You are on page 1of 14

Clinical Science Session

Efektivitas Irigasi Hidung dengan Budesonida Setelah Operasi


Endoskopi Sinus pada Rhinosinusitis Kronis Dengan Asma

oleh:
Deswitri Gintasari, S.Ked
NIM. G1A217091

Pembimbing :
dr.Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT-KL

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2018
LEMBAR PENGESAHAN

Efektivitas Irigasi Hidung dengan Budesonida Setelah Operasi Endoskopi Sinus pada
Rhinosinusitis Kronis Dengan Asma

oleh:
Deswitri Gintasari, S.Ked
G1A217091

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


SMF/BAGIAN ILMU PENYAKIT THT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2018

Jambi, Februari 2018


Pembimbing

Dr. Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT-KL


KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan tugas pada Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Penyakit THT yang berjudul
“Efektivitas Irigasi Hidung dengan Budesonida Setelah Operasi Endoskopi Sinus pada
Rhinosinusitis Kronis Dengan Asma”
Tugas ini bertujuan agar penulis dapat memahami lebih dalam teori-teori yang diberikan
selama menjalani Kepaniteraan Klinik Senior Bagian Ilmu Penyakit THT, dan melihat
penerapannya secara langsung di lapangan. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan banyak
terima kasih kepada dr.Lusiana Herawati Yammin, Sp.THT-KL sebagai pembimbing yang
telah meluangkan waktunya untuk membimbing penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan tugas ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak yang
membacanya. Semoga tugas ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang membutuhkan.

Jambi, Februari 2018

Penulis
Efektivitas Irigasi Hidung dengan Budesonida Setelah Operasi
Endoskopi Sinus pada Rhinosinusitis Kronis Dengan Asma
Tae Wook Kang·Jae Ho Chung·Seok Hyun Cho·Seung Hwan Lee·Kyung Rae Kim·Jin Hyeok Jeong
Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Hanyang University School of Medicine, Seoul, Korea

Tujuan. Irigasi hidung dengan Budesonide diperkenalkan baru-baru ini sebagai manajemen pasca
operasi untuk pasien dengan rhinosinusitis kronis. Keamanan dan efektivitas terapi dari prosedur
ini telah diterima oleh banyak dokter. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efikasi
dari irigasi dengan steroid setelah operasi pada pasien dengan rinosinusitis dan asma kronis.
Metode. Ini adalah penelitian prospektif yang melibatkan 12 pasien rhinosinusitis kronis dengan
polip hidung dan asma yang mendapatkan pengobatan steroid oral untuk penyakit yang berulang
atau mengalami perburukan. Hasil Sinonasal Outcomes Test 22 (SNOT-22) dan skor endoskopi
Lund-Kennedy diperiksa sebelum dilakukan irigasi hidung dengan budesonide, dan 1, 2, 4, dan 6
bulan setelah irigasi. Peneliti juga menghitung jumlah penggunaan steroid oral dan steroid inhalasi
dalam 6 bulan sebelum dan setelah irigasi dilakukan.
Hasil. Skor rata-rata SNOT-22 membaik dari 30,8 ± 14,4 sebelum irigasi menjadi 14,2 ± 8,7
setelah 6 bulan irigasi (P = 0,030). Nilai endoskopi juga membaik dari 7,4 ± 4,7 sebelum irigasi
menjadi 2,2 ± 2,7 setelah 6 bulan (P <0,001). Jumlah total dari penggunaan steroid oral menurun
dari 397,8 ± 97,6 mg selama 6 bulan sebelum irigasi menjadi 72,7 ± 99,7 mg selama 6 bulan setelah
irigasi (P <0,001).
Kesimpulan. Irigasi hidung dengan budesonide adalah pengobatan pasca operasi yang efektif
untuk rhinosinusitis kronis dengan asma, yang mengalami kekambuhan dan mengurangi jumlah
konsumsi dari steroid oral.
Kata kunci. Cuci hidung; Budesonide; Sinusitis; Asma; Polip Hidung.

PENDAHULUAN
Rinosinusitis kronik (RSK) dengan polip hidung adalah kondisi umum dari inflamasi
mukosa hidung dengan morbiditas dan penurunan kualitas hidup yang signifikan. Banyak pasien
dengan polip hidung memerlukan tindakan operasi. Seiring dengan berkembangnya peralatan dan
teknologi baru, keputusan dalam penggunaan endoskopi telah meningkat sehingga terjadi
penurunan kekambuhan suatu penyakit. Sayangnya, bahkan setelah operasi, penderita asma
seringkali sulit ditangani karena tingkat kekambuhan yang tinggi dan kondisi klinis yang buruk.
Perlu diberikan penjelasan kepada pasien asma sebelum operasi, bahwa operasi sinus endoskopik
tidak bersifat kuratif namun lebih diarahkan pada pengendalian gejala dalam jangka panjang [1].
Terapi utama untuk pasien RSK dengan asma setelah operasi adalah irigasi menggunakan saline,
steroid topikal atau sistemik atau penggunaan obat oral berulang dari jenis lainnya. Pada kasus
dengan kambuhan yang parah, operasi untuk perbaikan mungkin diperlukan. Penggunaan steroid
topikal jenis spray dapat efektif pada pasien dengan RSK, menurunkan ukuran polip dan mencegah
kekambuhan [2]. Tetapi efeknya tidak konstan terutama pada penderita asma, jadi steroid sistemik
lebih sering digunakan pada kasus serupa [1]. Efek samping penggunaan steroid sistemik jangka
panjang perlu perhatian khusus dari dokter[3].
Rendahnya efisiensi dari steroid topikal spray mungkin dikarena hanya sedikit steroid
yang mencapai mukosa sinus dan polip yang sedang mengalami peradang. Alasan lain adalah
pembengkakan mukosa, kambuhan polip pada pasien asma atau produksi secret kental pada pasien
asma, yang dapat menghambat obat mencapai mukosa sinus bagian dalam. Belakangan ini ,
pemberian steroid dalam volume besar melalui irigasi hidung dengan mekanisme tekanan tinggi
telah direkomendasikan sebagai pilihan yang lebih baik untuk mengobati peradangan kronis pada
mukosa sinus daripada menggunakan volume dan tekanan yang rendah [4]. Setelah operasi sinus
, saluran sinus memiliki peran penting untuk penanganan RSK yang bersifat berulang-ulang, untuk
memungkinkan pemberian obat ke sampai mukosa, larutan irigasi hidung dapat didistribusikan
melalui saluran ini [2]. Penggunaan off label budesonide sebagai irigasi hidung baru
diperkenalkan untuk penatalaksanaan pasca operasi pasien RSK. Keamanan dan keefektifan
prosedur ini mulai diterima oleh banyak dokter [2,5-8]. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah irigasi hidung dengan budesonide dapat mengurangi penggunaan steroid oral
secara berulang pada pasien RSK dengan asma yang sulit ditangani.

BAHAN DAN METODE


Subjek
Subjek penelitian ini adalah 12 pasien asma yang menjalani ESS dari tahun 2012 sampai
2014 dan menggunakan steroid topikal atau sistemik berulang selama 6 bulan karena kekambuhan
atau perburukan dari penyakit setelah ESS. Dua pasien (17%) menjalani operasi di rumah sakit
lain. Dari 12 pasien asma, 7 pasien didiagnosis menderita asma dan dirawat di Rumah Sakit Guri
Universitas Hanyang sementara 5 pasien lainnya didiagnosis dan dirawat di rumah sakit lain.
Riwayat rhinitis alergi pada subjek juga teliti dengan baik. 30mg steroid oral diresepkan setiap hari
untuk pasien dengan gejala nasal yang agresif dan diturunkan selama seminggu. 15mg steroid oral
diresepkan setiap hari selama 1 minggu tanpa penurunan saat pasien mengeluhkan gejala hidung
sedang. Semua pasien telah melakukan irigasi hidung dengan saline secara terus menerus.
Penelitian prospektif dilakukan, dan riwayat pengobatan diperoleh dengan penilaian grafik.
Penelitian ini disetujui oleh Dewan Peninjau Institusional Rumah Sakit Guri Universitas Hanyang
dan informed consent diperoleh dari semua peserta sebelum penelitian dilakukan.
Irigasi hidung dengan Budesonida
Menggunakan botol tekan (250 mL; Nose sweeper bottle, Medicore Inc., Uijeongbu,
Korea). Irigasi dengan saline normal (Nose sweeper powder,Medicore Inc.) dilakukan sebelum
irigasi budesonide. Kemudian, satu pak 0,5 mg / 2 mL budesonida generik (Pulmican Respules,
Kuhnil Inc., Seoul, Korea) dicampur ke dalam botol dengan saline normal 250 mL. Setengah dari
larutan tadi digunakan untuk masing- masing rongga hidung. Dan diakhiri dengan pasien
berkumur menggunakn air biasa untuk mencegah iritasi mukosa rongga mulut dan infeksi kandida.
Irigasi dilakukan dua kali sehari selama 6 bulan. Selama melakukan irigasi dengan budesonide,
peneliti tidak menggunakan obat lain untuk pengobatan RSK kecuali selama masa penggunaan
steroid sistemik. kriteria inklusi penelitian adalah sebagai berikut; berusia di atas 18 tahun,
didiagnosis asma dan sudan menerima perawatan, dan telah menerima lebih dari 6 bulan
penanganan medis setelah operasi karena perburukan atau kekambuhan RSK dengan polip hidung.
Kriteria eksklusi adalah: penggunaan kortikosteroid untuk kondisi selain RSK dengan polip
hidung, dan menderita penyakit yang merupakan kontraindikasi relatif atau absolut untuk
penggunaan steroid.
Hasil Pengukuran
Baik hasil pengukuran secara subjektif maupun objektif telah digunakan. Pertama adalah
hasil dari perubahan kualitas hidup berdasarkan Sinonasal outcome test-22 item (SNOT-22). Hasil
yang kedua adalah perubahan hasil dari Lund-Kennedy endoscopy score. Untuk meminimalkan
bias, masing-masing dokter mengukur skornya. Berdasarkan baseline, penelitian dilakukan
sebelum irigasi hidung dengan budesonida, dan dinilai kembali pada 1, 2, 4, dan 6 bulan setelah
irigasi di klinik rawat jalan. Kami juga menghitung jumlah steroid oral dan steroid inhalasi yang
digunakan oleh pasien dan membandingkan jumlah yang digunakan dalam 6 bulan sebelum dan
sesudah irigasi. Jumlah steroid oral yang digunakan untuk pengendalian sinus diukur dalam
miligram, dan jumlah total steroid yang inhalasi untuk mengkontrol asma dicatat dalam jumlah
botol pada setiap kasus yang digunakan sebagai sumber resep untuk pasien di rumah sakit kami.
Statistik
Kami menggunakan IBM SPSS ver. 21.0 (IBM Co., Armonk, NY, USA). Menggunakan
nilai mean dan standar deviasi, kecuali ada indikasi lain. Dalam SNOT-22 dan LK, metode
Kruskal-Wallis digunakan untuk mengevaluasi perbedaan, dan perbandingan post hoc dibuat
dengan Mann-Whitney U-test. Penggunaan steroid oral dan inhalasi sebelum dan sesudah irigasi
dibandingkan dengan Mann-Whitney U-test. Perbedaan dianggap signifikan apabila P <0,05.
HASIL
Periode rata-rata irigasi hidung dengan budesonide adalah 4,8 ± 0,9 bulan. Ini dikarenakan,
beberapa di antara subjek melewatkan sesi dan cenderung menunda dari waktu ke waktu karena
alasan pribadi meskipun kami sudah menganjurkan irigasi dilakukan selama 6 bulan.
Populasi pasien
Subjek penelitian terdiri dari 3 laki-laki dan 9 perempuan. Usia rata-rata adalah 49,9 ± 7,3
tahun. 11 pasien (92%) memiliki riwayat rinitis alergi (Tabel 1).

Skor SNOT-22
Skor rata-rata SNOT-22 adalah 30,8 ± 14,4 sebelum irigasi budesonida, dan skornya adalah
17,8 ± 15,9 setelah 1 bulan, 14,8 ± 10,6 setelah 2 bulan, 14,9 ± 10,4 setelah 4 bulan dan 14,2 ± 8,7
setelah 6 bulan. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara sebelum dan sesudah irigasi
budesonida (P = 0,030) (Gambar 1).

Gambar. 1. Perbandingan 22-item sinonasal Hasil Uji (SNOT-22) skor sebelum dan sesudah irigasi
budesonide hidung. Mean SNOT-22 skor (lingkaran hitam dan garis tebal) secara signifikan lebih
rendah pada setiap follow-up dari sebelum irigasi ( P value = 0,030). lingkaran hitam tebal berarti
pasien.

Skor endoskopi Lund-Kennedy


Skor LK adalah 7,4 ± 4,7 sebelum irigasi budesonida dan skor rata-rata 3,5 ± 3,2 setelah 1
bulan, 1,5 ± 1,7 setelah 2 bulan, 1,7 ± 1,4 setelah 4 bulan dan 2,2 ± 2,7 setelah 6 bulan irigasi
budesonida. Ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara sebelum dan sesudah irigasi
budesonida (P <0,001) (Gambar 2)

Gambar. 2. Perbandingan Lund-Kennedy endoskopi (LK) skor sebelum dan sesudah irigasi
budesonide hidung. Rerata LK skor (lingkaran hitam dan garis tebal) secara signifikan lebih rendah
pada setiap follow-up dari sebelumnya irigasi ( P value <0,001) lingkaran hitam tebal menadakan
pasien.

Jumlah total steroid oral


Jumlah total steroid sistemik yang digunakan dalam 6 bulan sebelum irigasi budesonida
adalah 397,8 ± 97,6 mg, dan selama 6 bulan setelah irigasi budesonida adalah 72,7 ± 99,7 mg (P
<0,001) (Gambar 3). Enam dari 12 pasien (50%) tidak menggunakan steroid sistemik setelah
irigasi, sementara 6 lainnya masih menggunakan steroid tetapi secara signifikan lebih sedikit
setelah irigasi.
Gambar. 3. Perbandingan total jumlah steroid oral sebelum dan sesudah irigasi budesonide. (A)
jumlah rata-rata total steroid oral ( P value <0,001) (B) Jumlah steroid oral yang digunakan oleh
masing-masing pasien. Enam pasien menggunnakan steroid sistemik setelah irigasi budesonide,
dan lainnya 6 pasien masih menggunakan steroid dan jumlah yang lebih sedikit setelah irigasi.

Jumlah inhalasi untuk asma


Penggunaan steroid inhalasi rata-rata 0,6 ± 0,9 botol untuk 6 bulan sebelum irigasi dan 1,2
± 1,2 botol selama 6 bulan setelah irigasi, namun perbedaannya tidak signifikan secara statistik (P
= 0,198) (Gambar 4).
Gambar. 4. Perbandingan total jumlah steroid inhalasi untuk asma sebelum irigasi budesonide
hidung dan setelahnya. tidak ada perbedaan mendasar di antara satu sama lain ( P = 0,198).

DISKUSI
Menurut penelitian ini, irigasi hidung dengan budesonide pada penderita asma mampu
mengurangi jumlah penggunaan steroid oral berulang namun tidak dengan penggunaan steroid
inhalasi. Sebagian besar kasus RSK dengan polip hidung sembuh setelah ESS, namun bila disertai
asma, penyakit ini cenderung memburuk dan mengalami kekambuhan. Dalam kasus seperti ini,
manajemen konstan bersamaan dengan pengobatan asma sangatlah penting [9,10]. Pada penderita
asma, perawatan berulang seperti irigasi hidung dengan saline , penggunaan semprotan hidung,
steroid oral atau antibiotik, tidak jarang terjadi bahkan setelah operasi dilakukan. Prosedur ini, bila
diulang, dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup dan menyebabkan efek samping yang
sangat serius pada pasien karena penggunaan obat dalam jumlah yang banyak. Temuan kami
menunjukkan bahwa irigasi hidung secara konstan dengan larutan budesonida dua kali sehari dapat
mencegah pemburukan penyakit dan memperbaiki kualitas hidup, bahkan mengurangi konsumsi
steroid sistemik.
Sebuah studi meta-analisis baru-baru ini menunjukkan bahwa steroid topikal efektif
terhadap gejala sinonasal pada pasien dengan RSK tanpa polip hidung [11], dan dapat menurunkan
ukuran polip [12,13] dan mencegah kekambuhan polip pada RSK dengan polip hidung [12). Dalam
beberapa literatur ditemukan perbedaan mengenai penggunaan steroid spray hidung setelah ESS.
Dijkstra dkk. [14] menggunakan percobaan acak double blinded untuk menilai penggunaan
fluticasone propionate dalam mengurangi kekambuhan poliposis setelah ESS. Kesimpulan dari
penelitian ini adalah bahwa steroid tidak memiliki efek menguntungkan pada penyakit yang
menglami kekambuhan. Lavigne dkk. [15] memeriksa situasi yang sama dalam perbaikan pasien
ESS, dengan menggunakan pengaliran steroid melalui tabung maxillary antrostomy, dan
menyimpulkan bahwa budesonide lebih unggul daripada placebo. Virolainen dan Puhakka [16]
melaporkan bahwa beklometason bermanfaat dalam mengurangi kekambuhan polip pasca operasi
dan dalam memperbaiki gejala yang dirasakan pasien. Sebagian besar penelitian di atas tidak
membedakan antara pasien dengan asma dan tanpa asma.
Teknik pengaliran, keadaan rongga sinus saat operasi, alat pengaliran dan dinamika cairan
memiliki dampak signifikan pada pengaliran dari terapi topikal ke mukosa sinus [17].
Kemungkinan penyebab dari penyerapan steroid spray yang rendah dikarenakan ketidak
mampuan dari steroid spray untuk mencapai mukosa sinus yang sakit [18]. Steroid spray hidung
efektif dalam kondisi seperti rhinitis alergi dan polip yang menonjol di dalam hidung [2]. Untuk
perawatan RSK jangka panjang, setelah operasi sinus sangat penting untuk memberikan obat
hingga ke mukosa sinus [19,20]. Setelah ESS ini menjadi semakin sulit dikarenakan terbukanya
area yang dijadikan target dan cavitas sinus paranasal menjadi lebih lebar dan dalam. [1]. Dengan
demikian, irigasi hidung dengan menggunakan saline lebih efektif daripada penggunaan saline
spray dalam memperbaiki gejala RSK. Pynnonen dkk. [21] dalam penelitian secara random
kontrol menunjukkan bahwa pasien yang menerima irigasi hidung dengan saline dalam volume
besar dan pada tekanan positif rendah memperlihatkan manfaat lebih signifikan dibandingkan
mereka yang menerima saline spray dalam perbaikan kualitas hidup. Wormald dkk. [22]
menggunakan Technetium-99m sulfur colloid untuk membandingkan spray hidung, nebulisasi
dengan Rino Flow dan cuci hidung pada pasien dengan RSK yang menjalani ESS. Dilakukan
penilaian untuk akumulasi radioaktivitas dan irigasi hidung lebih efektif dalam penetrasi ke sinus
maksila dan frontal. Efektifitas yang lebih baik dari irigasi dibandingkan spray saline mungkin
dikarenakan volume yang lebih besar dan peningkatan tekanan aliran yang memungkinkan steroid
topikal untuk lebih efektif mencapai mukosa sinus dan meningkatkan mekanisme pemebersihan
lendir, produk inflamasi, dan bakteri / biofilm [4,17 ]. Dalam tinjauan Cochrane, pengairan steroid
topikal untuk pasien dengan RSK tanpa polip hidung menyebabkan proporsi yang lebih besar pada
responden dan efek yang lebih menguntungkan dalam pengendalian gejala ketika dilakukan
pengairan secara langsung ke rongga sinus dibandingkan nasal spray [11).
Penggunaan irigasi budesonida off-label dengan cepat diterima oleh dokter, serta
keamanan dan efisiensi irigasi juga sudah dikonfirmasi [1,2,4-8]. Sachanandani dkk. [6]
mengaplikasikan irigasi hidung dengan 0,5 mg / respule sekali sehari selama 30 hari, dan subjek
menunjukkan perbaikan klinis yang signifikan. Welch dkk. [5] mengaplikasikan 0,5mg / 2 mL
respule budesonida dicampur dengan larutan saline 240 mL dua kali sehari selama 6 bulan, namun
kortisol serum dan kedar kortisol didalam urin 24 jam tidak menunjukkan penurunan yang
signifikan. Thamboo dkk. [7] menggunakan 1 mg budesonide sebanyak dua kali sehari dalam 120
mL larutan saline selama 60 hari, dan tidak mendeteksi adanya penekanan hormon
adrenokortikotropik (ACTH) pada tes stimulasi. Dalam penelitian ini, sebanyak 0,5 mg/ respule
dari budesonida dicampur dengan 250 mL normal saline dan digunakan pada kedua rongga hidung
dua kali sehari telah ditentukankeamananya berdasarkan referensi.
Beberapa penelitian mendukung efektivitas dari budesonide untuk irigasi hidung pada
pasien RSK setelah ESS. Snidvongs dkk. [2] melaporkan pada 111 pasien dengan RSK yang
menjalani ESS yang mengalami kegagalan terapi medis sebelumnya, dan memperlihatkan skor
SNOT-22 dan endoskopi pada subjek mengalami peningkatan yang signifikan. Jang et al. [8]
menganalisis keefektifan irigasi pada 60 pasien yang terdiri dari 30 pasien dengan RSK eosinofilik,
13 dengan samter’s triad dan 17 lainnya. Irigasi hidung dengan budesonida pasca operasi
menurunkan skor SNOT-20 secara signifikan pada semua pasien, namun nilai endoskopi hanya
membaik pada kelompok RSK eosinofilik. Meskipun hal ini belum dikonfirmasi dengan biopsi,
subjek penelitian kami adalah pasien RSK dengan asma, kebanyakan disertai RSK eosinofilik, dan
dengan demikian hasil dari irigasi hidung dengan budesonide dapat diterapkan pada RSK
eosinofilik.
Penelitian double-blind random control yang dilakukan oleh Rotenberg dkk. [1]
membandingkan hasil perawatan pasca operasi dengan menggunakan irigasi saline, nasal spray
budesonida, irigasi saline yang dicampur dengan nasal spray budesonida setelah ESS pada pasien
Samter’s triad. Tidak seperti hasil penelitian kami, Rotenberg dkk. [1] menemukan bahwa nasal
spray budesonide atau irigasi tidak lebih unggul dari irigasi dengan saline. Dimana pada penelitian
kami hanya menggunakan pasien yang didiagnosa menderita asma, bukan Samter’s triad, yang
menyebabakan perbedaan hasil pada kedua penelitian ini.
Jumlah total steroid oral yang digunakan menurun secara signifikan setelah irigasi dengan
budesonida. Sejauh ini belum ada penelitian lain yang menganalisis perubahan dosis steroid
sistemik setelah irigasi. Dengan demikian, irigasi hidung dengan budesonide tampaknya tidak
hanya aman dan efektif, tetapi juga mengurangi penggunaan serta efek samping dari steroid
sistemik. Penggunaan jangka panjang memang merupakan bahaya yang mungkin bagi pasien yang
menggunakan steroid sistemik [3], dan pengurangan penggunaan steroid sistemik juga bisa
memberi semangat bagi dokter yang merawat pasien tersebut.
Jumlah steroid inhalasi untuk asma setelah irigasi tidak berbeda jauh dari jumlah sebelum
irigasi. Subjek penelitian kami yang menerima perawatan di klinik lain sebelum mereka
mengunjungi fasilitas kami sehingga tidak ada perbedaan sebelum dan sesudah irigasi karena
jumlah steroid yang dihirup sebelum irigasi mungkin tidak diperhitungkan. Bisa juga diartikan
bahwa irigasi hidung dengan budesonide tidak berpengaruh pada jalan nafas bawah. Meskipun
jalan napas atas dan jalan napas bagian bawah digambarkan sebagai konsep 'satu jalan napas atau
satu penyakit', penelitian kami menunjukkan bahwa pengelolaan rongga hidung dan sinus tidak
mempengaruhi asma yang menyertainya, yang merupakan penyakit saluran napas bagian bawah.
Ada beberapa keterbatasan dalam penelitian ini. Pertama, jumlah subjek relatif kecil
sehingga tidak ada kelompok kontrol. Kedua, jumlah steroid sistemik dan inhalasi yang digunakan
oleh pasien sebelum mengunjungi rumah sakit penelitia tidak berada di bawah kendali peneliti,
dan ini bisa mempengaruhi hasil dari penelitian.
Tidak seperti penelitian lain tentang khasiat dan keamanan irigasi budesonida berdasarkan
gejala subjektif dan hasil endoskopi, penelitian ini menunjukkan bahwa iragasi hidung dengan
budesonide pada pasien asma dapat mengurangi penggunaan steroid oral secara berulang-ulang
namun tidak dengan penggunaan steroid inhalasi.
Kesimpulannya, di antara berbagai macam jenis perawatan pasca operasi untuk RSK yang
sulit ditangani pada pasien asma, irigasi hidung dengan budesonide adalah metode efektif untuk
memperbaiki kualitas hidup, mencegah kekambuhan dan mengurangi penggunaan steroid oral.
Tapi tidak ada penurunan dalam penggunaan steroid inhalasi setelah irigasi.
Untuk mendorong penggunaan irigasi hidung dengan budesonida secara luas, diperlukan
pemeriksaan lebih lanjut terhadap dosis yang tepat, frekuensi irigasi, dan lama pengobatan yang
diperlukan, bersamaan dengan penilaian keamanan penggunaan dalam jangka panjangnya.
Konflik Penelitian
Tidak ada potensi konflik yang dilaporkan berhubungan dengan artikel.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rotenberg BW, Zhang I, Arra I, Payton KB. Postoperative care for Samter’s triad patients
undergoing endoscopic sinus surgery: a double-blinded, randomized controlled trial.
Laryngoscope. 2011 Dec;121(12):2702-5.
2. Snidvongs K, Pratt E, Chin D, Sacks R, Earls P, Harvey RJ. Corticosteroid nasal irrigations
after endoscopic sinus surgery in the management of chronic rhinosinusitis. Int Forum Allergy
Rhinol. 2012 Sep-Oct;2(5):415-21.
3. Poetker DM, Reh DD. A comprehensive review of the adverse effects of systemic
corticosteroids. Otolaryngol Clin North Am. 2010 Aug;43(4):753-68.
4. Adappa ND, Wei CC, Palmer JN. Nasal irrigation with or without drugs: the evidence. Curr
Opin Otolaryngol Head Neck Surg. 2012 Feb;20(1):53-7.
5. Welch KC, Thaler ER, Doghramji LL, Palmer JN, Chiu AG. The effects of serum and urinary
cortisol levels of topical intranasal irrigations with budesonide added to saline in patients with
recurrent polyposis after endoscopic sinus surgery. Am J Rhinol Allergy. 2010 Jan-
Feb;24(1):26-8.
6. Sachanandani NS, Piccirillo JF, Kramper MA, Thawley SE, Vlahiotis A. The effect of nasally
administered budesonide respules on adrenal cortex function in patients with chronic
rhinosinusitis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2009 Mar;135(3):303-7.
7. Thamboo A, Manji J, Szeitz A, Santos RD, Hathorn I, Gan EC, et al. The safety and efficacy
of short-term budesonide delivered via mucosal atomization device for chronic rhinosinusitis
without nasal polyposis. Int Forum Allergy Rhinol. 2014 May;4(5):397-402
8. Jang DW, Lachanas VA, Segel J, Kountakis SE. Budesonide nasal irrigations in the
postoperative management of chronic rhinosinusitis. Int Forum Allergy Rhinol. 2013
Sep;3(9):708-11.
9. Young J, Frenkiel S, Tewfik MA, Mouadeb DA. Long-term outcome analysis of endoscopic
sinus surgery for chronic sinusitis. Am J Rhinol. 2007 Nov-Dec;21(6):743-7.
10. Kim JE, Kountakis SE. The prevalence of Samter’s triad in patients undergoing functional
endoscopic sinus surgery. Ear Nose Throat J. 2007 Jul;86(7):396-9.
11. Snidvongs K, Kalish L, Sacks R, Craig JC, Harvey RJ. Topical steroid for chronic
rhinosinusitis without polyps. Cochrane Database Syst Rev. 2011 Aug;(8):CD009274.
12. Kalish L, Snidvongs K, Sivasubramaniam R, Cope D, Harvey RJ. Topical steroids for nasal
polyps. Cochrane Database Syst Rev. 2012 Dec;12:CD006549.
13. Joe SA, Thambi R, Huang J. A systematic review of the use of intranasal steroids in the
treatment of chronic rhinosinusitis. Otolaryngol Head Neck Surg. 2008 Sep;139(3):340-7.
14. Dijkstra MD, Ebbens FA, Poublon RM, Fokkens WJ. Fluticasone propionate aqueous nasal
spray does not influence the recurrence rate of chronic rhinosinusitis and nasal polyps 1 year
after functional endoscopic sinus surgery. Clin Exp Allergy. 2004 Sep;34(9):1395-400.
15. Lavigne F, Cameron L, Renzi PM, Planet JF, Christodoulopoulos P, Lamkioued B, et al.
Intrasinus administration of topical budesonide to allergic patients with chronic rhinosinusitis
following surgery. Laryngoscope. 2002 May;112(5):858-64.
16. Virolainen E, Puhakka H. The effect of intranasal beclomethasone dipropionate on the
recurrence of nasal polyps after ethmoidectomy. Rhinology. 1980 Mar;18(1):9-18.
17. Harvey RJ, Schlosser RJ. Local drug delivery. Otolaryngol Clin North Am. 2009
Oct;42(5):829-45.
18. Bateman ND, Whymark AD, Clifton NJ, Woolford TJ. A study of intranasal distribution of
azelastine hydrochloride aqueous nasal spray with different spray techniques. Clin Otolaryngol
Allied Sci. 2002 Oct;27(5):327-30.
19. Snidvongs K, Chaowanapanja P, Aeumjaturapat S, Chusakul S, Praweswararat P. Does nasal
irrigation enter paranasal sinuses in chronic rhinosinusitis? Am J Rhinol. 2008 Sep-
Oct;22(5):483-6.
20. Harvey RJ, Debnath N, Srubiski A, Bleier B, Schlosser RJ. Fluid residuals and drug exposure
in nasal irrigation. Otolaryngol Head Neck Surg. 2009 Dec;141(6):757-61.
21. Pynnonen MA, Mukerji SS, Kim HM, Adams ME, Terrell JE. Nasal saline for chronic
sinonasal symptoms: a randomized controlled trial. Arch Otolaryngol Head Neck Surg. 2007
Nov;133(11):1115-20.
22. Wormald PJ, Cain T, Oates L, Hawke L, Wong I. A comparative study of three methods of
nasal irrigation. Laryngoscope. 2004 Dec;114(12):2224-7.