You are on page 1of 5

Faktor Risiko Toksoplasmosis Terhadap Kehamilan

1
Ni Luh Putu Dinda Rahayu Dermana and 2Yudha Nurdian

1
Student, Faculty of Medicine, University of Jember, Indonesia
2
Faculty of Medicine, University of Jember, Indonesia
Email korespodensi: Dinda Rahayu Dermana
dindadermanaa@gmail.com, 162010101131@students.unej.ac.id

Abstrak
Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler yang menginfeksi berbagai hewan berdarah
panas termasuk kucing, anjing, dan manusia. Toksoplasmosis dalam kehamilan
menyebabkan transmisi T. gondii melalui sirkulasi uteroplasenta ke janin.
Toksoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat
ditularkan ke manusia yang dapat menginfeksi hewan peliharaan dan manusia dan dapat
diperoleh dari makanan yang tidak dimasak, daging yang terinfeksi, atau tanah yang
terkontaminasi fases kucing. Infeksi pada perempuan hamil sering tidak memperlihatkan
gejala klinis yang jelas. Pemeriksaan laboratorium yang dapat dilakukan ialah mengukur
kadar anti-Toxoplasma IgG dan IgM, serta aviditas anti-Toxoplasma IgG. Pemeriksaan
tersebut perlu dilakukan pada perempuan yang diduga terinfeksi T. gondii sebelum atau
selama masa kehamilan, serta pada bayi baru lahir dari perempuan yang terinfeksi T.
gondii.

Pendahuluan
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga
bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi
sporozoit) (Hiswani, 2005). Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang
runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron
dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa
organel lain seperti mitokondria dan badan golgi (Sasmita, 2006).
Toksoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit protozoa intraseluler
Toxoplasma gondii, toksoplasmosis dikelompokkan menjadi toksoplasmosis akuisita
(dapatan) dan toksoplasmosis kongenital yang sebagian besar gejalanya asimtomatik.
Gejala yang nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit lainnnya.
Pada ibu hamil yang terinfeksi di awal kehamilan, transmisi ke fetus umumnya jarang,
tetapi bila terjadi infeksi, umumnya penyakit yang didapat akan lebih.
Sebagian besar infeksnya bersifat asimptommatik, tetapi implikasinya pada ibu
hamil beragam. Pada kehamilan dapat terjadi aborsi spontan, bayi lahir mati atau
persalinan prematur ditambah dengan berbagai abnormalitas pada fetus. Penularan
penyakit toksoplasmosis tidak hanya terjadi pada orang yang memelihara kucing
ataupun anjing, melainkan melalui saluran pencernaan seperti minum susu sapi segar,
makan daging yang tidak dimasak dengan sempurna dari hewan yang terinfeksi
toksoplasmosis dan air yang terkontaminasi dengan ookista dari feses kucing.
Oosista dapat menular selama kurang lebih dua tahun, dan menyebabkan
kontaminasi secara luas dan menjadi sumber infeksi bagi manusia dan hospes perantara
lainnya (Yan et al., 2012). Webster (2007) menyatakan bahwa sebagai hospes definitif,
kucing sangat penting bagi toksoplasma dalam mencapai tingkat pematangan dan siklus
hidupnya dapat mencapai tingkatan sempurna. Sekitar setengah dari wanita yang
terinfeksi toksoplasmosis dapat menularkan infeksi melintasi plasenta ke janin in utero
transmisi penyakit ke janin lebih jarang terjadi pada awal kehamilan, namun infeksi
pada awal kehamilan ini dapat menyebabkan gejala yang lebih parah pada janin.
Terdapat trias klasik pada toksoplasmosis kongenital berat yaitu: hidrosefalus,
korioretinitis, dan klasifikas intrakranial.
Pada bayi baru lahir mulai timbul trias meliputi hepatosplenomegali, ikterus,
trombositopenia, limfadenopati dan kelainan susunan saraf pusat seperti lesi pada mata
yang merupakan salah satu manifestasi yang tersering pada congenital toxoplasmosis
(CT). Pengobatan yang dapat dilakukan pada ibu yang suspect terkena toxoplasmosis
diberikan terapi yang berbeda, terapi yang dijalani selama 4 minggu dan diberikan
spiramycin dindikasikan pada wanita yang diduga mengalami infeksi toksoplasma akut
pada trimester pertama atau awal trimester kedua dan diberikan pyrimethamine 25 mg
per hari. Peranan kucing sebagai hospes definitif merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi timbulnya toksoplasmosis, karena kucing mengeluarkan berjuta juta
ookista dalam tinjanya, yang dapat bertahan sampai satu tahun di dalam tanah yang
teduh dan lembab untuk itu pencegahan yang dapat dilakukan yaitu mengurangi kontak
langsung dengan hewan yang berisiko toxoplasmosis seperti tikus. Pencegahan yang
dapat dilakukan pada ibu hamil yaitu melakukan pemerikasaan sebelum kehamilan
ataupun merencanakan kehamilan.

Metode
Karya tulis ini dibuat dengan metode tinjauan pustaka berdasarkan literatur yang
relevan dengan menggunakan kata kunci sebagai berikut : Toxoplasma Gondii ,
Toxoplasmosis in pregnancy. Kriteria inklusi yang digunakan sebagai sumber penulisan
karya tulis yaitu literatur yang dipublikasi dari tahun 2003 sampai tahun 2017. Sumber
jurnal yang digunakan seperti Research Gate , Google Scholar, dan Jurnal Bagian
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado 2015, Jurnal of perinatologi 2011.
Pembahasan
Toxoplasma gondii merupakan protozoa obligat intraseluler, terdapat dalam tiga
bentuk yaitu takizoit (bentuk proliferatif), kista (berisi bradizoit) dan ookista (berisi
sporozoit) (Hiswani, 2005). Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung yang
runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4-8 mikron, lebar 2-4 mikron
dan mempunyai selaput sel, satu inti yang terletak di tengah bulan sabit dan beberapa
organel lain seperti mitokondria dan badan golgi (Sasmita, 2006).
Toksoplasmosis, suatu penyakit yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii,
merupakan penyakit parasit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia (Hiswani,
2005). Parasit ini merupakan golongan Protozoa yang bersifat parasit obligat
intraseseluler. Menurut Wiknjosastro (2007), toksoplasmosis menjadi sangat penting
karena infeksi yang terjadi pada saat kehamilan dapat menyebabkan abortus spontan
atau kelahiran anak yang dalam kondisi abnormal atau disebut sebagai kelainan
kongenital seperti hidrosefalus, mikrosefalus, iridosiklisis dan retardasi mental.
Pada garis besarnya sesuai penularan dan gejala klinisnya, toksoplasmosis dapat
dikelompokkan yaitu : toksoplasmosis akuisita (dapatan) dan toksoplasmosis
kongenital. Gejalanya nampak sering tidak spesifik dan sulit dibedakan dengan penyakit
lain. Toksoplasmosis kongenital didapatkan melalui gejala klinis yang paling sering
dijumpai pada toksoplasmosis dapatan adalah limfadenopati dan rasa lelah, disertai
demam dan sakit kepala (Gandahusada, 2003). Pada toksoplasmosis kongenital,
transmisi toksoplasma kepada janin terjadi melalui plasenta bila ibunya mendapat
infeksi primer pada janin diawali dengan masuknya darah ibu yang mengandung parasit
tersebut ke dalam plasenta, sehingga terjadi keadaan plasentitis yang terbukti dengan
adanya gambaran plasenta dengan reaksi inflamasi menahun pada desidua kapsularis
dan fokal reaksi pada vili. Inflamasi pada tali pusat jarang dijumpai.
Gejala susunan syaraf pusat sering meninggalkan gejala sisa, misalnya retardasi
mental dan motorik. Kadang-kadang hanya ditemukan sikatriks pada retina yang dapat
kambuh pada masa anak-anak, remaja atau dewasa. Korioretinitis karena
toksoplasmosis pada remaja dan dewasa biasanya akibat infeksi kongenital. Akibat
kerusakan pada berbagai organ, maka kelainan yang sering terjadi bermacam-macam
jenisnya. Kelainan pada bayi dan anak-anak akibat infeksi pada ibu selama kehamilan
trimester pertama, dapat berupa kerusakan yang sangat berat sehingga terjadi abortus
atau lahir mati, atau bayi dilahirkan dengan kelainan seperti ensefalomielitis,
hidrosefalus, kalsifikasi serebral dan korioretinitis.
Pada anak yang lahir prematur, gejala klinis lebih berat dari anak yang lahir cukup
bulan, dapat disertai hepatosplenomegali, ikterus, limfadenopati, kelainan susunan
syaraf pusat dan lesi mata. Pencegahan yang dapat dilakukan dengan cara memasak
daging dengan sempurna sebagai karena sumber infeksi dapat dimusnahkan dengan
memasaknya sampai 660C. Daging dapat menjadi hangat pada semua bagian dengan
suhu 650C selama empat sampai lima menit atau lebih, maka secara keseluruhan daging
tidak mengandung kista aktif, demikian juga hasil daging siap konsumsi yang diolah
dengan garam dan nitrat (Chahaya, 2003).
Pengobatan yang dapat dilakukan pada ibu yang suspect terkena toxoplasmosis
diberikan terapi yang berbeda, terapi yang dijalani selama 4 minggu dan diberikan
spiramycin dindikasikan pada wanita yang diduga mengalami infeksi toksoplasma akut
pada trimester pertama atau awal trimester kedua, dan diberikan pyrimethamine 25 mg
per hari.
Kesimpulan
Toksoplasmosis disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii yang menginfeksi
berbagai hewan berdarah panas termasuk kucing, anjing, dan manusia. Pada ibu hamil
terinfeksinya toxoplasmosis melalui sirkulasi uteroplasenta ke janin, yang akan
berpengaruh pada janin. Terdapat trias klasik pada toksoplasmosis kongenital berat yaitu
hidrosefalus, korioretinitis, dan klasifikas intrakrania pencegahan yang dapat dilakukan
dengan memasak daging dengan sempurna.

Daftar Pustaka
Halonen, S. K. and Weiss, L. M. 2013. Toxoplasmosis. In: Aminoff, M. J., Boller, F., and
Swaab, D. F. (Eds.). Handbook Of Clinical Neurology, Vol. 114, Amsterdam:
Elsevier. p. 124-145.

Prima, A dan Nurdian,Y. 2018. Faktor Risiko Toksoplasmosis di Area Agrikultur.


https://www.researchgate.net/

Bakht FR, Gentry LO. Toxoplasmosis in pregnancy: an emerging concern for family
physicians. c2012 [cited 2012 August 5]. Available from: http://www.ncbi.nlm.
nih.gov/pubmed/1558044.

Hariadi R. Infeksi Toxoplasma gondii pada kehamilan. In: Ilmu kedokteran Fetomaternal
(Edisi Pertama). Surabaya: Himpunan Kedokteran Fetomaternal Perkumpulan
Obstetri dan Ginekologi, 2004; p.657-661.

Montoya, J. G., Boothroyd, J. C., and Kovacs, J. A. 2015. Toxoplasma gondii. In


: Bennett, J. E., Dolin, R., and Blaser, M. J. (Eds.). Mandell, Douglas, and
Bennett’s Principles and Practice of Infectious Diseases, Eighth Ed., Vol. 1,
Philadelphia: Elsevier. p. 3122-3153.

Kodym, P.,Maly, M., Beran, O., Jilich, D., Rozyzpal, H., Machala, L., and Holub, M.
2015. Incidence, immunological and clinical characteristics of reactivation of
latent Toxoplasma gondii infection in HIV-infected patients.
EpidemiologyandInfection,143(3),600-607. doi:10.1017/S0950268814001253.

Syaikudin, A. dan Nurdian, Y. 2017. Immunological Reaction and Inflammatory


Response in Congenital Toxoplasmosis Can Cause Hearing Disorder.
https://www.researchgate.net/

Nurdian, Y. 2018. Buku Ajar Pengantar Parasitologi Agromedis. Universitas Jember:


Fakultas Kedokteran.

Christina Meenken, Johanna Assies, Onno van Nieuwenhuizen,Wilhelmina G


Holwerda‐van der Maat, Mary J van Schooneveld, Willem J Delleman,Geert
Kinds, Aniki Rothova. Long term ocular and neurological involvement in severe
congenital toxoplasmosis.British Journal of Ophthalmology 1995; 79: 581‐584.

K.I. Nijem,S. Al‐Amleh.Seroprevalence and associated risk factors of toxoplasmosis in


pregnant women in Hebron district, Palestine.La Revue de Sante de la
Mediterranee orientale, Vol. 15, N° 5, 2009.