You are on page 1of 5

Catch-up Imunisasi

Case : anak umur 2 tahun tidak pernah diberikan imunisasi sama sekali, apa yang harus
dilakukan ?

Imunisasi catch-up
1. Hepatitis B
Idealnya dosis pertama imunisasi hepatitis B diberikan sedini mungkin setelah
lahir (jika memungkinkan < 12 jam), kemudian dilanjutkan dengan interval 4 minggu
dari dosis pertama dan interval imunisasi kedua dan ketiga yang dianjurkan adalah
minimal 2 bulan dan terbaik setelah 5 bulan.
Apabila sang anak belum mendapatkan imunisasi hepatitis B semasa bayi, maka
imunisasi hepatitis B tersebut dapat diberikan kapan saja, sesegera mungkin, tanpa harus
memeriksakan kadar AntiHBsnya. Kecuali jika sang ibu memiliki hepatitis B ataupun
sang anak pernah menderita penyakit kuning, maka ia dianjurkan untuk memeriksakan
kadar HBsAg dan antiHBs terlebih dahulu.
Kesimpulan : Pada anak ini diberikan kapan saja imunisasi hepatitis B dan
sesegera mungkin.
2. DPT
Diptheria, Pertusis, dan Tetanus (DPT) Imunisasi DPT diberikan 3 kali sebagai
imunisasi dasar dan dilanjutkan dengan booster 1 kali dengan jarak 1 tahun setelah DPT3.
Pada usia 5 tahun (sebelum masuk SD) diberikan imunisasi DPT (DPaT/Tdap) dan pada
usia 12 tahun berupa imunisasi Td. Pada wanita, imunisasi TT perlu diberikan 1 kali
sebelum menikah dan 1 kali pada ibu hamil, yang bertujuan untuk mencegah tetanus pada
bayi baru lahir.
Apabila Imunisasi DPT terlambat diberikan, maka berapa pun interval
keterlambatannya jangan mengulang dari awal, namun langsung lanjutkan imunisasi
sesuai jadwal. Bila anak Anda belum pernah diimunisasi dasar pada usia < 12 bulan,
maka imunisasi dasar DPT dapat diberikan pada usia anak sesuai jumlah dan interval
yang seharusnya. Bagaimana dengan pemberian imunisasi DPT keempatnya? Imunisasi
DPT keempatnya tetap diberikan dengan jarak 1 tahun dari yang ketiga, dengan catatan
sebagai berikut: Bila imunisasi DPT keempat diberikan sebelum ulang tahun
keempatnya, maka pemberian imunisasi DPT kelima dapat diberikan sesuai jadwal,
paling cepat 6 bulan sesudahnya. Bila imunisasi DPT keempat diberikan setelah ulang
tahun keempatnya, maka pemberian imunisasi DPT kelima tidak diperlukan lagi.
Kesimpulan : Pada Anak ini dapat diberikan DPT-1, DPT-2, DPT-3 dengan
jarak 1 bulan, dilanjutkan DPT-4 1 tahun setelahnya, sampai umur 5 tahun
diberikan DPT-5
3. Polio
Imunisasi polio oral (OPV) dengan jadwal pemberian: saat lahir, usia 2, 4, 6, dan
18 bulan. Imunisasi polio suntik (IPV) dengan jadwal pemberian: usia 2, 4, 6, 1824 bulan
dan 6 8 tahun. Bila imunisasi polio terlambat diberikan, Anda tidak perlu mengulang
pemberiannya dari awal lagi.
Kesimpulan : Pada Anak ini dapat diberikan Polio-1¸ Polio-2, Polio-3 dengan
jarak masing" 1 bulan, dan Polio booster selang 1 tahun.

4. BCG
Imunisasi BCG sebaiknya pertamakali diberikan pada saat bayi berusia 23 bulan.
Pemberian BCG pada bayi berusia < 2 bulan akan meningkatkan risiko terkena penyakit
tuberkulosis karena daya tahan tubuh bayi yang belum matang. Apabila bayi telah berusia
> 3 bulan dan belum mendapatkan imunisasi BCG, maka harus dilakukan uji tuberkulin
(tes mantoux dengan PPD2TU/PPDRT23) terlebih dulu. Bila hasilnya negatif, imunisasi
BCG dapat diberikan. Imunisasi BCG tidak membutuhkan booster.
Kesimpulan : Pada Anak ini dapat diberikan BCG kapan saja, tapi
sebelumnya harus Dilakukan Mantoux test terlebih dahulu.
5. Campak
Untuk anak yang terlambat/belum mendapat imunisasi campak, bila saat itu anak
berusia 912 bulan, berikan kapan pun saat bertemu. Bila anak berusia > 1 tahun, berikan
MMR. Jika sudah diberi MMR usia 15 bulan, tidak perlu campak di usia 24 bulan.
Kesimpulan : Pada anak ini tidak perlu diberikan campak, diberikan MMR
6. MMR
Imunisasi MMR diberikan pada saat anak berusia 1518 bulan dengan jarak minimal
dengan imunisasi campak 6 bulan.
Booster perlu diberikan saat anak berusia 6 tahun. Bila lewat 6 tahun dan belum juga
mendapatkannya, berikan imunisasi campak/MMR kapan saja saat bertemu. Pada
prinsipnya, pemberian imunisasi campak 2 kali atau MMR 2 kali.
Kesimpulan : Pada anak ini dapat diberikan MMR pertama kali kapan saja,
booster diberikan saat anak ini usia 6 tahun.
7. HIB
Mirip dengan DPT , Imunisasi HiB diberikan diberikan pada usia 2,4, dan 6
bulan, dan diulang pada usia 18 bulan. Vaksin HiB juga dapat diberikan dalam bentuk
vaksin kombinasi. Apabila anak datang pada usia 15 tahun, HiB hanya diberikan 1 kali.
Untuk anak di atas usia 5 tahun, tidak perlu diberikan, karena penyakit ini hanya
menyerang anak di bawah usia 5 tahun.
Kesimpulan : Pada anak ini hanya diberikan 1 kali vaksin HiB
8. PCV
Tidak seperti imunisasi yang lain, jadwal kejar imunisasi terhadap pneumokokus
ini diberikan tergantung usia bayi/anak Anda. Bila bayi/anak Anda terlambat
mendapatkannya, maka jadwal imunisasi pneumokokusnya adalah sebagai berikut:
Imunisasi pneumokokus diberikan tergantung usia pasien:

2-6 bulan > 3 dosis, interval 68 minggu (Ulangan 1 dosis, usia 1215 bulan)
7-11 bulan > 2 dosis, interval 68 minggu (Ulangan 1 dosis, usia 1215 bulan)
12-23 bulan > 2 dosis, interval 68 minggu
>24 bulan > 1 dosis
Kesimpulan : Pada Anak ini diberikan 1 dosis PCV tanpa ulangan.
9. Rotavirus
Ada dua imunisasi Rotavirus yang terdapat di Indonesia:
Rotateq diberikan 3 dosis. Pertama pada usia 614 minggu, pemberian ke dua 48 minggu
kemudian, dan dosis ke3 maksimal pada usia 8 bulan.
Rotarix diberikan 2 dosis: dosis pertama pada usia 10 minggu, dan dosis kedua pada usia
14 minggu (maksimal pada usia 6 bulan).
Apabila bayi belum diimunisasi pada usia lebih dari 68 bulan, maka tidak perlu diberikan
karena belum ada studi keamanannya.
Kesimpulan : Pada anak ini tidak diberikan vaksin Rotavirus
10. Influenza
Vaksin influenza diberikan dosis tergantung usia anak. Pada usia 6-35 bulan (
atau <3tahun ) dosis yang diberikan cukup separuh dosis dewasa yaitu 0,25 ml. Pada
Anak > 3 tahun diberikan 0,5 ml. Pada anak berusia < 8 tahun, untuk pemberian pertama
diperlukan 2 dosis dengan interval minimal 46 minggu, sedangkan bila anak berusia > 8
tahun, maka dosis pertama cukup 1 dosis saja satu kali setahun dan diulang setiap tahun.
Keimpulan : Pada Anak ini dapat diberikan kapan saja, dan diulang satu
tahun.
11. Varisela
Vaksin varisela diberikan pada anak > 1 tahun sebanyak 1 kali. Untuk anak
berusia > 13 tahun atau pada dewasa, diberikan 2 kali dengan interval 48 minggu.
Apabila terlambat, berikan kapan pun saat pasien datang, karena imunisasi ini bisa
diberikan sampai dewasa.
Kesimpulan : Pada anak ini dapat diberikan kapan saja.
12. Hepatitis A dan tifoid
Imunisasi hepatitis A dan tifoid diberikan pada usia lebih dari 2 tahun. Imunisasi
hepatitis A diberikan sebanyak 2 dosis dengan interval 6-12 bulan. Imunisasi tifoid
diberikan pada usia lebih dari 2 tahun, dengan ulangan setiap 3 tahun. Kalau anak Anda
terlambat mendapatkannya, maka keduanya dapat diberikan kapan saja hingga usia
dewasa.
Kesimpulan : Pada anak ini dapat diberikan kapan saja, pada tifoid diulang
setiap 3 tahun.
13. HPV
Vaksin HPV diberikan sejak anak berusia 10 tahun sebelum
menikah/berhubungan seksual, dan dapat diberikan hingga anak berusia 26 tahun. Vaksin
ini bertujuan untuk mencegah kanker cervix, mengingat prevalensinya lebih tinggi
daripada kanker payudara. Suntikan vaksin HPV dilakukan sebanyak 3 kali, dengan
interval pemberian 016 bulan atau 026 bulan.
Kesimpulan : Belum diberikan
sumber :
http://idai.or.id/publicarticles/klinik/imunisasi/mengejarketerlambatanimunisasianak.