You are on page 1of 11

Bed Site Teaching

HORDEOLUM INTERNUM PALPEBRA SUPERIOR OD +


KALAZION PALPEBRA SUPERIOR OS

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kepaniteraan Klinik


di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSMH Palembang

Oleh:

Syah Fitri, S.Ked


04054821820028

Pembimbing:
dr. Anang Tribowo, Sp.M

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RUMAH SAKIT DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2019
STATUS PASIEN

1. Identitas Pasien
Nama : Ny. M
Umur : 17 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Bangsa : Indonesia
Pekerjaan : Mahasiswa
Alamat : Muara Telang
Tanggal Pemeriksaan : 12 Januari 2019

2. Anamnesis (Autoanamnesis dan Alloanamnesis)


a. Keluhan Utama
Benjolan kemerahan di kelopak atas mata kanan sejak ± 3 hari yang lalu

b. Riwayat Perjalanan Penyakit


Sejak ±3 bulan yang lalu pasien mengeluh terdapat benjolan di kelopak mata
kiri atas. Awalnya berupa benjolan kecil sebesar kepala jarum pentul, warna tidak
merah, gatal (-), nyeri (-), mata merah (-), mata berair-air (-), kotoran mata (-),
keluar nanah dari benjolan pada kelopak mata (-), pandangan kabur (-), kesulitan
membuka kelopak mata (-). Pasien tidak pergi berobat.
± 1 bulan yang lalu, pasien mengeluh benjolan di kelopak mata kiri atas
semakin membesar, benjolan menjadi sebesar biji jagung, warna tidak kemerahan,
nyeri (-), gatal (-), mata merah (-), kotoran mata (-), mata berair-air (+), keluar
nanah dari benjolan pada kelopak mata (-), rasa mengganjal (+), kesulitan membuka
kelopak mata (-) pandangan kabur (-).
± 3 hari sebelum pasien datang ke rumah sakit, pasien mengeluh timbul
benjolan baru berwarna kemerahan di kelopak atas mata kanan sebesar biji jagung.
Pada saat diraba, benjolan terasa lunak. Keluhan disertai rasa gatal (+) dan rasa
mengganjal (+). Pasien juga mengeluh benjolan terasa panas (+) dan nyeri (+)
2
terutama saat benjolan tersentuh, dan kelopak mata sulit dibuka (+). Keluhan lain
seperti pandangan terasa kabur (-), mata merah (-), mata berair (-), sering keluar
kotoran mata (-), mata terasa silau (-). Pasien kemudian berobat ke RSKMM
Palembang.

c. Riwayat Penyakit Dahulu


 Riwayat keluhan yang sama sebelumnya (-)
 Riwayat memakai kacamata (-)
 Riwayat trauma pada mata (-)
 Riwayat penggunaan obat (-)
 Riwayat alergi (-)
 Riwayat kencing manis (-)
 Riwayat darah tinggi (-)

d. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

3. Pemeriksaan Fisik
a. Status Generalis
Keadaan umum : Pasien tampak sakit ringan
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 82 kali/menit regular, isi dan tegangan cukup
Frekuensi napas : 22 kali/menit
Suhu : 36,7o C

b. Status Oftalmologis

3
Okuli Dekstra Okuli Sinistra
Visus 6/6 6/6
Tekanan P=N+0 P=N+0
intraokular

KBM Ortoforia
GBM 0 0
0 0
0 0 0
0
0 0 0
0
Palpebra Tampak massa di palpebra Tampak massa di palpebra
Superior superior (+), hiperemis (+), superior (+), hiperemis (-),
jumlah 1 buah, ukuran 15 x jumlah 1 buah, ukuran 6 x 4
10 mm, permukaan rata, mm, permukaan rata,
berbatas tegas, konsistensi berbatas tegas, konsistensi
kenyal, nyeri tekan (+), tidak kenyal, nyeri tekan (-), tidak
terfiksir, berdungkul-dungkul terfiksir, berdungkul-
(-), mudah berdarah (-), dungkul (-), mudah berdarah
madarosis (-). (-), madarosis (-).
Palpebra Tenang Tenang
Inferior
Konjungtiva
-K. tarsal Tenang Tenang
-K. bulbi Tenang Tenang
Kornea Jernih Jernih
BMD Sedang Sedang
Iris Gambaran baik Gambaran baik
Pupil Bulat, sentral, Refleks Cahaya Bulat, sentral, Refleks
(+), diameter 3 mm cahaya (+), diameter 3 mm

Lensa Jernih Jernih


Refleks RFOD (+) RFOS (+)
Fundus
Papil Bulat, batas tegas, warna Bulat, batas tegas, warna
merah normal, c/d 0,3, a/v 2/3 merah normal, c/d 0,3, a/v
2/3
Makula Refleks fovea (+) Refleks fovea (+)
Retina Kontur pembuluh darah baik Kontur pembuluh darah baik
4. Pemeriksaan Penunjang
4
Pemeriksaan Slit lamp

5. Diagnosis banding
• Hordeolum internum palpebra superior OD + Kalazion Palpebra superior OS
• Hordeolum internum palpebra superior ODS
• Kalazion palpebra superior ODS

6. Diagnosis Kerja
Hordeolum internum palpebra superior OD + Kalazion Palpebra superior OS

7. Tatalaksana
Informed consent
 Menjelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa keluhan yang terjadi akibat
peradangan dikelopak mata.
 Menjelaskan kepada pasien tentang rencana pengobatan yang akan dilakukan.
Non Farmakologi
 KIE
o Dianjurkan kepada pasien untuk menjaga kebersihan mata disertai dengan rajin
mencuci tangan.
o Menganjurkan kepada pasien untuk mata yang sakit tidak sering dikucek-kucek
dan disentuh
 Kompres hangat 3-4 kali/hari selama 10-15 menit dengan menggunakan handuk
dan air hangat
 Kontrol ulang setelah 3 hari. Bila tidak ada perbaikan, pasien rujuk kedokter
spesialis mata untuk dilakukan insisi hordeolum dan kalazion
Farmakologi
 Antibiotik: Kloramfenikol salep 3 x 1 ODS
 Paracetamol tablet 500 mg 3 x 1

8. Prognosis
• Okuli Dekstra
o Quo ad vitam : bonam
o Quo ad functionam : bonam
o Quo ad sanationam : dubia ad bonam
• Okuli Sinistra
o Quo ad vitam : bonam
o Quo ad functionam : bonam
o Quo ad sanationam : dubia ad bonam

5
6
ANALISIS KASUS

Ny. M, 17 tahun, dengan keluhan utama muncul benjolan kemerahan di kelopak atas
mata kanan sejak ± 3 hari yang lalu. Sebelumnya, ±3 bulan yang lalu, pasien mengeluh
terdapat benjolan di kelopak mata kiri atas. Awalnya berupa benjolan kecil sebesar kepala
jarum pentul, warna tidak merah, keluhan lain seperti nyeri, mata merah, mata berair-air,
kotoran mata, keluar nanah dari benjolan, pandangan kabur dan kesulitan membuka kelopak
mata tidak ada. Benjolan ini kian hari semakin membesar. Kemudian ±3 hari yang lalu,
pasien mengeluh timbul benjolan baru berwarna kemerahan di kelopak mata atas kanan
sebesar biji jagung. Benjolan awalnya berukuran kecil sebesar kepala jarum pentul, lalu
membesar sebesar biji jagung. Benjolan terasa lunak. Pasien juga mengeluh nyeri pada
benjolan di kelopak mata atas sebelah kanan, kemerahan, serta terasa panas, gatal, rasa
mengganjal hingga kelopak mata sulit dibuka. Sementara untuk keluhan lain seperti
pandangan terasa kabur, mata merah, mata berair, sering keluar kotoran mata, mata terasa
silau tidak ada. Pasien kemudian berobat ke RSKMM Palembang. Riwayat keluhan yang
sama sebelumnya tidak ada, riwayat memakai kacamata tidak ada, riwayat penggunaan obat
(-), riwayat alergi (-), riwayat kencing manis (-), riwayat darah tinggi (-). Riwayat penyakit
yang sama dalam keluarga disangkal.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan oftalmologi. Dari
anamnesis, keluhan pasien yaitu adanya benjolan di kelopak atas mata kanan sejak 3 hari
yang lalu. Benjolan ini kemerahan, terasa panas, gatal, rasa mengganjal, nyeri namun
penglihatan normal dan mata tidak merah. Dari pemeriksaan mata, tampak massa pada
kelopak mata bawah kanan, hiperemis, jumlah 1 buah, ukuran 15x10 mm, permukaan rata,
berbatas tegas, konsistensi kenyal, nyeri tekan (+), tidak terfiksir, berdungkul-dungkul (-),
mudah berdarah (-), madarosis (-). Maka dapat dipikirkan kemungkinan diagnosisnya adalah
hordeolum internum palpebra superior OD. Sementara, pada mata sebelah kiri didapatkan
benjolan pada kelopak bawah mata yang semakin membesar sejak 3 bulan yang lalu. Pada
pemeriksaan mata, didapatkan massa pada kelopak atas mata kiri yang tidak merah, jumlah 1
buah, ukuran 6 x 4 mm, permukaan rata, berbatas tegas, konsistensi kenyal, nyeri tekan (-),
tidak terfiksir, berdungkul-dungkul (-), mudah berdarah (-), madarosis (-). Maka dapat
dipikirkan kemungkinan diagnosis kalazion palpebra superior OS. Pasien didiagnosis banding
dengan hordeolum internum palpebra superior ODS, kalazion palpebra superior ODS, dan
hordeolum eksternum palpebra superior ODS.

7
Hordeolum merupakan peradangan supuratif kelenjar kelopak mata, biasanya
disebabkan infeksi Stahylococcus aureus pada kelenjar sebasea kelopak mata. Hordeolum
internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang terletak di dalam tarsus, sehingga dapat
menyebabkan benjolan terutama ke bagian konjungtiva tarsal. Gejalanya berupa kelopak
yang bengkak dengan rasa sakit dan mengganjal, merah dan nyeri bila ditekan. Hordeolum
eksternum merupakan infeksi kelenjar Zeis dan Moll yang terletak dilapisan supefisial
palpebra. Hordeolum eksternum dapat menyebabkan gejala yang sama seperti hordeolum
internum. Sedangkan kalazion adalah peradangan granulomatosa kelenjar Meibom yang
tersumbat. Pada kalazion terjadi penyumbatan kelenjar Meibom dengan infeksi ringan yang
mengakibatkan peradangan kronis pada kelenjar tersebut. Gejala kalazion berupa adanya
benjolan pada kelopak mata, tidak hiperemis, tidak ada nyeri tekan, dan adanya pseudoptosis.
Diagnosis hordeolum pada benjolan mata sebelah kanan dapat ditegakkan sesuai
dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, kejadian munculnya benjolan ini dalam 3 hari juga
mendukung diagnosis hordeolum internum. Sementara, benjolan pada palpebra kiri lebih
mengarah ke diagnosis kalazion sesuai dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik serta
kejadian benjolan ini sudah bersifat kronik yaitu 3 bulan. Diagnosis banding dengan
hordeolum eksternum dapat disingkirkan karena biasanya hordeolum eksternum muncul pada
lokasi dimana kelenjar keringat berada yang lebih superfisial. Pada saat pemeriksaan,
dilakukan eversi kelopak mata, didapatkan benjolan menonjol ke arah kulit konjungtiva
tarsal.
Pasien sering mengucek-ngucek matanya menggunakan tangan. Salah satu faktor
yang menjadi pemicu terjadinya hordeolum dan kalazion adalah faktor kebersihan diri dan
lingkungan. Kondisi kelopak mata yang kotor atau kebiasaan mengucek-ngucek mata dengan
tangan kotor dapat memicu terjadinya infeksi. Hordeolum merupakan infeksi yang menular,
oleh karena itu sangat penting untuk menjaga kebersihan terutama daerah mata.
Penatalaksanaan pada hordeolum internum dapat diberikan kompres hangat 3-4 kali
sehari selama 10–15 menit untuk mempercepat peradangan kelenjar sampai nanah keluar.
Pasien juga diedukasi untuk mejaga kebersihan mata disertai dengan rajin mencuci tangan
serta tidak mengkucek-kucek ataupun menyentuh matanya. Selain itu dapat juga diberikan
tatalaksana farmakologi berupa antibiotik topikal kloramfenikol 1% EO tiap 8 jam ODS serta
paracetamol tablet 500 mg tiap 8 jam untuk mengurangi nyeri dan reaksi peradangan. Apabila
dengan terapi konservatif tidak ada perbaikan selama 3 hari kedepan, maka dapat dirujuk ke

8
special mata dan dipertimbangkan utuk dilakukan tindakan operatif berupa insisi hordeolum
dan kalazion.
Prognosis pada penderita ini adalah baik, asalkan kebersihan daerah mata tetap dijaga
dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi yang sesuai. Pada penderita
juga dianjurkan untuk menghindari terlalu banyak menyentuh daerah yang sakit dan menjaga
kebersihan daerah mata untuk mempercepat penyembuhan penyakit dan mencegah terjadinya
infeksi sekunder. Penderita dianjurkan untuk kontrol ke poliklinik mata untuk memantau
perkembangan penyakit dan keberhasilan terapi.

9
LAMPIRAN

Gambar 1. Oculi Dextra et Sinistra

Gambar 2. Oculi Dextra

10
Gambar 3. Oculi Sinistra

11