You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN

1. 1 LATAR BELAKANG

Good Governance adalah harapan besar kebangsaan. Dia

menjadi mimpi sekaligus tantangan untuk dituntaskan. Pasca krisis 1998,

spirit pemerintah untuk merealisasikan ide tersebut masih menggebu –

gebu dalam level sosialisasi dan promosi. Para pejabat dan top leader

korporasi gemar untuk mengajak public untuk mengenali dan memahami

identitas tersebut, dalam berbagai acara pemerintahan, seremonial

manajemen, ataupun forum diskusi. Maka tak mengherankan bila good

governance pun menjadi sebuah gelora yang semakin dikultuskan dalam

kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Karena diharapkan melalui

good governance, suatu transformasi dapat terwujud menuju

mmasyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan berkualitas.

Good governance adalah proyek berskala jangka panjang dimana

hal ini tidak dapat terjadi secara instan dan sekejap. Hal ini dapat dilihat

bahwa good governance ini awalnya dicanangkan pada pasca krisis di

indonesi pada tahun 1998 dan masih di usahakan untuk diterapkan

hingga saat ini.

Hal ini dikarenakan good governance berhubungan erat dengan

nilai, budaya, serta komitmen keprilakuan positif masyarakat. Terdapat

tiga fase penting yang harus dilalui untuk mewujudkan good governance

secara idel. Fase ini antara lain fase membangun komitmen, fase

membangun system dan terakhir membangun budaya.


Bila Indonesia mampu melewati tahapan fase tersebuut, pada

akhirnya tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) dapat

membuat Indonesia berkembang pesat serta kompetitif dalam tatanan

internasional, dengan modal sumber daya yang melimpah dan sumber

daya manusia unggulan. Apabila dilihat mengenai sumber daya manusia

unggulan maka proses pendidikan memegang peranan penting dalam

mewujudkan tatana good governance yang bernilai tambah bagi

masyarakat.

Good governance Indonesia memang masih tanda Tanya besar

yang belum bisa dijawab dengan konkrit. Di lapangan, birokrasi masih

terkesan malu – malu bahkan mungkin takut untuk mewujudkan secara

konsisten dan optimal. Dalam praktiknya, public memendam kekecewaan

besar karena suasana transparansi, akuntabilitas, responsive,

independensi dan fairness sungguh jauh api dari panggangan.

Fundamental utama dari good governance adalah ethics. Etika

akan menuntun setiap pelaku dalam sebuah sistem sosial berbuat

sepantasnya sesuai dengan tatanan nilai – nilai masyarakat. Etika

mengajarkan hitam dan putih, dan meneguhkan ketauladanan –

ketauladanan untuk menjadi perilaku dalam kehidupan bermasyarakat.

Dengan etika, ketertiban dan kesejahteraan akan tumbuh dan

berkembang sebagai nilai – nilai moral dalam tatanan sosial Indonesia.

Konsep good governance menekankan pada komitmen dan

langkah pertanggungjawaban atas konsumsi sumber daya alam atau

ekonomi. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kata kata kunci

mendasar dan relevan bagi stakeholders korporasi. Transparansi dan


akuntabilitas meminta sebuah sikap dan mental totalitas dalam

mengungkapkan sumber daya yang ambil, diolah, dan dihasilkan oleh

public. Transparansi dan akuntabilitas mengajarkan nilai – nilai kejujuran ,

efisiensi, efektifitas, berbagi, keadilan, dan semangat going concern.

Good governance tidak melihat pengolahan sumber daya alam hanya dari

perspektif kalkulasi laba, namun juga peduli terhadap pelestarian

ekosistem alam dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu bentuk daripada tindakan transparansi dan

akuntabilitas yang dapat dilihat saat ini, sesuai dengan penjelasan diatas

adalah dengan memberikan pelayanan berkualitas dan kesejahteraan

masyarakat.

1. 2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya,

maka permasalahan pokok yang dapat dirumuskan dalam artikel ini

adalah apakah manfaat transparansi dan akuntabilitas dalam

mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik (Good Governance)?

1. 3 TUJUAN PENULISAN

Tujuan dari artikel ini adalah untuk mengetahui manfaat daripada

transparansi dan akuntabilitas dalam mewujudkan tata kelola

pemerintahan yang baik (Good Governance).


1. 4 MANFAAT PENULISAN

Penulis mengharapkan dengan adanya artikel ini dapat

menambah pengetahuan mengenai manfaat transparansi dan

akuntabilitas untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik

(Good Governance)
BAB II

KAJIAN TEORI

3. 1 TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK (GOOD GOVERNANCE)

Tata laksana pemerintahan yang baik adalah seperangkat proses

yang diberlakukan dalam organisasi baik swasta maupun negeri untuk

menentukan keputusan. Tata laksana pemerintahan yang baik ini

walaupun tidak dapat menjamin sepenuhnya segala sesuatu akan

menjadi sempurna - namun, apabila dipatuhi jelas dapat mengurangi

penyalah-gunaan kekuasaan dan korupsi. Banyak badan-badan donor

internasional, seperti IMF dan Bank Dunia, mensyaratkan

diberlakukannya unsur-unsur tata laksana pemerintahan yang baik

sebagai dasar bantuan dan pinjaman yang akan mereka berikan.

(www.wikipedia.com)

Tata laksana pemerintahan yang baik ini dapat dipahami dengan

memberlakukan delapan karakteristik dasarnya yaitu:

1. Partisipasi aktif

2. Tegaknya hokum

3. Transparansi

4. Responsif

5. Berorientasi akan musyawarah untuk mendapatkan mufakat

6. Keadilan dan perlakuan yang sama untuk semua orang.

7. Efektif dan ekonomis

8. Dapat dipertanggungjawabkan
Berlakunya karakteristik-karakteristik diatas biasanya menjadi

jaminan untuk:

 Meminimimalkan terjadinya korupsi

 Pandangan minoritas terwakili dan dipertimbangkan

 Pandangan dan pendapat kaum yang paling lemah didengarkan

dalam pengambilan keputusan.

Governance mengandung makna bagaimana cara suatu bangsa

mendistribusiakan kekuasaan dan mengelola sumber daya dan berbagai

masalah yang dihadapi masyarakat. Dengan kata lain, dalam konsep

governance terkandung unsur demokratis, adil, transparan, rule of law,

participation, dan kemitraan.

World Bank member definisi good governance sebagai suatu

penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggung

jawab yang sejalan dengan prinsip demokrasi dan pasar yang efisien,

penghindaran kesalahan dalam alokasi dana investasi, dan pencegahan

korupsi secara politik dan administrative, menjalankan disiplin anggaran

serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas

usaha.

Nizarli (2005) mendefinisikan good governance sebagai

pelaksanaan otoritas politik, ekonomi dan administratif dalam

pengelolaan sebuah Negara, termasuk di dalamnya mekanisme yang

kompelks serta proses yang terkait, lembaga – lembaga yang dapat

menyuarakan kepentingan perseorangan dan kelompok serta dapat

menyelesaikan semua persoalan yang muncul di antara mereka.


3. 2 TRANSPARANSI

Transparansi adalah suatu proses keterbukaan dari para

penelolah manajemen,utamanya manajemen public, untuk membangun

akses dalam proses pengelolaannya sehingga arus informasi keluar dan

masuk secara berimbang.Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata

pemerintahan berarti Lembaga atau orang yang bertugas mengatur dan

memajukan Negara dengan rakyatnya. Jadi, dalam proses transparansi

informasi tidak hanya diberikan oleh pengelolah manajemen public tetapi

masyarakat memiliki hak untuk memperoleh informasi yang menyangkut

kepentingan public.

Transparansi juga dapat dikatakan sebagai suatu komitmen untuk

mengungkapkan secara jujur, terbuka dan komprehensif tentang

informasi yang dibutuhkan oleh publik

Transparansi Pemerintahan adalah terjaminnya akses masyarakat

dalam berpartisipasi, utamanya dalam proses pengambilan keputusan.

Salah satu yang menjadi persoalan bangsa pada akhir masa orde

baru adalah merebaknya kasus-kasus korupsi yang berkembang sejak

awal masa rezim kekuasaannya. Korupsi sebagai tindakan baik dilakukan

individu maupun lembaga yang secara langsung merugikan Negara,

merupakan salah satu yang harus dihindari dalam upaya menuju cita

good governance. Selain merugikan Negara, korupsi bisa menghambat

efektivitas dalam efisiensi proses birokrasi dan pembangunan sebagai

cirri utama good governance.


Salah satu sebab daripada terjadinya transparansi antara lain

adalah kurangnya transparansi dari tiap kegiatan yang dilakukan baik

oleh individu maupun organisasi di dalam pemerintahan.

3. 3 AKUNTABILITAS

Menurut situs www.wikipedia.com akuntabilitas adalah sebuah

konsep etika yang dekat dengan administrasi publik pemerintahan

(lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga

yudikatif Kehakiman) yang mempunyai beberapa arti antara lain, hal ini

sering digunakan secara sinonim dengan konsep-konsep seperti yang

dapat dipertanggungjawabkan (responsibility), yang dapat dipertanyakan

(answerability), yang dapat dipersalahkan (blameworthiness) dan yang

mempunyai ketidakbebasan (liability) termasuk istilah lain yang

mempunyai keterkaitan dengan harapan dapat menerangkannya salah

satu aspek dari administrasi publik atau pemerintahan, hal ini sebenarnya

telah menjadi pusat-pusat diskusi yang terkait dengan tingkat

problembilitas di sektor publik, perusahaan nirlaba, yayasan dan

perusahaan-perusahaan.

Dalam peran kepemimpinan, akuntabilitas dapat merupakan

pengetahuan dan adanya pertanggungjawaban tehadap tiap tindakan,

produk, keputusan dan kebijakan termasuk pula di dalamnya administrasi

publik pemerintahan, dan pelaksanaan dalam lingkup peran atau posisi

kerja yang mencakup di dalam mempunyai suatu kewajiban untuk

melaporkan, menjelaskan dan dapat dipertanyakan bagi tiap-tiap

konsekuensi yang sudah dihasilkan.


akuntabilitas merupakan istilah yang terkait dengan tata kelola

pemerintahan sebenarnya agak terlalu luas untuk dapat

didefinisikan.akan tetapi hal ini sering dapat digambarkan sebagai

hubungan antara yang menyangkut saat sekarang ataupun masa depan,

antar individu, kelompok sebagai sebuah pertanggungjawaban

kepentingan merupakan sebuah kewajiban untuk memberitahukan,

menjelaskan terhadap tiap-tiap tindakan dan keputusannya agar dapat

disetujui maupun ditolak atau dapat diberikan hukuman bilamana

diketemukan adanya penyalahgunaan kewenangan.

Akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyampaikan

pertanggungjawaban atau untuk menjawab dan menerangkan kinerja dan

tindakan seseorang/badan hukum/pimpinan kolektif suatu organisasi

dalam penggunaan wewenang yang diberikan kepada mereka,

penggunaan sumber daya yang ada, dan apa saja yang telah dicapai

dengan penggunaan wewenang dan sumberdaya tersebut kepada pihak

yang memiliki hak atau kewenangan untuk meminta keterangan atau

pertanggungjawaban.

Menilik pada pasal 27 ayat 2 UU No. 32 Tahun 2004 maka jelas

bahwa kepala daerah wajib memberikan laporan penyelenggaraan

pemerintahan daerah kepada pemerintah, memberikan laporan

keterangan pertanggungjawaban kepada DPRD, dan menginformasikan

laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada masyarakat.

Mekanisme pelaporan kepada pemerintah secara jelas sudah

dimaktubkan Instruksi Presiden Nomor 7 tahun 1999 bahwa setiap akhir

tahun anggaran setiap instansi wajib menyampaikan laporan akuntabilitas


kinerja instansi kepada Presiden dan salinannya kepada Kepala Badan

Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang kemudian

melakukan evaluasi terhadap laporan tersebut.

Demikian juga mekanisme laporan keterangan

pertanggungjawaban kepada DPRD sudah secara tegas tertuang dalam

UU Nomor 22 tahun 1999 pasal 45 dan PP Nomor 108 tahun 2000 yang

prakteknya terlaksana dalam bentuk Rapat Paripurna DPRD yang

membahas laporan pertanggungjawaban kepala daerah. Yang masih

tidak jelas adalah mekanisme penginformasian laporan kepada

masyarakat. Dalam tulisan ini beberapa pokok pikiran tentang

akuntabilitas pemerintah kepada masyarakat akan disampaikan sebagai

masukan bagi pemerintah, DPRD, dan masyarakat sendiri.

Menurut Bruce Stone, O.P. Dwivedi, and Joseph G. Jabbra

terdapat 8 jenis akuntabilitas umumnya berkaitan dengan moral,

administratif, politik, manajerial, pasar, hukum dan peradilan, hubungan

dengan konstituen dan profesional.

Tetapi pada kesempatan kali ini penulis hanya menjelaskan

mengenai 2 jenis akuntabilitas yaitu akuntabilitas administrative dan

akuntabilitas politik.

Akuntabilitas administrasi merupakan aturan dan norma internal

serta beberapa komisi independen adalah mekanisme untuk menampung

birokrasi dalam tanggung jawab administrasi pemerintah. Dalam

kementerian atau pelayanan, pertama, perilaku dibatasi oleh aturan dan

peraturan; kedua, pegawai negeri dalam hierarki bawahan bertanggung

jawab kepada atasan. Dengan diikuti adanya unit pengawas independen


guna memeriksa dan mempertanggung jawabkan, legitimasi komisi ini

dibangun di atas kemerdekaan mereka agar dapat terhindar dari konflik

kepentingan apapun.

Selain dari pemeriksaan internal, terdapat pula beberapa unit

pengawas yang bertugas untuk menerima keluhan dari masyarakat

sebagai akuntabilitas kepada warga negara.

Akuntabilitas politik adalah akuntabilitas administrasi publik dari

lembaga eksekutif pemerintah, lembaga legislatif parlemen dan lembaga

yudikatif Kehakiman kepada publik .

Dalam negara demokrasi, pemilu adalah mekanisme utama untuk

mendisiplinkan pejabat publik akan tetapi hal ini saja tidak cukup dengan

adanya pemisahan kekuasaan antara badan eksekutif, legislatif dan

yudikatif memang dapat membantu untuk mencegah adanya

penyalahgunaan kekuasaan yang hanya berkaitan pada check and

balances pengaturan kewenangan. Checks and balances hanya bekerja

dengan menciptakan pengaturan konflik kepentingan antara eksekutif dan

legislatif, namun segala keputusan yang berkaitan dengan kepentingan

publik masih memerlukan persetujuan kedua lembaga, dengan cara ini,

kedua lembaga yang merupakan lembaga hasil pemilu dalam

pengambilan keputusan-keputusan dalam hal kebijakan publik akan lebih

pada merupakan hubungannya dengan

konstituen pada keuntungan pemilu yang akan datang

dibandingkan bila merupakan kebijakan yang sesungguhnya dari bagian

kebijakan administrasi publik. Biaya yang harus dikeluarkan dalam

kegiatan politik antara lain pemilu yang diperlukan dapat menjadikan


anggota eksekutif dan legislatif atau para pejabat publik lainnya rentan

terhadap praktik-praktik korupsi dalam pengambilan keputusan yang

terdapat memungkinan akan lebih menuju kepada keuntungan

kepentingan pribadi dengan cara mengorbankan kepentingan publik yang

lebih luas.
BAB III

PEMBAHASAN

Perwujudan kepemerintahan yang baik (good governance) yang sasaran

pokoknya adalah terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang:

professional, berkepastian hukum, transparan, akuntabel, memiliki kredibilitas,

bersih dan bebas KKN; peka dan tanggap terhadap segenap kepentingan dan

aspirasi yang didasari etika, semangat pelayanan, dan pertanggungjawaban

public; dan, integritas pengabdian dalam mengemban misi perjuangan bangsa

untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan bernegara (Mustopadidjaja, 2003 :261).

3. 1 PERAN TRANSPARANSI TERHADAP GOOD GOVERNANCE

Salah satu aktualisasi nilai dan prinsip-prinsip “GG” adalah

Transparansi. Aparatur dan sistem manajemen publik harus

mengembangkan keterbukaan dan sistem akuntabilitas. Bersikap terbuka

dan bertanggungjawab untuk mendorong para pimpinan dan seluruh

sumber daya manusia di dalamnya berperan dalam mengamalkan dan

melembagakan kode etik dimaksud, sehingga dapat menjadikan diri

mereka sebagi panutan masyarakat; dan itu dilakukan sebagai bagian

dari pelaksanaan tanggungjawab dan pertanggungjawaban kepada

masyarakat dan negara. Upaya pemberdayaan masyarakat dan dunia

usaha, peningkatan dan kemitraan, selain: memerlukan keterbukaan

birokrasi pemerintah; juga memerlukan langkah-langkah yang tegas

dalam mengurangi peraturan dan prosedur yang menghambat kreativitas

mereka; memberi kesempatan kepada masyarakat untuk dapat berperan


serta dalam proses penyusunan peraturan kebijakan, pelaksanaan, dan

pengawasan pembangunan. Pemberdayaan dan keterbukaan akan lebih

mendorong; akuntabilitas dalam pemanfaatan sumber daya, dan adanya

keputusan-keputusan pembangunan yang benar-benar diarahkan sesuai

prioritas dan kebutuhan masyarakat, serta dilakukan secara riil dan adil

sesuai aspirasi dan kepentingan masyarakat.

Prinsip Transparansi ini telah disepakati, sebagai salah dari 10

prinsip, dari Asosiasi Pemerintahan Seluruh Indonesia (APKASI),

Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesai (APEKSI), dan Asosiasi

DPRD Kota Seluruh Indonesia (ADEKSI), yaitu: partisipasi, penegakan

hukum, transparansi, kesetaraan, daya tanggap, wawasan ke depan,

akuntabilitas, pengawasan, efisiensi dan efektifitas, dan profesionalisme.

Transparansi adalah keterbukaan pemerintahan dalam membuat

kebijakan-kebijakan, sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPR dan

masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan horizontal

accountabilility antara pemerintah dengan masyarakat. Ini akan

menciptakan pemerintahan yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, dan

responsive terhadap aspirasi dan kepentingan masyarakat.

Keterbukaan pemerintahan merupakan syarat mutlak bagi suatu

pemerintahan yang efisien. Keterbukaan mengandung makna bahwa

setiap orang mengetahui proses pengambilan keputusan oleh

pemerintah. Dengan mengetahui memungkinkan masyarakat itu

memikirkan dan pada akhirnya ikut memutus.

Ada tiga unsur utama keterbukaan pemerintah yang memungkinkan

peran serta masyarakat: mengetahui proses pengambilan keputusan


rancangan rencana (meeweten); memikirkan bersama pemerintah

mengenai keputusan/rancangan rencana yang dilakukan pemerintah

(meedenken); dan memutuskan bersama pemerintah (meebelissen).

Prinsip transparansi ini tidak hanya berhubungan dengan hal-hal

yang menyangkut keuangan. Keterbukaan pemerintah meliputi 5 (lima)

hal:

1. Keterbukaan dalam hal Rapat-rapat.

Para birokrat mestilah terbuka dalam melaksanakan rapat-rapat yang

penting bagi masyarakat. Keterbukaan dalam hal rapat ini

memungkinkan para birokrat serius memikirkan hal-hal yang

dirapatkan, dan masyarakat dapat memberikan pendapatnya pula.

2. Keterbukaan Informasi.

Keterbukaan informasi ini berhubungan dengan dokumen-dokumen

yang perlu diketahui oleh masyarakat. Misalnya, informasi mengenai

pelelangan atau penerimaan pegawai.

3. Keterbukaan prosedur.

Keterbukaan prosedur ini berhubungan dengan prosedur

pengambilan keputusan maupun prosedur penyusunan rencana.

Keterbukaan prosedur ini merupakan tindak pemerintahan yang

bersifat publik. Misalnya, keterbukaan rencana pembebasan tanah,

rencana pembangunan Mall atau rencana tata ruang.

4. Keterbukaan register.

Register merupakan kegiatan pemerintahan. Register berisi fakta

hukum, seperti catatan sipil, buku tanah, dan lain-lain. Register

seperti itu memiliki sifat terbuka, artinya siapa saja berhak


mengetahui fakta hukum dalam register tersebut. Keterbukaan

register merupakan bentuk informasi pemerintahan.

5. Keterbukaan menerima peran serta masyarakat.

Keterbukaan Peran serta ini terjadi bila: adanya tersedia suatu

kesempatan bagi masyarakat untuk mengemukakan pendapatnya

terhadap pokok-pokok kebijakan pemerintah; adanya kesempatan

masyarakat melakukan diskusi dengan pemerintah dan perencana;

dan adanya pengaruh masyarakat dalam mempengaruhi

pengambilan keputusan tersebut. Peran serta merupakan hak untuk

ikut memutus. Hal ini menjadi bentuk perlindungan hukum preventif.

Peran serta ini dapat berupa pengajuan keberatan terhadap

rancangan keputusan atau rencana pemerintah, dengar pendapat

dengan pemerintah, dan lain-lain.

(http://paulusmtangke.wordpress.com)

3. 2 PERAN AKUNTABILITAS TERHADAP GOOD GOVERNANCE

Pengembangan kebijakan akuntabilitas di Indonesia pada

dasarnya disebabkan oleh dua hal penting, yaitu: pertama, adanya

tuntutan internal (masyarakat Indonesia) antara lain agar sektor publik

semakin transparan dan mampu mempertanggungjawabkan atas

berbagai kebijakan dan tindakan yang dilakukan yang ditujukan untuk

menyelesaikan dan memenuhi tuntutan publik. Kedua, adalah tuntutan

perubahan dalam lingkungan global dalam hal manajemen sektor publik

misalnya tuntutan Good Governance dan Performance Management.


Kebijakan akuntabilitas di Indonesia dimulai sejak dikeluarkannya

TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 dan dan UU No. 28/1999 tentang

Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari KKN. Dalam UU

No. 28/1999 disebutkan bahwa azas penyelenggaraan kepemerintahan

yang baik meliputi:

1. Asas Kepastian Hukum.

2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara.

3. Asas Kepentingan Umum.

4. Asas Keterbukaan.

5. Asas Proporsionalitas.

6. Asas Profesionalistas.

7. Asas Akuntabilitas.

Asas akuntabilitas di sini diartikan bahwa setiap kegiatan dan hasil

akhir dari kegiatan penyelenggara negara harus dapat

dipertanggungjawabkan kepada masyarakat sebagai pemegang

kedaulatan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan

perundang‐undangan yang berlaku.

Selain itu, akuntabilitas juga merupakan bentuk

pertanggungjawaban setiap individu maupun secara organisatoris pada

institusi publik kepada pihak-pihak luar yang berkepentingan atas

pengelolaan sumber daya, dana, dan seluruh unsur kinerja yang

diamanatkan kepada mereka. Secara umum, prinsip good governance

(akuntabilitas) tercermin secara jelas dalam proses penganggaran,

pelaporan keuangan, dan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung


jawab keuangan negara sebagaimana tercantum dalam ketiga paket

perundang-undangan di bidang keuangan negara tersebut.

Akuntabilitas (kewajiban memberi pertanggungjawaban/menjawab

dan menerangkan kinerja dan tindakan seseorang/badan

hukum/pimpinan organisasi kepada pihak yang memiliki hak/ kewenangan

untuk meminta keterangan/pertanggung jawaban). Seperti dilihat dari

pengertian akuntabilitas, maka dapat dilihat bahwa akuntabilitas memiliki

peran yang penting terhadap good governance.


BAB IV

KESIMPULAN

Transparansi adalah keterbukaan pemerintahan dalam membuat

kebijakan-kebijakan, sehingga dapat diketahui dan diawasi oleh DPR dan

masyarakat. Transparansi pada akhirnya akan menciptakan horizontal

accountabilility antara pemerintah dengan masyarakat. Ini akan menciptakan

pemerintahan yang bersih, efektif, efisien, akuntabel, dan responsive terhadap

aspirasi dan kepentingan masyarakat.

Keterbukaan pemerintahan merupakan syarat mutlak bagi suatu

pemerintahan yang efisien. Keterbukaan mengandung makna bahwa setiap

orang mengetahui proses pengambilan keputusan oleh pemerintah. Dengan

mengetahui memungkinkan masyarakat itu memikirkan dan pada akhirnya ikut

memutus. Ada tiga unsur utama keterbukaan pemerintah yang memungkinkan

peran serta masyarakat: mengetahui proses pengambilan keputusan rancangan

rencana; memikirkan bersama pemerintah mengenai keputusan/rancangan

rencana yang dilakukan pemerintah; dan memutuskan bersama pemerintah.

Pengembangan kebijakan akuntabilitas di Indonesia pada dasarnya

disebabkan oleh dua hal penting, yaitu: pertama, adanya tuntutan internal

(masyarakat Indonesia) antara lain agar sektor publik semakin transparan dan

mampu mempertanggungjawabkan atas berbagai kebijakan dan tindakan yang

dilakukan yang ditujukan untuk menyelesaikan dan memenuhi tuntutan publik.

Kedua, adalah tuntutan perubahan dalam lingkungan global dalam hal

manajemen sektor publik misalnya tuntutan Good Governance dan Performance

Management.
DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik Suatu Pengantar – Edisi Ketiga.

Jakarta. Penerbit Erlangga

Majalah Akuntan Indonesia Edisi Juni – Juli 2012

http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-umum/pendidikan-

kewarga-negaraan/tata-kelola-pemerintahan-yang-baik-dan-bersih/ ; 03-10-

2013, 06.18 am

http://id.wikipedia.org/wiki/Tata_laksana_pemerintahan_yang_baik ; 03-10-2013

, 06.19 am

http://smantigdesiana.blogspot.com/2010/12/pengertian-transparansi-dan.htm l ;

03-10-2013, 06.41 am

http://id.wikipedia.org/wiki/Akuntabilitas ; 03-10-2013, 06.41 am

http://hermanjul.wordpress.com/2008/07/18/memposisikan-partisipasi-

masyarakat-dalam-mewujudkan-sistem-akuntabilitas-pemerintah-daerah-

dalam-tatanan-good-governance/ ; 03-10-2013, 06.41

http://www.bppk.depkeu.go.id/webpkn/index.php?option=com_content&view=arti

cle&id=881:transparansi-mewujudkan-good-

governance&catid=125&Itemid=160 ;22-11-2013. 05.35