Вы находитесь на странице: 1из 9

Tugas Kelompok

PERENCANAAN KOLOM

STRUKTUR BETON

Afif Ma’ruf Yulfriza (5162210002)


Farhan Shabiru (5163210019)
Hugo Sances V. Pasaribu (5163210020)
Jaka Prima Albertus Malau (5162210006)

Dosen Pengampu : 1. Ahmad Andi Solahuddin.,ST.MT


2. Sutrisno.,ST.MT

PROGRAM STUDI D3-TEKNIK SIPIL


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
PENGENALAN STRUKTUR KOLOM BETON

1. Pengertian Kolom
Kolom adalah komponen struktur vertikal yang menerima dan menyalurkan
gaya tekan axial bersamaan atau tidak dengan gaya momen.
Dikarenakan resiko keruntuhan kolom lebih berbahaya dibanding struktur lantai,
baik pelat atau balok, karena kolom lebih banyak memikul bagian struktur
dibanding balok sehingga bila kolom runtuh akan lebih banyak bagian dari
bangunan yang hancur dibanding bila balok yang runtuh. Oleh karena itu dalam
mendesain kolom harus mengandung dasar filosofi perencanaan kolom yaitu
“strong column weak beam”.

2. Jenis Kolom
Kolom dari karakteristik/sifat-sifat property, pembebanan dan lainnya dapat
dikategorikan sebagai berikut :
- Kolom tekan pendek, seperti pedestal, umumnya beban aksial yang
besar dan momen yang kecil atau diabaikan, kolom tipe ini bisa didesain
tanpa tulangan walaupun penulangan hanya tulangan minimum.
- Kolom pendek, struktur yang kokoh dengan flesibilitas yang kecil
- Kolom langsing/panjang, dengan bertambahnya rasio kelangsingan,
deformasi lentur bertambah. Apabila kolom langsing menerima momen,
sumbu kolom akan berdefleksi secara lateral, akibatnya akan ada beban
tambahan yaitu beban kolom dikalikan defleksi lateral, hal ini disebut
momen sekunder, atau momen P∆.
- Kolom sengkang persegi, kolom dimana tulangan longitudalnya diikat
oleh tulangan sengkang berbentuk persegi, tulangan sengkang mencegah
tulangan longitudinal bergerak saat konstruksi dan mencegah tul
longitudinal menekuk kearah luar pada saat menerima beban.
- Kolom sengkang spiral, kolom dengan tulangan sengkang melingkar.
- Kolom komposit, kolom yang diberi tulangan longitudinal dengan profil baja
struktur.
3. Persyaratan peraturan untuk kolom
- Persentase tulangan minimum longitudinal tidak boleh kurang dari 1%
dari luas bruto penampang kolom.
- Persentase tulangan maksimum longitudinal tidak boleh melebihi 8%
dari luas bruto penampang kolom.
- Jumlah minimum tulangan longitudinal yang diizinkan untuk batang
tekan adalah 4 untuk kolom sengkang persegi, 3 untuk sengkang segi
tiga dan 6 untuk tulangan sengkang spiral.
- Kolom sengkang persegi, diameter sengkang tidak boleh lebih kecil
dari #3 (0.375 in) untuk tulangan longitudinal #10 (1.27 in) atau lebih
kecil dan minimum sengkang #4 (0.5 in) untuk tul longitudinal lebih
besar #10. Untuk satuan SI, tidak boleh kurang dari D10 untuk tul
longitudinal D32 atau lebih kecil dan minimum D13 untuk tul
longitudinal lebih besar dari D32.
Jarak sengkang /spasi, tidak boleh melebihi 16 kali diameter
longitudinal, 48 kali diameter sengkang atau dimensi lateral terkecil
dari kolom. Jarak tulangan longitudinal, tidak boleh melebihi dari 6 inc.
STRUKTUR BETON II
- Jarak sengkang sprial kolom tidak boleh kurang dari 1 in dan tidak
boleh melebihi dari 3 in. Apabila sambungan diperlukan pada
sengkang spiral, sambungan harus di las, atau dengn lapping
tulangan dengan kawat sepanjang 48 kali diameter sengkang atau 12
in.

4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pembuatan kolom


A. Analisa

1. Jenis taraf penjepitan kolom. Jika menggunakan tumpuan jepit, harus


dipastikan pondasinya cukup kuat untuk menahan momen lentur dan
menjaga agar tidak terjadi rotasi di ujung bawah kolom.
2. Reduksi Momen Inersia Untuk pengaruh retak kolom, momen inersia
penampang kolom direduksi menjadi 0.7Ig (Ig = momen inersia bersih
penampang)

B. Beban Desain (Design Loads)


Yang perlu diperhatikan dalam beban yang digunakan untuk desain kolom
beton adalah:

1. Kombinasi Pembebanan.
Seperti yang berlaku di SNI Beton, Baja, maupun Kayu.
2. Reduksi Beban Hidup Kumulatif.
Khusus untuk kolom (dan juga dinding yang memikul beban aksial),
beban hidup boleh direduksi dengan menggunakan faktor reduksi beban
hidup kumulatif. Rujukannya adalah Peraturan Pembebanan Indonesia
(PBI) untuk Gedung 1983

Tabelnya adalah sebagai berikut:

Jumlah lantai yang dipikul Koefisien reduksi


1 1.0
2 1.0
3 0.9
4 0.8
5 0.7
6 0.6
7 0.5
8 atau lebih 0.4
Contoh cara penggunaan:

Misalnya ada sebuah kolom yang memikul 6 lantai. Masing-masing


lantai memberikan reaksi beban hidup pada kolom sebesar 80 kN. Maka
beban hidup yang digunakan untuk desain kolom pada masing-masing
lantai adalah:

– Lantai 6 : 0.6 x 80 = 48 kN
– Lantai 5 : 1.0 x (2 x 80) = 160 kN
– Lantai 4 : 1.0 x (3 x 80) = 180 kN
– Lantai 3 : 0.9 x (4 x 80) = 288 kN
– Lantai 2 : 0.8 x (5 x 80) = 320 kN
– Lantai 1 : 0.7 x (6 x 80) = 336 kN

Jadi, lantai paling bawah cukup didesain terhadap beban hidup 336 kN
saja, tidak perlu sebesar 6×80 = 480 kN. Dasar dari pengambilkan
reduksi ini adalah bahwa kecil kemungkinan suatu kolom dibebani
penuh oleh beban hidup di setiap lantai. Pada contoh di atas, bisa
dikatakan bahwa kecil kemungkinan kolom tersebut menerima beban
hidup 80 kN pada setiap lantai pada waktu yang bersamaan. Sehingga
beban kumulatif tersebut boleh direduksi.
Catatan: Beban ini masih tetap harus dikalikan faktor beban di
kombinasi pembebanan, misalnya 1.2D + 1.6L.

C. Detailing Kolom Beton

Untuk detailing, hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain:

1. Ukuran penampang kolom. Untuk kolom yang memikul gempa,


ukuran kolom yang terkecil tidak boleh kurang dari 300 mm.
Perbandingan dimensi kolom yang terkecil terhadap arah tegak
lurusnya tidak boleh kurang dari 0.4. Misalnya kolom persegi dengan
ukuran terkecil 300mm, maka ukuran arah tegak lurusnya harus tidak
lebih dari 300/0.4 = 750 mm.
2. Rasio tulangan tidak boleh kurang dari 0.01 (1%) dan tidak boleh lebih
dari 0.08 (8%). Sementara untuk kolom pemikul gempa, rasio
maksiumumnya adalah 6%. Kadang di dalam prakteknya, tulangan
terpasang kurang dari minimum, misalnya 4D13 untuk kolom ukuran
250×250 (rasio 0.85%). Asalkan beban maksimumnya berada jauh di
bawah kapasitas penampang sih, oke-oke saja. Tapi kalau memang itu
kondisinya, mengubah ukuran kolom menjadi 200×200 dengan 4D13
(r = 1.33%) kami rasa lebih ekonomis. Yang penting semua
persyaratan kekuatan dan kenyamanan masih terpenuhi.
3. Tebal selimut beton adalah 40 mm. Toleransi 10 mm untuk d sama
dengan 200 mm atau lebih kecil, dan toleransi 12 mm untuk d lebih
besar dari 200 mm. d adalah jarak antara serat terluar beton yang
mengalami tekan terhadap titik pusat tulangan yang mengalami tarik.
Misalnya kolom ukuran 300 x 300 mm, tebal selimut (ke titik berat
tulangan utama) adalah 50 mm, maka d = 300-50 = 250 mm.
Catatan:

- toleransi 10 mm artinya selimut beton boleh berkurang sejauh


10 atau 12 mm akibat pergeseran tulangan sewaktu
pemasangan besi tulangan. Tetapi toleransi tersebut tidak boleh
sengaja dilakukan, misanya dengan memasang “tahu beton”
untuk selimut setebal 30 mm.
- Adukan plesteran dan finishing tidak termasuk selimut beton,
karena adukan dan finishing tersebut sewaktu-waktu dapat
dengan mudah keropos baik disengaja atau tidak disengaja.

4. Pipa, saluran, atau selubung yang tidak berbahaya bagi beton (tidak
reaktif) boleh ditanam di dalam kolom, asalkan luasnya tidak lebih dari
4% luas bersih penampang kolom, dan pipa/saluran/selubung tersebut
harus ditanam di dalam inti beton (di dalam sengkang/ties/begel),
bukan di selimut beton. Pipa aluminium tidak boleh ditanam, kecuali
diberi lapisan pelindung. Aluminium dapat bereaksi dengan beton dan
besi tulangan.

5. Spasi (jarak bersih) antar tulangan sepanjang sisi sengkang tidak boleh
lebih dari 150 mm.

6. Sengkang/ties/begel adalah elemen penting pada kolom terutama pada


daerah pertemuan balok-kolom dalam menahan beban gempa.
Pemasangan sengkang harus benar-benar sesuai dengan yang
disyaratkan oleh SNI. Selain menahan gaya geser, sengkang juga
berguna untuk menahan/megikat tulangan utama dan inti beton tidak
“berhamburan” sewaktu menerima gaya aksial yang sangat besar
ketika gempa terjadi, sehingga kolom dapat mengembangkan
tahanannya hingga batas maksimal (misalnya tulangan mulai leleh atau
beton mencapai tegangan 0.85fc’)
7. Transfer beban aksial pada struktur lantai yang mutunya berbeda.
Pada high-rise building, kadang kita mendesain kolom dan pelat lantai
dengan mutu beton yang berbeda. Misalnya pelat lantai menggunakan
fc’25 MPa, dan kolom fc’40 MPa. Pada saat pelaksanaan (pengecoran
lantai), bagian kolom yang berpotongan (intersection) dengan lantai
tentu akan dicor sesuai mutu beton pelat lantai (25 MPa). Daerah
intersection ini harus dicek terhadap beban aksial di atasnya. Tidak
jarang di daerah ini diperlukan tambahan tulangan untuk
mengakomodiasi kekuatan akibat mutu beton yang berbeda.

D. Gaya Dalam

1. Gaya dalam yang diambil untuk desain harus sesuai dengan


pengelompokan kolom apakah termasuk kolom bergoyang atau tak
bergoyang, apakah termasuk kolom pendek atau kolom langsing.
2. Perbesaran momen (orde kesatu), dan analisis P-Delta (orde kedua)
juga harus dipertimbangkan untuk menentukan gaya dalam.

Contoh Kasus :Kolom Persegi

Diketahui beban aksial yang bekerja pada kolom PD dan PL


dengan rencana rasio tulangan longitudinal adalah 2%
Hitung kuat tekan rencana dan luas tulangan longitudinal (metode ACI)
- BEBAN B EKERJA
PD = 160kips Axial dead load
PL = 150kips Axial live load

- MATERIAL PROPERTIES
Concrete data
f'c = 4,000 psi = 4 ksi
fy = 60,000 psi = 60 ksi

= 0.7faktor reduksi kolom persegi
t = 0.02

- CALCULATION
 Rencanakan Pembebanan (kombinasi beban bekerja)
Pu = 1.4xPD + 1.7 Ll = 479kips
 Hitung Kapasitas Beban Aksial
 Pn = 0.8  [0.85 f"c (Ag-Ast) + fy Ast ]
0.8 f'c (Agr-0.02Ag) + fy0.02Ag]
479 = 0.8x 0.7 x[0.85 x4 x [Agr- 0.02Agr]+60x.0.02Agr]
479 = 2.538 Agr
Agr = 189 in
b = 13.73816704in
b = 14in
h = 14in
Agr = 196in2
 Hitung rencana kuat tekan dan tulangan
 Pn = 0.8  [0.85 f"c (Ag-Ast) + fy Ast ]
479 = 0.8x 0.7 x[0.85 x4 x [196- Ast]+60x.Ast]
479 = 373.184 + 31.70 Ast
Ast = 3.34 in2
pilih
6 No 5.00
Ast = 3.75 in2
rasio tulangan longitudinal menjadi
t = 0.0191
min = 0.0010 OK
Kolom Bulat

Diketahui beban aksial yang bekerja pada kolom PD dan PL


dengan rencana rasio tulangan longitudinal adalah 2%
Hitung kuat tekan rencana dan luas tulangan longitudinal (metode SNI)
- BEBAN B EKERJA
PD = 250kN Axial dead load
PL = 230kN Axial live load
- MATERIAL PROPERTIES
Concrete data
f'c = 30 Mpa = 300 kg/cm2
fy = 400 psi = 4,000 kg/cm2
= 0.7faktor reduksi kolom bulat
t = 0.02
p = 5cm selimut beton
- CALCULATION
 Rencanakan Pembebanan (kombinasi beban bekerja)
Pu = 1.4xPD+ 1.7 PL
741kN
74,100 kg
 Hitung Kapasitas Beban Aksial
 Pn = 0.85  [0.85 f"c (Ag-Ast) + fy Ast ]D
D0.85 f'c (Agr-0.02Ag) + fy0.02Ag]
74100 = 0.85x 0.7 x[0.85 x300 x
[Agr0.02Agr]+4000x.0.02Agr]
74100 = 196.291 Agr
Agr = 378 cm2
D = 21.92373393cm
D = 22cm
Agr = 380.1327111cm2 (1/4*3.14*D^2)
 Hitung tulangan longitudinal dan rencanakan tulangan
 Pn = 0.85  [0.85 f"c (Ag-Ast) + fy Ast ]
74100 = 0.85x 0.7 x[0.85 x300 x [380.132711084365-
Ast]+4000x.Ast]
74100 = 57,675.636 + 2,088.28 Ast
Ast = 7.87 cm2
pilih
6D 16.00
Ast = 1,206.37 mm2
Ast = 12.06 cm2
rasio tulangan longitudinal menjadi
t = 0.0317
min = 0.0010 OK