You are on page 1of 11

MAKALAH

Peranan Hukum Perjanjian Internasional Bagi Indonesia

Disusun Oleh :

Oleh:
Nama : Faiz Rizki Rivaldy
Nim : 11010113140592

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hubungan internasional diidentifikasikan sebagai studi tentang interaksi antara
beberapa faktor yang berpartisipasi dalam politik internasional, yang meliputi negara-
negara, organisasi internasional, organisasi nonpemerintah, kesatuan substansional
(kelompok-kelompok atau badan-badan dalam suatu negara), seperti birokrasi dan
pemerintah domestik, serta individu-individu.
Hubungan antar bangsa atau negara harus dilandasi oleh prinsippersamaan derajat.
Negara Indonesia dalam mengadakan hubungan internasional, menerapkan politik luar
negeri bebas dan aktif yangdiabdikan bagi kepentingan nasional. Hal ini terutama ditujukan
untuk kepentingan pembangunan di segala bidang serta ikut melaksanakanketertiban dunia
yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Dalam rangka
peningkatan kualitas kerja sama internasional, bangsa Indonesia harus mampu
meningkatkan kualitas dan kinerja aparatur luar negeri agar mampu melakukan diplomasi
pro-aktif dalam segala bidang untuk membangun citra positif Indonesia di dunia
internasional.
Oleh sebab itu peran para diplomat Indonesia di luar negeri agar benar-benar
mampu memberi informasi yang seluas-luasnya untuk masyarakat dunia tentang negara
Indonesia yang sesungguhnya. Peran media massa tentang citra kurang baik negara
Indonesia di luar negeri, secara perlahan-lahan harus dicounter dengan pemberitaan yang
seimbang.
B. Rumusan Masalah
Dari lalar belakang di atas dapat ditentukan suatu rumusan masalah antara lain:
1. Apa yang dimaksud dengan hubungan internasional?
2. Apasajakah sarana-sarana hubungan internasional?
3. Apasajakah istilah-istilah perjanjian internasional?
4. Bagaimana manfaat kerjasama dan perjanjian internasional bagi Indonesia?

C. Tujuan
Dari rumusan masalah di atas penulis memili tujuan antara lain:
1. Untuk mengetahui apa itu hubungan internasional
2. Untuk mengetahui sarana-sarana hubungan internasional
3. Untuk mengetahui istilah-istilah pernajian internasional
4. Untuk mengetahui manfaat kerjasama dan perjanjian internasional bagi Indonesia
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Hubungan Internasional


Hubungan internasional merupakan hubungan antar bangsa atau interaksi manusia
antar bangsa baik secara individu maupun kelompok, dilakukan baik secara langsung
maupun secara tidak langsung dan dapat berupa persahabatan, persengketaan, permusuhan
ataupun peperangan. Dan juga merupakan hubungan yang dilakukan oleh bangasa-bangsa
atau negara-negara, atau merupakan sebuah atau suatu hubungan yang bersifat global yang
meliputi semua hubungan yang terjadi yang melewati dan melampaui suatu batas-batas
kenegaraan.
Beberapa definisi hubungan internasional menurut para ahli yakni sebagai berikut :
a. J.C. Johari : Hubungan internasional merupakan sebuah studi tentang interaksi yang
berlansung diantara negara-negara berdaulat disamping itu juga studi tentang pelaku-
pelaku non negara (non states actors) yang prilakunya memiliki dampak terhadap tugas-
tugas Negara
b. Couloumbis dan Wolfe : Hubungan internasional adalah studi yang sistematis mengenai
fenomena-fenomena yang bisa diamati dan mencoba menemukan variabel-variabel
dasar untuk menjelaskan prilaku serta mengungkapkan karakteristik-Karakteristik atau
tipe-tipe hubungan antar unit-unit social
c. Mochtar Mas’oed (1990) : Hubungan internasional merupakan hubungan yang sangat
kompleksitas karena didalamnya terdapat atau terlibat bangsa-bangsa yang masing-
masing berdaulat sehingga memerlukan mekanisme yang lebih rumit dari pada
hubungan antar kelompok.

B. Sarana-Sarana Hubungan Internasional


1. Kerja sama Bilateral
Kerjasama Bilateral adalah hubungan kerja sama dua Negara yang memiliki
kepentingan sama dalam bidang poleksosbudhankam. Dalam rangka mengadakan
hubungan kerjasama dua Negara, bagi Negara Indonesia haruslah bersifat Demokratis
dan terbuka, ini berarti bahwa bila Negara kita mengadakan hubungan kerjasama dengan
Negara lain terlebih dahulu harus mendapat perdetujuan dari parlemen atau DPR,
disamping itu hubungan kerjasama juga harus dipublikasikan melalui media massa.
Secara Internasional, hubungan suatu Negara dengan Negara lain telah diatur dalam
Kovensi Wina pada tahun 1961 tentang Diplomatik (hubungan bidang politik), dan
Konvensi Wina tahun 1963 tentang Konsuler (hubungan diluar bidang politik),
sedangkan pemerintah Indonesia telah mengeluarkan Keppres N0. 51 tahun 1961
tentang Perwakilan Diplomatik RI.
2. Kerja sama Multilateral
Kerjasama Multilateral merupakan suatu kerjasama yang diikuti oleh lebih dari dua
Negara atau banyak Negara. Sebenarnya kerjasama Regional juga merupakan kerjasama
multilateral karena anggotanya lebih dari dua Negara. Kerjasama yang akan dibahas
merupakan kerjasama yang tidak dalam satu kawasan (Regional), tetapi yang
keanggotaannya mencakup banyak kawasan atau internasional diantaranya OPEC,
NATO, Negara-negara Non Blok, CGI, OKI, APEC dan PBB.

C. Istilah-Istilah Perjanjian Internasional


1. Traktat (Treaty)
Artinya, perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih yang sifatnya lebih
formal karena mempunyai kekuatan hukum yang lebih mengikat bagi pihak-pihak
yang mengadakan perjanjian. Dengan kata lain, para peserta yang membuat perjanjian
tidak dapat menarik diri dari kewajiban-kewajibannya tanpa persetujuan dan pihak-
pihak yang bersangkutan.
2. Konvensi (Convention)
Artinya, jenis penjanjian yang digunakan bagi hal- hal yang lebih khusus dibandingkan
dengan traktat, namun bersifat multilateral. Dengan kata lain, konvensi tidak
menyangkut kebijaksanaan tingkat tinggi dan harus ditandatangani oleh wakil-wakil
yang berkuasa penuh.
3. Pakta (Pact)
Artinya, pensetujuan yang lebih khusus jika dibandingkan dengan traktat. Jadi pakta
merupakan traktat dalam arti sempit sehingga pakta pun harus mendapat pengesahan
(ratifikasi).
4. Penikatan (Arrangement)
Antinya, suatu bentuk perjanjian yang tidak seresmi traktat atau konvensi. Oleh kanena
itu, perikatan merupakan persetujuan yang biasanya hanya digunakan bagi transaksi-
transaksi yang bersifat sementara.
5. Pensetujuan (Agreement)
Artinya, suatu penjanjian yang bensifat teknis/administratif sehingga persetujuan tidak
seresmi traktat/konvensi cukup ditandatangani oleh wakil-wakil departemen dan tidak
perlu diratifikasi.
6. Deklarasi (Declaration)
Artinya, penjanjian yang digunakan dengan tujuan menunjukkan suatu penjanjian yang
menyatakan hukum yang ada, membentuk hukum yang baru, atau untuk menguatkan
beberapa prinsip kebijaksanaan umum.
7. Piagam (Statute)
Artinya, perjanjian yang menunjukkan himpunan peraturan yang ditetapkan oleh
perjanjian internasional untuk mengatur fungsi lembaga internasional atau anggaran
dasarnya, seperti piagam mahkamah internasional (statute of the international court of
justice).
8. Convenant
Artinya, suatu istilah yang digunakan oleh piagam Liga Bangsa-Bangsa (LBB) yang
disebut dengan The convenant of the league of nations tahun 1920.
9. Charter
Artinya, istilah yang digunakan dalam perjanjian internasional yang diadakan oleh
PBB dan mempunyai fungsi administratif. Dengan kata lain, PBB dalam membuat
anggaran dasarnya berbentuk charter. Misalnya, Atlantic Charter 1941, dan The charter
of the united nations 1945.
10. Protokol (Protocol)
Artinya, perjanjian yang sifatnya kurang resmi dibandingkan dengan traktat atau
konvensi. Biasanya protokol digunakan sebagai naskah tambahan dan konvensi.
Namun, protokol tidak kalah petingnya daripada konvensi itu sendiri. Misalnya,
protokol tambahan terhadap Konvensi Jenewa 1949.
11. Modus Vivendi
Artinya, perjanjian internasional yang merupakan dokumen untuk mencatat
persetujuan tanpa memerlukan ratifikasi dan bersifat sementara. Maksud sementara
adalah sampai diwujudkan hasil perjanjian yang lebih tetap (permanen) dan rinci
(sistematis).
12. Ketentuan penutup (Final act)
Artinya, dokumen dalam bentuk catatan ringkasan dan hasil konferensi, seperti catatan
mengenai negara peserta, para utusan dari negara-negara yang turut dalam
perundingan, dan segala kesimpulan tentang hal-hal yang disetujui konferensi.
Ketentuan penutup ini tidak memerlukan ratifikasi.
13. Ketentuan Umum (General Act)
Artinya, traktat yang bensifat resmi atau tidak resmi. Liga bangsa-bangsa pernah
menggunakan istilah ini, seperti dalam menyelesaikan permasalahan secara damai dan
pentikaian internasional (arbitrasi) pada tahun 1928.

D. Manfaat Kerjasama dan Perjanjian Internasional


1. Manfaat Kerja Sama Internasional Bagi Indonesia
a. Masalah politik dan keamanan Indonesia dapat diselesaikan dalam Lembaga
Internasional.
b. Melalui kerja sama Internasional ( PBB ) , Lembaga Internasional tersebut berperan
sebagai pihak penengah dan sebagai pihak yang menghentikan perselisihan antar
negara.
c. Masalah wilayah pemerintahan Indonesia dapat diselesaikan dengan adanya PBB.
d. Dengan adanya kerja sama Internasional ( PBB ) dapat melahirkan dokumen-
dokumen yang bermanfaat bagi kehidupan kenegaraan Indonesia terutama dalam
penegakan HAM.
e. Dengan kerja sama Internasional yang terwujud dalam organisasi Internasional di
bawah PBB masalah politik, sosial, budaya, ekonomi, maupun hukum dapat
terselesaikan.
Dewan Keamanan PBB berperanan sangat penting selama masa perang
mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949) dan juga pada masa perang serta
diplomasi pembebasan Irian Barat (Papua Barat) sekitar tahun 1960-1962 dari tangan
Belanda. Pada tanggal 21 Juli 1947 terjadi agresi militer Belanda I terhadap wilayah Jawa dan
Sumatra, atas usul India dan Australia, DK PBB memerintahkan penghentian tembak
menembak pada tanggal 4 Agustus 1947. DK PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN)
yang terdiri dari Australia, Belgia dan Amerika Serikat, yang kemudian memfasilitasi
Perjanjian Renville dan Konferensi Meja Bundar antara RI dan Belanda setelah terjadinya
Agresi Militer kedua oleh Belanda pada tanggal 19 Desember 1948. Berbagai produk yang
dihasilkan PBB juga sangat bermanfaat bagi negara kita, misalnya Universal Declaration of
Human Rights, 10 Desember 1948, Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik
1966 dan Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya 1966.
2. Manfaat Perjanjian Internasional
Dengan adanya Perjanjian Internasional , Indonesia dapat mengatasi masalah wilayah
kedaulatan. Misalnya, setelah sidang hukum laut di Geneva tahun 1958 dapat
menghasilkan beberapa konvensi :
a. Convention on the territorial sea and the contiguous zone,
Konvensi ini berkaitan dengan kedaulatan teritorial. Sehingga dengan konvensi ini
Indonesia belum dapat mewujudkan kesatuan wilayah
b. Convention on the high sea
Konvensi ini berkaitan dengan kedaulatan atas sumber alam, begitu juga konvensi
yang ketiga.
c. Convention on finishing and conservation of the living resources of the high sea.
Sedangkan konvensi yang lain diratifikasi Indonesia dengan UU No. 19 tahun 1981.
Namun, karena permasalahan reservating, akhirnya PBB menolak untuk mendeposit
instrument of ratification. Konsekuensinya, Indonesia hanya menjadi anggota sah
dari satu konvensi saja (Convention on the high sea).
Selain itu perjuangan pengakuan atas prinsip negara kapulauan dilakukan dalam
Konvensi Hukum Laut 1982. Yang hasilnya:
a. Pengakuan atas batas 12 mil laut sebagai laut teritorial negara pantai dan Negara
kepulauan
b. Pengakuan batas 200 mil laut sebagai zona ekonomi eksklusif
Pengakuan hak negara tak berpantai untuk ikut memanfaatkan sumber daya alam dan
kekayaan lautan.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hubungan dan kerjasama antar bangsa muncul karena tidak meratanya pembagian
kekayaan alam dan perkembangan industri di seluruh dunia sehingga terjadi saling
ketergantungan antara bangsa dan negara yang berbeda. Karena hubungan dan kerjasama
ini terjadi terus menerus, sangatlah penting untuk memelihara dan mengaturnya sehingga
bermanfaat dalam pengaturan khusus sehingga tumbuh rasa persahabatan dan saling
pengertian antar bangsa di dunia.
Hubungan kerja sama internasional penting untuk menumbuhkan rasa persahabatan
dan saling pengertian di dunia, memelihara dan menciptakan hidup berdampingan secara
damai dan adil dengan bangsa lain, mencegah dan menyelesaikan konflik, perselisihan,
permusuhan, atau sengketa yang mengancam perdamaian dunia, mengembangkan cara-
cara penyelesaian masalah secara damai melalui perundingan dan diplomasi, membangun
partisipasi dalam rangka ikut melaksanakan ketertiban dunia, serta menjamin
kelangsungan hidup bangsa dan negara di tengah bangsa-bangsa lain.

B. Saran
Hubungan internasional sangatlah penting bagi suatu Negara, dalam era globalisasi
yang sangat kompleks ini tidak ada suatu Negara yang dapat berdiri sendiri. Dengan
adanya hubungan internasional, pencapaian tujuan Negara akan lebih mudah dilakukan
dan perdamaian dunia akan mudah diciptakan. Realitas menunjukkan bahwa setiap
bangsa memiliki kebutuhan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan tidak selalu
dapat dipenuhi oleh potensi setiap bangsa. Keadaan yang demikian mendorong untuk
saling mengadakan hubungan antar negara.
Kepada para pembaca yang mempelajari makalah ini dan ingin lebih memperluas
pengetahuan tentang hubungan internasional, silahkan mencari referensi-referensi demi
pemenuhan bahan ajaran.
DAFTAR PUSTAKA

Keppres No 51 Tahun. 1976 tentang pokok-pokok Organisasi-Organisasi Perwakilan RI di

Luar Negeri, Departemen luar negeri Republik Indonesia

Mochtar, Mas’oed. 1990. Ilmu Hubungan Internasional : Disiplin dan Metodologi. Jakarta

LP3ES.

Pramono Agus. 2013. Buku Ajar Hukum PerjanjianInternasional. Semarang : Badan Penerbit

Universitas Diponegoro.