebagaimana telah diuraikan di atas,
bahwa lembaga Negara seperti Mahkamah Konstitusi tercatat memiliki peran yang krusial dalam
pemberantasan korupsi, kemudian KPK sebagai lembaga khusus yang dibentuk untuk
memerangi korupsi, serta institusi negara lainnya dalam ketatanegaraan Indonesia, bagaimana
dengan peran kita sebagai masyarakat sipil? Konstitusi secara jelas dan tegas menempatkan
posisi masyarakat atau rakyat pada tempat tertinggi. Seperti ditegaskan dalam Pasal 1 ayat (2)
UUD 1945: “Kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang
Dasar”. Konsepsi kedaulatan rakyat tersebut, pernah ditafsir oleh Jean Bodin, bahwa kekuasaan
tertinggi terhadap warga dan rakyat-rakyatnya, tanpa dibatasi oleh Undang-Undang (summa in
civies at subditos legibusques solute potestas).17 Posisi yang tegas bahwa rakyat adalah
pemegangan kedaulatan dijabarkan lebih lanjut pada Pasal 28C ayat (2) UUD 1945: “Setiap
orang berhak untuk memajukan dirinya dalam memperjuangkan secara kolektif untuk
membangun masyarakat, bangsa dan Negara”. Hak asasi untuk berperan dalam membangun
masyarakat, bangsa dan Negara ini tentu saja sesuai dengan peran masyarakat terlibat dalam
pemberantasan korupsi. Dalam pengertian yang berbeda, Pasal 8 UU No. 28 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
mengklasifikasikan peran masyarakat sebagai hak dan tanggung jawab untuk ikut mewujudkan
Penyelenggaraa Negara yang bersih. Peran tersebut ditegaskan dalam Pasal 9 ayat (1) UU No. 28
Tahun 1999, dapat dilakukan dengan cara: (a) Hak mencari, memperoleh dan memberikan
informasi tentang penyelenggaraan negara; (b) Hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan
adil dari Penyelenggara Negara; (c) Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung
jawab terhadapkebijakan penyelenggara Negara; dan (d) Hak memperoleh perlindungan hukum.
Salah satu bentuk perlindungan hukum terhadap masyarakat dalam pemberantasan korupsi,
masyarakat pelapor tindak pidana korupsi mendapatkan perlindungan lebih khusus seperti diatur
dalam UU No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Pada Pasal 10 ayat (1)
terdapat ketentuan pelapor tidak dapat dituntut secara hukum baik pidana maupun perdata atas
laporan yang akan, sedang, atau telah diberikannya. Pada level internasional partisipasi
masyarakat untuk mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih, mendapat dukungan dengan
merativikasi Konvensi Internasional United Nation Convention (UNCAC) yang disahkan di
Mirrida Mexico Tahun 2003.

4. 41 Anggota DPRD Kota Malang Terseret Kasus Korupsi


Kasus suap pembahsan APBD-P Kota Malang tahun anggaran 2015 mencuat ke
permukaan setelah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan
di Kota Malang pada Rabu, 9 Agustus 2018. KPK menetapkan tersangka terhadap M Arief
Wicaksono. Arief yang saat itu merupakan ketua DPRD Kota Malang disangka menerima suap
Rp 700 juta dari Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan
(DPUPPB) Kota Malang tahun 2015 Jarot Edy Sulistyo.
Selain itu Arief juga disangka menerima uang dari Komisaris PT. ENK Hendrawan
Maruszaman seniali Rp 250 juta terkait penganggaran kembali proyek jembatan Kedung
Kandang dalam APBD tahun anggaran 2016 pada 2015. Saat itu, baik Arief, Jarot dan
Hendrawan ditetapkan sebagai tersangka penerima dan pemberi suap. Arief ditetapkan tersangka
dalam dua kasus sekaligus. Kasus suap pembahasan APBD-P terus berkembang. Dalam
pemeriksaan, Arief mengatakan bahwa uang senilai Rp 700 juta yang diterimanya itu sebagian
dibagikan kepada seluruh anggota dewan dengan nilai pembagian yang bervariasi.
KPK telah menahan 41 dari 45 anggota DPRD Kota Malang terkait kasus korupsi
APBD=P tersebut. Integritas dinilai menjadi penyebab terjadinya korupsi berjamaah tersebut.
Minimnya integritas itu memicu adanya konflik kepentingan dari masing – masing anggota
DPRD. Hal itu bisa memunculkan penyalahgunaan jabatan untuk kepentingan pribadinya,
sehingga sistem pencegahan sekuat apapun tidak akan menghentikan perbuatan pejabat untuk
korupsi.
Solusi :

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah korupsi di Indonesia,
yaitu:

a. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melakukan partisipasi dalam pengawasan dan


pemberantasan korupsi.
b. Mengutamakan kepentingan nasional.
c. Penegak hukum harus berani memberikan sanksi tegas bagi pelaku korupsi. Penegak hukum
tidak boleh memihak pada salah satu pihak.
d. Membentengi diri sendiri dengan memperkuat akidah dan keyakinan untuk tidak melakukan
korupsi.
e. Memperketat pengawasan kinerja bawahan atau organisasi.
f. Menanamkan sifat anti korupsi pada diri sendiri.

5. Problematika Korupsi yang dapat memundurkan perekonomian Indonesia


Kemunduran Sistem Perekonomian Indonesia yang Diakibatkan oleh Korupsi. Korupsi
adalah perilaku pejabat publik, baik politikus atau politisi maupun pegawai negeri, yang secara
tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat dengannya,
dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka. Oleh karena itu
korupsi dapat berdampak pada perekonomianya itu korupsi mengurangi pendapatan dari sector
public dan meningkatkan pembelanjaan pemerintah untuk sector publik. Korupsi juga
memberikan kontribusi pada nilai defisitfiskal yang besar, meningkatkan income inequality,
dikarenakan korupsi membedakan kesempatan individu dalam
posisi tertentu untuk mendapatkan keuntungan dari aktivitas pemerintah pada biaya yang
sesungguhnya ditanggung oleh masyarakat.
Ada indikasi yang kuat, bahwa meningkatnya perubahan pada distribusi pendapatan
terutama di negara negara yang sebelumnya memakai system ekonomi terpusat disebabkan oleh
korupsi, terutama pada proses privatisasi perusahaan negara.Bukan hanya itu korupsi
mengurangi kemampuan pemerintah untuk melakukan perbaikan dalam bentuk peraturan dan
control akibat kegagalan pasar (market failure). Ketika kebijakan dilakukan dalam pengaruh
korupsi yang kuat maka pengenaan peraturan dan kebijakan, misalnya, padaperbankan,
pendidikan, distribusi makanan dan sebagainya, malah akan mendorong terjadinya inefisiensi.
Perekonomian juga akan mengalami kemunduranya itu korupsi mereduksi peran pundamental
pemerintah (misalnya pada penerapan dan pembuatan kontrak, proteksi, pemberian property
rights dan sebagainya) yang pada akhirnya hal ini akan memberikan pengaruh negatif pada
pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Dan korupsi mengurangi legitimasi dari peran pasar pada
perekonomian, dan juga proses demokrasi. Kasus seperti ini sangat terlihat pada negara yang
sedang mengalami masa transisi, baik dari tipe perekonomian yang sentralistik keperekonomian
yang lebih terbuka atau pemerintahan otoriter kepemerintahan yang lebih demokratis,
sebagaimana terjadi dalam kasus Indonesia.
Solusi :
Korupsi dalam mengurangi kualitas pertumbuhan ekonomi mengorbankan nilai tambah
ekonomi demi kepentingan dan keuntungan pribadi atau golongan. Meski demikian, setidaknya
kita dapat merencanakan beberapa alternative sebagai bentuk pencegahan hilangnya ekspektasi
perekonomian.
Pertama, melakukan pembinaan perilaku anti korupsi kepada seluruh elemen lembaga dan
kementerian. Reformasi birokrasi sudah waktunya dilaksanakan oleh lembaga dan kementerian
sehingga aspek mental birokrat terhindar dari perilaku koruptif.
Kedua, system anggaran dengan menggunakan e-budgetting sepertinya perlu diimplementasikan
di seluruh daerah. Sistem tersebut dinilai dapat menimbulkan dampak positif transparansi
pemerintahan. Selain mampu meningkatkan kepercayaan (trust) public kepada pemerintah, e-
budgetting juga andal digunakan mengelola anggaran yang lebih baik.
Ketiga, memutus rantai pelayanan publik. Rantai pelayanan publik yang terlalu panjang selama
ini menimbulkan munculnya aksi pungut liar, misalkan dengan integrasi pelayanan publik.
Dengan melakukan pemutusan alur pelayanan publik, selain dapat memudahkan, korupsi
pungutan liar diharapkan dapat diminimalisir.
Keempat, menciptakan iklim investasi yang aman bagi investor. Sebab, apabila iklim investasi
tidak nyaman, sedikit banyak akan memengaruhi kepercayaan investor untuk menanamkan
modalnya. Belum lagi, sulitnya prosedur berinvestasi menimbulkan kerugian investasi, karena
mereka harus menggelontorkan sejumlah uang.

6. Para Calon Anggota Dewan Baik DPR/D Mengeluarkan Banyak Dana Kampanye Agar
Terpilih Yang Berakhir Menjadi Korupsi
Setelah terpilih maka anggota dewan tersebut akan mencari cara untuk mengembalikan
kembali uang yang telah keluar untuk biaya kampanye. Cara yang dilakukan bisa dengan cara
yang legal maupun ilegal. Cara yang legal dilakukan dengan membuat sejumlah peraturan yang
menguntungkan bagi dirinya sendiri. Semisal kenaikan ongkos Legislasi menjadi dua kali lipat
sehingga anggaran untuk pembuatan satu undang-undang saja mencapai Rp. 5,8 Milyar
(koranTempo,11/11/2009). Lahirnya perundang-undangan aneh semacam UU Energi, juga UU
SDA, UU Migas, UU Kelistrikan, impor gula dan beras dan sebagainya dituding banyak pihak
sebagai kebijakan yang sangat kolutif karena di belakangnya ada praktik korupsi. Belum lagi
Pilkada – pilkada di daerah-daerah semakin menambah suram potret indonesia yang kelam
dengan korupsi.
Solusi :
Melihat kenyataan dari akar masalah diatas maka solusi tuntas untuk memberantas
korupsi adalah :
a. Penetapan sistem penggajian yang layak. Aparat pemerintah harus bekerja dengan sebaik-
baiknya. Itu sulit berjalan dengan baik, bila gaji mereka tidak mencukupi. Para birokrat tetaplah
manusia biasa yang mempunyai kebutuhan hidup serta kewajiban untuk mencukup nafkah
keluarganya. Maka, agar bisa bekerja dengan tenang dan tidak mudah tergoda berbuat curang,
kepada mereka harus diberikan gaji dan tunjangan hidup lain yang layak. Karena itu, harus ada
upaya pengkajian menyeluruh terhadap sistem penggajian dan tunjangan di negeri ini. Memang,
gaji besar tidak menjamin seseorang tidak korupsi, tapi setidaknya persoalan rendahnya gaji
tidak lagi bisa menjadi pemicu korupsi.
b. Larangan menerima suap dan hadiah. Hadiah dan suap yang diberikan seseorang kepada
aparat pemerintah pasti mengandung maksud tertentu, karena untuk apa memberi sesuatu bila
tanpa maksud, yakni bagaimana agar aparat itu bertindak sesuai dengan harapan pemberi hadiah.
Saat Abdullah bin Rawahah tengah menjalankan tugas dari Nabi untuk membagi dua hasil bumi
Khaybar – separo untuk kaum Muslim dan sisanya untuk orang Yahudi – datang orang Yahudi
kepadanya memberikan suap berupa perhiasan agar mau memberikan lebih dari separo untuk
orang Yahudi. Tawaran ini ditolak keras oleh Abdullah bin Rawahah. Tentang suap Rasulullah
berkata, “Laknat Allah terhadap penyuap dan penerima suap” (HR. Abu Dawud). Tentang
hadiah kepada aparat pemerintah, Rasul berkata, “Hadiah yang diberikan kepada para penguasa
adalah suht (haram) dan suap yang diterima hakim adalah kufur” (HR. Imam Ahmad). Suap
dan hadiah akan berpengaruh buruk pada mental aparat pemerintah. Aparat bekerja tidak
sebagaimana mestinya sampai dia menerima suap atau hadiah. Di bidang peradilan, hukum pun
ditegakkan secara tidak adil atau cenderung memenangkan pihak yang mampu memberikan
hadiah atau suap.
c. Perhitungan kekayaan. Orang yang melakukan korupsi, tentu jumlah kekayaannya akan
bertambah dengan cepat. Meski tidak selalu orang yang cepat kaya pasti karena telah melakukan
korupsi. Bisa saja ia mendapatkan semua kekayaannya itu dari warisan, keberhasilan bisnis atau
cara lain yang halal. Tapi perhitungan kekayaan dan pembuktian terbalik sebagaimana telah
dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khattab menjadi cara yang tepat untuk mencegah korupsi.
Semasa menjadi Khalifah, Umar menghitung kekayaan para pejabat di awal dan di akhir
jabatannya. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan diminta membuktikan
bahwa kekayaan yang dimilikinya itu didapat dengan cara yang halal. Cara inilah yang sekarang
dikenal dengan istilah pembuktian terbalik yang sebenarnya sangat efektif mencegah aparat
berbuat curang. Tapi anehnya cara ini justru ditentang oleh para anggota DPR untuk dimasukkan
dalam perundang-undangan.
d. Teladan pemimpin. Pemberantasan korupsi hanya akan berhasil bila para pemimpin,
terutama pemimpin tertinggi sebuah negara terlebih dahulu harus bersih dari korupsi. Dengan
ketakwaannya, seorang pemimpin bisa menjalankan tugasnya dengan penuh amanah. Dengan
ketakwaannya pula, ia takut melakukan penyimpangan, karena meski ia bisa melakukan kolusi
dengan pejabat lain untuk menutup kejahatannya, Allah SWT pasti melihat semuanya dan di
akhirat pasti akan dimintai pertanggungan jawab. Di sinilah perlunya keteladanan dari para
pemimpin itu. Dengan keteladanan pemimpin, tindak penyimpangan akan mudah terdeteksi
sedari dini. Penyidikan dan penyelidikan tindak korupsi pun tidak sulit dilakukan. Tapi bila
korupsi justru dilakukan oleh para pemimpin, praktek busuk ini tentu akan cenderung ditiru oleh
bawahannya, hingga semua upaya apa pun dalam memberantas korupsi menjadi tidak ada artinya
sama sekali.
e. Hukuman setimpal. Pada galibnya, orang akan takut menerima risiko yang akan
mencelakakan dirinya, termasuk bila ditetapkan hukuman setimpal kepada para koruptor.
Berfungsi sebagai pencegah (zawajir), hukuman setimpal atas koruptor diharapkan membuat
orang jera dan kapok melakukan korupsi. Dalam Islam, koruptor dikenai hukuman ta’zir berupa
tasyhir atau pewartaan (dulu dengan diarak keliling kota, sekarang mungkin bisa ditayangkan di
televisi seperti yang pernah dilakukan), penyitaan harta dan hukuman kurungan, bahkan sampai
hukuman mati.
f. Pengawasan masyarakat. Masyarakat dapat berperan menyuburkan atau menghilangkan
korupsi. Masyarakat yang bermental instan akan cenderung menempuh jalan pintas dalam
berurusan dengan aparat dengan tak segan memberi suap dan hadiah. Sementara masyarakat
yang mulia akan turut mengawasi jalannya pemerintahan dan menolak aparat yang mengajaknya
berbuat menyimpang. Dengan pengawasan masyarakat, korupsi menjadi sangat sulit dilakukan.
Bila ditambah dengan teladan pemimpin, hukuman yang setimpal, larangan pemberian suap dan
hadiah, pembuktian terbalik dan gaji yang mencukupi, insya Allah korupsi dapat diatasi dengan
tuntas.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Korupsi merupakan kejahatan luar biasa, yang dapat dilakukan pegawai negeri ataupun swasta
dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri dan merugikan keuangan Negara ataupun
keuangan tempatnya bekerja. Korupsi memiliki berbagai bentuk dan jenis seperti merugikan
keuangan Negara, menyalahgunakan kewenangan, suap menyuap dan sebagainya. Faktor
penyebabnya berasal dari internal dan eksternal.
2. Korupsi menimbulkan dampak yang merusak seluruh sendi kehidupan politik, ekonomi,
sosial, budaya dan hukum. Untuk itu perlu strategi untuk memberantasnya yakni strategi
preventif, investigative dan edukatif.
3. Korupsi adalah tindakan yang harus diberantas segera karena mengancam keadilan dan
kesejahteraan masyarakat, sehingga perlu peran serta semua lapisan masyarakat.
4. mahasiswa merupakan elemen masyarakat yang memiliki intelegensi, idealism dan semangat
tinggi yang sangat penting untuk memberantas korupsi. Mahasiswa memiliki peran dan pengaruh
signifikan dalam pelaksanaan kebijakan pemerintah dan menggerakkan lapisan msyarakat yang
lain, sehingga pemberantasa korupsi bisa lebih efektif dan optimal.
5. Kegiatan mahasiswa untuk komitmen antikorupsi dilakukan dengan: pembiasaan sikap jujur
dan tidak korupsi, menciptakan lingkungan bebas dari korupsi dikampus, memberikan
pendidikan kepada masyarakat, melalui KKN dan penyuluhan/ pembinaan pada masyarakat,
sehingga memiliki komitmen dalam memberantas korupsi.
6. Materi anti korupsi perlu disampaikan secara menarik melalui antara lain model pembelajaran
debat, dialog intaktif dan investigasi kelompok.

3.2 Saran
Sikap untuk menghindari korupsi seharusnya ditanamkan sejak dini. Dan pencegahan
korupsi dapat dimulai dari hal yang kecil.
DAFTAR PUSTAKA
Hakim, Suparlan. 2016. Pendidikan Kewarganegaraan dalam Konteks Indonesia. Malang :
Madani
http://makalainet.blogspot.com/2013/10/korupsi.html KORUPSI, 2013 (Diakses pada tanggal 20
Oktober 2018)
https://imamnugraha.wordpress.com/2011/10/22/korupsi-penyebab-dan-solusinya/ Korupsi,
Penyebab dan Solusinya, 2011 (Diakses pada tanggal 20 Oktober 2018)
https://indragunawan0605.wordpress.com/2013/11/20/dampak-korupsi-bagi-perekonomian-
indonesia/ Dampak Korupsi Bagi Perekonomian Indonesia, 2013 (Diakses pada tanggal
20 Oktober 2018)
https://www.kompasiana.com/jokoade/5a30b80ecaf7db0a102248e3/korupsi-hambat-
pertumbuhan-ekonomi Korupsi Hambat Pertumbuhan Ekonomi, 2017 (Diakses pada
tanggal 20 Oktober 2018)