You are on page 1of 2

PENGENDALIAN GAS BUANG KENDARAAN BERMOTOR DENGAN UJI EMISI.

April 8, 2009 admin 1 comment

Emisi gas yang dihasilkan oleh pembakaran kendaraan bermotor pada umumnya
berdampak negatif terhadap lingkungan. Sehingga perlu diambil beberapa langkah untuk
dapat mengendalikan gas buang yang dihasilkan tersebut. Ada beberapa cara yang dapat
diambil untuk mengatasi masalah tersebut antara lain: Uji emisi, pemilihan bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan dan penggunaan katalitik konverter.

Beberapa tahun lalu Swiss Contact bekerja sama dengan

200 bengkel di Jakarta melakukan uji emisi kendaraan. Hasilnya, dari 16 ribu mobil yang
diuji, hanya 54 persen yang memenuhi baku mutu emisi. Padahal hanya dengan perawatan
sederhana seperti tune up dan mengganti saringan bensin atau oli sudah dapat
menurunkan kadar emisi 30-40 persen. Seharusnya uji emisi dapat diterapkan secara
ketat.

Pemberian sertifikat uji emisi sebaiknya jangan diberikan secara sembarangan. Karena
adanya keharusan memiliki sertifikat inilah yang akan mendorong pemilik kendaraan
betul-betul merawat kendaraannya. Untuk lulus dalam uji emisi kendaraan sebetulnya
tidak terlalu sulit. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah, memastikan perangkat
emisi ada pada kendaraan, karena bagian pertama dari uji emisi adalah dengan
memastikan peralatan emisi berada di tempatnya. Dan sebaiknya kendaraan yang
dipergunakan mempunyai peralatan original. Beberapa hal yang sering hilang ataupun
tidak berada di tempatnya adalah EGR (exhaust gas recirculation valve), pompa udara, atau
pipa intake pemanas udara. Mesin yang kondisinya baik biasanya bersuara halus. Busi yang
tidak berfungsi, kebocoran ruang vakum, atau bensin campur akan menyebabkan tinggi
emisi gas buang. Di samping itu oli mesin yang sangat kotor akan mengganggu proses
penguapan oli, kemudian terhambat masuk ke ruang mesin dan akhirnya keluar melalui
knalpot.

Mesin sebaiknya dipastikan bekerja pada suhu yang tepat. Karena suhu yang tidak tepat,
misalnya terlalu dingin akan mengakibatkan injeksi bahan bakar berlebihan. Hal ini juga
bisa berakibat Anda gagal dalam uji emisi gas buang. Untuk mengetahui apakah kendaraan
teresebut layak atau tidak mendapat sertifikat uji emisi, maka dapat dilakukan suatu cara
yang sederhana yaitu dengan memacu kendaraan kendaraan tersebut pada kecepatan
tinggi. Ini akan membantu untuk mengetahui apakah busi kendaraan tersebut berfungsi
dengan baik atau tidak, gas buang bebas karbon atau tidak, dan apakah residu tertinggal
pada catalytic converter atau tidak. Sebelum mengikuti uji emisi terlebih dahulu kendaraan
harus dikondisikan. Pengkondisian bisa dilakukan dengan memanaskan mesin selama 15
menit sehingga memastikan mesin berada pada suhu yang cukup, sensor oksigen panas
dan mengirimkan sinyal, serta catalytic converter berfungsi. Agar bisa berfungsi catalityc
converter harus dalam kondisi panas. Jika converter berada di bagian bawah-belakang
kendaraan dan mesin tidak dijalankan atau berjalan lambat dan sebentar, converter akan
dingin dan berhenti berfungsi.
Selama uji emisi, teknisi akan mengukur kadar hidrokarbon (HC), karbon monoksida (CO),
dan nitrogen oksida (NOx). HC biasanya berasal dari pembakaran yang tidak sempurna.
Silinder yang macet akan mengakibatkan kadar HC tinggi. Sedangkan CO dihasilkan oleh
proses pembakaran normal akan tetapi kadar CO tinggi dapat dicegah melalui penggunaan
bahan bakar secara hati-hati dan penggunaan catalytic converter. Selain itu bensin campur
dalam jumlah banyak akan mengakibatkan tingginya kadar CO. Sementara itu NOx terjadi
saat suhu pembakaran sangat tinggi, yang diakibatkan oleh desain mesin atau penggunaan
Exhaust Gas Recirculation (EGR) pada suhu silinder tinggi. Waktu pembakaran yang tidak
tepat dapat meningkatkan suhu silinder sehingga mendongkrak emisi NOx. Jadi sebaiknya
jangan pernah menggunakan bensin campur.

Tidak lulusnya uji emisi kendaraan biasanya disebabkan oleh hal-hal yang sederhana
seperti: busi atau kawat busi yang jelek, filter udara kotor, waktu pembakaran yang tidak
tepat, atau pemakaian bensin campur dalam jumlah banyak. Perawatan rutin dan
pemanasan mesin sebelum uji emisi akan membantu kelulusan uji emisi kendaraan Anda.
Akibatnya memang sangat positif, industri otomotif berlomba membuat kendaraan dengan
motor bakar yang tidak banyak menghasilkan emisi di bawah standar yang diizinkan.

Untuk memperoleh emisi yang rendah antara lain dengan pemasangan katub PVC sistem
karburasi, sistem pemantikan yang lebih sempurna, sirkulasi uap BBM. Selain itu
dikembangkan kendaraan berbahan bakar alternatif, seperti bahan bakar gas, mobil listrik,
dan juga mobil fuel-cell yang paling ramah lingkungan. Sebelum mereka bisa
memanfaatkan energi alternatif secara maksimal, mereka juga mengembangkan teknologi
seperti HCCI (homogeneous-charge compressionignition) yang memberikan basis untuk
kelas baru emisi rendah. Pemakaian gas alam cair, misalnya, bukan hanya lebih ramah
lingkungan, tapi juga menguntungkan untuk kondisi Indonesia yang sangat kaya gas alam.
Namun, itu perlu didukung kebijakan yang mempermudah pembangunan SPBU untuk gas
alam.

Edited by : @_pararaja from Peserta Mata Kuliah Teknik Pembakaran Semester Genap
2001/2002. 2001. Portfolio Bahan Bakar Cair. Depok : Program Studi Teknik Kimia,
Fakultas Teknik, Universitas Indonesia.

Categories: wawasan

http://smk3ae.wordpress.com