You are on page 1of 11

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Mata

Periode 30 Maret s/d 2 Mei 2015


RS Family Medical Center (FMC), Sentul

Laporan Kasus
Abrasi Kornea et causa Post Trauma pada Ocular Sinistra

Oleh:
Selley Kenanga

11.2014.102

Pembimbing :

dr. Saptoyo Argo Marosidi, Sp.M

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA


Jl. Terusan Arjuna No.6 Kebon Jeruk –Jakarta Barat
KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
Hari/Tanggal Ujian/Presentasi Kasus : April 2015
SMF ILMU PENYAKIT MATA
Rumah Sakit Family Medical Center-Sentul

Tanda Tangan
Nama : Selley Kenanga
NIM : 11-2014-102 .............................

Dr. Pembimbing : dr. Saptoyo A.M, Sp.M .............................

STATUS PASIEN
I. IDENTITAS
Nama : Tn. MSP
Tempat/Tanggal lahir : Jakarta, 18 Agustus 1999
Umur : 15 tahun 7 bulan 28 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan terakhir : SD
Alamat : Raya tengah RT 02/012
Status Perkawinan :-
Tanggal Pemeriksaan : 15 April 2015; Jam: 13:30

II. ANAMNESIS
Dilakukan Autoanamnesis pada tanggal 15 April 2015

Keluhan Utama:
Sakit hebat pada mata kiri

Keluhan tambahan:
Pasien merasakan perih bila membuka mata kiri dan tampak keputihan yang menutupi
penglihatannya pada mata kiri.

2
Riwayat Penyakit Sekarang:
Setelah kecelakaan yang terjadi pasien merasakan sakit hebat pada mata kiri
yang dirasakan setiap pasien menggerakan mata. Saat mencoba mengintip dengan
mata kiri, pasien hanya melihat layar putih. Pasien jatuh dengan kepala masih
memakai helm namun kaca penutup helmnya terbuka. Selain pada mata, pasien juga
mendapatkan beberapa luka lecet pada tangan kanan dan kedua lutut. Pusing, mual
dan muntah disangkal oleh pasien. Setelah kecelakaan pasien dibawa terlebih dahulu
ke IGD RS FMC, kemudian oleh dokter IGD dilakukan konsultasi ke poliklinik mata
FMC.

Riwayat Penyakit Dahulu


a. Umum
Pasien menyangkal adanya diabetes melitus, hipertensi maupun penyakit lain.
b. Mata
- Riwayat sakit mata sebelumnya : tidak ada
- Riwayat penggunaan kaca mata : tidak ada
- Riwayat operasi mata : tidak ada
- Riwayat trauma mata sebelumnya : tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga:


Ada riwayat Asma pada Ibu pasien.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. STATUS GENERALIS
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos Mentis
Tanda Vital : Tekanan Darah : 110/80mmHg
Nadi : 86 x/menit
Respirasi : 25 x/menit
Suhu : 36.7oC
Kepala/leher : Deformitas (-), Pembesaran KGB tidak ada
Thorax, Jantung : dalam batas normal
Paru : dalam batas normal
Abdomen : dalam batas normal
3
Ekstremitas : adanya vulnus laceratum pada regio sepertiga distal femur
dextra dan sinistra. Serta adanya vulnus laceratum pada regio sepertiga proksimal
antebrachii dextra.

B. STATUS OPTHALMOLOGIS

OD PEMERIKSAAN OS
1,0 Visus Tidak dapat dinilai
Tidak dinilai TIO Tidak dinilai
Normal Posisi Bola Mata Normal
Edema pada palpebral
Normal Palpebra
superior dan inferior
Injeksi konjungtiva, hiperemis
Adanya injeksi
Pada konjungtiva tarsal
Konjuntiva konjungtiva, injeksi
didapatkan adanya corpus
siliaris dan hiperemis
alienum dan hiperemis
Jernih Kornea Abrasi luas
Normal Bilik mata depan Normal
Berwarna coklat Iris Berwarna coklat
Bulat, sentral, diameter ±2 Bulat, sentral, diameter
Pupil
mm, refleks pupil (+) ±2 mm, refleks pupil (+)

Jernih Lensa Jernih


RF (-), Papil bulat batas
RF (+), Papil bulat batas tegas, Fundus tegas, C/D 0,3; A/V 2:3,
C/D 0,3; A/V 2:3, RM (+)
RM (+)

Tidak dinilai Pergerakan Bola Mata Tidak dinilai

Tidak dinilai Konfrontasi Tidak dinilai

4
IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dilakukan pemeriksaan Slit Lamp hasilnya di dapatkan adanya abrasi kornea yang
luas pada mata kiri.

Gambar 1. Mata kiri terdapat abrasi kornea yang luas

V. RESUME
Seorang laki-laki berumur 15 tahun dengan keluhan nyeri hebat pada mata kiri yang
disebabkan oleh karena post trauma dari kecelakaan lalu lintas dengan kondisi memakai helm
namun tidak menutup kaca depannya sehingga mengenai matanya. Kelopak mata kiri
dirasakan membengkak. Setelah kejadian, pasien langsung segera di antar ke IGD RS FMC.
Pasien tidak mengalami mual, muntah maupun pusing setelah kecelakaan.

VI. DIAGNOSIS KERJA


Abrasi kornea et causa post trauma OS
Dasar diagnosis:
Tampak adanya epitel kornea yang terkelupas yang disebabkan oleh adanya gesekan yang
keras pada epitel kornea. Pasien merasa sakit sekali akibat erosi merusak kornea yang
mempunyai serat sensibel yang banyak.

5
VII. DIAGNOSIS BANDING
Pada kasus ini, pasien tidak dapat di diagnosis banding dengan diagnosa yang lain. Hal ini
dikarenakan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang yang
dilakukan cukup untuk menegakkan diagnosis kerja yaitu abrasi kornea et causa post trauma
OS.

VIII. PEMERIKSAAN ANJURAN


Tes fluorescein pada mata dengan menggunakan sslit lamp (cahaya warna biru)

IX. PENATALAKSANAAN
Langkah awal dilakukan debridemen pada kedua bola mata. Pertama-tama diberi
anestesi topikal kemudian dilakukan pembersihan pada kedua bola mata dengan cairan
fisiologis seperti NaCl 0,9% untuk membuang epitel yang lepas serta membersihkan mata
dari kemungkinan adanya benda asing yang masuk, selanjutnya diberikan antibiotik topikal
pada mata. Setelah penanganan selesai, pasien diberikan medika mentosa berupa antibiotik
topikal dan oral serta analgesik oral. Proses penyembuhan epitel kornea bisa dilindungi
dengan penggunaan bandage soft contact lens.

X. PROGNOSIS
OCCULI DEXTRA (OD) OCCULI SINISTRA (OS)
Ad Vitam : Bonam Bonam
Ad Fungsionam : Bonam Bonam
Ad Sanationam : Bonam Bonam

6
TINJAUAN PUSTAKA
Pendahuluan

Mata merupakan organ perifer sistem penglihatan. Mata menerima rangsang sinar dan
mengubahnya menjadi impuls saraf yang berjalan di sepanjang lintasan visual yang terdiri
atas retina, nervus optikus, khiasma optikum, traktus optikus, dan radiasio optika yang
akhirnya akan mencapai korteks visual di fissura kalkarina sehingga timbul sensasi melihat.
Perlindungan untuk organ ini amat penting, dikarenakan bila terjadi kelainan dapat
menyebabkan kerusakan bahkan sampai kebutaan pada mata. Salah satu kelainan yang
terdapat pada mata yang akan di bahas pada tinjauan pustaka ini adalah Abrasi kornea.
Kornea merupakan dinding depan bola mata, berupa jaringan transparan dan avaskuler.
Memiliki fungsi untuk proteksi, refraksi serta filtrasi cahaya UV. Pada trauma tumpul mata,
kornea diperiksa untuk mencari apakah terdapat kehilangan lapisan epitel (abrasi), laserasi
dan benda asing. Abrasi kornea merupakan terkikisnya lapisan kornea (epitel) oleh karena
trauma pada bagian superfisial mata. Keadaan terkelupasnya epitel kornea dapat diakibatkan
oleh gesekan keras pada epitel kornea. Erosi dapat terjadi tanpa cedera pada membran basal.
Penegakkan diagnosis abrasi kornea pada umumnya di dapatkan adanya riwayat trauma
tumpul dengan gejala-gejala seperti rasa nyeri pada mata, fotofobia, rasa mengganjal,
blefarospasme, pengeluaran air mata berlebihan, kelopak mata bengkak dan visus yang
menurun.

Tujuan Presentasi Kasus

Tujuan pembuatan tinjauan pustaka ini adalah untuk kasus penanganan agar dokter layanan
primer dapat segera melakukan penatalakasanaan pertama sebelum dilakukan perujukan ke
spesialis mata, sehingga tujuan meminimalisir kerusakan yang terjadi pada mata pasien dapat
tercapai.

Masalah dalam penanganan Abrasi Kornea

Masalah yang ditemukan pada kasus abrasi kornea adalah apabila tidak segera dilakukan
debridemen serta pemberian antibiotik maka dapat timbul kerusakan lebih lanjut oleh karena
corpus alienum yang masuk ke dalam mata atau bahkan dapat terjadi ulkus kornea maupun
recurrent corneal erosion.

7
Pembahasan Abrasi Kornea

Abrasi Kornea merupakan kondisi medis yang melibatkan hilangnya atau rusaknya
lapisan permukaan epitel kornea mata. Diagnosis untuk kasus ini dapat ditegakkan dengan
melakukan anamnesis dan pemeriksaan oftamologi yang tepat.

Etiologi, umumnya disebabkan karena terjadinya trauma pada permukaan mata; benda asing,
tertusuknya mata oleh jari, alat-alat make-up, kecelakaan kerja. Ada 2 kategori pada abrasi
kornea yaitu abrasi superfisial, hanya sebatas lapisan epitel saja dan abrasi profunda, abrasi
yang terjadi hingga pada membran descemen tanpa disertai ruptur pada membran tersebut.

Pemeriksaan, kebanyakan kasus abrasi kornea perlu diberikan anestesi topikal terlebih
dahulu sebelum dilakukan pemeriksaan pada mata. Langkah pertama adalah inspeksi dari
wajah pasien yang berhubungan dengan kerusakan yang terjadi yang disertai langsung
dengan inspeksi kornea. Pemeriksaan permukaan konjungtiva tarsalis palpebral superior serta
inferior penting pada setiap kasus abrasi kornea. Inspeksi kornea dengan menggunakan
penlight biasanya membantu dalam mendeteksi kornea yang ireguler dengan reflek cahaa,
yang dapat mengindikasikan adanya abrasi. Pemeriksaan slit lamp pada area yang sama
dengan cahaya biru setelah mata ditetesi fluorescein dilakukan untuk mengetahui area yang
terkena abrasi (akan berwarna hijau). Pada kasus berat, dengan edema yang berat harus
diperhatikan lapisan membrane descemen juga.

Manifestasi Klinis, pasien merasakan nyeri hebat karena paparan rangsangan pada ujung
reseptor nyeri yang ada pada kornea, mata berair dan ketidakmampuan membuka mata
(blepharospasme). Selain itu dapat juga terdapat adanya fotopobia, rasa mengganjal, serta
visus yang menurun.

Penatalaksanaan, Kornea memiliki kemampuan untuk menyembuhkan diri sendiri, dimana


pengobatan yang diberikan bertujuan untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Abrasi kornea
merupakan suatu defek yang terasa nyeri tetapi penyembuhannya cepat, terbatas pada epitel
permukaan kornea, meskipun lapisan Bowman dan stroma superfisial bias juga terkena.
Dalam waktu satu jam setelah trauma, sel epitel parabasilar mulai membelah dan bermigrasi
ke seluruh denudation area hingga mencapai sel yang bermigrasi lainnya, kemudian contact
inhibition menghentikan migrasi lebih jauh. Secara terus-menerus sel basal di sekitar
bermitosis untuk menutup defek. Meskipun abrasi kornea yang luas biasanya ditutup oleh sel
epitel yang bermigrasi dalam 24-48 jam, tapi penyembuhan yang lengkap termasuk restorasi

8
ketebalan epitel dan reformasi fibril membutuhkan waktu 4-6 minggu. Sebagai langkah awal,
diberikan pengobatan yang bersifat siklopegik untuk mengurangi nyeri dan meningkatkan
kenyamanan seperti Atropine 1% pada kasus yang berat, Hematropine 5% pada kasus sedang
dan Cyclopentolate 1% untuk pasien dengan abrasi yang ringan. Anjuran selanjutnya yaitu
pada obat topikal antibiotik yang terdiri dari polytrim, gentamycin dan tombramycin. Selain
itu, pasien dianjurkan untuk istirahat total (bed-rest) diharapkan tidak adanya pergerakkan
pasien secara aktif. Apabila pasien merasa nyeri, diberikan pengobatan topikal nonsteroid
anti inflamasi (Voltaren, Acular atau Ocufen).

Komplikasi, apabila penyembuhan epitel tidak terjadi secara baik kerusakan dapat terjadi
hingga pada daerah membrane descemen. Dengan keadaan seperti itu, maka akan terjadi
pelepasan pada lapisan kornea hingga terjadi Recurrent corneal erosion (RCE) dalam
beberapa bulan atau hingga beberapa tahun.

Prognosis, pada pengobatan topical umumnya dengan prognosis yang baik. Penyembuhan
pada lapisan kornea ini dapat terjadi dalam beberapa hari (dengan kecepatan 1 sampai 2 mm
per hari) dan tidak menyebabkan kerusakan penglihatan secara permanen.

9
PEMBAHASAN KASUS ABRASI KORNEA

Pada diagnosis kasus abrasi kornea dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis,


pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang. Berdasarkan hasil anamnesis didapatkan
pasien seorang laki-laki berusia 15 tahun dengan keluhan nyeri hebat pada mata kiri yang bila
digerakkan terasa sangat nyeri sedangkan mata kanan tidak ada keluhan. Pasien baru saja
mengalami kecelakaan lalu lintas saat mengendarai motor dengan kondisi memakai helm
namun tidak menutup kaca depannya sehingga mengenai matanya. Kelopak mata kiri juga
dirasakan membengkak. Setelah kejadian pasien langsung segera di antar ke IGD RS FMC.

Pemeriksaan opthalmologi pada kasus ini diperlukan pemberian anestesi topikal terlebih
dahulu pada oculi sinistra, karena pasien merasa kesakitan saat menggerakan bola mata
sehingga kondisi mata terus tertutup. Setelah pemberian anestesi topikal didapatkan hasil
inspeksi Oculi dextra (OD) tampak adanya injeksi konjungtiva serta hiperemis pada
konjungtiva bulbi serta hiperemis pada konjungtiva tarsal sedangkan pada Oculi sinistra (OS)
tampak adanya oedem pada palpebral superior serta inferior, pada kornea tampak adanya
abrasi yang berbentuk seperti selaput berwarna putih, terdapat adanya hiperemis, injeksi
konjungtiva serta siliaris pada konjungtiva bulbi.

Penatalaksanaan awal pada pasien adalah debridemen kedua bola mata. Pertama-tama diberi
anestesi topikal kemudian dilakukan pembersihan pada kedua bola mata dengan cairan
fisiologis seperti NaCl 0,9% untuk membuang epitel yang lepas serta membersihkan mata
dari kemungkinan adanya benda asing yang masuk, selanjutnya diberikan antibiotik topikal
pada mata. Setelah penanganan selesai, pasien diberikan medika mentosa berupa antibiotik
topikal dan oral serta analgesik oral. Proses penyembuhan epitel kornea bisa dilindungi
dengan penggunaan bandage soft contact lens.

Prognosis pada pasien ini bila ditatalaksana secara segera dan tepat maka secara ad vitam:
bonam; ad functionam: bonam; ad sanationam: bonam pada ODS. Pada pasien di anjurkan
untuk datang berobat kembali bila terjadi peradangan, bila tidak ada minta pasien untuk
kontrol kembali 1 minggu lagi.

10
REFERENSI

1. Kanski JJ. Clinical ophthalmology a systematic approach. 6th Ed. Philadelphia:


Elsevier; 2008. p. 854.
2. American academy of ophthalmology. External disease and cornea: Basic and
clinical science course. Section 8. San Francisco: American academy of
ophthalmology; 2010. p. 372
3. Verma A. Corneal abrasion. Medscape: Updated Feb 20 2014. [Online].
http://emedicine.medscape.com/refarticle/1195402-overview.
4. Ilyas HS, Yulianti SR. Ilmu penyakit mata. Edisi 4. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI;
2013. h. 266-7.
5. Kumar P, Clark M. Kumar & Clark’s: Clinical Medicine. 8th Edition. Philadelphia:
Elsevier; 2012. p. 1059-60.

11