You are on page 1of 26

D.1.

Pendekatan

D.1.1. Umum

Metodologi yang disusun di dalam Dokumen Penawaran Teknis,


selanjutnya akan dilakukan penyempurnanan dan elaborasi, agar
semua kegiatan dapat berjalan, sistematis dan efektif. Metodologi yang
dikembangkan menyangkut metodologi makro tahapan penyelesaian
pekerjaan, Penyusunan Standar, Penyusunan Tata Cara Kerjasama
dan Penyusunan Memorandum Of Understanding. Dengan disusunnya
Empat metodologi secara bertingkat ini, diharapkan semua pelaksana
kegiatan dan pihak pemberi tugas, dapat memahami dengan jelas
proses penyelesaian pekerjaan, serta dapat memantau kemajuan
pekerjaan dengan mudah.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-1
D.1.2. Pendekatan Normatif

Pendekatan normatif dalam studi ini menekankan pada kajian


terhadap produk peraturan dan kebijakan baik di tingkat pusat
maupun tingkat daerah yang terkait dengan Penyusunan Standar
Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan.
Pendekatan normatif yang digunakan dalam Penyusunan Standar
Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan ini,
pada dasarnya merupakan pendekatan yang digunakan untuk
merumuskan suatu kebijakan dan strategi berdasarkan data dan
informasi yang tersedia serta mengacu pada produk peraturan dan
perundangan yang terkait dengan substansi Penyusunan pekerjaan
ini, pendekatan normatif ini tidak dipandang sekedar sebagai
pendekatan untuk merumuskan kebijakan yang sifatnya konseptual.
Pendekatan ini dilakukan mulai dari bagaimana kondisi dan
permasalahan penyediaan perumahan sampai dengan perumusan
kebijakan dan strategi yang tepat untuk kondisi dan permasalahan
yang ada. Oleh sebab itu perlu juga dengan membandingkan kondisi
eksisting dengan kriteria dan standar yang ada .

Konsep dasar dari pendekatan normatif adalah bahwa proses


pembangunan kawasan bertumpu pada prosedur/skema tertentu,
dengan memperhatikan seluruh faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi keberhasilan pencapaian atas tujuan yang akan
dicapai. Landasan normatif dalam melaksanakan pekerjaan ini, dapat
dibagi menjadi 2, yaitu landasan normatif yang bersifat umum, yaitu
produk-produk peraturan di tingkat pusat yang berlaku untuk
seluruh wilayah kajian, dan landasan normatif yang bersifat
kewilayahan, yaitu produk-produk peraturan di tingkat daerah yang
hanya berlaku di level wilayah kajian. Berikut ini akan disajikan
produk-produk peraturan dan dokumen rencana yang akan dikaji
dan menjadi acuan dalam Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-2
Adapun langkah-langkah pendekatan normative dalam pekerjaan ini
adalah :
1. Penelaahan Kerangka Acuan Kerja (KAK).
2. Penyusunan rencana kerja dan organisasi pelaksanaan
kegiatan.
3. Penelaahan kebijakan dan dokumen yang terkait dengan
Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka
Penyediaan Perumahan pusat dan daerah.
4. Survey Lapangan.
5. Penelaahan Dokumen terkait dengan Penyusunan Standar Dan
Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan.

Pada dasarnya pendekatan normatif dalam pekerjaan ini akan


digunakan dalam seluruh proses pelaksanaan kegiatan. Pendekatan
normatif dalam proses Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan akan digunakan
dalam setiap kegiatan yang terkait dengan kajian dan analisis
kebijakan dan strategi serta produk-produk peraturan yang
dijadikan acuan standard dan tata cara kerjasama penyediaan
penyediaan perumahan .

D.1.3. Pendekatan Tridaya

Pembangunan dengan pendekatan Tridaya, merupakan upaya


terpadu untuk pengembangan sumber daya manusia melalui upaya
pemberdayaan masyarakat dan lingkungannya secara terpadu dan
mandiri. Upaya ini dilakukan melalui pendekatan langsung pada
pemberdayaan manusianya, Kegiatan ini dipadu dengan upaya lain
yang menghidupkan peran keluarga, masyarakat dan lingkungannya,
dimana manusia selalu dijadikan titik sentral pembangunan.

D.1.4. Pendekatan Partisipatif

Berdasarkan definisi yang dikemukakan oleh Bank Dunia (World


Bank Theory of Participation, 1997), partisipasi merupakan suatu
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-3
proses dimana pihak-pihak terlibat akan saling mempengaruhi dan
bertukar kontrol atas inisiatif pembangunan dan keputusan serta
sumberdaya yang berpengaruh terhadapnya. Selanjutnya pihak-
pihak yang terlibat dalam proses partisipasi tersebut disebut sebagai
stakeholder. Karenanya, pemahaman mengenai partisipasi akan
selalu berkaitan dengan pemahaman mengenai stakeholder,
kepentingan-kepentingannya, serta pelibatannya.

Perencanaan partisipatif di Indonesia didefinisikan sebagai upaya


perencanaan yang dilakukan bersama antara unsur pemerintah dan
masyarakat. Dalam hal ini, peran masyarakat ditekankan pada
penentuan tingkat kebutuhan, skala prioritas, dan alokasi sumber
daya masyarakat. Definisi tersebut selanjutnya dilengkapi dengan
pemahaman dari UNDP, dimana perencanaan partisipatif merupakan
upaya perencanaan yang melibatkan/mengikutsertakan seluruh
stakeholder yang ada. Dalam definisi tersebut, stakeholder selaku
pemeran dapat terdiri dari kelompok pemerintah, swasta, dan
masyarakat umum. Dengan pemahaman tersebut, perencanaan
secara partisipatif sudah tentu melibatkan berbagai komunitas
secara menyeluruh.

Upaya perencanaan partisipatif menghadirkan proses perencanaan


terstruktur yang terdiri dari aspek-aspek :
 kerjasama guna membangun konsensus
 komunikasi kelompok stakeholder yang efektif, serta
 proses implementasi rencana guna mengubah berbagai
ide /pemikiran menjadi kegiatan yang produktif dan
penyelesaiannya yang maksimal.

Dalam pelaksanaan kegiatan Penyusunan Standar Dan Tata Cara


Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan akan dilakukan
serangkaian kegiatan diskusi/seminar dan pengumpulan
data/informasi. Pendekatan perencanaan partisipatif pada intinya

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-4
merupakan usaha penyelesaian persoalan yang menjadi target
pekerjaan secara aktif dengan melakukan pelibatan semua
stakeholder terkait, baik sektoral maupun wilayah di tingkat daerah,
serta para pakar dan pihak lainnya.

Model perencanaan partisipatif dalam pelaksanaan Penyusunan


Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan
Perumahan dilakukan dalam beberapa bentuk kegiatan,
sebagaimana telah diungkapkan dalam pengantar bab di atas, yaitu
diskusi. Model diskusi yang digunakan dalam perencanaan
partisipatif ini adalah focus group discussion (FGD). Stakeholder
yang dimaksud dalam perencanaan partisipatif ini adalah tim
pokjanis dan nara sumber terkait sesuai dengan kebutuhan
pembahasan, baik itu dari pemerintah pusat maupun pemerintah
daerah. Secara terperinci metode FGD akan dijelaskan pada bagian
metodologi pelaksanaan kegiatan.

Pendekatan partisipasi stakeholder yang digunakan untuk


penyelesaian kegiatan ini bukan sekedar mengajak para stakeholder
tersebut untuk mendengar dan memberi masukan saja. Para
stakeholder juga didorong untuk ingin tahu hingga akhirnya bersedia
untuk terlibat aktif memberikan masukan. Keikutsertaan tersebut
sudah mengarah pada suatu kebutuhan bukan lagi suatu paksaan.

Namun demikian disadari bahwa penggunaan perencanaan


partisipatif akan menimbulkan berbagai persoalan dalam prosesnya,
terutama masalah keterbatasan waktu. Masalah ini akan dicoba
diminimalkan melalui persiapan materi dan pelaksanaan yang
matang, sehingga kesepakatan dapat dengan segera dicapai tanpa
mengurangi kebebasan stakeholders untuk mengeluarkan aspirasi
dan pendapatnya.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-5
D.1.5. Pendekatan Pembangunan Berkelanjutan

Pendekatan pembangunan berkelanjutan merupakan suatu


pendekatan dalam perencanaan yang memandang bahwa
pembangunan bukan merupakan suatu kegiatan yang sesaat
melainkan suatu kegiatan yang berlangsung secara kontinyu dan
tidak pernah berhenti seiring dengan perkembangan jaman.
Pendekatan ini menekankan pada keseimbangan ekosistem, antara
ekosistem buatan dengan ekosistem alamiah. Dalam perencanaan
pembangunan kesesuaian ekologi dan sumber daya alam penting
artinya agar pembangunan yang terjadi tidak terbatas dalam tahun
rencana yang disusun saja.

Pendekatan pembangunan berkelanjutan dalam kegiatan bertujuan


untuk menghasilkan suatu konsep kebijakan dan strategi
pengembangan permukiman dan infrastruktur lingkungan yang
berwawasan lingkungan, namun bukan berarti menjadikan
kepentingan lingkungan sebagai segala-galanya. Dalam pendekatan
ini yang dipentingkan adalah keseimbangan antara pembangunan
lingkungan dan non-lingkungan (ekonomi, sosial, teknologi, dan
sebagainya) sehingga dicapai suatu kondisi pembangunan yang
harmonis. Dalam pendekatan ini ada tiga prinsip dasar yang
dipegang, yaitu (Haughton dan Hunter, 1994) :
 Prinsip persamaan antar generasi, yaitu pengaruh pada
kemampuan generasi yang akan datang untuk memenuhi
kebutuhan dan aspirasi mereka harus dipertimbangkan.
Prinsip ini dikenal juga sebagai principle of futurity.
 Prinsip keadilan sosial, yaitu keberlanjutan mensyaratkan
bahwa pengontrolan keseluruhan distribusi sumber daya
harus merata.
 Prinsip tanggungjawab transfontier, yaitu bahwa dampak dari
aktivitas manusia seharusnya tidak melibatkan suatu
pemindahan geografis yang tidak seimbang dari masalah
lingkungan. Dalam prinsip ini terdapat perlindungan terhadap

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-6
kualitas dari lingkungan.

Dalam pendekatan pembangunan berkelanjutan ini terkait juga


dengan penciptaan keberlanjutan masyarakat/komunitas
(sustainable communities) tempat dimana suatu komunitas ingin
tinggal dan bekerja pada masa sekarang dan masa yang akan
datang. Konsep pembangunan berkelanjutan akan dapat terus
berlanjut jika terdapat masyarakat yang terus berlanjut pula. Dalam
sustainable communities, masyarakat menciptakan suatu komunitas
seperti yang dikehendaki oleh masyarakat sehingga dapat tercipta
suatu keberlanjutan dalam komunitas tersebut. Sustainable
communities ini akan dapat dikembangkan dimana banyak ”pemain”
dalam peran yang berbeda-beda dan dengan ketertarikan dan nilai
yang berbeda dalam suatu aliran informasi yang berharga dan
mereka memiliki kesempatan untuk bergabung dalam suatu proses
pembelajaran dan respon inovatif terhadap perubahan lingkungan
dan perubahan lainnya (Innes dan Booher, 2000).

D.1.6. Pendekatan Subtansif

Pendekatan teknis akademis dilakukan untuk mengkaji baik secara


teknis substansif pekerjaan maupun desain visual dari produk yang
akan dihasilkan. Pendekatan ini pun akan ditunjang dengan teknik
penulisan efisien yang disesuaikan dengan kaidah penulisan ilmiah
maupun desain penulisan serta sampul yang lebih komunikatif agar
produk akhir pekerjaan menjadi sebuah buku yang dapat
dimanfaatkan oleh publik.

Untuk mendapatkan hasil sesuai dengan keluaran yang telah


ditetapkan dalam kerangka acuan, maka perlu dilakukan beberapa
langkah kajian yaitu:
1. Mengumpulkan data sekunder terkait kondisi perumahan
nasional, regional pulau, dan bebrapa kawasan strategis di tiap
pulau.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-7
2. Melakukan kajian awal dari data sekunder untuk merumuskan
gambaran tingkat standarisasi dan tata cara kerjasama
penyediaan perumahan
3. Melakukan survey lapangan untuk pengambilan data primer
dan pengumpulan data sekunder tambahan
4. Merumuskan parameter perhitungan fasilitas hunian, jalan dan
jembatan, jaringan sumber daya air, dan infrastruktur
permukiman pada suatu kawasan dan dengan penduduk
tertentu
5. Merumuskan parameter perhitungan standarisasi
6. Menyusun mekanisme awal kerjasama penyediaan perumahan
7. Mengidentifikasi gambaran indeks ketersediaan perumahan
8. Melakukan identifikasi tingkat keterpaduan lembaga penyedia
perumahan dengan lainnya (sektor lain dan daerah)
9. Merumuskan rekomendasi langkah-langkah akselerasi
pemenuhan pembangunan perumahan yang lebih menyeluruh.

Secara keseluruhan kerangka pemikiran kegiatan Penyusunan


Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan
Perumahan, adalah sebagai berikut :

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-8
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-9
D.2. Metodologi
Pada bagian ini akan diuraikan mengenai komponen komponen
kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tahapan pelaksanaan
pekerjaan. Pada kegiatan Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan terdiri dari
beberapa tahapan seperti berikut:

D.2.1. Sistematika Pengumpulan Data


Pengumpulan data dan dokumen yang diperlukan dilakukan melalui
koordinasi dengan berbagai sumber informasi terkait dengan
pengembangan datawarehouse. Pengumpulan data yang dibutuhkan
(tahap analisa) akan dilakukan dengan cara:
 Konsultan melakukan komunikasi dengan sumber informasi
terkait.
 Konsultan melakukan inventarisir data yang dimiliki oleh user.
 Konsultan mempelajari dokumen KAK, SOP, struktur organisasi,
dokumentasi (aplikasi,blue print) , formulir, aplikasi database
dan laporan yang harus dihasilkan.
 Melakukan assesment solusi sejenis kelas nasional & dunia
yang telah berhasil, untuk dijadikan model dan referensi.
 Melakukan wawancara.
 Pengumpulan data akan dilakukan dari berbagai sumber
informasi terkait.

D.2.2. Mekanisme Analisis


Kegiatan analisis dalam rangka Penyusunan Standar Dan
Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan
setidaknya meliputi:
1. Mengumpulkan data sekunder terkait kondisi Perumahan
dan kesenjangan infrastruktur nasional, regional pulau, dan
bebrapa kawasan strategis di tiap pulau.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-10
2. Melakukan kajian awal dari data sekunder untuk
merumuskan gambaran tingkat pengembangan lingkungan
fisik wilayah
3. Melakukan survey lapangan untuk pengambilan data primer
dan pengumpulan data sekunder tambahan
4. Merumuskan parameter perhitungan fasilitas hunian,
standarisasi dan kerjasama antar lembaga.
5. Merumuskan parameter perhitungan keterpaduan program,
interaksi, dan standar kerjasama.
6. Menyusun indeks ketersediaan fasilitas hunian, jalan dan
jembatan, jaringan sumber daya air, dan infrastruktur
permukiman yang ideal sesuai dengan arah pengembangan
wilayah
7. Mengidentifikasi gambaran tingkat ketercapaian kerjasama
lembaga negeri maupun swasta
8. Melakukan analisis perbandingan rumusan standar dengan
standar serupa di instansi lain, meliputi kunjungan studi
dari tim konsultan dan pendampingan oleh pegawai Ditjen
Penyedian Perumahan
9. Melakukan identifikasi tingkat keterpaduan infrastruktur
PUPR dengan infrastruktur lainnya (sektor lain dan daerah)
10. Merumuskan rekomendasi langkah-langkah akselerasi
pemenuhan penyediaan rumah layak huni.

D.2.3. Mekanisme Tempat Kerja


 Kickoff meeting project dan progress meeting dilakukan di kantor
Satuan Kerja Pengembangan Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat.
 Seluruh kegiatan pengembangan akan dilakukan di kantor
konsultan.
 Untuk kegiatan-kegiatan yang memerlukan konfirmasi serta
pelaporan hasil pekerjaan akan dilakukan di kantor Satuan Kerja

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-11
Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan, Kementerian
PUPR.
D.2.4. Mekanisme Regular Meeting
Meeting rutin kemajuan progress pekerjaan kami usulkan 2 minggu
sekali, hal-hal yang disampaikan pada meeting adalah sebagai
berikut :
 Progress pencapaian pekerjaan
 Kendala atau hambatan
 Rencana kerja

D.2.5. Mekanisme Laporan Kemajuan Proyek


Laporan kemajuan proyek kami usulkan disampaikan satu minggu
satu kali , dengan format dan isi sebagai berikut :
 Hal-hal yang sudah dikerjakan
 Hal-hal yang terlambat dikerjakan (jika ada)
 Hal-hal yang akan segera dikerjakan
 Manajemen alert
 Laporan kemajuan project akan kami sampaikan melalui email
atau Fax.

D.2.6. Mekanisme Pendampingan


 Untuk memastikan kelangsungan dan eksekusi proyek yang
relatif lebih lancar, maka tim proyek dari Konsultan akan
didampingi oleh tim proyek dari Satuan Kerja Pengembangan
Kebijakan Penyediaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat. Hal ini merupakan salah satu
cara yang dapat dilakukan dan memberikan banyak sekali
manfaat, seperti:
 Terjaganya arah proyek agar tetap pada jalurnya sesuai dengan
sasaran yang ingin dicapai proyek serta memenuhi ekspektasi
Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-12
 Dengan terlibatnya Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat di semua tahapan proyek, maka tim
supervisi mengetahui dengan persis dasar pemikiran (thought
process) atas semua hal yang diformulasikan/diusulkan oleh
tim proyek. Hal ini juga akan sangat memudahkan proses
handover / transfer of knowledge dari konsultan ke Satuan Kerja
Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, dan bahkan
kemungkinan besar proses tersebut tidak diperlukan sama
sekali.

 Metode pendampingan ini juga akan sangat membantu tim


proyek konsultan dalam mendapatkan informasi dan akses yang
diperlukan, bukan hanya yang bersumber dari tim Satuan Kerja
Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat sendiri, tapi terlebih
lagi dari interview/diskusi dengan pihak-pihak terkait di
Kementerian PUPR yang bisa terlaksana atas fasilitasi dari tim
Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan,
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-13
 Dalam fase Formulasi, adanya kerjasama yang erat antara tim
konsultan dan tim Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan, Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat, akan dibutuhkan terutama dalam sesi
brainstorming untuk mendapatkan solusi yang ideal, di mana
tim konsultan dapat memberikan pengetahuan teknis serta best
practice yang paling terkini, serta dari tim Satuan Kerja
Pengembangan Kebijakan Penyediaan Perumahan, Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, memberikan
masukan yang terkait dengan pengembangan infrastruktur, itu
sendiri. Hal ini bukan saja akan sangat mempercepat proses
pengambilan keputusan, tapi terlebih penting lagi, untuk
memastikan solusi yang sama-sama dicapai adalah yang terbaik
dan sudah mempertimbangkan sebanyak mungkin faktor.

D.3. Program Kerja


Pada bagian ini akan diuraikan mengenai komponen-komponen
kegiatan yang akan dilakukan sesuai dengan tahapan pelaksanaan
pekerjaan. Pada kegiatan Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan, terdiri dari
beberapa tahapan seperti berikut :

D.3.1. Tahap Persiapan


Untuk memperoleh hasil maksimal dalam kegiatan ini maka pada
tahap persiapan perlu dilakukan, secara umum terdapat 3 (tiga)
kegiatan utama di dalam tahap persiapan ini, yaitu:
1. Inisiasi studi berupa konsolidasi tim.
2. Melakukan brainstorming guna pemantapan metodologi yang akan
dikembangkan, maksud dari kegiatan ini adalah:
a. Merencanakan secara detail tahap-tahap pelaksanaan kegiatan
berikutnya, untuk mengefisienkan penggunaan waktu dan
sumberdaya.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 14
b. Menetapkan metoda analisis yang akan digunakan terutama
mengenai pengmbangan infrastruktur PUPR, hal ini penting
untuk ditetapkan karena akan mempengaruhi kebutuhan
data, penyediaan waktu analisis, dan kualitas hasil Pekerjaan
secara keseluruhan.
c. Mengenal wilayah studi atau kegiatan,
d. Mengidentifikasi dan melakukan kajian terhadap landasan
normatif.
3. Menyatukan persepsi tentang Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan untuk
menghasilkan :
a. Konsepsi awal tentang Penyusunan Standar Dan Tata Cara
Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan;
b. Kerangka pemikiran studi;
c. Metode pendekatan;
d. Mobilisasi personil;
e. Jadwal pekerjaan.

D.3.2. Tahap Survey Dan Pengumpulan Data


Data dan informasi pendukung diperoleh dengan melakukan studi
literatur, survey dan pengumpulan data, kompilasi data. Berikut
penjelasannya :
1. Studi Literatur
Tahap ini dilakukan setelah melewati tahap persiapan. Survey ini
dilakukan dalam rangka mengumpulkan data spesifik mengenai
karakteristik lokasi studi. Data yang terkumpul berupa data
statistik, hasil wawancara, peta, foto, dan lainya yang
dibutuhkan dan berhubungan langsung dengan materi
pekerjaan.

2. Survey
Metode ini dilakukan dengan mendatangi tempat penelitian ke
tujuh lokasi itu kita datangi dengan menggunakan beberapa
instrumen penelitian seperti : pedoman observasi wawancara dan
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 15
angket, dimana observasi dilakukan pada pemerintah daerah
juga pada masyarakat, angket di tujukan pada masyarakat, dan
wawancara dilalukan pada aparatur PEMDA setempat juga pada
masyarakat, yang dalam hal ini dilihat perwilayah menggunakan
sampling area atau cluster random sampling karena berdasarkan
wilayah-wilayah kerja.

Tujuan Penelitian Survei:


a. Untuk memperoleh fakta dari gejala yang ada;
b. Mencari keterangan secara faktual dari suatu kelompok,
daerah dsb;
c. Melakukan evaluasi serta perbandinagn terhadap hal yang
telah dilakukan orang lain dalam menangani hal yang serupa;
d. Dilakukan terhadap sejumlah individu / unit baik secara
sensus maupun secara sampel;
e. Hasilnya untuk pembuatan rencana dan pengambilan
keputusan;

D.3.3. Tahap Identifikasi


Tahap ini dilakukan untuk mengumpulkan data yang dibutuhkan
dalam analisis pada tahap berikutnya. Adapun langkah-langkah yang
dilakukan adalah sebagai berikut :
a. Melakukan studi literatur berkenaan dengan teori-teori terkait
dimana kajian ini lebih dipertajam sesuai dengan kajian inovasi.
Hasil kajian teori ini dapat menjadi landasan bagi identifikasi
variabel pengamatan yang akan digunakan dalam kegiatan.
b. Melakukan kajian terhadap kebijakan dan regulasi terkait
dengan Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam
Rangka Penyediaan Perumahan.
c. Identifikasi kondisi eksisting, potensi dan masalah
d. Mengumpulkan data sekunder terkait kondisi infrastruktur dan
kesenjangan infrastruktur nasional, regional pulau, dan bebrapa
kawasan strategis di tiap pulau.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 16
e. Melakukan kajian awal dari data sekunder untuk merumuskan
gambaran tingkat Kerjasama Antar Lembaga Penyedia
Perumahan
f. Merumuskan standard dan kerjasama dalam rangka penyediaan
perumahan

D.3.4. Tahap Analisis


Tahap ini akan melakukan Proses analisis data dan Perumusan
parameter serta penyusunan standard dan kerjasama dalam rangka
penyediaan perumahan, dengan tahapan sebagai berikut :

1. Metode Penjaringan Indikator


Dalam menjaring indikator-indikator yang relevan dengan
standard dan kerjasama dalam rangka penyediaan
perumahan, dengan tahapan sebagai berikut, dilakukan secara 2
tahap. Tahap pertama merupakan studi literatur mengenai
indeks-indeks terkait dengan standard dan kerjasama dalam
rangka penyediaan perumahan, dengan tahapan sebagai berikut.
Kemudian disusunlah indikator-indikator hasil studi literatur
sebagai perbandingan dan informasi awal. Indikator-indikator
hasil studi literatur ini kemudian diterjemahkan ke dalam bentuk
indikator-indikator utama dan sub-sub indikator yang terdiri dari
variabel-variabel yang akan menentukan kondisi pembangunan
perkotaan di Indonesia. Hasil ini kemudian digunakan pada tahap
selanjutnya.

Tahap kedua merupakan tahap pematangan indikator-indikator


utama yang berisi variabel-variabel dengan menggunakan Focus
Group Discussion (FGD). Responden yang dipilih untuk FGD
merupakan pakar dan praktisi yang memiliki kompetensi di
bidang yang terkait dengan perumahan. Pada tahap ini terdapat
kemungkinan penambahan, pengurangan maupun modifikasi dari
indikator dan sub indikator hasil dari studi literatur. Hasil akhir
merupakan indikator dan sub-indikator yang dapat mewakili
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-17
2. Metode Penentuan dan Pemilihan Indikator
Metode penentuan dan pemilihan indikator dilakukan dengan cara
Delphi method. Delphi dipilih untuk mempertajam hasil dari FGD.
Delphi, sebenarnya adalah nama satu set prosedur untuk
memperoleh dan menyaring opini-opini dari sebuah kelompok
yang biasanya adalah sekelompok panel ahli. Metode ini adalah
suatu cara di mana sebuah konsensus dari sekelompok ahli
tercapai setelah memperoleh opini-opini dalam mendefinisikan
masalah berdasarkan pengetahuan dan intuisi para ahli. Penilaian
kolektif dari para ahli ini, walaupun diperoleh dari opini yang
subyektif tetap lebih baik daripada sebuah pernyataan perorangan
dan menghasilkan ‘outcome’ yang lebih obyektif.

Tahap-tahap yang dilakukan dalam Metode Delphi:


a) Mengidentifikasi sekelompok panel ahli yang akan terlibat.
Panelis yang dipilih harus mempunyai pengetahuan yang
‘akrab’ dengan permasalahan yang dihadapi, atau
berpengalaman sehingga dapat melakukan suatu penentuan
prioritas yang efektif. Panelis yang dipilih berdasarkan
responden FGD, sehingga keterwakilan masing-masing sector
atau bidang yang terkait dengan pembangunan perkotaan
tetap terjaga.

b) Penarikan opini putaran pertama.


Pada putaran pertama, dibuat kuesioner yang diisi oleh para
panelis dimana setiap pertanyaan yang direspon dinilai dengan
angka. Pada setiap variabel, panelis melakukan penilaian
dengan skala 1 (sangat tidak penting) sampai dengan 10
(sangat penting). Setiap panelis melakukan penilaian secara
individual dengan tidak mencantumkan nama (anonim) serta
tidak diperkenankan melakukan interaksi satu dengan yang
lain.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-18
c) Melakukan analisis statistik pada Delphi putaran pertama.
Seluruh jawaban dari para ahli dianalisa secara statistik.
Untuk setiap variabel dihitung rata-rata (mean) dan simpangan
baku (standard deviation)-nya. Berdasarkan nilai rata-rata dan
simpangan baku tersebut, dibuat interval keyakinan
(confidence interval) untuk setiap variabel.

d) Pembuatan kuesioner putaran kedua.


Kuesioner ini menanyakan hal yang sama dengan kuesioner
pertama namun perbedaannya, kuesioner kedua ini
menyajikan nilai rata-rata, simpangan baku, dan limit atas
(upper limit) serta limit bawah (lower limit) interval keyakinan
setiap variabel disertai dengan alasan dari setiap panelis
sewaktu mengisi kuesioner pada putaran pertama. Data-data
ini diberikan kepada panelis sebagai umpan balik yang
berguna waktu pengisian kuesioner pada putaran berikutnya.

e) Pengisian kuesioner putaran kedua.


Pada kuesioner kedua ini, para panelis diberi kesempatan
untuk mengubah jawaban mereka atau tetap membiarkan
jawabannya sama seperti semula. Panelis yang untuk suatu
pernyataan pada putaran sebelumnya memberikan nilai yang
jatuh pada interval keyakinan tidak diharuskan untuk
mengubah opininya. Tetapi, panelis yang penilaiannya di luar
interval keyakinan sangat disarankan untuk mengubah
jawabannya atau, jika tidak, memberikan argumen yang kuat
yang berkaitan dengan jawabannya.

f) Mengulangi prosedur yang sama.


Proses ini berlanjut sampai dicapai suatu konvergensi yang
mencerminkan konsensus antar responden (panelis).

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-19
D.3.5. Tahap Finalisasi
Tahap ini merupakan tahap akhir dari kegiatan ini, dimana hasil
analisis yang telah dilakukan kemudian dijadikan masukan guna
merumuskan keluaran yang diinginkan berupa :
1. Parameter pengukuran dan indeks rasio ketersediaan fasilitas
hunian, Standar dan tata cara kerjasama penyediaan
perumahan
2. Parameter standar keterkaitan dan keterpaduan program
3. Gambaran tingkat keterpaduan infrastruktur PUPR dengan
infrastruktur lainnya (sektor lain dan daerah)
4. Rekomendasi langkah-langkah akselerasi pemenuhan
kesetaraan hunian yang layak khususnya untuk sektor
perumahan.

D.4. Pelaporan

Laporan akan dibahas dalam forum tim teknis dan seluruh


stakeholder yang terkait, dengan tahapan pelaporan sebagai berikut:
1. Laporan Pendahuluan
Laporan Pendahuluan diserahkan paling lambat 30 (Tiga Puluh)
hari kerja/bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 10 (sepuluh)
buku laporan.
2. Laporan Bulanan
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya: setiap akhir
bulan dan periode kegiatan sebanyak 5 (Lima) buku laporan.
3. Laporan Antara
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya: 4 (empat) bulan
kerja/bulan sejak SPMK diterbitkan sebanyak 10 (Sepuluh) buku
laporan.
4. Laporan Draft Akhir
Laporan draft akhir ini harus sudah diserahkan kepada Pengguna
Jasa selambat-lambatnya 1(satu) bulan kalender sebelum
berakhirnya waktu pelaksanaan pekerjaan sebanyak 10 (sepuluh)
eksemplar. Selanjutnya laporan ini akan digunakan sebagai

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-20
bahan pembahasan dalam forum diskusi. Laporan ini harus
terlebih dahulu diperiksa dengan Tim Teknis sebelum dilakukan
serah terima kepada Pengguna Jasa.
5. Laporan Akhir
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya pada akhir masa
kontrak sebanyak 15 (Lima Belas) buku laporan dan soft copy
yang dimasukan ke dalam compact disc (jika diperlukan).

D.5. Organisasi Dan Personil

Organisasi pelaksanaan kerja pada kegiatan Penyusunan Standar


Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan
pada dasarnya menjelaskan garis hubungan kerja antara pemberi
kerja (pengguna jasa) dengan pelaksana kerja (penyedia jasa). Kedua
pihak tersebut dalam organisasi pelaksanaan pekerjaan berada pada
garis komando dan koordinasi yang jelas. Dalam upaya memudahkan
koordinasi pelaksanaan pekerjaan kedua belah pihak, baik pengguna
jasa maupun penyedia jasa (Konsultan) membentuk tim pelaksana.
Pengguna jasa menunjuk pemimpin proyek dan membentuk satu tim
teknis yang menangani pekerjaan ini. Begitu pula halnya dengan
pihak Konsultan, dibentuk tim penyusun yang terdiri atas ketua tim,
tenaga ahli, dan tenaga pendukung lainnya.

D.5.1. Pengguna Jasa

Pengguna jasa dalam kegiatan Penyusunan Standar Dan Tata Cara


Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan Perumahan adalah
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat
Jenderal Penyediaan Perumahan, Direktorat Perencanaan
Penyediaan Perumahan, Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan, sedangkan pelaksana kerja dalam hal ini
adalah Konsultan Perencana. Dalam pelaksanaan pekerjaan ini,
Pengguna jasa akan menunjuk seorang Pejabat Pembuat Komitmen,
yang selanjutnya akan membentuk Tim Teknis.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 21
Dalam Pekerjaan Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama
Dalam Rangka Penyediaan Perumahan, beberapa fungsi dan
peranan dari pengguna jasa yaitu :
 Pemilik pekerjaan sekaligus sebagai pemberi tugas bagi penyedia
jasa (Konsultan).
 Penyusun kerangka acuan kerja dan spesifikasi teknis yang jelas
sesuai dengan lingkup pekerjaan maupun lingkup wilayah
pekerjaan.
 Pemberi informasi yang diperlukan bagi Tim Pelaksana kegiatan,
dalam hal ini Konsultan Perencanaan.
 Partner Konsultan dalam melakukan konsultasi, perundingan,
dan negoisasi yang bersifat administratif maupun teknis.
 Pemberi masukan (saran, usul dan kritik) yang sifatnya
substantif maupun teknis terhadap proses penyusunan maupun
hasil rancangan yang dihasilkan Tim Konsultan apabila kurang
sesuai dengan permasalahan yang ada di lapangan.

D.5.2. Tim Konsultan

Tim Konsultan, yang terdiri dari : ketua tim (team leader), tenaga
ahli, dan tenaga pendukung.

 Manager Proyek bertanggung jawab kepada Direktur Utama


Konsultan terhadap pelaksanaan, kelancaran, dan penyelesaian
proyek.
 Ketua Tim (team leader) bertanggung jawab secara keseluruhan
kepada tim supervisi, mengkoordinasikan seluruh pekerjaan tim
konsultan dengan dibantu oleh sub-bidang keahlian.
 Tenaga Ahli yang merupakan sub-bidang keahlian, yang dirinci
berdasarkan disiplin ilmu yang digunakan dan bertanggung
jawab terhadap pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan bidang
tugasnya masing-masing.
 Tenaga pendukung bertugas melaksanakan tugas studio dan
kesekretariatan dalam pekerjaan ini.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 22
D.5.3 Pengorganisasian Pekerjaan

Penyusunan pengorganisasian pelaksana kerja pada kegiatan


Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka
Penyediaan Perumahan, menyangkut hubungan antara pemberi
kerja dengan pelaksana kerja (konsultan), yang terdiri dari tenaga-
tenaga ahli dari berbagai bidang beserta tenaga pendukungnya.

Pemberi Tugas adalah: Kementerian Pekerjaan Umum dan


Perumahan Rakyat, Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan.
Peran dan fungsi antara pengguna jasa (pemberi tugas) dan
Konsultan sebagai penyedia jasa dalam organisasi pelaksanaan
kegiatan Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam
Rangka Penyediaan Perumahan, adalah sebagai berikut :

a. Pengguna Jasa (pemberi tugas)


Peran dan fungsi Pengguna Jasa dalam kegiatan Penyusunan
Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka Penyediaan
Perumahan, adalah sebagai berikut :

 Pemberi tugas
 Penyusun kerangka acuan tugas dan spesifikasi teknis yang
jelas sesuai dengan pekerjaan
 Pemberi informasi yang diperlukan Tim Pekerjaan Konsultan.
 Pemberi informasi yang diperlukan Tim Pekerja Konsultan
 Partner Konsultan dalam melakukan konsultasi, perundingan
dan negoisasi yang bersifat administratif maupun teknis.
 Pemberi saran, usul dan kritik, terhadap hasil rancangan
yang dihasilkan tim Konsultan apabila kurang sesuai dengan
permasalahan yang ada.

b. Penyedia Jasa (Konsultan)


Kewajiban Penyedia Jasa dalam hal ini konsultan dalam kegiatan
Penyusunan Standar Dan Tata Cara Kerjasama Dalam Rangka
Penyediaan Perumahan, adalah sebagai berikut :
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

A-12
D- 23
Wajib mengikuti kebijakan/ peraturan, ketentuan-ketentuan
dan petunjuk yang ditetapkan oleh Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat, Satuan Kerja Pengembangan
Kebijakan Penyediaan Perumahan.
 Wajib berkonsultasi kepada pemberi tugas atau tim teknis
yang ditunjuk.
 Wajib menciptakan dan membina hubungan yang baik
dengan instansi/organisasi berkaitan dalam pelaksanaan
kegiatan ini di tingkat Pusat

c. Tim Kerja Konsultan


Tim Kerja Konsultan terdiri dari : Team Leader, Tenaga ahli, dan
Tenaga Pendukung, dengan peran dan fungsi yang dimiliki adalah
sebagai berikut :

 Team Leader : Bertanggung jawab secara keseluruhan kepada


pemimpin proyek, mengkoordinasikan seluruh pekerjaan tim
konsultan dengan bantuan tenaga pendukung.
 Tenaga Ahli yang merupakan personil yang memiliki keahlian
di bidangnya yang bertugas dan bertanggung jawab terhadap
pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan bidang tugasnya
masing masing.
 Tenaga Pendukung bertugas melaksanakan tugas studio, dan
kantor dalam pekerjaan ini

Dalam struktur organisasi yang terbentuk, terdapat jalur


koordinasi dan komando sebagai berikut :

a. Team Leader (TL) akan bekerja penuh mulai dari


ditandatanganinya kontrak sampai berakhirnya kegiatan
sesuai dengan kontrak. Team Leader (TL) juga dibantu
dengan manajemen konsultan yang bertanggung jawab
terhadap pejabat pembuat komitmen beserta tim teknis yang
dibentuknya dalam hal pelaksanaan pekerjaan.
PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA
DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-24
b. Dalam struktur organisasi Konsultan, Ketua Tim (Team
Leader) juga bertanggung jawab dalam hal pelaksanaan
pekerjaan kepada manajemen konsultan.
c. Tim ahli yang terdiri dari berbagai disiplin keilmuan yang
terkait bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya
kepada ketua tim (team leader) dan bersama-sama dengan
ketua tim (team leader) melakukan serangakaian pelaksanaan
pekerjaan sesuai dengan rencana kerja yang telah disusun
dan disepakati.
d. Tenaga pendukung bertugas membantu kelancaran
pelaksanaan pekerjaan yang berkaitan dengan studio dan
pekerjaan kantor lainnya.

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-25
Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan
Direktorat Perencanaan Penyediaan Perumahan
KONSULTAN Satuan Kerja Pengembangan Kebijakan
Penyediaan Perumahan
Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat

Ahli Hukum/ Team Leader


Tim Teknis/
Supervisi

TENAGA AHLI

 Ahli Perumahan
 Ahli Kelembagaan

TENAGA PENDUKUNG

1. Sekretaris
2. Operator Komputer

Gambar D.1. Struktur Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan

PENYUSUNAN STANDAR DAN TATA CARA KERJASAMA


DALAM RANGKA PENYEDIAAN PERUMAHAN

D-26