You are on page 1of 3

Koma uremikum

Uremia adalah tingginya kadar ureum dalam darah diatas ambang


normal. Uremia dapat terjadi karena konsumsi protein yang berlebihan,
gangguan pada ginjal untuk ekskresi ureum, atau bisa juga karena retensi urin.
Gangguan pada ginjal dapat terjadi akibat gangguan prerenal, renal dan
postrenal. Gangguan prerenal biasanya terjadi akibat penurunan aliran darah
dalam sirkulasi akibat suatu hambatan. Pada kasus renal biasanya terjadi
akibat adanya peradangan pada ginjal itu sendiri. Sedangkan pada postrenal
terjadi karena adanya gangguan pada saluran pembuangan ,baik karena
peradangan pada ureter, vesika urinaria maupun uretra.

Tidak terjadinya ekskresi ureum dikarenakan glomerulus dan tubuli


mengalami kerusakan, akibatnya konsentrasi unsur-unsur cairan yang berada
dalam tubuh dan yang seharusnya terbuang jadi tidak terbuang.

Uremia dapat menyebabkan rasa lelah, anoreksia, mual, muntah, diare,


dan kelainan neurologis (gangguan syaraf) dan rasa gatal hebat (pruritus)
Uremia juga dapat ditunjukkan dari gejala sebagai berikut:

a. Oedema pulmonum

Kejadian ini berhubungan dengan gangguan sirkulasi darah yang


melalui paru-paru, terutama dari jantung kanan.

b. Anemia

Kejadian ini berkaitan dengan produksi erythropoitin oleh ginjal.


Apabila terjadi kerusakan ginjal maka produksi eythropoitin akan
berkurang atau bahkan terhenti sama sekali, pada hal erythropoitin 90%
diproduksi di ginjal dan sisanya di hati 10% sehingga proses erythropoesis
akan terhambat.

c. Ulkus pada mukosa


Ulkus terjadi apabila tubuh mengalami acidosis sehingga
mengiritasi mukosa. Ulkus biasanya terjadi pada selaput mukosa organ
pencernaan, urogenitalis dan respiratorius.

d. Kalsifikasi dan osteodistrofi

Kedua hal ini sangat erat hubungannya pada kejadian kerusakan


ginjal (uremia). Gangguan fungsi ginjal mengakibatkan gangguan dalam
penyerapan kalsium, karena ginjal tidak mampu memproduksi kalsiferol
yang berfungsi untuk mengaktifkan pro vitamin D menjadi vitamin D.
Vitamin D berfungsi membantu menyerap kalsium dalam saluran
pencernaan. Apabila tubuh tidak mapu menyerap kalsium dari makanan,
maka syaraf parasimpatis menggertak parathiroid untuk mengaktifkan
hormon parathiroid yang berfungsi mengambil kalsium dari tulang
sehingga terjadi osteodistrofi.

Jika kadar ureum dalam darah terus meningkat maka dapat


menyebabkan kematian akibat asidosis metabolik yang menyebabkan
hewan sukar untuk bernafas. Kematian dapat juga terjadi akibat akibat
gangguan pada fungsi otak sampai nekrose otak akibat hipoksia.

Mekanisme :

Ureum sebenarnya adalah zat yang tidak toksik, tetapi apabila


konsentrasinya sangat tinggi akan menimbulkan bekuan ureum dan
menimbulkan bau nafas yang mengandung amonia (NH4). Efek ureum
yang tinggi dalam darah adalah terhadap trombosit, trombosit tidak dapat
lagi membentuk bekuan sehingga tidak terjadi agregasi trombosit.
Akibatnya akan timbul perdarahan dari hidung, diare berdarah, atau bisa
juga perdarahan di bawah kulit. Penyebab perdarahan adalah Trombopatia
uremika. Jika kadar ureum dalam darah sangat tinggi maka tekanan
osmotik darah juga akan meningkat. Konsentrasi ureum dan tekanan
osmotik yang ditimbulkan oleh ureum, di dalam dan di luar sel adalah
sama. Ada satu pengecualian yang penting, yaitu kalau kadar ureum dalam
darah kadarnya dengan cepat diturunkan misalnya dengan hemodialisis,
maka ureum didalam sel otak masih tetap tinggi dan akan mencapai
keseimbangan dengan kadar dalam darah secara perlahan-lahan.