You are on page 1of 2

Sampah Plastik Kerap Menjadi Masalah,

Lalu Apa Solusinya?


Oleh : Muhamad Peransyah Tasmawisesa

Indonesia masih memerangi musuh terbesarnya, yaitu sampah. Sampah adalah sisa
kegiatan seharihari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Menurut
Data Statistik Lingkungan Hidup Indonesia tahun 2017, produksi sampah perhari
cukup tinggi terjadi di Pulau Jawa, antara lain Jakarta, Surabaya dan Semarang,
sedangkan di luar Pulau Jawa terjadi, antara lain, di Medan, Denpasar, Makasar dan
Manokwari. Salah satu jenis sampah yang kerap menjadi masalah dan masih sulit
untuk kita tangani adalah sampah plastik. Menurut Dirjen Pengelolan Sampah,
Limbah, dan B3 KLHK, Tuti Hendrawati Mintarsih, jumlah sampah plastik Indonesia
di 2019 diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton.

Peningkatan sampah ini dapat disebabkan oleh salah satunya, yaitu jumlah
penduduk yang semakin banyak, khususnya di daerah perkotaan. Pada tahun 2030
diproyeksikan lebih dari 60 persen penduduk Indonesia yang tinggal di daerah
perkotaan. Meningkatnya jumlah penduduk di setiap daerah menyebabkan jumlah
sampah, khususnya sampah plastik yang dihasilkan rumah tangga pun semakin
meningkat terutama di kota-kota besar yang padat penduduknya, seperti Jakarta,
Bandung, Surabaya dan lainnya.

Sering kita ditemui, seperti di sungai-sungai, selokan-selokan, dan berbagai tempat


lainnya tersumbat oleh sampah botol plastik, kantong plastik dan kemasan plastik
lainnya. Semakin banyak sampah tersebut bila dengan pengelolaan yang tidak baik
dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, baik berupa pencemaran air, tanah
dan udara serta gangguan kesehatan lainnya. Hal ini pun diserta kurangnya
perhatian masarakat terhadap kebiasaan hidup sehat yang dapat menyebabkan
tingginya angka kesakitan dan kematian.

Rendahnya kualitas lingkungan akibat sampah seharusnya dapat kita dihindari


dengan adanya kesadaran baik dari setiap individu maupun masyarakat. Upaya
membangun kesadaran tersebut dimulai sejak dini dari lingkup terkecil, yaitu
keluarga. Itulah sebabnya, masalah pengelolaan dan kesiapan dari setiap individu
ataupun masarakat di setiap daerah dalam menangani sampah plastik. Kita dapat
mengelola sampah, meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Penanganan
sampah juga perlu didukung sarana dan prasarana yang memadai. Semakin banyak
jumlah penduduk di suatu kota, maka diperlukan sarana dan prasarana kebersihan
yang semakin banyak pula. Pengelolaan sampah dapat kita upayakan dengan 3R
yaitu Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), Recycle (mendaur
ulang sampah). Konsep 3-R , diharapkan jumlah sampah yang masuk ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA)/Tempat Pembuangan Sementara (TPS) dapat
diminimalisir.

Bagi yang peduli pada bumi pasti berpikir, bagaimana mengakhiri masalah sampah
plastik tersebut? Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menghentikan, yaitu
setidaknya kita mengurangi, contohnya mengurangi menggunakan kemasan,
kantong plastik dan sebagainya. Sebenarnya banyak upaya yang bisa kita lakukan
untuk mengurangi sampah plastik tersebut. Contoh lainnya yaitu kebijakan yang
dibuat oleh pemerintah seperti pembayaran kantong plastik yang digunakan
konsumen di toko-toko ritel. Kebijakan ini mulai diberlakukan oleh Kementrian
Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 21 Februari 2016. Semoga kita
sebagai orang yang peduli dengan bumi, dapat menerapkan dan mengubah perilaku
dalam upaya mengurangi sampah plastik.