You are on page 1of 3

The Effects of Multidemensional Exercise Treatment On Community-Dwelling Elderly

Japanese Women With Stress, Urge, and Mixed Urinary Incontinence : A Randomized
Controlled Trial

Latar Belakang

Inkontinensia Urin (UI) pada lansia adalah kondisi umum pada lansia yang
berpengaruh besar terhadap hilangnya kebebasan, penurunan kualitas hidup,pembatasan
kegiatan sosial, dan peningkatan risiko rawat inap jangka panjang. Perkiraan prevalensi UI
berkisar anatara 17 sampai 55 % tergantung populasi karakteristik dan pendekatan
metodologis.Sejumlah metode digunakan untuk mengobati atau menangani UI. Latihan otot
panggul (PFM), dirancang oleh Kegel (1948) dan direkomendasikan sebagai lini pengobatan
pertama di Indonesia. Stres pada UI juga telah banyak diteliti efek jangka pendek dan jangka
panjangnya. latihan PFM dihipoteiskan untuk meningkatkan resistensi uretra dengan
meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh khususnya otot periuretra dan perivagina dan
juga meningkatkan dukungan anatomis pada leher kandung kemih dan uretrha proksimal.
Studi debelumnya menemukan bahwa latihan PFM mengurangi dorongan kebocoran air
kencing dan UI campuran karena terhambatnya refleks kandung kemih yang berhubungan
dengan kontraksi Pfm. Beberapa penelitian juga juga telah melaporkan bahwa obesitas dan
BmI tinggi dikaitkan dengan UI. Salah satu penelitian melaporkan bahwa resolusi stres dan
dorongan UI terjadi setelah melakukan pembedahan penurunan berat badan pada wanita
obesitas yang tidak sehat . Peneliti berpendapat bahwa latihan kebugaran yang berfokus pada
penguatan otot perut juga akan mengurangi lemak perut/IMT, dengan demikian dapat
mengurangi tekanan dinding perut,tekanan intravesikuler, dan risiko UI pada wanita lanjut
usia. Penelitia melakukan uji coba terkontrol secara acak untuk mengukur efek dari latihan
olahraga multidimensional (FPM dan latihan kebugaran) pada kebocoran urin pada lansia
wanita Jepang yang tinggal di masyarakat dengan stres,dorongan,dan UI campuran dan
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi keefektifan siding.

Metode Penelitian

Subjek dari penelitian ini dipilih secara acak dari Daaftar Residen Dasar 5935 wanita
berusia 70 tahun yang tinggal di bangsal Itabashi (distrik) Tokyo pada tanggal 1 April 2006.
Informasi tentang penelitian ini dikirimkan ke subjek potensial survei dasar yang dilakukan
pada November 2006 dan 957 (16,1%) perempuan berpartisipasi. Sebanyak 416 (43,5%)
mengalami beberapa Inkontinensia Urin, dan 194 (46,6%) diklasifikasikan sebagai lansia
yang mengalami kebocoran urin lebih dari satu kali dalam seminggu. Kriteria inkluasi
adalah : 1. menderita dorongan,stres, atau UI campuran ; 2. berusia 70 tahun ; 3. buang air
kecil episode kebocoran lebih dari sekali dalam seminggu ; dan 4 gangguan kognisi
(Pemeriksaan Mini-Mental State Skor < 24). Hasil utama dari percobaan ini adalah tingkat
kesembuhan episode kebocoran urin. Efek latihan perawatan pada episode kebocoran urin
berdasarkan perubahan skala 5 poin (1= tidak ada kebocoran urin, 2= kurang dari sekali
dalam seminggu,3=seminggu sekali,4= dua atau tiga kali seminggu, dan 5=setiap hari)
tercatat dalam buku harian urin selama 1 minggu setelah latihan 3 bulan dan follow up 7
bulan. Berhentinya episode kebocoran didefinisikan sebagai sembuh.

Survei Wawancara dan Buku Harian Urin

Wawancara tatap muka dilakukan untuk meilai sementara kondisi UI berdasarkan


Intenational yang dimodifikasi Konsultasi Kuisioner Inkontinensia (ICIQ).Untuk
mengkonfirmasi perubahan frekuensi urin,nilai kebocoran dihitung berdasarkan self-reported
catatan harian urin selama 1 minggu sebagai berikut : 0= tidak ada kebocoran urin, 1=kurang
dari sekali seminggu, 2= seminggu sekali, 3 =dua atau tiga kali seminggu, dan 4= setiap hari.

Tipe Ui diklasifikasikan berdasarkan pertanyaan tentang kebocoran urine. Stress UI tercata


saat terjadi kebocoran urine terkait dengan meningkatnya tekanan perut seperti batuk,bersin,
atau ikut serta dalam aktivitas fisik lainnya.

Intervensi

Peserta menghadiri sesi latihan 2 kali seminggu selama 3 bulan di promosi kesehatan
kelas TMIG. Sebelum latihan PFM dan pelatihan penguatan otot, peserta melakukan
pemanasan 5-10 menit dan latihan peregangan ,termasuk rotasi bahu,pinggang, dan lain-
lain.pada Latihan PFM subjek dilatih untuk menggunakan kekuatan hanya pada PKP tanpa
penegangan perut. Latihan regimen dirancang untuk memperkuat fast and slow witch serabut
otot yang terletak di dasar panggul. Peserta awalnya diinstruksikan untuk melakukan 10
kontraksi (3s) dengan relaksasi 5 detik dan 10 berkelanjutan kontraksi (8-10 s) dengan
relaksasi 10-s diantara kontraksi. Latihan PFM dilakukan duduk,berbaring, dan posisi berdiri
dengan kaki terpisah,sambil menekankan kontraksi PKP dan relaksasi. Latihan kebugaran
juga dilakukan pada peserta. Kekuatan latihan otot paha dan perut dilakukan anatara latihan
PFM. latihan kebugaran meliputi : mengangkat kaki (atau kedua kaki) dan menunjuk jari kaki
lalu perlahan menarik kaki kembali ke arah tulang kering,perlahan mengangkat satu lutut
(atau kedua lutut),memiringkan pelvis ke belakang dan maju, mengangkat bokong saat
dibelakang,dengan lutut ditekuk, mengangkat satu kaki saat terbaring telentang, dan latihan
bola termasuk tindakan seperti duduk diatas bola,menggiring bola dan pelvis ke depan dan ke
belakang, dan bergerak dari sisi ke sisi, meremaqs paha, mengangkat bola dengan kaki, dan
lainnya.

Selama periode follow up 7 bulan, para peserta mengikuti latihan 1 jam sekali dalam
sebulan di TMIG Pusat promosi kesehatan Program Berbasis Rumah yang terdiri dari dua
sampai tiga set latihan dan latihan PKP yang telah mereka pelajari selama latihan kelompok.
mereka didorong untuk melakukan homebased latihan minimal tiga kali per minggu untuk
kira0-kira 30 menit per hari.Untuk memantau secara akurat waktu latihan dan jumlah set
yang dilakukan selama masa tindak lanjt, sebuah pamflet yang menggambarkan PfM dan
penguatan latihan serta lembar rekaman dibagikan. Subjek ditanyai terkait pendokumentasian
waktu dan rangkaina latihan yang dilakukan dirumah setiap hari, episode kebocoran urin, dan
jumlah serta keadaan setiap episode.
Hasil Penelitian

.Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa latihan olahraga yang melibatkan pelatihan
dan kebugaran PFM dapat mencapai angka kesembuhan 63,2 % pada UI stres, 35% pada
dorongan UI, dan 40% pada UI campuran . Latihan ini memiliki efek langsung pada
wanita.Khasiat latihan ini lebih besar untuk UI stres daripada dorongan UI atau campuran
meskipun tingkat penyembuhan dari dorongan atau campuran menunjukkan penurunan
sedikit setelah follow up 7 bulan.Banyak penelitian menunjukkan bahwa BMI mrupakan
faktor risiko UI, dan penurunan BMI dapat menyebabkan penurunan tekanan episode
UI.Penurunan BMI menyebabkan penurunan berat dinding perut, penurunan tekanan intra-
abdomen dan tekanan intravesikular yang mungkin menyebabkan peningkatan tegangan
UI.Penelitian ini juga menekankan bahw akepatuhan untuk berolahraga adalah faktor kunci
keberhasilan jangka panjang. Dalam penelitian ini,kepatuhan terhadap pengobatan olahraga
multidimensional adalah yang paling signifikan dan predikator konsisten tentaang efikasi
pasca intervensi dan tindak lanjut. Ketaatan yang tinggi dan pengurangan BMI juga memiliki
pengaruh positif pada dorongan,perlakuan UI campuran dan stres. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa latihan multidimensional merupakan intervensi yang efektif untuk
pengobatan stres,dorongan,dan UI campuran. Penurunan BMI dan juga Kepatuhan terhadap
rejimen latihan yang ditentukan adalah predikator yang signifikan terhadap efektivitas terapi.
Jadi,latihan multidimensional harus dipertimbangkan untuk wanita usia lanjut sebagai bagian
dari sebuah strategi untuk meningkatkan kapasitas fungsional dan UI. perawatan kesehatan
untuk pasien UI harus dilakukan dalam tim dimana terapis fisik,dokter,dan perawat bekerja
sama