You are on page 1of 6

KARAKTERISTIK ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Kajian dari Sudut Pandang Filsafat Pendidikan1

Oleh:
Agus Suprijono

PENDAHULUAN

Bermula dari kebutuhan Guru “IPS terpadu” mengajar di Sekolah Menengah Pertama (SMP)
lahirlah program studi S-1 IPS di berbagai perguruan tinggi negeri ex-IKIP dan tak terkecuali
di perguruan tinggi swasta. Bahkan kini bermunculan pula program studi S-2 dan S-3 IPS.
Fenomena ini merupakan kenyataan bahwa IPS telah terlembagakan dalam penyelenggaraan
pendidikan akademik di perguruan tinggi.

Terlepas dari perdebatan panjang tentang IPS di satu sisi adanya gerakan mengintegrasikan
berbagai disiplin ilmu sosial untuk tujuan citizenhhip education dan di pihak lain bergulir
gerakan pemisahan ilmu-ilmu sosial yang cenderung memperlemah konsep IPS, namun
kenyataannya yang dimengerti hingga saat ini IPS adalah IPS “terpadu”. Buktinya berbagai
definisi IPS ke arah “terpadu” sudah banyak dirumuskan berbagai pakar.

1. The Social Studies are the social sciences simplified for paedagogical purposes in
school.... The social studies consist of geography, history, economic, sociology, civics
and various combination of these subjects2

2. Social studies is an integration of social sciences and humanities for the porposes of
instruction in citizenship education. We emphasize ‘integration’, for social studies is
the only field which deliberately attempts to draw upon, in an integrated fashion, the
data of the social sciences and the insights of humanities. We emphasize ‘citizenship’,
for social studies, despite the different in orientation, outlook, porpose, and methods
of teachers, is almost universally percieved as preparation for citizenship in a
democracy 3

3. Social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote
civic competence. Within the school program, social studies provides coordinated,
systematic study drawing upon such disciplines as anthropology, archeology,
economics, geography, history, law, philosophy, political science, psychology,
religion, and sociology, as well as appropriate content from the humanities,
mathematics, and natural sciences. The primary purpose of social studies is to help
young people develop the ability to make informed and reasoned decisions for the

1
Makalah Disampaikan pada Kuliah Tamu yang diselenggarakan Program Studi IPS Fakultas Ilmu Sosial
Universtias Negeri Malang, tanggal 22 Agustus 2016 di Lt. 7 Gedung Fakultas Ilmu Sosial Unversitas Negeri
Malang
2
Wesley, E. B. (1952). Teaching Social Studies. Boston: D.C. Heath & Co, p. 9
3
Barr, Robert, James L. B., S. Samuel S. (1977). The Nature of the Social Studies. Palm Springs.California: ETC
Publications. p.115
public good as citizens of a culturally diverse, democratic society in an
interdependent world4
4. IPS merupakan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk pendidikan
tingkat SD, SLTP, dan SLTA. Penyederhanaan yang dimaksud adalah: (1)
mengurangi tingkat kesulitan dari ilmu-ilmu sosial yang biasanya dipelajari di tingkat
universitas sehingga menjadi mata pelajaran yang sesuai dengan tingkat kematangan
dan proses berpikir dari siswa di tingkat sekolah dasar dan lanjutan; (2) mengaitkan
dan mengintegrasikan beberapa materi yang berasal dari berbagai cabang ilmu sosial
dan kehidupan masyarakat sehingga menjadi bahan pelajaran yang mudah dicerna5

5. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial. Pada jenjang SMP/MTs mata pelajaran IPS memuat materi
Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik
diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan
bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Mata pelajaran IPS disusun
secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju
kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Substansi mata
pelajaran IPS pada SMP/MTs merupakan “IPS Terpadu”6

Berbagai definsi tentang IPS menunjukkan adanya keterkaitan antara IPS dan Ilmu-ilmu
Sosial. Keterkaitan itu digambarkan sebagai berikut oleh beberapa pakar di antaranya sebagai
berikut

History Economics
Studies the past Studies the production,
distribution, and consumption
of goods and services

Anthropology Geography
Studies all facets Studies the ways Earth’s
SOCIAL STUDIES
of society and physical characteristics affect
culture people and how people affect
Earth

Civics Sociology
Studies citizenship Studies society and patterns
and government of social relationship

Sumber: Maxim, George W, (2010). Dynamic Social Studie for Constructivist Classrooms. Boston: Allyn &
Bacon p.13

4
NCSS, (1994).Curriculum Standard for Social Studies. Washington: Expctation of Excellence. p.3
5
Somantri, M. N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Rosdakarya. h.103
6
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah
Hubungan antara social studies dan social sciences adalah “Social sciences as foundation of
social studies. Social science is generally considered to be the resource from which the
contents of the social studies is drawn. The scholarly endeavors of university and college
social scientist provide the raw material in history, geography, sociology, and like, for use in
social studies classrooms in elementary and secondary schools.7

Ketegasan dan kejelasan bahwa IPS merupakan integrated subject matter tampaknya belum
sepenuhnya terimplementasikan dalam pembelajaran. Potret itu terlihat ketika KTSP
(Kurikulum 2006) mengamanatkan pembelajaran IPS terpadu, namun di banyak sekolah di
negeri ini IPS masih dibelajarkan tidak terpadu. Nilai matapelajaran IPS merupakan agregat
dari matapelajaran sejarah, geografi, ekonomi, dan sosiologi. Terkendalanya pembelajaran
“IPS terpadu” saat itu disebabkan oleh ketidaktersediaan guru berkualifikasi pendidikan IPS.
Guru yang mengajar IPS adalah guru berkualifikasi pendidikan sejarah, pendidikan geografi,
dan pendidikan ekonomi. Sedikitnya waktu yang disediakan dalam PLPG juga menjadi
kendala implementasi pembelajaran “IPS terpadu”.

Sesungguhnya persoalan terkendalanya pelaksanaan pembelajaran “IPS terpadu” bukan


sekedar disebabkan oleh hal-hal bersifat pragmatis seperti yang disebutkan di atas. Menurut
Soemantri (2001) persoalan mendasar adalah terletak pada persoalan filosofis yang menjadi
dasar body of knowledge atau batang tubuh IPS. Atas dasar inilah maka “Karakteristik IPS”
membutuhkan kajian dari sudut pandang filsafat.

PEMBAHASAN

Filosofi pendidikan menempati posisi penting dalam pengembangan kurikulum. Posisi


filosofi pendidikan dalam kurikulum adalah “both a source and an influence for educational
objectives and curriculum development”8

1. IPS Dari Sudut Pandang Essensialisme

Filosofi yang digunakan para pengembang kurikulum di Indonesia terbatas pada


essensialisme. Disadari atau tidak filosofi ini terus digunakan dalam setiap perubahan
kurikulum sehinggga dapat dikatakan bahwa proses pengembangan kurikulum selalu
menghasilkan kurikulum yang sama. Perbedaan hanya terjadi dalam cara pengemasan
konten kurikulum dan proses pembelajaran.

Filsafat Esensial merupakan filsafat pendidikan konservatif yang dirumuskan sebagai


kritik terhadap praktek pendidikan progresif di sekolah-sekolah. Pada umumnya pemikiran
aliran pendidikan esensialisme dilandasi oleh filsafat tradisional idealisme klasik. Filsafat
idealisme adalah pendukung esensialisme.

7
Gross, Richard E. (1978). Social Studies for Our Times. Canada: John Willey & Sons. Inc. p 76
8
Tanner, Daniel. dan Tanner,Laurel, (1980). Curriculum Development: Theory into Practice, New York:
Macmillan Publishing Co.,Inc., p.103
Idealisme adalah salah satu aliran filsafat pendidikan yang berpaham bahwa pengetahuan
dan kebenaran tertinggi adalah ide. Idealisme menganggap bahwa yang konkret hanyalah
bayang-bayang, yang terdapat dalam akal pikiran manusia. Dalam konteks pendidikan,
paham ini mencita-citakan pemikiran atau ide tertinggi. Secara kelembagaan institusional,
maka pendidikan akan didominasi oleh fakultas atau jurusan filsafat dan pemikiran
pendidikan. Di ranah pendidikan dasar, akan didominasi oleh konsep-konsep dan
pengertian-pengertian secara definisi tentang segala sesuatu. Idealisme mengembangkan
pemikiran peserta didik sehingga menjadikan peserta didik mampu menggunakan akal
pikiran atau idenya dengan baik dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.

Jadi, filsafat essensialisme menekankan kurikulum sebagai media pendidikan untuk


cultivation of the intellect, academic excellence. Pandangan filosofi ini menempatkan IPS
sebagai pendidikan untuk pengembangan intelektual dalam pengertian lama yang
diistilahkan sebagai logical – matemathical intelligence. Kurikulum esensialisme berpusat
pada mata pelajaran (subjek matter centered). Pengusaan materi kurikulum tersebut
merupakan dasar yang esensialisme yaitu belajar dengan tepat berkaitan dengan disiplin
tersebut akan mampu mengembangkan pikiran (kemampuan nalar) siswa dan sekaligus
membuatnya sadar akan dunia fisik sekitarnya.

Berkenaan dengan filosofi essensialisme adalah sifat nomotetis, ilmu bersifat universal dan
menganggap lingkungan sekitar sebagai bagian dari universal. Akibatnya peserta didi IPS
belajar tentang sesuatu yang sudah dinyatakan sebagai suatu kebenaran menurut disiplin
lmu-ilmu sosial tetapi mereka tercabut dari lingkungan bahkan tidak mengenal
lingkungannya sama sekali. Anak belajar tentang berbagai fenomena dan karakteristik
geografis tetapi mereka tidak mengenal lingkungan geografi sekitarnya. Peserta belajar
teori produksi, distribusi, dan konsumsi tetapi tidak mengenal kegiatan produksi,
distribusi, dan konsumsi di sekitarnya. Peserta didik belajar tentang peristiwa sejarah
dengan berbagai tokoh yang terlibat di dalamnya tetapi tidak mengenal peristiwa dan
tokoh yang ada di wilayahnya. IPS telah menjauhkan peserta didik dari lingkungannya dan
ini sangat bertentangan dengan filosofi pendidikan bahwa pendidikan harus dimulai dari
lingkungan sekitarnya dari apa yang sudah dikenal oleh peserta didik. Filsafat esensialisme
menyebabkan disiplin ilmu-ilmu sosial terpisah dari sumber atau objek studi yang paling
dekat yaitu masyarakat sekitar

2. IPS dari sudut pandang Progresivisme dan Rekonstruksionisme

Pendidikan IPS sebagai integrated subject matter harus keluar dari kekakuan filosofis
essensialisme semacam itu. IPS harus mampu menggunakan berbagai filosofi sehingga
berbagai dimensi intelektual peserta didik dapat dikembangkan dengan baik, mendekatkan
dirinya dengan masyarakat sekitar dan masyarakat sekitar sebagai sebagai objek studi yang
langsung dapat diamati. Hal ini meng-isyaratkan bahwa “IPS terpadu” sebagai
pengetahuan sintetik apriori.
Pengetahuan sintesis apriori merupakan kritik Kant terhadap dikotomi pengetahuan a
priori dan aposteriori. Berdasarkan kebaikan sekaligus kelemahan yang terdapat pada
pengetahuan apriori dan aposteriori, Kant memadukan keduanya dalam bentuk
pengetahuan sintesis apriori. Pengetahuan sintesis apriori adalah pengetahuan hasil
pensintesaan antara rasionalisme dan empirisme. Pengetahuan sintesis apriori adalah
pengetahuan hasil kerjasama pengalaman inderawi dan aktivitas akal budi. Sintesis apriori
menunjukkan pengakuan Kant terhadap pentingnya akal budi sebagai sumber pengetahuan
dan empirisme dalam kaitan pentingnya pengalaman inderawi pada potensi manusia.

Pengetahuan sintesis apriori dijelaskan melalui penyelidikan transcendental yaitu ‘semua


pengetahuan yang tidak meninjau benda-benda melainkan mempelajari hal mengenai a
priori dari benda-benda itu.9 Penyelidikan transendental dapat dipahami dari pemikiran
Kant tentang transcendental analythic. Dalam penyelidikan ini ada Kategori
transcendental.

Kategori transendentasl memproses pengalaman mengenai objek-objek empiris yang


ditangkap melalui indera. Kategori transendental adalah unsur-unsur apriori yang dengan
sendirinya telah terdapat dalam struktur pikiran setiap orang. Kategori itu adalah fungsi
pikiran itu sendiri. Berpikir merupakan proses bekerjanya kategori apriori. Apabila subjek
dan objek yang hendak diketahui adalah dua hal terpisah maka kategori apriori yang
menghubungkan di antara keduanya yaitu pikiran dan objek tersebut. Kategori itu apriori
dan berdasarkan spontanitas pikiran langsung bekerja setiap berhadapan dengan objek apa
saja, oleh karena itu objek yang ditangkap melalui kategori tersebut bukan lagi objek
sebagaimana pada dirinya sendiri, melainkan objek yang telah “dibentuk” oleh kategori
apriori. Ketika manusia melihat suatu benda maka yang tampak pertama kali adalah
beraneka ragam kesan indera. Realitas sebenarnya adalah benda tersebut sebagai suatu
objek, tetapi hal itu hanya mungkin dilakukan dengan jalan melakukan sintesis terhadap
kesan-kesan indera yang diintuisikan dari benda-benda tersebut ke dalam satu kesatuan.
Sintesis tersebut lebih merupakan suatu tindakan pemahaman yang mengindikasikan suatu
ekspresi dari kesatuan kesadaran. Dengan demikian objek dan kesatuan kesadaran
menentukan satu sama lain.

Konsep objek adalah apa yang memungkinkan untuk memahami apa yang dilihat. Konsep
objek merupakan suatu kondisi mampu menggunakan bahasa tentang apa yang diberikan
pada indera. Tanpa konsep objek, tidak akan ada pengalaman, oleh karena itu konsep ini
bukanlah jenis yang dibentuk melalui pengalaman melainkan konsep objek adalah kondisi
dari pengalaman. Konsep objek merefleksikan kesatuan kesadaran. Kesatuan kesadaran
dari konsep objek melahirkan sintesis apriori terhadap objek.

Pengetahuan sintetik apriori beraksentuasi pada situated cognition yang menjadi asumsi
penting dari pendekatan konstruktivis sosial. Istilah itu mengacu pada ide bahwa
pemikiran selalu ditempatkan (disituasikan) dalam konteks sosial dan fisik, bukan dalam
pikiran seseorang. Konsep situated cognition menyatakan bahwa pengetahuan dilekatkan
dan dihubungkan pada konteks di mana pengetahuan tersebut dikembangkan.10

9
Brouwer, MAW, (1980), Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sejaman, Bandung: Alumni. h.15
10
Santrock, John W, (2007). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. h.387
Sintetik apriori dan situated cognition menjadi dorongan penggunaan filosofis
progresivisme dan rekonstruksionisme sebagai pijakan “IPS terpadu”. Filsafat
progresivisme menekankan pendidikan sebagai proses yang tumbuh dan berkembang
dengan merekonstruksi pengalaman secara terus menerus sebagai suatu proses belajar ;
pendidika adalah proses kehidupan yang berdinamika ; pendidikan menyiapkan anak
untuk aktif dalam pembelajaran yang mencerminkan struktur social demokratis ;
Kurikulum: bersumber dari kebutuhan siswa dan masyarakat serta memanfaatkan aplikasi
intelegensi pada permasalahan manusia dalam masyarakat ; dan proses belajar partisipatif,
kerja kooperatif, learning by doing, dan proses inkuiri.

Filsafat rekonstruksionisme beraksentuasi pada pendidikan sebagai wahana untuk


mengembangkan kesejahteraan sosial ; Upaya penyelesaian masalah dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat ; Ilmu-ilmu sosial diajarkan agar bermanfaat untuk dilaksanakan
dalam upaya mensejahterakan masyarakat; Disiplin ilmu-ilmu sosial hanya dijadikan
sumber materi ; Seleksi materi ilmu-ilmu sosial dapat dilakukan lebih bebas dari pengaruh
struktur keilmuan

Filosofi progresivisme dan rekonstruksionisme memberikan penguatan terhadap bahwa


IPS adalah subject matter yang sealau berkaitan dengan kehidupan dunia nyata dalam
masyaraka yang multidimensi, multisektor kehidupan. Kehidupan yang nyata yang
dimaksud adalah kegiatan yang dilakukan manusia dalam upaya untuk memenuhi
kebutuhan hidup, kemampuan mengatasi berbagai masalah yang dihadapi dan
kemampuan untuk memajukan penghidupannya. Dengan demikian maka PIPS merupakan
pengetahuan praktis yang dapat diajarkan mulai dari tingkat sekolah dasar sampai
perguruan tinggi. Sebagiamana pendapat Banks “The social studies …for helping students
to develop the knowledge, skills, attitudes, and values needed to participate in the civic life
of their local communities, the nation, and the world.11

PENUTUP

Dalam perspektif filosofis essensialisme IPS pada dasarkanya adalah pendidikan keilmuan.
Sekolah mengajarkan disiplin ilmu kepada siswa. Intelektualisme adalah tujuan paling
mendasar dari setiap upaya pendidikan IPS. Intelektualisme merupakan kemampuan
seseorang memecahkan berbagai persoalan secara keilmuan. Pendidikan IPS mengajarkan
disiplin ilmu-ilmu sosial secara terpisah sesuai dengan ciri keilmuan masing-masing.

Filsafat progresivisme dan rekonstruktionisme menjadi pijakan akademik bahwa IPS


merupakan integrasi dari ilmu-ilmu sosial dan dibelajarkan secara terpadu. Filsafat ini juga
memberikan penguatan jati diri IPS sebagai pengetahuan sintetik apriori yang menekankan
pada proses pembelajaran pada situated cognition.

Jati diri IPS dan pembelajarannya adalah pembelajaran IPS bukan sekedar learning for
schooling, tetapi learning for llving pula. IPS menekankan pada konsep tidak sekedar digali
dari disiplin ilmu pendukungnya tetapi dikenali dan ditemukan di masyarakatnya sehingga
IPS dapat menghadirkan pengetahuan yang mewujdukan kesadaran kritis, kesadaran reflektif
peserta didik dan tidak mengalinasi peserta didik dari masyarakat di sekitarnya.

11
Banks, James A. (1985). Teaching Strategies for The Social Studies. New York: Longman Inc, p.3