You are on page 1of 37

43

3.2 Kondisi Geologi dan Stratigrafi

3.2.1 Kondisi Geologi Regional

(Sumber : Eksplorasi Pengembangan dan Perencanaan Jangka Panjang)


Gambar 3.3 Peta Geologi Regional

Secara geologi regional wilayah penambangan PT. Bukit Asam

(Persero), Tbk. (Gambar 3.2) termasuk ke dalam Sub Cekungan

Palembang yang merupakan bagian dari Cekungan Sumatera Selatan

dan terbentuk pada zaman tersier. Sub Cekungan Sumatera Selatan yang

diendapkan selama zaman kenozoikum terdapat urutan litologi yang

terdiri dalam 2 (dua) kelompok, yaitu Kelompok Telisa dan Kelompok

Palembang. Kelompok Telisa terdiri dari Formasi Lahat, Formasi

Talang Akar, Formasi Batu Raja dan Formasi Gumai. Kelompok


44

Palembang terdiri dari Formasi Air Benakat, Formasi Muara Enim dan

Formasi Kasai.

Endapan Tersier pada Cekungan Sumatera Selatan dari yang tua

sampai dengan yang muda dapat dipisahkan menjadi beberapa formasi,

yaitu antara lain:

1. Formasi Lahat

Formasi Lahat diendapkan tidak selaras diatas batuan pra-

tersier pada lingkungan darat. Formasi ini berumur Oligosen bawah,

tersusun oleh tuffa breksi, lempung tuffan, breksi dan konglomerat.

Pada tempat yang lebih dalam fasiesnya berubah menjadi serpih

tuffan, batu lanau dan batu pasir dengan sisipan batubara. Ketebalan

formasi ini berkisar antara 0 – 300 meter.

2. Formasi Talang Akar

Formasi Talang Akar diendapkan tidak selaras diatas

formasi Lahat. Formasi ini berumur Oligosen atas sampai Oligosen

bawah, tersusun oleh batu pasir, batu sampingan, batu lempung dan

batu lempung sisipan batubara. Formasi Talang Akar diendapkan di

lingkungan fluviatil, delta dan laut dangkal dengan ketebalan

berkisar 0 – 400 meter.

3. Formasi Baturaja

Formasi Baturaja diendapkan selaras diatas formasi Talang

Akar. Formasi ini berumur miosen bawah yang tersusun oleh napal,
45

batugamping berlapis dan batugamping terumbu. Ketebalan formasi

ini berkisar antara 0 – 400 meter.

4. Formasi Gumai

Formasi Gumai diendapkan selaras diatas formasi Baturaja

yang berumur miosen bawah sampai miosen tengah. Formasi ini

tersusun oleh serpih dan sisipan napal dengan batu gamping

dibagian bawah. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah laut

dalam, dengan ketebalan 300 – 2200 meter.

5. Formasi Air Bekanat

Formasi Air Bekanat diendapkan selaras diatas Formasi

Gumai yang berumur miosen tengah tersusun oleh batu lempung

pasiran dan batupasir Glaukonitan. Formasi Air Bekanat diendapkan

pada lingkungan laut neritik dan berangsur menjadi laut dangkal,

dengan ketebalan antara 100 – 800 meter.

6. Formasi Muara Enim

Formasi Muara Enim diendapkan selaras diatas formasi

bekanat. Formasi ini berumur miosen atas yang tersusun oleh

batupasir lempungan dan batubara. Formasi ini merupakan

pengendapan lingkungan laut neritik sampai rawa, dengan ketebalan

berkisar antara 150 – 750 meter.


46

7. Formasi Kasai

Formasi Kasai diendapkan selaras diatas formasi Muara

Enim. Formasi ini tersusun oleh batubara tuffan yang dicirikan

bewarna putih, batu lempung dan sisipan batubara tipis seperti yang

tersingkap didaerah suban. Lingkungan pengendapan formasi ini

adalah darat sampai transisi.

3.2.2 Kondisi Geologi Daerah Penelitian

Secara umum, singkapan batuan Andesit hasilintrusi magma

dijumpai di Bukit Tapuan, Bukit Asam, Bukit Lengkuas dan

penyambungan Bukit Munggu. Seluruh komplek tubuh batuan andesit ini

termasuk dalam sistem geologi daerah Air Laya dan sekitarnya.

Diperkirakan umur dari intrusi ini sekitar pliosen.

Di daerah TSBC sendiri terdapat dua bentuk intrusi Andesit, yaitu

dike dan sill Andesit. Ciri fisik dari batuan Andesit ini yaitu memiliki

warna abu-abu terang, padat, keras,berbutir halus. Batu andesit ini

terbentuk dari lelehan magma diorit dan termasuk batuan beku lelehan.

Berdasarkan litologinya maka batuan yang tersingkap di

Tambang Air Laya dapat dikelompokkan menjadi tiga formasi yaitu:

formasi Muara Enim, formasai Kasai dan formasi Air Benakat. Urutan

dari umur yang paling tua sampai umur yang paling muda adalah sebagai

berikut:
47

1. Formasi Air Bekanat

Formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Gumai yang

berumur miosen tengah, formasi ini tersusun oleh batulempung,

batulanau, dan batupasir tufaan dengan sisipan batubara yang

diendapkan pada lingkungan laut neritic.

2. Formasi Muara Enim

Formasi Muara Enim diendapkan selara diatas Formasi Air

Bekanat, formasi ini berumur miosen atas yang tersusun oleh

batulempung, batulanau, dan batupasir dengan sisipan batubara.

Formasi ini merupakan hasil pengendapan lingkungan laut neritik

sampai rawa.

3. Formasi Kasai

Formasi Kasai diendapkan selaras diatas formasi Muara

Enim. Formasi ini tersusun oleh batupasir tufaan, batu lempung dan

sisipan batubara tipis. Lingkungan pengendapan formasi ini adalah

daratan sampai transisi. Formasi Muara Enim ini merupakan

endapan rawa sebagai fase akhir yang menghasilkan endapan

batubara yang penting sebagai endapan pada Bukit Asam.


48

3.2.3 Statigrafi Daerah Penelitian

(Sumber : Satuan Kerja Eksplorasi dan Geotek PT. Bukit Asam, Tbk)
Gambar 3.4 Penampang Litologi Daerah TAL
49

Lapisan batubara di daerah Izin Usaha Pertambangan PT. Bukit

Asam Unit Pertambangan Tanjung Enim menempati tepi barat bagian

dari Cekungan Sumatera Selatan, dimana cekungan ini merupakan

bagian dari Cekungan Sumatera Tengah dan Selatan menurut (Coster,

1974 dan Harsa, 1975). Lapisan batubara pada daerah ini tersingkap

dalam sepuluh lapisan batubara yang terdiri dari lapisan tua sampai

muda, yakni Lapisan Petai, Lapisan Suban, Lapisan Mangus dan tujuh

lapisan gantung (hanging seam).

Untuk mengetahui lebih rinci dapat dilihat pada susunan

stratigrafi dengan uraian sebagai berikut (Gambar 2.6 dan Gambar 2.7) :

1. Lapisan Tanah Penutup (overburden)

Tanah penutup terdiri dari endapan sungai tua (pasir dan

kerikil) batu lempung dan lapisan lanau yang silisified, juga terdapat

iron stone nodules serta lapisan gantung (hanging steam). Dapat

dijelaskan bahwa lapisan ini merupakan lapisan yang terdiri dari

tanah liat, bentonite, dan campuran lumpur serta batu pasir halus,

pada bagian ini dapat dijumpai nodul-nodul clay ironstone yang

berbentuk cakram pada gantung batubara dengan ketebalan rata-rata

diatas 0.25 m sampai 0.80 m.

2. Lapisan Batubara A1 (Mangus Atas)

Umumnya lapisan batubara ini dapat dicirikan dengan

adanya material- material pengotor berupa tiga lapisan tanah liat


50

yang disebut dengan clayband, adapun ketebalan dari lapisan

batubara A1 adalah 7,3 m.

3. Lapisan Interburden A1 – A2

Lapisan ini dicirikan oleh adanya material Tufaan berwarna

putih dan abu-abu. Secara keseluruhan lapisan ini memperlihatkan

adanya struktur graded bedding dengan batu pasir konglomerat pada

bagian dasar, batu lanau, dan batu lempung.

4. Lapisan Batubara A2

Lapisan Batubara ini memiliki ketebalan 4,5 m.

5. Lapisan Interburden A2 – B

Lapisan ini dicirikan dengan batu lempung, serta sisipan batu pasir.

6. Lapisan Batubara B1

Lapisan Batubara ini memiliki ketebalan 12,7 m dan terdapat sisipan

batu lempung.

7. Lapisan Interburden B1 – B2

Lapisan ini mengandung batu lempung dan batu lanau yang tipis.

8. Lapisan Batubara B2

Lapisan Batubara ini memiliki ketebalan 4,5 m.

9. Lapisan Interburden B2 – C

Lapisan ini mengandung batu lanau, batu pasir, dan sisipan batu

lanau serta terdapat mineral Glaukonitan.

10. Lapisan Batubara C


51

Sumber : Satuan Kerja Eksplorasi dan Geotek PT. Bukit Asam, Tbk
Gambar 3.5 Litologi Daerah Tambang Muara Tiga Besar Utara
52

Batubara Muara Tiga Besar merupakan bagian dari sumbu siklin

dan antiklin yang menujam kearah barat laut dengan kemiringan lapisan

cukup terjal. Secara umum keadaan stratigrafi Muara Tiga Besar

termasuk dalam formasi Muara Enim karena terdiri atas tiga lapisan

batubara utama yaitu lapisan Mangus, lapisan Suban, dan lapisan Petai

yang tiap-tiap lapisan terdapat lapisan sisipan yaitu lapisan batuan

sedimen berupa batu lempung lanauan sampai pasiran.

1. Lapisan Tanah Penutup (Overburden)

Tanah Penutup terdiri dari endapan sungai tua (pasir dan kerikil),

batu lempung dan lapisan lanau yang silisified, juga terdapat iron

stone nodules serta lapisan gantung (hanging seam). Dapat

dijelaskan bahwa lapisan ini merupakan lapisan yang terdiri dari

tanah liat, bentonite, dan campuran lumpur serta batu pasir halus,

pada bagian ini dapat dijumpai nodul-nodul clay iron stone pada

kedalaman 8 m dengan ketebalan ± 1,35 m. Lapisan ini dicirikan

dengan adanya batu lempung, batu pasir, batu lempung lanauan (Silt

Clay Stone) dan Bentonit. Pada lapisan ini ditemukan juga lapisan

batubara gantung (Hanging Coal) pada kedalaman 8 m dengan

ketebalan ± 1,35m.

2. Lapisan Batubara A1 (Mangus Atas)

Lapisan ini dicirikan dengan adanya lapisan pengotor yang berupa

lempung berwarna keabu-abuan. Ketebalan batubara pada lapisan


53

ini bervariasi antara 6,8 m – 10 m dengan ketebalan rata-rata 8,6

m.

3. Lapisan Interburden A1 – A2

Lapisan ini dicirikan dengan adanya batu pasir tufaan berwarna

putih keabu-abuan sebagian dari hasil aktivitas vulkanik. Lapisan

ini mempunyai ketebalan rata-rata ± 2,9 m.

4. Lapisan Batubara A2 (Mangus Bawah)

Lapisan batubara A2 mempunyai variasi ketebalan antara 9,8 m –

14,75 m dengan ketebalan rata-rata 12,8 m, dimana daerah bagian

Barat mempunyai ketebalan relatif lebih besar dibandingkan

dengan daerah bagian Timur.

5. Lapisan Interburden A2 – B1

Lapisan ini dicirikan dengan batu lanau,dengan ketebalan rata-

rata 16 m dengan sisipan pasor halus. Disini ditemukan adanya

lapisan batubara tipis dikenal dengan nama Suban Marker Seam.

6. Lapisan Batubara B1 (Suban)

Lapisan Batubara ini memiliki ketebalan 17 m. Ketebalan terbesar

terdapat dekat dengan antiklin Muara Tiga, yaitu sekitar 20 m dan

ketebalan terkecil sekitar 10 m.

7. Lapisan Interburden B1 – B2

Lapisan ini mengandung batu lempung dan batu lanau yang tipis.
54

8. Lapisan Batubara B2

9. Lapisan Interburden B2 – C

Lapisan ini dicirikan dengan adanya batu pasir yang mendominasi

dengan ketebalan rata-rata ± 40 m. Material lain yang tersisip

berupa batu pasir lanauan yang berwarna abu – abu.

10. Lapisan Batubara C (Petai)

Lapisan Batubara ini memiliki ketebalan ± 8.9 m dengan sisipan

tipis batu lempung dan dibawahnya terdapat batu lempung dan

batu lanau.

3.2.4 Kualitas, Sumberdaya , dan Cadangan Batubara


Klasifikasi kualitas batubara bertujuan untuk mengetahui variasi

mutu batubara. Klasifikasi kualitas batubara yang dilakukan oleh PT

Bukit Asam Tbk adalah berdasarkan analisa proksimat batubara dan

kalori batubara dengan Mine Brand, Air Laya (AL), Muara Tiga Besar

(MTB), dan Banko Barat (BB) untuk batubara hasil dari penambangan

yang belum mengalami proses pengolahan sedangkan Market Brand,

Bukit Asam (BA) merupakan batubara yang telah mengalami proses

pengolahan sebelumnya di PT Bukit Asam Tbk seperti dilakukannya

blending. Untuk cara pengklasifikasian batubara sesuai dengan merek

dagang PT Bukit Asam Tbk adalah sebagai berikut :


55

Tabel 3.2 Merek Produk Batubara Berdasarkan Kode BA (Market Brand)

Sumber : Satuan Kerja Geologi dan Eksplorasi Rinci PTBA


56

Tabel 3.3 Rentang Kualitas Batubara PT Bukit Asam Tbk dan Sekitarnya

Tabel 3.4 Penggolongan Kualitas Batubara PT Bukit Asam Tbk


57

Tabel 3.5 Konversi Empiris Mine Brand & Market Brand Dari ’ADB’ ke AR

Dari data pengklasifikasian tersebut, batubara PT Bukit Asam Tbk

Unit Penambangan Tanjung Enim (UPTE) secara umum termasuk

dalam kelas sub-bituminous sampai antrasit. Kualitas batubara yang

merupakan produk pasar PT Bukit Asam Tbk terdiri dari 4 jenis produk,

yaitu :

1. BA–45

BA–45 adalah jenis produk batubara kalori rendah yang

mempunyai nilai kalori minimum 4400 – 4600 kkal/kg (adb) yang belum

dilakukan penambangan dan penjualan.


58

2. BA–50

BA–50 adalah jenis produk batubara kategori medium grade

yang mempunyai nilai kalori minimum 4900 – 5100 kkal/kg (adb) yang

digunakan untuk kebutuhan pembangkit listrik.

3. BA–55

BA–55 adalah jenis produk batubara kategori medium grade yang

mempunyai nilai kalori minimum 5400 – 5600 kkal/kg (adb) yang

sebagian besar digunakan untuk kebutuhan industri umum, semen dan

pembangkit listrik.

4. BA–64

BA–64 adalah jenis produk batubara kategori medium grade

yang mempunyai nilai kalori minimum 6300 – 6500 kkal/kg (adb) yang

digunakan untuk industri umum, semen dan listrik.

3.2.5 Morfologi Daerah Penelitian

Secara umum daerah tambang PT. Bukit Asam (PERSERO), Tbk

mempunyai topografi yang bervariasi mulai dari daratan rendah hingga

perbukitan. Dataran rendah menempati sisi bagian selatan, yaitu daerah yang

terdapat aliran sungai – sungai kecil yang bermuara di Sungai Lawai dan

Sungai Lematang dengan ketinggian ± 50 m diatas permukaan laut. Daerah

perbukitan 8 terdapat dibagian Barat dengan elevasi tertinggi ± 282 meter

diatas permukaan laut. Pada kedua daerah ini banyak dijumpai vegetasi yang

sebagian besar merupakan tumbuhan hutan tropika dan semak belukar.


59

3.3 Alat dan Bahan

3.3.1 Alat dan Bahan Pengambilan Data Lapangan

Alat dan Bahan yang digunakan dalam pelaksanaan pengambilan

data Skripsi ini adalah :

 Kamera

 Laptop

 Buku Tulis

 Stopwatch

 Alat Tulis

 Alat Pelindung Diri (APD)

 Kalkulator

 Perlengkapan pendukung lainnya dalam penelitian ini.

3.3.2 Alat dan Bahan Pengolahan Data

Alat dan bahan yang digunakan dalam pengolahan data

penelitian Skripsi ini adalah :

 Laptop

 Kalkulator

 Buku Tulis

 Alat Tulis
60

3.4 Tata Laksana Penelitian


3.4.1 Langkah Kerja
Penelitian dilakukan di PT. Bukit Asam. Penelitian ini dilakukan

mulai tanggal 15 Agustus 2018 – 17 September 2018, untuk lokasi

penelitian adalah PAB Tambang Air Laya

1. Pengambilan sampel Dilapangan

Tahapan awal untuk mendapatkan data yaitu pengambilan sampel

dilapangan. Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel adalah

metode manual dengan menggunakan sekop. Selanjutnya sampel

dimasukkan kedalam plasti 10 kg lalu diikat plastiknya, agar sampel

tersebut masih dalam keadaan fresh ketika sampai kelaboratorium.

Selanjutnya batubara tersebut akan melewati uji laboratorium berupa uji

proksimat, sulfur, dan kalorinya.

2. Pengujian Sampel Dilaboratorium

a. Preparasi Batubara

Pengujian preparasi batubara yang reprensentatif sesuai

dengan persyaratan British Standar (BS) yang diterapkan dan

dilakukan analisis kualitas batubara lebih lanjut berdasarkan

permintaan pelanggan.
61

- Tata Cara Kerja

Kegiatan pengeringan udara,peremukan/reduksi ukuran

dan pembagian contoh batubara sesuai dengan kebutuhan

analisis kualitas batubara.

- Peralatan

1) Mesin Reduksi ukuran butir (Jaw Crusher, H`ammer Mill,

Cross Beather Mill dan Rotary Simple Divider)

2) Pembagi contoh

3) Timbangan analitik

4) Nampan aluminium

5) Ruang pengeringan

6) Cangkir contoh

7) Sekop

8) Rak pengering

9) Plat besi

10) Sikat kawat


62

- Persiapan Pengujian

1) Menghamparkan seluruh sampel batubara diatas lantai yang

bersih dan kondisi ruangan cukup dingin

2) Mengambil ± 10 sampel dengan kondisi yang berbeda

3) Bagi contoh batubara untuk parameter kualitas total moisture

4) Timbang minimal 1 kg contoh batubara dan masukkan dalam

ruangan yang kering dan bersih hingga rata

5) Menimbang contoh dan kering udarakan dalam waktu 5˚C

25˚C

(untuk analisis proksimat, kalori, dan sulfur) dan untuk 30˚C

(untuk mencari nilai FM,dan RM).

6) Menggerus contoh menjadi ukuran 12,5 mm (Jaw Crusher)

7) Sebanyak 1 kg contoh digerus kembali menjadi ukuran 3mm

(2,8mm) dengan menggunakan hammer mill

8) Mengambil contoh sebanyak 100-600gram untuk

dimasukkan kedalam cangkir, siap untuk dianalisis residual

moisture.

9) Contoh dengan berat ± 300gram digiling dengan cross

beather mill untuk mendapatkan ukuran butir 0,212 mm


63

10) Sebanyak 200gram contoh dimasukkan kedalam ruang

pengering pada suhu 24˚C, kelembaban 60%, dan waktu 24 jam.

11) Monitoring kondisi ruangan pengeringan tetap dalam

kondisi yang dipersyaratkan.

b. Pengujian Analisis Total Moisture

Tujuan analisis total moisture adalah untuk menentukan

kandungan air total contoh batubara pada kondisi di

laboratorium

- Tata Cara Kerja

Meliputi kegiatan analisis kadar air akibat pengeringan

udara (free moisture) dan penetapan kadar air residu (Residual

Moisture)

- Peralatan

1) Drying Oven

2) Top Pan Balance (sensifitas 0,1 g)

3) Analytical balance (sensifitas 0,1 g)

4) Tray

5) Desicator

6) Spatula
64

7) Timer

8) Cangkir contoh

- Persiapan Pengujian

1) Penetapan free moisture (FM)

- Menyiapkan contoh batubara untuk analisis total moisture

- Timbang tray kosong dan catat sebagai (m1)

- Timbang sebanyak 1 kg contoh batubara masukkan dalam tray

dan

ratakan, catat sebagai (m2)

- Masukkan contoh batubara dan tray kedalam drying oven pada

temperature 40˚C selama 3 jam

- Timbang contoh batubara dan tray, catat sebagai (m3)

- Hitung kadar free moisture dengan menggunakan rumus

𝑚2−𝑚3
%FM = 𝑚2−𝑚1 x 100%

- Laporkan hasil perhitungan dalam bentuk excel

2) Penetapan Residual Moisture (RM)

- Menyiapkan contoh batubara sesuai standart


65

- Reduksi contoh batubara yang telah dikeringkan menjadi ukuran

<2,8mm

- Timbang dish 6 cm dan tutup, catat sebagai (m1)

- Aduk contoh batubara dalam cangkir hingga merata dan timbang

contoh batubara sebanyak 10gram ke dalam dish dan tutup, catat

sebagai (m2)

- Masukkan dish berisi contoh tanpa tutup ke dalam oven pada

suhu 110˚C yang dialiri gas nitrogen 450cm₃/menit selama 3 jam

- Keluarkan dish dan contoh yang telah dikeringkan, tutup dengan

dish cover dan masukkan kedalam desikator hingga suhu sama

atau mendekati dengan suhu ruangan

- Timbang dish dan contoh yang telah dikeringkan, catat sebagai

(m3)

- Hitung kadar residual moisture dengan menggunakan rumus

𝑚2−𝑚3
%FM = 𝑚2−𝑚1 x 100%

- Selanjutnya menghitung kadar air total moisture dengan

𝑀𝑓
menggunakan %𝑇𝑀 = 𝑀𝑓 + [𝑀 (1 − 100)]

- Catat dan evaluasi data hasil pengujian


66

c. Pengujian Analisis Proksimat

Pengujian analisis proksimat bertujuan untuk menetapkan

kadar abu, volatile matter, inherent moisture, dan fixed carbon

dalam contoh batubara yang dipreparasi sesuai standar yang

berlaku

- Tata Cara Kerja

Meliputi kegiatan analisis kadar air lembab, zat terbang, kadar abu,

serta perhitungan kadar karbon tertambat.

- Peralatan

1) Minimum Free Space Oven

2) Analitycal Balance

3) Desicator

4) Cawan Silika/platimum

5) Spatula

9) Tongs (Penjempit)

10) Nampan

11) Timer
67

- Persiapan Pengujian

1) Analisis Kadar Air Lembab

- Menyiapkan contoh general analisis sesuai standar BS

- Hidupkan alat minimum Free space oven sampai dengan suhu

105˚-110˚C.

- Timbang ±1 mg contoh kedalam cawan timbang +tutup yang telah

diketahui beratnya kemudian dicatat sebagai bobot (a)

- Masukkan ke dalam oven pengering tanpa tutup dan panaskan

pada suhu 105˚-110˚C yang dialiri gas nitrogen dengan kecepatan

450 cm₃/menit minimal 60 menit

- Keluarkan contoh dari oven pengering setelah proses pemanasan

- Dinginkan dalam desicator hingga mencapai suhu ambien

- Timbang cawan + tutup setelah pemanasan dan dicatat sebagai

bobot (b)

- Menghitung persentase kadar air lembab dengan rumus

𝑤2−𝑤3
%IM = 𝑤2−𝑤1 x 100%

- Rekam hasil analisis kadar air dengan memperhatikan batas

toleransi yang diijinkan

- Catat dan evaluasi data hasil pengujian


68

- Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi

- Penerbitan laporan kualitas kepada pelanggan sesuai dengan tata

laksana laporan pengujian

2) Analisis Kadar Abu

- Menyiapkan contoh general analisis sesuai standar BS

- Hidupkan alat ash furnance suhu 500˚C

- Timbang berat cawan kosong+tutup sebagai (b)

- Timbang ±1 mg contoh batubara ke dalam cawan+tutup sebagai

(c)

- Masukkan ke dalam oven pengering tanpa tutup dan panaskan

pada suhu 500˚C selama 30 menit lalu naikan pada suhu 815˚C

dan biarkan selama 60 menit.

- Keluarkan contoh dari oven pengering setelah proses pemanasan

- Dinginkan dan masukkan dalam desicator selama 15-30 menit

- Timbang contoh residu+cawan+tutup catat sebagai (a)

- Mengitung persentase kadar abu dengan rumus

𝑤3−𝑤4
%𝑎𝑠ℎ = 𝑤2−𝑤1 x 100%
69

- Rekam hasil analisis kadar abu dengan memperhatikan batas

toleransi yang diijinkan

- Catat dan evaluasi data hasil pengujian

- Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi

- Penerbitan laporan kualitas kepada pelanggan sesuai dengan tata

laksana laporan pengujian

3) Analisis Kadar Zat Terbang

- Menyiapkan contoh general analisis sesuai standar BS

- Hidupkan alat volatile matter suhu 900˚C

- Menimbang ±1 mg contoh batubara kedalam cawan

timbang+tutup yang telah diketahui beratnya kemudian tutup

rapat (a)

- Letakkan cawan berisi contoh tersebut pada kaitan kawan

Nichrom

- Panaskan contoh didalam furnance 900˚C selama 7 menit

- Keluarkan contoh dari oven pengering setelah proses pemanasan

- Dinginkan contoh kedalam desikator yang dialiri gas nitrogen

dengan kecepatan 15 volume per hour hingga mencapai suhu

ambien
70

- Timbang cawan dan catat sebagai (b)

- Mengitung persentase kadar zat terbang dengan rumus

𝑤2−𝑤3
%VM = 𝑤2−𝑤1 x 100% - IM

- Rekam hasil analisis kadar zat terbang dengan memperhatikan

batas toleransi yang diijinkan

- Catat dan evaluasi data hasil pengujian

- Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi

- Penerbitan laporan kualitas kepada pelanggan sesuai dengan tata

laksana laporan pengujian

4) Analisis Kadar Tertambat

- Siapkan data analisis parameter (kadar air lembab, kadar abu, dan

kadar zat terbang

- Kadar karbon tertambat dilakukan perhitungan dengan persamaan

sebagai berikut : Kadar FC%= 100-kadar air + kadar abu + zat

terbang

- Catat dan evaluasi data hasil pengujian

- Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi


71

- Penerbitan laporan data kualitas kepada pelanggan sesuai dengan

tata laksana laporan pengujian

d. Pengujian Total Sulfur

Pengujian total sulfur beertujuan untuk menetapkan total sulfur

yang terdapat dalam batubara dan kokas berdasarkan prinsip high

temperature method (pembakaran pada suhu tinggi).

- Tata Cara Kerja

Meliputi kegiatan dengan prosedur yang berbasis instrument dengan

infrared (Metode British Standart)

- Peralatan

1) Determinator S-144DR dan SC632 (Sulfur analyzer)

2) Combustion Tube dari bahan keramik

3) Sample Combustion Boat yang terbuat dari bahan tahan panas dan

bebas kandungan besi

4) Boat puller

5) Tube Furnace

6) Piranti pengolah data (Personal computer)

- Persiapan Pengujian

1) Menyiapkan contoh hasil preparasi GA 212 untuk analisis sulfur


72

2) Pastikan setregulator tekanan gas oksigen pada 35-40Psi

3) Pastikan seluruh cord sumber listrik telah terhubung dengan

instrument dan perangkat computer pada tegangan 220 VAC

4) Aktifkan isntrumen determinator (sulfur analyser) dengan

menggeser saklar power pada posisi on

5) Aktifkan electronic balance dengan menekan tombol power

sampai muncul angka pada layer

6) Aktifkan perangkat computer (termasuk printer) hingga muncul

tampilan desktop

7) Klik ganda icon SC632 pada layar desktop computer untuk

mengaktifkan aplikasi pengujian total sulfur dengan deteminator

8) Lakukan pengecekan pada menu deteminator SC632 dengan

mengklik furnance

9) Pastikan suhu furnance stabil dalam rentang 1350˚C dan cek

pengaturan di control loop

10) Beri tanda cek pada menu configuration lalu klik start

11) Selanjutnya klik login (F3) lalu masukkan “nama sampel” untuk

merekam data penimbangan dan memulai tahapan pengujian

12) Timbang contoh sampel yang akan diuji dengan cara tempatkan

boat (dalam keadaan bersih) keatas pan balance, timbang 0,15


73

sampel yang akan diuji kedalam boat lalu tekan tombol print pada

electronic balance (atau masukkan secara manual) setelah angka

penimbangan dianggap stabil untuk merekam bobot contoh yang

akan diuji

13) Klik F5 determinator SC632 untuk memulai pengujian

14) Tunggu hingga muncul ppesan “load sampel ‘nama sampel’ into

the furnance”, kemudian dorong combustion boat (posisi

combustion boat dengan ujung melengkung mengarah ke

furnance) yang berisi contoh ke dalam furnance hingga

menyentuh boat stop

15) Lama masa pengujian berlangsung 60 detik. Masa pengujian

dinyatakan selesai apabila nilai sulfur pada kolom %sulfur telah

ditampilkan dan pembacaan grafik sulfur telah berhenti.

16) Selanjutnya keluarkan combustion boat

17) Pada saat analisis sulfur yang dideteksi oleh instrument telah

selesai, rekam nilai yang menunjukkan kandungan sulfur yang

ditampilkan secara otomatis pada monitor computer

18) Catat dan evaluasi data hasil analisis total sulfur

19) Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi


74

20) Terbitkan laporan data kualitas kepada pelanggan sesuai dengan

tata laksana penerbitan laporan pengujian.

e. Pengujian Nilai Kalori

Pengujian ini bertujuan untuk menentapkan nilai kalori gross

yang terdapat didalam batubara dan panas yang dihasilkan dai

pembakaran sempurna sautu contoh pada volume tetap dengan

seluruh air yang terbentuk terkondensasikan menjadi cairan

- Tata Cara Kerja

Meliputi kegiatan analisis nilai kalori dengan menggunakan alat

isoperibol bomb calorimeter dengan menggunakan metode BS

- Peralatan

1) Calorimeter

2) Combustion Bomb

3) Stirrer

4) Water jacket

5) Temperature measuring instrument

6) Crucible

7) Ignition circuit

8) Pressure regulator
75

9) Pressure gauge

10) Relief valve

11) Timer

12) Erlenmeyer

13) Timbangan analitik dengan ketelitian 0,0001 gram

- Persiapan Pengujian

1) Siapkan contoh hasil preparasi berukuran 212 untuk Analisa

nilai kalori gross

2) Timbang 0,8-1,2 g contoh batubara, dengan ketelitian 0,0001 g,

tempatkan contoh dalam crucible

3) Bilas bomb vessel dengan aquadest dan tambahkan ± 1 ml

aquadest kedalam bomb vessel sebelum dirangkai

4) Pasang crucible berisi contoh ke sample holder. Rangkai bomb

vessel dan alirkan gas oksigen ke dalam bomb vessel pada

tekanan 2-3 Mpa (20-30 atm)

5) Masukkan bomb vessel ke alat bomb calorimeter. Kemudian

operasikan alat tersebut

6) Rekam selisih temperature pembakaran sebagai ᶿ


76

7) Buka calorimeter, keluarkan bomb vessel, dan bebaskan tekanan

gas sisa pembakaran

8) Bilas bagian dalam bomb vessel dengan aquadest

9) Tamping air sisa pembilasan kedalam Erlenmeyer

10) Titrasi metode BS dengan memanaskan air sisa pembilasan

untuk melepaskan gas karbon dioksida. Titrasi dengan larutan

barium hidroksida (Ba(OH)2) dan indicator phenolphthalein saat

larutan masih panas, catat volume barium hidroksida. Tambahkan

20 ml sodium karbonat (Na2CO3) dan saring larutan saat larutan

hangat

11) Hitung dengan rumus Qn Koreksi Asam = 22,47x %TS+(a x

nilai kalori)

12) Catat dan evaluasi data hasil analisis nilai kalor batubara

13) Data hasil pengujian kualitas contoh akurat dan presisi

14) Penerbitan laporan data kualitas kepada pelanggan sesuai

dengan tata laksana penerbitan laporan pengujian

3. Proses Analisis Sampel

Menganalisa sample yang telah diuji tadi apakah pengaruh

ukuran butir ini berpengaruh terhadap kualitas batubara, dan apakah

pengaruh ini berbeda atau kah sama pada tiap material nya?
77

3.4.2 Metode

Di dalam melaksanakan penelitian permasalahan ini, penulis

menggabungkan antara metode observasi (pengamatan) dan metode

pustaka, sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian

masalah.

1) Metode Pustaka

Metode ini dilakukan dengan studi literatur mengenai

produktivitas alat gali muat, baik berupa data yang diberikan pihak

perusahaan, maupun hasil laporan skripsi / Tugas Akhir yang

terdahulu.

2) Observasi (Pengamatan)

Metode ini dilakukan dengan mengamati kondisi dan

kegiatan di lapangan, kemudian dilakukan pengumpulan data yang

terkait.

3) Metode Analisis Data

Analisis data merupakan kegiatan pencarian solusi dari

permasalahan yang ada berdasarkan data-data yang telah

dikumpulkan.
78

3.4.3 Diagram Alir Penelitian

MULAI

PENGARUH UKURAN BUTIR TERHADAP PARAMETER KUALITAS ASH CONTENT DAN


GROSS CALORIFIC VALUE PADA BATUBARA DI UNIT PENAMBANGAN TANJUNG ENIM
PT. BUKIT ASAM TBKPT. BUKIT ASAM TBK

Rumusan Masalah :
1. Bagaimana cara melakukan analisis ukuran butir batubara dengan menggunakan uji Proximate pada
batubara yg ada di PT.Bukit Asam Tbk.?
2. Bagaimana pengaruh ukuran butir terhadap parameter Ash Content pada analisis kualitas batubara?
3. Bagaimana pengaruh ukuran butir terhadap parameter Gross Calorific Value pada analisis kualitas
batubara?
4. Apa saja hubungan antara nilai Ash Content dengan Gross Calorific value?

STUDI LITERATUR

PENGUMPULAN DATA

Data Primer : Data Sekunder :


1. Pengambilan Sample di Stockpile 1. Data curah hujan.
2. Pengujian Sample di Laboratorium 2. Geologi daerah penelitian.
3. Data Kualitas Batubara Bulan Juli dan Agustus
4. Peta Topografi dan Peta Layout

PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA :


1. Pengambilan Sampel di lapangan, dalam penelitian sedikitnya memerlukan 24 sampel dalam 6 kali percobaan dan menggunakan 6
material yang berbeda, guna mengetahui apakah pengaruh ukuran butiran di tiap kualitas batubara sama atau kah berbeda
2. Melakukan preparasi sampel di mulai dengan menggerus menggunakan jaw crusher hingga cross beater mill, dari 13mm hingga
0,12mm
3. Mengikuti kegiatan uji sample kualitas batubara dengan menggunakan uji proximate
4. Menganalisis data ash content dan gross calorific valie dari hasil uji proximate

HASIL DAN PEMBAHASAN

KESIMPULAN DAN SARAN

SELESAI

Gambar 3.6 Diagram Alir Penelitian


79

3.4 Tempat dan Waktu Penelitian

3.4.1 Tempat Penelitian

Adapun tempat pelaksanaan Skripsi ini adalah pada PT. Bukit

Asam Tbk. Tanjung Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara

Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

3.4.2 Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan kegiatan penelitian Skripsi ini adalah selama

dua bulan dimulai pada tanggal 23 Juli – 1 Oktober 2018. Dengan rincian

sebagai berikut :

Tabel 3.6 Rincian Kegiatan Penelitian

Minggu ke-
No. Kegiatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9

Administrasi dan
1.
Orientasi Lapangan

2. Pengumpulan Data

3. Pengolahan Data

Konsultasi dan
4.
Bimbingan

Penyusunan dan
5.
Pengumpulan Draft
Laporan