You are on page 1of 4

PENGERTIAN ETIKA POLITIK

Etika Politik merupakan Filsafat teoritis yang membahas tentang makna hakiki segala
sesuatu antara lain: manusia, alam, benda fisik, pengetahuan bahkan tentang hakikat yang
transenden. Dalam hubungan ini filsafat teoritis pada akhirnya sebagai sumberpengembangan
ha1-hal yang bersifat praksis termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi. Filsafat praksis
sebagai bidang kedua yang membahas dan mempertanyakan aspek praksis dalam kehidupan
manusia yaitu etika yang mempertanyakan dan membahas tanggung jawab dan kewajiban
manusia dalam hubungannya dengan sesame manusia, masyarakat, bangsa dan negara
lingkungan alam serta terhadap Tuhannya (Suseno, 1987)

Pengertian politik berasal dari kosa kata politics yang memiliki maksa bermacam-macam
kegiatan dalam suatu sistem politik atau negara yang menyangkut proses penentuan tujuan-
tujuan. Untuk melaksanakan tujuan-tujuan perlu di tentukan kebijakan-kebijakan umun atau
piblic policies, yang menyangkut peraturan dan pembagian dari sumber-sumber yang ada.
Dan politik selalu menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat bukan tujuan pribadi
seseorang. Selain itu politik juga menyangkut kegiatan berbagai kelompok termasuk partai
politik, lembaga masyarakat maupun perseorangan. Secara operasional bidang politik
menyangkut konsep-konsep pokok yang berkaitan dengan :
– Negara (state)
– Kekuasaan (power)
– Pengambilan Keputusan (decisionmaking)
– Kebijaksanaan (policy)
– Pembagian (distribution)
– Alokasi (allocation)
Hubungan antara politik dengan etika politik secara luas yaitu menyangkut seluruh unsur
yang membentuk suatu persekutuan hidup yang disebut masyarakat negara.
HUBUNGAN ETIKA POLITIK DENGAN NILAI
YG TERKANDUNG DLM PANCASILA

Sebagi dasar filsafah negara pancasila tidak hanya merupakan sumber derivasi peraturan
perundang-undangan, malainkan juga merupakan sumber moralitas terutama dalam
hubunganya dengan legitimasi kekuasaan, hukum serta sebagai kebijakan dalam pelaksanaan
dan penyelenggaraan negara. Sila pertama “Ketuhanan Yang Maha Esa” serta sila ke dua
“kemanusiaan yang adoil dan beradab” adalah merupakan sumber nilai-nilai moral bagi
kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain sila I, sila II “kemanusiaan yang adil dan
beradab” juga merupakan sumber niali-nilai moralitas dalam kehidupan Negara. Negara pada
prinsipnya merupakan persekutuan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
Bangsa Indonesia sebagai bagian dari umat manusia hidup secara bersama dalam suatu
wilayah tertentu, dengan cita-cita demi kesejahteraan bangsa sesuai bersama, sesuai sila III (
Persatuan Indonesia).
Selain itu dalam penyelenggaraan Negara harus berdasarkan legitimasi hukum yaitu prinsip
‘legalitas’. Negara Indonesia adalah Negara hukum, oleh karena itu ‘keadilan’ dalam hidup
bersama ( Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia )sebagaimana terkandung dalam
sila V. Negara adalah berasal dari rakyat dan segala kebijaksanaan dan kekuasaan yang
dilakukan senantiasa untuk rakyat (Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat
Kebijaksanaan/Perwakilan ) sila IV
Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, Etika politik menuntut agar kekuasaan
dalam negara dijlankan sesuai dengan :
1. Asas legalitas (Legitimasi hukum)
2. Disahkan dan dijalankan secara demokrasi (legitimasi demokrasi)
3. Dilaksanakan berdasrkan prinsip-prinsip moral (legitimasi
moral)
(Suseno, 1987 :115).
Pancasila sebagai suatu sistem filsafat memiliki tiga dasar tersebut, prinsip- prinsip dasar
etika politik itu dalam realisasi praksis di kehidupan kenegaraan senantiasa dilaksanakan
secara korelatif (timbal balik) diantara ketiganya. Kebijaksanaan serta keputusan yang
diambil dalam pelaksanaan kenegaraan baik menyangkut politik dalam negeri maupun luar
negeri, ekonomi baik nasional maupun global yang menyangkut rakyat.
. Dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan negara baik menyangkut kekuasaan,
kebijaksanaan yang menyangkut publik, pembagian serta kewenagan harus berdasarkan
legitimimasi moral religius serta moral kemanusiaan.
Etika politik ini harus direalisasikan oleh setiap individu yang ikut terlibat secara kongkrit
dalam pelaksanaan pemerintahan Negara.

Kebijaksanaan adalah syarat yang harus dimiliki untuk menuju kebahagiaan hidup. Karena
itu, etika pada zaman itu bercorak eudomonistik ( bahagia).
Tampilnya ajaran Imanuel Kant pada abad ke-18, masalah etika bukan lagi masalah
kebijaksanaan melainkan sudah merupakan kewajiban. Etika menurut Imanuel Kant adalah
suatu kategori imperatif dalam arti bahwa etika bukanlah alat untuk mencapai tujuan tertentu,
melainkan menjadi tujuan di dalam dirinya sendiri. Artinya etika dipatuhi, dengan etika
tersebut orang berbuat baik atau susila bukan untuk mencapai suatu tujuan melainkan untuk
dan demi kebaikan atau kesusilaan itu sendiri.
Pengertian “politik” dalam proses pemakainnya dewasa ini terasa sudah sangat jauh
menyimpang, atau mungkin sudah jauh lebih luas dari pengertian asalnya. Konsekuensi dari
sinyalemen tersebut ialah timbulnya semacam prasangaka, sikap sinis, dan sebagainya.
Kaitan dengan Pancasila, maka etika politik dengan rasa etik tidak lain adalah Etika
Pancasila. Pancasila sebagai etika politik bagi bangsa dan negara Indonesia adalah etika yang
dijiwai oleh Falsafah negara Pancasila yang meliputi:
1. Etika yang berjiwa Ketuhanan Yang Maha Esa, mengandung makna percaya akan
adanya Tuhan Yang Maha Esa, patuh pada perintah Tuhan dan menjauhi Larangan-Nya.
2. Etika yang berperikemanusiaan, mengandung makna menilai harkat kemanusiaan tetap
lebih tinggi dari nilai kebendaan, tidak membenarkan adanya rasialisme, dan sikap membeda-
bedakan manusia.
3. Etika yang dijiwai oleh rasa Kesatuan Nasional, mengandung makna sifat bangsa
Indonesia yanh Bhineka Tunggal Ika dan bangsa yang cinta persatuan.
4. Etika yang berjiwa demokrasi, mengandung makna lambang persaudaraan manusia,
sama-sama berhak akan kemerdekaan dan memperoleh kemerdekaan
5. Etika yang berjiwa keadilaan sosial, mengandung makna manifestasi dari kehidupan
masyarakat yang dilandasi oleh jiwa kemanusiaan, jiwa yang cinta kepada persatuan, jiwa
yang bersifat demokrasi, dan semangat mau bekarja keras.

Etika memberi manusia orientasi bagaimana ia melakukan semua tindakan sehari-harinya


baik dalam masyarakat maupun dalam bernegara. Etika mambantu manusia menunjukan
nilai-nilai untuk membulatkan hati mengambil keputusan tentang tindakan apa yang perlu
dilakukan dan mengapa hal itu dilakukan.
Pancasila adalah etika bagi bangsa Indonesia dalam bermasyarakat dan bernegara. Adapun
nilai-nilai etika yang terkandung dalam Pancasila tertuang dalam berbagai tatanan berikut ini:
1. Tatanan bermasyarakat
2. Tatanan bernegara
3. Tatanan kerjasama antar negara atau tatanan luar negeri
4. Tatanan pemerintah daerah
5. Tatanan hidup beragama
6. Tatanan bela negara
7. Tatanan pendidikan
8. Tatanan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat
9. Tatanan hukum dan keikutsertaan dalam pemerintahan
10. Tatanan kesejahteraan sosial
CONTOH ( MASA KINI )

1. Kasus Bank Century yang melibatkan pemerintahan dan partai Demokrat


2. Kasus Gayus dan Mafia Hukum yang banyak tudingan melibatkan partai besar tertentu
3. Kasus suap pemilihan deputi Gubernur Miranda Gultom yang melibatkan PDIP
4. Gaji petinggi Negara yang fantastis, tanpa peduli jeritan rakyat
6. Masalah “apartemen mewah” Artalyta Suryani di Rutan Pondok Bambu, tempatnya
ditahan
5. Kasus buku porno di Banyuwangi baru-baru ini, dan sikap acuh para pejabat seakan tak
mau tahu.

dan masih banyak lagi permasalahn-permasalan lain di Negara ini