You are on page 1of 13

HIPERPIGMENTASI KULIT

dr. Prima Minerva


Staf Pengajar Jurusan Kesejahteraan Keluarga Fakultas Teknik Universitas Negri Padang
prima.minerva@gmail.com

Abstrak
Warna kulit dan rambut penting bagi nilai estetik seseorang. Warna kulit secara
alamiah ditentukan oleh beberapa komponen yang terdapat dalam kulit yaitu : ketebalan,
peredaran darah, kadar hemoglobin, karoten dan melanin pada kulit. Kelangsungan proses
inilah yang akan menentukan apakah pewarnaan kulit berlangsung normal atau berlebih.
Penduduk Indonesia termasuk ras Malanesia yang memiliki warna kulit umumnya sawo
matang dan termasuk golongan 4 dan 5 menurut criteria Fitzpatrick. Namun akibat
perubahan nilai estetika penduduk dewasa ini kebanyakan menginginkan kulitnya menjadi
lebih putih seperti ras kaukasian (Eropa) sehingga perubahan warna kulit menjadi lebih
gelap maka menjadi sebuah problem yang besar bagi wanita pada umumnya. Melalui
tulisan ini dibahas tentang teori tentang penyebab hiperpigmentasi pada kulit serta panduan
bagaimana mencegah dan merawat kulit yang mengalami hiperpigmentasi.
Kata kunci : Pencegahan dan perawatan hiperpigmentasi kulit

Abstract
Skin color and hair is important for one's aesthetic value. Natural skin color is
determined by the number of components, such as: thickness, blood circulation,
hemoglobin, carotene and melanin in the skin. Continuity of the process will be determined
by whether the skin coloring or excessive is running normal. Indonesia's population,
including race Malanesia with skin color is generally dark brown and includes classes 4th
and 5th according to the Fitzpatrick criteria. However, due to changes in the aesthetic value
of the adult population is mostly wants her skin became whiter as race Caucasian
(European) so that changes in skin color becomes darker, therefore it becomes a huge
problem for women in general. Through this paper will be discussed the theory about the
cause of hyperpigmentation of the skin as well as guidance on how to prevent and treat
hyperpigmented skin.
Keywords: Prevention and treatment of skin hyperpigmentation

I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Hiperpigmentasi merupakan problem kulit yang sering dijumpai, yang disebabkan
oleh produksi pigmen melanin yang berlebihan. Prevalensi hiperpigmentasi di Indonesia
cukup tinggi, hal ini dikarenakan tipe kulit orang idonesia termasuk kedadalam golongan
tipe 4 dan 5 dalam Fitzpatrick skin phototypes dimana jarang terbakar dan selalu tan
(menghitam), selain itu keadaan iklim tropis di Indonesia serta pajanan sinar matahari
yang intens menambah insiden kejadian hiperpigmentasi meningkat. Melasma merupakan
salah satu kelainan Hiperpigmentasi yang umumnya timbul pada wanita usia reproduktif
yaitu usia 20-45 tahun dan terjadi di populasi Negara tropis. Hiperpigmentasi ini
menimbulkan keluhan kosmetik yang dapat menurunkan, baik penampilan maupun
kualitas kehidupan (Sri Lestari, 2011& Bauman, 2009). Untuk itu diperlukan upaya
pencegahan dan perawatan sebelum timbulnya gejala hiperpigmentasi pada kulit.
Dalam melakukan upaya pencegahan kejadian hiperpigmentasi diperlukan
pengetahuan tentang penyebab timbulnya hiperpigmentasi baik dari luar ataupun dalam
tubuh, serta beberapa perawatan kulit perlu dilakukan sebelum timbulnya gejala dan
langkah-langkah yang aman dan tepat dalam melakukan perawatan dan pengobatan jika
sudah terkena atau timbul gejala (Adhi Djuanda,1999).

1.2. Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan penyebab timbulnya
hiperpigmentasi pada kulit dan gejala-gejala yang timbul pada hiperpigmentasi seta upaya
pencegahan dan pengobatan yang aman dan tepat.
II. Pembahasan
2.1 Pengertian Hyperpigmentasi
Hyperpigmentasi adalah suatu keadaan bertambahnya jumlah melanin pada lapisan
kulit yamg mengakibatkan perubah warna kulit menjadi lebih gelap.(Syarif M,2011)

2.2 Faktor Penyebab Hyperpigmentasi pada kulit yaitu


(Syarif M,2011& Adhi Djuanda,1999& Graham-Brown,2005)
1. Genetik
2. Gangguan nutrisi
Kekurangan protein, asam folat, vitamin B12 dll
3. Hormonal
Hormone estrogen dan progesteron
4. Sinar uv/matahari
5. Kosmetika
Kosmetik yang bersifat fototoksik, parfum dan kosmetika pewanggi
6. Obat-obatan oral
Obat obat tertentu seperti arsen, merkuri, bistmuth, minosiklin dll
7. Inflamasi (peradangan)
8. Keganasan
Dll.

2.3. Bentuk-Bentuk Kelainan Hiperpigmentasi


2.3.1. Melasma
Penyakit kulit yang ditandai dengan adanya bercak hyperpigmentasi dengan bentuk
yang tidak teratur dan umunya berpola simertis dikedua sisi wajah. Melasma merupakan
hyperpigmentasi yang paling sering terjadi,terutama didaerah yang sering terpapar matahari
diwajah (Syarif M,2011).
Gambar 1 : Melasma

Penyebab melasma (Syarif M, 2011 & Bauman, 2009)


Melasma dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu :
1. Faktor eksternal
- Sinar matahari
Dari semua penyebab sinar mataharilah factor pemicu utama munculnya problema
melasma/flek diwajah. Hal ini terlihat dari lokasi sering timbul pada area terpapar sinar
matahari
Gambar 2 : Sinar Matahari
- Kosmetika
Kosmetik yang bersifat fototoksik seperti mercuri dll
- Pajanan terhadap panas
2. Faktor internal
- Genetik
Terdapat penyakit sejenis 20-70 % pada beberapa anggota keluarga
- Hormonal
Kehamilan dan kontrasepsi yang bersifat hormonal
Obat oral Obat bersifat hormonal, klor promazin, minosiklin dll
- Lain-lain seperi stress dan idiopatik (tidak tahu pasti penyebabnya)

Bentuk melasma dari segi lokasi dikenal 3 jenis ( Adhi Djuanda,1999) yaitu :
1. Tipe Sentrofacial: terjadi pada pipi,kening, bibir atas, hidung, dan dagu.Merupakan
jenis yang paling banyak
2. Tipe Malar : yang mengenai pipi dan hidung
3. Tipe mandibular : yang mengenai rahang bawah
Gambar 3 : Melasma
2.3.2. EFELID (FREKEL)
Suatu hiperpigmentasi berupa bercak-bercak hitam atau coklat pada kulit. Efelid
berukuran kecil (3-5 mm) dan sering terlihat pada daerah terkena sinar matahari seperi
muka, wajah dan lengan. Efelid sering mengenai orang di eropa dan di Indonesia. Efelid
terdapat pada mereka yang berkulit terang atau berdarah campuran eropa. Intensitas warna
efelid akan bertambah jika terpajan sinar matahari dan pada musim panas dan sebaliknya.
(Syarif M, 2011 & Mawarli Harahap)
Efelid disebabkan oleh faktor genetik yang diturunkan secara autosomal dominan
sehingga akan terlihat beberapa anggota keluarga menderita hal yang sama. Namun
hiperpigmentasi dapat lebih jelas pada keadaan cuaca panas dan pajanan sinar matahari
pada daerah terkena. (Prof.Dr.R.S.Siregar & Syarif M,2011)
Gambar 4: Efelid

2.3.3 Hiperpigmentasi Pasca Radang (PIH)


PIH merupakan bercak hiperpigmentasi akibat peradangan yang terjadii pada kulit.
Intensitas warna dan persistensi hiperpigmentasi seimbang dengan derajat radang yang
terjadi . PIH lebih banyak terjadi pada tipe kulit gelap lebih gejalanya lebih nyata pada
kulit tipe terang. Radang kulit bisa berasal dari penyakit kulit seperti jerawat, eczema,
alergi maupun tindakan-tindakan perwatan kulit wajah seperti peeling kimia dan laser.
Hiperpigmentasi pasca radang adalah hiperpigmentasi yang dalamnya dapat terjadi pada
lapisan kulit luar (epidermis) dan lapisan dalam kulit (dermis) atau campuran. Makin dalam
letak kelainan maka makin sukar diobati. (Bauman, 2009& Syarif M, 2011)

Gambar 5 : PIH
2.4 Penatalaksanaan Hiperpigmentasi
Penatalaksanaan hiperpigmentasi pada dasarnya untuk menjadikan kulit menjadi lebih
terang baik karena alasan medik maupun sosial menjadi perhatian yang kuat, terutama pada
populasi perempuan asia (Sri Lestari,2011). Pengobatan hiperpigmentasi kadang–kadang
menimbulkan frustasi pada pasien maupun dematologis karena memerlukan waktu yang
cukup lama, kontrol yang teratur serta kerja sama yang baik antara penderita dan dokter
yang menanganinya. Kebanyakan penderita berobat untuk alasan kosmetik. Pengobatan
hiperpigmentasi harus dilakukan secara teratur dan sempurna karena hiperpigmentasi ada
yang bersifat kronis residif (berlangsung lama dan dapat muncul kembali). Disamping itu
penderita harus diberi edukasi bahwa tidak semua kasus hiperpigmentasi yang memberikan
respon terhadap pengobatan. Pengobatan yang tepat adalah pengobatan terhadap penyebab
(kausal) hiperpigmentasi tersebut ,maka penting dicari penyebab dari hiperpigmentasi
tersebut. (Bauman, 2009 & Syarif M, 2011).

2.4.1 Pencegahan Hiperpigmentasi (Adhi Djuanda, 1999 & Bauman, 2009)


1. Menghilangkan faktor yang merupakan penyebab hiperpigmentasi misalnya saja
pil kontrasepsi, pemakaian kosmetik yang bewarna atau mengandung parfum,
obat-obat sitostatika, antimalaria dll, yang bisa memacu hiperpigmentasi. Mencari
penyebab timbulnya hiperpigmentasi sangat penting karena selama faktor pemicu
masih ada pengobatan tidak akan sempurna dan melasma akan tetap muncul.
2. Pencegahan terhadap timbulnya atau bertambahnya berat serta kambuhnya
melasma adalah perlindungan terhadap sinar matahari. Hindari pajanan langsung
sinar ultra violet terutama antara pukul 09.00- 15.00. Sebaiknya jika keluar rumah
mengunakan payung atau topi dan memakai tabir surya. Pemakaian tabir surya
dianjurkan 30 menit sebelum terkena pajanan sinar matahari. Tabir surya yang
digunakan adalalah tabir surya yang spectrum luas yang dapat menghambat sinar
UVA dan UVB dengan Sun Protecting Faktor diatas 15. Bentuk sediaan tabir
surya dapat disesuaikan dengan kondisi dan keadaaan kulit masing-masing.
3. Hal- hal lain yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan hiperpigmentasi
adalah :
 Pemakaian kosmetik yang aman dan tepat sesuai dengan kondisi/jenis kulit
dapat menghindari insiden alergi dan radang yang bisa memicu maupun
memperberat hiperpigmentasi yang telah ada.
 Pemakaian obat atau kosmetik sesuai aturanya baik dari segi waktu pemakain,
jumlah dan frekuensinya. Pemakaian yang berlebihan tidak akan memperoleh
hasil yang lebih baik dan lebih cepat, melainkan dapat terjadi iritasi, kemerahan
atau gangguan lainnya yang tidak perlu terjadi
 Bila dalam 24 jam setelah pemakaian kosmetik ataupun obat terjadi kemerahan
disertai rasa gatal yang hebat segeralah konsultasi ke dokter/ahli kecantikan
karena penanganan yang dini dapat mengurangi resiko terjadinya
hiperpigmentasi.

2.4.2 Regimen Treatmen Pada Hiperpigmentasi ( Bauman, 2009)


Pagi hari
1. Cuci muka dengan pembersih
Pembersih yang dipakai pembersih yang mengandung bahan whitening sepeti
aha, vitamin C dll dan bentuk sediaannya bisa sabun, cleanser, foam sesuai
dengan jenis kulit.
2. Pakai krim pagi hari
Krim yang mengandung bahan-bahan untuk mencerahkan kulit seperti ektrak
licoris, vitamin C, ekstrak kedelai, bearberry. Jika jenis kulit kering atau normal
dapat memakai pelembab yang ada kandungan bahan-bahan tersebut.
3. Pakai suncreen broad-spectrum UVA dan UVB.
Pakai 30 menit sebelum terpapar sinar matahari/panas dan ulangi pemakaian
siang hari jika diperlukan
4. Hindari sinar matahari dan panas jika mungkin.
5. Konsumsi makanan/suplement yang mengandung antioksidan
Makan dan minumlah makanan yang mengandung antioksidan seperti vitamin C,
E, A dan lain-lainnya yang banyak terdapat pada sayuran dan buah-buahan dan
boleh ditambah dengan suplemen jika dibutuhkan.
Siang Hari.
Ulangi pemakaian sunscreen kembaki jika dibutuhkan.
Malam hari
1. Cuci muka kebali dengan pembersih kembali
2. Pakai krim malam.
Pada malam hari dapat dipakai krim malam yang mengandung bahan seperti
vitamin a, vitamin c dan kombinasi bahan yang dapat mencerahkan kulit lainya.

2.4.3 Pengobatan Hiperpigmentasi


1. Pengobatan topikal (oles) (Ilmu Kesehatan kulit dan kelamin FK UNAIR, 2011 &
Adhi Djuanda, 1999 & Bauman, 2009)
Obat obat oles yang sering dipakai sebagai terapi hiperpigmenyasi
 Hidrokinon dengan kosentrasi 2-4%
Krim ini dipakai pada malam hari dan merupakan standar emas untuk terapi
hiperpigmentasi. Namun karena efek samping yang ditimbulkan berupa
dermatitis alergi dan iritan ditambah lagi penghentian pengunaanya sering terjadi
kekambuhan, maka pengunaanya sudah mulai digantikan dengan bahan-bahan
lebih alami dan efek samping yang lebih ringan seperti asam kojic dan arbutin.
 Asam retinoat
Krim ini juga dipakai pada malam hari sebagai terapi kombinasi dan tambahan.
yang berfungsi sebagai eksfloliasi keratinosit dan menipiskan stratum korneum
(lapisan epidermis paling luar) serta menghilangkan pigmen melanin. Pada
kosentrasi tinggi dapat menyebabkan iritasi.
 Asam azeleat
Krim ini bekerja dengan menghambat aktivitas enzim tirosinase yang berperan
dalam proses pembentukan pigmen kulit.
 dll
2. Pengobatan Sistemik (Prof.Dr.R.S.Siregar & Syarif M, 2011)
Secara oral(diminum) sering digunakan vitamin C dosis 1 gram/hari yang dapat
menghambat pembentukan melanin dan glutation peroral(diminum) dianggap
dapat menghambat kerja enzim tirosinase dalam pembentukan pigmen.
3. Tindakan khusus (Bauman, 2009 & Syarif M, 2011)
 Secara kimia
a. Chemical peeling : mendorong pelepasan sel agar mempercepat proses
pengelupasan sel pigmen dengan zat kimia.

Gambar 6 : Chemical Peeling


 Secara mekanik
a. Microdermabrasi: ekfoliasi kulit lapisan atas dengan mengunakan diamond
yang halus.

Gambar 7 : Microdermabrasi
b. Ipl (intense pulse light) : menghancurkan melanin mengunakan sinar spektrum
luas
c. Laser : Mengunakan panjang gelombang tertentu untuk hancurkan melanin.

Gambar 8 : Laser
 Dll

III. Kesimpulan dan Saran


Hiperpigmentasi merupakan problem kulit yang dapat mengenai semua tipe kulit
meskipun sering terjadi pada kulit yang bewarna lebih gelap (GOL 4 dan 5 menurut
fiztpatrick). Keadaan iklim/cuaca panas dan sinar matahari merupakan faktor pemicu dan
penyebab yang sering pada kasus hiperpigmentasi selain genetik, hormonal dan kosmetik.
Pengobatan hiperpigmentasi memerlukan waktu yang lama serta kontrol yang teratur.
Maka dari itu upaya pencegahan terhadap timbulnya atau bertambah berat maupun
kambuhnya hiperpigmentasi harus sejak dini dilakukan. Hal yang penting dilakukan dalam
upaya mencegah adalah dengan melindungi kulit dari pajanan sinar matahari dengan
memakai tabir surya (suncreen) spektrum luas serta menggunakan payung atau topi jika
keluar rumah. Selain itu mencari dan menghilangkan faktor penyebab timbulnya
hiperpigmentasi sangat mempengaruhi keberhasilan pencegahan dan pengobatan.
Pengobatan topikal (oles) yang dilakukan saat ini sudah mulai mengunakan bahan-bahan
yang lebih alamiah dan resiko yang minim seperti licorice, arbutin, vitamin C dll.
Daftar pustaka
1. Leslie Baumanm, MD, “Cosmetic Dermatologi Principles and Practice”, second edition,
The Mc Graw-Hill Book Companies inc, 2009
2. Sri Lestari, “Cosmeceutical Untuk Hiperpigmentasi”, Journal of Cosmetic Dermatology
Update Symposium Proceedings. 2011
3. Prof. Dr. adhi Djuanda, “Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin”, Edisi ketiga, Bagian Ilmu
Kulit dan Kelamin, FKUI, Jakarta 1999.
4. Syarif M. Wasitaatmadya, Dermatologi Kosmetic, edisi kedua, FKUI, 2011
5. Graham-Brown & burns, “Lecyure Notes On Dermatology, edisi kedelapan, Jakarta
2005
6. Prof. Dr. Mawarli Harahap “Ilmu Penyakit Kulit”, Hipocrates, Jakarta
7. Prof. Dr. R.S. Siregar, Sp.KK(K) “Saripati Penyakit Kulit”, Edisi dua, ECG, 2005
8. Bag/SMF Ilmu Kesehatan kulit dan kelamin FK UNAIR/RSU Dr Soetomo, “Atlas
Penyakit Kulit dan kelamin”, edisi kedua, cetakan ketiga, Airlangga University Press,
2011.