You are on page 1of 2

MENIKAH LEWAT TAARUF

Ta’aruf bisa diartikan dengan mengenalkan diri, mengenal baik, maupun berkenalan dengan orang
lain. Intinya adalah ta’aruf merupakan interaksi yang dilakukan antara dua orang atau lebih dengan
disertai maksud atau tujuan tertentu. Jadi, secara bahasa pengertian ta’aruf sebenarnya luas karena bisa
menyangkut persaudaraan, pertemanan, pernikahan, dan lain sebagainya.
Nah, ta’aruf yang selama ini banyak dikenal oleh masyarakat muslim yang ada di Indonesia adalah
ta’aruf yang dihubungkan dengan dunia percintaan. Ya, dunia percintaan memang selalu menjadi topik
yang menarik di dalam kehidupan masyarakat, terlebih lagi jika dilihat dalam sudut pandang islam.
Ta’aruf dalam hubungan percintaan bisa diartikan sebagai proses perkenalan yang tujuannya
adalah menyempurnakan agama yaitu mengacu ke jenjang pernikahan. Bukan hanya sekedar ingin
berkenalan saja ataupun iseng-iseng dalam mencari jodoh, lebih dari itu ta’ruf menjadi begitu mulia
karena sang pelaku memiliki niat yang suci.
Tata Cara Taaruf Sesuai Kaidah Islam
Tata cara taaruf tentu tidak dilakukan secara sembarangan dan harus sesuai syariat Islam, berikut
ini tata cara taaruf:
1. Waktu pelaksanaan taaruf
Taaruf dilakukan ketika kita sudah benar-benar siap dan serius untuk menikah. Taaruf dilakukan
dalam waktu hitungan minggu atau bulan saja sebelum pernikahan. Jadi, bukannya taaruf sekarang
tapi nikahnya menunggu 5 tahun lagi atau bahkan 7 hingga 10 tahun lagi.
2. Persiapan taaruf
Untuk melakukan taaruf itu tidak perlu banyak persiapan seperti halnya akan mengadakan pesta
besar, cukup menyiapkan mental dan fisik saja agar kelihatan segar dan bugar menuju pernikahan.
Persiapan lain yang perlu disiapkan yaitu berupa proposal atau CV taaruf yang merupakan data diri
secara lengkap. Ini dimaksudkan agar masing-masing laki-laki atau perempuan dengan mudah
mengenalnya.
3. Pihak yang terlibat dalam taaruf
Taaruf harus melibatkan perantara atau pendamping pihak ketiga. Perantara merupakan orang
yang dipercayai untuk menyampaikan kode atau isyarat ketika salah satu laki-laki atau perempuan
ingin mengajukan proses taaruf. Sedangkan pendamping adalah pihak yang ikut serta dan
mendampingi dalam proses pertemuan taaruf.
4. Tahapan taaruf
Pada dasarnya proses ta’aruf ini tergantung pada individu dan budaya masing-masing. Namun,
secara umum berukut langkah-langkah ta’aruf:
1) Membuat Proposal
Proposal ini berisikan cerita mengenai diri sendiri, prinsip hidup yang dijalankan, kriteria apa yang
dibutuhkan dari pasangan, dan hal lainnya. Nantinya, proposal ini ditukarkan dengan orang yang
ingin berta’aruf juga.
2) Mencari calon pasangan dan bertemu lewat mediator
Mencari pasangan dapat dilakukan lewat saudara, teman, ataupun keluarga, atau biro jodoh di
masjid. Nantinya, mereka juga yang akan menjadi mediator saat kedua belah pihak bertemu.
Saat bertemu, kedua pihak sebaiknya bertanya berbagai macam hal untuk mengetahui pribadi
masing-masing. Hal tersebut diperlukan agar kedua bisa memutuskan untuk melanjutkan ta’aruf
atau tidak.
3) Salat istikharah
Setelah bertemu, keduanya dianjurkan untuk shalat istikharah agar tidak ada keraguan. Berdoa
sekhusyuknya saat salat istikharah untuk mendapatkan petunjuk dari Allah. Jika setelah salat
istikharah keduanya mantap dan tidak ada keraguan, maka ta’aruf bisa dilanjutkan.
4) Khitbah atau peminangan
Khitbah atau yang biasa disebut dengan lamaran adalah sebuah pernyataan atau permintaan dari
pihak laki-laki kepada pihak perempuan dengan maksud mengawininya. Lamaran ini bisa
dilakukan oleh sang laki-lakinya secara langsung maupun diwakilkan oleh pihak lain yang sesuai
dengan ketentuan agama islam.
5) Akad atau pernikahan
Setelah semua proses dijalankan dengan baik, maka keduanya bisa menikah. Untuk sampai ke
jenjang pernikahan, biasanya hanya dibutuhkan waktu tiga sampai empat bulan saja.
Ta’aruf merupakan proses yang dilakukan untuk lebih mengenal kriteria calon pasangan kita dengan
tujuan utama menikah. Berbeda dengan berpacaran, cara yang dilakukan untuk mengenal dan
mengetahui hal-hal tertentu yang dimiliki pasangan dilakukan dengan metode yang tidak memenuhi
kriteria suatu perkenalan sama sekali. Kebanyakan dalam berpacaran hanya untuk mendapatkan
kenikmatan sesaat, sehingga kebanyakan dari proses tersebut dapat mengantarkan seseorang ke jalan
perzinaan dan maksiat.
Menikah merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat islam dan dapat menyempurnakan
keimanan kita. Selain itu, pasangan yang menikah tanpa pacaran bisa menikmati masa pacaran dengan
halal setelah menikah. Ia bisa merasakan bagiamana kenikmatan suami istri tanpa harus merasa berdosa
atau salah, karena telah Allah halalkan. Untuk itu disitulah letak keberkahannya pernikahan.
Jadi, masih mau pacaran atau taaruf? (Fig/Fomatik)
Sumber:
https://ekspektasia.com/arti-taaruf/#Tata_Cara_Taaruf_Sesuai_Kaidah_Islam
http://deerham.com/taaruf-dalam-islam/