You are on page 1of 33

Case Report Session (CRS)

Januari 2019

RUPTUR KORNEA DAN KATARAK TRAUMATIKA

OLEH :
Andi Ammar R. A. (G1A217010)

PEMBIMBING:
dr. Vonna Riasari, Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR


BAGIAN ILMU PENYAKIT MATA RSUD H. ABDUL MANAP
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS JAMBI
TAHUN 2019

1
LEMBAR PENGESAHAN

CASE REPORT SESSION (CRS)


RUPTUR KORNEA DAN KATARAK TRAUMATIKA

OLEH :
Andi Ammar R. A. (G1A217010)

Laporan ini telah diterima dan dipresentasikan


Pada, Januari 2019

Pembimbing

dr. Vonna Riasari, Sp.M

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Case Report Session (CRS) yang berjudul “Ruptur Kornea dan Katarak
Traumatika” untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik Ilmu Mata, Fakultas
Kedokteran Universitas Jambi di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi.
Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak
kepada dr. Vonna, Sp.M selaku konsulen ilmu mata yang telah membimbing
dalam mengerjakan Case Report Session (CRS) ini sehingga dapat diselesaikan
tepat waktu.
Dengan laporan kasus ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi
penulis dan orang banyak yang membacanya terutama mengenai masalah Ruptur
Kornea dan Katarak Traumatika. Saya menyadari bahwa Case Report Session
(CRS) ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu saya harapkan saran dan
kritik yang membangun untuk perbaikan yang akan datang.

Jambi, Januari 2019

Penulis

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Trauma mata merupakan kerusakan yang mengenai jaringan mata.
Jaringan mata yang dapat mengalami trauma adalah jaringan palpebra,
konyungtiva, kornea, uvea, lensa, retina, papil saraf optik, dan orbita. Negussie
dan Bejiga pada tahun 2011 melaporkan bahwa trauma mata merupakan 75,6%
dari seluruh kasus kedaruratan mata rumah sakit tersier di Addis Ababa. Data-data
ini merupakan 3% dari seluruh kunjungan untuk perawatan mata di rumah sakit
tersebut. Di Indonesia, berdasarkan hasil RISKESDAS pada tahun 2013, trauma
mata termasuk ke dalam 6 jenis trauma terbanyak yang terjadi di Indonesia dan
menempati urutan kelima jenis trauma yang paling sering terjadi pada tahun 2013
di Provinsi Sumatera Barat. Banyak penelitian yang melaporkan prevalensi
trauma mata yang lebih tinggi pada laki-laki dibanding perempuan. Hal ini juga
senada dengan penelitian oleh Ali Tabatabaei pada tahun 2013 yang memperoleh
dominasi dari jenis kelamin laki-laki pada lebih dari tiga perempat populasi yang
diteliti. Temuan ini diperkuat dengan ada keterlibatan yang lebih tinggi pada
trauma ini di antara laki-laki karena laki-laki lebih aktif dan umumnya lebih
banyak terlibat aktivitas di luar ruangan dan lebih berisiko daripada perempuan.
Trauma mata akan menyebabkan lesi pada mata dan bahkan dapat
mengakibatkan kebutaan unilateral dan bilateral yang seharusnya dapat dicegah di
seluruh dunia. Jahangir pada tahun 2011 menegaskan bahwa pada lesi trauma
mata yang paling kecil sekalipun dapat menyebabkan rasa sakit dan
ketidaknyamanan karena kornea adalah salah satu jaringan yang paling sensitif
dari tubuh manusia. Salah satu akibat dari trauma mata pada kornea adalah ruptur
kornea yang merupakan trauma pada kornea baik partial- maupun full-thickness.
Katarak merupakan kekeruhan lensa dengan beberapa faktor penyebab
katarak antara lain yaitu kongenital, usia lanjut, penyakit sistemik, infeksi, dan
trauma. Katarak traumatik menyumbang 5-10% dari semua kasus trauma mata.
Dilihat dari jenis kelamin perbandingan kejadian katarak traumatik laki-laki dan

4
perempuan adalah 4:1. National Eye Trauma System Study melaporkan rata-rata
usia penderita katarak traumatik adalah 28 tahun dari 648 kasus yang
berhubungan dengan trauma mata.
Dengan demikian, kasus ruptur kornea dan katarak traumatika menjadi
penting untuk dibahas karena semakin dini diagnosis ditegakkan, maka
penatalaksaan pun dapat diberikan sedini mungkin dan akhirnya komplikasi pun
dapat dicegah.

5
BAB II
LAPORAN KASUS
Anamnesis
Identifikasi Nama : Ny. CY
Umur : 86 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Tidak Bekerja
Alamat : RT 20 Kel. Rawasari, Alam Barajo
Tanggal berobat : 27 Desember 2018
Keluhan utama Mata kanan tidak bisa melihat sejak ± 1 minggu yang lalu.
Anamnesa Khusus ±1 minggu yang lalu pasien mengeluh mata kanan tidak
bisa melihat secara mendadak setelah terkena percikan
sabut kelapa saat pasien sedang membuka kelapa tua
dengan parang. Mata pasien menjadi berwarna merah
hampir separuh mata, tetapi tidak berdarah. Mata terasa
sangat nyeri yang dirasakan terus-menerus. Nyeri
berkurang setelah diberi obat tetes mata yang diberikan
oleh dokter. Mata kiri tidak ada keluhan. Pandangan silau
(-), keluhan mata berair (-), kotoran mata berlebihan(-),
rasa mengganjal pada mata (-).
Riwayat penyakit a. Riwayat keluhan serupa (-)
dahulu b. Riwayat operasi (-)
c. Riwayat penyakit DM (-)
d. Alergi (-)
e. Riwayat hipertensi (-)
f. Riwayat pakai kaca mata (-)
Riwayat penyakit a. Riwayat keluarga dengan keluhan yang sama (-)
keluarga b. Riwayat Hipertensi (-)

6
c. Riwayat DM (-)
Riwayat gizi IMT = BB/(TB)2= 42/150 = IMT 18,67 kg/m2 (Normal)
Keadaan sosial Menengah, tinggal bersama anaknya.
ekonomi
Penyakit sistemik
 Tractus respiratorius Tidak ada keluhan
 Tractus digestivus Tidak ada keluhan
 Kardiovaskuler Tidak ada keluhan

 Endokrin Tidak ada keluhan

 Neurologi Tidak ada keluhan

 Kulit Tidak ada keluhan


Penurunan pendengaran telinga kiri dan
 THT
kanan (+)
Tidak ada keluhan
 Gigi dan mulut
Tidak ada keluhan
 Lain-lain

I.Pemeriksaan visus dan refraksi


OD OS
Visus 1/300 6/30
PH - -

7
II. Muscle Balance
Kedudukan bola mata Ortophoria Orthophoria

Pergerakan bola mata

Duksi : baik Duksi : baik


Versi : baik Versi : baik
Pemeriksaan Eksternal
OD OS

Inj. Siliar Vulnus perforatum Inj. konjungtiva


Lensa keruh, Ruptur kapsul anterior
Korteks (+) di COA

Pemeriksaan Eksternal OD OS
Palpebra Superior Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
blefarospasme (+) bleafarospasme (+)
Palpebra Inferior Hiperemis (-), edema (-), Hiperemis (-), edema (-),
blefarospasme (+) blefarospasme (+)
Silia Trichiasis (-) Trichiasis (-)
Konjungtiva tarsus Sup Papil(-), folikel (-), Papil(-),folikel(-),
& Inf
Konjungtiva Bulbi Injeksi siliar (+), Injeksi Injeksi siliar (-), Injeksi
Konjungtiva (+) Konjungtiva (-)
Kornea Vulnus perforatum (+) 3- Jernih

8
4 mm dari limbus, ukuran
2-3 mm
COA Dangkal, korteks lensa Sedang
(+)
Pupil Sulit dinilai Bulat, Isokor
Diameter Sulit dinilai 3mm
RCL/RCTL Sulit dinilai -/-
Iris Kripta iris normal, warna Kripta iris normal, warna
coklat coklat
Lensa Keruh, ruptur kapsul Jernih
anterior (+)
Pemeriksaan Slit Lamp
(Tidak dilakukan)
Tekanan Intra Okuler
Palpasi : Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tonometer Schiotz : Tidak dilakukan Tidak dilakukan
NCT: Tidak dilakukan Tidak dilakukan
Tonometer Aplanasi Tidak teridentifikasi 15 mmHg
Funduskopi (Sulit dinilai)
VISUAL FIELD
Konfrontasi Sulit dinilai Normal

Pemeriksaan Umum
Tinggi badan 150 Cm
Berat badan 42 Kg
Tekanan darah 120/80 mmHg
Nadi 72 kali/menit
Suhu 36,30C
Pernapasan 20 kali/menit

9
Laboratorium: (tanggal 27-12-2018)
RBC: 4,24 x 1012/l GDS: 103 mg/dl
HT: 35,6% CT: 6 menit
WBC: 7,5 x 109/l BT: 2 menit
PLT: 269 x 109/l
HB: 11,7 g/dl
Kesan: Normal
Diagnosis : Ruptur Kornea Lensa OD + Katarak Traumatik OD
Differential Diagnosa :
- Abrasi Kornea OD
- Trauma tembus mata OD
Anjuran Pemeriksaan:
- USG Orbita
- Foto Polos Orbita
Pengobatan:
- Pro repair OD
- Moxifloxacin eye drops 1 tetes/jam OD
- Ciprofloxacin 2 x 500 mg
- Asam Mefenamat 2 x 250 mg
- Ranitidin 2 x 150 mg
Prognosis :
Q Quoad vitam : dubia ad malam
Quoad functionam : dubia ad malam
Quoad sanationam : dubia ad malam

10
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. TRAUMA MATA


2.1.1. Definisi
Trauma mata adalah trauma atau cedera yang terjadi pada mata yang
dapat mengakibatkan kerusakan pada bola mata, kelopak mata, saraf mata
dan rongga orbita, kerusakan ini akan memberikan penyulit sehingga
mengganggu fungsi mata sebagai indra penglihatan.
2.2.2. Klasifikasi
Menurut Birmingham Eye Trauma Terminology (BETT), trauma mata
dibagi menjadi:
 Tertutup
- Kontusio: tidak ada luka pada bola mata
- Laserasi lamellar: hanya mengenai setengah dari ketebalan dinding
bola mata.
 Terbuka
- Laserasi: mengenai seluruh ketebalan dinding bola mata yang
disebabkan benda tajam
- Penetrasi: satu agen menyebabkan satu luka masuk
- Benda asing dalam mata: sama dengan penetrasi tetapi
dikelompokan sendiri karena memerlukan penanganan berbeda.
- Perforasi: terdapat luka masuk dan luka keluar
- Ruptur: mengenai seluruh ketebalan dinding bola mata yang
disebabkan benda tumpul
2.1.3. Etio-Patogenesis
Beratnya trauma yang terjadi ditentukan oleh ukuran benda,
komposisi dan kecepatan pada saat bertumbukan. Benda tajam seperti
pisau akan menimbulkan luka laserasi yang jelas pada bola mata. Berbeda
dengan kerusakan akibat benda asing yang terbang beratnya kerusakan
ditentukan oleh energi kinetik yang dimiliki. Contohnya pada peluru pistol

11
angin yang besar dan memiliki kecepatan yang tidak terlalu besar memiliki
energi kinetik yang tinggi dan menyebabkan kerusakan mata yang cukup
parah. Kontras dengan pecahan benda tajam yang memiliki massa yang
kecil dengan kecepatan tinggi akan menimbulkan laserasi dengan batas
yang jelas dan beratnya kerusakan lebih ringan dibandingkan kerusakan
akibat peluru pistol angin.
Terdapat empat mekanisme yang menyebabkan terjadi trauma
okuli yaitu coup, countercoup, equatorial, dan global repositioning. Cuop
adalah kekuatan yang disebabkan langsung oleh trauma. Countercoup
merupakan gelombang getaran yang diberikan oleh cuop, dan diteruskan
melalui okuler dan struktur orbita. Akibat dari trauma ini, bagian equator
dari bola mata cenderung mengambang dan merubah arsitektur dari okuli
normal. Pada akhirnya, bola mata akan kembali ke bentuk normalnya,
akan tetapi hal ini tidak selalu seperti yang diharapkan.
Trauma pada mata dapat mengenai organ mata dari yang terdepan
sampai yang terdalam. Trauma tembus bola mata bisa mengenai:
1. Palpebra mengenai sebagian atau seluruhnya jika mengenai levator
apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen.
2. Saluran Lakrimalis dapat merusak sistem pengaliran air mata dari
pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat
menyebabkan kekurangan air mata.
3. Congjungtiva dapat merusak dan ruptur pembuluh darah menyebabkan
perdarahan sub konjungtiva.
4. Sklera bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan
tekanan bola mata dan kamera okuli jadi dangkal (obliteni), luka sklera
yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, bola mata menjadi
injury.
5. Kornea, bila ada tembus kornea dapat mengganggu fungsi penglihatan
karena fungsi corneas ebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus
kornea menyebabkan iris prolaps, korpus vitreum dan korpus ciliaris
prolaps, hal ini dapat menurunkan visus.

12
6. Lensa bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina
sehingga menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan
menurun karena daya akomodasi tisak adekuat.
7. Iris bila ada trauma akan robekan pada akar iris (iridodialisis),
sehingga pupil agak kepinggir letaknya, pada pemeriksaan biasa
terdapat warna gelap selain pada pupil, tetapi juga pada dasar iris
tempat iridodialisis.
8. Pupil, bila ada trauma akan menyebabkan melemahnya otot-otot
sfinter pupil sehingga pupil menjadi midriasis

2.1.4. Manifestasi Klinis


Trauma tajam selain menimbulkan perlukaan dapat juga disertai
tertinggalnya benda asing di dalam mata. Benda asing yang tertinggal
dapat bersifat tidak beracun (seperti pasir, kaca) dan beracun (contohnya
logam besi, tembaga serta bahan dari tumbuhan misalnya potongan kayu).
Bahan tidak beracun dapat pula menimbulkan infeksi jika tercemar oleh
kuman.
Bila trauma yang disebabkan benda tajam atau benda asing lainya
masuk kedalam bola mata maka akan mengakibatkan tanda-tanda bola
mata tembus seperti:
- Tajam penglihatan yang menurun akibat terdapatnya kekeruhan media
refrakta secara langsung atau tidak langsung akibat trauma tembus
tersebut
- Bentuk dan letak pupil yang berubah
- Terlihat adanya ruptur pada kornea atau sclera
- Terdapat jaringan yang prolaps, seperti cairan mata, iris, lensa, badan
kaca atau retina
- Konjungtivis kemotis
- Mata merah, nyeri, fotofobia, blefarospasme dan lakrimasi
- Tekanan bola mata rendah akibat keluarnya cairan bola mata
- Bilik mata dangkal akibat perforasi kornea

13
- Adanya hifema pada bilik mata depan
2.1.5. Diagnosis
Anamnesis
- Mekanisme trauma harus ditanyakan dengan detail dan lengkap
- Bentuk dan ukuran benda penyebab trauma.
- Asal dari objek penyebab trauma.
- Kemungkinan adanya benda asing pada bola mata dan atau pada
orbita.
- Keadaan saat terjadinya trauma
- Waktu dan lokasi terjadinya trauma.
- Aksesoris mata yang dapat melindungi atau berkontribusi pada trauma
akut.
- Keadaan miopia berat menyebabkan mata lebih rentan terhadap trauna
kompresi anterior-posterior.
- Riwayat medis
- Riwayat mata
- Operasi mata sebelumnya, dapat membuat jaringan lebih mudah
ruptur.
- Penglihatan sebelum terjadinya trauma pada kedua mata.
- Penyakit mata yang ada.
- Medikasi yang sedang dijalani termasuk obat tetes mata dan alergi.
Pemeriksaan fisik
 Orbita
Periksa adanya deformitas tulang, benda asing, dan dislokasi bola
mata. Benda asing pada mata yang tertanam atau bila terjadi perforasi
harus dijaga hingga dilakukan pembedahan.
 Palpebra
Pelpebra dan trauma kelenjar lakrimal dapat menunjukan adanya
trauma yang dalam pada mata. Laserasi pada palpebra dapat
menyebabkan perforasi bola mata. Perbaikan palpebra ditunda hingga
trauma bola mata ditentukan penyebabnya.

14
 Konjungtiva
Laserasi konjungtiva dapat terjadi pada kerusakan sklera yang serius.
Perdarahan konjungtiva yang berat dapat mengindikasikan ruptur bola
mata.
 Kornea dan sclera
Laserasi kornea penuh atau yang melibatkan sklera merupakan bagian
dari ruptur bola mata dan harus diperbaiki di kamar operasi. Dapat
terjadi prolapse iris pada laserasi kornea penuh. Tekanan bola mata
umumnya rendah, namun pengukuran merupakan kontraindikasi untuk
menghindari penekanan pada bola mata.
 Pupil
Periksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan afferent pupillary defect
(APD). Bentuk lancip, tetesan air, atau ireguler bisa terjadi pada ruptur
bola mata.
 Segmen anterior
Pada pemeriksaan dengan lampu sliIt, bisa ditemukan defek pada iris,
laserasi kornea, prolaps iris, hifema, dan kerusakan lensa. Bilik mata
depan dangkal dapat menjadi tanda ruptur bola mata dengan prognosis
yang buruk. Pada ruptur posterior dapat ditemukan bilik mata depan
dalam pada ekstrusi vitreous pada segmen posterior.
 Temuan lain
Perdarahan viteous setelah trauma menunjukan adanya robekan retina
atau koroid, avulsi saraf optikus, atau adanya benda asing. Robekan
retina, edema, ablasio, dan hemoragi dapat terjadi pada ruptur bola
mata.
Pemeriksaan penunjang
 Foto polos orbita untuk mencari benda asing radioopak.
 USG orbita pada keadaan media refraksi keruh untuk mendapatkan
informasi tentang status dari struktur intraokuler, lokalisasi dari benda
asing intraokuler, deteksi benda asing non metalik, deteksi perdarahan

15
koroid, ruptur sklera posterior, ablasio retina, dan perdarahan sub
retina.
 CT Scan untuk evaluasi struktur intraokuler dan periorbita, deteksi
adanya benda asing intraokuler metalik dan menentukan terdapatnya
atau derajat kerusakan periokuler, keikutsertaan trauma intrakranial
misalnya perdarahan subdural.
 MRI sangat baik untuk menilai jaringan lunak tetapi kontraindikasi
pada benda asing yang terbuat dari metal.
 Pengukuran tekanan IOL dengan tonography: mengkaji nilai normal
tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg). Pengkajian dengan
menggunakan optalmoskop: mengkaji struktur internal dari okuler,
papiledema, retina hemoragi. Pemeriksaan Laboratorium, seperti :
SDP, leukosit, kemungkinan adanya infeksi sekunder. Pemeriksaan
kultur untuk mengetahui jenis kumannya. Perlu pemeriksaan tonometri
Schiotz, perimetri, gonioskopi, tonografi, maupun funduskopi.
2.1.6. Penatalaksanaan
Teknik yang digunakan tergantung dari beratnya luka dan adanya
komplikasi seperti inkarserasi iris, COA yang datar, dan kerusakan
intraokular.
 Laserasi kornea kecil
Tidak membutuhkan penjahitan karena bisa menyembuh sempurna
atau dengan bantuan lensa kontak yang seperti perban lembut.
 Laserasi kornea ukuran medium
Biasanya membutuhkan jahitan terutama jika COA datar. COA yang
datar dapat kembali berubah semula secara spontan jika kornea telah
dijahit, jika tidak, harus dikembalikan dengan solusio garam seimbang.
Bandage contanct lens post operatif juga berguna selama beberapa hari
untuk meyakinkan bahwa COA tetap dalam.
 Laserasi kornea dengan inkarserasi iris
Manajemen tergantung dari durasi dan luasnya inkarserasi. Kebocoran
kecil dari inkarserasi yang baru terjadi dapat digantikan oleh konstriksi

16
pupil. Inkarserasi iris yang besar harus di absisi terutama jika iris
terlihat non-viabel.
 Laserasi kornea dengan kerusakan lensa
Diterapi dengan menjahit laserasi dan memindahkan lensa dengan
phacoemulsification atau dengan vitreus cutter jika vitreus terlibat.
Luka pada sklera anterior dapat berhubungan dengan komplikasi serius
seperti prolaps uvea dan inkarserasi vitreus. Inkarserasi vitreus
meskipun dengan manajemen yang tepat, dapat menimbulkan traksi
vitreoretina dan ablasio retina.

2.1.7. Komplikasi
Komplikasi yang ditentukan setelah trauma okuli perforans:
 Infeksi: endoftalmitis, panoftalmitis
 Katarak traumatic
 Galukoma sekunder
 Oftalmika simpatika
 Ablasi retina
 Perdarahan intraokuler
 Ptisis bulbi
Endoftalmitis dapat terjadi dalam beberapa jam hingga dalam
beberapa minggu tergantung pada jenis mikroorganisme yang terlibat.
Endoftalmitis dapat berlanjut menjadi panoftalmitis.
Simpatetik oftalmika adalah inflamasi yang terjadi pada mata yang
tidak cedera dalam jangka waktu 5 hari sampai 60 tahun dan biasanya 90%
terjadi dalam 1 tahun.8 Diduga akibat respon autoimun akibat terekposnya
uvea karena cedera, keadaan ini menimbulkan nyeri, penurunan ketajaman
penglihatan mendadak, dan fotofobia yang dapat membaik dengan
enukleasi mata yang cedera.

17
2.1.8. Prognosis
Prognosis berhubungan dengan sejumlah faktor seperti visus awal,
tipe dan luasnya luka, adanya atau tidak adanya ablasio retina, atau benda
asing. Secara umum, semakin posterior penetrasi dan semakin besar
laserasi atau ruptur, prognosis semakin buruk. Trauma yang disebabkan
oleh objek besar yang menyebabkan laserasi kornea tapi menyisakan
badan vitreus, sklera dan retina yang tidak luka mempunyai prognosis
penglihatan yang baik dibandingkan laserasi kecil yang melibatkan bagian
posteror. Trauma tembus akibat benda asing yg bersifat inert pun
mempunyai prognosis yang baik. Trauma tembus akibat benda asing yang
sifatnya reaktif magnetik lebih mudah dikeluarka dan prognosisnya lebih
baik. Pada luka penetrasi, 50-75% mata akan mencapai visus akhir 5/200
atau lebih baik.

2.2. RUPTUR KORNEA


2.2.1. Definisi
Ruptur kornea merupakan trauma pada kornea baik partial-
maupun full-thickness. Luka partial-thickness tidak mengganggu bola
mata (abrasi). Luka full-thickness penetrasi penuh pada kornea,
menyebabkan ruptur dari bola mata.
2.2.2. Etiologi
Ruptur kornea (luka terbuka atau open globe) diakibatkan oleh
trauma yang bersifat tumpul. Luka terjadi akibat peningkatan tiba-tiba
melalui mekanisme inside-out (dalam ke luar) sebagai mekanisme cedera.
Laserasi adalah luka full thickness pada dinding mata akibat objek
yang tajam. Mekanisme adalah outside in (luar ke dalam). Termasuk di
bawah laserasi adalah luka perforasi, luka penetrasi, dan akibat benda
asing.

18
2.2.3. Penatalaksaan
Penyembuhan Luka Kornea
Dalam waktu satu jam setelah trauma, sel epitel parabasilar mulai
membelah dan bermigrasi ke seluruh denudation area secara terus
menerus untuk menutup defek. Penyembuhan yang lengkap, termasuk
restorasi ketebalan epitel (4-6 lapis) dan reformasi fibril, membutuhkan
waktu 4-6 minggu.
Penyembuhan stroma kornea avascular. Tidak sepeti jaringan
lainnya, penyembuhan pada stroma kornea terjadi karena fibrosis daripada
proliferasi fibrovaskular.
Epitelium dan endothelium merupakan bagian yang penting untuk
penyembuhan luka. Jika epitelium tidak menutupi luka dalam waktu
beberapa hari, penyembuhan stroma di bawahnya akan terbatas dan luka
akan rapuh. Factor pertumbuhan dari epitelium merangsang dan
meneruskan penyembuhan. Sel endotel di atas luka menyebrang ke
posterior kornea, beberapa sel diganti melalui aktivitas mitosis.
Endothelium membentang di bawah lapisan tipis yang baru dari membrane
Descemet. Jika batas interna luka tidak ditutupi oleh membrane Descemet,
fibroblast stroma berproliferasi terus-menerus ke ruang anterior sebagai
fibrous ingrowth, atau posterior luka mungkin terbuka permanen. Kolagen
fibrillar pertama diganti oleh kolagen yang lebih kuat pada pada akhir
bulan-bulan penyembuhan. Lapisan Bowman tidak berdegenerasi ketika
luka ataupun hancur.
Pada partial-thickness corneal laceration luka biasanya akan
menutup sendiri. Terapi yang dibutuhkan berupa antibiotik topikal dan
siklopegik topikal untuk mengurangi spasme siliar sehingga nyeri
berkurang. Dapat juga digunakan lensa kontak sebagai pelindung luka.

Pada simple full-thickness lacerations, tatalaksana dilakukan


berdasarkan ukuran luka, kebocoran luka, dan keterlibatan organ okular
lain. Jika ukuran kecil (<2mm), maka luka bisa menutup sendiri dengan

19
baik. Terapi yang diberikan ssama seperti pada laserasi partial-thickness,
yaitu antibiotik, siklopegik dan lensa kontak perban. Jika COA tidak
bertambah dalam atau kebocoran luka tidak menutup dalam 48 jam, maka
dilakukan penutupan luka dengan jahitan atau lem jaringan
(cyanoacrylate).
Pasien dengan ukuran luka lebih dari 3 mm, terdapat lepasnya
jaringan korneal, laserasi yang sampai ke iris atau kornea harus di
tatalaksana bedah. Intervensi pada trauma tembus bola mata idealnya
dilakukan secepat mungkin, meskipun dari berbagai penelitian menyatakan
bahwa tidak ada kerugian yang ditimbulkan jika operasi ditunda hingga 36
jam.
Laserasi kornea dapat menyebabkan tissue loss pada mata. Defek
yang sangat kecil dapat ditutup dengan cara dijahit atau menggunakan lem
jaringan cyanoacrylate. Untuk defek yang lebih besar membutuh terapi
autograf. Jika ukuran defek <5 mm dapat dilakukan autograf lamelar.
Defek yang lebih besar dari itu dapat diberikan graf full-thickness patch.
Kedua teknik ini membutuhkan donor kornea.
Laserasi pada kornea juga bisa menyebabkan terjadinya prolaps
uvea. Jika luka di kornea itu disertai prolaps iris, iris yang keluar harus
dipotong dan sisanya di repossisi, Jika jaringan uvea prolaps lebih dari 24
jam jangan direposisi karena beresiko terjadi infeksi atau epithelial
seeding ke COA. Prolap jaringan uveal yang lama atau prolap jaringan
yang sudah tidak vial lagi harus dieksisi.
Kalau luka telah berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata
depan dibilas terlebih dahulu dengan larutan penisilin 10.000 U/cc,
sebelum kornea dijahit. Sesudah selesai seluruhnya, berikan antibiotika
dengan spektrum luas dan sistemik, juga subkonjungtiva
Untuk terapi konservatif dapat diberikan Antibiotik agar tidak
terjadi endoftalmitis postraumatika. Sebaiknya diberikan antibiotika
spektrum luas untuk Gram positif dan Gram negatif. Obat yang dapat
digunakan adalah Vankomisin intravitreal 1 mg atau intravena 1 gram tiap

20
12 jam, Ofloksasin 1 tetes 4 kali sehari, atau Seftazidim 250 mg-2 g IV/IM
tiap 8-12 jam atau 2,25 mg intravitreal.

2.2.6. Komplikasi
Komplikasi sebelum penatalaksanaan, dapat berupa:
1. Terdapatnya benda asing intraokuler bisa memperberat keadaan
menjadi endoftalmitis, panoftalmitis, ablasio retina, perdarahan
intraocular,dan ptisis bulbi
2. Katarak traumatika. Lensa menjadi putih segera setelah masuk benda
asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan aquous humour
dan kadang-kadang viterus masuk ke dalam struktur lensa.

Komplikasi setelah penatalaksanaan, dapat berupa:


1. Jaringan sikatrik pada kornea
2. Glaukoma sekunder karena sinekia anterior, atau inflamasi yang
diinduksi oleh lensa
3. Pembentukan membran pada pupil
4. Kerusakan epitel okular permanen, timbul ulserasi stromal steril.
5. Downgrowth epitelial
Epitelium bisa tumbuh melewati luka dan terus ke bagian belakang
kornea. Lebih jarang ditemukan sekarang karena adanya teknologi
mikrosurgeri. Walaupun ditemukan, pengobatan yang efektif adalah
sukar. Downgrowth tersebut harus dieksisi dan kawasan sekeliling
downgrowth tersebut dikrioterapi.
6. Astigmatisme
Komplikasi yang sangat sering setelah luka kornea walau sekecil
manapun luka tersebut. Pertama, ini karena jaringan korneal lebih
berkompresi daripada elastis. Karena sifat tidak elastisnya, sutura yang
diikat keras bisa mendistorsi bentuk kornea dan mengakibatkan
astigmatisme. Keduanya, fibrosis pada penyembuhan luka adalah
sangat bervariasi.

21
2.2.7. Prognosis
Pada trauma kornea sederhana yang tidak melibatkan struktur
okular lain atau tissue loss, memperlihatkan hasil yang baik. Laserasi
kornea kompleks, yang melibatkan struktur okular lain seperti uvea atau
vitreu ataupun adanya tissue loss, tidak hanya sulit pada
penatalaksanaannya, tetapi lebih sulit lagi untuk memperbaiki komplikasi
yang ditimbulkan setelah penanganan. Semakin tinggi derajat komplikasi
makin buruk prognosis visualnya.

2.3. KATARAK TRAUMATIK


2.3.1. Definisi
Katarak adalah suatu keadaan dimana lensa mata yang biasanya
jernih dan bening menjadi keruh. Katarak berasal dari bahasa Yunani
cataracta yang berarti air terjun. Asal kata ini mungkin sekali karena
pasien katarak seakan-akan melihat sesuatu seperti tertutup oleh air terjun
di depan matanya. Seseorang dengan katarak akan melihat benda seperti
ditutupi kabut.
Katarak traumatik adalah katarak yang terjadi akibat trauma, baik
trauma tembus maupun trauma tumpul pada bola mata yang dapat terlihat
setelah beberapa hari atau beberapa tahun dan paling sering karena adanya
cedera yang disebabkan oleh benda asing yang mengenai lensa atau
trauma tumpul pada bola mata. Katarak traumatik ini dapat muncul akut,
subakut, ataupun gejala sisa dari trauma mata.
2.3.2. Patofisiologi dan Etiologi
Trauma tumpul bertanggung jawab dalam mekanisme coup dan
contrecoup.Mekanisme coup adalah mekanisme dengan dampak langsung.
Ini akan mengakibatkan cincin Vossius (pigmen iris tercetak) dan kadang-
kadang ditemukan pada kapsul lensa anterior setelah trauma tumpul.

22
Mekanisme contrecoup menunjuk kepada cedera yang jauh dari tempat
trauma yang disebabkan oleh gelombang energi yang berjalan sepanjang
garis sampai kebelakang.Ketika permukaan anterior mata terkena trauma
tumpul, ada pemendekan cepat pada anterior-posterior yang diikuti
pemanjangan garis ekuatorial.Peregangan ekuatorial dapat meregangkan
kapsul lensa, zonula atau keduanya.Kombinasi coup, contrecoup dan
pemanjangan ekuatorial bertanggung jawab dalam terjadinya katarak
traumatik yang disebabkan trauma tumpul bola mata.Trauma tembus yang
secara langsung menekan kapsul lensa menyebabkan opasitas kortikal
pada tempat trauma. Jika trauma cukup besar, keseluruhan lensa akan
mengalami opasifikasi secara cepat, namun jika kecil, katarak kortikal
yang akan terjadi.
a. Luka memar/tumpul
Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai
mata dapat menyebabkan lensa menjadi opak.Trauma yang disebabkan
oleh benturan dengan bola keras adalah salah satu contohnya.Kadang
munculnya katarak dapat tertunda sampai kurun waktu beberapa
tahun.Bila ditemukan katarak unilateral, maka harus dicurigai
kemungkinan adanya riwayat trauma sebelumnya, namun hubungan sebab
dan akibatnya kadang-kadang cukup sulit dibuktikan dikarenakan tidak
adanya tanda-tanda lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma
sebelumnya tersebut.Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular
anterior maupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti
bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang
disebut cincin Vossius. Seringnya, manifestasi awal dari katarak traumatik
ini adalah kekeruhan berbentuk roset (rossete cataract), biasanya pada
daerah aksial yang melibatkan kapsul posterior lensa. Pada beberapa
kasus, trauma tumpul dapat berakibat dislokasi dan pembentukan katarak
pada lensa. Katarak traumatik ringan dapat membaik dengan sendirinya
(namun jarang ditemukan).
b. Luka tusuk/perforasi

23
Luka perforasi pada mata mempunyai tendensi yang cukup tinggi
untuk terbentuknya katarak. Jika objek yang dapat menyebabkan perforasi
(contohnya gelas yang pecah ) tembus melalui kornea tanpa mengenai
lensa biasanya tidak memberikan dampak pada lensa, dan bila trauma
tidak menimbulkan suatu luka memar yang signifikan maka katarak tidak
akan terbentuk. Hal ini tentunya juga bergantung kepada penatalaksanaan
luka kornea yang hati-hati dan pencegahan terhadap infeksi, akan tetapi
trauma-trauma seperti diatas dapat juga melibatkan kapsul lensa, yang
mengakibatkan keluarnya lensamata ke bilik anterior. Urutan dari dampak
setelah trauma juga bergantung pada usia pasien.
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat,
perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat priloferasi epitel
sehingga bentuk kekeruhan terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa
akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan
terdapatnya lensa didalam bilik mata. Pada keadaan ini akan terlihat secara
histopatologik masa lensa yang akan difagosit makrofag dengan cepatnya
yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakolitik. Lensa dengan
kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan
mengakibatkan terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel lensa
berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elschnig.
c. Radiasi
Sinar yang terlihat cenderung tidak menyebabkan timbulnya
katarak.Ultraviolet juga mungkin tidak menyebabkan katarak karena sinar
dengan gelombang pendek tidak dapat melewati atmosfir. Sinar
gelombang pendek ( tidak telihat ) ini dapat menyebabkan luka bakar
kornea superficial yang dramatis, yang biasanya sembuh dalam 48
jam.Cedera ini ditandai dengan “snow blindness” dan “welder
flash”.7Sinar infra merah yang berkepanjangan (prolong) juga dapat
menjadi penyebab katarak, ini dapat ditemui pada pekerja bahan-bahan
kaca dan pekerja baja, namun penggunaan kacamata pelindung dapat
setidaknya mengeliminasi sinar X ini dan sinar gamma yang juga dapat

24
mengakibatkan katarak. Katarak traumatik disebabkan oleh radiasi ini
dapat ditemukan pada pasien-pasien yang mendapat radioterapi (seluruh
tubuh) leukemia, namun resiko terjadinya hanya apabila terapi
menggunakan sinar X.
d. Kimia
Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak,
selain menyebabkan kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen
basa yang masuk mengenai mata menyebbakan peningkatan pH cairan
akuous dan menurunkan kadar glukosda dan askorbat. Hal ini dapat terjadi
secara akut ataupun pelahan-lahan. Trauma kimia dapat juga disebabkan
oleh zat asam, namun karena trauma asam sukar masuk ke bagian dalam
mata dibandingkan basa makan jarang menyebabkan katarak.
2.3.3. Gejala Klinis
Gambaran klinis yang dapat ditemui antara lain adalah:
1. Penurunan ketajaman visus
Katarak secara klinis relevan jika menyebabkan penurunan
signifikan pada ketajaman visual, baik itu dekat maupun jauh. Biasanya
akan ditemui penurunan tajam penglihatan dekat signifikan dibanding
penglihatan jauh, mungkin disebabkan oleh miosis akomodatif. Jenis
katarak yang berbeda memiliki tajam penglihatan yang berbeda pula.Pada
katarak subkapsuler posterior dapat sangat mengurangi ketajaman
penglihatan dekat menurun daripada penglihatan jauh.Sebaliknya katarak
nuklear dikaitkan dengan tajam penglihatan dekat yang tetap baik dan
tajam penglihatan jauh yang buruk. Penderita dengan katarak kortikal
cenderung memperoleh tajam penglihatan yang baik.
2. Silau
Seringkali penderita mengeluhkan silau ketika dihadapkan dengan
sinar langsung.Biasanya keluhan ini ditemukan pada katarak subkapsuler
posterior dan juga katarak kortikal. Jarang pada katarak nuklearis.
3. Sensitivitas kontras

25
Sensitivitas kontras dapat memberikan petunjuk mengenai
kehilangan signifikan dari fungsi penglihatan lebih baik dibanding
menggunakan pemeriksaan Snellen. Pada pasien katarak akan sulit
membedakan ketajaman gambar, kecerahan, dan jarak ruang sehingga
menunjukkan adanya gangguan penglihatan.
4. Pergeseran myopia
Pasien katarak yang sebelumnya menggunakan kacamata jarak
dekat akan mengatakan bahwa ia sudah tidak mengalami gangguan
refraksi lagi dan tidak membutuhkan kacamatanya. Sebaliknya pada
pasien yang tidak menggunakan kacamata, ia akan mengeluhkan bahwa
penglihatan jauhnya kabur sehingga ia akan meminta dibuatkan kacamata.
Fenomena ini disebut pergeseran miopia atau penglihatan sekunder,
namun keadaan inibersifatsementaradanterkait denganstadium katarak
yang sedang dialaminya.
5. Diplopia monokuler
Pada pasien akan dikeluhkan adanya perbedaan gambar objek yang
ia lihat, ini dikarenakan perubahan pada nukleus lensa yang memiliki
indeks refraksi berbeda akibat perubahan pada stadium katarak. Selain itu,
dengan menggunakan retinoskopiatau oftalmoskopi langsung, akan
ditemui perbedaan area refleks merah yang jelasterlihat dan tidak terlalu
jelas.
2.3.4. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila
terjadi pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya
amblyopia. Untuk mencegah amblyopia pada anak dapat dipasang lensa intra
ocular primer atau skunder.Apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu
sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti seperti glaucoma,
uveitis, dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa.9 Penyulit
uveitis dan glaucoma sering dijumpaia pada orang usiaa tua. Pada beberapa pasien
dapat terbentuk cincin sommering pada pupil sehinggaa dapat mengurangi tajam

26
penglihatan. Keaadaan sepertidapat disertaai dengan perdarahan, aablasi retina,
uveitis, atau salah letak lensa.
Harus diberikan antibiotic sistemik dan topical serta kortikosteroid topical
dalam beberapa hari untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis.
Aatropin sulfat 1% 1 tetes 3 kali sehari, dianjurkan untuk menjaga pupil tetap
berdilatasi dan untuk mencegah pembentukan sinekia posterior.10
Katarak dapat dikelurkan pasa saat pengeluaran benda asing atau setelah
peradangan mereda.Apabila terjadi glaucoma selama periode menunggu, bedah
katarak jangan ditunda walaupun masih terdapat peradangan. Untuk
mengeluarkan katarak traumatic, biasanya digunakan teknik-teknik yang sama
dengan yang digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada
pasien berusia kurang dari 30 tahun.
Indikasi penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik adalah
sebagai berikut:
- Penurunan visus yang berat
- Hambatan penglihatan Karena proses patologis pada bagian posterior
- Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaucoma
- Ruptur kapsul dengan edema lensa
- Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan membutuhkan
tindakan bedah
Metode fakoemulsifikasi standar dapat dilakukan jika kapsul lensa intak
dan integritas dari zonular cukup.Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada
kasus-kasus dislokasi anterior atau instabilitas zonular yang ekstrem.Dislokasi
anterior lensa ke bilik anterior meupakan suatu keadaan emergensi yang harus
segera dilakukan tindakan (removal), karena dapat menyebabkan pupillary block
glaucoma. Lesentomi dan virektomi pars plana dapat menjadi pilihan terbaik pada
kasus-kasus rupture kapsul posterior. Dislokasi posterior, atau instabilitas zonular
yang ekstrem.
2.3.5. Teknik Operasi

27
Operasi dilakukan untuk 1 mata sekali operasi. Prosedur yang sama bisa
dilakukan jika setelah sekitar 1 minggu mata yang pertama kali di operasi telah
stabil.

a. Intracapsular Cataract Extraction


Hingga pertengahan tahun 1980, metode ini masih menjadi pilihan.
Intracapsular cataract extraction digunakan hanya jika terjadi subluksasi lensa atau
dislokasi lensa.Seluruh lensa dibekukan dalam kapsul dengan cryophake dan di
buang dari mata melalui sayatan besar kornea superior.
b. Extracapsular Cataract Extraction
Extracapsular cataract extraction dengan implantasi dari intraocular lens
(IOL) di posterior chamber adalah sebagai metode operasi pilihan utama untuk
sekarang ini.Dengan melakukan Pembukaan anterior kapsul (capsularrhexis),
kemudian hanya korteks dan nukleus yang dibuang (extracapsular extraction);
kapsul posterior dan zonula dipertahankan tetaap utuh.Ini menyediakan dasar
yang stabil untuk implantasi lensa intraocular di chamber posterior.
c. Phacoemulsification
Sekarang ini metode phacoemulsification adalah metode yang lebih disukai untuk
menghilangkan nukleus. Dimana nukleus sangat sulit sehingga seluruh nukleus
harus di express atau di aspirasi. Kemudian bagian lembut dari korteks
dikeluarkan oleh alat penghisap dengan aspirator ataupun irrigator.Kemudian
kapsul posterior di perhalus dan IOL di implantaasikan di kantong kapsul yang
kosong.Phacoemulsification dan implantasi IOL hanya membutuhkan insisi yang
panjangnya 3-6 mm. dimana teknik menembus yang digunakan untuk membuat
sayatan ini tidak memerlukan jahitan dikarenakan luka akan menutup dengan
sendirinya.
Keuntungan lebih dari intracapsular cataract extraction adalah dikarenakan
extracapsular cataract extraction biasanya tidak mencapai exposur yang luas dari
retina seperti intracapsular cataract extraction, terutama apabila katarak skunder

28
hadir. Namun extraocular cataract extraction mempertahankan integritas anterior
dan posterior bilik mata, serta badan vitreous tidak bisa prolaps setelah ekstraksi
katarak intrakapsular.
2.3.6. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi antara lain Dislokasi lensa dan subluksasi
sering ditemukan bersamaan dengan katarak traumatic. Komplikasi lain yang
dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik, blok pupil, glaucoma sudut
tertutup, uveitis, retina detachment, ruptur koroid, hipema perdarahan retobulbar,
neurophati optik traumatik.1
2.3.7. Prognosis
Prognosis dari katarak traumatik bergantung dari besarnya cedera.1

29
BAB IV
ANALISA KASUS

Pasien Ny. CY, perempuan, usia 86 tahun datang ke poliklinik mata


RSUD H. Abdul Manap pada 27 Desember 2018 dengan keluhan Mata kanan
tidak bisa melihat sejak ± 1 minggu yang lalu, mata kanan tidak bisa melihat
secara mendadak setelah terkena percikan sabut kelapa saat pasien sedang
membuka kelapa tua dengan parang. Mata pasien menjadi berwarna merah hampir
separuh mata, tetapi tidak berdarah. Mata terasa sangat nyeri yang dirasakan terus-
menerus. Nyeri berkurang setelah diberi obat tetes mata yang diberikan oleh
dokter. Mata kiri tidak ada keluhan. Pandangan silau (-), keluhan mata berair (-),
kotoran mata berlebihan(-), rasa mengganjal pada mata (-).
Pada pemeriksaan didapatkan visus od 1/300 dan os 6/30. Dari
pemeriksaan fisik mata kanan didapatkan kornea terdapat vulnus perforatum yang
telah reepitelisasi, kemudian lensa tampak keruh dan terjadi ruptur kapsul anterior
lensa sehingga korteks lensa tampak keluar ke COA sedangkan pada palpebral
superior dan inferior, konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi, dan iris tidak
ditemukan kelainan. Dari hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin didapatkan
kesan dalam batas normal.
Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang
maka pasien didiagnosa Ruptur Kornea OD + Katarak Traumatik OD. Pasien
kemudian diberikan terapi Moxifloxacin eye drops 1 tetes/jam OD, Ciprofloxacin
2 x 500 mg, Asam Mefenamat 2 x 250 mg, dan Ranitidin 2 x 150 mg serta
direncanakan untuk operasi repair OD.
Pada kasus trauma mata teruatam dengan katarak traumatik harus
diberikan antibiotik sistemik dan topikal dalam beberapa hari untuk memperkecil
kemungkinan infeksi dan uveitis. Oleh karena itu pada pasien ini diberikan terapi
Moxifloxacin eye drops sebagai antibiotik topikal dan Ciprofloxacin sebagai
antibiotik sistemik.
Moxifloxacin merupakan antibiotik golongan fluoroquinolon yang
memiliki efek samping minimal pada mata berupa penurunan visual acuity, dry

30
eye, ocular discomfort, dan tearing. Efek samping tersebut hanya terjadi sekitar 1-
6% pasien. Ciprofloxacin juga merupakan antibiotik golongan fluoroquinolon
yang bekerja menghambat pembelahan sel bakteri dengan cara inhibisi enzim
topoisomerase II (DNA gyrase) dan enzim topoisomerase IV yang diperlukan oleh
bakteri untuk replikasi, transkripsi, repair, dan rekombinasi DNA.
Asam mefenamat termasuk dalam obat golongan anti-inflamasi non
steroid (NSAID) yang digunakan sebagai analgetik. Asam mefenamat bekerja
dengan cara menghambat kerja enzim siklooksigenase sehingga terjadi
mengurangi produksi prostaglandin yang membuat rasa sakit pada mata
berkurang. Efek samping obat golongan NSAID adalah meningkatkan sekresi
asam lambung sehingga dapat berisiko terjadinya erosi mukosa lambung.
Ranitidin diberikan untuk mengatasi hal tersebut selain bertujuan untuk mencegah
muntah sebagai persiapan operasi. Ranitidin merupakan obat golongan antagonis
kompetitif reversible reseptor histamine H2 yang berkerja mensupresi sekresi
asam lambung.
Selanjutnya, pasien direncanakan untuk dilakukan operasi repair OD
sebagai penatalaksanaan ruptur kornea.

31
BAB V
KESIMPULAN

Trauma mata seperti ruptur kornea dan katarak traumatika merupakan


penyakit yang dapat terjadi pada siapa saja. Ruptur kornea dan katarak traumatika
dapat didiagnosis dengan cepat hanya dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik
yang baik. Oleh karena itu, kasus ruptur kornea dan katarak traumatika dapat
segera diatasi dengan penanganan yang tepat sehingga akan memiliki prognosis
yang baik.

32
DAFTAR PUSTAKA
1. Bruce, Chris, dan Anthony. 2006. Lecture Notes: Oftalmologi. Edisi 9.
Jakarta :Penerbit Erlangga.
2. Mansjoer, Arif, Kuspuji Triyanti et al. 2005.Kapita Selekta Kedokteran
edisi ketiga.Jakarta: Media Aesculapius
3. Sidarta, Ilyas. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Cet. 5. Jakarta : Balai
Penerbit FKUI ;
4. Wijana,Nana S,Ilmu Penyakit Mata. Cetakan ke VI 1993
5. Prihatno AS. Cedera Mata. 2007 (Diakses dari website
www.medicastore.com, padatanggal 8 Desember 2010)
6. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Asbury’s General Ophthalmology.
17thed.Lange Mc Graw Hill; 2007.
7. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Badan Penerbit
FakultasKedokteran Universitas Indonesia; 2012.
8. Robert H Graham, Hampton Roy Sr. Traumatic Cataract. Update: sep 2,
2014. Medscape. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1211083-overview#a0101
9. T. Schlote, J. Rohrbach, M. Grueb, J. Mieke. Pocket Atlas of
Ophthalmology. Thieme. 2006. P165-197
10. Akino Wakasugi, et al. Response of the Mouse Lens to Varying Sizes of
Injured Area. Departments of Ophtalmic Anatomy ang Physiologi
Graduate School of Medical Science, Kitasato University, Kanagawa,
Japan. Available from:
http://www.nichigan.or.jp/jjooj/pdf/04604/046040391.pdf
11. A. K. Khurana. Comphrehensive Ophthalmology, Fourth Edition. Chapter
7- Cataract. India: New Age International (P). 2007. p5-11 & p134-136
12. James C. Bobrow, et al. Lens And Cataract. On: American Academy of
Ophtalmology. (2011-2012). P53-60
13. Vaughan, Daniel. G., Asbury, Taylor., Riordan-Eva, Paul. (2007). General
Ophthalmology, 17th Edition. Mc Graw Hill, Lange.

33