You are on page 1of 11

ARTIKEL ILMIAH

ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM


PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN
TIPE KEPRIBADIAN DOMINANCE

Oleh:
YOLANDA SARI SEPTEVANI
NIM RSA1C213033

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS JAMBI
SEPTEMBER 2017

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 1


Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 2
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA DALAM
PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN
TIPE KEPRIBADIAN DOMINANCE

Yolanda Sari Septevani1, Roseli Theis2, dan Sri Winarni2


1Mahasiswa Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi
2Dosen Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas Jambi

Email: 1ysseptevani@gmail.com

ABSTRAK

Pada dasarnya, dalam pelajaran matematika perlu adanya kemampuan berpikir kritis
pada siswa. Kemampuan berpikir kritis sangat penting digunakan bagi siswa dalam
menyelesaikan permasalahan-permasalahan matematika yang dihadapi. Siswa dengan tipe
kepribadian dominance selalu mendominasi atau menguasai baik dalam percakapan dan
lingkungan mereka. Tipe ini memiliki sifat pantang menyerah dan suka menyelesaikan
masalah. Berdasarkan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis
kemampuan berpikir kritis siswa tipe dominance dalam pemecahan masalah matematika pada
materi trigonometri. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang
dilaksanakan di SMA N 1 Kota Jambi. Subjek penelitian ini adalah lima orang tipe
kepribadian dominance di kelas X.2 tahun ajaran 2016/2017. Instrumen penelitian ini terdiri
dari lembar tes kepribadian DISC, lembar soal pemecahan masalah materi trigonometri dan
pedoman wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pada penelitian ini gambaran
kemampuan berpikir kritis dalam pemecahan masalah materi trigonometri pada siswa bertipe
kepribadian dominance yaitu 75% memenuhi indikator interpretasi dengan kategori tinggi,
60% memenuhi indikator analisis dengan kategori rendah, 55% memenuhi indikator evaluasi
dengan kategori rendah, dan 20% memenuhi indikator inferensi dengan indikator sangat
rendah. (2) Jenis kesalahan yang paling banyak dilakukan siswa bertipe kepribadian
dominance dalam pemecahan masalah adalah tidak cermat dalam berpikir.

Kata Kunci: berpikir kritis, pemecahan masalah, tipe kepribadian dominance

PENDAHULUAN dapat dibedakan menjadi berpikir kritis dan


Matematika merupakan salah satu berpikir kreatif. Kedua jenis berpikir ini
cabang ilmu pengetahuan yang dipelajari disebut juga sebagai keterampilan berpikir
di sekolah. Mata pelajaran matematika tingkat tinggi (Liliasari dalam Tata,
diberikan kepada siswa mulai dari sekolah 2011:138).
dasar. Hal ini dimaksudkan untuk Menurut Desmita (2014:153)
membekali dan melatih kemampuan pemikiran kritis adalah kemampuan untuk
berfikir mereka. Berpikir adalah proses berpikir secara logis, reflektif, dan
yang dinamis yang dapat dilukiskan produktif yang diaplikasikan dalam
menurut proses atau jalannya (Suryabrata, menilai situasi untuk membuat
2015:55). Kemampuan seseorang untuk pertimbangan dan keputusan yang baik.
dapat berhasil dalam kehidupannya antara Kemampuan berpikir kritis di dalam mata
lain ditentukan oleh keterampilan pelajaran matematika sangat penting tidak
berpikirnya, terutama dalam upaya hanya untuk mencapai tujuan umum
memecahkan masalah-masalah kehidupan pembelajaran matematika, tetapi juga
yang dihadapinya. Keterampilan berpikir untuk menciptakan manusia berkualitas

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 3


yang mampu menciptakan dan menguasai mereka memiliki kekurangan yaitu kurang
teknologi di masa depan (Rifqiyana, teliti.
2015:2). Dalam berpikir kritis, siswa Permasalahan yang ditemukan
dituntut menggunakan strategi kognitif peneliti di SMA Negeri 1 Kota Jambi
tertentu yang tepat untuk menguji melalui wawancara dengan salah satu guru
keandalan gagasan pemecahan masalah matematika kelas X serta pengalaman
dan mengatasi kesalahan atau kekurangan praktek mengajar peneliti, dapat diketahui
(Reber dalam Syah, 2014:118). bahwa masih terdapat banyak siswa yang
Kemampuan berpikir kritis merupakan kesulitan dalam memecahkan masalah
pembekalan yang nantinya akan digunakan matematika, terkhususnya yang berkaitan
dalam penyelesaian suatu permasalahan dengan trigonometri. Materi trigonometri
selalu menggunakan pemecahan masalah menuntut kemampuan berpikir kritis siswa
atau solusi yang berbeda-beda. dalam memahami konsep dengan baik
Pemecahan masalah adalah proses, sehingga siswa mampu mengerjakan dan
cara, perbuatan, mengatasi atau mampu memecahkan permasalahan. Jika
memecahkan masalah yang dapat diartikan terjadi kesalahan dalam memahami dan
sebagai hal yang mengundang keraguan, langkah-langkah penyelesaiannya, maka
ketidakpastian atau kesulitan yang harus hasil yang didapat tidak sesuai dan siswa
diatasi dan diselesaikan, yang biasanya harus menelurusi kembali proses yang
terjadi di lapangan (Hamiyah&Jauhar, telah dijalankan untuk menemukan letak
2014:115). Proses berpikir kritis kesalahannya.
diperlukan dalam memecahkan masalah Pada kenyataannya, dalam
matematika. Kemampuan berpikir kritis wawancara dengan salah satu guru bidang
siswa berbeda-beda pula dengan studi matematika yang mengajar di kelas X
kepribadian yang dimilikinya. Kepribadian SMA Negeri 1 Kota Jambi diketahui
merupakan kualitas prilaku individu yang bahwa separuh siswa mengalami kesulitan
tampak dalam melakukan penyesuaian dalam memecahkan masalah matematika
dirinya terhadap lingkungan secara unik khususnya trigonometri. Ini terlihat pada
(Makmun dalam Yusuf, 2014:127). Demi data hasil ulangan, hampir sebagian siswa
suksesnya usaha pendidikan, kepribadian tidak mencapai nilai ketuntasan minimum
siswa harus dikenal oleh pendidik. dan harus melakukan remedial. Maka dari
Pendidik perlu mengenal bagaimana itu, masalah matematika yang hendak
struktur kepribadian anak didiknya dimunculkan oleh peneliti adalah masalah
(Suryabrata, 2015:6). matematika yang berkaitan dengan materi
Salah satu tipe kepribadian siswa trigonometri di kelas X SMA Negeri 1
adalah dominance. Tipe dominance ini Kota Jambi, yang mana dalam
bersifat menguasai, baik dalam meyelesaikannya membutuhkan langkah-
percakapan, tugas, pengambilan keputusan langkah yang tepat untuk mendapatkan
dan segalanya. Cenderung menyukai suatu hasilnya serta membutuhkan kemampuan
tantangan, suka bekerja keras dan tidak berpikir kritis dalam memecahkan masalah
mudah putus asa, serta cocok untuk trigonometri tersebut.
menjadi seorang leader atau seorang Berdasarkan uraian diatas, maka
pemimpin. Hal ini diungkapkan oleh Shin peneliti tertarik untuk melakukan
sebagaimana dikutip dalam Amberto penelitian dengan judul: “Analisis
(2014:4). Dari ciri-ciri kepribadian Kemampuan Berpikir Kritis Siswa dalam
dominance itu, maka peneliti tertarik untuk Pemecahan Masalah Matematika dengan
melakukan penelitian pada siswa dengan Tipe Kepribadian Dominance”.
tipe kepribadian tersebut karena mereka
suka menyelesaikan masalah namun

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 3


KAJIAN PUSTAKA dan keterampilan perlu adanya
Desmita (2014:153) pemikiran kritis kemampuan untuk terampil membaca dan
adalah kemampuan untuk berpikir secara membuat pernyataan yang benar; dapat
logis, reflektif, dan produktif yang menimbulkan jawaban yang asli, baru,
diaplikasikan dalam menilai situasi untuk khas, beranekaragam, dan dapat
membuat pertimbangan dan keputusan menambah pengetahuan baru; dapat
yang baik. Indikator berpikir kritis menurut meningkatkan aplikasi dari ilmu
Facione (1994) dalam Karim (2015) yaitu: pengetahuan yang sudah diperolehnya;
1. Interpretasi, menginterpretasi adalah mengajak siswa agar memiliki prosedur
memahami dan mengekpresikan makna pemecahan masalah; merupakan kegiatan
atau signifikansi dari berbagai macam yang penting bagi siswa yang melibatkan
pengalaman, situasi, data, kejadian, bukan saja satu bidang studi tetapi bidang
penilaian, kebiasaan, atau adat, atau pelajaran lain.
kepercayaan, aturan-aturan, prosedur Menurut Hamiyah & Jauhar
atau kriteria. (2014:127) cara ilmiah untuk memecahkan
2. Analisis, analisis adalah mengidetifikasi masalah pada umumnya mengikuti
hubungan-hubungan inferensial yang langkah-langkah berikut:
dimaksud dan aktual diantara 1. Memahami masalah, masalah yang
pernyataan-pernyataan, konsep-konsep, dihadapi harus dirumuskan, dibatasi
deskripsi-deskripsi atau bentuk-bentuk dengan teliti. Bila tidak, usahanya
representasi lainnya yang dimaksudkan akan sia-sia.
untuk mengekspresikan kepercayaan- 2. Mengumpulkan data, kalau masalah
kepercayaan, penilaian, pengalaman- sudah jelas, data/informasi/keterangan
pengalaman, alasan-alasan, informasi yang diperlukan dapat dikumpulkan.
atau opini-opini. 3. Merumuskan hipotesis, jawaban
3. Evaluasi, evaluasi berarti menaksir sementara yang mungkin bisa
kredibilitas pernyataan-pernyataan atau memberi penyelesaian dan keterangan
representasi yang merupakan laporan yang diperoleh, bisa jadi menimbulkan
atau deskripsi dari persepsi, suatu kemungkinan yang memberi
pengalaman, situasi, penilaian, harapan yang akan membawa pada
kepercayaan, atau opini seseorang. pemecahan masalah.
4. Inferensi, inferensi berarti 4. Menilai hipotesis, dengan jalan
mengidentifikasi dan memperoleh berpikir, dapat diperkirakan akibat-
unsur-unsur yang diperlukan untuk akibat suatu hipotesis.
membuat kesimpulan yang masuk akal, 5. Mengadakan eksperimen/menguji
membuat dugaan dan hipotesis, hipotesis.
mempertimbangkan informasi yang 6. Menyimpulkan.
relevan dan menyimpulkan konsekuensi Dari bermacam-macam kepribadian
dari data, situasi, pertanyaan atau yang dimiliki oleh manusia, para ahli
bentuk representasi lainnya. mengelompokkan macam-macam
Dalam pembelajaran matematika, kepribadian manusia tersebut menjadi
siswa perlu diperkenalkan dengan masalah empat besar tipe kepribadian manusia
dan cara pemecahannya. Ruseffendi dalam yang lazim dikenal sebagai DISC. Dalam
Hamiyah & Jauhar (2014:120) dunia modern, istilah DISC pertama kali
mengemukakan bahwa suatu soal ditemukan dan diperkenalkan oleh
merupakan soal pemecahan masalah jika William Marston (1947-1983). DISC
dapat menimbulkan keingintahuan dan merupakan akronim dari Dominance,
adanya motivasi, menumbuhkan sifat Influence, Steadiness, dan Compliance.
kreatif; disamping memiliki pengetahuan Orang dengan tipe dominance akan

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 4


bersifat tegas dan langsung, independent sumber lainnya saat diperlukan untuk
dan ambisius. Dalam pemecahan masalah, memahami masalah, tidak secara aktif
tipe dominance melakukan pendekatan mengkontruksi ide atau gagasan diatas
yang aktif dan cepat menyelesaikan kertas (bila coret-coretan diatas kertas
masalah, sangat menyukai tantangan dan dapat membantu memahami
persaingan, orang yang berkemauan keras, masalahnya).
dan mengingingkan segala sesuatu sesuai 4. Kekuranggigihan
dengan kemauan mereka Akan tetapi Salah satu penghambat siswa dalam
sering melewatkan detail, kurang pemecahan masalah adalah kurang
berkomitmen, dan sering tidak gigih seperti tidak percaya diri atau
mempedulikan penilai dan perasaan orang menganggap mudah masalah, memilih
lain. jawaban berdasarkan intuisi belaka
Kesalahan yang sering terjadi (menggunakan perasaan dalam
dalam memecahkan permasalahan mencoba menebak jawaban),
menurut Whimbey (2013:18-20) adalah: menyelesaikan masalah hanya secara
1. Ketidakcermatan dalam membaca teknis belaka tanpa pemikiran, berpikir
Biasanya dilakukan siswa dalam nalar hanya pada bagian kecil
beberapa prilaku seperti membaca soal masalah, menyerah, lalu melompat
tanpa perhatian yang kuat pada pada kesimpulan, menggunakan
makna/pengertiannya, mengabaikan pendekatan “sekali tembak” dalam
satu atau lebih kata yang kurang menyelesaikan masalah, dan bila tidak
familir, mengabaikan satu atau lebih berhasil lalu menyerah.
fakta atau ide, tidak membaca kembali
bagian yang sulit, memulai METODE PENELITIAN
menyelesaikan soal sebelum membaca Penelitian ini termasuk jenis peneli-
lengkap soal tersebut. tian kualitatif deskriptif dengan subjeknya
2. Ketidakcermatan dalam berpikir adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Kota
Biasanya dilakukan siswa dalam Jambi yang memiliki tipe kepribadian
beberapa prilaku seperti mengabaikan dominance. Menurut Moleong (2014:6)
akurasi, mengabaikan kecermatan bahwa penelitian kualitatif adalah
penggunaan beberapa operasi, penelitian yang bermaksud untuk
mengartikan kata atau melakukan memahami fenomena tentang apa yang
operasi secara tidak konsisten, tidak dialami oleh subjek penelitian misalnya
memeriksa rumus atau prosedur saat prilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan
merasa ada yang tidak benar, bekerja lain-lain secara holistik dan dengan cara
terlalu cepat, mengambil kesimpulan deskripsi dalam bentuk kata-kata dan
dipertengahan jalan tanpa pemikiran bahasa pada suatu konteks khusus yang
yang matang. alamiah dan dengan memanfaatkan
3. Kelemahan dalam analisis masalah berbagai metode alamiah. Menurut
Biasanya disebabkan oleh beberapa Sukmadinata (2013:72) penelitian
hal seperti gagal membedah masalah deskriptif adalah suatu bentuk penelitian
kompleks menjadi bagian-bagian atau yang paling dasar. Ditujukan untuk
gagal menggunakan bagian-bagian mendeskripsikan atau menggambarkan
masalah untuk memahami masalah fenomena-fenomena yang ada, baik
secara keseluruhan, tidak fenomena yang bersifat alamiah ataupun
menggunakan pengetahuan atau rekayasa manusia. Penelitian ini mengkaji
konsep utama untuk mencoba bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan,
memahami ide-ide yang kurang jelas, hubungan, kesamaan dan perbedaannya
tidak menggunakan kamus atau dengan fenomena lain. Prosedur penelitian

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 5


yang dilaksanakan dalam penelitian ini me- tersebut telah valid dan reliabel karena
ngacu pada tahap atau prosedur penelitian sudah mengalami sejumlah pengujian.
menurut Moleong (2014:127). Tahap Instrumen lembar soal pemecahan
penelitian tersebut meliputi: (1) tahap pra- masalah matematika disusun dalam bentuk
lapangan, (2) tahap pekerjaan lapangan, soal uraian yaitu pada materi trigonometri
dan (3) tahap analisis data. yang terdiri dari dua soal dan untuk
Pada penelitian ini, kegiatan yang mengukur keshahihan dan kevalidan
akan dilaksanakan adalah melakukan tes instrumen soal tes, maka peneliti
pemilihan subjek dengan memberikan tes melakukan validasi terhadap instrumen
kepribadian DISC kepada siswa sehingga soal tersebut. Pada lembar validasi,
diperoleh siswa tipe kepribadian terdapat tiga kriteria yang dinilai oleh vali-
dominance kemudian memberikan lembar dator yang meliputi penilaian terhadap
soal pemecahan masalah materi konstruksi soal, penilaian terhadap
trigonometri yang telah divalidasi kepada penggunaan bahasa, dan juga penilaian
subjek penelitian. Kemudian setelah terhadap materi. Dimana masing-masing
mendapatkan data hasil tes lembar soal kriteria terdiri atas sub-sub kriteria, dan un-
matematika maka selanjutnya yaitu tuk setiap sub kriteria penilaian ini diberi
melakukan wawancara dengan memberi- skala penilaian yang kemudian dituangkan
kan beberapa pertanyaan berkaitan dengan dalam bentuk penilaian berupa pernyataan
jawaban tertulis yang telah dikerjakan oleh setuju (s), kurang setuju (ks) dan tidak se-
siswa, hal ini merupakan klarifikasi atas tuju (ts).
data jawaban tes tertulis yang telah diker- Lembar soal pemecahan masalah
jakan subjek. Hasil jawaban tertulis dan matematika yang akan digunakan telah
verbal dikaji ketetapannya. Setelah itu pe- divalidasi oleh dua orang ahli
neliti melakukan analisis terhadap seluruh matematika/pendidikan matematika dan sa-
data yang berhasil dikumpulkan. tu orang guru matematika SMA. Hasil pe-
nilaian dari dosen serta guru matematika
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHA- terhadap validasi instrumen lembar soal
SAN matematika adalah instrumen tersebut la-
Dalam penelitian, instrumen yang yak digunakan sebagai instrumen peneliti-
digunakan yaitu instrumen tes kepribadian an, namun dengan beberapa perbaikan, di-
DISC, lembar soal pemecahan masalah antaranya adalah memperbaiki pertanyaan-
matematika untuk mengungkapkan pertanyaan atau kata tanya yang digunakan
kemampuan berpikir kritis dan jenis sehingga tidak menimbulkan makna yang
kesalahan siswa dalam menyelesaikan ambigu sehingga peneliti memperbaiki ins-
masalah pada materi trigonometri, serta trumen lembar soal pemecahan masalah
instrumen pedoman wawancara berupa matematika yang akan digunakan.
pertanyaan untuk menyelidiki kemampuan Setelah seluruh instrumen peneli-
berpikir kritis dan jenis kesalahan siswa tian tersebut direvisi, maka instrumen ter-
pada saat menyelesaikan masalah yang sebut digunakan peneliti dalam melakukan
diberikan dengan menerapkan pe- penelitian di kelas X.2 SMA N 1 Kota
ngetahuan yang telah dimiliki siswa dalam Jambi. Dari tes kepribadian DISC didapat
menyelesaikan masalah matematika. 5 orang siswa yang bertipe kepribadian
Instrumen tes kepribadian DISC dominance. Setelah didapat 5 orang subjek,
merupakan tes kepribadian yang terdiri maka diberikan lembar pemecahan
dari 28 kelompok pernyataan. Pada masalah matematika dan diwawancarai.
instrumen tes kepribadian DISC tersebut Berdasarkan hasil penelitian, baik
tidak dilakukan proses validasi, instrumen melalui hasil jawaban tertulis maupun ha-
sil wawancara, kelima subjek penelitian

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 6


menunjukkan hasil yang tidak begitu model matematika dari masalah yang
berbeda seperti yang terlihat pada hasil pe- diberikan. Namun model yang
nelitian. Dalam menyelesaikan soal yang digambarkan oleh subjek kurang tepat
diberikan, rata-rata subjek tampak serius sehingga berpengaruh saat melakukan
dan fokus menyelesaikan soal namun tahapan selanjutnya yaitu mengevaluasi.
sesekali terlihat bingung dalam Pada tahap evaluasi ini, subjek seharusnya
mengerjakannya. Subjek dapat mampu menggunakan strategi yang tepat
menyelesaikan dua soal pemecahan dalam menyelesaikan soal. Tetapi SD1
masalah yang diberikan dalam waktu 15 – masih terkategori rendah pada tahap ini
20 menit. Setelah dilakukan penelitian dan karena menggunakan strategi yang tidak
pengolahan data, maka didapatkan tepat dalam menyelesaikan masalah yang
kemampuan berpikir kritis dengan subjek diberikan. Kemudian pada tahap terakhir
tipe kepribadian dominance dalam yaitu menginferensi SD1 terkategori sangat
memecahkan masalah matematika. rendah karena tidak membuat kesimpulan
Berdasakan hasil penelitian terhadap hasil dari masalah yang telah dikerjakan. Dapat
pekerjaan subjek dalam menyelesaikan disimpulkan SD1 mampu memenuhi
lembar soal pemecahan masalah tahapan interpretasi dan analisis dalam
matematika yang telah diberikan oleh berpikir kritis.
peneliti dalam penelitian ini membuktikan Berdasarkan analisis hasil
bahwa kemampuan berpikir kritis siswa penelitian dan wawancara, subjek SD2
tipe kepribadian dominance pada materi terkategori sangat tinggi dalam
trigonometri masih rendah. Persentase tiap kemampuan berpikir kritisnya. Pada tahap
indikator berpikir kritis kelima subjek juga pertama yaitu menginterpretasi, SD2
berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi terkategori sangat tinggi karena mampu
oleh persentase kepribadian subjek yang memahami masalah pada soal yang
berbeda-beda pula yang diperoleh dari diberikan peneliti dibuktikan dengan
hasil tes kepribadian, ini menunjukkan subjek dapat menuliskan dengan tepat dan
bahwa kelima subjek tersebut tidaklah lengkap yang diketahui dan ditanyakan
seutuhnya sama. Hal tersebut dapat dilihat pada soal yang diberikan. Pada tahap
melalui data-data hasil penelitian yang kedua yaitu menganalisis, SD2 terkategori
telah dikumpulkan oleh peneliti. Dimulai sangat tinggi karena mampu membuat
dari pemberian soal pemecahan masalah model matematika dari masalah yang
sampai dengan melakukan wawancara. diberikan dan memberi penjelesan dengan
Dari penyelesaian lembar soal matematika tepat. Selanjutnya tahap ketiga yaitu
berupa pemecahan masalah pada materi evaluasi. Pada tahap evaluasi ini, subjek
trigonometri dan wawancara akan mampu menggunakan strategi yang tepat
diketahui dan dideskripsikan terkait dalam menyelesaikan soal. SD2 terkategori
kemampuan berpikir kritis berdasarkan sangat tinggi pada tahap ini karena
indikator berpikir kritis siswa tipe menggunakan strategi yang tepat dan
kepribadian dominance. lengkap serta melakukan perhitungan yang
Berdasarkan analisis hasil benar dalam menyelesaikan masalah yang
penelitian dan wawancara, subjek SD1 diberikan. Kemudian pada tahap terakhir
terkategori rendah dalam kemampuan yaitu menginferensi SD2 terkategori sangat
berpikir kritisnya. Pada tahap pertama tinggi karena subjek membuat kesimpulan
yaitu menginterpretasi, SD1 terkategori dari masalah yang telah dikerjakan dengan
tinggi karena mampu memahami masalah tepat. Dapat disimpulkan SD2 mampu
pada soal yang diberikan peneliti. Pada memenuhi semua tahapan berpikir kritis
tahap kedua yaitu menganalisis, SD1 yaitu tahapan interpretasi, analisis,
terkategori tinggi karena mampu membuat evaluasi, dan inferensi.

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 7


Berdasarkan analisis hasil model matematika dari masalah yang
penelitian dan wawancara, subjek SD3 diberikan. Namun model yang
terkategori sangat rendah dalam digambarkan oleh subjek ada kesalahan
kemampuan berpikir kritisnya. Pada tahap dalam penjelasan dan itu berpengaruh saat
pertama yaitu menginterpretasi, SD3 melakukan tahapan selanjutnya yaitu
terkategori sedang karena subjek kurang mengevaluasi. Pada tahap evaluasi ini,
mampu memahami masalah pada soal yang subjek seharusnya mampu menggunakan
diberikan peneliti. Dibuktikan dari subjek strategi yang tepat dalam menyelesaikan
kurang tepat dan kurang lengkap dalam soal. SD4 terkategori tinggi pada tahap ini
menuliskan yang diketahui dari soal yang karena menggunakan strategi yang tepat
diberikan. Pada tahap kedua yaitu dalam menyelesaikan masalah yang
menganalisis, SD3 terkategori sangat diberikan pada soal yang pertama, namun
rendah karena subjek belum mampu pada soal kedua karena subjek salah
membuat model matematika dari masalah membuat model matematika sehingga hasil
yang diberikan dengan benar. Ini dapat yang ditemukan tidak sesuai dengan
dikarenakan subjek kurang mampu dalam konteks masalah yang diberikan.
memahami masalah yang diberikan Kemudian pada tahap terakhir yaitu
sehingga model matematika yang menginferensi SD4 terkategori sangat
digambarkan oleh subjek kurang tepat dan rendah karena tidak membuat kesimpulan
itu berpengaruh saat melakukan tahapan dari masalah yang telah dikerjakan. Dapat
selanjutnya yaitu mengevaluasi. Pada tahap disimpulkan SD4 mampu memenuhi
evaluasi ini, subjek seharusnya mampu tahapan interpretasi, analisis, dan evaluasi
menggunakan strategi yang tepat dalam dalam berpikir kritis.
menyelesaikan soal. Tetapi SD3 masih Berdasarkan analisis hasil
terkategori sangat rendah pada tahap ini penelitian dan wawancara, subjek SD5
karena menggunakan strategi yang tidak terkategori sangat rendah dalam
tepat dalam menyelesaikan masalah yang kemampuan berpikir kritisnya. Pada tahap
diberikan dan tidak mendapatkan hasil pertama yaitu menginterpretasi, SD5
yang benar. Kemudian pada tahap terakhir terkategori rendah karena subjek belum
yaitu menginferensi SD3 terkategori sangat mampu memahami masalah pada soal yang
rendah karena tidak membuat kesimpulan diberikan peneliti. Dibuktikan dari
dari masalah yang telah dikerjakan. Dapat kesalahan subjek dalam menuliskan yang
disimpulkan SD3 belum mampu diketahui dari soal. Pada tahap kedua yaitu
memenuhi keempat tahapan kemampuan menganalisis, SD5 terkategori sangat
berpikir kritis. rendah karena subjek belum mampu
Berdasarkan analisis hasil membuat model matematika dari masalah
penelitian dan wawancara, subjek SD4 yang diberikan. Hal ini dikarenakan subjek
terkategori tinggi dalam kemampuan kurang memahami masalah dari kedua
berpikir kritisnya. Pada tahap pertama masalah yang diberikan sehingga subjek
yaitu menginterpretasi, SD4 terkategori tidak tepat dalam membuat model
tinggi karena mampu memahami masalah matematika dan ini berpengaruh pada
pada soal yang diberikan peneliti. Hal ini tahap selanjutnya yaitu evaluasi. Pada
dibuktikan dari subjek dapat menuliskan tahap evaluasi ini, subjek seharusnya
yang diketahui dan ditanyakan dengan mampu menggunakan strategi yang tepat
tepat dan lengkap pada soal nomor satu. dalam menyelesaikan soal. Tetapi SD5
Namun pada soal kedua subjek tidak tepat masih terkategori sangat rendah pada tahap
dalam menuliskan yang diketahui. Pada ini karena menggunakan strategi yang
tahap kedua yaitu menganalisis, SD4 tidak tepat dalam menyelesaikan masalah
terkategori tinggi karena mampu membuat yang diberikan. Kemudian pada tahap

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 8


terakhir yaitu menginferensi SD5 cenderung menggunakan intuisi, hanya
terkategori sangat rendah karena tidak mencoba menebak jawaban. SD3 juga
membuat kesimpulan dari masalah yang kurang cermat dalam berpikir. Hal ini
telah dikerjakan. Dapat disimpulkan SD5 dikarenakan subjek tidak memeriksa
belum mampu memenuhi keempat tahapan kembali hasil jawabannya dan bekerja
keammpuan berpikir kritis. terlalu cepat. SD3 merupakan subjek yang
Dalam hasil penelitian berupa hasil paling cepat dalam menyelesaikan soal,
jawaban subjek dan wawancara diketahui namun menghasilkan hasil yang tidak
bahwa SD1 memenuhi dua indikator benar.
kemampuan berpikir kritis yaitu Dalam hasil penelitian berupa hasil
menginterpretasi dan menganalisis. Namun jawaban subjek dan wawancara diketahui
terkategori rendah pada indikator evaluasi bahwa SD4 cukup tinggi pada indikator
dan inferensi. Hal ini dapat dikarenakan interpretasi, analisis, dan kategori sedang
subjek kurang teliti membaca soal yang pada indikator evaluasi serta masih rendah
diberikan sehingga salah mengartikan yang pada indikator berpikir kritis yaitu
diketahui dari soal. Hal ini mengakibatkan inferensi. Hal ini dikarenakan subjek
subjek salah dalam menyelesaikan soal. lemah dalam analisis masalah. Subjek
Subjek juga tidak cermat berpikir hal ini kurang memahami masalah secara
dibuktikan dari jawaban subjek pada soal keseluruhan. Dapat dilihat dari hasil
nomor 2 yang menggunakan rumus dengan jawaban subjek yang tidak tepat dalam
tidak tepat. Subjek juga lemah dalam memecahkan masalah yang diberikan.
menganalisis masalah yang diberikan Dalam hasil penelitian berupa hasil
sehingga mempengaruhi hasil jawaban. jawaban subjek dan wawancara diketahui
Dalam hasil penelitian, diketahui bahwa SD5 masih rendah kemampuan
bahwa SD2 termasuk tinggi pada berpikir kritisnya hal ini dapat dilihat dari
kemampuan berpikir kritisnya. Terlihat hasil persentase tiap indikator berpikir
bahwa hampir seluruh indikator berpikir kritis yang masih rendah. Hal ini
kritis mencapai 100%. Dalam dikarenakan ketidakcermatan subjek dalam
menyelesaikan soal pemecahan masalah berpikir. Subjek kurang cermat dalam
yang diberikan tidak ditemukan kesalahan. penggunaan rumus yang tepat dalam
Hanya saja SD2 kurang tepat dalam menyelesaikan soal. Subjek juga lemah
menuliskan yang diketahui dari soal dalam analisis masalah, subjek kurang
tersebut. Hal ini dapat dikarenakan memahami masalah secara keseluruhan.
ketidakcermatan subjek dalam membaca. Dari penjelasan tersebut, terlihat
Dari hasil wawancara, subjek mengatakan kesalahan yang paling banyak dilakukan
hanya sekali membaca soal yang diberikan. subjek penelitian dalam pemecahan
Sehingga SD2 mengabaikan dalam masalah adalah tidak cermat dalam
menuliskan yang diketahui dari soal. berpikir.
Dalam hasil penelitian berupa hasil
jawaban subjek dan wawancara diketahui DAFTAR PUSTAKA
bahwa SD3 masih rendah kemampuan Amberto, 2014. Analisis Aktivitas Belajar
berpikir kritisnya hal ini dapat dilihat dari Siswa Tipe Kepribadian
hasil persentase tiap indikator berpikir Dominance dalam Memecahkan
kritis yang masih rendah. Hal ini Masalah Matematika: Skripsi,
dikarenakan subjek kurang gigih dalam Jurusan Pendidikan Matematika
menyelesaikan masalah yang diberikan. dan Ilmu Pengetahuan Alam, FKIP
Hal ini dibuktikan dari wawancara Universitas Jambi.
terhadap subjek yang mengatakan bahwa
dalam mengerjakan soal yang diberikan

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 9


Desmita.2014. Psikologi Perkembangan
Peserta Didik. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Hamiyah, N dan Jauhar, M. 2014. Strategi
Belajar-Mengajar di Kelas. Jakarta:
Prestasi Pustakarya.
Karim. 2015. Kemampuan Berpikir Kritis
Siswa dalam Pembelajaran
Matematika dengan Menggunakan
Model Jucama di Sekolah
Menengah Pertama. EDU-MAT
Jurnal Pendidikan Matematika,
(online), Vol. 3 No. 1
(http://ppjp.unlam.ac.id diakses 16
Oktober 2016).
Moleong, Lexy J. 2014. Metodologi
Penelitian Kualitatif. Bandung: PT
Remaja Rosdakarya.
Rifqiyana, L. 2015. Analisis Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa dengan
Pembelajaran Model 4K Materi
Geometri Kelas VIII Ditinjau dari
Gaya Kognitif Siswa: Skripsi,
Jurusan Matematika, FMIPA
Universitas Negeri Semarang.
Sukmadinata, N.S. 2013. Metode
Penelitian Pendidikan. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.
Suryabrata, S. 2015. Psikologi Pendidikan.
Jakarta: Rajawali Pers.
Syah, M. 2014. Psikologi Pendidikan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Tata, 2011. Meningkatkan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Melalui
Pembelajaran dengan Pendekatan
Metakognitif. Prosiding Seminar
Nasional Pendidikan Matematika
STKIP Siliwangi Bandung Vol. 1
ISBN 978-602-19541-0-2
Whimbey, A., et al. 2013. Problem solving
& comprehension. (online),
(http://www.scribd.com/doc/24445
6307/Problem-Solving-
Comprehension diakses tanggal 7
Februari 2017)
Yusuf, S. 2014. Psikologi Perkembangan.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Yolanda Sari S : Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP Universitas Jambi Page 10