You are on page 1of 17

ARTIKEL ILMIAH

DAYA LARVASIDAL EKSTRAK N-HEKSANA DAUN JERUK


PURUT (Citrus hystrix) TERHADAP LARVA INSTAR III NYAMUK
Culex quinquefasciatus

Oleh

MUHAMMAD HANIF
NIM 061311133151

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2017
LARVACIDE EFFECT OF N-HEXSANE EXTRACT OF LEAVES OF THE
KAFFIR LIME (Citrus hystrix) AGAINST Culex quinquefasciatus LARVAE

Muhammad Hanif1, Nunuk Dyah Retno Lastuti 2, Rochmah Kurnijasanti 3


1)Student, 2)Departement of Veterinary Parasitology,
3)Departement of Veterinary Basic Medicine
Faculty of Veterinary Medicine Airlangga University

ABSTRACT

The aim of research was to know of larvacide effect hexsane extract of


leaves of the kaffir lime (Citrus hystrix) against Culex quinquefasciatus larvae by in
vitro observation. Four hundred and twenty larvae instar III of Culex
quinquefasciatus. They devided into seven group which each of them were put into
Aquades as K(-), Temephos 1 ppm as K(+), hexsane extract of leaves of the kaffir
lime with concentration of 250 ppm (P1), 500 ppm (P2), 1000 ppm (P3), 2000 ppm
(P4) and 4000 ppm (P5). The parameters measured by number of larva mortality
that was observed each 4 hours after 24 hours of treatment. The research method
was completely randomized design and analyzed by Anava then continued with
Duncan’s multiple range test. The result show that in 4 hour observed K(-) was
significant with P1, P2, P3, P4 and P5, but K(+) was not significant with P1
(P>0,005). According this research, the hexsane extract of leaves of the kaffir lime
show the best effect in concentration of 4000 ppm.
Keyword: leaves of the kaffir lime extract, Culex quinquefasciatus, larvacide
Menyetujui untuk dipublikasikan
Surabaya, 21 November 2017.
DAYA LARVASIDAL EKSTRAK N-HEKSANA DAUN JERUK PURUT
(Citrus hystrix) TERHADAP LARVA INSTAR III NYAMUK Culex
quinquefasciatus

Muhammad Hanif1, Nunuk Dyah Retno Lastuti 2, Rochmah Kurnijasanti 3


1
Mahasiswa 2Departemen Parasitologi Veteriner,
3
Departemen Kedokteran Dasar Veteriner
4
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh larvasidal ekstrak


n-heksana daun jeruk purut (Citrus hystrix) terhadap larva Culex quinquefasciatus
dengan pengamatan in vitro. Empat ratus dua puluh larva instar III Culex
quinquefasciatus. Perlakuan dibagi menjadi tujuh kelompok yang masing-masing
dimasukkan ke Aquades sebagai K (-), Temephos 1 ppm sebagai K (+), ekstrak
heksan daun kaffir kapur dengan konsentrasi 250 ppm (P1), 500 ppm (P2) , 1000
ppm (P3), 2000 ppm (P4) dan 4000 ppm (P5). Parameter yang diukur dengan
jumlah kematian larva yang diamati masing-masing 4 jam setelah 24 jam
perlakuan. Metode penelitian ini dirancang secara acak dan dianalisis dengan
Anava kemudian dilanjutkan dengan uji jarak jauh Duncan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa dalam 4 jam pengamatan K (-) signifikan dengan P1, P2, P3,
P4 dan P5, namun K (+) tidak signifikan dengan P1 (P> 0,005). Menurut penelitian
ini, ekstrak n-heksana dari daun jeruk purut menunjukkan efek terbaik pada
konsentrasi 4000 ppm.

Kata kunci: daun ekstrak daun jeruk purut, Culex quinquefasciatus, larvasidal

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang mempunyai kelembaban

dan suhu optimal yang mendukung bagi kelangsungan hidup serangga. Nyamuk

merupakan satu diantara jenis serangga yang dapat merugikan manusia karena

perannya sebagai vektor penyakit. Nyamuk Culex quinquefasciatus merupakan

vektor penularan beberapa jenis penyakit seperti filariasis, japanesse encephalitis,


dan dirofilariasis (Hadi dan Koesharto 2006). Pada ternak, penyakit JE tidak

menimbulkan gejala klinis yang khas, sehingga sukar terdiagnosa. Berdasarkan

berbagai laporan, kejadian infeksi di indonesia virus JE pada hewan cukup tinggi,

sedangkan pada filarias pada ternak yang lebih dikenal Kaskado adalah infeksi

cacing filaria pada sapi perah banyak menyerang pada derah kulit sekitar mata dan

bersifat kronis juga banyak ditemukan kasusunya di indonesia. Karena banyaknya

penyakit yang disebarkan oleh vektor nyamuk Cx. quinquefasciatus maka perlu

dilakukan pengendalian terhadap populasinya.

Pengendalian nyamuk dapat dilakukan pada tahap larva karna memiliki

umur stadium terpanjang, selain itu pada stadium dewasa nyamuk bisa terbang

sehingga dapat menularkan penyakit secara luas (Aradilla, 2009). Pengendalian

pada tahap larva sering mengguakan larvasida kimia. Berbagai dampak negatif dari

penggunaan larvasida ini dapat menyebabkan resistensi larva, kematian bagi hewan

predator larva dan pencemaran lingkungan (Yasmin dan Fitri, 2013). Maka

diperlukan larvasida nabati (biolarvasida) untuk mengurangi dampak negatif

tersebut. bunga lavender, zodia, rosemary, sereh wangi dan jeruk purut merupakan

bahan pilihan biolarvasida.

Jeruk purut (Citrus hystrix) merupakan tanaman yang banyak dijumpai

sehingga mudah dijangkau oleh masyarakat. Tanaman yang berasal dari genus

Citrus ini memiliki senyawa kimia yang memiliki aktivitas biologis, minyak atsiri,

flavonoid, alkaloid, terpenoid, saponin dan limonoid (Adrianto, 2014). Limonoid

dapat melalui dua cara yaitu sebagai racun kontak dan perut kontak. Melalui racun

kontak dengan cara mengganggu sistem metabolisme dan proses moulting dari
larva (Prijadi dkk., 2014). Kandungan alkaloid pada daun jeruk purut dapat

mengganggu sistem kerja saraf larva dengan menghambat kerja enzim

asetilkolinesterase. Sedangkan peran tanin adalah senyawa polifenol yang dapat

mengganggu sistem pencernaan larva (Yunita dkk., 2009).

Berdasarkan uraian diatas penelitian ini bertujuan untuk membuktikan

potensi larvasidal pemberian ekstrak n-heksana daun jeruk purut terhadap larva Cx.

quinquefasciatus melalui pengamatan secara in vitro. serta mengetahui konsentrasi

paling optimal terhadap pemberian ekstrak n-heksana daun jeruk purut yang

menyebabkan mortalitas larva Cx. quinquefasciatus secara in vitro.

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2017. Penelitian dilakukan

di Laboratorium Entomologi Institute of Tropical Disease (ITD) Universitas

Airlangga yang sebelumnya pembuatan ekstrak daun jeruk purut dilakukan di

laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Airlangga.

Bahan dan Alat Penelitian

Penelitian eksperimental ini memerlukan sebanyak 1000 butir telur

sedangkan dalam penelitian menggunakan 420 ekor larva instar III Cx.

quinquefasciatus. Larva Cx. quinquefasciatus didapatkan dari laboratorium Institute

of Tropical Disease (ITD). Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini

adalah daun jeruk purut, akuades dan larutan Tween 20, sedangkan Akuades

sebagai media larva secara in vitro. Sedangkan lat yang digunakan dalam penelitian
ini adalah, gelas plastik berjumlah 21 buah, pipet plastik, nampan plastik, gelas

ukur, gelas beaker, pinset anatomis, Dissecting mikroskop, neraca digital, kertas

saring, penghalus daun jeruk purut, jarum, pisau, toples, rotary evaporator, dan

pengaduk kaca,

Pembuatan Ekstrak daun jeruk purut

Daun jeruk purut dicuci bersih kemudian dikeringkan dengan diangin angin

kan sampai kering. Hasil pengeringan ekstrak daun jeruk purut dimasukan kedalam

mesin penyerbuk dengan tujuan untuk pembuatan serbuk ekstrak daun jeruk purut.

Serbuk kering daun jeruk purut direndam dengan pelarut n-heksana sebanyak 3000

ml selama 3 hari untuk melarutkan lemak dan klorofil. Setelah 2 hari larutan

tersebut disaring dengan penyaring Buchner dengan bantuan pompa vacuum

Selanjutnya dilakukan filtrasi dengan corong buchner sehingga menghasilkan filtrat

dan residu. Hasil filtrat dievaporasi dengan rotary evaporator hingga menjadi

ekstrak. Pada percobaan kali ini akan menggunakan pelarut ekstraksi n-heksan

dikarenakan sebagai memisahkan senyawa-senyawa yang ada dalam daun jeruk

purut dimana senyawa-senyawa pada daun jeruk purut bersifat non polar dan semi

polar (Dadang dan Prijono 2008).

Pembuatan Bahan Larvasida

Ekstrak kental yang diperoleh ditimbang dahulu dalam (mg) dengan neraca

analitik sesuai yang diperlukan kemudian dilarutkan dengan Tween 20 sebelum

dilarutkan dengan akuades supaya ekstrak tersebut tidak mengumpal saat

pemberian air, dan sebagai kontrol digunakan air mineral yang ditambahakan

Tween 20, agar semua larutan ekstrak maupun kontrol sama –sama mengandung
Tween 20 sehingga tidak ada perbedaan untuk mempengaruhi kematian larva.

Ekstrak dicampur dengan akuades dibagi dalam lima konsentrasi. Ditambahkan dua

perlakuan, yaitu kontrol positif dan kontrol negatif. Kontrol positif berisi larutan

temephos yang dilarutkan dalam akuades, sedangkan kontrol negatif hanya berisi

akuades tanpa ditambah ekstrak daun jeruk purut.

Konsentrasi ekstrak yang dipakai adalah sebagai berikut:

1. Konsentrasi 250 ppm : ekstrak kental daun jeruk purut 25 mg ad Tween 20

dalam 100 ml akuades

2. Konsentrasi 500 ppm : ekstrak kental daun jeruk purut 50 mg ad Tween 20

dalam 100 ml akuades

3. Konsentrasi 1000 ppm : ekstrak kental daun jeruk purut 100 mg ad Tween 20

dalam 100 ml akuades

4. Konsentrasi 2000 ppm : ekstrak kental daun jeruk purut 200 mg ad Tween 20

dalam 100 ml akuades

5. Konsentrasi 4000 ppm : ekstrak kental daun jeruk purut 400 mg ad Tween 20

dalam 100 ml akuades

Bahan larvasida lalu dituangkan ke dalam 21 gelas plastik yang telah berisi

20 ekor larva dalam setiap gelasnya. Pengulangan masing-masing tiga kali.

Variabel bebasnya adalah jumlah larva yang mati pada pengamatan tiap 4 jam

selama 24 jam total waktu perendaman. Tanda-tanda larva mati adalah larva

tenggelam di dasar gelas serta tidak adanya respon setelah larva disentuh dengan

jarum.
Analisis Data

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental menggunakan Rancangan

Acak Lengkap (RAL). Setelah data diperoleh dianalisis dengan Anava lalu

dilanjutkan dengan uju jarak berganda Duncan untuk mengetahui perbedaan rerata

antar kelompok perlakuan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Larva instar III Cx. quinquefasciatus direndam dalam berbagai konsentrasi

perlakuan selama 24 jam. Berdasarkan hasil tersebut didapat rerata dan simpangan

baku jumlah mortalitas larva instar III Cx. quinquefasciatus dengan pengamatan 4

jam selama 24 jam perlakuan dapat terlihat dalam Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Rerata Persentase dan Simpangan Baku Jumlah Larva Culex
quinquefasciatus pada Pengamatan Setiap 4 Jam Selama 24 Jam Setelah
Pemaparan dengan Bahan Uji Ekstrak n-heksana Daun Jeruk Purut
(Citrus hystrix).

Mortalitas (%)
Kelompok Rerata±Simpangan Baku
4 jam 8 jam 12 jam 16 jam 20 jam 24 jam
K (+) 88,33±2,88e 100±0e 100±0d 100±0d 100±0d 100±0d
K (-) 0±0a 0±0a 0±0a 0±0a 0±0a 0±0a
b b b b
P1 11±5,77 21,66±5,77 25±5 30±5 38,33±7,63 41,66±7,63b
b

P2 15±5b 28,33±7,63b 36,66±5,77b 38,33±7,63b 48,33±10,4b 51,66±7,63b


c
P3 30±13,22 45±13,22c 56,66±14,43c 66,66±10,4c 76,66±5,77c 78,33±7,63c
P4 55±5d 63,33±7,63d 68,33±10,4c 73,33±7,63c 80±10c 91,66±10,4d
e e d d d
P5 93,33±2,88 100±0 100±0 100±0 100±0 100±0d
Keterangan: a,b,c,d,e Superskrip berbeda dalam kolom yang sama menunjukkan
perbedaan yang nyata (P<0,05). (P), Temephos (K+), dan Akuades
(K-) (n = 20 ekor)
Hasil yang diperoleh pada uji ANAVA menunjukkan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan pada perlakuan terhadap jumlah presentase mortalitas

larva instar III (P<0,05). Empat jam setelah paparan didapatkan sebagai waktu

jumlah kematian Cx. quinquefasciatus sebesar 88,33% pada kelompok positif. Hasil

analisis uji ANAVA menunjukkan p = 0,000 (p<0,05), yang berarti bahwa terdapat

signifikansi perbedaan antar kelompok penelitian pada jam ke-4. Uji lanjutan yang

digunakan untuk membandingkan rerata antar perlakuan dalam penelitian ini adalah

uji Post Hoc menggunakan analisis berganda Duncan.

Berdasarkan hasil analisis statistik dalam uji ANAVA hasil pengamatan

setelah 24 jam pada 4 jam perendaman larva instar III Cx. quinquefasciatus dengan

ekstrak n-heksana daun jeruk purut telah menunjukkan hasil yang berbeda nyata.

Selanjutnya dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan didapatkan hasil

perlakuan perendaman pada larutan Akuades dengan larutan Temephos

menunjukkan perbedaan yang nyata. Hasil yang sama yakni perbedaan yang nyata

juga ditunjukkan pada perendaman Akuades dibandingkan dengan ekstrak n-

heksana daun jeruk purut konsentrasi 250 ppm (P1), 500 ppm (P2), 1000 ppm (P3).

2000 ppm dan 4000 ppm (P5). Namun hasil perbandingan perlakuan perendaman

pada larutan Temephos dengan ekstrak n-heksana daun jeruk purut konsentrasi

4000 ppm tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Hal ini berbeda dengan

perbandingan perendaman larutan temephos 1 ppm dengan ekstrak n-heksana daun

jeruk purut konsentrasi 2000 ppm, 1000 ppm, 500 ppm dan 250 ppm yang

menunjukkan hasil perbedaan yang nyata.


Data hasil pengamatan mortalitas larva instar III Cx quinquefasciatus dapat

dilihat bahwa ekstrak n-heksana daun jeruk purut konsentrasi 4000 ppm pada

pengamatan 4 jam telah menunjukan rata-rata kematian sebanyak 19 ekor maka

dapat diketahui bahwa nilai (LC90) dari ekstrak n-heksana daun jeruk purut adalah

4000 ppm. Ektrak n-heksana lebih baik dari penelitian sebelumnya yang

menunjukan nilai LC90 yang menggunakan daun jeruk purut (Citrus hystrix) 4000

ppm pada pengamatan 12.67 jam (Anggraini, 2011).

Hasil penelitian antara ekstrak n-heksana daun jeruk purut sebagai larvasida

terhadap larva instar III Cx. quinqeufasciatus dapat dilihat pada Gambar 4.1

Perlakuan
Mortalitas ( % )

Pengamatan ( jam )

Gambar 4.1 Grafik Perbandingan Mortalitas Larva Cx. quinquefasciatus pada


Pengamatan Setiap 4 Jam Selama 24 Jam.

Hasil uji dari analisis diatas dapat diinterpretasikan bahwa hubungan antara

konsentrasi ekstrak n-heksana daun jeruk purut dengan mortalitas larva instar III

Cx. quinquefasciatus mempunyai arah yang positif, artinya semakin tinggi

konsentrasi ekstrak daun jeruk purut maka semakin tinggi daya bunuh terhadap

larva nyamuk Cx. quinquefasciatus. Apabila diamati pada gambar 4.1 Peningkatan
waktu perendaman pada konsentrasi P1, P2, P3 dan P4 menunjukan kenaikan

jumlah kematian tiap waktu pengamatan, hal itu menunjukan waktu perendaman

bahan ekstrak n-heksan berpengaruh terhadap proses kematian larva nyamuk Cx.

quinquefasciatus. Pada kontrol negatif tidak dijumpai kematian larva hal ini

menunjukkan tidak ada reaksi apapun dari penggunaan larutan akuades.

Hasil dalam perlakuan menunjukkan adanya perubahan yang signifikan tiap

perlakuannya. Hal ini berarti kematian larva instar III Cx. quinquefasciatus

disebabkan karena perendaman larva dalam ekstrak daun jeruk purut dan semakin

besarnya konsentrasi semakin terlihat efektifitas dari ekstrak daun jeruk purut

tersebut sebagai larvasida terhadap larva nyamuk Cx. quinquefasciatus. Perbedaan

yang tidak signifikan pada kontrol positif dan konsentrasi tertinggi ekstrak daun

jeruk purut karena persamaan keefektifan ekstrak daun jeruk purut konsentrasi

perlakuan 4000 ppm dengan larutan temephos 1 ppm dalam membunuh larva.

Kemampuan efektivitas larvasidal ekstrak n-heksana daun jeruk purut

(Citrus hystrix) berbeda dengan penelitian sebelumnya Anggraini (2011) yang

menunjukan bahwa nilai LC90 ekstrak daun jeruk purut sebesar 4000 ppm lama

masa lethal 12,67 jam terhadap nyamuk Aedes aegypti. Ekstrak n-heksana daun

jeruk purut dengan nilai LC90 pada konsentrasi 4000 ppm lama masa lethal 4 jam

lebih efektif dari penelitian sebelelumnya karena lama waktu lethal yang lebih

singkat. Tempat memperoleh dari bahan uji atau daun jeruk purut yang digunakan

dalam penelitian yang berbeda dapat juga mengakibatkan perbedaan hasil

dikarenakan kondisi tanah, kesuburan dan kondisi geografi dari tempat tumbuh

tanaman, selain itu faktor pelarut ekstraksi yang digunakan juga berpengaruh
tehadap hasil penelitian karena kemampuan pelarut dalam menarik bahan aktif

dalam ekstrak yang berpotensi menimbulkan efek larvasidal. Perbedaan spesies

nyamuk yang digunakan juga diperkirakan memberikan pengaruh terhadap hasil

penelitian. Menurut Komisi Pestisida (2012) hasil pengujian larvasida dianggap

baik, apabila bahan uji menunjukan nilai mortalitas antara 90 – 100% larva uji.

Kurang dari nilai tersebut dinyatakan tidak baik. Setelah pengamatan 24 jam, perlu

dilakukan lagi pengujian pada bulan pertama sampai dengan kelima, dengan tujuan

untuk mengetahui ekstrak tersebut masih bisa digunakan untuk uji larvasida lagi

Temephos merupakan salah satu larvasida golongan organophosphat. Cara

kerjanya yakni menghambat enzim cholinesterase sehingga menimbulkan gangguan

pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya asetilkolin pada sinaps. Gangguan ni

berupa kekejangan otot secara terus-menerus dan serangga akhirnya akan mati. Jadi

seperti halnya senyawa organophosphat lainnya temephos juga bersifat anti

cholinesterase (Nugroho, 2011).

Senyawa kimia dalam tumbuhan yang berpotensi sebagai biolarvasida,

adalah flavonoid, saponin, tanin, alkaloid, dan minyak atsiri (Kristanti dkk, 2008).

Daun jeruk purut mengandung minyak atsiri, flavonoid, alkaloid, terpenoid,

saponin dan limonoid (Ardianto, 2014). Beberapa peneliti sebelumnya yang sudah

meneliti biolarvasida dari tanaman ekstrak n-heksana daun jeruk purut (Citrus

hystrix) (Anggraini dkk, 2012). Ekstrak n-heksana daun C. hystrix mempunyai

toksisitas tertingi daripada daun jeruk nipis (C. Aurantifolia), daun jeruk limau (C.

Amblycarapa) dan daun jeruk bali (C. Maxima) (Adrianto, 2014).


Limonoid menyebabkan rasa pahit yang pada jeruk dan mempunyai efek

larvasida paling potensial (Gunawan dkk, 2010). Menurut cara masuk kedalam

tubuh larva limonoid dapat melalui dua cara yaitu sebagai racun kontak dan racun

perut. Melalui racun kontak dengan cara mengganggu sistem metabolisme dan

proses moulting dari larva. Larva tidak dapat berubah menjadi pupa dikarenakan

titer dari juvenile hormone pada larva tidak berkurang melainkan bertambah. Agar

dapat berubah menjadi pupa dibutuhkan titer juvenile hormone yang rendah.

Walaupun larva melakukan pergantian kulit hingga mencapai instar IV, larva tidak

akan dapat bermetamorfosis menjadi pupa dan akhirnya mati (Prijadi dkk., 2014).

Limonoida dapat masuk ke dalam tubuh larva nyamuk Aedes spp sebagai racun

perut. Limonoida masuk ke pencernaan melalui rendaman konsentrasi ekstrak yang

termakan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh

dinding usus kemudian beredar bersama darah yang akan mengganggu

metabolisme tubuh nyamuk sehingga akan kekurangan energi untuk aktivitas

hidupnya yang akan mengakibatkan nyamuk itu kejang dan akhirnya mati (Fitri,

2006) Efek dari limonoid ini juga terlihat pada larva instar III Cx. quinquefasciatus

yang mati dalam keadaan mid gut (usus tengah) berwarna kehitaman karena usus

mengalami dekstruksi sebelum kematian.

Zat lain yang terdapat dalam daun jeruk purut yang dapat mengganggu

serangga dalam mencerna makanan adalah saponin. Saponin dapat menurunkan

tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva menjadi korosif.

Interaksi dari molekul-molekul saponin dengan lapisan kutikula larva akan

mengakibatkan kerusakan kutikula, dengan adanya ikatan saponin dan kutikula.


(Chapagain, 2005). Saponin juga dapat menurunkan aktivitas enzim protease dalam

saluran pencernaan serta mengganggu penyerapan makanan. Akibatnya

metabolisme larva terganggu, larva kekurangan energi (ATP) dan kemudian mati

(Afidah dkk., 2014). Hal ini terbukti pada larva instar III Cx. quinquefasciatus yang

mati setelah dilihat di bawah mikroskop terlihat organ pencernaan yang menghitam

makanan.

Kandungan alkaloid ini bertindak sebagai racun perut dan racun kontak.

Alkaloid berupa garam sehingga dapat mendegradasi membran sel saluran

pencernaan untuk masuk ke dalam dan merusak sel dan juga dapat mengganggu

sistem kerja saraf larva dengan menghambat kerja enzim asetilkolinesterase.

Dimana enzim ini tidak dapat melaksankan tugasnya dalam tubuh terutama

meneruskan pengiriman perintah kepada saluran pencernaan larva (midgut)

sehingga gerakannya tidak dapat dikendalikan. Terjadinya perubahan warna pada

tubuh larva menjadi lebih transparan dan gerakan tubuh larva yang melambat bila

dirangsang sentuhan serta selalu membengkokkan badan juga disebabkan oleh

senyawa alkoloid (Ifa dkk., 2015)

Tanin merupakan kandungan terbanyak setelah alkaloid. Tanin adalah

senyawa polifenol yang dapat membentuk senyawa kompleks dengan protein.

Tanin tidak dapat dicerna lambung dan mempunyai daya ikat dengan protein,

karbohidrat, vitamin, dan mineral Menurut (Yunita dkk., 2009), tanin dapat

mengganggu serangga dalam mencerna makanan karena tanin akan mengikat

protein dalam sistem pencernaan yang diperlukan serangga untuk pertumbuhan


sehingga diperkirakan proses pencernaan larva Cx. quinqufasciatus. menjadi

terganggu akibat zat tanin tersebut.

Kematian larva instar III Cx. quinquefasciatus tidak hanya disebabkan oleh

senyawa limonoid saja hal ini juga dapat diakibatkan oleh berbagai bahan yang

terkandung dalam ekstrak n-heksana daun jeruk purut seperti bahan bahan yang

sudah disebutkan diatas yang mana dapat mempengaruhi kematian terhadap larva

Cx. quinqufasciatus. Dikarenakan penelitian ini masih dalam bentuk ekstrak kasar

yaitu masih merupakan gabungan dari berbagai macam senyawa maka bisa

disimpulkan kombinasi antar senyawa menimbukan efek larvasidal.

KESIMPULAN

1. Ekstrak n-heksana daun jeruk purut mempunyai efek larvasidal terhadap larva

Cx. quinquefasciatus secara in vitro

2. Konsentrasi optimal ekstrak n-heksana daun jeruk purut yang menyebabkan

mortalitas larva Cx. quinquefasciatus secara in vitro sebesar 93,33 % pada 4 jam

pengamatan dengan konsentrasi 4000 ppm.


Daftar Pustaka

Adrianto H, Yotopranoto S, dan Hamidah. 2014. Efektivitas Ekstrak Daun Jeruk


Purut {dims hystrix), Jeruk Limau (Citrus amblycarpa), Dan Jeruk Bali
(Citrus maxima) Terhadap Larva Aedes aegypti. Aspirator 6(1): 1-6.
Universitas Airlangga.
Afidah, R., Yuliani, dan Haryono. T. 2014. Pengaruh Kombinasi Filtrat Umbi
Gadung, Daun Sirsak, dan Herba Anting-Anting terhadap Mortalitas Larva
Ordo Lepidoptera. LenteraBio 3(1) : 45-49.
Anggraini, A., Hamidah dan Noer M. 2011. Uji Efektivitas Ekstrak Daun Jeruk
Purut (Citrus hystrix D.C) dan Daun Jeruk Kalamondin (Citrus mitis
Blanco) Sebagai Biolarvasida Terhadap Kematian Larva Instar III Nyamuk
Aedes aegypti L. Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Airlangga, Surabaya.
Aradilla, A.S. 2009. Uji Efektivitas Larvasida Ekstrak Etanol Daun Mimba
(Azadirachta indica) terhadap Larva Aedes aegypti [skripsi]. Universitas
Diponegoro.
Chapagain, B. 2005. Larvacidal effects of aqueous extracts of Balanites aegyptiaca
(desert date) against the larvae of Culex pipiens mosquitoes. African J
Biotechnol. 4 (11): 1351- 1354.
Dadang dan Prijono, D. 2008. Insektisida Nabati: Prinsip, Pemanfaatan, dan
Pengembangan. Bogor: Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian
Bogor.
Fitri, L.E, Santoso, D dan Istikharoh, U. 2006. Uji Potensi Larvasida Ekstrak Daun
Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) terhadap larva Aedes spp. Malang;
Fakultas Kedokteran Brawijaya.
Gunawan., Didik dan Sri, M. 2010. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) jilid 1,
Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman 106, 107, 120.
Hadi, U.K dan Koesharto, F.X. 2006. Nyamuk. Dalam : Hama Pemukiman
Indonesia :UKPHP FKH IPB Bogor, Halaman 23-51.
Ifa, A dan Kristanti, I.P. 2015. Pengaruh Ekstrak Daun Mangkokan (Nothopanax
scutellarium) sebagai Larvasida Nyamuk Culex sp. J. Sains Dan Seni ITS
4(2) : 2337-3520.
Kristanti, A.N, N.S Aminah, Tanjung, B Kurniadi, 2008. Buku Ajar Fitokimia.
Surabaya: Airlangga University Press, hlm 33-66, 150-154.
Nugroho, A.D. 2011. Kematian Larva Aedes aegypti setelah Pemberian Abate
dibandingkan dengan Pemberian Serbuk Serai. Kesmas 7(1): 91-96.
Prijadi, D.K., Wahongan, G.J.P dan Bernadus, J.B.B. 2014. Uji Efektifitas Ekstrak
Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Dalam Menghambat
Pertumbuhan Larva Aedes spp. [Skripsi] Fakultas Kedokteran Universitas
Sam Ratulangi. Manado.
Yasmin, Y. 2013. Perubahan Morfologi Larva Nyamuk akibat Pemberian Larvasida
Bakteri Kinolitik. Indonesian J. of Entomol. 10(1): 18-23.
Yunita, E., Suprapti, N dan Hidayat, J. 2009. Pengaruh Ekstrak Daun Teklan (
Eupatorium riparium ) terhadap Mortalitas dan Perkembangan Larva Aedes
aegypti. Bioma, Juni 2009. Vol. 11, No. 1, Hal. 11-17.