You are on page 1of 32

MODEL PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO,

KECIL DAN MENENGAH (UMKM) BERBASIS KOLABORASI

Rusdin
Universitas Padjadjaran
e-mail: rusdin@unpad.ac.id

Suryanto
Universitas Padjadjaran
e-mail: suryanto70@yahoo.com

Zenal Muttaqin
Universitas Padjadjaran
e-mail: zaymut_165@yahoo.co.id

Abstrak
Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi isu
penting sebagai performance driver dalam meningkatankan pendapatan perkapita.
Namun demikian, penyerapan tenaga kerja, kemandirian dan kemitraan masih
merupakan permasalahan. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi profile UMKM dan
lembaga/instansi yang melakukan pemberdayaan, sehingga terbentuknya model
kolaborasi pemberdayaan UMKM. Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dan
data dianalisis secara deduktif. Regulator, pelaku, dan stakeholder’s merupakan sumber
data utama, yang dilakukan di wialayah Kota Bandung, dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik komunikasi langsung. Hasil penelitian
menunjukkan: (1) Indentifikasi UMKM meliputi: jumlah industri yang cukup banyak,
memiliki potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja, berkontribusi dalam
pendapatan daerah. Upaya pemberdayaan telah dilakukan oleh pemerintah (BUMN,
BUMD dan Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian), Kamar Dagang dan Industri
maupun swasta, namun belum menunjukkan tingkat efektivitas. (2) Aspek manajerial,
permodalan, program kemitraan, penciptaan iklim yang kondusif, sistem pendukung
(sarana dan prasarana), dan pembinaan merupakan faktor yang dapat membangun model
manajemen kolaborasi pemberdayaan UMKM.

Kata kunci: manajerial, pendanaan, program kemitraan, sistem pendukun,


penciptaan iklim, pembinaan, kolaborasi pemberdayaan

1. Pendahuluan
Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi isu
penting sebagai motor penggerak pertumbuhan dan peningkatan ekonomi di banyak
negara di dunia. Dinamika dan kinerja ekonomi yang sangat baik dengan laju

Page 1 of 32
Page 2 of 32

pertumbuhan yang tinggi di banyak negara adalah kinerja ekonomi nasional yang
ditopang kinerja UMKM yang efisien, produktif, dan berdaya saing tinggi. Di berbagai
belahan dunia, UMKM (Small and Medium-sized Enterprises (SMEs) berperan
sangat sentral terhadap pertumbuhan dan perkembangan perekonomian nasional suatu
negara.
Di berbagai belahan dunia, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Small and
Medium-sized Enterprises (SMEs) berperan sangat sentral terhadap pertumbuhan dan
perkembangan perekonomian nasional suatu negara. Di Uni Europa, UMKM secara
signifikan berkontribusi dalam perekonomian banyak negaranya. Konribusi tersebut
secara umum adalah dari sisi penyerapan tenaga kerja dan dalam peningkatan GDP
(European Commision, 2012). Tahun 2011-2012, secara umum Uni Eropa menghadapi
kondisi ekonomi yang sangat berat dengan krisis utang di negara-negara zona euro,
resesi, dan pertumbuhan ekonomi yang melemah pada beberapa negara. Pada kondisi
ini UMKM menjadi tulang punggung (backbone) perekonomian Uni Eropa dengan
jumlah perusahaan lebih dari 98% dari total perusahaan, yang memberikan kontribusi
penting dengan menyumbang rata-rata sekitar 58% GDP dan 67% total lapangan kerja
(Ecorys Nederland BV, 2012).
Peran UMKM terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di banyak negara-
negara Eropa cukup signifikan, Seperti di Perancis mencapai 99.80% dari total jumlah
perusahaan, dengan kontribusi lebih dari 56% GDP dan menyerap lebih dari 61%
tenaga kerja, UMKM di Jerman mencapai 99,55% dengan kontribusi 53% GDP
dan menyerap 61% tenaga kerja, UMKM di Italia mencapai 99,92% dengan
kontribusi 71% GDP dan menyerap 81% tenaga kerja, UMKM di Nederlands
mencapai 99,72% dengan kontribusi 62% GDP dan menyerap 68% tenaga kerja
(Europen Commision, 2012). Di Amerika, UMKM menyerap 99,9% tenaga kerja,
yang 88% di antaranya bergerap di bidang jasa. UMKM juga berperan penting dalam
kinerja ekspor, meskipun dalam mekanismenya UMKM tidak melakukan ekpor
secara langsung, melainkan kerjasama dengan perusahaan eksportir multinasional
(US International Trade Commision, 2010: 1-1). Sama halnya dengan UMKM di
negara-negara kawasan Uni Eropa dan Amerika, UMKM di negara-negara yang
berada di kawasan Asia Timur dan Tenggara seperti Jepang, Taiwan, Korea Selatan,
dan Singapura juga memiliki peran sentral yang pada gilirannya mendukung
perkembangan ekonomi nasional masing-masing (Sarana, 2003).
Empat prinsip dasar yang perlu dipahami dalam pemberdayaan (Principle of
Empowerment, World Bank, 2014). Keempat prinsip dasar tersebut adalah:
Information, Inclusion/participation, Accountability, dan Local organizational
capacity, yang dapat dikombinasikan untuk menciptakan pemberdayaan lembaga yang
lebih efektif, responsif, inklusif dan akuntabel.
Page 3 of 32

Tabel 1. Prinsip Pemberdayaan untuk Penurunan Kemiskinan


Inclusion/ Local organizational
Information participation Accountability capacity

Access to basic service √ √ - √


Improved local governance √ √ √ -
Improved national governance √ √ √ √
Pro-poor Market development √ √ - √
Access to justice and legal aid √ √ √ √
Sumber: WorldBank , 2014 (dimodifikasi peneliti, 2015)

Prinsip pemberdayaan sebagaimana telah diuraikan pada Tabel 1, merupakan upaya


membangun model. Namun demikian berbagai jenis model telah dibangun para peneliti
terdahulu, seperti: Whiteside (2009: 120) beliefs and attitudes meliputi atribut-
atribut: God; values; Autonomy, Responsibility and Optimism; Self Esteem and Pride.
Demikian halnya penlitian Quade (2010: p140) menjelaskan bahwa: A model, then, is
a substitute for reality – a representation of reality that is, hopefully, adequate for
the problem at hand. It is made up of factors relevant to a particular situation and to
the relations aming them. We Ask questions of the model, and from the answers we
hope to get some clues to guide us in dealing with the part of the real world to which
the model corresponds.
Hal yang sangat penting dalam konsepsi pemodelan adalah kejelasan mengatasi
saat terjadi kegagalan sistematik dengan pengembangan sistem dan kepatuhan untuk
membuktikan tujuan/teknik pengembangan (Sokolowksi, 2009).
Saat ini, pemberdayaan semakin diakui sebagai penentu peningkatan sosial
yang sangat mendasar. Hal ini dapat kita lihat dari berbagai konsep dan program
pemberdayaan yang bermunculan pada berbagai aspek kehidupan manusia.
Konsep dan program pemberdayaan yang telah diimplementasikan, banyak yang telah
dipublikasikan dalam bentuk pemodelan (modeling). Kelompok usaha mikro, kecil,
dan menengah merupakan wujud kehidupan ekonomi sebagian besar rakyat Indonesia.
Keberadaan kelompok ini tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhan perekonomian
secara nasional. Kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah mampu menyerap
lebih dari 64 juta tenaga kerja dan memberikan kontribusi sebesar lebih kurang 58,2%
dalam pembentukan Produk Domestika Bruto.
Dengan berlakunya UU 22/1999 tentang otonomi daerah, maka pemberian
otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada azas
desentralisasi dalam wujud otonomi yang luas, nyata dan bertanggung jawab. Daerah
memiliki kewenangan yang mencakup kewenangan dalam seluruh bidang
pemerintahan, kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri, pertahanan
keamanan, peradilan, moneter dan fiskal, dan agama. Dengan demikian daerah
mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan
Page 4 of 32

masyarakatnya menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai


dengan peraturan perundang-undangan.
Fenomena yang timbul dengan adanya perundangan tersebut, maka daerah diberi
kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya menurut
prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan, namun pendapatan dari pajak tetap diatur oleh pemerintah pusat dengan
proporsi 80% untuk Pusat, 8% untuk Provinsi, dan 12% untuk Kabupaten dan Kota.
Hal ini mengakibatkan dominasi pusat terhadap daerah sangat besar, sedangkan daerah
dengan segala ketidakberdayaannya harus tunduk dengan keinginan pusat tanpa
memperhatikan aspirasi masyarakat daerah. Dengan kata lain tidak seimbangnya
pendapatan dengan kewenangan untuk mengelola daerah, sehingga perlu upaya
peningkatan pendapatan daerah oleh pemerintah daerah dengan mengkaji berbagai
sumber pendapatan daerah. Salah upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah
adalah memberdayaan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) guna meningkatkan
pendapatan daerah khususnya Product Domestic Bruto (PDB).
Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) menjadi isu
penting sebagai motor penggerak pertumbuhan dan peningkatan ekonomi di banyak
negara di dunia. Dinamika dan kinerja ekonomi yang sangat baik dengan laju
pertumbuhan yang tinggi di banyak negara adalah kinerja ekonomi nasional yang
ditopang kinerja UMKM yang efisien, produktif, dan berdaya saing tinggi.
Guna pemberdayaan tersebut, pemerintah mengelurkan kebijkan di antaranya,
membentuk Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung.
Dengan kebijakan tersebut diharakan adanya peningkatan dalam 8 (delapan) aspek,
yaitu Pendanaan, Sarana dan prasarana, Informasi usaha, Kemitraan, Perijinan usaha,
Kesempatan berusaha, Promosi dagang, dan Dukungan kelembagaan. Pemberdayaan
UMKM selain dilakukan oleh pemerintah juga dilakukan oleh berbagai lembaga
perusahaan dan pendidikan, seperti BUMN/D, Kadin, Perbankan, LSM, dan
Lembanga Keuangan Berbasis Komunitas. Namun pemberdayaan tersebut dilakukan
secara parsial, sehingga tidak ada koordinasi, yang pada gilirannya menimbulkan
permasalahan baru, yaitu: (1) Menurunnya produktivitas, sebagai akibat UMKM focus
pada pembinaan dan mengabaikan kepentingan jangka pendek; (2) Operasional tidak
efisien, sebagai akibat berbagai jenis pengeluaran dana operasional yang tidak
terkendali dengan baik; (3) Menurunnya kualitas, kuantitas, dan kontinuitas, sebagai
akibat tidak beroperasinya system penjaminan mutu produk, dan produksi terus-
menerus sehingga banyak hasil produksi yang tidak terjual, yang pada gilirannya
persediaan menumpuk; (4) Meningkatnya risiko kerugian, (5) Kurang memberikan
social benefit, dan (6) Menurunnya ketahanan dan keamanan UMKM.
Permasalahan lain yang timbul, yaitu: masih rendahnya kesadaran masyarakat
terhadap pemahaman UMKM; masih rendahnya daya saing produk UMKM; masih
rendahnya kualitas SDM UMKM, Kurang optimalnya pengembangan UMKM;
Rendahnya kualitas produk ekspor dan kurangnya informasi mengenai prosedur
Page 5 of 32

ekspor; Masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap perlindungan konsumen dan


terjadinya gejolak harga serta masih beredarnya barang barang tiruan dan illegal di Kota
Bandung; dan belum optimalnya kualitas laporan keuangan. Upaya yang telah
dilakukan Dinas KUKM perindustrian, dan Kota bandung, yaitu: (1) Meningkatkan
kualitas kelembagaan, daya saing dan kemandirian UMKM; (2) Menguatkan daya
saing industri; (3) Meningkatkan pembinaan UMKM dalam dan luar negeri serta
pengamanan perdagangan; dan (4) Mewujudkan pertanggungjawaban keuangan yang
wajar, akurat dan pelaksanaan kinerja yang optimal. Namun kenyataannya tidak
dirasakan oleh pelaku UMKM, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil.
Idealnya kemanfaatan kemitraan yang dilakukan BUMN/D, Kadin, Bank
Indonesia, Bank Perkreditan Rakyat (BPR), LSM, dan Lembaga Keuangan Berbasis
Komunitas, dapat ditinjau dari 3 (tiga) sudut pandang. Pertama, dari sudut pandang
ekonomi, kemitraan usaha menuntut efisiensi, produktivitas, peningkatan kualitas
produk, menekan biaya produksi, mencegah fluktuasi suplai, menekan biaya penelitian
dan pengembangan, dan meningkatkan daya saing. Kedua, dari sudut moral, kemitraan
usaha menunjukkan upaya kebersamaan dam kesetaraan. Ketiga, dari sudut pandang
soial-politik, kemitraan usaha dapat mencegah kesenjangan sosial, kecemburuan
sosial, dan gejolak sosial-politik. Kemanfaatan ini dapat dicapai sepanjang kemitraan
yang dilakukan didasarkan pada prinsip saling memperkuat, memerlukan, dan
menguntungkan Merujuk pada permasalahan, maka tujuan dari penelitian ini, yaitu
untuk memperoleh bukti empirik agar dapat dievaluasi tentang : (1) Hasil identifikasi
profile usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), dan lembaga/instansi yang selama
ini melakukan pemberdayaan; (2) Hasil identifikasi tersebut, dapat ditemukan factor-
faktor yang dapat mebangun model manajemen kolaborasi pemberdayaan (UMKM) di
Kota Bandung.

2. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode deskripsi dengan pendekatan kualitatif.
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik komunikasi langsung, dengan teknik
wawancara dan studi dokumentasi. Unsur-unsur yang diteliti, meliputi aspek
manajerial, permodalan, program kemitraan, penciptaan iklim yang kondusif, sistem
pendukung (sarana dan prasarana), dan pembinaan.
Sasaran penelitian diarahkan untuk menjaring data identitas, karakteristik,
jumlah, jenis usaha, dan permodalan UMKM. Selain itu institusi/lembaga baik yang
dikelola pemerintah maupun yang dikelola perusahaan swasta yang telah melakukan
pembinaan sebagai upaya pemberdayaan UMKM di Kota Bandung. Sumber informasi
dalam penelitian ini adalah para pihak yang terlibat langsung dalam proses peristiwa
yang diteliti, yaitu proses pemberdayaan UMKM di Kota Bandung. Key informan pada
penelitian ini adalah: (1) Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian & Perdagangan
Kota Bandung; (2) Manajer Pembinaan UMK BUMN di Kota Bandung; (3) Manajer
Penyalur Kredit BI Kota Bandung; (4) Manajer Penyalur Kredit Bank Perkreditan
Rakyat Kota Bandung; (5) Para pelaku U M K M di Kota Bandung; (6) Ketua dan
Page 6 of 32

Staf Kantor Dagang dan Industri Kota Bandung; (7) Pengelola Lembaga Sosial
Masyarakat di Kota Bandung; (8) Pengelola Lembaga Keuangan berbasis Komunitas di
Kota Bandung
Analisis data dilakukan dengan pendekatan triangulasi sumber dan jenis data
dari berbagai sumber data, dengan fokus pada unsur yang diteliti, dan interpretasi
dilakukan merujuk pada teori, hasil penelitian sebelumnya, pendapat para ahli, dan
ketajaman pemikiran peneliti.

3. Hasil Penelitian dan Pembahasan

Deskripsi Profile UMKM di Kota Bandung


Pembangunan regional Kota Bandung merupakan pusat pertumbuhan wilayah
Indonesia Barat disamping DKI Jakarta. Peran sinergis Kota Bandung tersebut tentu
saja memerlukan adanya peningkatan pelayanan publik baik lokal, regional menjadi
Nasional. Kelengkapan infrastruktur perkotaan di kota Bandung berdampak
tersentralisirnya aktivitas perkotaan, sehingga menuntut adanya pengembangan bidang
usaha perdagangan dan perindustrian yaitu sentra perdagangan (barang kulit, jeans,
textile, Elektronik, kaos) dan sentra perindustrian (karet, elektronika, keramik, tahu,
tempe, boneka, topi, tas, sablon, keramik dan kain perca). Penigkatan sarana transportasi
dengan dibukanya jalan tol Cipularang membawa konsekuensi logis tentang penegasan
fungsi Kota Bandung sebagai Kota Jasa Perdagangan. Hal ini merupakan peluang dan
potensi daerah yang harus dikemas penataan dan pengelolaannya dalam rangka
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Peningkatan sarana dan prasarana penghubung
antar Kabupaten / Kota mengakibatkan pertumbuhan perdagangan di Kota Bandung
semakin pesat dan memberikan keuntungan yang meningkat pada ekonomi masyarakat.
Jumlah UMKM di Kota Bandung terus mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun, baik dari segi jumlah unit usaha, tenaga kerja maupun besaran investasinya. Pada
dasarnya, Usaha Mikro Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu sektor yang
cukup berperan dalam membangun perekonomian bangsa Indonesia. Di saat krisis
ekonomi global sedang melanda sekarang ini, baik melanda kalangan usaha di tingkat
internasional maupun kalangan usaha di Indonesia, sektor UMKM mampu menjadi
"katup pengaman" agar tenaga kerja tidak sampai menganggur. Sebagai upaya untuk
meningkatkan akuntabilitas, dilakukan reviu terhadap Indikator Kinerja Utama, dengan
memperhatikan capaian kinerja, permasalahan dan isu isu strategis yang sangat
mempengaruhi keberhasilan suatu UMKM.
Upaya meningkatkan SDM UMKM diukur dari 2 indikator yaitu: Persentase
SDM UMKM yang berkualitas. Penyelenggaraan diklat yang dilakukan oleh UPT Balai
Latihan Koperasi dan UKM bertujuan meningkatkan kualitas SDM UMKM. Melalui
upaya peningkatan kualitas SDM yang diharapkan pengelolaan UMKM akan menjadi
lebih baik, yang pada akhirnya mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian.
Namun hal ini belum tercapai secara optimal. Realisasi persentase SDM UMKM yang
Page 7 of 32

berkualitas sebesar 25.08%, yang terwujud melalui program pengembangan


kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM dengan jumlah peserta 185 orang.
Kegiatan pelatihan tersebut terdiri dari: (1) Pelatihan Analisis Rantai Nilai bagi Pelaku
UMKM; dan (2) Pelatihan Manajerial pengelola UMKM. Secara keseluruhan,
realisasi pada indikator semua indiktor baru sebagian yang telah memenuhi
target.
Berdasarkan potensi UMKM di Kota Bandung, berkontribusi terhadap
Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar 59, 63%. Penyerapan tenaga
kerja lebih dari 1 (satu) juta. Sehingga, potensi tersebut berkontribusi juga bagi
pendapatan Nnasional. Tantangan utama UMKM di Kota Bandung, yaitu permodalan
(kurang modal), yang selanjutnya adalah kurang mampu memasarkan, kesulitan bahan
baku dan keterbatasan sumber daya manusia (SDM). Keterbatasan SDM ini terkait
dengan keahlian penggunaan teknologi dan manajerial (pengelolaan usaha).
UMKM berdasarkan sektor Industri yang merujuk pada Klasifikasi Lapangan
Usaha Industri (KLUI) kota Bandung, sebagai berikut:

Tabel 2. UMKM Kota Bandung berdasarkan Sektor Industri


Kriteria Unit Usaha Tenaga Kerja
Menengah 4.530 27,567
Kecil 5,408 51,423
Mikro 7.156 43,321
Jumlah 17,094 122,311
Sumber: Hasil Studi Dokumentasi Berdasarkan KLUI (2015), diolah Penulis (2015)

Kota Bandung sudah sejak lama dikenal sebagai barometer fashion di


Indonesia. Di kota ini perkembangan fashion selalu bergerak dinamis dengan segala
kreativitas didalamnya. Sejak tahun 1990an sampai 2015 ini, tren distro (distribution
outlet) dan factory outlet (FO) membentuk identitas kota Bandung, sebagai kiblat
utama di bidang fashion. Industri fashion di Kota Bandung telah memberikan gairah
baru anak muda berkarya (Hasil wawancara dengan pengusaha muda Kota Bandung,
Juli 2015).
Perkembangan pengusaha ekonomi kreatif di Kota Bandung, semakin maju
pesat. Pada bulan April 2015 telah digelar Pameran Art and Craft 2015 oleh Dinas
Koperasi UKM dan Industri Perdagangan Kota Bandung, membuktikan bahwa
produk-produk ekonomi kreatif mampu bersaing di pasar global. Pameran tematik
tersebut merupakan yang kedua kalinya diadakan di Kota Bandung. Hal-hal baru dari
sisi craft jadi tolak ukur sebuah inovasi. Sehingga, kreativitas KUMKM di Kota
Bandung dapat sejajar dengan produk-produk yang dihasilkan Inacraft. ’’Tidak lama
lagi, kita akan mampu menembus pasar Inacraft,” kata Kepala Dinas KUKM dan Indag
Kota Bandung Eric M. Attauriq, di sela pameran art and craft di Graha Manggala
Siliwangi, Jalan Aceh Bandung.
Page 8 of 32

Tabel 3. Profil Berdasarkan Jumlah UMKM di Kota Bandung


Jumlah
Kecamatan Total
Mikro Kecil Menengah
Bojong Loa Kaler 128 48 132 308
Babakan Ciparay 119 248 193 560
Bandung Kulon 198 447 178 823
As tana Anyar 532 470 101 1,103
Bojong Loa Kidul 278 148 179 605
Sukas ari 367 167 158 692
Cicendo 176 97 55 328
Sukamis kin 198 86 21 305
Sukajadi 198 209 167 574
Andir 632 402 298 1,332
Cidadap 129 98 67 294
Coblong 178 92 73 343
Bandung W etan 196 89 134 419
Sumur Bandung 118 155 85 358
Cibeunying Kidul 138 329 86 553
Cibeunying Kaler 188 93 12 293
Buah Batu 278 172 167 617
Bandung Kidul 188 182 111 481
Cebeunying Kaler 289 148 189 626
Regol 298 167 571 1,036
Lengkong 302 182 119 603
Kiara Condorng 298 298 334 930
Batununggal 146 78 198 422
Ujung Beurung 312 434 269 1,015
Arcamanik 278 91 120 489
Cibiru 212 83 113 408
Antapani 298 249 112 659
Panyileukan 102 89 152 343
Cinambu 187 35 82 304
Mandala jati 195 22 54 271
Jumlah 7,156 5,408 4,530 17,094

Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung (2015),
diolah penulis (2015)

Dengan demikian, dapat diidetifikasi keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan


Menengah (UMKM) dalam kontek perekonomian di Kota Bandung cukup dominan dan
bermakna. Indikator : (1) Jumlah industri yang cukup banyak/besar; (2) Potensi yang
besar dalam penyerapan tenaga kerja; dan (3) Kontribusi UMKM dalam pembentukan
PDB cukup bermakna. Namun demikian, pada koridor semangat untuk
mengembangkan dan memberdayakan UMKM, ternyata bagi pihak intermediary
system, dalam hal ini pemerintah, dipandang masih sangat sulit menjadi primadona
portfolio investasi yang mampu meningkatkan nilai, khususnya perspektif investor
(Pemegang Saham).
Page 9 of 32

UMKM berdasarkan Sentra Industri dan Klasifikasi Lapangan Usaha Industri,


sebagai berikut:

Tabel 4. UMKM berdasarkan Sentra Industri dan Klasifikasi Lapangan Usaha


Industri (KLUI)
S entra Kriteria Unit Usaha
M enengah 2,898
Industri M akanan & M inuman Kecil 4,233
M ikro 6,222
M enengah 17
Pengolahan Tembakau Kecil -
M ikro -
M enengah 497
Industri Tekstil & Pakaian Jadi Kecil 415
M ikro 560
M enengah 282
Industri Kulit, Barang dari Kulit & Alas kaki Kecil 126
M ikro 211
M enengah 118
Industri Kay u, Barang dari Kay u & Gabus, dan
Barang Any aman dari Bambu, Rotan dan Kecil 12
Sejenisny a M ikro 30
M enengah 129
Industri Kertas, Percetakan dan Rep roduksi
M edia Rekaman Kecil -
M ikro -
M enengah 112
Industri Kimia, Farmasi & Obata Tradisional Kecil 11
M ikro 27
M enengah 98
Industri Karet, Barang dari Karet & Plastik Kecil -
M ikro -
M enengah 67
Industri Barang Galian Bukan Logam Kecil 15
M ikro 40
M enengah 59
Industri Logam Dasar Kecil -
M ikro -
M enengah 117
Industri Barang dari Logam, Komp uter, Barang
Kecil 34
Elektronik, Op tik & Peralatan Listrik
M ikro 10
M enengah 213
Industri M esin & Perlengkap an Kecil 150
M ikro -
M enengah 112
Industri Alat Angkut Kecil -
M ikro -
M enengah 62
Industri Furnitur Kecil 65
M ikro 35
M enengah 11
Industri Pengolahan lainny a Kecil 55
M ikro 15
Sumber: Dinas Koperasi, UKM dan Perindustrian Perdagangan Kota Bandung (2015), diolah
penulis (2015)
Page 10 of 32

Dengan adanya kecenderungan ini, pantas jika fakta penguasaan aset nasional
untuk pengusaha UMKM mencapai 8%, usaha koperasi juga hanya mencapai 10%.
Sedang untuk BUMN, pengusaan aset nasional mampu mencapai 24% dan sisanya
sebesar 58% dikuasai oleh 200-300 group usaha besar (Hasil Studi Dokumentasi,
2015). Di sisi lain, permasalahan UMKM yang berkaitan dengan sumber daya manusia
(human resources), manajemen, funding access, informasi teknologi dan market acces
membuat para pengusaha UMKM –umumnya- memposisikan diri untuk ”apatis“ dalam
membangun simbiosis yang harmonis dengan pihak intermediary. Dari hasil
wawancara memberika fakta bahwa sumber pembiayaan yang dilakukan oleh UMKM
lebih banyak diperoleh dari pembiayaan sendiri dan down payment pemberi order.
Sedangkan penggunaan jasa perbankan hanya untuk transaksi jasa ekspor untuk
pembayaran barang yang telah dikirim melalui Letter of Credit (L/C).
Rendahnya penggunaan jasa perbankan sebagai sumber pembiayaan atau
permodalan, disebabkan beratnya persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi
UMKM, prosedur pinjaman kredit yang cukup lama dan tingginya suku bunga yang
diterapkan. Hanya 31% pihak UMKM yang menerima kucuran kridit, sisanya
sebanyak 21% ditolak (tidak visible) dan bahkan 48% pengusaha UMKM tidak
mengajukan permintaan kucuran pendanaan sama sekali dari pihak perbankan (Studi
dokumentasi pada BPR, Bank BNI, dan Bank Indonesia, 2015).
Fakta di atas mengisaratkan dua hal penting, (1) pihak perbankan cenderung
masih kekurangan informasi mengenai potensi dan daya tarik investasi pada dunia
UMKM; dan (2) Disatu sisi permasalahan internal UMKM cenderung membatasi akses
informasi mengenai pola pembiayaan yang dapat ditawarkan kepada pihak perbankan.
Di sisi lain, isu mengenai penyediaan layanan informasi mengenai model pembiayaan
(lending model) yang diperuntukkan bagi pihak perbankan untuk sejumlah komoditas
potensial garapan UMKM. Kedua permasalahan (penjaminan dan pola pembiayaan)
kemudian diharapkan menjadi tiang beton penyanggah jembatan (bridging) semangat
penguatan jaringan kerjasama industri besar, UMKM, dan perbankan.
Upaya yang telah dilakukan pemerintah, diantaranya: (1) Kementerian BUMN
sejak tahun 2001, mengharuskan BUMN untuk menyisihkan 3-5% dari labanya untuk
membantu pendanaan UMKM (melalui Kemitraan); (2) Kementrian Koperasi dan
UMKM melancir program penjaminan dengan total dana yang terserap sebesar Rp.
367.327.500.000; (3) Departemen pertanian mengucurkan dana sebesar Rp.
85.000.000.000,- untuk program penjaminan Pembiayaan bidang Usaha Agrobisnis dan
Agroindustri; (4) Kementrian lingkungan hidup menyalurkan Debt Swept for Nature dari
pemerintan Jerman untuk pembiyaan UMKM ramah lingkungan sebesar Rp. 5.000.000.000;
(5) Departemen Kelautan dan Perikanan program penjaminan Dana Ekonomi Produktif
bagi Masyarakat Pesisir sebesar Rp 19.600.000.000; (6) Sejumlah Pemerintah Daerah
(seperti PEMDA Kutai) juga tidak mau ketinggalan dengan mengucurkan dana sebesar Rp
5.400.000.000,- untuk penjaminan pembiayaan Koperasi dan UMKM; (7) Sedang NGO Swiss
Page 11 of 32

Contatc melancir program penjaminan pembiayaan usaha ternak ayam di Provinsi NAD sebesar
Rp 480.000.000,-.
Upaya yang telah dilakukan Bank Indonesia sebagai bank central, yaitu: (1)
Kesepakatan Bersama antara Kementerian Koperasi & UKM, dan Bank Indonesia
tentang Pengembangan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah; (2) Nota
Kesepahaman antara Gubernur Bank Indonesia dan Menteri Pertanian Republik
Indonesia tentang Kerjasama Pengembangan Usaha di Sektor Pertanian; (3) Nota
Kesepahaman antara Bank Indonesia dan PT. Jatropha Green Energy tentang kerjasama
Pengembangan Klaster Komoditas Jarak Pagar; (4) Kesepakatan Bersama antara Bank
Indonesia dan Gabungan Kelompk Tani Mekarmukti dan PT. Mitratani Agro Unggul
tentang Kerjasama Pengembangan Klaster Cabai; (5) Kesepakatan Bersama antara
Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Bank Indonesia tentang Percepatan
Pembangunan Sektor Kelautan dan Perikanan sebagai Salah Satu Sektor Unggulan
dalam Perekonomian Indonesia; (6) Kesepakatan Bersama antara Departemen Kelautan
dan Perikanan dan Bank Indonesia tentang Pengembangan Konsultan
Keuangan/Pendamping Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Mitra Bank Sektor
Kelautan dan Perikanan.
Sampai akhir 2015 ini statistik kredit UMKM didasarkan pada Definisi Plafon, yaitu:
(1) kredit mikro dengan plafon s.d Rp 50 juta; (2) Kredit kecil dengan plafon lebih dari
Rp50juta s.d Rp 500 juta; (3) Kredit menengah dengan plafon lebih dari Rp500juta s.d
Rp 5 miliar.
Dalam definisi tersebut, seluruh jenis penggunaan kredit termasuk kredit
konsumtif masuk di dalam Statistik kredit UMKM. UU No. 20 Tahun 2008 tentang
UMKM mulai dilaksanakan untuk data laporan bulanan bank sejak Januari 2011, untuk
memberikan informasi yang lengkap tentang perubahan tersebut, maka dalam Statistik
kredit UMKM selama masa transisi (Januari sd akhir 2011) disajikan secara paralel,
yakni data kredit UMKM berdasarkan definisi/kriteria usaha dalam UU.20/2008 dan
data kredit MKM berdasarkan definisi plafond.
Karakteristik UMKM di Kota bandung, yaitu: (1) Ketiadaan pembagian tugas
dan delegasi yang jelas antara administrasi dan operasional. Faktanya, kebanyakan
usaha kecil dikelola tanpa sistem yang jelas; (2) Rendahnya akses terhadap lembaga-
lembaga kredit formal ke bank yang karenanya UMKM itu disebut unbankable; (3)
Sebagian besar pelaku usaha belum memiliki status badan hukum yang karenanya
mereka sulit mendapatkan pengakuan dari asosiasi; (4) Hampir sepertiga dari UMKM
bergerak dalam kelompok usaha kuliner, seperti minuman, dan handycraft; tekstil, dan
industri kayu, bambu, rotan, rumput, dan sejenisnya; termasuk perabot rumah tangga.

Lembaga-Lembaga Pemberdayaan UMKM di Kota bandung


Upaya Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung, telah dilakukan oleh baik
instansi/lembaga pemerintah maupun swasta (LSM, PTS, dan Komunitas peduli
UMKM). Upaya yang telah dilakukan Instansi/lembaga Pemerintah, dengan
Page 12 of 32

dibentuknya Dinas Koperasi, UKM, dan Perindustrian dengan Peraturan Daerah Kota
Bandung.

Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung


a. Kebijakan Dinas UMKM terkait potensi dan tantangan UMKM di Bandung
Kebijakan dilakukan peningkatan dalam 8 (delapan) aspek, yaitu Pendanaan,
Sarana dan prasarana, Informasi usaha, Kemitraan, Perijinan usaha, Kesempatan
berusaha, Promosi dagang, dan Dukungan kelembagaan. Ke 8 (delapan) aspek tersebut
menginisiasi pemerintah kota Bandung untuk mengiimplementasikannya dalam
program pemberdayaan UMKM di Kota Bandung.
b. Misi dan Arah Kebijakan
Misi dinas yaitu meningkatkan kualitas kelembagaan, produktivitas, daya saing
dan kemandirian KUMKM. Dengan arah kebijakan yaitu menciptakan iklim usaha
yang kondusif bagi berkembangnya UMKM, fasilitasi pelaku ekonomi untuk
mendapatkan HAKI, sertifikasi halal & standarisasi produk skala nasional dan
internasional, perlindungan dan dukungan usaha bagi UMKM, dan menfasilitasi
wirausaha pemula.
c. Program Pemberdayaan UMKM.
Merujuk pada arah kebijakan, maka dibentuk program pemberdayaan UMKM
sebagai berikut: (1) Pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM, dengan
kegiatan memberikan fasilitas dan intermediasi bagi UMKM; (2) Pengembangan
kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM, dengan kegiatan memberikan
fasilitas pengembangan kewirausahaan; (3) Program penciptaan iklim usaha kecil yang
kondusif, dengan kegiatan penyusunan kebijakan tentang UMKM, memberi fasilitas
pengembangan UMKM.
d. Implementasi Program Pemberdayaan UMKM
Program pemberdayaan UMKM, diwujudkan melalui kegiatan-kegiatan
sebagai berikut: (1) Pengembangan sistem pendukung usaha bagi UMKM, dengan
kegiatan memberikan fasilitas dan intermediasi bagi UMKM: (a) Pameran City Ekspo
Kota Bandung (APEKSI) [Mei 2015]; (b) Fasilitasi akses pembiayaan UMKM [April
2015]; (c) Bandung City Craft Day [Mei 2015]; (d) Fasilitasi Forum Pengrajin
DEKRANASDA [Juni 2015]; (e ) Bazar Ramadhan 1435 H [Juli 2015]; (f) Workshop
Desain Produk UMKM [Juni 2015]; (G) Workshop E-commers UMKM [Mei 2015];
(h) Sinergisitas pemberdayaan UMKM berbasis kewilayahan [September 2015]; (i)
Penyusunan kebijakan tentang UMKM [April 2015].
e. Pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif UMKM
Dengan kegiatan memberikan fasilitas pengembangan kewirausahaan; (a)
Seminar, FGD, Sosialisasi wirausaha baru [April-Mei 2015]; (b) Seleksi wirausaha
baru [April-Mei 2015]; (c) Launching wirausaha baru [Mei 2015]; (d) Bintek wirausaha
baru [Mei-Oktober 2015]; (e) Pendampingan dan magang wirausaha baru [Mei-
Oktober 2015]; (f) Pameran produk wirausaha baru [September-November 2015];
f. Program penciptaan iklim usaha kecil yang kondusif,
Dengan kegiatan penyusunan kebijakan tentang UMKM, memberi fasilitas
pengembangan UMKM: (a) Workshop fasilitas hak merek 50 UMKM [April 2015];
(b) Workshop UMKM Kreatif [Mei 2015]; (c) Pameran Ramadhan/Hijab Fair [Juli
2015]; (d) Jabar Ekspo [Agustus 2015]; (e) Pontianak Ekspo [Juni 2015], (f) Pameran
2 event (tentatif); (g) Kontak Bisnis UMKM [Mei 2015].
Page 13 of 32

g. Kerjasama dalam Pemberdayaan UMKM


Setiap program pemberdayaan UMKM oleh Dinas Koperasi, UKM dan
Perindustrian Kota bandung melibatkan mitra lain, tetapi tidak dalam bentuk kontrak
atau perjanjian kerjasama. Kerjasama yang dilakukan sebatas pada event tertentu seperti
sebagai narasumber maupun fasilitator. seperti program fasilitas hak merek;
bekerjasama dengan Kemenkumham, program fasilitasi akses pembiayaan;
bekerjasama dengan BJB (tidak harus BJB, dibuka peluang bagi semua Bank), dan
pameran; bekerjasama dalam penyewaan tempat pameran (hanya sebatas bukti
pembayaran).
h. Dasar kerjasama (tanpa kontrak/perjanjian).
Fungsi pemerintah sebagai regulator dan fasilitator. Sehingga, selain
pembentukan kebijakan bagi UMKM di Kota Bandung, juga menfasilitasi dalam
pengembangan UMKM melalui program-program yang diadakan oleh Dinas KUMKM
dan Perindag serta mitra kerjasama yang bersangkutan seperti Kadin, Dekranasda dan
lembaga lainnya. Selain itu, Wali Kota Bandung (Ridwan Kamil) menerapkan Kuadran
Helix sebagai implementasi UU No 20 Tahun 2008, yaitu dengan kolaborasi antara
birokrasi, akademisi, dunia usaha dan komunitas dalam pemberdayaan UMKM.
Sehingga, di Kota Bandung ada Forum CSR (mengacu pada Perda No 13 Tahun 2013
tentang CSR). Sedangkan kerjasama yang dilakukan Dinas KUMKM dan Perindag
hanya sebatas sebagai narasumber/fasilitator saja (bentuk kolaborasinya).
Pemberdayaan UMKM selain dilakukan oleh pemerintah juga dilakukan oleh
berbagai lembaga perusahaan dan pendidikan. Berikut ini beberapa lembaga atau
perusahaan yang melakukan program pemberdayaan UMKM di Kota Bandung:

Badan Usaha Milik Negara (BUMN)


Badan Usaha Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan istilah lain dari
Perusahaan Negara (State-Owned Enterprise / SOEs). Istilah tersebut baru dikenal
sejak diterbitkannya Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 1983. Perusahaan negara
atau yang sekarang dikenal dengan BUMN merupakan badan hukum korporasi dengan
modal dimiliki, baik sebagian ataupun seluruhnya oleh negara. (UU, No. 19, 2003).
Keberadaan BUMN dalam aktivitas perekonomian di Indonesia mendapat
landasan yuridis berupa UUD 1945 Pasal 33 yang memberikan hak kepada negara
untuk menguasai cabang-cabang produksi yang penting dan menguasai hajat hidup
orang banyak. Secara lebih spesifik, BUMN juga diatur oleh beberapa undang-undang
dan peraturan di bawahnya. BUMN diatur dengan UU Nomor 19 tahun 2003 tentang
BUMN. Dengan berlakunya UU ini, maka semua peraturan perundangan sebelumnya
dinyatakan tidak berlaku. Melalui kerja sama usaha dengan swasta maupun BUMN,
aset-aset yang masih idle tersebut akan menjadi salah satu kunci dalam upaya untuk
mewujudkan BUMN yang sehat, berkinerja baik, dan berdaya saing tinggi.
Lahirnya undang-undang ini dimaksudkan untuk mengatur pengelolaan BUMN
dalam rangka meningkatkan kinerja dan produktivitas. Undang-Undang tentang
BUMN ini dimaksudkan untuk memenuhi visi pengembangan BUMN di masa yang
akan daraih, antara lain: (1) menciptakan pengelolaan dan pengawasan BUMN
berdasarkan prinsip efisiensi dan produktivitas guna meningkatkan kinerja BUMN; (2)
menata dan mempertegas peran lembaga peme-rintah dan posisi wakil pemerintah
sebagai pemegang saham/pe-milik modal BUMN; (3) mempertegas dan memperjelas
hubungan BUMN sebagai operator atau pelaku usaha dengan lembaga pemerintah
Page 14 of 32

sebagai regulator; (4) menghindarkan BUMN dari tindakan-tindakan eksploitasi di luar


mekanisme korporasi; (5) meletakkan dasar-dasar atau prinsip-prinsip tata kelola
perusahaan yang baik (good corporate governance).
Guna menunjang pelaksanaan program restrukturisasi BUMN, pada tahun 2007
Pemerintah telah melakukan penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) pada 7
(tujuh) BUMN senilai Rp. 1,3 Triliun. Selain itu, tambahan PMN juga diberikan kepada
2 (dua) BUMN lainnya yaitu Askrindo dan SPU senilai Rp. 1,4 Triliun, guna
mendukung pengembangan UMKM melalui program penjaminan kredit, melalui
Program Kemitraan.

Badan Usaha Milik Daerah (BUMD)


Badan usaha milik daerah (BUMD) adalah perusahaan yang didirikan dan
dimiliki oleh pemerintah daerah. Kewenangan pemerintah daerah membentuk dan
mengelola BUMD ditegaskan dalam Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000 tentang
kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah otonom. Ciri-ciri
BUMD, yaitu: (1) Pemerintah daerah memegang hak atas segala kekayaan dan usaha;
(2) Pemerintah daerah berkedudukan sebagai pemegang saham dalam pemodalan
perusahaan; (3) Pemerintah daerah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam
menetapkan kebijakan perusahaan; (4) Didirikan peraturan daerah (perda); (5)
Dipimpin oleh direksi yang diangkat dan diberhentikan oleh kepala daerah atas
pertimbangan DPRD; (6) Masa jabatan direksi selama empat tahun; dan (7) Bertujuan
memupuk pendapatan asli daerah guna membiayai pembangunan daerah.
Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) di Kota Bandung, yaitu: (1) Bank
Pembangunan Daerah (BPD); (2) Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM); (3)
Perusahaan Daerah Angkutan Kota (bus kota); (4) Perusahaan Daerah Rumah Potong
Hewan (PDRPH). Tujuan pendirian BUMD, yaitu: (1) Memberikan sumbangsih pada
perekonomian nasional dan penerimaan kas negara; (2) Mengejar dan mencari
keuntungan; (3) Pemenuhan hajat hidup orang banyak; (4) Perintis kegiatan-kegiatan
usaha; (5) Memberikan bantuan dan perlindungan pada UMKM.

Bank Indonesia (BI)


Dalam rangka mendorong intermediasi perbankan kepada sektor riil dan
UMKM, salah satu upaya yang dilakukan Bank Indonesia adalah dengan menyediakan
informasi data profil UMKM yang tidak sedang mendapatkan pembiayaan perbankan,
namun membutuhkan kredit/pembiayaan dalam rangka pengembangan usahanya.
Dengan tersedianya data profil UMKM dimaksud, diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi para pihak terutama bagi UMKM dalam rangka
mempercepat akses pembiayaan dari perbankan. Data profil UMKM menyajikan data
informasi pengusaha (nama perusahaan, lama usaha, alamat, dll) serta data usaha yang
antara lain mencakup informasi kegiatan usaha, tingkat persaingan usaha, total asset,
rata-rata penjualan per tahun, proyeksi pertumbuhan, kebutuhan pembiayaan, taksiran
aset untuk jaminan kredit serta jumlah dokumen persyaratan kredit.
Upaya pemberdayaan UMKM dapat diibaratkan seperti lima jari di tangan kita.
Setiap jari mempunyai peran masing-masing dan tidak dapat berdiri sendiri, akan lebih
kuat jika digunakan secara bersamaan. Beragam informasi mengenai komoditi UMKM,
juga mengenai produk dan jasa perbankan, antara lain mengenai komoditi UMKM yang
Page 15 of 32

potensial di suatu daerah, pola pembiayaan komoditi unggulan, pola pengembangan


klaster UMKM, skim kredit program Pemerintah, konsultasi usaha dari sisi finansial,
kisah sukses pembiayaan, profil UMKM yang layak dibiayai oleh Bank.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam perekonomian nasional
memiliki peran yang penting dan strategis. Namun demikian, UMKM masih memiliki
kendala, baik untuk mendapatkan pembiayaan maupun untuk mengembangkan
usahanya. Dari sisi pembiayaan, masih banyak pelaku UMKM yang mengalami
kesulitan untuk mendapatkan akses kredit dari bank, baik karena kendala teknis,
misalnya tidak mempunyai/tidak cukup agunan, maupun kendala non teknis, misalnya
keterbatasan akses informasi ke perbankan. Dari sisi pengembangan usaha, pelaku
UMKM masih memiliki keterbatasan informasi mengenai pola pembiayaan untuk
komoditas tertentu. Di sisi lain, ternyata perbankan juga membutuhkan informasi
tentang komoditas yang potensial untuk dibiayai.
Sehubungan dengan hal tersebut, dalam rangka menyediakan rujukan bagi
perbankan untuk meningkatkan pembiayaan terhadap UMKM serta menyediakan
informasi dan pengetahuan bagi UMKM yang bermaksud mengembangkan usahanya,
maka menjadi kebutuhan untuk penyediaan informasi pola pembiayaan untuk komoditi
potensial tersebut dalam bentuk model/pola pembiayaan komoditas (Lending Model).

Kamar Dagang dan Industri (KADIN)


Program pemberdayaan UMKM oleh KADIN Kota Bandung, dilakukan dengan
membentuk Badan Promosi dan Pengelola Keterkaitan Usaha (BPPKU). BPPKU
adalah sebuah lembaga yang konsisten melakukan pembinaan, pendampingan dan
pemberdayaan usaha kecil dan menengah (UMKM).
Dasar Pembentukan BPPKU melalui Surat keputusan Walikota Bandung
Nomor: 510.1/Kep.404-Huk/2006 tentang pembentukan Badan Promosi dan pengelola
Keterkaitan Usaha ( BPPKU ). Tujuan Berdiri BPPKU KADIN Kota Bandung, yaitu:
a. Meningkatkan kualitas UKM Potensial di Kota Bandung, sekaligus disiapkan
menjadi UKM handal dan siap berkembang;
b. Memperkuat jiwa kewirausahaan dan meningkatkan kemampuan manajerial
UKM Kota Bandung;
c. Membangun komunitas dan jaringan UKM dalam rangka fungsi penguatan
sehingga UKM dapat kuat, mandiri dan berkembang;
d. Memperluas lapangan kerja, menyerap tenaga kerja, sehingga menambah omzet
usaha, dalam upaya mengembangkan ekonomi suatu wilayah;
e. Meningkatkan kualitas manajemen usaha kecil dengan parameter terlaksananya
system manajemen berupa rencana usaha dan sistem pelaporan;
f. Membantu percepatan LPE Kota Bandung dengan diberdayakannya UKM
menuju UKM mandiri.
Sasaran yang ingin dicapai dengan dibentuknya BPPKU, yaitu: (a) UKM dalam
tahap pengembangan usaha; (b) UKM yang sedang melalui tahapan penguatan usaha;
(c) Entrepreneur baru; (d) Masyarakat calon Enrepreneur.
Upaya yang telah dilakukan BPPKU dalam bentuk kegiatan, yaitu: (a)
Melaksanakan seminar, Workshop dan pelatihan bagi UMKM yang meliputi:
Kemampuan Manajemen usaha, perencanaan usaha, pengembangan usaha, peluang
usaha, pemasaran, diversifikasi produksi, disain rpduksi, keuangan dan lain – lain; (b)
Konsultasi usaha baik yang dilakukan secara rutin di Sekretaiat BPPKU/KKB Kota
Page 16 of 32

Bandung, maupun konsultasi on the spot yang telah dilakukan di seluruh wilayah Kota
Bandung yang meliputi konsultasi bidang pemasaran, permodalan, produksi,
SDM,HAKI dll; (c) Pendalaman dan pembekalan tentang ekonomi usaha kecil dan
menengah bagi Kepala Seksi Ekbang Kelurahan di Kota Bandung; (d) Mengundang
UMKM untuk mengikuti prsentasi pameran dalam dan luar negeri bekerja sama dengan
Kadin Kota Bandung; (e) Melakukan pertemuan dengan Kepala Bagian PUKK/PKBL
BUMN/BUMD dan Perbankan untuk mengkoordinasikan tentang bantuan kredit lunak
BUMN bagi UMKM, dimana BPPKU berperan sebagai fasilitator; (f) Memitrakan
UMKM dengan pengusaha besar.
Program Unggulan Inkubator Bisnis UMKM yang telah dilakukan BPPKU,
yaitu:
Tahapan Program:
1. Koordinasi/Sosialisasi Program, meliputi: (a) Koordinasi dengan Pemda dan Dinas
Instansi terkait dalam rangka menyamakan persepsi,serta pembahasan program
kerja pembinaan UKM melalui konsep incubator; (b) Pertemuan sosialisasi dan
presentasi UMKM melalui konsep incubator bisnis kepada para Camat, karena
UKM yang dilibatkan adalah dari Kecamatan masing-masing; (c) Rapat pertemuan
teknis Inventarisasi UMKM potensial dengan Kasie Ekbang Kecamatan se Kota
Bandung, sekaligus sosialisasi program pembinaan inkubator bisnis bagi UMKM
untuk disosialisasikan kembali kepada kelurahan masing-masing; (d) Rapat
pertemuan koordinasi untuk menyempurnakan konsep inkubator bisnis, dengan tim
dan Dinas terkait.
2. Seleksi UMKM Potensial untuk menjadi calon Mitra Binaan BPPKU Kota
Bandung, yaitu: (a) Calon Mitra Binaan yang diajukan dari tiap Kecamatan di
seleksi oleh Tim BPPKU Kota Bandung melalui informasi dari Kasie Ekbang
Kecamatan, wawancara, dan kunjungan ke workshop (aspossible ); (b) Psikotest :
Untuk melihat potensi dan attitude calon mitra; (c) Tenant. Dari mitra yang
dicalonkan oleh masing-masing kecamatan, dapat terjaring 30 mitra binaan UMKM
yang potensial; (d) Kriteria Mitra Binaan ditentukan oleh Tim BPPKU.
3. Asesment Calon Mitra Binaan. Pendalaman masalah usaha yang dihadapi oleh mitra
binaan, untuk mengetahui dan memastikan kebutuhan layanan yang akan di
berikan.
4. Tahapan Treatment. Dilakukan melalui pelatihan, workshop, simulasi dan game
bisnis, motivasi, menyusun action plan dsb. Yang seluruhnya disusun berdasarkan
hasil assessment.
5. Case Conference, yaitu: pertemuan pembahasan kasus/ progres bisnis masing-
masing Tenant untuk memantau perkembangan usaha dan memecahkan masalah
yang dihadapi tenant secara bertahan; Mereka dibagi dalam kelompok masing-
masing sesuai bidang/ karakter usahanya, dan dipandu oleh konsultan incubator
BPPKU Kota Bandung; Fungsi dan tujuan : membentuk komunitas, silaturahmi,
penguatan, dan problem solving; Hasil Case Conference dilaporkan dalam rapat
dievaluasi dan tindak lanjuti sesuai progress yang terjadi.
6. Akses kesumber permodalan. BPPKU sebagai incubator memfasilitasi akses Tenant
ke sumber-sumber permodalan yang memungkinkan seperti Kredit
Program/bergulir (Pemda), BUMN/D, PNM, kredit mikroperbankan dsb.
Program Reguler Pendampingan UMKM (Technical Assistant), yaitu: (a)
Inventarisasi UMKM se-Kota Bandug melalui aparat di Tingkat Kecamatan, yang
Page 17 of 32

nantinya dapat dipakai data base UKMK se Kota Bandung. Karena data dari tingkat
Kecamatan selama ini menghasilkan data yang objektif dan akurat; (b) Pelatihan
Pelatihan untuk UMKM diluar Mitra Binaan program Inkubator (berdasarkan buttom
up proses); (c) Konsultasi dan Pendampingan usaha UMKM bagi secretariat BPPKU/
KKB Kota Bandung atau di work shop, sebagai tindak lanjut program sebelumnya.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)


Lembaga swadaya masyarakat (LSM) sebagai lembaga pelayanan alternative
bagi UMKM yang berfungsi sebagai lembaga perantara untuk menjembatani
keterbatasan pemerintah dan swasta dalam memberdayakan UMKM. Sangat berpotensi
menjadi partner UMKM karena kedekatan hubungannya dengan UMKM.
Kordinasi antar LSM maupun lembaga pendukung lainnya sangat minim.
Sehingga lingkup kerja terbatas, serta ada ketergantungan financial dan teknisi ahli
yang akan mengancam keberlangsungannya. LSM hanya menfasilitasi hubungan antara
kelompok masyarakat berpendapatan rendah dalam UMKM, atau masyarakat
berpendapatan rendah dengan system keuangan formal. Mereka melakukan
penyerahan, bantuan untuk pengajuan, pelatihan, bantuan teknis, dan penjaminan untuk
penyedia jasa keuangan yang mengurangi biaya dan risiko dari sasaran penerima
bantuan masyarakat miskin.
Upaya yang telah dilakukan LSM untuk meberdayakan UMKM, diantaranya:
(1) pebgembangan berbagai kelompok swadaya masyarakat; (2) Pelatihan teknis
Produksi dan pengelolaan (manajemen)/administrasi; (3) Penelitian dan konsultasi; (4)
Intervensi efektif hanya dalam wilayah kerjanya; dan (5) masih belum menjangkau
kelompok UMKM yang betul-betul marginal.

Lembaga Keuangan Berbasis Komunitas (LKBK)


LKBK ini didasarkan pada 3 (tiga) kelompok, yaitu: (1) Bank Perkreditan
rakyat (BPR), yang beroperasi sampai pelosok desa, (2) Koperasi, baik koperasi simpan
pinjam jasa keuangan maupun unit usaha simpan pinjam dalam berbagai macam
koperasi; dan (3) Lembaga Kredit Kelurahan / Badan Kredit Kecamatan, dll. Jaringan
LKBK di Kota Bandung memiliki asset usaha kurang dari Rp 25 Juta, menjalankan
usaha pemenuhan kebutuhan primer, cash flow harian, omzet kurang dari Rp 100
Juta/tahun, dan sangat dengan lingkungan keluarga, besar pinjaman rata-rata Rp 15 jt
yang pernah diterima Usaha Mikro, dikenal dan dekat dengan lingkungan lembaga
keuangan mikro, seta memiliki jaringan usaha yang terbatas. LKBK sebagai pelayanan
dana pinjaman untuk usaha mikro di Kota Bandung. Model LKBK ini mempunyai tugas
utama menyalurkan pinjaman ke usaha mikro atau masyarakat berpendapatan rendah
dan lingkungan kenal dengan pendanaan. Praktiknya Lembaga Keuangan berbasis
Komunitas ini memberikan layanan jasa keuangan dengan kepercayaan usaha dengan
dasar pengembalian cicilan. LKBK ini sebagai bentuk layanan keuangan pada
kelompok usaha mikro dengan formula pinjaman standar baku usaha mikro, tanpa
agunan dan bunga ringan, pinjaman kecil sebagai pilihan pendanaan yang diminati
pengusaha mikro. Lembaga Keuangan Berbasis Komunitas dibangun oleh lembaga
keuangan formal, seperti bank komersial, yang memberikan pinjaman ke Usaha Mikro
yang relatih kurang berhasil. Alasannya adalah keterbatasan pengetahuan /pemahaman
bagi pengusaha mikro dan hubungan yang relative renggang antara lembaga keuangan
formal dengan formula pinjaman tidak sesuai dengan Usaha Mikro.
Page 18 of 32

Berdasarkan temuan, bahwa LKBK adalah lembaga pinjaman yang berformula


usaha mikro berbasis komunitas dengan pola besar cicilan pengembalian sebagai acuan
pinjaman, dengan memberikan syarat dikembangkan dengan ketentuan dasar, yaitu:
Kepercayaan, Pinjaman dengan formula tanggungjawab kelompok, tanpa agunan,
pengusaha mikro dikenal dengan lembaga keuangan mikro, besar pengembalian
sebagai dasar pinjaman (rasio aktivitas), dan Usaha Mikro dikenal disekitarnya. Hasil
penelitian ini juga menunjukkan bahwa usaha mikro masih berhubungan dengan
lembaga keuangan informal dan jmlah usaha mikro mampu membangun sector riil,
usaha mikro dapat dikembangkan dengan fleksibilitas tinggi dan pinjaman yang
diberikan dengan formula tanggungjawab kelompok. Upaya pemberdayaan UMKM
yang telah dilakukan Lembaga Keuangan berbasis Komunitas tersebut, yaitu: (1)
Memberikan modal kepada usaha mikro dengan persyaratan seperti diuraikan di atas;
(2) Melayani usaha mikro yang tidak terlayani oleh Perbankan, BUMN/D atau Dinas
Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan maupun oleh LSM; (3) Berusaha
melakukan pendekatan dengan masyarakat sekitar usaha mikro, yang mandiri dan bebas
di Masyarakat; (4) Memberikan prosedur peminjaman dana tanpa agunan, dengan
pengembalian dan pinjaman sebagai dasar.
Dengan demikian, kemitraan BUMN, BUMD, dan Swasta kota Bandung, yang
setiap tahun diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan Usaha Kecil Menengah kota
Bandung ini bertujuan memperkenalkan produk yang dibuat oleh UMKM dibawah
Binaan BUMN, BUMD dan Swasta. Selain itu melibatakan akademisi, BPPKU Kadin
kota Bandung menampilkan produk yang telah dibuat atas kerjasama dengan UMKM
di bawah binaan BPPKU Kadin kota Bandung.

Model pemberdayaan usaha mikro dilakukan, seperti terlihat pada gambar sebagai
berikut:

Lembaga Keuangan
Berbasis Komunitas Bank Umum

Usaha Mikro

Modal Kerja Modal Kerja Investasi

Gambar 1. Upaya Pemberdayaan Usaha Mikro oleh LKBK

UMKM yang telah mendapatkan pembinaan sebagai upaya pembinaan yang


dilakukan BUMN, BUMD, Kadin, Bamk Indonesia, LSM, dan Pemerhai UMKM
melalui program Kemitraan, yang dapat disajikan pada Tabel 9.
Page 19 of 32

Tabel 5. Kontribusi Instnasi/Lembaga Pemerintah dan Swata dalam Pemberdayaan


UMKM
Jumlah
Nama Instansi/Lembaga Total
Mikro Kecil Menengah
Dinas KUMKM PemKot Bandung 85 738 197 1,020
BUMN 0 117,605 13,430 131,035
BUMD 0 97 68 165
Kadin Kota bandung 0 738 198 936
Bank Indonesia 117 1,716 987 2,820
BPR 98 123 9 230
LSM 97 37 17 151
Komunitas Pemerhati UMKM 109 98 29 236
Jumlah 506 121,152 14,935 136,593
Sumber: Dinas KUMKM dan Perindag (2015), Bank Indonesia (2015), BPS (2015), Kadin (2015)
(diolah penulis, 2015)

Deskripsi Koordinasi antar Institusi/Lembaga Pemberdayaan dengan


Pemerintah Kota Bandung
Berdasarkan hasil wawancara dengan dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan
Perdagangan Kota Bandung, dapat diketahui poa koordinasi Institusi/Lembaga
pemberdayaan dengan pemerintah, diatur dalam Peraturan Daerah Kota Bandung
Nomor 23 Tahun 2009 tentang UMKM. Pemberdayaan yang dilakukan pemerintah
sebagai upaya Pemerintah, Pemerintah Daerah, dunia usaha dan masyarakat secara sinergis
dalam bentuk penumbuhan lklim dan pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah,
sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi usaha yang tangguh dan mandiri.
Pembiayaan adalah penyediaan dana oleh Pemenintah, Pemenintah Daerah,
dunia usaha dan masyarakat melalui bank, koperasi dan lembaga keuangan bukan bank,
untuk mengembangakan dan memperkuat permodalam mikro, kecil dan menengah.
Kemitraan adalah kerja sama da1am kebersamaan usaha baik langsung atau tidak
langsung atas dasar prinsip saling memerlukan, mempercayai, memperkuat, dan
menguntungkan yang melibatkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dengan
usaha besar. Usaha mikro, kecil dan menengah berasaskan pada: kekeluargaan,
demokrasi ekonomi, kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan
lingkungan, kemandirian, keseimbangan kemajuan, dan kesatuan ekonomi daerah.
UMKM bertujuan menumbuhkan dan mengambangkan usahanya dalam rangka
membangun perekonomian daerah berdasarkan demokrasi ekonomi yang berkeadilan.
Pengelolaan usaha Mikro, kecil dan Menengah bertujuan untuk : (a) Memperkuat usaha
Mikro, Kecil dan Menengah agar dapat menjadi usaha yang tangguh, mandiri dan
berkesinambungan; (b) Meningkatkan kemampuan usaha Mikro, Kecil dan Menengah
agar dapat berusaha dan memperoleh hasil yang maksimal; (c) Menumbuhkan dan
meningkatkan kernampuan usaha Micro, Kecil dan Menengah menjadi usaha yang
berdaya saing tinged; (d) meningkatkan kemampuan usaha Mikro, Kecil dan Menengah
agar dapat mengembangkan kegiatan usahanya.
Page 20 of 32

Kebijakan pengaturan pengelolaan usaha Mikro, Kecil dan Menengah adalah :


(1) Membangun dan mengembangkan jiwa kewirausahaan yang professional; (2)
Memperluas sumber pendanaan dan memfasilitasi usaha-usaha Mikro, Kecll dan
Menengah untuk dapat mengakses kredit pendanaan dan lembaga keuangan lainnya;
(c) Membebaskan kemudahan dalam memperluas pendanaan secara cepat, mudah, dan
tidak diskriminatif dalam pelayanan bagi usaha Mikro, Kecll dan Menengah sesuai
dengan peraturan perundang-undangan;
(d) menyederhanakan tata cara dan jenis perizinan usaha dengan sistem petayanan
terpadu satu pintu; (e) Membebaskan biaya perizinan bagi usaha Micro dan
memberikan keringanan biaya perizinan bagi usaha kecil; (f) Mempermudah
pemanfaatan bank data dan jaringan informasi bisnis; (g) Mengadakan dan
menyebarluaskan informasi mengenal pasar, sumber pembiayaan, penjaminan,
teknologi, desain dan mutu; (h) Membangun kemitraan yang saling menguntungkan
antara usaha mikro, usaha kecil, usaha menengah dan usaha besar.

Visi Kota Bandung RPJM D Kota Bandung Tahun 2013-2018


Tahun 2013-2018 : RPJP Kota Bandung Tahun 2005 – 2025
MISI-
Mewujudkan Kota Bandung yang
4
Nyaman ,Unggul & Sejahtera TUJUAN

• Mengembangkan Produk Membangun perekonomian yang SASARAN:


Unggulan Kota Kokoh, Maju dan Berkeadilan - Mendorong tumbuh dan
• Fasilitasi & Intermediasi berkembangnya (KUMKM),
Berkembangnya Ekonomi Kreatif
Pengembangan KUMKM
Visi Dinas KUMKM & - Meningkatkan Kesempatan Kerja
• Penguatan KUMKM melalui - Peningkatan Daya Beli
Peningkatanm Kompetensi & PERINDAG Kota Bandung Tahun
2013-2018 :
Kualitas SDM, Jaringan ROADMAP BANDUNG JUARA
Terwujudkan KUMKM &
Usaha, Perluasan Aspek PERINDAG yg Berdaya saing Reformasi Dekranasda
Permodalan & Daya Saing guna mewujudkan pembangunan Forum Aspirasi Pengrajin
Produk UKM Pasar Kerajinan
Ekonomi yg Kokoh, Maju & Pameran Rutin Dekranasda
• Mendorong Pertumbuhan STRATEGI
Ekonomi sektor Jasa &
Perdagangan 2015
Misi Dinas: : Meningkatkan Kualitas
Kelermbgaan,Produktivitas, Daya Saing &
Kemandirian KUMKM
Target
Cakupan
ARAH KEBIJAKAN Binaan
4.594
• Menciptakan Iklim Usaha Yang
Kondusif Bagi Berkembangnya Wirausaha Baru
4.594 UMKM
Kumkm
• Fasilitasi Pelaku Ekonomi
Untuk Mendapatkan Hki, 4.514
Sertifikasi Halal & Standarisasi
Produk Skla Nasional &
Internasional
• Perlindungan Dan Dukungan
Usaha Bagi Kumkm
• Memfasilitasi Wira Usaha
Pemula
Gambar 2 Koordinasi antar Institusi/Lembaga Pemberdayaan dengan Pemerintah
Page 21 of 32

Tugas dan wewenang Pemerintah Daerah dalam pengelolaan UMKM, adalah : (a)
Merumuskan kebijakan operational dalam rangka perencanaan, pembinaan, dan
pengembangan usaha Mikro, Kecil dan Menengah; (b) Melakukan upaya perlindungan,
pembinaan, pemberdayaan, dan pengembangan usaha Mikro, Kecil dan Menengah agar
mampu menjadi pelaku usaha yang handal dan terpercaya; (c) memajukan usaha Mikro,
Kecil dan Menengah agar dapat bersaing dalam mekanisme pasar; (d) Melaksanakan
pembinaan dan pengembangan kelembagaan dan ketatalaksanaan usaha Mikro, Kecil dan
Menengah; (e) Melakukan pembinaan dan pengembangan produktifitas usaha Mikro, Kecil
dan Menengah; (f) melaksanakan fasilitas dan kemudahan pendanaan bagi usaha Mikro,
Kecil dan Menengah; (g) mernbantu dan membuka akses pemasaran hasil produk usaha
Mikro, Kecil dan Menengah; (h) Menyelenggarakan peningkatan dan pengembangan
kapasitas dan kompetensi sumber days manusia usaha Mikro, Kecil dan Menengah; (i)
Mendorong dan memperkuat potensi usaha Mikro, Kecil Gan Menengah dalam upaya
menumbuhkan perekonomian Daerah; dan (j) Mendorong terciptanya usaha Mikro,
Kecil dan Menengah yang baru dilandasi oleh profesionalitas dan berwatak
wirausahawan yang handal.

PERBANKAN UMKM
• Analisis Keuangan
• Mikro
• Analisis Sensivitas
• Kecil
• Kelayakan
• Menengah

Gambar 3. Pola kemitraan UMKM dengan Perbankan

Upaya yang telah dilakukan usaha besar terhadap UMKAM, yaitu: (1) Fase
perintisan, yaitu fase tumbuhnya usaha, yang ditandai dengan keinginan Individu
(Karyawan yang akan pensiun dengan Program Downzising) untuk membuka usaha.
Pada kondisi ini diberikan informasi tentang apa dan bagaimana usaha dilakukan; (2)
Fase pembinaan, yaitu fase dimana usaha telah terbentuk dan memerlukan bimbingan
dan pembinaan agar usaha tersebut menjadi lebih maju; (3) Fase pengembangan, yaitu
fase dimana unit usaha formal telah terbentuk dari telah berkeinginan untuk melakukan
peningkatan efisiensi dan produktivitas. Unit usaha inl diarahkan pada diversifikasi
produk dan peningkatan mutu kearah standar, baik mutu manajemen maupun produk
Disamping melakukan pelatihan; (4) Fase kemandirian, yaitu fase dimana industri
Page 22 of 32

kecil telah membentuk dirinya sendiri dan dapat menghadapi pasar nasional maupun
global; (5) Fase Program utama pembinaan dan pengembangan usaha, yaitu: (a)
Program pengembangan inisiasi, dan (b) Program pengembangaan produktivitas dan
efisiensi.

Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung


Pembagian kewenangan politis, pendanaan, dan administrasi antar para pihak
yang mewakili berbagai lapisan kelembagaan pemerintah, masyarakat sipil dan sektor
swasta, merupakan sistem perpaduan berbagai aspek desentralisasi, dekonsentrasi dan
demokratisasi untuk secara efektif mencapai keseimbangan antara hak dan tanggung
jawab dalam pembedayaan UMKM.
Berdasarkan temuan di lapangan pemberdayaan yang dilakukan oleh baik (1)
Dinas Koperasi, UKM, Industri dan Perdagangan Kota Bandung, (2) BUMN, (3)
BUMD, (4) Kadin Kota Bandung, (5) Bank Indonesia, (6) LSM, maupun (7) Lembaga
Keunagan Berbasis Komunitas (Koperasi, BPR, dll) berjalan secara parsial, seperti
berikut: (a) Pola clustering merupakan pendekatan yang strategis dan tepat untuk
meningkatkan daya saing UMKM; (b) Program pengembangan kluster (sentra) UKM
ini sudah terbukti di banyak negara seperti di Eropa dan beberapa negara lainnya.
Klustering juga sangat ampuh dalam meningkatkan kemampuan inovasi dan daya saing
global UKM; (c) Berdasarkan Karakteristik UMKM, maka karakteristik tersebut harus
diubah, dengan penguatan jaringan UMKM dengan Usaha Besar dan Perbankan,
dengan Pola Bapak Asuh; (d) Terkait dengan UMKM, Industri besar dan Perbankan,
maka pembangunan Brand Image sangatlah penting, karena secara teoritis merupakan
“persepsi masyarakat terhadap perusahaan dan produknya” atau “hasil penilaian
persepsi konsumen terhadap suatu objek , baik positif maupun negative”.
Guna meningkatkan daya saing kota terkait dengan permberdayaan UMKM,
maka Kebijkan yang harus diambil setidaknya, yaitu: (a) Meningkatkan dan menggali
sumber pendapatan daerah terkait dengan UMKM berdasarkan azas proporsionalitas,
adil, dan merata sesuai dengan potensi yang dimiliki; (b) Pemanfaatan dana secara
efisien dan produktif yang didasarkan pada pendekatan hasil/output dengan dilandasi
azas manfaat, yang dalam hal ini membangun infrastruktur yang terkait langsung
dengan UMKM; (c) Memanfaatkan peran swasta dalam pembiayaan pembangunan
sebagai bagian dari deregulasi dalam pengembangan pelayanan public, dalam hal ini
menfasilitasi jaringan Industri besar, UMKM, dan Perbankan;

Guna mencapai hal tersebut di atas, maka menetapkan tujuan di antaranya:


1. Terwujudnya perekonomian kota Bandung yang tangguh, berdaya saing serta sehat
dan berkeadilan, yaitu:
a. Meningkatkan Pertumbuhan Riil dan Kontribusi Riil Sektor Perekonomian kota
Bandung terutama dari Core sectors (Jasa Wisata dan Perdagangan berbasis
industri kreatif dan IT) dengan mempertahankan industri pengolahan yang ada,
Page 23 of 32

dengan indikator capaian : LPE 9,33%; Tingkat pemerataan pendapatan versi


Bank Dunia minimal 15% (kategori sedang); PDRB Riil/kapita minimal Rp 16
juta per tahun; Indeks daya beli 68,88;
b. Memperbaiki stabilitas harga dan distribusi barang kebutuhan pokok, dengan
indikator capaian : Tingkat inflasi umum satu digit;
c. Perluasan kesempatan lapangan kerja formal di sektor-sektor yang menjadi core
competency kota, dengan indikator capaian : Tingkat Pengangguran Terbuka
15% ; Kesempatan kerja Minimal 89%;
d. Memberikan Kemudahan Pelayanan Perijinan dan Kepastian Hukum bagi
investor dan dunia usaha, dengan indikator capaian : Nilai Investasi berskala
nasional meningkat 20%. SKPD terkait dengan ini adalah Badan Penanaman
Modal dan Pelayanan Perijinan Terpadu, Dinas Koperasi, UMKM, dan
Perindustrian Perdagangan, Dinas Tenaga Kerja, Bagian Perekonomian.
2. Terwujudnya Kerjasama dan koordinasi yang menguntungkan dengan wilayah
pemerintah Daerah sekitar Kota Bandung, yaitu:
a. Membentuk sinergitas kegiatan ekonomi antar wilayah,
b. Indikator capaian : Teridentifikasinya peluang kerjasama ekonomi antar
wilayah.
c. SKPD terkait : Bagian Pemerintahan Umum, Bagian Perekonomian, Dinas
Koperasi, UMKM dan Perindustrian Perdagangan.
3. Pemerintah Kota Bandung, perlu mengambil kebijakan, yaitu:
a. Memiliki Kerangka kerja kelembagaan dan konsep kebijakan yang jelas yang
didasarkan pada pendekatan pasar (Market driven policy approach)
b. Menciptakan suatu iklim kondusif bagi perluasan bisnis UMKM. Ini
dimaksudkan untuk memperbaiki lingkungan bisnis bagi UMKM dalam klaster,
utamanya dalam upaya mengurangi biaya transaksi dan mempermudah kegiatan
bisnis, melalui :
1) Penyederhanaan prosedur lisensi, peraturan-peraturan daerah dan retribusi;
2) Pembangunan sisim jejaring lembaga-lembaga pendukung seperti
lembaga-lembaga keuangan mikro (MFI = Micro Finance Institutions),
Lembaga penjamin kredit dan para penyedia BDS;
3) Pembagian insentif kepada para pihak yang berkepentingan (terkait) dan
penyedia-penyedia jasa;
4) Penyelenggaraan program pembangunan dipimpin pemerintah bagi klaster
UMKM
5) Perbaikan dalam prosedur-prosedur lisensi dibawah administrasi
pemerintah daerah pada dasarnya ditargetkan untuk memodernisir
lingkungan bisnis bagi UMKM-UMKM;
6) Penekanan pada sistim jejaring lembaga-lembaga pendukung Nampak
memberikan kontibusi kepada pengembangan UKM ditinjau dari segi
keterbasan pertalian bisnis
Page 24 of 32

c. Mengembangkan UKM yang diarahkan untuk memberikan kontribusi yang


signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan
peningkatan daya saing. Sedangkan pengembangan usaha skala mikro lebih
diarahkan untuk memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan pada
kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
d. Memperkuat kelembagaan dengan menerapkan prinsip-prinsip tata
kepemerintahan yang baik (good governance) dan berwawasan gender terutama
untuk :
1) Menyerap banyak tenaga kerja
2) Memenuhi kebutuhan dasar local (seperti makanan-minuman dan obat-
obatan);
3) Mengolah hasil pertanian dalam arti luas (termasuk perikanan) dan sumber-
sumber daya alam
4) Memiliki potensi pengembangan ekspor
e. Memiliki Akses ke sumber-sumber produktif. Ini bertjuan memperbaiki akses
UKM-UKM dalam klaster ke sumber-sumber produktif seperi MFI, bank-bank
dan jasa-jasa pelatihan melalui :
1) Perbaikan jasa pelayanan yang dilakukan oleh MFI atau bank-bank
setempat;
2) Pembangunan sistim penilaian kredit dan jejaring informasinya;
3) Akreditasi dan sertifikasi penyedia-penyedia jasa;
4) Memperkuat fasilitator-fasilitator sebagai konsultan-konsultan professional
bagi UMKM-UMKM dalam klaster;
f. Membangun kewirausahaan dan klaster UMKM yang kompetitif. Ini bertujuan
mengembangkan kewirasahaan UKM-UKM dan memperbaiki daya saing klaster
UMKM, melalui :
1) Membangun incubator-inkubator bisnis dan klaster UMKM berbasis
teknologi;
2) Sistem insentif untuk meningkatkan kewirausahaan UMKM-UMKM untuk
inovasi teknis;
3) Membangun jejaring produksi dan distribusi diantara klaster UMKM agar
mereka bersaing
4) Membangun iklim kewirausahaan, semangat dan motivasi bagi para pemilik
UMKM. Dalam upaya melawan tekanan yang datang dari persaingan
eksternal
g. Membangun koperasi yang diarahkan dan difokuskan pada upaya-upaya untuk :
1) Membenahi dan memperkuat tatanan kelembagaan dan organisasi koperasi
di tingkat makro maupun mikro guna menciptakan iklim dan lingkungan
usaha yang kondusif bagi kemajuan koperasi serta kepastian hukum yang
menjamin terlindunginya koperasi dan/atau anggotanya dari praktek-praktek
persaingan usaha yang tidak sehat;
Page 25 of 32

2) Meningkatkan pemahaman, kepedulian dan dukungan pemangku


kepentingan (stakeholders) kepada koperasi;
3) Meningkatkan kemandirian gerakan koperasi.

Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan melalui Pengembangkan dan


Menciptakan Iklim Dunia Usaha Melalui Bapak Asuh;
Upaya Kemitraan dalam rangka keterkaitan usaha diselenggarakan melalui
pola-pola yang sesuai dengan sifat dan tujuan usaha yang dimitrakan dengan diberikan
peluang kemitraan seluas-luasnya kepada UMKM, oleh Pemerintah dan dunia usaha.
Dalam pola ini, Usaha Besar sebagai inti membina dan mengembangkan UMKM yang
menjadi binaannya dalam: (a) Penyediaan dan penyiapan lahan; (b) Penyediaan sarana
produksi; (c) Pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi; (d)
Perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan; ( e ) Pembiayaan;
dan (f) Pemberian bantuan lainnya yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi dan
produktivitas usaha. Dalam hal kemitraan Usaha Besar dengan UMKM berlangsung
dalam rangka sub kontrak untuk memproduksi barang dan atau jasa, Usaha Besar
memberikan bantuan berupa: (a) Kesempatan untuk mengerjakan sebagian produksi
dan atau komponen; (b) Kesempatan yang seluas-luasnya dalam memperoleh bahan
baku yang diproduksinya secara berkesinambungan dengan jumlah dan harga yang
wajar; (c) Bimbingan dan kemampuan teknis produksi atau manajemen; (d) Perolehan,
penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan; (e) pembiayaan. Dalam
kegiatan perdagangan pada umumnya, kemitraan antara Usaha Besar dengan UMKM
dapat berlangsung dalam bentuk kerjasama pemasaran, penyediaan lokasi usaha, atau
penerimaan pasokan dari UMKM mitra usahanya untuk memenuhi kebutuhan yang
diperlukan oleh Usaha Besar yang bersangkutan.

PEMERINTAH
Undang- Undang
Peraturan
Kepres

UMKM
Usaha Besar Mikro
Kecil
Menengah

Gambar 4.
Model Pemberdayaan Hubungan Usaha Besar, UMKM dan Pemerintah

Peran perbankan dalam pola bapak asuh, yaitu: (a) Perbankan bertindak sebagai
lembaga pembiayaan, lembaga penjaminan, dan lembaga pendukung lainnya; (b)
Perbankan sebagai lembaga pembiayaan memberikan prioritas pelayanan dan
Page 26 of 32

kemudahan memperoleh pendanaan bagi UMKM, yang bermitra dengan Usaha Besar
melalui: (1) Penyediaan pendanaan kemitraan; (2) Penyederhanaan tatacara dalam
memperoleh pendanaan dengan memberikan kemudahan dalam pengajuan
permohonan dan kecepatan memperoleh keputusan; (3) Pemberian keringanan
persyaratan jaminan tambahan; (4) Penyebarluasan informasi mengenai kemudahan
untuk memperoleh pendanaan untuk kemitraan melalui penyuluhan langsung dan
media massa yang ada; (5) Penyelenggaraan pelatihan membuat rencana usaha dan
manajemen keuangan; (6) Pemberian keringanan tingkat bunga kredit kemitraan.

Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan UMKM melalui Kemitraan Usaha


Besar, UMKM, Perbankan dan Pemerintah
Perbankan sebagai Lembaga penjaminan memberikan prioritas pelayanan dan
kemudahan bagi UMKM yang bermitra dengan Usaha Besar untuk memperoleh
jaminan pendanaan melalui : (a) Perluasan fungsi lembaga penjaminan yang sudah ada
dan atau pembentukan lembaga penjaminan baru; (b) Pembentukan lembaga penjamin
ulang untuk menjamin lembaga-lembaga penjaminan yang ada.
Perbankan selaku Lembaga pendukung lain, dapat dilakukan dengan
bekerjasama dengan institusi baik akademisi maupun konsultan professional yang
berperan mempersiapkan dan menjembatani UMKM yang akan bermitra dengan Usaha
Besar melalui : (a) Penyediaan informasi, bantuan manajemen dan teknologi terutama
kepada Usaha Mikro dan Kecil; (b) Persiapan UMKM yang potensial untuk bermitra;
(c) Pemberian bimbingan dan konsultasi kepada UMKM; (d) Pelaksanaan advokasi
kepada berbagai pihak untuk kepentingan UMKM; (e) Pelatihan dan praktek kerja bagi
Usaha UMKM yang akan bermitra.

PEMERINTAH
Undang- Undang
Peraturan
Kepres

UMKM
Mikro
Usaha Besar Kecil
Menengah

PERBANKAN
Analisis Keuangan
Analisis Sensivitas
Kelayakan

Gambar 5. Model Hubungan Usaha Besar, UMKM, Perbankan dan Pemerintah


Page 27 of 32

Dengan demikian, manajemen kolaborasi pemberdayaan UMKM di Kota


Bandung, menunjukkan partisipasi tidak dibatasi dan tidak hirarkis, partisipan
bertanggung jawab dalam memastikan pencapaian kesuksesan, terdapat tujuan yang
masuk akal, terdapat pendefinisian masalah, partisipan saling mendidik atau mengajar
satu sama lain, terdapat identifikasi dan pengujian terhadap berbagi pilihan,
implementasi solusi dibagi kepada beberapa partisipan yang terlibat, partisipan selalu
mengetahui perkembangan situasi.
Elemen penting pada tahapan kolaborasi, meliputi: Inisiasi dan motivasi, media
komunikasi/informasi, analisis bersama situasi, negosiasi dan kesepakatan stakeholder’s,
membangun kapasitas perubahan, kemitraan dan anlisis pelaksanaaan, membuat dan
memelihara proses, dan membuat dan mendorong mekanisme kelola konflik.
Beberapa tahapan yang perlu dipersiapkan, di antaranya: membangun kolaborasi,
menetapkan arah, dan melaksanakan, yaitu:
1. Membangun kolaborasi, dilakukan dengan cara: menetapkan masalah,
mendefinisikan bersama, membangun komitmen bermitra, menemukenali
stakeholder’s, memperjelas legitimasi stakeholder’s, mengenali ciri pelaksana
setiap pertemuan, dan menemukenali sumberdaya.
2. Menetapkan arah, dilakukan dengan cara: menetapkan aturan main, menyusun
agenda, penggorganisasian sub kelompok, penyelidikan informasi bersama, dan
mengeksplorasi pilihan (alternative) dalam mencapai kesepakatan dan menutup.
3. Melaksanakan, dilakukan dengan cara: menangani konstituen, membangun
dukungan eksternal, strukturisasi, dan monitoring kesepakatan dan jaminan
pengaduan.
Prinsip kolaborasi dalam menangani konflik, dalam implementasinya,
kolaborasi diperlukan apabila terjadi suatu konflik dalam pemberdayaan UMKM atau
antar lembaga/institusi yang melakukan pemberdayaan. Guna kepentingan hal tersbut
yang telah diuraikan sebelumnya, diperlukan prinsip kolaborasi dalam mengatasi
konflik, yaitu: melibatkan para pihak yang relevan; membangun konsensus secara
bertahap; merancang peta proses, merancang proses fasilitasi, dan mengendalikan
memori kelompok.
Berdasarkan temuan, penanganan konflik yang terjadi dalam UMKM maupun
antar Institusi/Lembaga yang melakukan pemberdayaan, maka teridentifikasi
karakteritik penanganan konflik yang dilakukan dengan konfrontasi, yaitu: posisi selalu
sebagai oposisi, intervensi pihak ke 3 (tiga), mencari fakta mendukung posisi sebagai
oposisi, polarisasi pihak dan isu, keterbatasan kontak, argumentasi kemenangan, curiga
dan emosi tinggi, keputusan selalu dicapai melalui jalur hukum (sehingga keputusan
ada di tangan hakim), keputusan yang tidak memuaskan stakeholder’s, meningkatkan
kesengsaraan (ketidak percayaan jangka panjang), dan tidak terdapat penyelesaian isu-
isu.
Sedangkan penanganan konflik yang terjadi dalam UMKM maupun antar
Institusi/lembaga yang melakukan kemitraan, yaitu dengan melakukan kolaborasi yang
Page 28 of 32

terindentifikasi karakteristiknya, melalui: para pihak berposisi sebagai penyelesaian


problem bersama, isu-isu diidentifikasi sebelum mengkristal, tawar-menawar berbasis
kepentingan, penyelidikan bersama menentukan fakta, penyelidikan untuk pokok-
pokok yang mendasari kepentingan, diskusi dan tatap muka antar pihak yang berselisih,
mempersempit pilihan secara cepat, mengupayakan pilihan-pilihan yang dapat
dilaksanakan, hasil-hasil penyelesaian melalui integrasi kepentingan, memperluas
bidang pilihan, keputusan oleh para pihak, rasa hormat dan penetapan alasan,
memuaskan semua pihak, dan meningkatkan kepercayaan dan hubungan positif.
Dengan demikian, maka kolaborasi manajemen dalam Pemberdayaan UMKM,
yaitu: menyadari pentingnya peranan para pihak untuk mencapai tujuan Pemberdayaan
UMKM; mengenali potensi para pihak dalam mengembangkan program; membangun
konsensus bersama untuk kerjasama yang saling; membangun konsensus bersama
untuk kerjasama yang saling menguntungkan; membangun kesepakatan, berbagi
informasi dan berbagi peran; membangun rencana kelola sosial partisipatif; pro aktif
dalam menginisiasi pertemuan; dan menjadi reminder dalam pelaksanaan program dan
evaluasi.
Hal tersebut merujuk pada prinsip kolaborasi, yang transparan dan saling
menghormati, pembagian peran yang bertanggung jawab, hubungan kerja yang efektif,
membangun kearifan lokal, menghormati perbedaan dan keragaman, kontinyu dan
adaptif, dan skala lebih luas.

4. Kesimpulan
Merujuk pada Hasil Penelitian pada tahun pertama ini dapat dirumuskan
beberap kesimpulan sebagai berikut:
1. Identifkasi keberadaan Usaha Mikro, dan dan Menengah (UMKM) di Kota
Bandung, sebagai berikut:
a. Ididetifikasi keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM)
dalam kontek perekonomian di Kota Bandung cukup dominan dan
bermakna. Indikatornya : (1) Jumlah industri yang cukup banyak
jumlahya; (2) Potensi yang besar dalam penyerapan tenaga kerja; dan
(3) Kontribusi UMKM dalam pembentukan PDB cukup bermakna.
Namun demikian, pada koridor semangat untuk mengembangkan dan
memberdayakan UMKM, ternyata bagi pihak intermediary system,
dalam hal ini pemerintah, dipandang masih sangat sulit menjadi
primadona portfolio investasi yang mampu meningkatkan nilai,
khususnya perspektif investor (Pemegang Saham).
b. Karakteristik UMKM di Kota Bandung, yaitu: (1) Ketiadaan pembagian
tugas dan delegasi yang jelas antara administrasi dan operasional.
Faktanya, kebanyakan usaha kecil dikelola tanpa sistem yang jelas; (2)
Rendahnya akses terhadap lembaga-lembaga kredit formal ke bank yang
karenanya UMKM itu disebut unbankable; (3) Sebagian besar pelaku
Page 29 of 32

usaha belum memiliki status badan hukum yang karenanya mereka sulit
mendapatkan pengakuan dari asosiasi; (4) Hampir sepertiga dari
UMKM bergerak dalam kelompok usaha kuliner, seperti minuman, dan
handycraft; tekstil, dan industri kayu, bambu, rotan, rumput, dan
sejenisnya; termasuk perabot rumah tangga. Upaya Pemberdayaan
UMKM di Kota Bandung, telah dilakukan oleh baik instansi/lembaga
pemerintah (BUMN, BUMD dan Dinas Koperasi, UKM, dan
Perindustrian dengan Peraturan Daerah Kota Bandung), Kamar Dagang
dan Industri maupun swasta (LSM dan Lembaga Keuangan Berdarkan
Komunitas). Temuan lainnya, belum efektifnya koordinasi antar
Institusi/Lembaga Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung.

2. Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan Usaha Kecil, Mikro dan


Menengah (UMKM) di Kota Bandung, yaitu:
a. Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung
dengan Pengembangan dan Penciptaan Iklim Dunia Usaha melalui Bapak
Asuh, yaitu: Penyediaan dan penyiapan lahan, penyediaan sarana
produksi; Pemberian bimbingan teknis manajemen usaha dan produksi;
Perolehan, penguasaan dan peningkatan teknologi yang diperlukan;
Pembiayaan; dan Pemberian bantuan lainnya yang diperlukan bagi
peningkatan efisiensi dan produktivitas usaha.
b. Model Manajemen Kolaborasi Pemberdayaan UMKM di Kota Bandung
dengan Kemitraan Usaha Besar, UMKM, Perbankan dan Pemerintah.
Perbankan sebagai Lembaga penjaminan memberikan prioritas pelayanan
dan kemudahan bagi UMKM yang bermitra dengan Usaha Besar untuk
memperoleh jaminan pendanaan melalui: Perluasan fungsi lembaga
penjaminan yang sudah ada dan atau pembentukan lembaga penjaminan
baru; dan Pembentukan lembaga penjamin ulang untuk menjamin
lembaga-lembaga penjaminan yang ada. Perbankan selaku Lembaga
pendukung lain, dapat dilakukan dengan bekerjasama dengan institusi
baik akademisi maupun konsultan professional yang berperan
mempersiapkan dan menjembatani UMKM yang akan bermitra dengan
Usaha Besar melalui : Penyediaan informasi, bantuan manajemen dan
teknologi terutama kepada Usaha Mikro dan Kecil; Persiapan UMKM
yang potensial untuk bermitra; Pemberian bimbingan dan konsultasi
kepada UMKM; Pelaksanaan advokasi kepada berbagai pihak untuk
kepentingan UMKM; Pelatihan dan praktek kerja bagi Usaha UMKM
yang akan bermitra.
c. Aspek manajerial, aspek permodalan, aspek program kemitraan, aspek
penciptaan iklim yang kondusif, aspek sistem pendukung (sarana dan
prasarana), dan aspek pembinaan merupakan faktor-faktor yang dapat
Page 30 of 32

membangun model manajemen kolaborasi pemberdayaan UMKM di


Kota Bandung.

5. Saran-saran
Bersasarkan kesimpulan penelitian ini, maka dapat diajukan beberapa saran
sebagai berikut:
1. Perlu dikembangkan lebih jauh model manajemen kolaborasi pemberdayaan
UMKM dengan memperhatikan faktor-faktor yang dapat membangun model
tersebut, seperti:
a. Aspek Manajerial, meliputi: peningkatan produktivitas/ozet/tingkat
utilitas/tingkat hunian, peningkatan kemampuan pemasaran, dan
pengembangan sumber daya manusia;
b. Aspek permodalan, meliputi: bantuan modal (penyisihan 1-5% profit dari
BUMN lebih diintensifkan lagi, dan kewajiban untuk menyalurkan kredit
bagi UMKM yang minimal 20% dari portofolio bank dan kemudahan
kredit, seperti KUPEDES, KUK, KMKP, KCK, Kredit mini/midi, KKU
lebih ditingkatkan lagi.
c. Aspek Kemitraan, meliputi: Kemitraan dengan BUMN/D, Kadin, BI, BPR,
dan Lembaga Keuangan berbasis Komunitas, dapat dilakukan dengan
sistem Bapak Asuh, dan keterikatan hulu-hilir (forward-linkage) atau
keterkaitan hilir-hulu (backward-linkage) dengan system subkontrak atau
modal ventura.
d. Aspek Penciptaan Iklim yang kondusif, dengan cara menfasilitasi
terselenggaranya lingkungan usaha yang efisien secara ekonomis, sehat
dalam persiangan, dan non diskrimitatif bagi kelangsungan dan peningkatan
kinerja usaha UMKM
e. Aspek Sistem Pendukung (sarana dan prasarana), dengan cara
pengembangan sentra Industri, seperti pembangunan/membuka pemukiman
industri Mikro dan Kecil (IMK), atau pengadaan lingkungan industri Mikro
dan Kecil (IMK), dan memberikan sarana usaha mikro dan kecil, yang
didukung oleh Unit Pelayan Teknis, dan Tenaga Penyuluh Teknis.
f. Aspek Pembinaan, dengan cara mebentuk Kelompok Usaha Bersama atau
Koperasi Industri Mikro dan Kecil), dll.
2. Merujuk pada faktor-faktor yang dapat membangun model manajemen
kolaborasi pemberdayaan UMKM di Kota Bandung, maka sebaiknya dilakukan
program pengembangan kewirausahaan dan keunggulan kompetitif dengan
cara memberikan peltihan terstruktur dan mandiri yang dapat meningkatkan
jiwa dan semnagat kewirausahaan bagi pelaku UMKM.
Page 31 of 32

DAFTAR PUSTAKA
Alsop, Ruth; Mette Bertelsen, Jeremy Holland. 2006 Empowerment in practice
: from analysis to implementation, HN49.C6A375-2006, The
International Bank for Reconstruction and Development/THE
WORLD BANK, 1818 H Street, NW, Washington, DC 20433 USA
Anderson, Dennis 1982 Small-Scale Industry in Developing Countries: A
Discussion of the Issues, World Development. Boeije, Hennie 1996
Analysis in Qualitatif Research, Sage Publications, Inc., Los Angeles,
London, New Delhi, Singapore, Washington DC.
Berry, Albert & D. Mazumdar 1991 Small-Scale Industry in the Asian-
Pacific Region, Asian-Pasific Economic Literature.
Cameron, Kim S. & Quinn, Robert E.1998 Diagnosing and Changing
Organizational Culture: Based on The CompetingValues Framework.
Choueke, Richard & Roger Armstrong 2000 Culture: a missing
perspective on small- and medium-sized enterprise
development, Research paper, International Journal of Entrepreneurial
Behaviour & Research
Creswell, J. W. 2009 Research Design: Qualitatif, Quantitative, and Mixed
Methods Approaches, Sage Publications, Inc. Thousand Oaks, CA
Davis, Keith & Newstorm, Newstorm John W. 1989 Human Behavior
at Work: Organizational Behavior, McGraw-Hill
Gibb, Allan 2000 Small and medium enterprise development: borrowing from
elsewhere? a research and development agenda, Viewpoint, Journal of
Small Business and Enterprise Development
Hartungi, Rusdy 2007 Understanding the success factors of micro-finance
institution in a developing country, Research paper, International
Journal of Social Economics
Hubeis, Musa 2009 Prospek Usaha Kecil Dalam Wadah Inkubator Bisnis,
Ghalia Indonesia, Bogor
Kusdi 2009 Teori Organisasi dan Administrasi, Salemba Humanika, Jakarta.
Levy, Brian 1991 Transaction Costs, the Size of Firms and Industrial Policy:
Lessons from a Comparative Case Study of the Footwear Industry in
Korea and Taiwan, Journal of Development Economics.
Lowe, Robin and Sue Marriott 2006 Enterprise: Entrepreneurship and
Innovation Concepts, Contexts and Commer- cialization, Elsevier
Ltd., Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP 30
Nitisusastro, Mulyadi 2010 Kewirausahaan & Manajemen Usaha Kecil,
Alfabeta, Bandung
Primiana, Ina 2009. Menggerakkan Sektor Riil UKM dan Industri, Alfabeta,
Bandung, Indonesia. Radyati, Maria R. Nindita
Page 32 of 32

Quade, E. S.1989 Analysis for Public Decisions, Third Editions, Revised


Edition by Grace M., Carter, A Rand Corporation Research Study,
North-Holland, Amesterdam.
Singh, Rajesh K., Suresh K. Garg, S.G. Deshmukh 2010 The Competitiveness
of SMEs in a globalized economy: Observations from China and India,
Research paper, Management Research Review
Staley, Eugene & Richard Morse 1965 Modern Small Industry in Developing
Countries, New York: Mcgraw-Hill.
Susanta, Gatut dan Syamsuddin. M. Azrin, 2009 Cara Mudah Mendirikan
& mengelola UMKM, Raih Asa Sukses, Jakarta, Indonesia.
Tambunan, Tulus Tahi Hamonangan 2009 Export-oriented small & medium
industry clusters in Indonesia, Research paper, Journal of Enterprising
Communities: People & Places in the Global Economy.
Tambunan, Tulus Tahi Hamonangan 2009 UKM di Indonesia, Ghalia
Indonesia, Bogor
Tambunan, Tulus Tahi Hamonangan 2011 Development of small and medium
enterprises in a developing country: The Indonesian case, Research
paper, Journal of Enterprising Communities: People and Places in the
Global Economy
Todd, Patricia R., Rajshekhar (Raj) G. Javalgi 2007 Internationalization of
SMEs in India: Fostering entrepreneurship by leveraging information
technology, Conceptual paper, International Journal of Emerging
Markets
Whitside, Mary Elizabeth 2009 A Grounded Theory of Empowerment in the
Context of Indigenous Australia, James Cook University,
http://eprints.jcu.edu.au/8228